Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 37


__ADS_3

Seperti yang sudah di rencanakan tadi pagi. Anton pergi ke kebun bersama Syakila. Mereka berjalan sambil bercerita tentang masa kecil Anton, dan persahabatannya dengan Sarmi, ibunya Syakila.


Syakila hanya mendengar kan saja tanpa menanggapinya. Tidak terasa mereka telah sampai di kebun. Sarmi menyambut mereka berdua dengan senang.


"Anton, Syakila,"


Syakila langsung mencium punggung telapak tangan mamanya. Sedangkan Anton ia langsung menuju gode-gode. Ia duduk di sana menunggu Sarmi menghampiri nya.


Syakila pergi menemui nenek dan adiknya di rumah. Sedangkan Sarmi membuatkan teh untuk Anton lalu membawakannya. "Ini, minumlah!" Sarmi memberikan teh di hadapan Anton.


Anton mengambilnya dan meminumnya satu teguk lalu ia menaruh kembali.


"Anton, lusa kamu akan berangkat yah? Rencana besok baru aku tulis surat untuk suami ku. Tapi karena kamu sudah datang kesini. Biar aku tulis sekarang aja suratnya yah. Kamu tungguin sampai aku selesai nulisnya." ucap Sarmi.


"Em, Sarmi sebentar!" Anton menahan langkah Sarmi. Sarmi berhenti dan menoleh melihat Anton. "Sebenarnya, aku datang kesini untuk membicarakan sesuatu dengan mu."


Sarmi mengkerut kan keningnya. "Oh, sabar! Selesai aku menulis suratnya baru kita bicara yah." tawar Sarmi." Ia kembali melangkah.


"Sar, duduklah dulu!" pinta Anton. "Dengarkan aku baik-baik!" ucap Anton dengan serius. Sarmi mengalah, ia duduk kembali. "Mau bicara apa? Langsung saja!" sahut Sarmi.


"Sebenarnya, aku berniat untuk mengajak kamu, ibumu, dan anak-anak mu untuk ikut ke kota bersamaku lusa." Anton berbicara dengan hati-hati. "Apa kamu mau ikut dengan ku? Aku khawatir jika peristiwa kemarin terulang lagi. Dan tidak ada yang bisa menolong mu. Jadi ak_"


Sarmi memotong langsung ucapan Anton. "Maaf, aku tidak bisa ikut bersama mu. Aku berterima kasih karena kamu sudah khawatir padaku. Aku akan menunggu suamiku yang menjemput kami nanti. Kamu jangan kecewa dengan penolakan ku."


"Sebenarnya aku sedikit kecewa, karena kamu menolak tawaran baikku. Cobalah kamu fikirkan lagi, apa kamu gak memikirkan anak-anak mu? Jika kejadian seperti kemarin terulang, tidak ada yang bisa menolong mu. Ibumu saja hanya bisa menangis memangku kepalamu, menunggu ada orang lewat untuk menolong mu. Tapi nihil! Lalu jika kamu gak tertolong, bagaimana dengan anak-anak mu? Apa kamu gak memikirkan hal itu?" Anton berkata jujur kekecewaan, sekaligus menjelaskan kepada Sarmi niat baiknya.


Sarmi tampak diam, ia sedang berfikir.


Ucapan Anton memang benar, akan tetapi hal kemarin baru kali itu juga ku alami. Dan itu karena aku memikirkan mimpiku itu siang malam, hingga aku gelisah dan tidak bisa tidur. Jika aku tidak kepikiran, hal itu tidak akan terjadi. Tapi, apa sebaiknya aku ikut Anton ke kota? Sedangkan suamiku sudah berkata akan menjemput kami sendiri. Sarmi membatin sambil memandang Anton yang juga memandangnya.


"Bagaimana Sar, kamu setuju ikut dengan ku? Pikirkan lah baik-baik! Dan jika keraguanmu karena istriku, kamu jangan khawatir. Istriku tau hak ini, dan kita berangkat bersama-sama." Anton kembali bertanya meminta pendapat Sarmi.


