
Halim kembali mendatangi resepsionis dan mengembalikan kunci kamar Halima.
"Ini Mba kuncinya, terima kasih sudah membantuku." ucap Halim tulus sambil menyimpan kunci itu di atas meja resepsionis.
"Iya makasih Mas, sudah mengembalikan kuncinya." sahut sang resepsionis. "Boleh tahu siapa nama Anda, Mas?"
"Nama saya Andi." jawab Halim berbohong.
"Oh, Mas Andi yah. Namanya bagus seperti orangnya ganteng." ucap sang resepsionis memuji Halim. Halim hanya tersenyum menanggapi dan pergi dari sana.
Ternyata apa yang dia ucapkan padaku itu kebenarannya, berarti selama setahun ia disana, ia masih menjaga kesuciannya. Bagaimana gadis polos seperti dia bisa terperangkap di sana? Siapa tadi Kevin..pria yang sudah menjebak Halima terjerumus di sana. Bagaimana caranya aku membantunya keluar dari sana?
Uangku tidak seberapa jika ku pakai mengeluarkan dia dari sana secara baik-baik Mau dapat dari mana uang sebanyak satu milyar untuk mengeluarkan dia? Huh! Saat dia bilang jumlahnya padaku waktu itu. Aku tidak ingin membantunya. Ku dapat dari mana uang sebanyak itu? Tidak mungkin jika aku meminjam pada Anton.
Dan jika aku mengeluarkan dia dengan cara lain, hidupnya dan hidup adik perempuannya juga akan terancam
batin Halim di sepanjang perjalanan ke Club.
Halim sampai ke Club, Ia mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan Club dari bibir pintu untuk mencari keberadaan Denis dan Samnia. "Kedua bocah itu sudah tidak terlihat, apa mungkin mereka sudah pulang?" Halim bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin saja sudah pulang, sekarang waktunya untuk aku pulang."
Disaat ia membalikkan badannya, ia berpapasan dengan Hamid, temannya yang ia kenal di atas kapal.
"Hamid!"
"Halim!"
Mereka saling terkejut bertemu di Club.
"Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu sudah mau pulang?" Hamid bertanya dengan bingung akan kehadiran Halim di sana.
"Iya aku baru mau pulang, aku kesini menemani Denis." jawab Halim.
"Denis?" Hamid mengulang menyebut nama Denis sambil melihat ke dalam Club, tapi Denis tidak terlihat.
"Iya Denis, dia bertemu dengan Samnia disini. Aku menemaninya, tapi aku tidak masuk kedalam, aku hanya berkeliling di sekitar Club. Dan saat aku kesini untuk melihat mereka, ternyata mereka sudah tidak ada." ucap Halim menjelaskan.
"Oh," sahut singkat Hamid. Ia merangkul pundak Halim. Dan mengajaknya kembali masuk ke dalam Club. "Kalau begitu temani aku sebentar, nanti pulangnya biar aku yang antar, tidak usah kepikiran dengan sulitnya taksi."
Apa gak sebaiknya aku bercerita kepada Hamid tentang Halima. Sekalian meminta bantuannya untuk sama-sama membantu Halima keluar dari pekerjaannya itu.
batin Halim.
Ia menuruti ajakan Hamid, mereka duduk di tempat biasa. Hamid memesan minuman bir untuknya dan air putih biasa untuk Halim.
"Kamu sendiri lagi buat apa disini?" Halim bertanya kepada Hamid.
"Seperti biasa, aku hanya menghibur diriku disini, tidak ada yang spesial!" jawab Hamid. "Kamu ada bertemu lagi dengan Halima?" Hamid bertanya dengan hati-hati.
"Kami belum ada bertemu lagi dari beberapa Minggu yang lalu di pasar." Halim terdiam. Ini kesempatannya membicarakan Halima. "Hamid, karena kamu menanyakan tentang Halima, aku ingin bercerita sedikit tentangnya, apa kamu akan mendengarkan aku bercerita tentangnya?"
Bercerita tentang Halima? Apa yang sudah terjadi sesuatu kepada mereka berdua? Apa Halim sudah mulai tertarik dengan pesona Halima? Oh tidak, aku akan menghajar mu jika kamu berani menduakan Sarmi.
__ADS_1
batin Hamid.
"Bercerita lah! Aku akan mendengarkan!" sahut Hamid santai.
Halim pun mulai menceritakan pertemuan dirinya dengan Halima di saat ia menolongnya dari kejaran preman, dan ia juga menceritakan pembicaraan mereka saat bertemu di pasar beberapa Minggu yang lalu. Tanpa ada kata yang di kurangi maupun di lebihkan.
