Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 33


__ADS_3

"Sama-sama Om," sahut Syakila. "Om, Syakila pergi lihat adik dulu, mereka sedang mandi." pamitnya.


Syakila meninggalkan Anton setelah mendengar dehemannya. Syakila pergi ke sungai kecil, untuk melihat adiknya. Adiknya sudah tidak ada disana.


"Mereka, cepat sekali mandinya."


Syakila pergi ke rumah, untuk membantu mereka memakai baju. Sampai disana ternyata mereka semua sudah selesai memakai baju.


"Eh!" Syakila terkejut. "Kalian sudah pintar-pintar rupanya. Kalian pakai baju sendiri?" tanya Syakila dengan ramah.


"Iya kakak, kami halus jadi anak pintal." sahut Yuli yang paling kakak di antara mereka. Ita, Hardin, dan Endang mengangguk meyakinkan Syakila ucapan Yuli benar.


Syakila tertawa kecil, "Hehehe kalian memang adik kakak yang pintar-pintar, kakak sayang sama kalian." sahut Syakila sambil mengelus kepala adiknya bergantian. Lalu ia mengecup pipi mereka satu per satu.


"Kenapa nenek dan mama belum pulang juga, yah? Aku nyusul mereka saja." gumamnya.


"Adik-adik, kita ke gode gode yuk, temani om Anton disana." ajak Syakila. Mereka pun kesana dengan berlari seakan berlomba siapa yang duluan sampai.


"Jangan lari, Dik! Nanti jatuh!" Syakila memperingatkan. Mereka kini berjalan dengan pelan menghampiri om Anton.


Anton yang melihat anak-anak Halim yang begitu ceria datang untuk menghampirinya, ia tersenyum.


"Ayo sini!" panggilnya. Hardin langsung berlari kepangkuan om Anton. Ita, Yuli, dan Endang juga sudah duduk di samping kiri dan kanan Anton.


"Om, Syakila nyusul mama dan nenek dulu. Mama dan nenek sudah lama berada dalam kebun belum kembali." pamit Syakila.


Anton menjadi khawatir. "Mereka dalam kebun di mana?"


"Kurang tahu juga Om, tapi kalau benar Mama memetik sayur seharusnya ada di ujung kebun yang sana, Om." ucap Syakila sambil menunjuk arah kebun yang di maksud.


Anton mengikuti arah tunjuk Syakila. "Biar Om saja yang nyusul. Kamu jaga adikmu disini." usul Anton. Syakila menjawabnya singkat, "Iya Om."


Anton pergi ke arah kebun yang di tunjuk Syakila, sedangkan Syakila menuangkan teh untuk adiknya dan menyuruh mereka untuk memakan pisang dan ubi rebus.


Dari jauh Anton melihat nenek Syakila terduduk di tanah. Anton semakin khawatir, ia berjalan dengan cepat menghampiri sang nenek dan Sarmi.


"Ibu, apa yang terjadi?" Anton bertanya dari jarak seratus lima puluh centi dari tempat duduk sang nenek. Betapa terkejutnya Anton setelah ia mendekati mereka, sang nenek memangku kepala Sarmi dan nenek menangis.


"Sarmi, bangun Sarmi!" Anton mencoba membangunkan Sarmi. "Bu, apa yang terjadi?" tanyanya khawatir.


Sebelum sang ibu menjelaskan, Anton sudah menggendong tubuh Sarmi, ia membawa tubuh Sarmi kembali ke rumah. Sang nenek mengikuti dari belakang Anton.


Anton membaringkan tubuh lemah Sarmi di lantai gode-gode. Syakila dan adiknya terkejut semua.


"Om, Mama kenapa? Nenek, Mama kenapa, Nek?" Syakila bertanya dengan gemetar.


"Mama mu tidak apa-apa, jangan panik!" Anton menenangkan Syakila.

__ADS_1


"Mama, bangun Mah!" Syakila mencoba membangunkan ibunya. "Nenek, apa yang terjadi dengan Mama?" Syakila bertanya khawatir kepada sang nenek.