"Tidak, aku tidak mengkhawatirkan tentang istrimu. Aku ucapkan terima kasih sekali lagi padamu, tapi aku tidak bisa ikut dengan mu. Maaf!" Sarmi bersikeras menolak tawaran Anton.


"Pikirkanlah dengan baik Sarmi!?" Anton masih membujuk. Sarmi menghela nafas panjang. Dia menggeleng dengan pelan, "Aku sudah cukup memikirkannya, Anton! Aku tetap pada pendirian ku!"


"Huf, baiklah!" Anton mengalah. "Pergilah tulis surat untuk suamimu, aku akan menunggu surat mu, sambil menghabiskan teh ku." Anton berkata dengan datar. Ia memang terlihat sangat kecewa.


Maaf Anton, aku membuatmu kecewa. Tetapi aku tidak mau membuat suamiku yang kecewa nantinya. Aku akan menanti suami ku sendiri yang menjemput ku dan anak-anak ku. batin Sarmi.


Sarmi tersenyum, "Hum, maaf sudah membuatmu kecewa!" ucap Sarmi sebelum ia berdiri. "Hum, santai saja!" sahut Anton. Anton kembali meminum tehnya. Dan Sarmi, ia pergi ke rumah, menemui Syakila. Ia meminjam buku dan pena Syakila untuk menulis surat. Dan Sarmi meminta anak-anaknya untuk menemani Anton di gode gode agar ia tidak sendirian disana.


"Asya, Mama pinjam pena dan buku mu, sayang. Setelah itu bawalah adikmu ke bawah, temani om Anton yah."


"Iya Mah." Syakila mengambil pena dan bukunya untuk mamanya. Lalu ia pergi menemui Anton di gode gode bersama adiknya.


"Om..Om..!" seru Yuli, Ita, Hardin, dan Endang dari kejauhan sambil berlari kecil menemui Anton. Anton tersenyum melihat anak-anak Sarmi yang berlari menuju padanya.


"Jangan lari-lari, Nak. Nanti jatuh!" Anton memperingati.


"Adik, jangan lari! Nanti jatuh!" Syakila ulang memperingatkan ketika mereka masih berlari, tidak mengindahkan peringatan Anton.

__ADS_1


Mereka pun menurut, mereka tidak berlari lari. Namun setelah beberapa centi dari tempat duduk Anton mereka segera berlari dan menubruk kan dirinya ke tubuh Anton. Anton tersenyum bahagia melihat sikap dan tingkah lucu mereka. Anton mengelus lembut kepala mereka satu persatu.


Syakila pun ikut duduk di samping adiknya.


"Syakila, kamu kelas berapa sekarang?"


"Syakila kelas dua Om, sebentar lagi ulangan penaikan kelas tiga." Syakila menjawab dengan santai.


"Oh, sudah mau kelas tiga yah?" sahut Anton "Kamu sama dong dengan anak kemenakan Om, dia juga kelas dua, mau naik kelas tiga."


"Oh ya, memangnya siapa anak kemenakan Om itu?" Syakila bertanya


"Namanya Dina, kamu kenal?" sahut Anton


Dina? Apa Dina yang satu kelas dengan ku? Yang selalu menganggu ku itu? batin Syakila.


"Dia seperti apa Om? Apa rambutnya sebahu? Selalu memakai bandana ke sekolah? Dan memiliki tahi lalat di pinggir bibirnya yang kiri?" Syakila bertanya dengan menyebutkan ciri-ciri dari Dina.


"Iya, itu ciri-ciri dari anak kemenakan Om, kamu kenal?" Anton ulang bertanya.


"Iya Om, dia sekelas dengan Syakila." Syakila menjawab dengan pelan. "Oh, apakah Dina nakal di sekolah?" Anton bertanya lagi.


Dia sering menggangguku di setiap ada kesempatan. Dia sangat usil, dan sombong.


batin Syakila.


