
Di ruang keluarga, kediaman Samnia.
Halima dan Hamid saling pandang. Denis terus memasang wajah bingung juga selalu melihat Syakila, Halima, dan Hamid bergantian.
Sardin yang hanya menemani Syakila, cuma bisa diam dan menjadi pendengar di antara mereka.
Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum!”
Semua mata melihat ke arah pintu rumah yang memang terbuka, saat mendengar ketukan pintu dan salam seseorang.
”Wa 'alaikum salam!” sahut semua orang.
Samnia masuk ke dalam rumah.
”Sayang! Kamu sudah datang? Mari, duduk di sini!” Denis menepuk sofa di samping kirinya.
Samnia terus berjalan dan duduk di samping Denis sambil melihat Syakila, ”Cepatlah pulang! Paman Anton mencari mu, om mu dan bibi mu sudah mau istirahat.”
”Iya, Bibi. Syakila akan pulang setelah mendapat jawaban dari Bibi Halima dan Om Hamid atas pertanyaan yang Syakila tanyakan.” jawab Syakila.
Samnia melihat Halima dan Hamid. ”Kalian berdua cepat jawablah pertanyaan Syakila. Dia harus pulang merawat dan menemani suaminya.”
”Syakila, kamu tahu dari mana kalau ayah mu meminjam uang pada keluarga Albert? Dan jumlah yang kamu sebutkan itu bukanlah jumlah yang sedikit. Apakah kamu sedang mendengarkan gosip yang tidak-tidak tentang ayah mu di luar sana?” tanya Denis seketika.
”Apa!” Samnia terkejut, ”Halim meminjam uang pada keluarga Albert? Untuk apa? Itu tidak benar, Syakila! Meskipun Bibi tidak mengenal dekat ayah mu, tapi, Bibi mendengar sendiri bagaimana ayah mu membangun usahanya dari nol sampai ayah mu bisa membeli satu toko dan membangun rumah ini untuk anak dan istrinya! Itu semua hasil dari keringatnya sendiri, bukan meminjam uang dari siapapun! Jika kamu ingin tahu lebih lanjut, tanyalah sama om Anton. Modal awal usaha ayah mu bukan dari meminjam, tapi dari om Anton yang memberinya modal.” ungkap Samnia, berapi-api.
”Apa yang di katakan Bibi mu, itu benar Syakila! Om Denis yang menemani ayah mu dari nol. Jadi, kamu jangan percaya dengan ucapan sembarang orang di luar sana! Ayah mu tidak meminjam uang dari siapapun, apalagi dari Albert yang tidak di kenalnya.” sambung Denis.
Hamid dan Halima masih terdiam. Memang, Halim menyembunyikan hal itu dari kelurga. Mungkin juga dari istrinya. Yang tahu hal itu hanyalah Hamid, Halima, Mulfa, Roni, dan almarhum Halim sendiri.
Halim tidak bermaksud untuk menyembunyikan itu dari semua orang, tetapi, ia tidak ingin apa yang dia lakukan akan berefek pada orang lain kedepannya.
Sardin menjadi panas, bagaimana bisa Samnia dan Denis berbicara seperti itu? Jika memang Halim tidak pernah meminjam uang kepada keluarga Albert, tidak mungkin Syakila akan memutuskan dirinya dan menikahi Geo, anak dari Albert itu! Syakila pasti sudah menikah dan punya anak bersamanya.
Tangannya terkepal kuat, kedua rahangnya mengeras. Namun, ia siapa? Ia tidak bisa ikut membuka suara. Karena itu adalah urusan Syakila dan keluarganya. Dia hanya mengantar dan menemani Syakila saja. Dia hanyalah orang luar. Dengan terpaksa, ia hanya mendengar saja.
”Tidak, Om, Bibi! Ayah benar-benar meminjam uang senilai 1 milyar pada keluarga Albert! Itulah sebabnya Syakila menikahi Geo, karena ayah tidak membayar lunas utangnya!” ungkap Syakila, suaranya sedikit meninggi.
”Apa!” Samnia dan Denis kembali terkejut. ”Syakila! Jangan bicara sembarangan tentang ayah mu!!” Samnia berucap dengan marah. Ia tidak terima dengan berita itu. Halim bukanlah orang seperti itu.
”Iya, Om, Bibi! Syakila tidak sembarang mendengar perkataan orang! Syakila juga tidak sembarang berbicara! Syakila punya bukti sendiri atas ucapan yang keluar dari mulut Syakila!! Syakila mendatangi Om Hamid dan Bibi Halima untuk memperjelas ini, karena Bibi Halima dan Om Hamid tahu tentang hal ini!” ungkap Syakila lagi. Ia terlihat marah karena tidak di percayai oleh bibi dan om nya.
