Takdir Syakila

Takdir Syakila
epos 196


__ADS_3

Di perumahan Eg.


Mobil yang di tumpangi Syakila berhenti di depan perumahan Eg.


”Di sini tempatnya?” tanya Syakila. Ia melihat di sekitar perumahan tersebut dari dalam taksi. Rasa sakit di telapak kakinya, sudah tidak ia hiraukan.


Di area itu begitu sepi. Apakah karena sudah malam hari? Para warga telah masuk ke dalam rumahnya masing-masing, makanya sepi? Ataukah di perumahan Eg memang sepi seperti ini?


”Iya, Nona. Di sinilah perumahan Eg. Nona tinggal masuk saja dari gang itu, terus masuk ke dalam. Gedung yang Nona maksud ada di dalam sana, sebelah kiri.” jelas sang supir.


Syakila mengangguk mengerti. Ia mengeluarkan hape dari sakunya. ”Maaf, Bang. Saya tidak punya uang. Saya hanya memiliki hape ini, apa Abang mau menerimanya?” tanyanya.


Sang supir melihat hape Syakila. Meskipun hapenya terlihat hanya hape biasa, tapi, hape itu masih di gunakan sampai sekarang. ”Iya, tidak apa-apa. Abang dapat menerimanya.”


Syakila tersenyum, ”Terima kasih, Bang. Saya buka kartu saya dulu.” ia membuka kartu sim card miliknya dari hape dan memberikan hape tersebut pada sang supir. ”Ini Bang, sekali lagi, terima kasih!”


Sang supir mengambilnya, ”Sama-sama, Nona.”


Syakila turun dari mobil. Ia menutup pintu mobil sambil melihat sekeliling. Mobil yang dia tumpangi pun pergi dari depan perumahan Eg.


Syakila melihat mobil yang berlalu pergi itu. Ia kembali melihat gang di depan sana. Cahayanya remang-remang.


Ia berjalan memasuki gang itu. Ia terus melangkah masuk ke dalam. Setelah beberapa meter dari Syakila berjalan masuk ke dalam, ia bertemu dengan dua jalan yang berbeda, kiri dan kanan.


Ia mengingat ucapan sang supir. Dia pun mengambil arah kiri. Dia terus berjalan, ia melihat gedung yang di carinya.


Tidak lama dari Syakila masuk ke perumahan Eg. Nampak Geo dan Beni dan beberapa anak buah mereka berdua, berjalan masuk ke dalam perumahan itu, mengikuti jejak Syakila yang terpampang di layar hape Beni.


Pelindung bayangan Geo pun telah masuk ke dalam gedung tersebut mengikuti Syakila, tanpa sepengetahuan Syakila. Begitu juga dengan anak buah Geo yang mengikuti Syakila dengan diam-diam, ia terus mengikuti Syakila dalam jarak beberapa meter.


Di dalam gedung.


”Bos! Syakila telah tiba. Dia sudah masuk di dalam sini.” lapor anak buah Antonio yang menjaga cctv. Matanya terus melihat layar di depannya.


”Bagus!” sahut Antonio dengan tersenyum licik melihat Sardin.


Sardin berwajah sedih, ia tahu Syakila pasti akan datang untuk menyelamatkan dirinya.


Syakila, kenapa kamu datang sayang? Aku malah khawatir padamu daripada khawatir pada diriku. benak Sardin.


”Bos! Ada seseorang yang mengikuti Syakila dalam jarak sepuluh meter di belakang Syakila.” lapor si pemantau cctv itu lagi.


”Hahahaha! Aku tahu, dia akan datang!” ucap Antonio dengan senang. ”Bagus! Sekali mendayung dua pulau terlampaui! Hari ini Syakila dan Geo akan mati di sini!”


”Apa kamu sudah gila? Geo adalah kakak mu, dan Syakila adalah saudara iparmu! Mengapa kamu menginginkan nyawa mereka berdua? Apa yang sudah di lakukan mereka berdua padamu? Hah?” tanya Sardin. Tatapannya tajam melihat Antonio. Marah? Tentu saja Sardin marah, Antonio sangat licik.


