
Mereka sekarang masuk ke dalam tempat dimana para wanita penghibur yang di tampung oleh Kevin dan mamanya berada.
Kebetulan sekali hari ini Mba Elsa datang untuk melihat kinerja anak-anak piara nya.
”Dimana Halima?” tanya Elsa saat tidak melihat Halima di antara mereka.
”Halima pergi ke toilet, Mba.” jawab salah satu di antara mereka.
Saat bersamaan Halima masuk sambil menggandeng tangan Halim. Halim tahu wanita di sampingnya ini sedang gugup. Kentara sekali dari tangan yang bergetar dan keringat dingin di genggaman tangan mereka berdua.
”Saya disini Mba Elsa.” jawab Halima.
Elsa melihat Halima dengan mengernyit heran. Ia membawa seorang lelaki yang sedang memegang koper di tangan kanannya.
”Siapa dia Halima? Apa dia peliharaan barumu?” tanya Elsa tanpa kedip memandang Halim. Elsa tertarik terhadap Halim saat menatap Halim.
”Kenalkan Mba Elsa, dia Halim. Ada yang ingin dia bicarakan dengan mu.” jawab Halima.
Halima dan Halim berjalan mendekati Elsa. Halim menaruh koper uang di atas meja di hadapan Elsa. Elsa menatap bingung pada koper itu lalu ia menatap Halim dan Halima bergantian.
”Ceritakan Halima, ada apa ini?”
Halima ingin menjawab namun terdahulu oleh Halim. Dia menjawab pertanyaan Elsa dengan tegas dan tidak ada rasa gugup maupun takut
”Maaf Nona Elsa. Saya tertarik dengan Halima. Dan saya ingin menjadikan Halima istri kontrak saya.”
”Hahaha,” Elsa tertawa. Ia berdiri dari duduknya. Ia mendekati Halim. Memandang Halim lebih dekat dan ia mengitari tubuh Halim.
”Apa kamu kira membawa anak piaraan ku dengan mudah dari sini, Halim?” bisik Elsa
Halima tak bergeming saat melihat Elsa yang ingin menyentuh wajah Halim. Halim segera menahan tangan Elsa yang ingin memegang wajahnya. Ia hempaskan tangan Elsa perlahan.
”Apa syarat yang kamu inginkan, Elsa?”
Elsa menjauh dari tubuh Halim. Ia menarik Halima ke sisinya.
”Apa kamu benar-benar menginginkan Halima, Halim?” tanya Elsa.
Anak piaraan Elsa yang lainnya menjadi pendengar dan penonton dari perbincangan bos mereka dengan Halim.
”Iya. Saya menginginkan dia!” sahut Halim.
”Apa kamu akan sanggup memenuhi syarat yang ku berikan padamu, Halim?” tanya Elsa lagi dengan nada sensual.
”Katakan saja syaratnya!”
Elsa tersenyum. ”Wow, kamu lelaki yang tak pandai untuk berkata basa-basi, Halim!” Elsa menunjuk koper yang di atas meja. ”Apa di dalam koper ini bernilai Satu milyar, Halim?”
”Iya, di dalam koper itu bernilai Satu milyar. Silahkan di lihat dan di hitung kembali, jika Nona Elsa tidak percaya.” sahut Halim.
Halim mengulurkan tangan, ia membuka koper tersebut. ”Silahkan di hitung, Nona!”
Bukannya meraih koper uang, tetapi Elsa malah menggenggam jemari tangan Halim. Halim menarik tangannya dengan cepat. Membuat Elsa tersenyum.
”Baiklah, tak perlu di hitung uangnya, aku percaya ini isinya Satu milyar. Apa kamu tahu Halim, uang Satu milyar itu untuk satu tahun masamu dengan Halima. Setelah lewat setahun, kembalikan Halima padaku.” ucap Elsa.
”Apa!” Halim dan Halima terkejut bersamaan.
