
Beni dan Rosalina tiba di villa. Mereka masuk untuk mengambil koper pakaian saja. Setelah itu mereka kembali ke mobil. Mereka pergi ke bandara.
Rosalina mencoba hubungi nomor Geo, namun tetap sama tidak bisa di hubungi. Ia mengulang dan terus mengulang tapi tetap sama, tidak bisa terhubung.
”Beni, apa kamu bisa menghubungi nomornya sepupu mu? Tante tidak bisa menghubungi nomornya.” ucap Rosalina dengan cemas.
”Coba Tante hubungi nomorku yang akhiran 69. Nomorku itu di pegang juga olehnya.” usul Beni.
Rosalina menghubungi nomor yang di maksud Beni. Ia matikan, lalu ulang lagi menghubungi.
”Ben, nomormu juga sama, tidak bisa di hubungi.” Rosalina menjadi gusar. ”Apa sesuatu terjadi padanya?”
”Tante, anaknya Tante itu anak yang kuat, tidak akan terjadi apa-apa dengannya, kecuali ajalnya sudah menjemputnya. Jadi, Tante jangan khawatir, Geo pasti baik-baik saja.” Beni menenangkan hati Rosalina, padahal ia sendiri sudah mulai cemas.
Beni menghentikan mobil tepat di parkiran bandara. Ia mengambil handphone dari sakunya dan mencoba menghubungi anak buahnya yang ada di kota B. Panggilan pertama tidak terangkat.
Beni menghubungi ulang. Beni tahu mengapa mereka tidak mengangkat telfon dari nomor baru, itu sudah menjadi aturan dari Geo. Mereka di larang untuk menerima panggilan masuk dari nomor yang tidak terdaftar dalam kontak mereka. Sedangkan nomor Beni yang mereka tahu hanyalah nomor yang di pegang oleh Geo.
Beni mulai merasa gusar. Ia mencoba menghubungi lagi anak buahnya itu. Kali ini panggilannya tersambung.
”Mengapa baru angkat telfonnya sekarang?” Beni melampiaskan amarahnya. Padahal ia lebih tahu alasan mengapa telfonnya tidak di angkat.
”Maaf Bos, kami tidak tahu jika nomor ini nomornya Bos.” akhirnya sebagai bawahan mengakui kesalahan yang tidak di perbuat.
”Sudahlah, bukan salah mu juga. Di mana Tuan Geo?”
”Bos, Tuan Geo sekarang terbaring lemah di rumah sakit.”
”Apa!?” Beni terkejut. Membuat Rosalina berpikiran yang tidak-tidak. Wajahnya menampakan rasa cemas, gelisah, khawatir, dan takut sekaligus. ”Bagaimana bisa itu terjadi!? Apa kalian tidak menjaganya?” Beni bertanya marah pada pria di sebrang sana.
Tut tut tut!
Belum mendengar penjelasan dari anak buahnya Beni menutup telfonnya. Ia menoleh pada Rosalina.
”Tante, Tante kembali duluan ke kota A bersama mereka yah, Tante.”
”Kamu mau kemana? Apa terjadi sesuatu sama Geo? Katakan!?” desak Rosalina.
”Aku mau nyusul Geo Tante, Geo... Geo sekarang lagi terbaring di rumah sakit. Aku harus kesana untuk melihat keadaannya.”
”Tante ikut dengan mu, Beni. Dia anak Tante satu-satunya.” Rosalina menetes kan air mata.
Beni menghela nafas, ”Baiklah Tante, tapi jangan menangis. Ayo kita turun dan pergi ke pesawat, pesawatnya sudah ada disana.”
Rosalina turun dari mobil mendahului Beni, ia berjalan ke pesawat di kawal dua anak buah dari Geo. Beni, ia masih terlibat percakapan dengan anak buahnya.
”Ini kunci mobil bawa kembali mobil ini ke villa. Jika kalian perlukan, pakai saja.” Beni menyerahkan kunci mobil pada anak buahnya. Anak buahnya mengambilnya. ”Ada satu tugas lagi untuk mu.”
”Apa itu, Bos?”
Beni belum menjawab, ia mengirimkan foto seorang wanita ke handphone anak buahnya itu.
Ting!
Anak buahnya membuka pesan masuk di hapenya. Ia bingung pesan dari nomor baru mengirimkan foto seorang wanita.
”Itu foto seorang wanita yang ku kirim ke kamu. Tugasmu adalah kamu cari tahu tentang identitas wanita itu, setelah dapat kirim informasinya secepatnya.” jelas Beni menjawab rasa bingung anak buahnya itu.
”Baik, Bos!”
Beni segera menyusul Rosalina di dalam jet pribadi Geo. Tangga dan pintu pesawat tertutup setelah Beni masuk ke dalam pesawat. Pesawat lepas landas dari bandara.
