
Di kediaman Sarmi.
Rivaldi bergegas mendekati Syakila dan Sardin. Dia memeriksa kondisi tubuh Sardin.
Dia tidak menemukan detak nadi di tangan Sardin. Dia mencoba mengeceknya di bagian siku dan leher bagian dalam, hasilnya tetap sama, detak nadi tidak di temukan. Dia memastikan nafas Sardin. Nafasnya sudah tidak ada lagi. Dia menunduk sedih dan menggeleng pelan. ”Sudah tidak dapat menemukan titik detak nadinya. Nafasnya juga tidak ada lagi. Kita sudah di tinggalkan oleh Sardin, selamanya.”
”Tidak! Kakak hanya pingsan saja. Kakak sudah biasa pingsan. Kakak cuma pingsan! Siapa kamu yang berani bilang kakak sudah meninggal? Hah!” Syakila memarahi Rivaldi. Dia tidak mau menerima kenyataan kalau Sardin sudah meninggal.
”Syakila...” Rivaldi terdiam melihat gelengan kepala Geo.
Kabar meninggalnya Sardin, adalah pukulan berat bagi semua orang yang mengenal Sardin. Di ruang pengantin, yang seharusnya di penuhi dengan gelak tawa dan senyum bahagia, kini terganti dengan suasana duka dan tangis kesedihan.
Sekretaris dan asisten Sardin yang datang di acara tersebut juga ikut menangis atas kepergian ceo nya, Sardin bin Alimin. Yang telah membangun Mitra tv dari titik nol hingga berjaya sampai sekarang ini.
Mereka kehilangan sosok pemimpin yang baik hati, bijaksana, murah senyum dan tampan itu. Sekarang, siapakah yang akan membimbing mereka untuk bekerja? Siapakah yang akan memimpin Mitra tv ini? Sementara mereka tahu, ceo mereka tidak memiliki saudara kandung.
”Kakak! Cukup, kak! Jangan bercanda begini lagi...Kila mohon, bangunlah!” Syakila masih mencoba membangunkan Sardin.
Alimin memeluk tubuh Nesa yang lemah, Nesa belum bisa menerima kenyataan jika anaknya sudah tiada. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya. Angannya untuk dapat melihat Sardin junior, sirna.
Sarmi dan Biah saling berpelukan. Mereka tidak pernah menyangka hal besar ini akan di alami oleh Syakila, apalagi di hari yang seharusnya dia berbahagia.
Sarmi, yang pernah kehilangan orang yang dicintainya, tentu saja dia sangat paham perasaan Syakila saat ini.
”Hu...hu....hu...bangun kak! Bangun...! Kakak jangan menakuti Syakila seperti ini. Ayo, kak, bangun..” Syakila terus berusaha membangunkan Sardin. Dia memeluk, mencium pipi, mencium kening Sardin dan menepuk pelan pipi Sardin untuk membangunkannya, bahkan menggoyangkan tubuh Sardin untuk bangun.
”Hardin! Om Johan! Kakak ipar! Kenapa hanya diam saja? Cepat bawa kakak ke rumah sakit.” titah Syakila.
Hardin dan suaminya Fatma hanya menunduk. Johan menghela nafas. Apakah Syakila bisa melalui cobaan ini?
Geo sendiri meneteskan air matanya melihat jenazah Sardin. Dia merangkul pundak Syakila, ”Sya...sudah...ikhlaskan Sardin...”
”Lepaskan aku!” ketus Syakila, memandang Geo dengan tajam.
Geo sangat sedih melihat Syakila yang terpuruk. Pandangannya tajam, tapi, sedikit pun tidak mencerminkan rasa marah. Yang ada hanyalah pancaran kesedihan dan putus asa. Dia melepaskan tangannya dari pundak Syakila.
”Lebih baik jenazahnya almarhum di baringkan saja. Dan secepatnya kita urus pemakamannya.” ucap pak penghulu.