”Ada apa Halima? Halim? Mengapa kalian berdua sangat terkejut? Apa kalian mengira uang itu cukup untuk membebaskan mu dari tangan ku, Halima? ucap Elsa. Ia mendekati Halima dan tersenyum sambil memegang dagu Halima. ”Kamu sumber uangku Halima, para pelanggan banyak yang antri hanya untuk dirimu.”
Elsa kini mendekati Halim. Ia menatapnya dengan tajam. Namun dari tatapan itu tersirat nafsu birahi untuk Halim. Ia ingin mencium bibir Halim. Namun dengan cepat Halim bergeser tempat. Ia menghampiri Halima dan menutup kembali koper uang tersebut.
”Uangnya sudah ada disini, aku akan pergi sekarang membawa Halima.” ucap Halim
Tanpa menunggu jawaban dari Elsa, Halim menarik tangan Halima untuk ikut keluar dari ruangan dengannya. Halima menyeret dirinya untuk ikut bersama Halim.
__ADS_1
Laki-laki ini, siapa dia? Apa dia salah satu lelaki terkaya di kota ini? Bagaimana mungkin ia memiliki uang untuk membawa Halima dari sini. Ngomong-ngomong pria itu idaman wanita sekali, aku tertarik padanya.
batin Elsa.
”Terima kasih Halim, kamu sudah mengeluarkan aku dari sini.” ucap Halima tulus.
”Sama-sama. Kita pergi menuju mobil polisi, kita akan menunggu teman ku di dalam sana.” sahut Halim.
”Polisi?” tanya Halima bingung.
”Hum polisi. Sebelum membantumu keluar dari sini, aku sudah memikirkan banyak hal. Dan aku tidak mungkin bisa melakukan ini dengan sendirian. Jadi, aku meminta bantuan dari temanku yang kebetulan profesinya seorang polisi.” jelas Halim. ”Halima, karena aku sudah membantu mu, kamu juga harus membantu ku.”
”Aku harus membantu mu apa?” tanya Halima penasaran.
”Nanti sampai di mobil baru ku jelaskan, kita harus cepat keluar dari sini. Tidak lama lagi para polisi akan menggerebek tempat ini.” ucap Halim.
Sesuai dengan rencana, Fahroni dan anak buahnya sekarang masuk kedalam ruangan itu. Mereka masing-masing memegang pistol yang siap untuk di tembakan.
”Jangan bergerak!” ucap Fahroni
Ia menodongkan senjata tepat di depan Elsa dan anak buah Fahroni membidik anak piaraan mba Elsa yang ada di ruangan itu.
Mereka semua terkejut. Sedangkan Elsa ia bersikap biasa saja.
”Maaf, ada apa ini, Pak?” tanya Elsa.
”Kami mendapat laporan jika di ruangan ini terjadi penjualan terhadap perempuan, apa itu benar?” tanya Roni.
”Hahahaha,” Elsa tertawa. ”Anda salah paham, Pak! Kami disini hanya sedang mengadakan reunian saja, Pak!” elak Elsa. Elsa melihat anak piara nya. ”Iya kan, teman-teman?”
”I-iya, Pak. Kami hanya sedang mengadakan reuni saja, Pak. Tidak ada hal seperti itu yang bapak tanyakan tadi.” sahut salah satu di antara wanita piaraan Elsa.
Padahal ini kesempatan ku, untuk bisa keluar dari tempat menjijikan ini. Dan mencari tempat kerja yang bagus. Bukan pekerjaan yang menjijikan seperti ini. Tapi, jika aku bicara macam-macam, kasian keluargaku, mereka akan kena imbas dari kecerobohan ku.”
Fahroni tidak mendengarkan alasan mereka. Ia mendekati Elsa dan melihat koper uang di atas meja. Elsa menyadari penglihatan Fahroni.
”Em, Pak. Ini hanya koper pakaian kami. Malam ini, kami akan bermalam disini. Jadi, kami sengaja mengisi pakaian kami dalam satu koper saja, supaya tidak terlalu banyak membawa koper.” ucap Elsa sembari tersenyum menjelaskan.