"Jadi, kamu percaya begitu saja dengan ucapannya? Kamu jangan tertipu dengan tangisannya!" Hamid memperingatkan.
"Ia aku percaya dia!" Halim berkata dengan serius dan tegas.
"Apa?!" Hamid terkejut, "Kamu percaya padanya? Lalu kamu akan membantunya mengeluarkan dia dari sana?" Hamid bertanya dengan khawatir.
"Iya aku percaya! Dan aku akan membantunya!" jawab Halim dengan tegas.
"Sadar Halim! Kamu belum lama di kota ini, kamu belun tahu kejamnya tinggal di kota. Jangan buat dirimu sengsara disini, Halim! Apa kamu tidak berfikir dengan panjang sebelum kamu memutuskan untuk membantu dia? Ingat kamu punya anak dan istri! Mencari uang saja dengan benar dan hidupi anak dan istrimu, tanpa mencampuri urusan orang lain." Hamid kembali mengingatkan Halim.
"Tadi aku tidak sengaja melihat Halima bersama seorang pria saat aku berjalan-jalan di sekitar Club. Aku mengikuti mereka sampai ke hotel, dan sampai aku masuk ke kamarnya. A_"
Hamid memotong ucapan Halim dengan cepat. "Apa?!" Hamid kembali terkejut. "Jangan gila kamu Halim! Stop! Aku tidak menyetujui apa yang akan kamu lakukan untuk Halima! Bisa-bisanya kamu masuk sampai kedalam permasalahan Halima!" ucap Hamid dengan nada kasar.
Halim menghela nafas panjang. "Hamid, aku sudah bertekad untuk membantunya, saat aku menyaksikan sendiri kebenaran atas ucapannya tadi selama di hotel, Halima tidak tahu jika aku berada disana. Dia masih suci! Dia menjaga kesuciannya, karena pekerjaan itu bukan pekerjaan yang dia harapkan." ucap Halim bersikeras untuk membantu Halima.
"Apa karena dia masih suci, makanya kamu ingin membantunya?" Hamid bertanya dengan penasaran.
Halim menggeleng, "Bukan! Meskipun dia tidak suci lagi aku akan membantunya mengeluarkan dia dari sana. Dia sudah beberapa kali mencoba untuk kabur drai sana tapi ia selalu di temukan dan di bawa paksa kembali ke sana dengan ancaman adik perempuannya." Halim menjelaskan.
"Adik perempuan? Dia punya adik perempuan?" Hamid bertanya memastikan.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan, untuk membantu nya? Kamu tahu gang Eagle kawasannya siapa?" Hamid kembali bertanya.
Halim menghempaskan nafas kasarnya. "Entahlah! Aku bingung, jika aku mengeluarkan dia dari sana dengan membawa kabur dia, resiko yang akan ku terima pasti sangat besar."
"Lalu?" Hamid bertanya memicingkan matanya menatap Halim.
"Aku akan mengeluarkan dia dari sana dengan baik-baik, tapi sebelum nya aku akan mengeluarkan adiknya dulu dari lingkungan Eagle." jawab Halim.
"Kamu tahu tidak Eagle itu?"
"Aku tidak tahu, apa kamu tahu? Jika kamu tahu beritahu aku." ucap Halim.
"Kelompok Eagle, bukanlah kelompok sembarangan, tidak mudah untuk berurusan dengan kelompok Eagle. Ketua dalam kelompok itu bernama Alex Rudiart. Dia dikenal dengan sadis di kota ini, dia tidak mengampuni lawan dan tidak membiarkan lawan lolos dari tangannya." jelas Hamid. "Jadi ku mohon jangan kamu mencari hal atau menyinggung mereka. Pikirkan anak dan istri mu.!" Hamid kembali mengingatkan.
"Aku akan melindungi anak dan istri ku dengan baik, dan aku akan tetap membantu Halima keluar dari sana dengan baik-baik tanpa ada permusuhan." sahut Halim.
"Bagaimana caramu?" tanya Hamid penuh selidik.
"Aku membutuhkan uang satu milyar untuk mengeluarkan dia dari sana." jawab Halim. "Apa kamu mengenal seseorang yang jutawan disini untuk aku meminjam uangnya?" lanjutnya bertanya.
"Jangan gila Halim! Lebih baik urungkan niatmu sekarang!" Hamid kembali memperingati Halim untuk tidak berbuat gegabah.
