Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 50


__ADS_3

Pagi telah datang bersinar, menyinari seluruh rumah-rumah penduduk, pohon-pohon, dan seluruh apa yang ada di atas permukaan bumi.


Namun, datangnya pagi hari tidak terasa bagi mereka yang mendekam di penjara yang sempit itu. Karena, sinaran matahari tidak bisa menembus dinding yang terbuat dari campuran pasir dan semen itu.


Mereka menyadari datangnya pagi, siang, sore, dan malam hari dari para pelayan yang mengantarkan makanan, juga dari suara azan yang berkumandang.


”Ayo...ayo..., semua bangun...bangun...!”


Salah satu petugas polisi membangunkan para tahanan dengan memukul besi sel memakai tongkat polisi. Setelah mereka bangun, petugas membuka gembok sel dan menyuruh mereka untuk berbaris dan mengambil nomor antrian.


Setelah mereka berbaris dan mengambil nomor antrian, mereka di keluarkan di halaman di belakang penjara. Halaman itu sangat luas dan besar, di pagari dengan beton dinding yang menjulang tinggi dua meter dan di pasang oleh kawat kawat berduri di atasnya. Hingga tidak memungkinkan para tahanan untuk kabur dari sana.


Halima, Mulfa, dan wanita yang berada satu sel dengan mereka. Mereka berkumpul dengan para polisi wanita untuk melakukan senam pagi.


Sedangkan Elsa karena kakinya yang masih sakit ia tidak ikut senam. tetapi, ia duduk di sana menonton orang yang lagi senam, termasuk Kevin di dalamnya. Mereka senam di halaman belakang penjara.


Mengapa aku tidak melihat Halima dan wanita piara ku disini, yah? Mereka dimana?


batin Elsa bertanya.


Elsa berjalan dengan terpincang-pincang ingin kembali ke dalam sel tahanan. Di luar, terik matahari mulai panas dan Elsa tidak ingin berjemur di terik matahari. Namun, ia di cegah oleh petugas kepolisian setelah ia sampai pada bibir pintu belakang.


”Hei, kamu mau kemana? Tetap di tempat mu!” ucap salah satu petugas kepolisian yang memantau mereka disana. Ia berjalan cepat mendekati Elsa.


”Saya, saya ingin masuk kedalam, Pak. Lukaku terasa panas membakar terkena sinar matahari ini, Pak. Kasihanilah saya, Pak!” Elsa berkata sambil menunjuk betisnya yang luka sebagai alasan dengan tatapan mengiba.


”Di sini, kami tidak menerima alasan apapun! Kamu harus tetap berada di sini, sampai tiga jam kedepan bersama dengan mereka.” tegas pak polisi berucap. ”Kembali ke tempat mu semula!”


Elsa terdiam. Ia kembali ke tempatnya tanpa berkata apapun.


Sial! Aku harus berada disini selama tiga jam. Kalau tiap hari seperti ini, bisa hitam kulitku terpapar sinar matahari terus.


batin Elsa.


Kevin yang sedang mengikuti senam dengan para tahanan lain, ia hanya bisa menyaksikan mamanya dan petugas polisi itu berbincang.


.. ..


”Semalam, jam berapa Halim pulang?” tanya Anton.


”Abang Halim, dia pulang jam dua belas lewat lima belas menit. Setelah kapal selesai strong pertama.” jawab Denis.


Denis dan Anton lagi duduk di kursi di teras rumah Anton. Mereka sedang menikmati secangkir teh.


”Apa kamu tanyakan padanya, dia darimana? Dan mengapa sampai pulang begitu larut?”


”Maaf, aku tidak menanyakan itu padanya, Bang.” sesal Denis. ”Tapi, sepertinya Abang Halim bertemu dengan seseorang yang menitipkan barang untuk keluarganya yang di kampung. Sebab, Abang Halim pulang semalam dengan membawa koper. Dan pas ku tanya itu koper apa?” kata dia. ”Itu barang titipan orang untuk keluarganya di kampung.”


Anton memasang wajah serius. ”Oh, apa Halim tidak bercerita apa-apa lagi padamu semalam, sebelum dia berangkat?”


”Em, itu... Abang Halim hanya berpesan saja padaku, untuk sampaikan salamnya padamu, Bang. Dan juga...ia berpesan, untuk aku menjaga tokonya dengan baik. Dan melarang ku untuk berbincang kepada orang lain, jika ada orang yang menanyakan tentang dia.”

__ADS_1


Anton mengernyit heran. Ia memandang Denis.


”Sebaiknya, kamu patuhi itu! Aku rasa ada yang dia sembunyikan dari kita. Tutupi segala identitas dari Halim. Cukup, mereka hanya tahu Halim seorang diri saja.”


Denis memandang bingung pada Anton.


”Abang merasakan itu juga? Sebenarnya, aku juga memikirkan hal yang sama, Bang. Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Abang Halim.” Denis menatap Anton dengan serius. ”Menurut Abang, kira-kira Abang Halim menyembunyikan tentang apa dari kita, Bang?”


