Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 215


__ADS_3

Malam hari di rumah Alimin.


Makan malam pada malam hari ini suasananya tidak seperti malam-malam sebelumnya. Semua anggota keluarga terdiam melihat makanan masing-masing, meskipun mereka tidak berselera untuk makan.


Raut wajah Alimin dan Nesa masih tampak sedih semenjak sore hari. Sementara Sardin, pria itu bersikap biasa saja seakan dia tidak memiliki penyakit, yang kapan saja siap merenggut nyawanya.


”Mama sudah kenyang.” Nesa berdiri.


”Mah, habiskan makanan Mama. Makanlah dengan baik.” ucap Sardin, wajahnya datar, pandangannya menatap makanan di hadapannya.


Nesa melihat wajah Sardin yang semakin terlihat pucat. Meskipun tubuhnya Sardin lemah dan saat memegang sendok, tangannya gemetar. Sardin tetap tenang memakan makanannya.


”Masakan Mama malam ini sangat lezat dan nikmat. Sayang sekali, Syakila dan Geo tidak dapat menikmati masakan Mama ini.” Sardin tersenyum kecut.


”Kamu jangan bicara lagi. Mama tidak mau dengar!” sahut Nesa. Suaranya bergetar, seakan menahan tangis.


Sardin melihat mamanya. ”Raut wajah Mama terlihat jelek seperti itu. Mama akan terlihat cantik, ketika wajah Mama di hiasi senyuman. Bukan wajah sedih. Untuk siapa wajah sedih itu, Mah?”


Hati Nesa pedih teriris mendengar ucapan Sardin. Apakah itu pujian?


Alimin hanya terdiam saja, menunduk, melihat makanannya. Selera makannya benar-benar hilang, meskipun makanan di hadapannya itu memang lezat dan nikmat.


Tapi, bagaimana makanan itu akan tertelan? Jika perasaannya sedang terganggu. Tenggorokannya seakan tercekat. Anaknya sudah berprilaku berbeda semenjak dia kembali dari kota A.


Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum!”


Bunyi ketukan dan sapaan terdengar dari pintu rumah.


”Biar Papa yang buka pintunya.” Alimin berdiri. Dia berjalan dengan lemas menuju pintu. Dia membuka pintu.


”Geo? Syakila?”


”Iya, Om. Kami datang, ingin melihat Sardin.” jawab Geo dan Syakila.


”Sardin? Masuklah!” Alimin menggeser badannya sedikit, membiarkan Syakila dan Geo masuk ke dalam rumah. Geo dan Syakila masuk ke rumah. Alimin menutup pintu.


”Langsung ke dapur saja Syakila, Geo. Kebetulan, kami sedang makan.” ucap Alimin.


”Iya, Om.” Syakila dan Geo berjalan ke dapur. Alimin juga menyusul ke dapur.


”Syakila? Geo?” gumam Sardin, dengan pelan. Namun, masih terdengar sama Nesa.


Sardin menatap Geo. Apakah Geo memberitahu Syakila tentang sakitnya yang memburuk itu? Mengapa dia harus membawa Syakila datang bersamanya, ke rumahnya?


Syakila melihat Sardin. Wajahnya terlihat pucat...benaknya. Dia terus memandang wajah pucat Sardin.


Nesa menoleh, melihat Syakila dan Geo. ”Syakila, Geo, ayo duduk, mari makan.” ajaknya.


”Iya, Tante.” sahut Geo.


Syakila dan Geo menarik kursi dan duduk. Syakila duduk di samping Nesa dan Geo duduk di samping Sardin. Alimin juga kembali duduk di posisinya.


”Ayo, ambil makanan, Kila, Geo. Jangan malu-malu.” ucap Alimin, sembari tersenyum, yang di paksakan.


Geo mengambil makanannya.


”Maaf, Om, Tante, Syakila tidak makan. Syakila sudah kenyang.” tolak Syakila, pandangannya tidak lepas memandang wajah pria di depannya itu. Pria yang akan mengucapkan ijab kabul, menjadikan dirinya sebagai istri sah dari pria itu, pada keesokkan paginya.


Sardin tersenyum melihat Syakila, ”Dari kamu datang kemari, kamu selalu memandang ku, apakah kamu merindukan aku?” tanyanya. Tangannya mengambil sesendok nasi dari piringnya sendiri dan mengarahkan sendok itu ke mulut Syakila.


Syakila melihat makanan yang ada di hadapan mulutnya. Dia tahu tangan Sardin gemetar, terlihat dari sendok yang bergoyang. Syakila beralih memandang Sardin. Pria itu masih memamerkan senyum manis padanya.


Syakila membuka mulutnya dan melahap makanan itu. Dia mengunyah sambil menatap Sardin. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Sardin.