”Tidak!” Syakila menatap pak penghulu yang sudah menikahkannya dengan Sardin dan Geo. ”Tidak ada yang boleh menyentuh kakak. Kakak tidak meninggal!” dia memeluk erat tubuh Sardin.
Geo sangat sedih melihat Syakila begitu.
”Sarmi...” panggil Johan.
Sarmi menoleh pada Johan. Sarmi mengangguk, mengerti dengan maksud dari kode yang di berikan Johan.
Sarmi mendekati Syakila. ”Syakila...sadar sayang. Istighfar, yah. Lepaskan tubuhnya Sardin, hum.” bujuknya.
”Ma, Syakila tidak gila! Kakak tidak meninggal. Kakak hanya pingsan.” kekeh Syakila.
”Iya...kakak hanya pingsan. Kita baringkan kakak supaya lebih akurat di periksa dokter, ya kan Rivaldi?” Sarmi bertanya pada Rivaldi.
”Iya, Tante.” jawab Rivaldi.
”Tuh kan? Biarkan Rivaldi memeriksa dengan detail kondisi kakak.” bujuk Sarmi.
Syakila mengangguk. Dia melepaskan pelukannya pada Sardin.
”Geo, angkat jenazah Sardin, letakkan di tikar yang sudah di sediakan oleh Biah.” titah Sarmi pada Geo.
“Mah, kakak tidak meninggal!” Syakila mengingatkan ibunya.
”Ah, Mama salah. Geo, pindahkan Sardin di tikar itu.” titah Sarmi pada Geo.
Geo mengangguk. Dia menggendong tubuh Sardin dan meletakkannya di atas tikar yang sudah di gerai oleh Biah.
Sardin, pergilah dengan tenang. Aku akan menjaga dan melindungi Syakila dengan baik. benak Geo.
Geo meletakkan kedua tangan Sardin di atas perut Sardin. Dan menutupi tubuh Sardin dengan kain panjang hingga ke pundak Sardin, hanya menyisakan kepalanya saja.
Kening Syakila mengerut melihat cara Geo memperlakukan Sardin. Dia berdiri dan berjalan mendekati Sardin.
”Mengapa ambilkan kain panjang ini untuk kakak? Apa kalian tidak mendengar ku? Kakak tidak meninggal!” ketus Syakila. Dia membuka kain panjang dari atas tubuh Sardin.
__ADS_1
Geo menghela nafas. Apa yang harus dia lakukan? Jika dia ingin membawa wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu ke dalam pelukannya, apakah wanita itu tidak akan marah? Sedangkan baru saja dia memegang pundak Syakila, Syakila telah membentaknya.
Syakila mengambil tangan kanan Sardin dan menggenggamnya. ”Kakak, buka matamu, kak. Mereka mengatakan kakak sudah meninggal. Buka matamu kak, buktikan pada mereka jika aku tidak salah. Hu...hu...hu...kakak, bangunlah dari pingsannya kakak.”
Jika pria yang terbaring di atas tikar itu adalah aku? Apakah kamu akan kehilangan kendali seperti ini, Syakila? benak Geo. Dia menghela nafas.
”Sebaiknya, jenazah Sardin kita urus di rumah ku saja. Takutnya, bila di urus disini dan Syakila melihat setiap prosesnya, dia akan menggila.” usul Alimin.
”Iya, itu yang terbaik.” Pak penghulu, Johan, Geo, dan semua orang di sana setuju dengan usulan Alimin.
Alimin menelfon mobil ambulance, pengangkut jenazah.
”Tidak! Tidak ada yang boleh memegang kakak! Jangan bawa kakak dariku, kakak adalah suami ku. Kalian tidak boleh memisahkan kami!” cegat Syakila.
”Sarmi, sebaiknya bawa Syakila ke kamarnya. Jika dia di sini terus, kejiwaannya bisa terganggu. Kita juga harus secepatnya mengurus jenazah Sardin.” titah Johan pada Syakila.