Antonio tidak menjawab pertanyaan Sardin. Dia hanya tertawa melihat Sardin. ”Pergi! Tuntun Syakila kesini dan bunuh orang yang mengikutinya.” titahnya pada anak buahnya.


”Baik, Bos!” ucap salah satu anak buah Antonio. Ia pergi menjalankan perintah bosnya.


”Aku tidak akan membiarkan kamu melukai Syakila!” ucap Sardin dengan lantang.


Antonio hanya tertawa menanggapi.


Sardin sudah tidak sabar lagi. Ia maju dan menendang Antonio dengan tendangan memutar, tepat di perut Antonio.


Tubuh Antonio tergeser beberapa langkah di belakang. Tangannya memegang perutnya. Ia Meringis kesakitan sambil melihat Sardin.


”Bos!” teriak para anak buah Antonio khawatir, saat melihat bos mereka terhuyung. Di antara mereka ada yang maju menghajar Sardin dan ada yang maju menghampiri Antonio.


António menaikkan tangannya ke atas. Para anak buahnya, semua terdiam di tempatnya. Tidak ada yang bergerak menghampiri Antonio maupun Sardin.


.. ..


Di tempat Syakila saat ini.


Syakila terus berjalan. Dia berwaspada saat merasakan sebuah langkah kaki dari arah depannya.


”Siapa?!” teriaknya. Syakila tidak melihat kedatangan seseorang. Namun, suara langkah kaki, ia masih menangkapnya dengan telinganya.


Dorr dorr!


Dorr dorr!


”Argh!”


Syakila terkejut mendengar suara tembakan dan lebih terkejut lagi mendengar suara rintihan di belakangnya.


Ia menoleh ke belakang, ia melihat pria yang tergeletak di lantai tersebut. Pria itu adalah anak buah dari Geo.


Syakila berlari ke arah pria itu. Ia terduduk di samping pria itu. ”Kamu...kenapa kamu mengikuti ku?” tanyanya dengan sedih. Matanya berkaca-kaca melihat pria itu.


”Nyonya, berhati-hatilah! Di dalam sana sangat berbahaya. Saya yakin, ada cctv yang terpasang di sini. Mereka mewaspadai Nyonya. Nyonya jangan takut, tuan muda dan tuan Beni dalam perjalan ke sini. Nyo... Nyonya, am..ambil pistol saya.” ucap pria itu di sisa akhir nafasnya.


”Inna lillahi wa Inna ilaihi rajiun!” ucap Syakila. Ia kembali memasang telinganya, langkah orang di depan sana mulai mendekat. Dari suara langkah tersebut, Syakila menduga ada dua pria di depan sana.


Ia mengambil pistol dari tangan pria tidak bernyawa lagi itu dan memompanya. Syakila melihat ke bagian atas gedung. Ia menemukan letak kamera yang tersimpan.


Syakila menembak kamera tersebut, kamera itu menjadi rusak. Ia berjalan maju ke depan, ia melihat dua pria yang berjalan di depan sana. Syakila melempar pisau pada satu pria itu, lemparannya tepat mengenai tangan salah satu di antara mereka, pistolnya terjatuh.


Pada kesempatan itu, ia menembak pistol pada pria satunya tepat di jantungnya, dengan dua kali tembakan. Lalu, ia menembak pria yang terkena pisau tadi. Tembakannya juga tepat di jantung pria itu. Mereka mati bersama.

__ADS_1


Untung saja Sardin pernah mengajari ku cara menembak dan membidik sasaran dengan tepat. Jika tidak, apa yang akan terjadi dengan ku! benak Syakila.


Syakila mengambil kembali pisaunya dan mengambil pistol dari salah satu pria itu. Ia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung.


.. ..


Perjalanan Anton dan Denis ke perumahan Eg.


”Siapa itu Antonio? Apa yang dia inginkan? Mengapa dia menculik Sardin? Dan meminta Syakila yang datang untuk menyelamatkannya?” tanya Denis.


