
Di tempat tinggal Iddo, anak buah Antonio.
”Apa dia sudah bangun?” tanya Antonio pada anak buahnya.
”Belum, Tuan!”
”Bangunkan dia! Siram pakai air! Sepuluh menit lagi aku kesana!”
”Baik, Tuan!”
Sang anak buah tersebut bergegas ke sebuah kamar tempat di mana anak buah Antonio sendiri di sekap. Antonio memasang wajah marah menatap di luar jendela.
Apa alasan dia menyerang Syakila?! Punya dendam apa dia sama Syakila?
Lelaki yang menyerang Syakila, yang di bawa pulang olehnya ternyata adalah anak buahnya sendiri setelah ia melihat inisial di bajunya tertulis Eg. Ia memukul, meninju, menendang anak buahnya itu tanpa ampun, ia memukulnya dengan sekuat tenaganya, melampiaskan kekesalan dan kemarahannya sampai anak buahnya tersebut pingsan, baru ia berhenti memukulnya.
Ia sangat kesal karena anak buahnya itu menyerang wanita yang sudah mencuri hatinya, yang sudah di cintainya pada pandangan pertama saat mereka bertemu.
Lama ia memandang keluar jendela. Lalu, ia pergi ke tempat di mana anak buahnya tersebut di sekap.
”Dia sudah sadar?!” tanyanya datar pada Iddo, anak buah kepercayaannya yang di tempatkan di kota S, setelah ia memasuki ruangan tersebut.
”Sudah, Tuan!” jawab Iddo.
Antonio duduk di kursi, Iddo membawa pria yang menyerang Syakila itu ke hadapan Antonio.
Iddo menendang kedua kaki pria itu hingga pria itu terduduk di lantai, dengan kondisi yang begitu memilukan. Darah kering di kedua ujung bibirnya, pipi kanan kiri yang lebam, baju yang berantakan, rambut acak-acakan tidak beraturan, akibat dari hantaman, tinjuan, dan tendangan Antonio semalam.
”Mengapa kamu menyerang Syakila? Apa kamu punya dendam pribadi sama dia?” tanya Antonio selidik pada Sheva.
”Tidak, Tuan! Maaf, Tuan. Saya di perintahkan oleh adik, Tuan.” jawab Sheva dengan suara pelan, membela diri. Kepalanya menunduk menatap lantai.
Antonio terkejut, ”Apa? Marlina?”
”Iya, Tuan. Tuan memerintahkan kami berempat untuk mengikuti perintah Marlina, adik Tuan. Adik Tuan memerintahkan kami untuk mencelakai wanita itu.” ungkap pria itu.
Antonio memandang tajam ke arah Sheva. Namun, pikirannya tertuju pada Marlina dan Syakila.
Ucapannya memang benar, aku memerintahkan mereka untuk mengikuti setiap ucapan dan perintah Marlina tanpa membantahnya.
Apa Marlina dan Syakila saling mengenal? Ada apa di antara mereka berdua? Marlina punya dendam apa kepada Syakila? Dia membohongi ku, dia meminjam anak buah ku untuk memantau seseorang, tau-tau nya dia malah mencelakai Syakila.
Syukurlah ada aku dan pria itu yang datang tepat waktu membantu nya. Jika tidak! Entahlah, apa yang akan terjadi pada wanita cantik itu. Mungkin aku tidak akan pernah bertemu dia lagi. Aku juga kehilangan kesempatan untuk melihat manisnya senyumnya itu.
Syakila, bagaimana keadaan mu sekarang? Aku ingin tahu kondisi mu. Di mana aku harus datang menjenguk mu? Di mana rumah pria yang membawa mu pergi malam itu? Iya, pria itu! Siapa pria itu? Apakah dia pacar mu, Syakila?
Antonio meraih handphonenya, mengaktifkan, dan mencari nomor kontak seseorang, ia menekan tombol memanggil dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
”Apa alasan Marlina mencelakai wanita ini?” tanya Antonio pada pria yang lemah tidak berdaya yang masih setia duduk di hadapannya itu.
”Maaf, Tuan. Saya tidak tahu. Kami hanya menjalankan perintah, nona muda tidak pernah mengatakan alasannya pada kami, Tuan.” jawab pria itu.
