Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 41


__ADS_3

"Abang Halim, siapa bapak-bapak itu, apa dia peramal?" Denis bertanya dengan serius karena penasaran.


"Abang juga tidak tahu, bapak itu peramal atau bukan. Tapi, selama Abang bertemu dia, apa yang dia katakan itu benar." Halim menjawab sambil berjalan masuk ke dalam dan duduk di bangku.


Denis mengikuti Halim dan ia juga duduk di bangku di depannya. "Berarti, dia memang peramal!" sahut Denis. "Bapak itu tadi bilang tahun depan aku akan menikah dengan pacarku yang sekarang. Itu artinya tahun depan aku akan menikah dengan Samnia! Oh, betapa senangnya aku hari ini." ucap Denis sambil tersenyum bahagia.


"Oh ya Bang, Abang membicarakan apa dengan bapak itu barusan? Denis penasaran, dan nasehat nya tadi sangat mendalam maknanya." kini wajah Denis berubah menjadi sangat serius.


"Bukan apa-apa. Bagaiman para tukang udah pada makan belum?" Halim sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Abang, jangan mengalihkan pembicaraan! Mereka sudah makan. Dan pemasangan batako sudah hampir selesai. Udin bilang jika tidak hujan, dua hari kedepannya pasang atap dan plester dinding." jelas Denis.


"Cepat juga mereka kerjanya." Halim memuji mereka. "Kapal jam berapa akan sandar?"


"Agak terlambat sandarnya, ada sedikit kendala dalam perjalan ke sini ada salah satu penumpang kapal meloncat dari kapal. Jadi mereka sedang berlabuh untuk mencari penumpang tersebut." jelas Denis lagi.


"Oh, kamu gak balik ke tokonya Anton?"


"Belum ingin kesana Bang, kenapa? Abang mau pergi lagi?" Denis bertanya penasaran.


"Tidak," sahut Halim singkat. "Abang ke atas dulu lihat mereka dan ingin menemui Udin, ada yang ingin Abang bicarakan dengannya. Kamu disini dulu yah" pinta Halim. Dengan terpaksa lagi Denis mengangguk. Halim segera pergi menemui Udin sekalian melihat mereka bekerja.


.. ..


Halima sedang ketakutan sekarang, karena ia ketahuan sedang menyusun rencana bersama adiknya.


Bodyguard tersebut, tidak sengaja mengambil handphone Halima yang di tinggalkan di atas meja saat handphone tersebut berbunyi. Sedangkan Halima sedang pergi ke toilet.


Bodyguard tersebut membuka dan membaca pesan tersebut.


"Kak Halima, Mulfa sudah membeli barang di tempat kosmetik yang kakak bilang. Tapi aku belum membicarakan apa yang kakak suruh kan ke Mulfa. Nanti Mulfa akan bicara dengannya kalau ada kesempatan lagi." Mulfa


Setelah membaca pesan tersebut, bodyguard itu menyimpan hpnya kembali di atas meja. Ia memberitahu isi pesan tersebut kepada sang bos perempuan, melalui via SMS.


"Bos, saya membaca dari pesan dari handphone Halima. Jika ia sedang merencanakan sesuatu." sang bodyguard.


Ting! Bunyi nada pesan dari handphone sang bodyguard. Ia membuka dan membacanya.


"Perketat penjagaan pada Mulfa. Selidiki dia dan laporkan pada saya siapa saja yang ia temui. Dan untuk Halima, bawa dia di hadapan saya." Bos Elsa.


"Baik bos, setelah Halima keluar dari toilet, kami menuju ke tempat bos." sang bodyguard membalas pesan Elsa.


Tidak lama Halima datang. Dan tidak menunggu Halima duduk kembali di kursinya. Salah satu bodyguard nya berkata padanya dengan begitu dingin.


"Tidak ada waktu untuk kamu duduk. Ambil hapemu dan segera masuk ke mobil."


Halima merasakan aura menakutkan dari suara dan juga dari raut wajah sang bodyguard itu. Tanpa berkata apapun Halima mengambil handphone nya lalu mengikuti para bodyguard masuk ke mobil.

__ADS_1


Ada apa lagi ini? Apa aku membuat masalah lagi? Tapi apa? Perasaan aku tidak bertingkah aneh hari ini. batin Halima.


Sepanjang perjalanan Halima terus memutar pikirannya untuk menebak apa yang terjadi. Ia teringat saat pergi ke toilet ia meninggalkan handphone di atas meja.


Handphone? Mungkin selama aku di dalam toilet ada yang menelpon atau ada yang mengirim sms. Tapi handphone ku tidak mudah untuk di buka, karena aku memakai kata sandi. Mungkinkah mereka tahu kata sandi ku?


Halima bertanya sendiri dalam benaknya.


Ia mengambil kembali handphonenya dari dalam tas, ia membukanya dan ia terkejut dan menjadi pucat dalam sekejap. Saat membuka di pesan ada pesan masuk dari Mulfa dan sudah terbaca.


Halima ketakutan sekarang. Ia sedang memutar kepalanya untuk mencari-cari alasan yang tepat agar ia terhindar dari permasalahan ini.


Mereka pasti membawaku ke Mba Elsa. Berpikir Halima..berpikir.. Kamu harus bisa mencari alasan yang tepat untuk mengamankan dirimu juga mengamankan adikmu, Halima!


batin Halima. Ia benar-benar gelisah.


Halima menyempatkan diri untuk mengirim SMS kepada Mulfa, untuk tidak mengatakan apapun kepada orang lain, jika ia bertanya tentang sesuatu yang bersangkutan dengan Halima, ataupun Halim.