Sarmi mengangguk. Dia menghampiri Syakila, ”Sayang, kita ke kamar yuk!” ajaknya.
Syakila menggeleng. ”Syakila mau di sini, dengan kakak, suami Syakila.”
”Tapi, sayang! Kakak bukan suami mu, suami mu adalah Geo.” bujuk Sarmi.
”Geo? Hahahha...Mama, apa mama lupa, yang menikah hari ini adalah Syakila dan Sardin. Hari ini Sardin mengucapkan lafaz kabul dan menjadi suami Syakila...hu...hu..” Syakila tidak melanjutkan ucapannya.
Dia memang menikah dengan Sardin. Kemudian, Sardin mengucapkan kata cerai padanya. Dan Sardin menyuruhnya menikah dengan Geo.
Syakila menunduk semakin menangis..
Alimin sudah kehabisan akal. Dia tidak bisa menunggu lama untuk mengurus pemakaman jenazah anaknya.
Dia melihat sekretaris dan asisten Sardin. ”Ito, Ido, angkat jenazahnya anakku dengan pelan. Mobil ambulan sudah datang.”
Syakila mendongak, melihat Alimin. ”Tidak! Tidak boleh ada yang menyentuh kakak, selain aku. Kakak ku tidak meninggal! Aku sudah bilang pada kalian berkali-kali! Kakak tidak meninggal! Apa kalian tidak mengerti!!”
Kedua karyawan Sardin terdiam. Detik berikutnya, mereka mengangguk, mengerti dari kode yang di berikan oleh Alimin. Mereka berdiri dan menghampiri jenazah Sardin. Dengan pelan, mereka memindahkan jenazah Sardin ke tandu yang di sediakan oleh mobil ambulance.
”Tidak! Jangan bawa kakak! Jangan bawa kakak! Mama lepaskan aku, Ma! Mereka akan membawa suami ku pergi...” sekuat tenaga Syakila melepaskan dirinya dari Sarmi.
Johan, Johansyah, Hardin, mengikuti Alimin dan Nesa. Mereka akan mengurus jenazah Sardin di kediaman Alimin sendiri.
”Berhenti! Kembalikan kakak padaku!” Syakila sudah keluar dari teras rumah.
Sementara jenazah Sardin sudah masuk ke dalam mobil ambulance. Pintunya telah di tutup.
Syakila menaikkan bawahan baju pengantin yang dikenakannya hingga ke lutut agar ia leluasa untuk berlari mengejar mereka sebelum mobil itu benar-benar membawa Sardin pergi.
Dengan cepat, Geo mencegat Syakila. Dia memeluk erat tubuh Syakila.
Syakila berontak. ”Lepaskan aku! Jangan bawa kakak pergi! Lepaskan aku!” Syakila memukul-mukul dada Geo dengan sekuat tenaganya.
Geo menahan rasa pukulan Syakila yang kuat itu. Hingga dia merasakan pukulan tangan Syakila semakin melambat. Bahkan Syakila tidak memukulnya lagi.
Kening Geo mengerut. ”Kila?” dia melepaskan pelukannya, melihat Syakila. Wanita itu sudah tidak sadarkan diri lagi. ”Astaghfirullah!” dia menggendong tubuh Syakila dan membawanya masuk ke kamar.
Sarmi dan Biah terkejut melihat Syakila yang tidak sadarkan diri itu. Mereka berdua menyusul Geo ke kamar Syakila.
Geo membaringkan Syakila dengan pelan. ”Rivaldi! Di mana Rivaldi?” tanyanya.
”Dia mengikuti Alimin dan Nesa.” jawab Sarmi.
”Astaghfirullah!” Geo meraih hapenya. Dia menghubungi Rivaldi. Sambungan terhubung. ”Rivaldi, kembalilah sekarang! Syakila pingsan!” tut tut tut Geo langsung memutuskan sambungan.
”Apa ada minyak kayu putih, Mah?” tanya Geo.