”Halo, kakak. Aku rindu sekali sama kakak! Mengapa kakak kembali ke kota pusat tanpa memberitahu ku dan Dawiyah? Mengapa juga handphone kakak baru aktif sekarang?” ucap Marlina setelah ia mengangkat telfon Antonio.
Ucapan Marlina menghentikan pembicaraan antara Antonio dan anak buahnya.
”Ada dendam apa antara kamu sama Syakila?” sahut Antonio bertanya. Ia mengabaikan semua ucapan adiknya. Pandangannya tajam melihat Sheva, anak buahnya yang masih duduk menunduk itu.
”Apa? Syakila? Aku?” Marlina tertawa, ”Kakak, kakak bicarakan apa sih? Siapa Syakila? Aku tidak mengenalnya!” ucap Marlina berbohong.
__ADS_1
”Masih berbohong? Apa alasan mu mencelakai Syakila? Kamu membohongi ku saat meminjam anak buah ku, Marlina!! Aku tidak akan mengizinkan anak buah ku untuk mengikuti perintah mu lagi!!” ucap Antonio marah. Ia berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri jendela.
Marlina terdiam.
Kakak tahu Syakila? Kakak tahu aku mencelakai Syakila? Apa kakak benar-benar tahu Syakila yang ku celakai adalah istrinya Geo? Apa kakak benar-benar mengenal Syakila? Apa kakak ada di kota S, sekarang? Mengapa kakak khawatir sekali dengan Syakila? Apa kakak jatuh cinta pada Syakila?
Banyak pertanyaan yang menumpuk di pikiran Marlina. ”Em, Ka..kakak. Apa kakak mengenal Syakila? Apa kakak sekarang di kota S? Tidak sedang berada di pusat?” ucapnya kemudian.
”Jawab pertanyaan ku, Marlina!!” bentak Antonio.
”Iya, aku memang berniat mencelakai Syakila! Apa kakak keberatan dengan itu?” jawab Marlina tak kalah besar suaranya dari Antonio.
”Mengapa? Apa dia melakukan kesalahan besar? Apa dia sudah melukai mu? Katakan! Apa alasanmu mencelakai Syakila?!”
”Kakak, apa hubungannya kakak dengan gadis itu? Kakak memarahiku karena dia?” sahut Marlina.
”Jawab saja pertanyaan ku, Marlina!! Mengapa kamu mencelakai Syakila?!” suara Antonio semakin meninggi membentak Marlina.
”Kakak. Alasan ku, kakak sangat tahu. Bukankah kakak tahu aku mencintai Geo? Bukan hanya pada Syakila, kakak sendiri sudah tahu, sudah berapa kali aku mencelakai wanita yang dekat dengan Geo, bahkan pacar kesayangan kakak, Dawiyah, tidak luput juga dari incaran ku! Jika bukan karena kakak yang menyelamatkan Dawiyah dan memacarinya, dia sudah akan mati bersama wanita yang dekat-dekat dengan Geo, kakak!! Kakak sudah tahu itu, mengapa aku harus menjelaskannya lagi pada kakak?”
Kening Antonio mengerut,
Syakila? Geo? Ada hubungan apa di antara Syakila dan Geo?
”Apa maksudmu? Apa hubungan nya dengan Geo?” tanyanya kemudian.
Marlina kembali terdiam.
Wah gawat! Jika kakak terus mendesak ku mengenai hal ini. Tanpa sadar nanti aku menceritakan kondisi Geo yang sebenarnya pada kakak. Dan kakak, kakak pasti akan segera melenyapkan Geo karena kondisinya yang lumpuh. Apalagi sekarang kakak berada di kota S.
”Em..i..itu... Syakila adalah wanita yang akan di jodohkan sama Geo oleh tante Rosalina. Aku tid__” ucap Marlina berbohong.
”Iya, Syakila dan Geo akan di jodohkan. Mereka berdua sekarang sama-sama berada di kota S, menemui keluarga Syakila. Dan tidak lama lagi mereka akan menikah. Jadi__”
”Jangan coba-coba kamu menyentuh Syakila!! Aku peringatkan kamu, jangan menyentuh Syakila!” ancam Antonio.
”Kakak, aku adik mu! Kakak mengancam ku ka__”
Tut tut tut tut. Ucapan Marlina terpangkas karena Antonio mematikan telfonnya tiba-tiba. Antonio mengeraskan kedua rahangnya. Tangannya terkepal erat.
