
Hari ini Halim terbangun agak terlambat. Karena hari ini hari Minggu Halim berencana untuk lari pagi bersama Denis.
Halim yang sudah siap dengan baju lengan pendek agak ketat di badannya, hingga mengekspos tubuh atletisnya. Dan celana olahraga panjang, juga memakai sepatu olahraga. Sedang menunggu Denis di depan rumah.
Halim melakukan pemanasan tubuh sambil menunggu Denis. Denis akhirnya keluar, dan terkejut setelah melihat tubuh Halim yang atletis yang sedang melakukan pemanasan.
"Bang, wow! Apa ini dirimu, Bang? Aku tidak menyangka ternyata Abang segagah ini. Jika wanita yang belum tahu Abang sudah menikah, mereka pasti pada mengejar Abang." ucap Denis terkagum dengan tubuh atletis Halim.
Halim yang mendengar suara pujian Denis, ia hanya terkekeh kecil mendengarnya. "Sudah selesai membualnya? Jika sudah, mari kita lari segera!" ajak Halim sambil menarik tangan Denis.
Mereka berlari tidak jauh dari komplek rumah, mereka hanya berkeliling tiga kali putaran saja. Sambil berlari ringan Denis terus mengajak Halim berbicara.
"Bang, Denis bukan membual, tapi Denis sedang memuji Abang." sahut Denis tidak terima di bilang hanya membual.
"Sudah, jangan banyak bicara, cukup lari saja! Tinggal sekali putaran lagi, kita selesai." ucap Halim, "Ayok cepat!" pintanya.
"Bang, bisa ajarin Denis untuk membentuk tubuh atletis seperti tubuhnya Abang, gak?" tanya Denis.
"Bisa," sahut Halim. Mau belajar metode disini atau di kampung?" tanya Halim seketika.
"Mang beda ya Bang, caranya disini dan di kampung?" Denis menjawab dengan pertanyaan.
"Beda! Kalau di kampung alamiah, seperti memikul air, memikul kayu bakar dari hutan, membelah kayu pakai kapak, memanjat pohon kelapa, dan lain sebagainya." jelas Halim.
"Kalau di sini, sebaiknya kamu pergi ke tempat yang di khususkan untuk olahraga pembentuk tubuh. Kamu pasti tau kan tempat nya?" lanjut lagi Halim menjelaskan.
"Ah Abang, kalau pergi ke tempat itu, biayanya lumayan juga, Bang. Denis maunya yang gratis, Bang." sahut Denis.
"Mau gratis?" tanya Halim
Denis mengangguk serius, "Mau Bang!" jawabnya dengan senang.
"Turun di kampung, lakukan yang ku bilang tadi." sahut Halim sambil menahan tawa.
Senyum Denis memudar seketika, ia tahu Halim pasti mengerjai dirinya, "Ah Abang! Denis sudah serius, Abang malah bercanda." ucapnya dengan muka murung.
Kini Halim tertawa, "Hahaha, maaf maaf! Lagian kamu ini ada-ada saja. Kalau mau badan bagus yah olahraga yang benar dan makan teratur." ucapnya menjelaskan.
Tawa Halim menyita perhatian seorang wanita, wanita tersebut tersenyum bahagia melihat Halim berlari kecil sambil tertawa dengan temannya.
Dengan tingkat percaya dirinya yang tinggi wanita tersebut menghampiri Halim dan Denis. Lalu ia mengajak Denis dan Halim berkenalan.
"Hai, kakak-kakak yang ganteng, kenalkan namaku Samnia, panggil saja aku sesuka dan senyaman kalian." ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat tangannya untuk berkenalan.
Awalnya Denis dan Halim terdiam, namun di menit berikutnya Denis tersenyum bahagia, ia meraih tangan Samnia, menjabat nya dan menyebutkan namanya.
"Hai, namaku Denis, senang bertemu dengan mu, disini."
"Oh," sahut Samnia singkat. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Denis. Lalu ia melirik Halim. Denis yang peka ia langsung menyebutkan nama Halim untuknya.
"Dan ini Abang ku, namanya Halim."
"Oh, namanya Halim! Kalian tinggal di komplek ini? Kok aku gak tau yah?" tanya Samnia basa basi.
"Em, maaf kami harus pergi." ucap Halim. Ia berlari sedikit cepat untuk segera sampai di rumah. Denis yang masih berdiam di tempat tersenyum kecut saat melihat Samnia terbengong melihat punggung Halim yang menjauh.