Anton mengedikan kedua bahunya. ”Entahlah, aku juga tidak tahu tentang apa itu!” Anton meraih gelas teh di atas meja, ia meneguknya dua kali teguk, lalu ia meletakkan kembali gelas itu di atas meja. ”Dua hari yang lalu, ada orang yang menanyakan tentang Halim padaku. Tapi, aku menutupi identitas Halim, dari tangkapan nada bicara, dan ekspresi juga sikap yang dia tunjukan. Aku berfikir, Halim berada dalam sebuah masalah.” jelas Anton.


Denis berwajah serius. ”Bang, apa mungkin ini bersangkutan dengan kelompok Eagle? Abang Halim memenjarakan seorang wanita yang di tampung oleh Eagle. Dan orang itu mendatangi Halim untuk menyuruhnya membebaskan wanita itu dari penjara. Namun, aku tidak tahu apakah Halim sudah membebaskan wanita itu atau tidak. Aku juga tidak banyak bertanya pada Abang Halim.” Denis memandang Anton. ”Abang, apa Abang tahu siapa itu Fahroni? Yang berprofesi sebagai kepolisian, Abang mengenalinya?”


Anton mengangguk sambil mengkerut kan keningnya memandang Denis.


”Menurut Denis, Abang bisa mendapatkan informasi padanya mengenai bang Halim. Kemarin, Abang Halim pergi dengannya dan pulang juga di antar olehnya. Aku mengintip mereka dari jendela, saat Halim pulang.” usul Denis.


Anton memandang serius pada Denis. ”Dari mana Halim mengenal Fahroni?” Denis mengangkat kedua bahunya. Yang artinya ia tidak tahu akan hal itu. ”Kalau begitu, aku akan mendatangi Fahroni untuk berbincang dengannya nanti.”


Anton kembali meneguk tehnya sampai habis. Lalu ia berdiri. Ia menepuk pundak Denis.


”Habiskan teh mu, baru pergilah bukakan jualannya Halim. Terima kasih, sudah menemani ku ngobrol.”


”Sama-sama, Bang.” sahut Denis.


Anton masuk kedalam rumah setelah mendengar sahutan Denis. Dan Denis, ia segera meneguk tehnya hingga habis. Lalu, ia membawa cangkir teh yang sudah kosong ke dapur. Dan pergi ke toko Halim untuk membuka jualan.


Denis, ia memang tinggal di rumah Halim semenjak rumah itu kelar. Namun, Anton menyuruh salah satu karyawannya untuk memanggilkan Denis kerumahnya. Karena, Anton ingin menanyakan tentang Halim padanya.


”Hei, kau, di mana Halim?” teriak salah satu di antara mereka.


Denis berdiri dari duduknya dan ia mendekati sekelompok orang tersebut.


”Mengapa kalian datang dengan tidak sopan begitu? Pungut kembali sabun-sabun yang berantakan itu!” ucap Denis tanpa rasa takut memandang mereka.


”Berani kamu, memerintah ku?!” ucap pria yang menendang keranjang sabun tersebut dengan marah.


”Mengapa aku harus takut? Kamu yang bersalah disini, datang-datang dengan marah tidak jelas, bahkan menghamburkan barang jualan ku.” ucap Denis dengan nada tinggi.


”Kurang ajar kamu!” ucap pria tersebut dengan geram dan menendang Denis.


Namun, dengan secepat kilat Denis menghindar. Dan balik menendang perut pria tersebut. Hingga pria itu jatuh tersungkur. Kelima temannya tidak tinggal diam, mereka berlima langsung mengeroyok Denis. Ada yang meninju dengan membidik wajah Denis, ada yang memukul dengan membidik perut Denis, namun dengan lihai Denis menangkis serangan mereka. Justru Denis yang memukul wajah dan perut mereka.


Disaat itu, dua orang pria lainnya melayangkan tendangan kepada Denis dengan membidik paha dan kepala Denis. Namun, Denis yang punya kemampuan Karate dan Silat ia mampu menghindar dan menghajar balik mereka. Sedangkan yang satunya, ia menciut.


”Jangan mencari masalah dengan ku! Dan jangan bikin keributan di dalam pasar! Apa kalian tidak tahu, bagaimana kekuatan dari anak pasar jika kami bersatu?” ancam Denis. ”Kau,” Denis menunjuk pria yang menendang keranjang sabun. ”Pungut sabun itu dan masukan kembali ke dalam keranjangnya dan simpan di tempat semula!”


Dengan rasa takut, pria itu memungut sabun dan memasukan kedalam keranjang dan menaruh dengan rapi di tempatnya. Setelah usai ia kembali kepada temannya.


”Aku ingatkan kembali! Jangan mencari hal dengan ku! Orang yang kalian cari, tidak bekerja disini lagi. Dia telah pergi kembali ke kampung halamannya. Jadi, jangan datang kesini lagi untuk mencarinya. Paham!” ucap Denis dengan tegas dan wajah serius tanpa ada rasa takut sekalipun memandang mereka bergantian.


Mereka mengangguk dan segera pergi dari toko Halim.

__ADS_1


Semoga saja mereka akan kapok dengan pelajaran yang ku berikan. Dan tidak akan datang kesini lagi.


batin Denis.