Sarmi bergegas keluar dari kamar Syakila dan pergi ke kamarnya. Dia mengambil minyak kayu putih dari dalam lacinya. Dia berlari untuk kembali ke kamar Syakila.
”Ini.” Sarmi menyerahkan minyak kayu putih itu pada Geo.
Geo mengambil dan mengoleskan minyak kayu putih itu pada Syakila. Di telapak tangan nya, di tepalak kakinya, di pelipisny dan hidungnya. ”Syakila, kamu mendengar ku? Bangun sayang.”
Tidak ada respon sama sekali dari Syakila.
”Mama, tolong ambil pakaian santai Syakila. Geo akan menggantikan bajunya. Baju pengantin ini seperti sesak di dadanya.” ucap Geo.
__ADS_1
”Iya.” Sarmi mengambil pakaian Syakila di lemari pakaian Syakila. Lalu, dia memberikannya pada Geo. Sarmi mengajak Biah untuk keluar dari kamar.
Di luar pintu kamar Syakila.
”Sungguh semua di luar dugaan, apa yang terjadi hari ini.” ucap Biah.
”Dosa apa aku, Biah. Sampai anakku mendapatkan nasib seperti ini. Hu...hu...hu... dulu waktu pertunangannya dengan Sardin. Keluarga Albert datang mengacaukan segalanya. Sekarang di hari pernikahannya dengan Sardin..malah...”
”Ssttss! Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua adalah jalan takdirnya Syakila dari yang kuasa. Siapa yang bisa menghentikan apa yang sudah di tentukan oleh Nya? Hum? Meskipun para nabi sekalipun, mereka tidak ada yang bisa melawan takdir mereka. Jadi, kamu jangan menyalahkan dirimu. Semoga saja ada hikmah besar yang menanti Syakila di balik cobaan hidupnya ini.” pangkas Biah. Dia memeluk Sarmi dan menenangkan Sarmi dari kegundahannya.
Sarmi terdiam dan masih menangis di pelukan Biah. Apa yang di katakan oleh Biah itu benar. Tetapi, cobaan yang di hadapi anaknya itu begitu berat. Dia sebagai ibu tunggal dari Syakila, tidak kuasa melihat Syakila yang seperti itu. Takdir begitu mempermainkan perasaan anaknya.
”Tante, di mana Syakila dan Geo?” tanya Rivaldi. Dia terlihat ngos-ngosan saat berbicara.
”Kamu berlari ke sini?” Sarmi bertanya balik.
”Iya, Tante, saat Geo menelpon kami baru sampai di sekolah SD. Aku turun dan berlari dari depan SD tersebut.”
”Sebaiknya kamu duduk dulu. Tante ambilkan kamu air minum. Oh, tidak ada air minum di depan sana. Kamu istirahat dulu di depan. Geo lagi menggantikan baju Syakila. Setelah lelah mu berkurang dan nafas mu teratur, barulah masuk lihat mereka.” ucap Sarmi.
Rivaldi menurut. Dia berbalik pergi ke depan. Dia mengambil sebotol Aqua gelas dan meminumnya. Dia bersandar di bahu kursi, menghilangkan lelahnya berlari dan mengatur nafasnya.
”Sarmi, makanan dan minuman yang banyak ini, bagaimana?” tanya Biah.
Sarmi melihat di meja panjang. Berbagai macam hidangan yang ada di atas meja itu. Semua adalah persiapan perjamuan untuk para undangan yang di undang oleh Sarmi.
Sarmi menghela nafas. ”Kita beli kotak makanan saja baru kita kita atur makanan itu di dalam kotak dan membagikannya ke panti asuhan. Dan selebihnya kita bagikan untuk tetangga.” usulnya.
”Tetangga? Apakah mereka akan menerimanya?” tanya Biah.
