Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 178


__ADS_3

Di kamar Anton.


Anton memikirkan kembali percakapan di antara Geo, samnia dan istrinya sendiri, Serlina tadi di dalam ruangan praktek Samnia.


Di saat Syakila dan Sardin pergi ke rumahnya Denis, Geo memanggil Serlina dan Samnia untuk masuk ke dalam. Di waktu bersamaan, Anton yang berada di sana juga ikut masuk ke dalam untuk melihat Geo.


Mereka semua khawatir mungkin telah terjadi sesuatu padanya. Perkiraan mereka salah, Geo baik-baik saja, ia hanya ingin mengobrol dengan mereka.


Sama halnya dengan Serlina, ia juga sedang mengingat kembali percakapan Geo yang bercerita tentang kebenaran pernikahannya dengan Syakila.


”Om, Bibi, Geo memohon dengan sangat agar Sarmi tidak mengetahui kebenaran ini. Kami berdua juga pada akhirnya, baik-baik saja.” ucap Geo, memohon.


”Kamu masih ingin kami menyembunyikan hal besar ini dari Sarmi? Ibu kandung dari Syakila sendiri? Apa kamu kira kami keluarganya akan berdiam diri saja melihat anak kami tidak bahagia dan menderita bersama mu?!” sahut Anton, suaranya mulai meninggi.


”Geo memang salah pada awalnya, Aku memaksa Syakila untuk menikah dengan ku. Dan memaksa Sarmi untuk menyetujui pernikahan kami, aku juga telah bersikap tidak baik kepada Syakila, aku menyesalinya. Dan sekarang, aku ingin membahagiakan Syakila tanpa ingin menyakitinya.”


Serlina dan Samnia terkejut. Sementara Anton, menampakkan wajah marah. Dia marah pada kenyataannya Syakila menderita menikah dengan Geo.


Anton memegang kerah baju Geo dengan kuat, Geo tidak melawan. Ia akan menerima dengan tenang kemarahan paman Syakila.


”Kurang ajar!! Apa kamu mengira Syakila itu mainan mu?! Syakila pantas bahagia meski tanpamu! Setelah kamu keluar dari sini, ceraikan Syakila!!”


”Tidak akan!! Jangan memaksa ku!!” Geo langsung menanggapi ucapan Anton tanpa berpikir lagi. Wajahnya sangat tegas dan penuh percaya diri, juga ada keseriusan di sana.


Bugh!! Anton meninju wajah Geo. Namun, Geo tetap tidak membalas.


”Papa!! Sudah, Pa! Jangan pukul lagi! Lihatlah, Geo juga sedang sakit! Bagaimana bisa Papa memukul Geo yang lagi tidak berdaya!” Serlina menahan tangan Anton yang ingin lanjut melayangkan tinju pada Geo.


Masih dengan tangan terkepal, Anton melepaskan kerah baju Geo. Ia memutar badan menghadap arah lain.


Geo memegang pipi nya yang masih terasa nyeri itu, ” Aku juga salah, telah melayangkan surat kontrak dan perjanjian pernikahan pada Syakila. Aku benar-benar bersalah pada Syakila dan seluruh keluarga Syakila. Sarmi tidak tahu tentang kontrak dan perjanjian itu. Jadi ku mohon, agar Sarmi tetap tidak mengetahui hal ini. Dan aku akan tetap mempertahankan pernikahan ku dengan Syakila. Aku akan membayar semua perbuatan tidak baikku kepada Syakila dengan menyayanginya di sisi ku.” ucapnya dengan tegas.


”Kamu masih ingin mempertahankan pernikahan yang tidak sah mu dengan Syakila? Lalu kamu akan menyakitinya di belakang kami? Jangan harap aku akan membiarkan Syakila berada di genggaman mu!! Setelah apa yang sudah kamu lakukan pada Syakila!” Anton kembali berucap dengan marah melihat Geo.


Geo merasa tidak senang mendengar ucapan Anton. ”Aku masih berbicara dengan baik-baik pada Om. Aku sama sekali tidak ingin berbuat kasar kepada Om dan keluarga Om. Jadi, sebaiknya Om dengarkan aku dengan baik-baik. Aku akan memperbaiki pernikahan ku dengan baik!!” ucapnya dengan tajam, membalas menatap Anton.


Anton sangat terlihat marah memandang Geo. Ia tidak menyangka Geo akan mengancam nya seperti itu. Serlina dan Samnia pun terkejut.


