
Di perusahaan Geo.
”Pa__Pak Geo. I__ini file yang Bapak suruh sa__ya revisi. Sa__saya sudah merevisinya. Si__silahkan Bapak cek dahulu,” ucap Alifa terbata-bata.
”Hum. Simpan saja di atas meja. Nanti baru saya cek, silahkan kembali ke meja mu,” sahut Geo tanpa melihat wajah pasangan bicaranya. Matanya fokus pada layar laptop.
”Ba__baik, Pak.” Alifa berbalik dengan perasaan lega. Ia seakan tertekan berhadapan dengan Geo sekarang. Ia melangkah kembali ke mejanya.
Gila! Setelah mendengar ucapan nyonya Rosalina, saat berbicara dan berhadapan dengan Geo serasa berbeda sekarang. Aura dinginnya semakin terasa di punggung. benak Alifa. Ia duduk dengan gemetar di bangkunya.
Baguslah, kalian memang sepantasnya takut padaku dan menghormati ku. Hah, sekarang aku bebas dari gangguan wanita ini. benak Geo.
Geo melirik hapenya. Pemberitahuan dari pihak bank jika uang sekian juta telah keluar dari rekeningnya ke rekening Citi mall. Ia membulatkan matanya melihat nominal tersebut. Detik berikutnya, ia tersenyum tipis.
Akan ku hitung jumlah yang kamu keluarkan hari ini. Akan ku tagih perlahan-lahan darimu. Bersiaplah istriku sayang untuk membayar ku. benak Geo.
Ia menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata. Tanpa ia sadari gayanya sekarang begitu memukau di mata Atika dan Alifa.
Alangkah bagusnya jika bisa melihat pemandangan ini di setiap hari. Ah... Geo, kamu membuatku berfantasi bersama mu. benak Atika. Ia memperhatikan Geo dengan tatapan lapar.
Pria ini begitu tampan! Apakah aku harus mengalah begitu saja dari Syakila? Hah, aku seperti tidak rela. Pria ini begitu sempurna. benak Alifa. Ia melihat Geo dengan tatapan penuh harapan jika pria itu miliknya.
Geo membuka mata saat mendengar suara pintu ruangannya terbuka tanpa di ketuk. Atika dan Alifa mendadak memperhatikan pekerjaannya dengan gugup.
Apa Geo barusan menyadari tatapan ku? Ku harap tidak! benak Atika dan Alifa.
Beni melangkah masuk ke dalam ruangan menghampiri Geo.
”Beni,” sapa Geo.
”Mana kakak ipar?” tanya Beni saat tidak melihat Syakila di mejanya.
”Kamu datang ke sini mencari aku atau mencari kakak ipar mu?” Geo kembali bertanya dengan ketus dan tajam melihat Beni.
”Cari kamu. Tapi apa salahnya aku menanyakan keberadaan kakak ipar ku? Apa arti tatapan itu? Kamu tidak mencurigai ku, kan? Syakila kakak ipar ku! Ok?”
”Sudahlah! Ada perlu apa kamu mendatangiku?” tanya Geo lagi.
”Ada undangan khusus dari seseorang. Ia meminta kita untuk bertemu di lantai 4, di Citi mall,” jawab Beni.
”Hum? Apa kamu tahu siapa yang mengundang kita?” tanya Geo penasaran.
”Tidak tahu. Hanya alamat email-nya tertulis nama DJ. Apa kamu pernah mendengar nama singkatan ini sebelumnya?”
”Tidak,” jawab Geo.
”Jadi?”
”Ada yang mengundang, kenapa tidak di hadiri? Ayo pergi,” ajak Geo. Ia mengambil hapenya dan berdiri. Ia memakai jasnya dengan rapi.
”Perlukah membawa sektretaris?” bisik Beni.
Geo melirik sekertaris nya sejenak. ”Tidak perlu! Ayo pergi! Gunakan mobil mu,” ucap Geo. Ia melangkah keluar dari ruangannya. Beni menyusul di belakang. Mereka bergegas pergi ke Citi mall.
*
*
Di Citi mall.
Syakila dan Rosalina benar-benar memanfaatkan waktu untuk berbelanja. Barang yang menarik di mata dan di hati mereka, mereka akan membelinya tanpa sungkan-sungkan. Selain membelikan baju untuk dirinya sendiri, Syakila juga membelikan tiga lembar baju untuk Geo juga tiga lembar baju untuk Beni.
”Mama, Syakila sudah selesai membeli pakaian. Bagaimana dengan Mama?” tanya Syakila.
”Mama juga sudah sayang. Tapi, Mama masih ingin membeli kosmetik dan sendal juga tas untuk Mama. Bagaimana dengan mu?” Rosalina bertanya kembali.