”Aku juga tidak tahu, Denis! Kita lihat saja sampai di sana. Aku sangat khawatir pada Sardin dan Syakila, entah apa yang sudah terjadi di sana?” sahut Anton. Ia sangat cemas dengan keadaan kedua anak kemenakannya yang kini ada di tangan Antonio.


”Apakah Antonio ini keluarga dari Kevin?” tanya Denis, penasaran.


”Jika dia keluarga dari Kevin, maka yang mereka inginkan sebenarnya adalah Syakila, bukan Sardin.” ucap Anton. ”Apakah sudah menelfon polisi?” tanyanya pada Denis.


”Sudah, mereka dalam perjalanan ke sana.” jawab Denis.


”Hum! Semoga semuanya belum terlambat!” ucap Anton. Ia semakin mempercepat laju mobil.


... .. ..


Di kediaman Anton.


Bukan hanya Anton dan Denis yang terlihat cemas dan khawatir. Serlina dan Samnia sama khawatirnya pada Syakila dan Sardin.


Mereka berdua selalu menerka-nerka apa yang sedang terjadi. Samnia mengumpulkan semua anaknya dan pergi ke rumah Serlina, atas titah sang suami, Denis.


”Mengapa ini terjadi? Kesalahan apa yang sudah Sardin lakukan pada mereka, sehingga mereka tega menculik Sardin? Bukan hanya itu, mereka juga meminta Syakila yang harus datang menyelamatkan Sardin. Apa yang sudah di rencanakan oleh orang tersebut?” tanya Samnia.


”Sardin tidak pernah membuat masalah atau terlibat dalam suatu masalah selama dia ada di kota ini. Aku yakin, yang mereka inginkan adalah Syakila.” Serlina mengungkapkan pendapatnya.


”Syakila? Apakah mereka keluarga dari Kevin? Dan ingin membalas dendam atas kematian Kevin pada Syakila? Mereka tahu darimana Syakila anak dari Halim? Sementara kita telah menutupi itu dari masyarakat.” Samnia semakin penasaran.


”Aku juga tidak tahu. Kita tunggu mereka saja. Semoga mereka semua pulang dengan selamat.” ucap Serlina.


”Aamiin!” sahut Samnia mengamini.


.. .. ..


Di gudang Eg.


Beni dan Geo dan beberapa anak buah mereka telah masuk ke dalam gedung.


”Geo, anak buah mu berhenti di titik ini. Apa sesuatu telah terjadi padanya? Semenjak tiga puluh menit yang lalu, ia tidak pernah berpindah posisi. Dan di sini ada dua titik lagi yang tidak bergerak, apakah sudah terjadi sesuatu di depan sana?” tanya Beni.


Ia menunjukan layar hapenya pada Geo. Geo melihat nya. Ia sudah meyakini jika anak buahnya itu telah tiada. Tapi dua titik lainnya, siapa mereka?


”Siapkan senjata kalian! Berhati-hatilah di depan sana! Kita tidak tahu seberapa bahaya di dalam itu!” titah Geo. Ia sendiri telah memompa pistolnya.


Geo melihat ada mayat tergeletak di lantai, dari baju yang di kenakan, ia tahu, dia adalah anak buahnya.


Ia berjongkok di hadapan jasad itu dan mengucapkan kalimat Istirja'. Ia kembali berdiri dan melanjutkan langkahnya. Begitu juga dengan Beni dan semua anak buah mereka berdua.


Mereka kembali bertemu dengan dua mayat yang tergelatak. Mereka meyakini mayat dua inilah yang tertangkap di layar hape Beni, dari pakaian mereka, jelas kedua mayat itu adalah anak buah dari Antonio.


.. ..


Di tempat Antonio.


”Bos! Dua pengawal yang Bos utus sudah tewas. Dan sudah ada lima buah kamera cctv kita yang rusak.” lapor sang pengawas cctv.


”Di mana Syakila sekarang?” tanya Antonio. Ia terlihat marah. Ia sangat yakin yang membunuh dua anak buahnya itu adalah Syakila dan yang merusak kamera cctv nya juga adalah Syakila.