Ia duduk berhadapan dengan Rosalina. Beni tahu kecemasan yang di rasakan oleh tantenya itu. Karena ia juga merasakan hal yang sama.
Setelah mengudara selama satu jam sembilan belas menit, mereka sambil di bandara kota B. Mereka turun dari pesawat dengan buru-buru.
Mobil sudah disiapkan di bandara sebelum mereka tiba di kota B.
”Bos, silahkan, mobilnya sudah siap.”
”Hum,” sahut Beni sambil mengangguk.
Beni mengikuti belakang anak buahnya itu di susul Rosalina ke mobil. Mereka masuk ke mobil. Tak perlu di beritahukan lagi, anak buahnya itu menjalankan mobil. Ia sudah tahu tujuan mereka akan kemana.
Dengan kecepatan sedang mereka melintasi jalanan yang penuh dengan bangunan-bangunan yang berbentuk puri.
Mereka tiba di rumah sakit setelah melewati jarak yang yang jauhnya hanya dua km itu. Mereka langsung ke ruangan rawat inap Geo. Dari jauh mereka melihat beberapa anak buah Geo yang menjaga di luar pintu.
Tak tak tak
Suara hentakan kaki Rosalina dan Beni yang menggema di sudut lorong rumah sakit. Mengalihkan pandangan para pengawal Geo.
”Bos, Nyonya.” sapa mereka dengan menunduk.
”Bagaimana keadaannya?” Beni dan Rosalina berucap.
”Silahkan masuk, Bos, Nyonya, dokter masih ada di dalam menunggu tuan untuk sadar.” jelas salah satu di antara mereka.
__ADS_1
Beni dan Rosalina langsung masuk, ia melihat sang dokter sedang duduk sambil memejamkan mata dan tangannya memijat kedua pangkal hidungnya.
Rosalina mendekati ranjang tempat putranya berbaring. Beni duduk di samping sang dokter, hingga membuat dokter menoleh padanya.
”Beni, kamu sudah datang.” dokter melihat Geo dan saat itu juga ia melihat Rosalina. ”Tante, Tante juga ada disini?”
”Bagaimana keadaannya?” Beni dan Rosalina bertanya.
”Dia syok, tapi sepertinya dia bukan hanya syok pada kecelakaan yang menimpanya. Dia sekarang lagi tertidur karena pengaruh bius. Saat ia siuman tadi, ia berteriak histeris saat melihat perawat wanita. Ia mengusir dan memakinya.”
”Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?” Rosalina memandang wajah anaknya yang tertidur itu dengan iba.
”Geo pergi ke kota ini untuk menemui kekasihnya, setelah ia tahu kekasihnya berada disini. Mungkin dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri jika wanita yang di puja-pujinya itu bukan wanita baik.” Beni mulai menjelaskan
”Apa maksudmu?” Rosalina memandang Beni dengan bingung.
”Dawiyah, dia disini dengan seorang pria.”
Rosalina kembali memandang wajah Geo. Ia menggenggam tangan Geo saat ia melihat pergerakan di mata Geo yang masih terpejam itu.
”Geo sayang, bangun Nak, ini Mama sayang.”
Geo membuka matanya, ia melihat Mamanya yang terlihat sedih, ”Mama.”
”Iya sayang, ini Mama sayang. Bagaimana kamu bisa berakhir seperti ini disini, Nak? Kamu mengebut lagi? Sudah berapa kali Mama bilang ke kamu jangan mengebut saat berkendara, apalagi di saat pikiran lagi kacau. Apa kamu tidak sayang sama Mama lagi?” Rosalina mencerca Geo dengan pertanyaan sambil menitikkan air mata.
”Mama, jangan menangis Geo tidak apa-apa.” jawab Geo dengan santai.
”Apa kamu bilang? Kamu masih bisa berbicara santai sepeti ini, Nak? Sepertinya kamu memang tidak sayang Mama lagi.” Rosalina cemberut.
”Mama, tidak seperti itu! Geo menyayangi Mama, sangat menyayangi Mama.” tukas Geo.
Pintu ruangan terbuka, semua menoleh ke arah pintu. Perawat wanita masuk kedalam menemui dokter. Geo memandang perawat itu murka dan tatapan tajam.
”Permisi, Dok__”
”Pergi kamu! Pergi dari sini! Atau ku bunuh kamu, pergi!"
Namun, perawat itu belum pergi dari sana sebelum ia memberitahu kedatangannya ke ruangan itu.
”Geo, kamu tenang Nak! Jangan berteriak begitu!” Rosalina menenangkan Geo. Geo mengabaikan ucapan Rosalina. Ia beranjak turun dari ranjang, ia berdiri namun kakinya enggan untuk berdiri, kakinya lemah dan tidak bertenaga, membuat dia kembali terduduk.