Sardin mengambil makanan dan menyuapi dirinya sendiri. Lalu, dia mengambil sesendok lagi dan menyuapi Syakila. Dia tahu wanita di depannya itu sedang marah padanya, meskipun Syakila tidak mengucapkan sepata katapun.


Syakila kembali memakan suapan Sardin. Alimin, Nesa, dan Geo, memakan makanan mereka tanpa berkata dan menggubris yang di lakukan Sykaila dan Sardin.


Sesaat aku cemburu melihat ini. Tetapi....aku harus membiasakan diri seperti ini...melihat kemesraan yang di tampakkan oleh Syakila dan Sardin. Paling tidak, sampai beberapa hari kedepannya aku melihat pemandangan romantis mereka berdua. Di saat membawa mereka berdua ke China. benak Geo.


”Bicaralah sayang, jangan marah padaku. Aku tidak mau kamu marah padaku, di saat sekarang. Senyum lah padaku. Aku ingin melihat senyum mu, ingin melihat lesung pipi mu dan lesung dagumu.” ucap Sardin.


Air mata Syakila kini menetes di pipinya, tanpa permisi. Dia mengambil air minum dan meminumnya. Dia berdiri dan pergi dari dapur sambil menangis. Hatinya kini berkecamuk, dia ingin marah...hatinya sakit...mendengar perkataan manis Sardin. Dia sudah terbiasa dengan kata rayuan manis Sardin, tapi, kali ini rasanya benar-benar berbeda. Seakan kata-kata itu bukan hanya sekedar rayuan.


Nesa, Alimin, Geo, terkejut. Mereka menghentikan kegiatan makan nya sejenak, memandang punggung Syakila yang berlari. Kemudian, mereka melihat Sardin. Pria itu tampak tenang sekali dengan wajah pucat nya.


Namun, mereka semua tahu dan bisa melihat dengan jelas pancaran sinar mata Sardin yang sedih, menahan tangis, di balik sikap tenangnya itu.


Sardin mengambil air dan meminumnya. Dia berdiri. ”Kalian lanjut lah makan. Aku akan temui dia sebentar.” Sardin berjalan. Namun, tubuhnya sangat lemah, di tambah rasa sakit kepala yang mulai menyerangnya. Dia hampir terjatuh, jika tidak berpegangan pada pundak kursi yang di duduki Geo.


”Sardin!”

__ADS_1


”Nak!”


Geo, Alimin, Nesa refleks berdiri. Mereka sangat khawatir melihat Sardin.


”Aku tidak apa-apa! Jangan khawatir! Aku masih bisa jalan.” dia melangkah dengan pelan, selesai berucap. Langkahnya terlihat gontai, seperti anak bayi yang baru belajar melangkah.


Nesa tidak bisa menahan diri lagi. Dia pun menangis. Alimin memeluk istrinya, menenangkan istrinya itu, meski dia sendiri matanya berkaca-kaca, menahan tangis.


Geo terdiam. Dia tidak tahu ingin melakukan apa. Dia terduduk dengan lemas. Dia bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Syakila dan keluarga Sardin saat ini. Namun, dia bisa apa?


.. ..


Di kamar Sardin.


Ini bukan pertama kalinya Syakila berlari ke kamar Sardin jika sedang marah atau bersedih. Memang, jika Syakila sedang marah, bersedih, dia akan mencari tempat untuk menyendiri.


Jika di rumahnya Sardin, Syakila akan pergi ke kamar Sardin untuk menyendiri, meluapkan perasaannya. Jika di rumah Syakila sendiri, dia akan pergi ke kamarnya, atau ke taman bunga, untuk menyendiri.


Sardin membuka pintu kamarnya. Dia berjalan pelan masuk ke dalam. Dia melihat Syakila yang duduk di kursi, di meja hiasnya, di samping jendela kamar. Semakin dekat dengan Syakila, tampak jelas Sardin melihat pundak wanita itu yang bergerak karena Syakila yang sedang menangis.


Sardin menarik kursi satunya dengan pelan dan duduk bersandar, di samping Syakila. Tangannya yang gemetar terangkat menarik kepala Syakila dan menyandarkannya ke bahunya. Membawa Syakila ke pelukannya.


”Menangis lah disini. Maafkan aku, jangan marah padaku. Ok?”


Tangis Syakila makin menjadi. Tangannya terkepal, memukul pelan dada Sardin.


Sardin membiarkan Syakila memukulnya, melampiaskan marahnya.


”Kenapa kak, kenapa kakak menyembunyikan sakitnya kakak padaku? Kenapa? Hu...hu...kakak tidak mengaggap ku?” tanya Syakila, di tengah tangisnya.


Sardin mencium pucuk kepala Syakila. Dia tetap tenang. ”Maafkan, kakak. Kakak cuma tidak mau kamu terlihat cemas dan khawatir yang berlebihan. Kakak baik-baik saja.”