”Aku tidak masalah, Ma. Yang aku pikirkan adalah bagaimana raut wajah dari anaknya Mama sekarang. Kita sudah mengeluarkan uang sebanyak dua puluh delapan juta hanya untuk pakaian saja. Belum kosmetik, sendal, dan tas, harganya tidak murah-murah. Mungkin saja sekarang Geo telah menyesal memberikan kartu kreditnya padaku,” ucap Syakila sembari tersenyum kikuk.
”Kamu mengkhawatirkan keuangan suami mu?”
Syakila mengangguk. ”Tentu saja, Ma. Dia bekerja dengan keras menghasilkan uang. Dan kita... kita hanya menghamburkannya,” ucapnya tidak enak hati.
”Sudah! Jangan khawatir, dia tidak akan kekurangan satu sen pun uang. Dia juga tidak akan menyalahkan kita yang menghabiskan uangnya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghabiskan uang dari Geo? Ayo pergi! Jarang-jarang ada orang yang memanfaatkan uangnya Geo untuk bersenang-senang. Dan kita sangat layak untuk menghabiskan uangnya. Ayo pergi. Jangan pikirkan banyaknya pengeluaran.” Rosalina menarik tangan menantunya lanjut berbelanja.
Sudahlah! Belikan untuk Mama saja. Kosmetik dan sendal juga tas ku, aku akan bayar pakai uang ku sendiri. benak Syakila.
”Ok, Ma. Mama benar, ayo pergi!” sahut Syakila sambil tersenyum. Ia menggandeng tangan Mamanya.
”Nah, begitu dong! Ayo.” sahut Rosalina sambil tersenyum.
Mereka pergi ke bagian kosmetik, di lantai satu. Rosalina mengambil barang yang di butuhkan saja. Syakila membelikan parfum dan minyak rambut untuk Geo, berhubung parfum dan minyak rambut suaminya tersebut tinggal sedikit. Ia juga membelikan parfum untuk Beni yang berbeda dengan Geo.
”Kamu sudah mengambil kebutuhan mu, sayang?” tanya Rosalina.
”Sudah Ma. Ayo, kita pergi ke kasir.” ajak Syakila. Rosalina mengangguk. Ia dan Syakila pergi ke kasir.
__ADS_1
”Semuanya satu juta lima ratus rupiah,” ucap Penjaga kasir dengan tersenyum ramah pada Syakila.
”Baiklah, ini kartuku.” Syakila menyerahkan kartu kredit milik Geo. Penjaga kasir mengambil dan menggesek sesuai banyaknya biaya perbelanjaan mereka.
”Ini Nona, terima kasih,” ucap Penjaga kasir lagi dengan tersenyum, ia mengembalikan kartu Syakila dan memberikan nota perbelanjaan pada Syakila. Syakila mengambilnya lalu menyimpannya kembali ke dalam tasnya.
”Mama ingin mencari sendal dan sepatu? Mama duluan saja ke sana ya. Syakila akan menyusul Mama setelah membawa barang-barang ini ke dalam mobil,” ucap Syakila.
”Baiklah, Mama tunggu kamu di lantai tiga. Jangan lama-lama,” sahut Rosalina.
”Iya, Ma.”
Rosalina pergi ke lantai tiga menggunakan tangga lift.
”Mba, saya titip barang ini di sini dulu ya. Masih ada barang yang ingin aku beli,” ucap Syakila pada penjaga kasir.
”Iya, Mba. Silahkan.”
Syakila meninggalkan barang itu kepada kasir. Ia kembali ke bagian kosmetik. Ia mengambil barang kebutuhannya yang telah habis. Setelah itu, ia kembali ke kasir membayar barang tersebut dengan kartu milikinya sendiri. Setelah membayarnya, ia membawa barang-barang tersebut ke dalam mobil.
Syakila sempat masuk ke dalam kafe di mall itu membelikan kopi dan kue untuk sang supir. Ia menyuruh pelayan kafe tersebut yang akan membawakan pada sang supir.
”Bang. Maaf ya, kami masih berbelanja barang yang lain,” ucap Syakila pada supir mobilnya Geo.
”Iya, Nona muda. Tidak apa-apa,” sahut Sang supir.
”Saya masuk kembali ke dalam,” izinnya. Sang supir mengangguk. Syakila kembali masuk ke dalam mall.
”Bang, ini ada kopi dan kue untuk Abang dari wanita yang baru masuk itu,” ucap Pelayan kafe pada supir Geo.
