
Geo kembali ke kamar dengan wajah suram. Setelah puas mencium aroma bunga mawar, Syakila kembali masuk ke dalam rumah.
Ia berlari kecil untuk menaiki anak tangga menuju kamar. Syakila membuka pintu kamar. Ia masuk, ia melihat Geo yang sedang memandang di luar dari dinding kaca kamar.
Syakila mengabaikannya. Ia mendekati kursi sofa dan mengambil handphone. Ia pergi ke arah balkon kamar. Geo meraih handphone ketika mendengar bunyi notifikasi di hapenya tersebut.
Ia melihat dari kartu Syakila yang terhubung di hapenya, jika Syakila sedang menghubungi Dian. Geo menyambung kan blotooth dari hape ke handset blotooth nya. Lalu ia menyimpan handphone di atas ranjang. Ia sedang mendengarkan pembicaraan Syakila dengan Dian.
”Halo kakak, tumben kakak menelfon. Ada apa kak?” terdengar suara pria di sebrang sana yang Geo tahu itu suara Dian.
”Iya dik, tidak apa-apa. Dik, kamu bisa gak temani kakak pergi besok?”
”Kakak mau pergi kemana? Bisa saja, tapi setelah Dian pulang dari sekolah yah kak.” tawar Dian.
”Mau pergi kemana? Nanti besok baru kamu akan tahu. Ok lah, besok kakak tunggu kamu di rumah Om Denis. Ok?”
”Yah, kenapa gak nunggu Dian di rumah saja sih kak? Biar sekalian izin sama papa dan mama.”
”Kalau masalah izin gampang lah, Dik. Nanti kakak singgah ke rumah dan minta izin sama Om Anton, jika kamu akan temani kakak untuk jalan. Setelah kakak izinkan kamu, kakak kerumah Om Denis. Kakak rindu sama si kembar.” jelas Syakila.
”Hum, mana baik mu saja, kak. Udah dulu yah kak, bel tanda waktu istirahat telah selesai. Dian mau masuk ke kelas dulu.”
”Oh, iya. Belajar yang baik ya, Dik!”
”Iya, Kak.” Tut tut tut. Telfon terputus.
”Oh, berarti yang di bilang Beni itu benar. Lelaki yang kulihat duduk dengan Syakila di bengkel itu memang Omnya. Dan lelaki yang ku lihat di pasar yang jalan sama Syakila, mungkin lelaki itu adalah lelaki yang baru saja bertelfonan dengan Syakila, Dian. Anaknya Anton.” gumam Geo.
”Tapi, bagaimana bisa dia tiba-tiba ada keluarganya disini? Bukankah ibunya sendiri yang bilang kalau Syakila tidak memiliki keluarga di kota ini? Mama ku juga bilang seperti itu. Lalu, keluarga dari mana Anton dan Denis ini dengan Syakila? Apa aku tanyakan saja sama Syakila biar jelas? Hum, tidak perlu.”
Geo mematikan handset blotooth nya. Notifikasi dari handphone berbunyi kembali. Geo meraih handphone untuk melihat notifikasi apakah yang sudah masuk?
Geo memicing melihat ke layar handphone saat melihat Syakila sedang berbalas chat dengan Sardin.
Wanita ini, begitu cintanya kah dia sama pria ini? Sudah sejauh mana hubungan di antara mereka berdua? Heh, cinta tulus, apakah benar-benar masih ada di jaman sekarang? Hemp, cinta dapat di kendalikan oleh harta dan jabatan. Tentu saja Syakila tidak akan melepas pria ini yang mempunyai posisi ke tiga di kota S.
Geo membaca chat antara Syakila dan Sardin lewat handphonenya.
”Kakak, apa Kila mengganggu waktu kakak?” Syakila.
”Tidak sayang, ada apa?” Sardin.
”Tidak ada apa-apa, kak. Kila hanya rindu kakak saja.” Syakila.
”Benar hanya rindu saja? Tidak ada yang lain? Oh ayolah sayang, aku mengenal mu. Cerita ke kakak, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” Sardin.
”Hum, kakak ini. Baiklah, kakak, besok Kila akan mencoba melamar pekerjaan di sini.” Syakila.
”Melamar pekerjaan? Apa suamimu tidak melarang mu untuk bekerja, sayang? Kila ingin melamar pekerjaan apa di sana?” Sardin.
”Iya kak, Kila akan melamar pekerjaan. Dia tidak melarang ku kok, kak. Em, itu Kila akan mencoba untuk melamar menjadi guru SD kak.” Syakila.
”Oh, semoga Kila di terima. Kalau Kila mengalami kesulitan, Kila bilang ke kakak saja yah, nanti kakak bilang om Anton untuk membantu mu.” Sardin.