Syakila melepas tangan Sardin. Dia berdiri, melihat Sardin dengan marah. ”Kakak baik-baik saja kah? Lihatlah wajah kakak! Tubuh kakak! Kakak masih ingin membohongi Syakila?! Dengan mengatakan kakak baik-baik saja? Hah! Kakak sangat jahat hu...hu...kakak jahat!”


Sardin menjadi panik seketika, marahnya Syakila meluap. ”Hei...tenanglah! Apa yang kamu takutkan? Hum? Aku baik-baik saja di hadapan mu, saat ini. Jangan khawatir, ok? Ukhuk....ukhuk....” Sardin menutup mulutnya saat ter-batuk-batuk. Dia memang tidak bisa berpikir keras dan berbicara sedikit tinggi. Itu akan memicu sakit kepalanya.


”Ah, kakak.” Syakila berjongkok di hadapan Sardin. Dia khawatir. Tubuh Sardin seakan tambah lemah saat dia batuk.


Sardin terkejut, ada cairan yang dia rasakan di telapak tangannya. Dia tidak berani membuka tangannya di hadapan Syakila. Dia pura-pura ter-batuk-batuk lagi.


”Kakak, aku akan ambilkan air minum.”


Sardin mengangguk.


”Kakak, sebentar yah. Syakila ambilkan air minum di dapur.”


Sardin mengangguk, melihat Syakila. Wanita itu telah pergi dari kamarnya. Dia melepaskan tangannya dari mulutnya. Dia melihat cairan darah di telapak tangannya itu dengan sedih.


Dia mengambil tisu dan membersihkan tangannya. Tisu itu dia buang ke tempat sampah. Dia berdiri, pergi ke kamar mandi. Dia membersihkan tangannya.


Dia kembali batuk. Darah langsung keluar di wastafel. Sardin melihat dirinya yang semakin pucat dari pantulan cermin, di wastafel tersebut. Tubuhnya juga di rasakan semakin lemah.


”Kakak, kakak di mana?”


Sardin terkejut mendengar suara Syakila. Dia membuka kran air wastafel. Darah itu larut bersama air yang mengalir. Sardin mencuci wajahnya.


”Kak, kakak di sini rupanya.” Syakila masuk ke dalam kamar mandi menghampiri Sardin.


Syukurlah, darah itu sudah tidak ada. benak Sardin.


”Papah kakak kembali ke ranjang, kakak ingin istirahat.”


Syakila menurut. Dia memapah tubuh Sardin ke ranjang. Dia mendudukkan Sardin di sisi ranjang.


”Kakak, kita ke dokter saja yah.” ajak Syakila.


”Tidak, kakak ingin minum obat saja dan beristirahat. Tolong ambilkan obatnya kakak.” titahnya pada Syakila.


”Benar, tidak perlu ke dokter?”


”Iya, kakak sudah terbiasa. Jangan khawatir.”


”Di mana obatnya?”


”Di dalam laci itu.” Sardin menunjuk laci meja yang di samping ranjangnya.


Syakila mengambil obat itu dan membukanya, mengambil satu butir dan memberikannya pada Sardin.


Sardin mengambilnya dan meminum obatnya. Dia merubah posisi duduknya, bersandar pada sandaran ranjang. Dia melihat Syakila. ”Terima kasih, sayang.”


Syakila duduk di sisi ranjang, di dekat Sardin. Wajahnya cemberut. ”Hemp! Seharusnya aku sedang marah padamu.” keluhnya.

__ADS_1


Sardin tertawa, ”Tapi, kamu gak akan bisa marah lama-lama kepada kakak, kan? Kila, kakak sangat mencintai Kila.” wajahnya serius.


”Hemp! Bilang cinta, tapi, sembunyikan sesuatu dariku. Bahkan aku ragu jika cintamu itu adalah benar.” Syakila masih cemberut.


”Sini...kakak ingin peluk kamu.” pinta Sardin.


Syakila mendekat, dia menghambur ke pelukan Sardin saat pria itu merentangkan kedua tangannya.


Sardin memeluk erat tubuh Syakila dan mencium pucuk kepala wanita itu. Matanya berkaca-kaca. ”Maafkan kakak, yah! Jangan marah lagi sama kakak.”


Syakila menggeleng dalam pelukan Sardin. ”Syakila akan maafkan kakak, jika kakak mau dengarkan permintaan Syakila.”


”Hum? Apa permintaan mu? Kakak akan penuhi.” sahut Sardin.


”Besok, setelah kita menikah, kakak akan pergi dengan ku dan Geo ke China. Aku ingin kakak berobat ke sana.”