Tanpa seizin Elsa, Fahroni tetap ingin membuka koper itu. Namun, di saat Fahroni baru memegang koper, kopernya segera ditarik oleh Elsa dan dengan cepat Elsa ingin melarikan diri dari ruangan itu.
”Berhenti! Jangan bergerak Elsa!”
Elsa tidak mengindahkan perintah Fahroni. Dengan terpaksa Fahroni menembak betis Elsa saat ia melangkahi pintu ruangan.
Doorr!
”Argh!” jerit Elsa.
Ia terduduk di lantai memegang kakinya yang tertembak. Darah segar mengalir dari betis Elsa. Sedangkan para perempuan yang ada disana semua berwajah pias. Tidak ada yang berani untuk berteriak. Mereka menunduk.
Fahroni segera menghampiri Elsa. Ia memborgol tangan Elsa di belakang. Ia memegang Elsa untuk berdiri.
”Pegang koper itu, dan bawa mereka semua ke mobil.” perintah Fahroni kepada anak buahnya.
”Baik, Pak!” sahut mereka kompak.
Sesuai perintah, mereka semua keluar dari ruangan itu mengikuti langkah sang bos. Mereka menggiring perempuan piaraan Elsa keluar dari ruangan itu.
Sesampainya di luar, Fahroni memasukkan Elsa dan wanita lainnya kedalam mobil tahanan bersama Kevin. Kevin yang melihat mamanya di tahan juga sangat terkejut. Begitu juga dengan Elsa, ia terkejut melihat Kevin di tangkap. Setelah semua sudah masuk kedalam mobil tersebut, mobilnya di kunci dengan rapat bahkan di gembok dari luar.
Anak buah Fahroni yang memegang koper uang, ia memberikan koper itu kepada Fahroni. Fahroni mengambil dan berjalan ke mobilnya. Disana Halim dan Halima sudah menunggu dirinya.
Anak buah Fahroni sudah masuk kedalam mobil masing-masing kru. Fahroni juga masuk kedalam mobilnya. Ia melihat ke belakang mobil, Halima tertidur menyandarkan kepalanya di pintu mobil. Dan Halim duduk bersandar, ia memijit keningnya dengan memejamkan mata.
”Halim, ini koper uang mu.” ucap Fahroni.
__ADS_1
Halim membuka mata. Ia melihat koper uang dan Roni bergantian dengan bingung.
”Bukankah sementara uang ini akan menjadi bukti transaksi penjualan yang mereka lakukan, Roni?” tanya Halim. ”Seharusnya, uang ini masih berada di tangan mu, setelah selesai baru aku akan mengambilnya.”
”Iya, benar Halim. Tapi, semua pembicaraan dan transaksi tadi sudah terekam oleh kamera pengintai yang kami pasang sembunyi sembunyi disana. Anak buah ku menyamar menjadi petugas kebersihan dan tanpa di curigai, ia menaruh kamera pengintai itu di sudut ruangan agar tidak mudah di ketahui mereka. Jadi, apapun pergerakan atau pembicaraan yang terjadi di ruangan itu, telah terekam.” jelas Fahroni.
”Oh, luar biasa, Ron!” puji Halim. Ia mengambil koper uang itu dan disimpan di sampingnya.
”Terima kasih, pujian mu, Halim!”
”Kita langsung ke kantor, Pak?” tanya supir Fahroni. Fahroni mengangguk. Mobil pun mulai bergerak maju perlahan meninggalkan Club tersebut.
Halim melihat jam yang melingkar di tangannya. Pukul 11 : 25.
Sebentar lagi kapal akan masuk di pelabuhan.
batin Halim.
Kurang lebih dari sejam, mereka sampai di kantor polisi. Fahroni segera turun, disusul supirnya.
Halim membangunkan Halima dari tidurnya untuk segera turun dari mobil.
”Halima, bangun!” Halima pun terbangun dan melihat Halim. ”Kita sudah sampai di kantor polisi. Ayo turun!” Halima mengangguk. Mereka segera turun dari sana.