”Apa!! Hamid dan Halima tahu hal ini!!” kembali Samnia dan Denis terkejut. Mereka berdua melihat Hamid dan Halima.
Syakila mengangguk, ”Iya kan, Om Hamid? Bibi Halima? Om dan Bibi mengetahui kebenaran ini kan? Jangan diam saja Om, Bibi, ceritakan semua kebenarannya!” ucap Syakila, berapi-api.
”Katakan yang sebenarnya Hamid? Apa kamu mengetahui hal ini? Mengapa aku, yang dekat, dan tinggal serumah dengan Halim tidak tahu hal ini? Bahkan Anton dan Serlina juga tidak tahu hal ini!!” sambung Denis.
Hamid dan Halima menghela nafas. Mungkin ini sudah saatnya kebenaran itu terungkap setelah bertahun-tahun lamanya tersembunyi.
Mereka pernah berpikir jika hal ini tidak akan pernah di ungkit lagi. Namun nyatanya, bayangan masa lalu memang selalu menghantui di masa depan.
Hamid menelan Saliva nya. Ia melihat Denis, Samnia, dan Syakila bergantian. Ia mengangguk, ”Aku dan Halima memang mengetahui hal ini. Maaf, jika aku, Halima, dan almarhum Halim menyembunyikan hal ini dari kalian semua.” ucapnya, pelan.
”Astaghfirullah!! Apakah Sarmi tahu hal ini?” tanya Denis penasaran.
__ADS_1
Syakila menggeleng cepat, ”Mama tidak tahu hal ini! Mama, aku, dan yang lain terkejut di datangi oleh keluarga Albert dengan tiba-tiba untuk meminta pelunasan utang itu dengan menikahi Geo.” Syakila nampak sedih mengingat hal itu kembali, pelupuk matanya telah tergenang air mata.
Dengan terpaksa ia harus rela memutuskan orang yang di cintai nya dan menikahi orang asing yang cacat, yang tidak di kenalnya. Bahkan, di awal-awal pernikahan, ia di perlakukan dengan buruk dari suaminya itu.
Sardin mengambil jemari tangan Syakila, menggenggamnya erat, tanpa pengetahuan Samnia dan Denis. Syakila membalas genggaman tangan Sardin, menguatkan dirinya.
”Kalau untuk Sarmi, mungkin saja Halim tidak sempat untuk memberitahukannya. Yang mengetahui hal ini hanyalah aku, Halima, Mulfa, dan Roni.” ungkap Hamid.
Kening Denis mengerut, ”Roni? Fahroni yang polisi itu?” tanyanya, penasaran.
”Iya,” jawab Hamid.
”Pantas saja! Aku melihat Halim dan Roni beberapa kali jalan berdua! Mengapa Roni juga bisa tahu hal ini? Ceritakan saja yang sebenarnya!!” ucap Denis, tidak sabar. Ia tidak sabar untuk mendengar kebenaran ceritanya dari awal.
”Iya, Om Hamid! Tolong ceritakan, untuk apa uang itu dan mengapa ayah juga memenjarakan bibi Mulfa?” tanya Syakila.
”Kalau untuk itu, Om tahu jawabannya.” ucap Denis. Syakila melihat Denis dengan dahi mengerut, ”Ayah mu memenjarakan Mulfa karena Mulfa mencuri kalung perhiasan ibumu dari laci, saat Mulfa berbelanja di toko ayah mu.” ungkap Denis.
Halima menggeleng cepat, ”Bukan! Mulfa tidak pernah mencuri perhiasan itu. Itu hanyalah trik Halim untuk memenjarakan Mulfa. Itu unsur kesengajaan!” ungkapnya.
”Sengaja? Halim sengaja mempersulit Mulfa? Untuk apa?” Denis tidak percaya hal itu.
”Apa niat ayah sebenarnya mempersulit bibi Mulfa?” tanya Syakila.
”Sebenarnya... Bibi, Hamid, dan Halim tidak saling mengenal. Bibi bertemu Halim dan Hamid di atas kapal. Waktu itu Bibi melihat Halim sangat istimewa. Bibi merayunya untuk dekat dengannya. Tapi, Halim tidak pernah terayu oleh Bibi. Bibi dulunya adalah wanita panggilan yang dipekerjakan dengan paksa oleh mantan kekasih Bibi, Kevin.” ungkap Halima.