Sardin terdiam sejenak. Takutnya kakak tidak akan bisa bertahan setelah kita menikah nanti. Sekarang saja kakak sudah tidak bisa bertahan, tapi, kakak masih berusaha sebisa mungkin bertahan dengan kemampuan obat. Dan kakak akan terus berusaha bertahan sampai kakak bisa memenuhi janji kita berdua untuk menikah. benaknya.


”Ok, tapi, kakak juga punya permintaan sama Syakila.” sahut Sardin.


”Kakak minta apa?” Syakila penasaran.


”Kakak minta apapun yang kakak lakukan besok, Syakila gak boleh menolak dan gak boleh marah sama kakak. Ok?”


Syakila menarik diri dari pelukan Sardin. Di tatapnya pria itu. ”Kakak, kakak jangan macam-macam deh! Syakila gak mau menjawab kakak, jika kakak tidak menjelaskan maksud kakak ini.” tegasnya.


”Kakak gak macam-macam, sayang. Kalau Syakila gak setuju, kakak juga akan batalkan menyetujui permintaan Syakila.” ancam Sardin.


”Kakak mengancam ku?”


Sardin menggeleng, ”Kakak hanya meminta barter, pertukaran permintaan. Bagaimana?” tanyanya.


”Baiklah!” Syakila setuju.


”Janji, yah?” Sardin memastikan.


”Iya, Kila janji. Oh, iya. Obat kakak tinggal satu butir lagi. Syakila akan belikan obatnya kakak, yah?”


”Tidak usah. Bukan kah, kita akan berobat ke China? Jadi, tidak mungkin kakak akan membawa obat itu ke sana. Obat yang satu butir nya itu, sudah bisa menahan tubuh kakak untuk melakukan perjalanan ke sana.”


Obat itu...bisa menahan tubuhku sampai kita menikah besok. Kakak sudah capek rasanya mengonsumsi obat-obatan terus. Apalagi obat itu hanya sebagai penekan rasa sakit saja. benak Sardin.


”Kakak benar! Kalau begitu kakak berbaringlah, dan beristirahatlah! Kila pulang dulu.” Kila berdiri.


Sardin memegang tangan Syakila, menahan wanita itu untuk pergi. ”Tinggal lah sebentar lagi.” pintanya.


Syakila tidak tega melihat tatapan Sardin yang sangat ingin dia tinggal. ”Baiklah, kakak berbaringlah kalau begitu.”


Sardin berbaring. Syakila menarik selimut, menyelimuti Sardin. Di kecup nya kening Sardin. ”Kenapa kening mu dingin kak?”


”Pengaruh kena air tadi, kakak kan cuci muka di kamar mandi tadi.” jawab Sardin.


”Oh, ya udah. Kakak tidur gih. Syakila akan duduk di sini, menemani kakak.”


”Bisakah, Syakila tidur di samping kakak dan memeluk kakak? Di saat kakak tidur, Syakila boleh pulang.” pinta Sardin.


”Baiklah!” Syakila tidak bisa menolak. Dia naik ke atas ranjang dan tidur di samping Sardin, memeluk pria itu. Pria yang akan menjadi suaminya sampai seumur hidupnya. ”Kakak, kenapa sekarang Syakila baru sadar, tubuh kakak juga terasa dingin dan berkeringat. Baju kakak sampai basah begini.”


”Pengaruh obat yang kakak minum, sayang. Kenapa? Tidak tahan dengan dinginnya? Kalau begitu, Kila cukup tidur di sampingnya kakak saja.”


”Tidak, hanya heran saja kak.”


”Sudah, jangan banyak tanya. Kakak mau tidur sekarang.” Sardin tidur menyamping memeluk Syakila. Dia mencium kening Syakila sebelum dia memejamkan matanya.


Tanpa mereka sadari, dari pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu, Nesa, Alimin, dan Geo ternyata melihat dan menguping pembicaraan Syakila dan Sardin dari tadi. Di saat Syakila berlari mengambilkan air minum untuk Sardin.


Air mata Nesa tak hentinya keluar dan membasahi pipinya. Tangannya menutup mulutnya agar tak bersuara.


Sementara Alimin dan Geo, matanya berkaca-kaca. Perasaan mereka semua sangat sedih.


Alimin mengajak istrinya dan Geo kembali ke ruang keluarga.


.. ..


Di ruang keluarga.


”Pa...”


”Ssttts! Jangan berbicara sekarang. Pemikiran Papa saat ini sedang kosong.” pangkas Alimin.


Tubuh Sardin sudah sangat lemah. Apakah tidak akan terlambat untuk berobat nanti? Kenapa gak dari dulu sih, mereka meminta Syakila yang membujuk Sardin untuk berobat?

__ADS_1


Ah, aku lupa. Syakila adalah istriku. Dan kami tidak tahu kalau sakit kepala Sardin sangat serius. Dan semua ku ketahui di saat malam itu.benak Geo.


__ADS_2