Geo? Syakila? Mereka di jodohkan oleh tante. Mengapa nasib Geo selalu mujur? Tidak, tidak! Aku tidak akan membiarkan Geo bersama Syakila. Syakila milikku! Dawiyah, aku akan menyuruh Dawiyah untuk merebut kembali perhatian Geo dan menikah dengannya. Geo pasti masih mencintai Dawiyah. Dawiyah, wanita matre dan ****** itu pasti tidak akan menolak ini. Brengsek! Geo selalu maju satu langkah dariku!
Ia menendang meja yang berada di dekat kakinya. Meja tersebut terbanting dengan kuat dan vas bunga di atasnya jatuh, hancur berkeping-keping. Bunga-bunga mawar yang tertata rapi, kini berantakan di lantai, bercampur dengan pecahan-pecahan vas bunga.
Membuat Iddo dan Sheva, pria yang masih setia duduk di posisinya itu terkejut ketakutan. Namun, mereka tidak memberi komentar ataupun membuka suara untuk menegur dan bertanya ada apa dengan si bos? Apa yang membuatnya marah begitu? Pertanyaan itu hanya ada dalam benak mereka berdua.
Waktu Syakila di serang, Geo tidak berada di sampingnya, justru pria itu yang ada di samping Syakila. Ini sudah jelas menerangkan bahwa Syakila dan Geo tidak saling mencintai. Tapi, apakah pria itu pacarnya Syakila? Dia kah pria yang di cintai oleh Syakila?
Antonio tertawa kecut, tatapannya tajam, keningnya mengerut.
Tidak! Syakila adalah milikku! Tidak ku biarkan pria lain memiliki Syakila, apalagi Geo! Tidak akan!!
Geo! Pria itu mungkin sedang berada di villanya. Semenjak memantau di sana, ia tidak terlihat keluar masuk ke dalam villa, hanya beberapa anak buahnya saja yang terlihat. Apa dia kurang sehat dan sedang menyembuhkan dirinya? Kalau begitu, saatnya aku menyerang dia, menghabisi dia dan secepatnya aku menjadikan Syakila istriku. Geo, nikmatilah hari-hari terakhir mu!!
Antonio tertawa licik. ”Kumpulkan semua orang! Kita serang Geo malam ini!” ucapnya pada Iddo.
”Baik, Tuan!”
Antonio melihat anak buahnya yang masih duduk itu. ”Rawat luka mu! Persiapkan dirimu untuk malam ini!!” ucapnya.
__ADS_1
”Baik, Tuan!”
Antonio keluar dari kamar tersebut. Ia pergi ke kamar tempat tidurnya semalam, ia mengambil dompet, pistol, dan jaketnya. Kemudian, ia pergi dari kediaman Iddo. Dengan menggunakan mobil Iddo, ia pergi ke hotel tempat tinggalnya, menemui Vian.
Iddo menghubungi semua rekannya untuk mempersiapkan diri memenuhi tugas. Sedangkan Sheva, pria malang itu pergi ke ruang perawatan, merawat dirinya di sana.
.. ..
Di kamar Marlina, apartemen Geo, yang di tinggali Dawiyah, di kota A.
Kakak, baru kali kakak memarahiku dan mengancam ku hanya karena seorang wanita asing. Sama Dawiyah tidak seperti itu. Apa kakak benar-benar mengenali Syakila? Apa kakak jatuh cinta padanya? Tak apalah kalau kakak menjadikan Syakila kakak ipar ku, tapi, bagaimana dengan Dawiyah? Apa kakak akan menikahi mereka berdua? Jika kakak bersama Syakila dan Dawiyah, maka Geo akan menjadi milikku. Tapi aku tidak terima kakak m ngancam ku!
Marlina keluar dari kamar dengan muka cemberut. Ia membanting dirinya dengan kasar di kursi sofa. Ia menghela nafas.
Dawiyah yang sedang duduk di kursi sofa tunggal memperhatikan Marlina dengan kening mengerut.
Ada apa dengan gadis ini? Apa karena dia tidak punya uang lagi dan tidak bisa menghubungi kakaknya dan menjadi kesal begitu? Mengapa tidak mendatangi adiknya saja meminta dan meminta uang padanya?
”Kenapa kesal gitu?” tanyanya kemudian pada Marlina.
Marlina menoleh, melihat Dawiyah.