”Kevin? Orang yang beberapa kali mendatangi Halim dan mencari permusuhan dengan Halim itu?” tanya Denis.
Halima mengganguk.
”Karena Halim tidak bisa Bibi rayu, maka Bibi langsung mendatangi Halim secara langsung dan menceritakan tentang kebenaran diri Bibi padanya. Dan Bibi meminta bantuannya untuk mengeluarkan Bibi dari tempat neraka itu!” lanjut Halima bercerita.
”Tapi, kendalanya adalah Mulfa. Mulfa adalah adiknya Bibi, ia di tahan oleh Kevin, di kurung di perumahan Eagle. Bibi dan Halim sengaja menjebak Mulfa untuk di penjara kan, hanya untuk mengeluarkan Mulfa dari genggaman Kevin. Dan Kevin tidak punya alasan lagi untuk menggertak dan mengancam ku memakai Mulfa, jika Bibi keluar dari tempat neraka itu!” ungkapnya lagi.
Kening Syakila kembali mengerut. Eagle? Ia mengingat para preman yang pernah menghadangnya juga berlogo Eg. Apakah Kevin pemilik Eagle itu?
Denis dan Samnia juga Sardin serius mendengar cerita Halima.
Hamid terlihat menggenggam jemari tangan Halima. Ia tahu, wanita itu yang kini sudah jadi istrinya juga ibu dari anaknya, sedang gugup menceritakan aib dirinya sendiri di masa lalu kepada Denis, Samnia, Sardin juga Syakila.
”Setelah Mulfa di penjara oleh Roni, Halim pun berusaha mengeluarkan Bibi dari tempat wanita penghibur. Tetapi, Halim harus membeli Bibi dengan nilai 1 milyar dari tangan ibunya Kevin baru bisa keluar dari tempat itu.” lanjut Halima bercerita.
”Dari situ, Halim ngobrol dengan Om tentang Halima. Awalnya Om tidak percaya dengan ucapan Halim, Om juga melarang Halim untuk membantu Halima. Om takut akan menjadi suatu masalah besar untuk Halim dan keluarganya nanti. Walau bagaimanapun, Halima adalah wanita penghibur, bisa saja itu hanyalah akal-akalan Halima untuk menjerat Halim. Tetapi, Halim meyakinkan Om jika Halima bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dan Halim juga sudah berjanji untuk membantu Halima. Jadi, Halim mencari cara untuk mendapatkan uang 1 milyar dalam waktu cepat. Om lah yang memperkenalkan Albert pada Halim.” ungkap Hamid.
Air mata Syakila tidak terbendung lagi, ia menangis, ia berdiri di hadapan Halima. ”Jadi...ayah meminjam uang itu untuk membantu Bibi? Gara-gara Bibi, kebahagiaan ku yang menjadi korbannya!! Apa Bibi tahu betapa menderitanya aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal dan tidak aku cintai?!? Mengapa ayah harus membantu Bibi? Kenapa Bibi meminta bantuan pada ayahku?!” Syakila sangat marah, suaranya tinggi hingga membangunkan anak Denis yang sudah tidur.
”Mama...” ucap si kembar berlari kepangkuan Samnia.
”Sayang, tidur kalian terganggu? Maaf, yah! Mari, Mama antar kalian tidur kembali!” sahut Samnia.
Si kembar mengangguk, mereka kembali ke kamar di temani sang mama.
”Syakila! Tenanglah!” ucap Hamid menenangkan Syakila.
”Bagaimana Syakila bisa tenang Om?!” suaranya semakin meninggi, ”Bibi dan Om hidup bahagia sedangkan Syakila, Syakila yang menanggung semua ini!!”
__ADS_1
”Syakila!! Perhatikan bicaramu!” gertak Denis. ”Pelan kan suara mu, kembalilah duduk di bangku mu! Apa kamu tidak malu, kedua kemenakan mu melihat mu begitu emosi. Mereka akan takut dekat padamu nanti!”
Syakila terdiam, itu benar! Si kembar akan takut dengannya nanti jika dia akan semakin marah dan kehilangan kendali. Ia menurut, ia kembali duduk di tempatnya, di samping Sardin.
Ia masih menangis, Sardin menenangkan Syakila dengan membelai lembut punggung belakang Syakila.
”Tapi, kapan Halim melakukan aksi itu?” tanya Denis, kemudian. Karena ia memang tidak melihat Halim sesibuk itu.