__ADS_1
"Ehm, Abang ku memang seperti itu. Iya kami tinggal di lorong sebelah sana. Maaf aku nyusul Abang ku dulu." ucap Denis. Tanpa menunggu sahutan Samnia, ia berlari cepat mengejar Halim.
Hingga mereka berhenti berlari di depan rumah. Kini mereka sedang duduk di kursi teras untuk mengatur nafas dan beristirahat.
Setelah nafasnya teratur, Denis segera masuk ke dalam rumah dan mengambil dua botol Aqua kecil dari kulkas lalu kembali ke depan.
"Ini Bang," Denis menyodorkan satu botol Aqua yang di ambilnya untuk Halim.
Halim mengambilnya dan membuka segel lalu membuka penutup Aqua nya dan meminumnya dalam tiga kali teguk hingga air dalam botol tersebut habis.
"Aah segar! Terima kasih, Denis!" ucapnya sambil menyimpan botol kosong di atas meja.
"Kamu yang mandi duluan atau aku?" tanyanya
"Abang dulu lah, Denis istrahat sedikit lagi baru mandi." jawab Denis.
"Ok, Abang masuk dulu!" ucap Denis sambil berdiri dari duduknya. Dan langsung masuk tanpa mendengar sahutan dari Denis.
Selesai mandi, ia bersiap untuk pergi membuka jualannya. Saat ia keluar ia masih mendapati Denis yang masih duduk di kursinya.
"Denis, Abang duluan yah! Ingat kunci pintu baik-baik dan jendela sebelum kamu pergi ke pasar nanti!" pamit Halim sekaligus mengingatkan Denis.
"Ok, Bang siap!" sahut singkat Denis.
Halim segera pergi ke pasar untuk membuka jualannya, sedangkan Denis ia segera masuk ke dalam rumah, bersiap untuk mandi dan pergi membantu karyawan Anton menjaga toko.
Halim membuka jualannya seperti biasanya. Setelah selesai membuka jualannya duduk di kursi menunggu pelanggan datang. Karena belum ada orang belanja Halim menyempatkan diri membersihkan barang-barang jualannya dari debu. Selagi membersihkan ada seorang pembeli yang sedang mencari barang.
"Permisi, Bang!" sapa pembeli itu. Karena ia melihat penjualnya membelakangi nya.
Halim menyahut tanpa membalikkan badannya menghadap pembeli. Karena ia sedang melap barang sambil mengaturnya, "Iya, sebentar yah."
"Tidak apa," sahut pembeli itu sambil mengangkat kepalanya melihat Halim.
"Kamu!" ucap mereka berdua kompak dengan terkejut.
Samnia tersenyum lembut, "Hai, Halim sungguh suatu kebetulan kita bertemu disini! Aku sangat senang bisa melihat mu lagi."
"Ini bukan pertemuan yang kebetulan, aku penjual dan kamu pembeli tujuanmu hanya untuk membeli disini, bukan bertemu denganku." ucap Halim dengan wajah datar menjelaskan.
"Yah, terserah deh itu argumen mu sendiri, aku juga argumen ku sendiri. Jad_" ucapan Samnia terpotong.
"Barang apa yang kamu cari? Biar aku ambilkan." tanya Halim. Ia tidak ingin wanita itu berlama-lama di tokonya.
"Sepertinya kamu tidak senang dengan kehadiran ku." sahut Samnia dengan muka sedihnya. "Tapi baiklah, aku tahu kamu orang sibuk, aku cari handbody Marina natural white yang pink botol sedang, sama sampo putri dengan conditioner nya yang lidah buaya." lanjutnya masih dengan muka sedihnya.
"Hum, tunggu sebentar aku ambilkan dulu." sahut Halim masih dengan wajah datarnya.
Tidak lama kemudian Halim menghampiri Samnia dengan membawa barang yang di sebut kan dalam kantung plastik.
"Ini barangnya," ucap Halim sambil menyodorkan barang tersebut. "Apa masih ada yang lain?" tanyanya lagi.
"Tidak, cuma ini saja, berapa harganya?" tanya Samnia masih dengan cemberut.
"Total semuanya empat puluh lima ribu. Sampo dengan conditioner seharga tiga puluh ribu, dan handbody harganya lima belas ribu." jawab Halim merincikan harga barang.
__ADS_1
Samnia mengeluarkan uang dari dompet nya senilai empat puluh lima ribu, sesuai dengan harga barangnya, "Ini," ucapnya sambil menyodorkan uang tersebut.
Halim mengambilnya dan mengucapkan terima kasih pada Samnia, "Terima kasih," masih dengan wajah datarnya.