Halima semakin ketakutan ketika mobil berhenti tepat di depan rumah Elsa. Halima menggigit bibirnya. Badannya gemetar. Wajahnya masih terlihat pucat.


"Ayo turun!" salah satu bodyguard memerintah Halima untuk segera turun dari mobil.


Halima turun. Dan mengikuti para bodyguard dari belakangnya masuk kedalam rumah. Halima melihat dengan jelas aura tidak bersahabat dari Elsa ketika memandangnya.


"Duduk!" perintah Elsa.


Halima duduk di tempatnya, di bawah kaki Elsa.


"Ti-tidak ada bos!" sahut Halima.


"Jangan bohong, kemarikan handphone mu." Elsa mengulurkan tangannya meminta handphone Halima.


Dengan gemetar Halima memberikan handphonenya kepada Elsa. Elsa membuka pesan dari Mulfa dan membuangnya kepada Halima.


"Bacakan isi pesannya!"


Halima membaca pesan tersebut dengan gugup.


"K-kak Halima, M-Mulfa sudah membeli barang di tempat kosmetik yang kakak bilang. Tapi aku be-belum mem-membicarakan a-a-apa yang ka-kakak suruh kan ke Mulfa. Na-nanti M-Mulfa akan bicara dengannya kalau ada kesempatan lagi."


Halima menelan salivanya meskipun kerongkongan nya kering. Ia tidak berani memandang Elsa.


"Jelaskan padaku, arti dari pesan itu?" kata Elsa lagi dengan suara dinginnya. "Apa kamu ingin kabur lagi, dengan meminta bantuan orang lain?"


Halima menggeleng.


"Jelaskan padaku arti isi pesan itu?" kembali Elsa berkata.

__ADS_1


"Aku hanya meminta Mulfa membeli kosmetik di tempat langganan ku. Kebetulan kami dekat jadi aku memberi pesan untuknya melalui Mulfa. A_"


"Pesan apa yang kamu sampaikan padanya?" Elsa menyela ucapan Halima.


"Pesan, pesan ku hanya meminta dia untuk membiarkan Mulfa berutang barang padanya jika barang kebutuhan Mulfa sudah habis, dan aku belum bisa memberikan uang pada Mulfa. Nanti setelah aku kasih uang ke Mulfa baru Mulfa akan datang untuk membayar utangnya." jelas Halima.


"Kamu tidak berbohong?" Elsa menatap tajam Halima. Halima tertunduk tidak kuat melihat tatapan tajam dari Elsa.


"Tidak," sahut Halima.


Elsa berdiri dari duduknya. "Jangan kamu mengira aku percaya dengan kata-kata mu, setelah beberapa kali kamu mencoba untuk melarikan diri dari sini."


Elsa melihat ke dua bodyguard Halima. "Budi, Dedi, kalian suruh seseorang disana untuk mengawasi gerak gerik Mulfa. Dan kalian jangan biarkan Halima bertemu dengan adiknya selam dua Minggu ini. Jika ada yang mencurigai dari gerak gerik Mulfa dan Halima. Bawa Halima ke penjara bawah tanah. Dan seret Mulfa ke Club."


Setelah selesai berbicara Elsa melangkah menaiki anak tangga, ia ingin pergi ke kamarnya, untuk istirahat.


Halima menggeleng.


Tidak! Mulfa tidak boleh ke Club. Aku tidak akan membiarkan Mulfa terjerat seperti ku sekarang. Ini tidak boleh. batin Halima.


Halima berdiri dari duduknya. Ia berlari mendekati Elsa yang sudah berada di urutan anak tangga ke tiga. Halima terduduk sambil memegang kaki kanan Elsa.


"Tidak Mba Elsa, ku mohon jangan sentuh Mulfa. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak berbohong padamu! Aku mohon, jangan sentuh Mulfa! Tolong biarkan aku ketemu dengan Mulfa. Hanya aku tempat yang dia punya. Jangan halangi kami untuk bertemu."


Elsa memandang Halima yang tertunduk di kakinya. Elsa berjongkok, ia memegang dagu Halima dan mendongak kan wajah Halima menatapnya.


"Kamu jangan macam-macam denganku! Karena kamu yang menjadi primadona di Club ku. Aku memberikan keringanan padamu. Baiklah, aku tidak akan menghalangi kamu bertemu dengan adikmu." ucap Elsa.


"Budi, apa Kevin anakku sudah bertemu dengan Mulfa?" Elsa lanjut berkata dengan bertanya kepada Budi, salah satu bodyguard yang di tugaskan mengawasi Halima.


Halima terkejut mendengar pertanyaan Elsa.


Jadi Kevin anaknya mba Elsa! Tidak, Mulfa tidak boleh bertemu dengan Kevin. batin Halima sambil menggelengkan kepalanya.


"Belum bos, tuan Kevin masih sibuk dengan urusannya di luar kota bos." sahut Budi.


"Sudah berapa hari dia ke luar kota? Kenapa tidak memberitahu padaku dia keluar kota?" suara Elsa meninggi.


"Maaf bos, kami kira tuan Kevin sudah memberi tahu pada bos." ucap Budi membela diri.


"Dengan siapa dia kesana?"


"Sendiri bos" sahut Budi.


"Beri tahu aku, jika dia sudah datang! Bawa Halima kembali ke Club!"


"Baik bos," sahut Budi lagi.

__ADS_1


Elsa lanjut melangkah menaiki anak tangga. Halima berdiri dari duduknya dan turun dengan lemas dari tangga. Ia mengambil handphonenya dan memasukkan nya kedalam tas. Ia kembali masuk ke mobil bersama kedua bodyguard nya.


Aku harus memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Mulfa. Mulfa tidak boleh bertemu dengan Kevin. Laki-laki bejat itu. batin Halima.


__ADS_2