”Em, tidak usah kak. Kila tidak mau merepotkan Om Anton. Oh ya kak, apa sekarang sudah ada seseorang yang berada di sisi kakak?” Syakila.
”Kenapa menanyakan itu, sayang? Apa kakak tidak boleh mencari pengganti Syakila untuk jadi pendamping hidup kakak? Kalau Syakila melarang kakak untuk itu, kakak akan menuruti Syakila." Sardin.
”Em, itu. Iya kak, Syakila melarang kakak untuk mencari pengganti Syakila. Apa Syakila terlihat egois kak? Kakak, tunggulah Syakila kembali ke sisi kakak.” Syakila.
”Kila memang terlihat egois. Sangat egois, Kila sudah menikah dan Kila melarang kakak untuk menikah. Tapi, kakak tidak jadi masalah, kakak tahu Kila orang yang sangat menepati janji. Jadi, kakak berjanji kakak akan menunggu Syakila kembali.” Sardin.
”Terima kasih kak dan maaf atas keegoisan Syakila. Kak, sudah dulu yah, nanti Syakila hubungi kakak lagi.” Syakila.
”Iya sayang, hati-hati di sana ya sayang! Jaga dirimu baik-baik untuk kakak.” Sardin.
”Iya kak, Kila akan menjaga diri untuk kakak, kakak juga yah jaga diri kakak untuk Kila.” Syakila
__ADS_1
”Iya sayang.” Sardin.
Chat terakhir Sardin hanya di baca saja oleh Syakila tanpa membalasnya. Geo melempar handphonenya di atas ranjang.
”Cih, mengapa aku harus membaca chat mereka yang mesra ini? Menyebalkan! Mereka berdua tidak tahu diri apa kalau mereka sedang berselingkuh!”
”Siapa yang sedang berselingkuh?” tanya Syakila dengan tiba-tiba.
Membuat Geo menoleh melihat Syakila. Yah, setelah berbalas chat dengan Sardin, Syakila kembali masuk ke kamar. Dan ia mendengar gumaman Geo. Syakila duduk di pinggir ranjang Geo, berhadapan dengan Geo yang duduk di kursi roda.
Geo menatap tajam Syakila
”Orang yang tidak tahu diri yang sedang berselingkuh! Ia berselingkuh dengan mantan pacarnya di belakang suami orang itu.” ucapnya dengan marah.
"Siapa dia? Apa dia teman mu? Mengapa kamu harus mengurus urusan pribadinya orang?”
Geo tertawa masam, ”Heh, kamu memang pura-pura polos di hadapan ku, Syakila! Pura-pura tidak mengerti dengan ucapan ku, padahal kamu sangat tahu dan sangat mengerti dengan ucapan ku.”
Syakila mengerut memandang Geo.
”Apa maksudmu, Geo? Aku pura-pura polos bagaimana padamu? Aku pura-pura tidak mengerti dengan ucapan mu? Ucapan mu yang mana yang aku pura-pura tidak mengerti akan? Beri tahu aku.”
”hemp, kamu pikir saja sendiri, Syakila! Kamu tidak lebih dari wanita murahan, wanita matre yang sudah pernah aku temui.” ucap Geo dengan penuh penekanan di setiap ucapannya.
Tria memandang marah pada Geo.
”Pria brengsek seperti mu selain angkuh dan sombong, ternyata kamu juga pandai menghina orang. Pantas saja, tidak ada wanita yang mau berada di sisi mu.”
”Kamu!” Geo menarik tangan Syakila hingga Syakila terjatuh di atasnya. Ia mencekik leher Syakila.
Syakila tidak berniat memberontak. Ia membiarkan Geo mencekik lehernya. Meski itu sangat menyakitkan untuknya, ia melotot melihat Geo. Perlahan Geo melepaskan cengkraman tangannya di leher Syakila saat melihat tatapannya.
Mengapa dia tidak memberontak? Apa dia mau mati begitu saja di tangan ku? Aku kira dia akan memberontak dan berusaha melepaskan dirinya. Aku salah menduga. Menyiksa dia, seperti aku menyiksa diriku.
”Ukhuk..ukhuk..!” Syakila terbatuk-batuk sambil memegang dadanya. Ia mengatur nafasnya agar stabil.
Tria menatap Geo.
Sudah lah, pria angkuh ini memang susah untuk di tebak. Emosinya kadang stabil, kadang meledak seperti boom. Sebaiknya aku menghindari dia saat ini, aku akan turun ke bawah untuk mencuci pakaian kotor.