Apa aku beritahu Dawiyah saja yah jika kakak Antonio sekarang berada di kota S, dan sedang berusaha memikat hati seorang wanita di sana? Wanita ****** ini pasti akan menyusul kak Antonio ke kota S dan selalu berada di samping kakak. Jadi, kakak Antonio gak ada waktu untuk memikirkan Syakila, terus aku akan ke kota S tanpa kakak tahu dan aku punya kesempatan untuk menyingkirkan Syakila.
Tetapi, jika Dawiyah ke kota S, dia juga akan bertemu dengan Geo. Dan Geo akan merajut kembali hubungannya dengan Dawiyah, karena Geo masih mencintai Dawiyah. Mengapa sih Geo begitu mencintai Dawiyah? Apa sih yang sudah di berikan wanita ****** itu pada Geo, sehingga Geo begitu terpikat olehnya? Ah, mengapa aku harus resah hal itu? Bukan kah tante tidak menyukai Dawiyah lagi?
”Hei, Marlina mengapa menatap ku seperti itu? Apa yang sedang kamu pikirkan? Kening mu sebentar-sebentar mengerut, sebentar-sebentar tidak.” ucap Dawiyah lagi saat Marlina belum bersuara hanya memandangnya dengan aneh.
”Em... aku lagi kesel dengan seorang! Sudah lah bukan urusan mu! Aku pergi dulu!” sahut Marlina. Ia beranjak berdiri, melangkah mendekati pintu yang apartemen.
”Kamu mau kemana?” langkah Marlina tertahan dengan pertanyaan Dawiyah.
Marlina berbalik melihat Dawiyah, ”Ke rumah tante Rosalina, mau ikut?” tawarnya.
Dawiyah menggeleng, ”Gak..gak, terima kasih, nanti Geo saja yang membawaku kembali ke sana.” sahut Dawiyah sambil mengedipkan sebelah matanya.
Marlina memutar kedua bola matanya. ”Terserah!”
lagi pula, apa menurut mu tante akan sudi menerima mu kembali setelah kamu melukai hati anaknya dan mempermalukan keluarga besarnya? Jangan mimpi, Dawiyah!
”Aku pergi!” pamitnya ulang. Ia berjalan keluar dari apartemen tanpa menunggu sahutan Dawiyah.
Tinggallah Dawiyah sendiri di apartemen tersebut.
”Mengapa Geo lama bangat di kota S ya? Sayangnya aku gak punya kontaknya. Antonio juga, nomornya gak aktif di hubungi. Bagaimana kabarnya dia sekarang? Apa dia sedang bersenang-senang dengan wanita-wanita lain?”
Dawiyah bergumam sendirian. Ia berpindah posisi berbaring di kursi sofa panjang sepeninggal Marlina.
”Susah bangat sih ketemu Beni, aku ingin meminta nomor kontak Geo.”
Dawiyah masih tetap di posisinya, berbaring di kursi sofa panjang itu sendirian. Ia memikirkan dan menghayal kan kembali pertemuannya dengan Geo. Pertemuan yang di sengaja di atur olehnya dan Antonio. Saat itu Geo baru putus dari Yulia. Dan Dawiyah baru pertama kali datang di kota A bersama Antonio.
Antonio saat itu menjadikan Dawiyah teman ranjangnya, ia menyuruh Dawiyah untuk menggoda Geo, membuatnya jatuh cinta, dan kemudian menghancurkan Geo.
Dawiyah menurut, ia mengikuti ucapan Antonio. Akan tetapi, ia tergoda oleh pesona Geo. Sebelum Geo jatuh cinta padanya, dialah yang mencintai Geo.
Hubungan mereka berjalan dengan mulus, tanpa kecurigaan Geo sedikitpun. Meskipun Dawiyah kadang bersama dengan Antonio, Geo tidak mengetahuinya.
Hingga Geo memutuskan untuk bertunangan dengan Dawiyah, disitulah Antonio mengarahkan Dawiyah untuk meninggalkan Geo. Dawiyah tidak ingin, karena ia mencintai Geo, akan tetapi, ia harus meninggalkan Geo karena kesepakatan dengan Antonio.
__ADS_1
Di saat hari pertunangan nya, di saat ia melihat Geo tersenyum manis padanya saat itulah ia pergi meninggalkan Geo. Ia pergi dan bersembunyi di kota B atas arahan Antonio.