"Niatku sudah bulat, Hamid!" ucap Halim tegas.
__ADS_1
"Baiklah! Aku kenal dengan seseorang yang bisa memberikan mu uang. Aku katakan padamu, tidak mudah untuk mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa ada persyaratan tertentu! Dan aku ulang mengatakan padamu, aku sudah memperingatkan mu hal ini. Jadi terserah mu sekarang!" ucap Hamid mengalah.
"Kamu bisa mengantarkan aku untuk bertemu dia?"
"Dia belum datang, dia masih di ibu kota. Aku dengar dia akan datang dalam beberapa hari ini untuk meninjau anak perusahaannya di kota ini." jawab Hamid.
"Siapa namanya?" Halim penasaran dengan sosok ini.
"Namanya Albert, dia memiliki dua istri. Istri pertamanya aku tidak tahu siapa, tetapi istri keduanya aku sangat kenal. Beliau bernama Rosiana, ia orang yang baik, dia memilik seorang putra bernama Geovani Albert." jelas Hamid.
"Baiklah, jika mereka datang kesini, tolong beritahu aku." ucap Halim.
"Ok," sahut Hamid sambil meneguk minumannya. "Lalu, bagaimana dengan usahamu, lancar?"
"Alhamdulillah, lancar! Sekarang aku lagi membangun rumah di atas tokoku, setelah jadi aku akan membawa anak dan istriku kesini." jawab Halim.
"Oh, semoga semuanya lancar!" sahut Hamid, sambil meminum habis minumannya. "Habiskan minuman mu, baru kita pergi dari sini!"
Halim segera meminum minumannya dengan satu kali teguk. Lalu ia dan Hamid berdiri dari sana. Hamid membayar minumannya lalu mereka berdua keluar dari Club.
Mereka berjalan ke arah mobil Hamid terparkir. Mereka masuk. Di dalam perjalanan mengantar Halim pulang, mereka tidak saling bicara.
Semoga saja, kamu merubah keputusanmu Halim, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu nanti, apalagi akan berimbas pada anak dan istrimu.
batin Hamid sambil melirik Halim.
Aku tahu, keputusanku ini sangat beresiko. Tapi hatiku terketuk untuk membantu Halima. Semoga semuanya berjalan dengan baik. Dan tidak akan mempengaruhi kehidupan ku kedepannya.
batin Halim sambil memejamkan matanya.
Hamid menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Anton. "Turunlah, sepertinya Denis sudah menunggu mu!" ucap Hamid.
"Hum, terima kasih sudah mengantar ku pulang, dan tolong jangan bicara pada siapapun pembicaraan kita tadi, cukup hanya di antara kita." pinta Halim.
"Ok, santai saja!" sahut Hamid. Halim segera turun dan Hamid melanjutkan perjalanannya pulang kerumahnya.
"Suamimu memang baik Sarmi, tapi menurutku ia sangat konyol!" gumam Hamid.
Halim menghampiri Denis yang lagi duduk di bangku teras. "Sudah lama kamu pulangnya?" Halim bertanya sambil mendudukkan dirinya di bangku.
"Iya," jawab Denis. "Kenapa Abang baru pulang? Abang jalan-jalan kemana saja tadi? Abang tahu, aku dan Samnia mencari Abang di sekitar Club, tapi kami tidak menemukan Abang di manapun." Denis mencerca Halim berbagai pertanyaan dengan nada khawatir.
"Maaf, sudah membuatmu dan Samnia khawatir. Abang berjalan tidak terlalu jauh dari Club. Pas Abang kembali ke sana, Abang sudah tidak melihat kalian. Dan pas Abang ingin pulang, bertemu dengan Hamid, jadi mengobrol dulu." jelas Halim.
"Bagaimana urusanmu dengan Samnia? Apa kamu sudah menemukan jawaban atas pertanyaan mu, darinya?" kini Halim mengubah topik pembicaraan.
"Iya, aku sudah mendapatkan jawabannya." jawab Denis. "Dia memang berkomitmen untuk serius dalam suatu hubungan. Hanya saja, sepertinya dia belum sepenuhnya menyukai ku."
"Kalau begitu, kamu harus berusaha untuk menaklukkan hatinya." saran Halim.
"Hum, Abang benar!" sahut Denis. "Sebaiknya kita masuk sekarang, Bang! Sudah setengah dua belas malam."
__ADS_1
Halim mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Halim memastikan jendela dan pintu tertutup rapat baru ia masuk ke kamarnya untuk istirahat.