"Nenek juga tidak tahu, Nenek mendapati Mama mu sudah terbaring di tanah." ucap sang nenek menjelaskan.


Sedangkan Anton, ia masih berusaha menyadarkan Sarmi. Ia menaruh jari telunjuknya di bawah hidung Sarmi.


"Masih ada nafas nya, tapi sangat lemah. Mamamu sepertinya hanya pingsan saja." Anton menjelaskan. "Ada minyak kayu putih atau balsem?" tanyanya pada Syakila dan sang nenek.


"Ada, Syakila ada balsem saja." sahut Syakila. Tanpa di suruh lagi, Syakila berlari ke rumah dan mengambil tasnya ia mengambil balsem yang selalu di simpan di sana.


Lalu dengan berlari cepat ia memberikan balsem itu pada om Anton. "Ini Om, balsem nya." ucap Syakila sambil ngos-ngosan menyodorkan balsem yang di pegangnya kepada Anton.


Anton mengambil bantal yang ada di gode-gode dan menaruh kaki Sarmi di atas bantal tersebut. Anton mengambil balsem dan menggosok kan balsem tersebut pada bagian bawah hidung Sarmi, pelipis, leher Sarmi dan juga Anton menggosok balsem tersebut pada telapak kaki Sarmi dan memijatnya pelan-pelan.


Anton terus mengulang menggosok balsem tersebut, hingga akhirnya Sarmi sadar, dan membuka matanya. Ia bingung melihat anak-anaknya yang memasang wajah sedih melihat ke arahnya.


"Sarmi, kamu sudah sadar?" tanya Anton masih khawatir. Sarmi melihat Anton.


"Anton, kamu disini?" bukan menjawab pertanyaan Anton, Sarmi malah bertanya kembali padanya.


"Kalau Nak Anton tidak ada disini, siapa yang akan menolong mu, Nak! Ibu menantikan seseorang untuk lewat dan memintai pertolongannya, tetapi tidak ada satu pun yang lewat." sang ibu yang menjawab pertanyaan Sarmi kepada Anton dengan masih menangis.


"Sarmi, ada apa dengan mu, Nak? Kamu membuat ibu khawatir saja." ucap ibu lagi sambil menghapus sisa air matanya.


"Maaf Bu, Sarmi sudah buat ibu khawatir." sesal Sarmi.


"Sekali lagi, Sarmi minta maaf ibu, Sarmi tidak berniat membuat ibu khawatir. Sungguh!" ucap Sarmi meyakinkan.


"Hum," sahut sang ibu. Ibunya tidak bicara lagi. Ia duduk di samping Syakila.


Sarmi ingin bangun, tapi karena masih lemah, ia masih kesusahan untuk bangun. Akhirnya Anton membantu Sarmi bangun dengan pelan-pelan dan menuntunnya untuk duduk. Anton menyuruh Syakila membuat kan teh untuk mamanya.


"Syakila, buatkan teh hangat untuk mamamu."


"Iya Om," sahut Syakila. Ia segera pergi membuatkan teh untuk mamanya.


"Mengapa kamu pingsan? Apa yang terjadi padamu?" Anton kembali bertanya.


"Aku hanya merasa pusing saja, kepalaku sangat berat. Mungkin karena semalam kurang tidur." Sarmi menjawab.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Anton lagi.


Sarmi menunduk, "Tidak ada. Mungkin aku hanya kecapekan saja." jawabnya berbohong.


Anton tahu jika jawaban Sarmi itu bohong, namun ia mengangguk saja. Ia tahu, Sarmi tidak akan menceritakan apa yang sedang di alami nya padanya.


"Ini Mah tehnya, Mama minum dulu selagi hangat." ucap Syakila sambil memberikan segelas teh hangat kepada mamanya.

__ADS_1


"Terima kasih Syakila," Sarmi mengambil tehnya dan meminumnya sampai habis dengan dua kali teguk. Lalu ia menyimpan gelas kosong di lantai.


"Terima kasih Anton, kamu sudah menolongku." ucapnya tulus kepada Anton.