"Tidak tahu juga Om, kalau di jam istirahat. Tapi kalau di jam belajar, dan berada di kelas dia baik-baik saja Om." jawab Syakila dengan bohong.


Syakila terkejut.


Pantas saja, ia suka usil di sekolah, memang itu sifatnya.


Syakila tersenyum mengikuti Anton yang tersenyum. Setelah membahas Dina tidak ada pembahasan lagi di antara mereka.


"Apa yang kamu tulis, Nak?" Ibu Sarmi mendekati Sarmi yang sedang fokus menulis. Sarmi menoleh sebentar melihat ibunya. "Ibu, Sarmi lagi menulis surat untuk mas Halim." jawabnya, sambil terus menulis kata per kata untuk menjadi sebuah kalimat yang bermakna. Ibu Sarmi duduk di samping Sarmi memperhatikan dia menulis.


"Sarmi, Ibu tadi mendengar pembicaraan kamu dengan Anton. Mengapa kamu tidak ikut Anton saja ke kota?"


Sarmi menghentikan sebentar dari menulisnya. "Bu, Sarmi tidak mau merepotkan Anton. Apalagi dia kesana dengan membawa anak dan istrinya juga. Lagian, Sarmi menanti jemputan dari mas Halim." Sarmi menjelaskan alasan penolakannya. Kemudian ia lanjut lagi menulis suratnya.


"Tapi, Nak!" Ibu Sarmi ingin membujuk Sarmi. Tapi Sarmi tidak memberikan kesempatan ibunya untuk lanjut berbicara.


"Bu, Sarmi tahu apa yang Ibu pikirkan." Sarmi menghentikan sebentar ucapannya. Ia menghela nafas. "Bu, Sarmi tidak apa-apa, kejadian seperti kemarin Sarmi janji, itu tidak akan terulang lagi. Jadi ibu tidak memikirkan hal itu." Sarmi menjelaskan dengan pelan agar sang ibu dapat memahami perkataannya. Ibu Sarmi mengangguk dengan muka sedihnya. Ia tidak mengganggu Sarmi lagi yang sedang menulis.


Setelah selesai menulis suratnya, Sarmi memasukan surat tersebut di dalam amplop bekas dari amplop surat Halim untuknya.


Lalu Sarmi melipat amplop itu dan membungkusnya dengan plastik kecil berwarna putih. Lalu ia pergi menghampiri Anton.


Sarmi tersenyum dari kejauhan saat ia melihat ke akraban antara anaknya dengan Anton, mantan kekasihnya dulu waktu SMP.


Memang Anton sangat memegang kata-katanya. "Meskipun kita putus suatu waktu nanti, aku akan tetap memperhatikan kamu dan anak-anak mu kelak. Karena kamu gadis pertama yang mengisi relung hatiku. Anak-anak mu kelak, aku akan menganggapnya seperti anakku sendiri, dan ku harap kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti aku." Anton, jika bukan karena kesalahpahaman yang tercipta di antara kita dulu, mungkinkah kita akan bersama sekarang? Padahal dulu kita adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dan tidak ingin berpisah. Tidak menyangka hubungan kita malah berakhir dari kesalahpahaman yang di ciptakan ibumu dan mantan pacarmu yang lain.

__ADS_1


Sarmi membatin sambil terus tersenyum dan melangkah menghampiri Anton.


Anton melihat Sarmi yang berjalan kearahnya dengan tersenyum manis, membuat ia terpana.


Kecantikan mu memang tidak pernah berubah Sarmi. Senyummu masih sama semanis dulu, sewaktu kita masih berpacaran. Bodohnya aku dulu yang terhasut ucapan ibu dan Tini, sehingga aku memutuskan hubungan kita tanpa aku mendengar penjelasan darimu. Seandainya kita tidak putus dulu, apakah sekarang kita masih bersama dan hidup bahagia dengan anak-anak kita? Sarmi!


Anton membatin.