Mereka tahu tentang kekuatan keluarga Albert. Mereka bisa menaikkan status sosial orang dalam waktu semalam dan juga bisa menjatuhkan reputasi orang dalam waktu sekejap.


”Jadi, aku mohon perihal ini jangan sampai di ketahui Sarmi dan untuk pernikahan ku dengan Syakila, aku akan tetap mempertahankan Syakila sebagai istri ku! Aku benar-benar dan bersungguh-sungguh pada Syakila! Dia sangat berarti untukku dan kebahagiaan ku. Terlepas dari hutang, kontrak dan perjanjian. Aku mencintainya.” lanjut Geo berucap.


Serlina dan Samnia menghela nafas, mereka berdua mendekati Anton dan memegang kedua bahu Anton. ”Berikan kesempatan pada Geo.” ucap mereka dengan pelan.


Anton terdiam, ia melihat Samnia dan Serlina bergantian, lalu ia melihat Geo. ”Baik!!” ucapnya.


Geo merasa senang. Paman dan bibi Syakila telah berhasil ia bujuk. Ia telah mendapat kepercayaan dari mereka.


Samnia melihat Geo, ”Aku melihat hasil foto scan pada tulang kaki dan tulang ekor mu tampak baik-baik saja. Apakah kamu sedang menipu Syakila dan kami tentang lumpuh mu itu?” tanyanya, penasaran.


Geo terdiam, melihat Samnia. Samnia adalah seorang dokter. Meskipun dia membuka praktek, tetapi alat-alatnya lumayan lengkap. Dan berbohong pun akan jadi percuma. Lagi pula, ia sedang mencari kepercayaan dari paman dan bibi Syakila. Apakah dia harus berbohong?

__ADS_1


”Iya, maksud ku... awalnya aku menikah dengan Syakila, kaki ku memang bermasalah, aku tidak bisa berjalan. Tetapi, sewaktu kami berada di kota S, beberapa bulan yang lalu, Syakila membawa ku berobat pada gurunya, Rivaldi. Setelah beberapa hari dalam perawatan Rivaldi, kaki ku sudah kembali bagus, sudah membaik. Aku sudah sembuh dan bisa berjalan lagi.”


Geo menjeda ucapannya sesaat.


”Aku tidak ingin membohongi Syakila atas kesembuhan ku. Tetapi, aku mengingat perjanjian dan kontrak yang sudah kami sepakati. Aku tidak ingin berpisah dengan Syakila, untuk itulah aku menyembunyikan hal ini pada Syakila. Aku juga meminta pada Rivaldi untuk membantu ku menyimpan hal ini. Aku ingin mengundur waktu dan membuat Syakila mencintai ku dan menghapus perjanjian yang konyol itu.”


”Apakah kamu akan menggunakan kesempatan itu untuk menyentuh Syakila? Meskipun Syakila tidak sudi di sentuh oleh mu?” kini Serlina yang bertanya.


”Jika tidak ada jalan lagi untuk menahan Syakila di sisi ku, aku akan menggunakan cara itu untuk membuat Syakila tetap berada di samping ku. Mengikat dia dengan anak!” jawab Geo tanpa ragu. Wajahnya sangat serius melihat Anton, Serlina dan Samnia.


Serlina dan Samnia terkejut. Tebakan mereka ternyata benar. ”Tapi, Syakila tidak mencintai mu! Kamu juga tahu, Syakila mencintai Sardin. Lepaskan saja Syakila! Dia dan kamu berhak untuk mencari kebahagiaan masing-masing!!” ucap mereka bersamaan.


Geo terdiam, meskipun memang benar, mereka tidak akan berkutik bila dia menekan keluarganya Syakila. Tapi, ia merasa diri bersalah pada awalnya, jadi ia tidak akan melawan dari keluarga Syakila.


”Berikan aku waktu untuk meraih hati dan cinta Syakila. Jika aku gagal dalam enam bulan ini mengambil hati Syakila, aku akan melepaskan Syakila dengan ikhlas.”


Jika dalam enam bulan itu, Syakila masih tidak bisa mencintai ku, maka, satu-satunya cara hanyalah mengikatnya dengan anak. benak Geo.


”Apakah itu artinya kamu tidak akan melakukan hubungan badan dengan Syakila?” Anton memastikan tidak ada unsur seksual paksaan pada Syakila nantinya, jika Syakila masih tidak mencintai Geo.