”Oh, terimakasih. Anda boleh pergi,” sahut Sang supir setelah mengambil kopi dan kue tersebut. Pelayan kafe terkejut dengan wajah dan suara tegas dari Sang supir. Ia mundur perlahan meninggalkan supir tersebut.
Gila! Ini orang sangat menakutkan. benak Pelayan tersebut.
Di dalam mall.
Syakila berjalan dengan cepat dan sedikit berlari untuk masuk ke dalam lift yang hampir tertutup.
Sial! Di saat dia hampir tiba di pintu lift, pintu liftnya sudah mengecil dan hampir tertutup rapat. Namun, Syakila terkejut saat melihat ada sebuah tangan yang sempat menahan pintu liftnya. Yang membuat pintu lift tersebut kembali terbuka sedikit lebar.
”Tidak ingin masuk Nona?” tawar Pria itu.
”Ah,” Syakila tersadar. Ia segera masuk ke dalam lift. Pintu lift kembali tertutup.
Di dalam lift.
”Hahahaha. Jangan sungkan Nona. Kenalkan namaku adalah James Deon,” ucap Pria itu memperkenalkan dirinya. Tangannya terulur ke depan. Syakila melihat tangan pria itu. Dia tidak menyambutnya.
Syakila menyatukan kedua tangannya ke depan sambil berkata, ”Maaf, nama saya Syakila.” Ia tersenyum kikuk melihat wajah malu dari pria itu.
”Oh iya, Syakila. Aku akan ingat nama itu. Syakila adalah nama yang bagus sesuai dengan orangnya yang cantik,” puji James.
”Terima kasih. Anda terlalu memujiku,” sahut Syakila sambil menunduk saat menyadari tatapan mata James yang berbeda ketika melihatnya.
”Em... Nona Syakila. Anda ingin pergi ke lantai berapa?” tanya James.
Ting! Pintu lift terbuka di lantai tiga. Syakila segera keluar sebelum pintu lift itu kembali tertutup.
”Tujuan ku di lantai tiga,” jawab Syakila bertepatan dengan tertutupnya pintu lift.
James mengirim foto Syakila pada anak buahnya. Foto yang ia ambil di saat Syakila mengejar pintu lift di lantai dasar.
”Cari tahu tentang wanita ini. Namanya adalah Syakila. Kirimkan informasinya padaku secepatnya. Bilang pada yang lain untuk segera ke lantai tiga mengikuti gadis itu.”
”Baik, Tuan!”
James tersenyum melihat lantai tiga dari dalam lift. ”Syakila, aku akan memiliki mu,” gumamnya.
Di lantai 3.
”Mama. Maaf, sudah membuat Mama menunggu lama,” ucap Syakila.
”Tidak apa. Ayo kita cari sepatu dan tas. Ini sudah jam dua belas siang,” sahut Rosalina.
Syakila melihat jam di hapenya, ”Ah, iya. Sudah jam dua belas.”
Syakila dan Rosalina masuk ke dalam toko yang menyediakan berbagai macam sendal dan sepatu untuk pria dan wanita, anak dan dewasa.
Di halaman parkir.
Loh, bukannya itu mobil ku? Ah iya, aku lupa. Dari laporan bank tadi, jika Syakila dan mama berbelanja di mall ini. benak Geo. Geo menghampiri mobilnya.
Tok tok tok! Ia mengetuk kaca mobilnya. Pintu mobil terbuka.
”Tuan,” sapa Sang supir sambil membungkuk badan.
__ADS_1
”Hum. Itu belanjaan mereka?” Geo melihat beberapa buah paper bag di kursi depan.
”Iya, Tuan. Nyonya dan nona muda masih di dalam... masih berbelanja,” jawab Sang supir.
”Hum. Beritahu aku kalau mereka sudah keluar dan ingin pulang,” ucap Geo.
”Baik, Tuan.” sahut Sang supir.
Geo melangkah masuk ke dalam mall, Beni mengikuti. Mereka berdua masuk ke dalam lift dengan tujuan lantai 4.
Geo tersenyum saat melihat notifikasi di hapenya pesan dari bank yang memberitahukan jumlah uangnya yang keluar. Ia melihat ke lantai 3, senyumnya semakin lebar kala melihat dua orang wanita yang baru saja keluar dari toko sepatu dan sekarang berjalan ke toko sebelahnya, di toko tas.
Rasanya ia ingin menghentikan liftnya di lantai 3 sekarang. Tetapi ia tidak berdaya liftnya membawanya ke lantai 4.
Geo dan Beni keluar dari lift ketika pintu lift terbuka di lantai 4.
”Kita sudah sampai di lantai 4, di mana orang itu?” tanya Geo pada Beni.
”Mungkin dia ada di kafe lantai 4 ini. Ayo kita ke sana,” ajak Beni. Mereka pergi ke kafe.