Syakila berjalan ke arah keranjang tumpukan pakaian kotor dan mengangkatnya. Ia keluar dari kamar, mengabaikan dan meninggalkan Geo yang sedang marah itu.
”Dasar gadis matre! Wanita murahan! Pura-pura polos di hadapan ku. Sedangkan belakang ku, heh, aku sudah banyak menemukan wanita seperti gadis matre ini.”
.. ..
Syakila sedang menggiling pakaian kotor di mesin cuci. Ia menunggu pakaiannya itu sambil melamun.
Setelah mengobrol di balkon, Marlina dan Rosalina pergi ke kamarnya masing-masing untuk istrahat. Sedangkan Beni, ia pergi ke dapur untuk mengambil minuman.
Ia mendengar suara mesin cuci berbunyi, Beni tahu pasti Syakila yang sedang mencuci. Beni mendekati Syakila yang sedang duduk.
Sepertinya Syakila sedang melamun. Melamun kan apa wanita ini? Sepertinya serius sekali ia melamun, sampai-sampai langkah kaki ku, ia tidak sadari.
”Syakila,” Beni menyentuh bahu Syakila. Ia duduk di hadapan Syakila.
”Eh, Beni.” sahut Syakila yang terkejut.
”Kamu lagi melamun kan apa? Sampai kehadiran ku tidak kamu sadari.”
”Em, aku..aku tidak melamun kan apa-apa. Maaf, aku tidak menyadari kedatangan mu disini.”
”Hum,” sahut singkat Beni. Ia memandang Syakila.
Syakila, sejak aku mulai mengenali mu dan dekat sama kamu, aku tidak bisa kendalikan diriku untuk selalu berada di dekat mu. Seandainya Geo melepaskan mu nanti, maukah kamu menerima ku sebagai kekasih mu?
”Beni, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” ucap Syakila.
__ADS_1
”Boleh, jika aku bisa jawab, akan ku jawab. Kamu ingin bertanya tentang apa?”
”Beni, apa di rumah ini tidak ada pembantu? Apa di rumah sebesar ini, kalian hanya tinggal bertiga saja?”
”Rumah ini dulu sangat ramai di huni orang-orang. Setelah kematian Albert, ayah Geo, suasana ramai sudah mulai berkurang. Rosalina memilih tinggal di apartemennya di pusat. Istri pertama Albert dan anaknya juga pergi tinggal di pusat di apartemennya sendiri. Yang huni rumah ini hanya aku, Geo, dan enam orang pembantu wanita. Tapi, semenjak Geo kecelakaan, semua berubah. Hawa kulit Geo tidak bisa menerima hawa kulit wanita lain, selain mamanya sendiri. Jika ia merasakan, melihat wanita lain di dekatnya, dia akan histeris seperti orang gila, tubuhnya akan mengeluarkan keringat dingin. Dan jika ia memaksakan diri untuk bertahan, dia akan muntah. Jadi, semua pembantu wanita di pecat. Karena penyakitnya itu, ia pun tidak bekerja lagi, semua pekerjaannya di serahkan padaku dan Tante.”
”Tetapi, kenapa dia tidak histeris saat berdekatan dengan ku? Mengapa ia tidak bekerja lagi? Apa karena dia malu dia duduk di kursi roda?”
Hari ini Syakila bertanya banyak untuk mengetahui tentang sisi Geo. Seharusnya aku senang, tapi kenapa aku malah cemburu?
”Aku juga tidak tahu kenapa? Itu kuasa Tuhan, mungkin hawa kulit mu sama dengan hawa kulit Geo. Duduk di kursi roda? Mungkin itu salah satu alasan mengapa ia tidak mau bekerja. Alasan keduanya, di tempat kerjanya kebanyakan wanita yang di tempatkan di lantai tiga dan empat. Sedangkan ia ruangannya berada di lantai empat, dari pada dia histeris nantinya saat berdekatan dengan karyawan wanita, lebih baik ia istrahat di rumah.”
”Sudah berapa lama penyakitnya itu? Kenapa kalian tidak membawanya di rumah sakit untuk di obati? Terus, itu kakinya, apakah dia benar-benar lumpuh?” tanya Syakila lagi.
”Sudah sangat lama penyakitnya dari dia kecil. Hanya saja, di saat sekarang penyakitnya itu semakin parah karena sudah di khianati seorang wanita. Dia tidak bisa mendatangi rumah sakit, jika datang di sana, kepalanya akan merasakan sakit. Untuk kakinya, dia tidak benar-benar lumpuh, masih bisa di sembuhkan. Hanya saja, kalau dia bisa dan mau berobat di rumah sakit, Seandainya saja semangat dan kepercayaan dirinya tidak hilang. Dia lelaki yang hebat dalam mengolah bisnis, dia berkharisma, tapi sayangnya ia memiliki kelemahan. Dan kelemahannya itu terletak di wanita. Sudah terlalu banyak kita berbicara, mesin cuci sudah berhenti dari tadi, apa kamu tidak tahu itu?”