Ia mengistirahatkan diri dengan duduk di kursi meja kasir, sambil menanti datangnya para pelanggan.


.. ..


Usai melakukan aktivitas olahraga para tahanan di suruh untuk mengerjakan sesuatu hal yang bermanfaat disana. Mereka di ajari cara menyulam dan juga membuat gelang dari tali rafia dan dari tali sepatu. Untuk menunggu datangnya jam makan siang.


Untuk Elsa dan Halima juga wanita lainnya memang sengaja di pisahkan sel dan juga tempat berkumpul. Agar menghindari kekacauan yang akan terjadi jika mereka saling bertemu nanti.


”Kakak, kapan kita akan keluar dari sini? Kita tidak bersalah, Kevin dan Elsa sudah di tahan. Lalu, mengapa kita masih di tahan disni?” tanya Mulfa sembari menyulam tali sepatu untuk di jadikan gantungan kunci.


”Sabar sayang, kalau kasus ini sudah selesai, baru kita bisa keluar dari sini.” jawab Halima dengan lembut.


”Lalu, bagaimana dengan sekolah ku, kak?” Sudah beberapa hari ini aku tidak masuk, pasti aku akan di keluarkan karena tidak masuk sekolah tanpa keterangan.” ucap Mulfa dengan raut wajah sedih.


Halima menghela nafas panjang. Ia membelai kepala Mulfa dengan lembut.


”Maafkan kakak, yah. Ini semua karena kakak. Jika kamu di keluarkan dari sekolah itu, setelah kita keluar dari sini. Kakak akan menyekolahkan kamu di sekolah yang baru.”


”Jadi, aku harus mulai lagi dari awal jika pindah sekolah baru. Yah, masa harus gitu, kak?” Mulfa memasang wajah cemberutnya.


Halima tersenyum. ”Tidak ada cara lain, sayang! Masalah ini, bukan masalah sepele. Mungkin kita akan berada disini selama beberapa bulan. Karena kasus ini mereka Perundingkan dulu, jika berkasnya sudah sesuai semua baru di usul ke kejaksaan. Sampai disana, jika di periksa lengkap semua laporan dan bukti. Baru di limpahkan ke pengadilan. Jadi, semua butuh proses. Jad_”


”Jadi, kemungkinan untuk Mulfa kembali ke sekolah itu tidak mungkin lagi. Cara satu-satunya harus pindah di sekolah baru dengan memulai dari awal lagi. Begitu kan, kak?” ucap Mulfa menyela ucapan Halima.


Halima tersenyum tipis memandang adiknya yang menampakan wajah pasrahnya. ”Maafkan kakak yah, Mulfa.” hanya kata maaf yang bisa di ucapkan Halima.


Mulfa menggeleng. ”Kakak tidak salah, ini juga bukan kemauan kakak, kan?” Halima mengangguk. ”Jadi, kakak jangan merasa bersalah dengan Mulfa.” Halima kembali mengangguk.


Maafkan kakak Mulfa. Jika saja, kakak dulu mendengarkan nenek untuk tidak membawamu di kota ini. Kamu pasti...tidak akan berada di sel ini bersama kakak. Kakak bego banget, karena sudah percaya dengan Kevin. Seandainya...aku tidak tergoda dengan pekerjaan yang menjanjikan dengan gaji tinggi itu. Mungkin, aku juga tidak berada di sel ini. Tapi, untuk menyesal sekarang sudah tidak guna. Semua sudah terjadi, beruntung masih ada orang yang mau membantuku mengeluarkan aku dari ini semua. Jika tidak, seumur hidup aku akan hidup dengan sejuta penyesalan. Terima kasih, Halim.


batin Halima.


”Jam makan siang tiba! Masing-masing tahanan silahkan berbaris untuk mengambil makanan dan minumannya.” terdengar informasi dari toa yang terpasang di sudut dinding dapur polisi.


Mulfa memegang bahu kakaknya yang sedang melamun. Halima terkejut. ”Iya Mulfa ada apa?”


”Kakak melamun kan apa? Apa kakak tidak dengar informasi tadi?” tanya Mulfa.


”memangnya ada informasi apa?” Halima bertanya dengan bingung.


”Hum, jam makan siang telah tiba. Kita di suruh untuk mengantri ambil jatah makan siang. Ini tinggal kita berdua disini, yang lainnya sudah keluar untuk mengantri.” jelas Mulfa.


”Oh, maaf kakak melamun tadi, kakak tidak mendengarnya. Ya sudah, ayok kita susul mereka.” sahut Halima.


Ia berdiri dari duduknya begitu juga Mulfa. Mereka berjalan menuju arah dapur. Mereka melihat antrian masih panjang. Dapur pun terpisah juga, satu dapur khusus tahanan pria, satu dapur khusus untuk tahanan wanita.


Meskipun dapurnya terpisah, tetapi dapur itu masih satu lokasi. hanya terhalang oleh dinding yang tingginya satu meter saja untuk membedakan tempat wanita dan pria.

__ADS_1


__ADS_2