Geo menggeleng, ”Aku akan menggaulinya jika ia yang bersedia sendiri untuk aku gauli.” jawabnya dengan tegas.


Anton, Serlina, dan Samnia tercengang.


”Baiklah, enam bulan!! Ingat, setelah enam bulan berlalu, jika Syakila masih tidak mencintai mu, lepaskan dia! Kembalikan dia kepada kami.” sahut Anton.


”Jangan khawatir!! Terima kasih, sudah percaya dan memberiku kesempatan. Aku pikir untuk sementara, Syakila tidak boleh tahu jika aku sudah bisa berjalan. Aku akan mengatakan aku sudah sembuh, dengan cara ku sendiri.” sahut Geo.


”Ada apa, Pa? Mengapa Papa menghela nafas kasar begitu?” tanya Serlina.


”Tidak apa-apa, Mah. Papa hanya sedang kepikiran dengan pembahasan tadi.” jawab Anton.


”Pa, apa kita harus percaya dengan ucapannya Geo?”


”Dari ucapannya, Papa rasa kali ini Geo berkata dengan serius. Bukankah kita sudah memberikan kepercayaan kita padanya?”


”Lalu, bagaimana dengan perasaan Syakila, Pa? Kita tahu Syakila itu orang seperti apa. Dia sangat memenuhi janji! Dia telah berjanji untuk menikah dengan Sardin. Mama yakin Syakila akan tetap memenuhi janjinya!”


”Biarkan Geo mempertahankan pernikahannya dengan Syakila. Jika ia mampu mengambil hati Syakila, Syakila akan tetap menjadi istrinya. Jika tidak, Papa juga tidak akan melarang Syakila untuk bercerai dari Geo dan menikahi Sardin. Bagaimana pun, kebahagiaan Syakila adalah tanggung jawab kita setelah Halim tiada.” Anton meraih dan memeluk tubuh Serlina yang berbaring di sampingnya itu.


”Iya, semoga saja sebelum enam bulan itu Syakila telah membuka hatinya untuk Geo. Mama sebenarnya tidak menyukai perceraian, tetapi jika rumah tangga tidak berjalan dengan semestinya dan tidak ada yang perlu di perbaiki dan di pertahankan lagi, maka bercerai adalah satu-satunya jalan yang terbaik.”


”Iya. Sekarang, berhentilah berbicara tentang meraka, sekarang waktunya kita beristirahat.” Anton mencium kening Serlina, ”Tidurlah!”


”Tapi, Pa. Apa Papa yakin Sarmi tidak perlu tahu hal ini?”


Anton menghela nafas, ”Mungkin sebaiknya seperti itu dulu. Papa sebelumnya telah menelpon Sarmi mengkonfirmasi kebenaran tentang pernikahan Syakila dan Geo.”


Serlina bangun dari baringnya, ia duduk dengan benar menghadap Anton yang masih berbaring itu. ”Apa kata Sarmi, Pa?”


”Sarmi bilang dia terpaksa menyetujui itu karena Halim membuat perjanjian dengan keluarga Albert sebelumnya, untuk menikahkan salah satu anaknya dengan anak Albert.” jawab Anton.

__ADS_1


”Apakah hanya itu, Pa? Tidak ada alasan lain, mengapa sampai bisa Halim dan Albert membuat perjanjian itu?” Serlina masih penasaran dengan hal yang sebenarnya.


Anton mengambil tangan Serlina dan menariknya, hingga Serlina jatuh di atas tubuhnya. ”Papa tidak bertanya lanjut lagi pada Sarmi. Untuk hal itu, mungkin saja Halim dan Albert berteman baik dan untuk memupuk pertemanan mereka, dengan berjanji untuk menikahkan putra dan putri mereka. Jika Fatma belum menikah, mungkin yang menikah dengan Geo adalah Fatma. Tapi, karena Fatma telah menikah dan Yuli, Ita, Endang masih kecil, Syakila lah yang maju untuk memenuhi perjanjian ayahnya itu. Lagi pula, Syakila pernah berjanji kepada Halim sebelum ia meninggal, jika Syakila akan menuruti perkataan dari Albert ataupun Rosalina kelak jika mereka datang untuk menagih janji itu.”