”Maaf, Bos! Tidak terpantau lagi, semua cctv telah rusak.” ungkap sang pengawas.


”Apa?” Antonio semakin marah. Ia berjalan mendekati Sardin yang di pegangin erat oleh ke empat anak buah Antonio. ”Apa kekasihmu begitu pintar?” tanyanya pada Sardin.


”Dia bukan kekasihku! Dia adalah saudara iparmu, istri dari kakak mu, Geovani Albert!” elak Sardin.


”Cari Syakila! Temukan dia dan bawa ke sini!” titah Antonio pada semua anak buahnya.


”Siap, Bos!” jawab semua anak buahnya, kecuali ke empat pria yang masih menyegel Sardin.


Mereka pun mulai mencari ke keberadaan Syakila.


”Syakila! Ternyata kamu pintar seperti ayah mu, Halim.” gumam Antonio.


.. ..


Di sisi lain.


Syakila memasuki ruangan yang salah. Gudang itu memiliki satu jalan masuk, tetapi terdapat banyak ruangan setelah sampai di dalam.


Syakila merusak semua kamera yang ia temukan di langit-langit dan di sudut-sudut gudang itu.


”Di mana mereka menyekap Sardin? Ini adalah ruangan ketiga yang aku masuki, tetapi tidak seorang pun ada di sini. Apa mereka ada di ruang bawah tanah? Tetapi di mana tempatnya itu?” gumamnya.


Ia masuk ke ruang ke empat. Ia mendengar beberapa langkah kaki. Ia bersembunyi.


Anak buah Antonio membagi diri menjadi beberapa kelompok untuk menemukan Syakila.

__ADS_1


Suara langkah kaki semakin jelas. Syakila melihat ada lima orang yang berjalan dengan senjata di tangan mereka.


Syakila mempersiapkan diri. Ia mengeluarkan pisaunya dan membidik jantung salah satu di antara ke lima pria itu.


Jleb! Bidikannya tepat mengenai jantung pria yang ada di depan kanannya. Dengan cepat, ia melepaskan tembakan pada dua orang lainnya.


Dor! Dor!


Dor! Dor!


Kedua anak buah Antonio melepaskan tembakannya dengan asal-asalan. Mereka tidak melihat keberadaan Syakila.


Syakila membidik salah satu di antara kedua pria itu.


Dor!


Dor!


Bidikan Syakila tepat sasaran. Pria di depan sana jatuh tersungkur. Namun naas bagi Syakila.


Ia juga mendapat tembakan dari depan sana, mengenai tangannya, pistolnya terjatuh. Darah mengalir dari tangannya tersebut.


Syakila melihat di depan sana. Rupanya di sana sudah ada enam orang. Syakila beranjak pergi dari tempat persembunyiannya. Anak buah Antonio telah tahu posisinya.


”Ada jejak darah di sini! Pasti Syakila berlari ke sini! Ayo kejar!” ucap salah satu anak buah Antonio. Mereka menelusuri jalan itu, mengikuti Syakila dari jejak darah yang menetes ke lantai.


Syakila terus berlari. Ia terkejut saat tangannya tiba-tiba di tarik oleh seseorang. Dan mulutnya di bekap. Syakila memberontak. Tangannya menyikut pria yang ada di belakangnya sekarang.


Pria itu menahan siku Syakila dengan tangan kanannya. ”Ssttsttstt! Jangan berisik! Ini aku, Geo.”


Syakila merasa tenang. Pria yang sedang memeluknya erat dari belakangnya ternyata adalah Geo, suaminya sendiri.


Syakila mengangguk. Geo melepaskan tangannya dari mulut Syakila.


”Terus kejar! Lihat jejak darahnya!” teriak salah satu anak buah Antonio, memerintah.


Kening Geo mengerut. Jejak darah? Apakah Syakila terluka?


”Apa kamu terluka?” bisik Geo, bertanya pada Syakila. Geo mengingat luka di telapak kaki Syakila. ”Luka di telapak kaki mu pasti terbuka!” ucapnya, tidak senang.