Karena Samnia orang yang selalu cuek dengan keadaan sekeliling juga orang yang nekat dan dengan tingkat pedenya tinggi sebelum ia pergi ia mencium pipi kanan Halim saat ia lengah lalu ia pergi dengan cepat dari toko Halim sambil tersenyum riang.
Sedangkan Halim ia sangat terkejut dengan sikap yang dilakukan oleh Samnia. Ia memegang pipi tangannya dan menggeleng gelengkan kepalanya sambil melihat punggung Samnia yang sudah menjauh dari tokonya.
"Astaghfirullah," keluh Halim. "Lain waktu jika bertemu akan ku nasehati dia, untuk tidak sembarangan mencium orang." omelnya yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri.
Sepeninggal Samnia, kini Halima yang datang berkunjung ke toko Halim. Ia sedang tidak membeli sesuatu, tapi ia datang hanya untuk bertemu dengan Halim saja.
"Halim," sapa nya.
Halim menoleh, ia memicingkan mata melihat Halima.
Dia lagi... dia lagi...
batin Halim.
Sama halnya dengan Samnia tadi, Halim masih menggunakan wajah datarnya untuk melayani Halima. "Cari apa itu?"
Halima menggeleng, "Aku sedang tidak mencari barang, aku sengaja kemari untuk menemui mu."
Halim mengkerutkan keningnya, "Mencari ku? Ada hal apa?" tanyanya penasaran. Halim mengedarkan pandangan di depan toko tapi ia tidak menemukan dua pria yang selalu mengikuti Halima. "Kemana bodyguard mu?"
"Kamu tahu aku sering di kawal?" Halima menyahut dengan pertanyaan.
"Tidak penting bahas itu, mengapa mencari ku?" tanya Halim lagi.
Meskipun Halim mengatakan tidak penting untuk membahas, tapi Halima dengan suka rela membahasnya.
"Aku mengelabui mereka hanya untuk bertemu denganmu. Jika ada mereka aku tidak leluasa untuk bertemu siapapun dan berlama-lama berbicara dengan siapapun.” Halima menjelaskan sambil menunduk.
"Aku tidak tertarik dengan cerita kehidupan mu! Langsung saja bilang kenapa mencari ku? Jika tidak ada alasan yang tepat, mending pergilah! Aku tidak ingin terlibat interaksi denganmu." sahut Halim dengan tegas.
Halima menghela nafas panjang, "Bisakah kamu tidak memperlakukan ku dengan buruk seperti ini? Tidak bisakah kita berteman dengan baik?" ucapnya dengan kesal memandang Halim.
Halim tidak ingin bertatapan dengan Halima jadi ia mengalihkan pandangannya di luar toko nya, saat itulah ia melihat dua orang pria yang sedang berjalan sambil menengok kiri, kanan, depan dan belakangnya.
"Itu bodyguard mu, mereka sedang mencari mu. Sebaiknya kamu pergilah. Jangan libatkan permasalahan mu dengan ku. Aku bukanlah orang bijak yang selalu berbaik hati." ucap Halim dengan wajah datarnya.
Halima sedikit kecewa dengan sikap yang di tunjukan oleh Halim padanya. Ia berdiri dari duduknya dan tersenyum masam kepada Halim saat Halim melihatnya.
"Aku akan menemui mu lagi di lain waktu." ucapnya. Lalu ia keluar dengan hati-hati dari toko Halim. Agar kedua bodyguard nya tidak melihatnya jika ia keluar dari sana.
Setelah keluar dari toko Halim, ia menemui kedua bodyguard nya itu. "Dari mana saja kamu? Kamu ingin melarikan diri dari kami?" tanya salah satu bodyguard itu pada Halima.
Halima tersenyum kecut, "Apa aku punya keberanian seperti itu?" ia menjawab dengan bertanya. "Aku sedang mencari barang sesuatu, tapi aku tidak bisa menemukan barang itu. Dan aku tidak tahu jika aku sudah pisah dari kalian. Jika aku ingin melarikan diri, lalu kenapa aku harus mendatangi kalian berdua lagi?" lanjutnya lagi berkata menjelaskan.
Benar juga katanya, jika memang ia ingin kabur. Tadi itu kesempatan bagus untuk dia. batin kedua bodyguard itu.
"Hum, kami percaya! Karna barang yang kamu cari tidak dapat, sebaiknya kita pulang sekarang!" ajak salah satu bodyguard tersebut.
Halima mengangguk sebagai jawaban. Kini mereka pulang ke rumah.
__ADS_1
Aku yakin sekali, jika Halim bisa membantuku, aku hanya perlu mendekatkan diriku padanya.
batin Halima.