”Pergi dari sini!?” ia tidak menghiraukan keadaannya, ia masih bersikukuh mengusir perawat wanita itu. Ia mengambil barang-barang yang bisa di jangkau oleh tangannya dan di lemparkan pada perawat. ”Pergi dari sini!”
”Geo!" Rosalina frustasi.
”Pergilah, tunggu saya di luar.” ucap sang dokter pada perawatnya. Perawat itu mengangguk dan keluar.
”Dok, bagaimana ini? Apa yang terjadi? Apa anakku lumpuh?” Rosalina memandang anaknya dengan iba.
”Tidak lumpuh, hanya saja itu pengaruh dari rasa syok nya, karena kecelakaan dan rasa percaya dirinya hilang. Kemungkinan Geo terbentur di bagian belakangnya yang mengakibatkan paraplegia inkomplit. Tante tidak usah resah, kaki Geo masih bisa di sembuhkan, hanya saja aku takutkan dengan traumanya kepada wanita. Dan itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Apalagi jika kepercayaan dalam dirinya benar-benar hilang. Ma__”
”Jadi, kita harus bagaimana, Dok?”
”Sebaiknya, jangan biarkan ia sendirian. Carikan dia istri, jika di biarkan seperti ini, dia akan semakin membenci wanita.”
”Apa itu baik dalam keadaannya yang seperti ini?”
”Kita harus mencobanya." ucap sang dokter.
Rosalina memandang anaknya dengan sangat iba.
Apa ada yang mau menerima anakku dalam kondisi ini? Jika ada wanita yang bersedia aku akan memvasilitas kan dia segalanya, kebutuhannya, apapun itu keinginannya.
”Beni, siapkan mobil dan pesawat kita kembali ke kota A.” titah Rosalina.
”Baik, Tante."
Beni menelfon supir untuk bersiap di halaman parkir dan menelfon pilot untuk bersiap di bandara.
"Tante, mobil sudah di depan dan setelah kita sampai di bandara, pesawat akan segera datang." lapornya.
"Hum, kita berangkat sekarang!"
Beni di bantu oleh dokter mengangkat tubuh Geo di dudukkan di kursi roda.
”Ingat, jangan biarkan dia sendirian dan ia harus beradaptasi dengan wanita. Segeralah carikan istri untuk dia. Setelah rasa percaya dirinya ada, dan syok nya hilang, baru kita bawa Geo untuk terapi kesembuhan kakinya.” ucap sang dokter.
”Baik, Dokter. Terima kasih, kami pergi sekarang." sang dokter mengangguk.
Beni, Rosalina, beranjak pergi dari rumah sakit itu. Rosalina mendorong kursi roda anaknya. Mereka tiba di mobil. Beni kembali mengangkat tubuh Geo untuk masuk ke dalam mobil di bantu oleh anak buahnya.
Setelah itu mereka pergi ke bandara. Sesampainya disana, mereka kembali mengangkat tubuh Geo keluar dari mobil dan mendudukkan Geo kembali ke kursi roda, hingga mereka berada di dalam pesawat.
Geo sadar setelah mereka mengudara selama tiga puluh jam.
"Sayang, kamu sudah sadar?"
__ADS_1
”Mama, kita di dalam pesawat?" bukannya menjawab pertanyaan mamanya, Geo malah balik bertanya.
”Iya sayang, kita akan kembali ke kota A. Enam puluh tiga jam lagi kita akan sampai di bandara kota A. Apa kamu baik-baik saja?"
Rosalina khawatir saat ia melihat Geo memejamkan mata berkali-kali sambil menggelengkan kepala.
”Kepala Geo sangat pusing." keluh Geo.
”Istrahat lah kembali.”
Rosalina memijat pelan kepala anaknya. Mendapatkan pijatan lembut di kepalanya, membuat Geo agak baikan, ia kembali tertidur.
Kini mereka tiba di bandara kota A, Rosalina membangunkan Geo.
”Sayang, bangun, kita sudah sampai." dengan menepuk pelan pundak anaknya. Geo terbangun.
Rosalina mendorong kursi roda Geo, namun Geo menahannya.
”Tidak usah dorong Mah, Geo bisa jalan sendiri.”
Geo berdiri namun, kakinya tidak bisa bertumpu.
”Kakiku! Mama kenapa aku tidak bisa berdiri? Apa aku lumpuh, Mah? Tidak..!”
Geo berteriak frustasi. Rosalina menenangkan.
"Ssttssstt, jangan begini, kamu tenanglah. Biar Mama dan Beni yang membantu mu." Geo terdiam membisu. Wajahnya memancarkan kekesalan, kekecewaan, dan marah.