"Hum, aku sarankan sebaiknya kamu jangan banyak berpikir. Ini kebun! Siapa yang akan tahu jika terjadi sesuatu padamu? Hari ini untung saja aku mampir kesini, jika tidak! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu! Jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana dengan anak-anak mu? Apalagi suamimu yang jauh di sebrang sana. Jadi jagalah dirimu! Demi anak dan suamimu!" ucap Anton menasehati.


"Hum, terima kasih, Anton." sahut Sarmi. "Em, tujuanmu apa mampir kemari?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Anton tahu jika Sarmi mengalihkan pembicaraan mereka, "Aku mampir hanya ingin memberitahu mu saja, jika tiga hari mendatang aku akan kembali ke kota A. Barangkali, ada yang ingin kamu titipkan untuk suamimu." jelas Anton memberitahu tujuannya datang.


"Iya, aku ingin menitipkan surat saja untuknya. Nanti Syakila yang akan membawakan surat itu ke rumahmu di hari kamu akan berangkat." sahut Sarmi. "Dan tolong! Jangan ceritakan ini pada mas Halim! Aku tidak ingin dia merasa terbebani disana setelah mendengar aku pingsan." pinta Sarmi dengan sangat pada Anton.


Anton terdiam, ia memandang mata Sarmi yang teduh. Ia bisa melihat ketakutan di matanya jika Halim tahu hal ini. "Baiklah, aku tidak akan menceritakan ini pada Halim, tapi kamu harus menjaga diri kamu baik-baik." pinta Anton pasrah.


"Hum, aku akan menjaga diriku dengan baik." sahut Sarmi menyetujui. Anton mengangguk untuk menanggapi.


"Kalau begitu, aku pamit sekarang!" ucap Anton sambil berdiri dari duduknya.


"Kenapa terburu-buru? Tidak minum teh dulu?" Sarmi menahan Anton dan menawarkan minuman.


"Aku masih ada urusan yang harus ku urus. Aku sudah meminum teh bahkan sudah menghabiskan pisang rebus nya." jawab Anton jujur dengan perasaan kikuk. "Sekarang, aku pergi dulu!" ucapnya lagi berpamitan.


Kali ini Sarmi tidak menahan Anton lagi. Anton segera pergi setelah berpamitan kepada sang nenek juga anak-anak Sarmi.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya sang ibu masih dengan khawatir.


"Ibu, Sarmi sudah baikan. Kepala Sarmi tidak pusing lagi." Sarmi menjawab meyakinkan si ibu.


Sarmi berdiri dari duduknya, si ibu menahannya. "Kamu mau kemana?"


"Sarmi ingin memasak Bu, jika tidak masak, makan siang kita bagaimana?" sahut Sarmi dengan lembut.


"Kamu istrahat saja, badan kamu masih lemah, biar ibu yang masak."


"Tapi Bu?" Sarmi mengelak


"Tidak ada tapi, istrahat lah!" kekeh sang ibu.


Syakila berdiri di hadapan mama dan neneknya, ia berkata dengan lembut kepada mama dan neneknya. "Mah, Nek, biar Syakila saja yang memasak. Mama istrahat saja dulu disini, dan Nenek tetap disini menjaga Mama."


Sarmi dan sang nenek tidak berbicara lagi. Mereka mematuhi ucapan Syakila. Tanpa memprotesnya. Syakila pun memulai memasak.


Ia juga memetik sayur yang segar dan memotongnya, baru ia memasak nya. Kini makan siang mereka sudah tersaji. Meskipun sangat sederhana tapi bagi mereka makanan inilah yang terlezat.


"Yuli, pelan-pelan saja makannya, Nak! Tidak ada yang akan berebut dengan mu." Sarmi mengajari Yuli yang makan dengan terburu-buru dan menambah lagi makanan kesukaannya.


"Hehehe, iya Mah, maaf." sahut Yuli dengan cengengesan. Sarmi menggeleng melihat tingkah lucu anaknya itu. Mereka kembali makan, menikmati masakan Syakila.

__ADS_1


__ADS_2