"Sudah selesai menulis suratnya?" Anton bertanya ketika Sarmi sudah di dekatnya dan duduk di samping Syakila, putri keduanya.


"Ia sudah selesai, ini suratnya. Tolong berikan untuk mas Halim." Sarmi menjawab dengan lembut sambil memberikan surat itu kepada Anton. Anton menerimanya. "Anton, ku harap kamu tidak kecewa dengan penolakan ku atas tawaranmu."


Anton tersenyum kecil. "Santai saja Sarmi, kayak kamu gak kenal aku aja. Tapi yah sejujurnya sedikit kecewa sih, cuman aku bisa memahami mu. Kamu orang yang sangat peduli akan perasaan kepada pasangan mu." ucapnya dengan suara sedih di akhir kalimat.


"Terima kasih, kamu memahami ku!" sahut Sarmi. "Hum," Anton menjawab singkat.


"Baiklah, ini sudah sore aku akan kembali kembali ke kampung." pamit Anton. "Syakila, apa kamu mau pulang ke kampung juga?" Anton bertanya kepada Syakila.


"Iya Om," jawab Syakila.


"Kalau begitu, ayok sama-sama dengan Om perginya." ucap Anton mengajak Syakila.


"Ia Om, Syakila ambil tas dulu di dalam." Syakila berlari kecil ke rumah untuk mengambil tasnya.


"Terima kasih Anton, kamu sangat perhatian kepada kami." ucap Sarmi tulus berterima kasih.


Anton tersenyum kecil sambil menatap sendu wajah Sarmi. "Ku harap kamu tidak melupakan apa yang pernah ku ucapkan padamu waktu itu, Sarmi." Sarmi tidak bisa berkata lagi ia dan Anton saling memandang tanpa ingin memutuskan pandangan itu.


"Om, Syakila sudah siap."


Sarmi dan Anton memutuskan pandangan mereka sambil tertawa kikuk.


"Baiklah, mari kita pergi." ajak Anton "Salim sama mamamu." pintanya. Syakila pun salim pada mamanya sekalian berpamitan. Ia juga berpamitan kepada adiknya.


"Kami pergi dulu Sarmi." pamit Anton. "Iya hati-hati di jalan." sahut Sarmi.


Anton dan Syakila akhirnya pergi. Sarmi masih memandang punggung Anton dan Syakila yang berjalan meninggalkan kebun.


Aku tidak mungkin lupa Anton. Itu ku simpan selalu di otakku. batin Sarmi.


Setelah tidak terlihat lagi punggung mereka, Sarmi menyuruh dan mengajak anaknya untuk mandi.


Setelah menempuh hampir dua jam dalam perjalanan. Syakila dan Anton sampai di kampung. Syakila langsung pergi kerumahnya, meskipun Anton menawarinya untuk singgah di rumahnya. Anton langsung menerobos masuk ke dalam rumahnya karena pintu yang tidak tertutup.


"Namlia, istriku sayang! Aku pulang!" teriak Anton. Namlia yang mendengar suara Anton, ia berlari kecil dari dapur menemui suaminya itu.


"Suamiku, sudah pulang." Namlia duduk di samping suaminya. "Bagaimana, kamu sudah bicara dengannya?" Namlia bertanya dengan penasaran.


"Aku sudah berbicara dengannya, tapi ia menolak tawaranku. Dia menunggu suaminya yang jemput." jawab Anton. "Kamu lagi bikin apa, istriku?" Anton sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin Namlia cemburu lagi jika terus membahas Sarmi.


"Aku baru selesai memasak untuk makan malam. Berati besok lusa hanya kita saja yang berangkat?" Namlia bertanya ulang memastikan.

__ADS_1


"Iya sayang!" sahut Anton sambil mengelus lembut rambut istrinya. "Aku mandi dulu!" ucapnya lagi sambil berdiri dari duduknya. Ia melangkah ke kamar untuk mengambil handuk dan pergi mandi.


__ADS_2