Begitu juga Kevin, Elsa, dan para wanita lainnya. Mereka juga di turunkan dari mobil. Kevin yang melihat Halim dan Halima, ia menjadi marah dan memandang mereka dengan tatapan tajam. Halima tidak bergeming di tatap tajam oleh Kevin.
”Brengsek kalian berdua! Halima, kamu menggunakan selingkuhan mu itu untuk menjebak kami, sialan kamu Halima! Aku akan membalas kalian nanti!” ucap Kevin.
”Jalan saja sana! Jangan banyak mengancam!” ujar Fahroni. Ia mendorong tubuh Kevin untuk jalan cepat.
Mereka semua masuk. Halim mengajak Halima untuk duduk di bangku depan meja kerja Fahroni. Sedangkan Fahroni, ia menggereng Kevin dan Elsa ke dalam satu sel tahanan. Sedangkan para wanita lain, ia gereng satu sel dengan Mulfa.
Membuat Mulfa menjadi bingung. Karena begitu banyak perempuan yang di penjarakan. Ia menghitung semua sekitar dua puluh lima orang.
Mulfa tidak banyak bertanya melihat mereka. Setelah di pastikan sel tergembok rapat, Fahroni meninggalkan ruangan sel itu. Ia berjalan ke meja kerjanya, menghampiri Halim dan Halima disana.
”Bagaimana selanjutnya Ron?” tanya Halim setelah Fahroni menduduki kursi kebesarannya.
”Kami akan menyeret kasus ini di pengadilan. Biar pengadilan yang akan mengurus mereka, tapi kamu tenang saja. Mereka tidak akan mudah untuk keluar dari penjara dan hukuman begitu saja. Saya yakin mereka akan lama mendekam di penjara.” Fahroni memandang Halima. Halima juga membalas melihat Fahroni. ”Jadi, Halima kami membutuhkan Anda sebagai saksi dan sebagai korban sekaligus bersama wanita yang lain untuk memberi kesaksian atas kejahatan yang telah Kevin dan Elsa lakukan.” jelas Fahroni.
”Baik, Pak! Saya bersedia untuk memberikan kesaksian terhadap mereka.” sahut Halima dengan tegas.
”Terima kasih, Halima. Untuk keamanan mu, kamu tetap disini bersama adikmu Mulfa dan wanita yang ku tahan tadi.” ucap Roni.
”Saya tidak menolak! Saya bersedia!” sahut Halima
”Baik, mari ikut saya!” ucap Fahroni. Ia berdiri dari duduknya. Halima dan Halim menyusul. Mereka melangkah ke sel yang di huni Mulfa.
Mulfa yang melihat kakaknya ia langsung meniaraki nama kakaknya.
”Kak Halima.”
Halima tersenyum melihat adiknya yang baik-baik saja. Ia berlari kecil menghampiri Mulfa yang berteriak di balik sel jeruji.
”Mulfa, kamu baik-baik saja, dik?” tanya Halima khawatir.
”Mulfa baik-baik saja, kak.” jawab Mulfa. Ia memandang Halim dengan marah. Dan ia menunjuk Halim. ”Kak Halima, kak Halim menjebak Mulfa kak, makanya Mulfa ada disini. Kakak, keluarin Mulfa sekarang, baru kita tuntut kak Halim.”
Halima hanya tersenyum. Fahroni membuka gembok sel. Halima mengerti maksud Fahroni. Sebelum Halima masuk ke dalam sel, ia berlari kecil mendekati Halim dan memeluknya.
Halim tidak bergeming. ”Terima kasih Halim, setelah semua selesai aku akan memberikan sesuatu untuk mu untuk rasa terima kasihku.” ucap Halima tulus.
”Sama-sama. Tidak usah banyak berfikir Halima, aku membantu mu dengan ikhlas.” sahut Halim.
Mulfa memandang tidak percaya saat Halima memeluk Halim dan mengucapkan terima kasih padanya. Halima melepas pelukannya dan berjalan hingga ia masuk ke dalam sel. Ia memeluk Mulfa. Fahroni kembali menggembok selnya. Lalu ia kembali ke mejanya bersama Halim.
__ADS_1