”Apakah hanya karena itu?” Serlina masih merasa janggal dengan alasan yang di kemukakan oleh Sarmi. Ia merasa masih ada hal lain yang di sembunyikan oleh Sarmi.


”Iya, hanya itu yang di katakan oleh Sarmi. Ini sudah larut malam sekali. Ayok kita istirahat. Jangan bahas mereka lagi.” ucap Anton. Ia kembali mengecup kening Serlina.


Serlina mengangguk. Ia memperbaiki posisinya dengan benar, berbaring di samping Anton, bukan di atas tubuh Anton lagi. Ia memeluk tubuh Anton dan memejamkan mata, mengajak matanya untuk beristirahat.


.. ..


Di ruangan praktek.


”Mengapa paman memukul mu?” Syakila sedang mengompres wajah Geo.


”Kenapa? Kamu khawatir wajah ku tidak akan ganteng lagi?”


”Aku tidak khawatir dengan itu! Seharusnya kamu yang harus khawatir jika Dawiyah melihat wajah mu gak ganteng lagi, apakah dia masih mencintai mu?” Syakila telah selesai mengompres wajah Geo.


Ia berdiri dan berjalan ke deretan obat-obat salep berada. Ia melihat salep untuk memar dan mengambilnya. Ia kembali duduk di ranjang Geo. Namun, ia heran melihat wajah Geo yang tampak marah.


Syakila cuek saja dengan wajah marah Geo. Walau bagaimanapun, ia telah terbiasa dengan wajah marah Geo. Ia membuka salep dan mengoleskan salep tersebut pada wajah Geo.


”Jangan sebut nama Dawiyah lagi di hadapan ku! Apalagi jika aku sedang bersama mu.” ucap Geo dengan tajam.


Syakila menghentikan tangannya, ia melihat Geo yang sedang melihatnya, ”Kenapa? Bukan kah dia wanita yang kamu cintai? Dan yang akan kamu nikahi nantinya? Apa kamu tidak suka jika aku yang menyebut namanya?” ia kembali mengoles salep di wajah Geo.


”Iya, aku tidak suka kamu menyebut namanya! Lain kali jangan sebut dia jika aku sedang bersama mu! Mengerti?!”


Apakah Dawiyah terlalu suci hingga tidak pantas ku sebut namanya? Baiklah, terserah padamu, tuan! benak Syakila.


”Baik. Sudah selesai! Kamu tidur lah! Ini sudah larut malam.” ucapnya sambil berdiri. Ia kembali berjalan ke deretan obat dan menyimpan kembali obat salep tersebut di tempatnya.


Setelah menyimpan obat itu, ia berjalan ke arah ranjang lain dan merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut.


”Bisakah kamu tidur di samping ku? Aku sudah terbiasa tidur bersama mu. Tidur sendiri begini, hati ku rasa lain.” ucap Geo.


”Tidak bisa! Tidurlah! Jangan bicara lagi.” sahut Syakila dari tempat tidurnya.


”Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur, Syakila.” ucap Geo memelas.


Syakila bangun dari baringnya. Ia tidak kuasa melihat wajah Geo yang memelas. Wajahnya tampak sedih dan rapuh. ”Hei, di mana wajah mu yang tegas itu? Apakah image mu sudah hilang di saat kamu sedang sakit?”


”Sayang, aku juga manusia. Aku punya perasaan. Sekarang aku hanya merasa sedikit hilang nafas ku, jika kamu tidak tidur di samping ku.”


”Hah!” Syakila terkejut dengan kata manis dari Geo. Lebih terkejut lagi dengan panggilan sayang darinya.


Sa...sayang!! Dia memanggil ku sayang? Apakah ada yang tidak beres dengan otaknya? Atau apakah dia melihat wajahku sedang melihat Dawiyah? Tapi...kenapa aku deg deg kan begini? Hanya karena panggilan sayang itu? benak Syakila.


”Ge... Geo! Ja...jangan memanggilku dengan sembarangan! Jika ada yang mendengar, maka akan berpikiran lain.” ucapnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata. ”Tidurlah! Kamu tidak cocok bersikap manja begitu!”

__ADS_1


Geo tidak berkata apa-apa lagi. Sangat susah sekali mengambil hati seorang Syakila. Apakah benar dia tidak bisa mengetuk hati kecil Syakila? Apakah dia tidak akan mampu membuat Syakila jatuh cinta padanya?


__ADS_2