Di kafe.
Mereka masuk ke dalam kafe. Di dalam kafe tersebut sepi pelanggan hanya terdapat seorang pria asing yang berparas bule.
”Apakah itu orangnya?” bisik Beni pada Geo.
”Kita lewati saja dia dan duduk di bangku hadapannya. Jika itu dia, dia akan menghampiri meja kita,” ucap Geo sambil terus berjalan melewati orang tersebut.
Beni mengikuti langkah Geo. Mereka duduk di meja di depan meja pria itu.
”Kita sudah sampai di sampai di sini, di mana orang yang minta bertemu?” tanya Geo, ia sengaja membesarkan suaranya.
”Kita tunggu saja beberapa menit di sini. Jika tidak datang...kita pulang,” sahut Beni sambil bersandar di punggung kursi.
Dari ujung mata Geo melihat pria itu berjalan menghampiri mereka.
Ternyata dia. benak Geo.
”Permisi! Apa Anda perwakilan dari perusahaan G. Albert?” tanya Pria itu.
”Benar!” Beni yang menjawab.
”Oh, perkenalkan nama saya James Deon, perwakilan dari perusahaan DJ Grub,” ucap James sambil duduk di kursi meja tersebut.
Oh, dia lah pemilik perusahaan itu. James Deon, DJ Grub. benak Geo.
”Oh, rupanya Anda rekan dari Wahyu ya.” tanya Geo.
James tersenyum kikuk, ” Maaf, atas kelakuan tidak baik dari rekan saya. Saya datang ke sini untuk membicarakan lagi kerja sama di antara perusahaan kita. Bagaimana menurut kalian? Bisakah, kita bekerja sama lagi?” tanyanya.
”Terima kasih atas penawarannya. Untuk masalah ini, perlu di bahas lagi dengan pimpinan perusahaan kami. Jika tidak ada hal lain lagi kami permisi dulu,” ucap Geo. Ia beranjak berdiri.
Ting! Notifikasi dari handphone James berbunyi. Ia membuka dan membacanya.
”Bos, Nona Syakila sementara berjalan ke arah lift. Sepertinya sudah mau pulang.”
”Ok, saya juga masih ada urusan. Jika pimpinan kalian setuju ingin melanjutkan kerja sama, kirimkan pesan pada email ku. Di perusahaan kalian, ada terdaftar nama email ku, DJ. Aku tunggu kabar baik dari perusahaan kalian,” ucap James.
”Hum.”
Mereka bertiga berjabat tangan. Dan sama-sama keluar dari kafe dan berjalan ke arah lift. Mereka masuk ke dalam lift. Lift berjalan ke lantai 1.
Di lantai satu.
Ting! Pintu lift dari lantai 3 berhenti di lantai 1. Semua penghuni lift keluar satu per satu. Syakila dan Rosalina masih berdiri di tempatnya. Mereka tidak ingin berebut untuk keluar dari lift.
Setelah semuanya keluar, mereka berdua keluar dari lift.
”Mama, Mama duluan ke mobil ya! Syakila ingin membeli daging dan sayuran untuk di rumah,” ucap Syakila. Rosalina mengangguk. Ia pergi ke mobil dengan membawa barang belanjaannya juga barang belanjaan Syakila.
Syakila pergi ke deretan buah, sayuran, dan daging. Ia mengambil dua kotak daging dan beberapa ikat sayuran. Setelah itu, ia mengambil beberapa macam buah-buahan. Selesai memilih, ia pergi ke kasir.
Di sisi lain. Ting! Lift dari lantai 4 berhenti di lantai 1. Mereka keluar dari lift.
James berjalan ke arah tujuan Syakila. Beni pergi ke parkiran mobil. Geo pergi ke tempat buah. Ia sempat melihat Syakila masuk ke dalam sana dari dalam lift.
”Semuanya satu juta, Nona,” ucap penjaga kasir.
Syakila membayarnya pakai kartu milikinya sendiri. Setelah membayarnya, ia keluar dari sana.
Syakila berjalan dengan cepat dan sedikit berlari. Tidak hati-hati dalam langkahnya, ia tersandung kaki sendiri. Membuat pertahanan tubuhnya tidak stabil.
”Syakila...!”
Grep! Grep!
__ADS_1
Syakila hampir saja terjatuh jika tidak di tahan oleh dua tangan dari dua pria yang berbeda. Salah satu tangan kedua pria itu memegang pinggul Syakila dan sebelah tangan lainnya memegang punggung Syakila. Dan kedua tangan Syakila berpegang pada kedua leher pria tersebut. Mereka bertiga saling memandang.