Ia jadi teringat malam di mana waktu Halim keluar malam hari padahal malam itu adalah malamnya Halim berangkat ke kampung. Dan malam itu, Halim hampir saja ketinggalan kapal. ”Apakah kejadiannya pada malam waktu Halim pulang ke kampung?” tanyanya, kemudian.
Hamid mengganguk dengan yakin.
Denis menghempaskan nafas kasar, ia sungguh tidak tahu hal itu. Ia juga jadi teringat, waktu Halim datang malam itu memegang satu buah koper di tangannya. ”Apakah koper yang di pegang Halim malam itu, isinya adalah uang?”
”Iya, dan uang itu telah di kembalikan oleh Halim setelah ia datang dari kampung tanpa berkurang satupun isinya di dalam.” ungkap Hamid.
”Kalau sudah dikembalikan? Kenapa keluarga Albert masih menagih hutang pada keluarga Halim?” tanya Sardin penasaran. Akhirnya ia tidak tahan untuk berdiam. Karena hal inilah yang menjadi penyebab putusnya hubungan asmaranya dengan Syakila.
”Orang besar seperti Albert, tentu saja tidak lepas dari bisnis! Ia mengambil keuntungan dari pinjaman Halim. Halim tetap membayar bunganya kepada Albert selama satu tahun, meski uang pokoknya telah di kembalikan.” jawab Hamid.
Syakila masih menunduk, di matanya terbayang lagi peristiwa yang silam yang memilukan. Yang menjadikan dirinya sebagai anak yatim.
”Bagaimana dengan kematian ayah ku! Apakah berhubungan dengan ini lagi! Siapa yang berkelahi dengan ayah waktu itu?” tanya Syakila.
”Dialah Kevin beserta anak buahnya, grub Eagle.” jawab Hamid dan Halima.
Hamid kembali menceritakan peristiwa kematian Halim. Dan alasan mengapa ia dan Halima membungkam mulut Fatma dan Syakila di hari itu.
Denis juga menceritakan penyesalannya tidak memiliki kekuatan untuk membantu Halim saat itu, karena tidak berdayanya, mengikuti keinginan Halim.
Air mata Syakila kembali tumpah. Ia tidak percaya dengan itu semua. Akal sehatnya menghilang. ”Om Denis, Om Hamid sengaja tidak membantu ayah! Om Denis dan Om Hamid takut akan ikut meninggal bersama ayah kan waktu itu?! Hanya om Anton yang datang membantu ayah!!”
Denis dan Hamid terdiam. Mereka tidak menyangka Syakila akan berpikiran dan berbicara seperti itu.
”Ini sudah larut malam! Syakila, Sardin, kalian pulanglah! Bibi Serlina dan om Anton pasti sudah ingin istirahat.” ucap Samnia yang baru keluar dari kamar.
”Hamid, Halima, kalian pulanglah juga! Aku dan Denis ingin istirahat! Jika masih ada yang ingin di bahas, nanti bisa di lanjut besok.” ucapnya lagi pada Hamid dan Halima.
”Iya, aku juga ingin melihat putriku! Sudah lama aku meninggalkan dia pada Mulfa.” jawab Hamid.
Halima melihat Syakila yang masih terlihat sedih, ”Syakila, maafkan Bibi. Tanpa sengaja, Bibi sudah merusak kebahagiaan mu.” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Syakila terdiam, tidak menanggapi. Bahkan untuk melihat Halima saja, dia enggan. Tanpa berpamitan lagi, Syakila berdiri dan langsung keluar dari rumah.
Sardin berdiri dan berpamitan kepada semua orang dan menyusul Syakila.
”Syakila pasti marah dan kecewa padaku!” ucap Halima dengan sedih.
Hamid mengelus pundak istrinya itu, ”Marahnya tidak akan lama. Kamu jangan terlalu memikirkan ini, apalagi kamu sedang hamil muda, perhatikan emosi mu.”
”Ucapan suami mu benar, Halima! Biarkan Syakila untuk menerima kenyataan ini, dan berikan dia waktu untuk berdamai dengan masa lalu. Di saat dia tenang, dia tidak akan marah lagi padamu, Hamid, dan padaku sendiri.” sambung Denis.
Ia tahu, Syakila juga saat ini sedang marah padanya juga menyalahkan dirinya karena tidak membantu Halim saat itu.
Mungkin saja jika malam itu dia dan Hamid membantu Halim, sampai sekarang Halim pasti masih berada di tengah-tengah mereka.
__ADS_1