Sarmi terdiam. Benar! Apakah para tetangga akan menerima makanan ini? Mereka tahu apa yang terjadi di sini. Mereka tidak akan mungkin mengambil makanan ini. Dia menghela nafas, ”Isi saja semuanya di dalam kotak makanan dan di bagikan pada panti asuhan. Tapi, tinggalkan sebagian untuk makan siang kita.”
Biah mengangguk. Dia menyuruh Yuli untuk membeli 1500 kotak makanan.
Rasa lelah Rivaldi telah hilang, dan nafasnya sudah teratur. Dia berdiri dan pergi ke kamar Syakila. Dia membuka pintu kamar. Di lihatnya Geo sedang menggosok-gosok telapak tangan Syakila. ”Geo, bagaimana Syakila bisa pingsan?” tanyanya. Dia duduk di sisi ranjang, di samping kiri.
”Rivaldi, cepat periksa Syakila. Dari tadi, aku mencoba menyadarkannya, tetapi..nihil..”
Rivaldi memeriksa Syakila. Dia tidak menemukan detak nadi Syakila di pergelangan tangan dan siku. Dia mengecek di bagian leher dalam Syakila. Dia menemukannya tapi, detaknya sangat lemah. Dia memeriksa nafas Syakila, nafasnya juga lemah.
”Geo, sebaiknya bawa dia ke rumah sakit saja. Detak nadi pada pergelangan dan di sikunya tidak ada lagi. Tinggal di leher dan itu sangat lemah. Nafasnya juga lemah. Bawa ke rumah sakit saja.” tutur Rivaldi.
”Apa? Bawa ke rumah sakit? Mobil..mobil tidak ada! Menelfon anak buah ku mungkin gak sempat lagi. Kamu...kamu pergilah di luar, coba tahan mobil orang. Aku akan menggendong Syakila.” usul Geo.
Rivaldi mengangguk. Dia keluar dari kamar.
Sarmi dan Biah yang sedang mengurus makanan di dalam kotak melihat Rivaldi dengan bingung. Rivaldi tergesa-gesa dan khawatir.
”Rivaldi, apakah Syakila baik-baik saja?” tanya Sarmi.
”Tidak Tante...” Rivaldi menjelaskan apa yang terjadi pada Syakila.
”Astaghfirullah!” Sarmi terkejut. Dia melepaskan pekerjaannya dan berlari ke kamar Syakila.
Sementara Rivaldi berlari ke depan jalan besar, menahan mobil yang bisa membawa mereka ke rumah sakit.
Biah sendiri melepas pekerjaannya. Tinggal Ita, Yuli, dan Endang yang melanjutkan mengisi makanan di dalam kotak.
Sarmi dan Biah bertemu dengan Geo yang menggendong Syakila, di depan pintu kamar Syakila.
”Geo...Syakila...”
”Mama, Bibi, Geo akan membawa Syakila ke rumah sakit. Mama dan Bibi, di rumah saja. Maaf, Geo pergi sekarang.” Geo pergi keluar dengan langkah cepat.
Dia menggendong Syakila dengan wajah khawatir. Dia melihat Rivaldi sedang berbicara dengan seorang pria, yang berhenti di depan Rivaldi.
Dia melihat si pemilik mobil turun dari mobil dan Rivaldi berbalik badan.
”Ah..Geo, Syukurlah, aku sudah dapatkan mobil. Ayo, cepat!” titah Rivaldi.
Geo semakin mempercepat langkahnya. Rivaldi masuk duluan ke dalam mobil, Dia memangku kepala Syakila. Geo dan si pemilik mobil masuk ke dalam mobil. Geo menghela nafas sambil bersandar dan memejamkan mata. Mobil telah jalan, pergi ke rumah sakit milik Rivaldi.
”Geo...sabar yah hadapi ini semua...semoga ke depannya nanti kebahagiaan yang menghampiri rumah tanggamu.” ucap Rivaldi.
__ADS_1
Geo membuka mata, melihat Rivaldi. ”Terima kasih, Rivaldi.” sahutnya.