”Jejak darahnya berhenti di sini!”


Syakila tidak sempat menjawab pertanyaan Geo. Dia dan Geo menoleh melihat anak buah Antonio yang berada tidak jauh dari posisi mereka sekarang.


Beni pun yang bersembunyi di tempat yang berbeda, menjadi khawatir. ”Semuanya siap!” ucapnya pelan pada anak buahnya. Semua anak buahnya mengangguk.


”Cari! Dia bersembunyi di sekitar sini! Bawa dia dalam keadaan hidup-hidup, bos menginginkan dia!” titah salah satu dari mereka.


Mereka pun menyebar jadi tiga kelompok. Mereka memasuki ruang-ruang yang terdapat di sana.


Geo menggeser Syakila ke samping kirinya. ”Kamu jangan berisik! Tetap di sini.” bisik Geo.


Syakila, Geo, Beni menjadi deg degan. Mereka semua telah siap untuk beraksi.


Anak buah Antonio masuk ke lorong persembunyian Syakila dan Geo. Geo melepas tembakannya. Tembakannya mengenai satu di antara tujuh orang tersebut.


Geo kembali melepaskan tembakannya. Namun, tembakannya meleset. Anak buah Antonio pun melepaskan tembakan dengan membabi buta. Membuat Geo terus berhati-hati.


Pistol orang yang mati terkena tembakan Geo tadi, tidak sengaja tertendang ke arah Syakila. Syakila mengambil pistol itu dan menyembunyikan nya.


Dari lorong lain terdengar suara tembakan saling sahut menyahut. Geo meyakini jika anak buah Antonio dan Beni serta anak buahnya saling menghujat peluru sekarang.


Suara tembakan tidak terdengar lagi dari tempat Syakila saat ini. Syakila keluar dari tempatnya. ”Kalian mencari ku? Aku di sini!” teriknya.


Geo membulatkan matanya tidak percaya. Syakila menampakkan diri pada anak buah Antonio. Apa yang di pikirkan wanita itu?


Geo pun melihat darah yang masih mengalir di tangan Syakila. Ia semakin khawatir. Darah yang menjadi jejak Syakila bukan darah dari telapak kaki Syakila melainkan dari tangan kanan Syakila.


Anak buah Antonio menodongkan pistol ke arah Syakila. Namun, tidak menembak, bos mereka menginginkan Syakila dalam keadaan hidup.


”Syakila! Kamu serahkan dirimu dengan baik! Jika tidak, kamu tidak akan bertemu dengan kekasihmu lagi!” ucap satu di antara mereka.


Sementara di lorong lain, suara tembakan masih terdengar sahut menyahut.


”Baik, antar saya pada bos kalian!” sahut Syakila, ia berjalan mendekati anak buah Antonio.


Tidak bisa! benak Geo.


Ia pun keluar dari tempatnya. ”Jangan harap kalian bisa membawa Syakila dengan segampang itu!” teriaknya.


Ia menembak salah satu dari enam orang anak buah Antonio. Tembakannya tepat mengenai jantung orang itu.


Anak buah Antonio tidak terima, semua pistol mengarah pada Geo. Dua tembakan di terima oleh Geo, tepat mengenai paha dan tangannya. Pistol Geo terjatuh.


Syakila menjadi khawatir. ”Jika kalian menembak pria di depan itu lagi, aku akan menembak kepalaku sendiri!” ancam Syakila, pistol telah ia arahkan ke kepalanya.


”Jangan tembak! Bawa pria itu bersama kita!” ucap anak buah Antonio.


Geo tidak melawan saat tangannya di bekuk di belakang oleh anak buah Antonio. Mereka melewati lorong demi lorong.


Syakila dan Geo melihat sekitar, hanya ada satu jalan yang tersisa.

__ADS_1


Apakah jalan itu yang akan mengarahkan kami ke tempat Sardin di sekap? benak Syakila dan Geo.


.. ..


__ADS_2