”Oh, iya cucian ku. Terima kasih sudah ingat kan. Aku urus pakaian ku dulu.”
”Hum, ternyata kamu orangnya jika sedang fokus dalam satu hal, hal lainnya kamu abaikan yah.” ucap Beni sambil berdiri.
"Tidak juga, Ben. Kamu sudah mau pergi?” tanya Syakila saat melihat Beni pergi.
Beni tersenyum, ”Iya, kenapa? Kamu ingin aku menemani mu, disini?”
”Em, tidak. Pergilah!”
Beni lanjut melangkah. Syakila melanjutkan cuciannya. Sekarang ia menggiling pakaian di mesin pengering. Setelah selesai, ia memasukan pakaian itu kembali ke dalam keranjang. Ia membawa pakaian itu kembali ke kamar.
Saat ia masuk, pintu kamar Geo di tahan oleh Marlina. Sudah lama ia ingin masuk ke kamar Geo, tapi sayang, ia tidak bisa masuk. Selain Geo melarangnya, ia tidak tahu akan kata sandinya.
Syakila terus melangkah ke arah balkon membawa keranjang pakaian tersebut. di samping kiri balkon adalah tempat menjemur pakaian milik Geo dan Syakila. Syakila sedang serius menjemur pakaian.
Marlina mendekati Geo yang sedang memejamkan mata di kursi rodanya. Marlina tersenyum.
Wah, ternyata kamar mu sangat besar Geo. Kamar mu sangat bagus. Sungguh beruntung wanita yang akan menjadi milik mu. Dan wanita itu adalah aku sendiri, wajahmu sangat rupawan. Aku tahu kamu sudah menikah, tapi dari cerita Tante, aku yakin kamu dan Syakila tidak saling mencintai kan? Aku akan membantu mu menyingkirkan Syakila dari hidup mu. Tapi, pertama-tama aku akan menaklukan dirimu dulu.
Tubuh Geo mulai berkeringat dingin saat Marlina sudah berdekatan dengan Geo. Geo membuka matanya dan terkejut melihat Marlina begitu dekat dengan nya.
Tubuh Geo gemetar. Ia mendorong Marlina dengan kuat hingga Marlina terjatuh di lantai. Geo mengambil gelas kosong di atas nakas. Ia melemparkan gelas itu pada Marlina. Marlina menghindar.
"pergi kamu dari sini! Cepat pergi! Jika tidak jangan salah kan aku, kamu mati disini! Cepat pergi!”
”Geo!” Marlina berdiri dan mencoba mendekati Geo lagi.
"Pergi! Jangan mendekati ku! Pergi dari sini!"
Tapi Marlina tidak peduli dengan ucapan Geo, ia tetap berjalan mendekati Geo. Geo menjadi brutal, ia mencekik leher Marlina.
Syakila terkejut mendengar suara gelas terjatuh, juga suara Geo yang berteriak. Ia berlari cepat untuk masuk ke dalam kamar.
Syakila terbelalak melihat melihat Geo mencekik Marlina. Syakila berlari mendekati mereka berdua.
”Argh! Kakiku, sakit sekali!” ia melihat Geo, ”Geo, lepasin Marlina, kamu bisa membunuhnya Geo!"
Syakila menarik pecahan gelas yang tertancap di telapak kakinya. Ia berjalan kembali berjalan mendekati Geo dan Marlina.
Ia memegang tangan Geo.
”Geo, lepasin Marlina, kamu akan membunuhnya jika kamu tidak melepas tangan mu.” Syakila memandang Geo dengan tatapan lembut dan sedih.
Hati Geo menjadi tenang saat Syakila menyentuh tangannya, tubuhnya berhenti gemetar. Ia melepaskan tangannya dari leher Marlina dan mendorong tubuh Marlina menjauh darinya.
Syakila menghampiri Marlina yang sedang terbatuk-batuk, ia membantu Marlina berdiri.
”Marlina, sebaiknya kamu keluar dulu sekarang.” ia memapah Marlina dan membawanya keluar dari kamar.
Brengsek! Bagaimana bisa Syakila menenangkan Geo begitu mudah. Sihir apa yang di gunakan wanita ini? Tidak, aku akan tetap berusaha mendekati Geo. Perlahan-lahan hawa kulit Geo akan menyatu dengan hawa kulit ku jika kami sering berdekatan.
__ADS_1