Ia membiarkan dirinya di bantu oleh mama dan adik tirinya itu turun dari pesawat dan naik ke mobil, hingga mereka turun kembali dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Mereka telah kembali di rumah kediaman Albert. Mereka membawa Geo ke kamarnya.
.. ..
Di sisi kota lain.
Kediaman Syakila sekarang sedang ramai di penuhi oleh keluarga dari pihak Sardin. Hari ini hari pertunangan Syakila dan Sardin.
Sardin mendesak Syakila untuk bercerita alasan sebenarnya mengapa ia tidak ingin bertunangan atau menikah dengan nya.
Pasrah, Syakila menceritakan niatnya untuk mencari pembunuh ayahnya. Dan penyebab mereka membunuh ayahnya di kota A.
Dengan penuh percaya diri dan yakin, Sardin meyakinkan Syakila untuk membantunya mengungkap peristiwa yang kelam itu. Akhirnya hati Syakila tergoyahkan dan menerima pertunangannya dengan Sardin.
”Terima kasih sayang, kamu sudah mau menerima ku.” ucap Sardin.
”Sama-sama,” jawab Syakila.
Kebahagiaan menghampiri dua pasangan itu. Begitu pula dengan orang tua Sardin dan orang tua Syakila mereka turut berbahagia. Terutama Johan, Sarmi, dan Biah. Mereka sangat bahagia sekali, mereka tidak menyangka Syakila akan bertunangan juga akhirnya. Karena selama ini ia menutup dirinya untuk pria.
Kebahagiaan mereka merupakan pukulan besar bagi keluarga Aninda Rahmayanti. Berkat kegigihan Sardin yang ingin menunjukan sifat asli dari Aninda, ia menyuruh anak buahnya untuk memantau aktivitas Aninda.
Setelah itu, ia menggunakan waktu dengan sebaiknya. Ia mengajak mamanya untuk pergi di mana tempat yang di datangi oleh Aninda.
Mereka sekarang sedang berada di mall. Tepat di pakaian wanita, Aninda sedang mengantri di kasir sedangkan Nesa masih memilih pakaian.
Nesa ikut mengantri saat ia sudah memilih pakaian untuknya. Ia mengedarkan pandangan. Saat itu ia melihat Aninda telah membayar belanjanya.
Nesa melihat Aninda berlari kecil menemui seorang pria, ia memeluk pria itu dan mencium bibirnya. Pria itu membalas pelukan Aninda. Nesa terkejut, ia berjalan mendekati Aninda dan pria itu.
Apa ini wanita yang ku pilihkan untuk anakku?
”Aninda!”
Aninda menoleh saat mendengar namanya di panggil. Ia terkejut.
Plak!
Nesa menampar pipi Aninda. ”Kurang ngajar kamu Aninda, kamu calon tunangannya anakku, tapi apa yang kamu lakukan dengan pria lain? Tante kecewa padamu, Aninda!” ucapnya dengan marah.
Aninda dan pria di hadapannya sama-sama terkejut mendengar penuturan Nesa. Aninda terkejut, ia ketahuan berbohong. Dan pria itu terkejut karena ia baru tahu jika dia bohongi.
”Tante, Aninda bisa jelasin ini Tante.”
”Jadi, kamu sudah punya calon tunangan, Aninda? Dan kamu bilang padaku, kamu masih sendiri. Kamu membohongi ku, Aninda? Kita putus sekarang!” ucap pria itu dengan kecewa dan berlalu dari sana.
Aninda membiarkan ia pergi. Sardin tersenyum licik di tempatnya berdiri. Aninda melihat Nesa.
”Tante,”
”Tidak usah menjelaskan apapun padaku! Aku sudah tahu siapa kamu. Aku sangat kecewa padamu, pertunangan mu dengan anakku batal.” ucap Nesa dengan tegas. Lalu ia berlalu dari hadapan Aninda.
Nesa pergi ke kasir untuk membayar pakaiannya. Aninda ingin menemui Nesa. Langkahnya di tahan oleh Sardin.
”Tak perlu kamu menemui mamaku, pergilah dari sini. Aku muak dengan mu.”
”Sardin, ka-kamu disini juga?” Aninda terkejut melihat kehadiran Sardin.
”Iya aku disni mengantar mamaku berbelanja, sungguh tidak di sangka kita bertemu disini dan mungkin waktunya tidak tepat untuk mu. Karena kedok mu ketahuan oleh aku, mamaku dan pria itu, tapi, waktu ini sangat tepat untukku.” Sardin tersenyum menang. ”Jangan pernah temui ku, temui orang tua ku, ataupun menghubungi ku lagi.”
__ADS_1
Setelah berbicara itu Sardin menemui mamanya di kasir. Ia meninggalkan Aninda yang masih berdiri di tempatnya. Aninda memandang punggung Sardin dan Nesa dengan kesal dan marah.