Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 222


__ADS_3

Di restoran.


Drrttrrt!


Syakila dan Geo sama-sama melirik layar handphone Geo yang berdering, yang ada di atas meja.


Geo meraihnya dan mengangkat telfonnya. ”Hum?”


”Kamu di mana?”


”Lagi di restoran, lagi makan. Kenapa?” tanya Geo.


”Geo, aduh bagaimana ini! Syakila...Syakila menghilang! Dia tidak ada di ruangannya.” suara Rivaldi terdengar panik dan khawatir.


”Tidak usah panik! Syakila bersamaku sekarang. Dia lagi makan.” ungkap Geo.


”Hah, alhamdulilah! Aku kaget sekali dan juga takut sekali kalau Syakila beneran hilang dari rumah sakit ku.”


”Kamu takut kalau aku akan merobohkan rumah sakit itu dan membuat mu tidak memiliki tempat di rumah sakit manapun, di kota ini karena Syakila menghilang dari rumah sakit mu?” tebak Geo.


Rivaldi tersenyum meringis, ”Em...jujur, iya. Selain itu, aku benar-benar takut karena Syakila adalah pasien ku, teman ku, dan murid ku. Dia tanggung jawabku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada dia. Dan aku tidak bisa menanggung akibat dari kemarahan orang tuanya, keluarganya, apalagi kamu, suaminya padaku.”


”Hum, aku tahu. Seharusnya tadi aku membiarkan mu dalam kepanikan dan aku berpura-pura memarahi dan mengancam mu, bukan menenangkan mu.” ucap Geo.


”Hah! Kau terlalu jujur dengan akal bulus mu, Geo. Tapi, aku sangat tahu kamu orangnya seperti apa. Kamu tidak mungkin akan melakukan hal yang bodoh. Baiklah, kalian ada di restoran mana? Aku akan menyusul.” Rivaldi berjalan keluar dari ruangan Syakila.


”Di restoran, di depan rumah sakit mu. Syakila tidak boleh berjalan terlalu jauh dan terkena angin malam. Dia baru saja sembuh. Jadi, aku membawanya ke restoran terdekat saja.” jelas Geo.


”Ok. Aku segera ke sana. Kalian tunggu aku ya.” Rivaldi memutuskan sambungannya.


Geo menaruh kembali hapenya di atas meja.


”Rivaldi akan menyusul ke sini?” tanya Syakila.


”Iya, kita tunggu dia.” jawab Geo. Dia telah selesai makan.


Kebetulan sekali, aku bisa pergi ke toilet. Perutku sangat sakit. Jika aku tidak makan, Syakila juga tidak mungkin akan makan. Jadi, terpaksa aku memaksakan perutku yang sudah kenyang ini terisi lagi. Dan sekarang, sakit perut ku menyiksa ku. Rasanya aku ingin muntah. benak Geo.


Tidak lama kemudian, Geo melihat Rivaldi yang berjalan masuk ke dalam restoran sambil mengedarkan pandangannya. Geo mengangkat tangannya.


Rivaldi melihatnya. Dia berjalan menghampiri meja Syakila dan Geo. Dia duduk di samping Geo.


”Syakila, syukurlah kamu sudah sadar. Kami sangat khawatir padamu. Kamu tahu, kamu sempat kehilangan nafas dan detak jantung mu. Kami sangat takut dan terkejut saat itu. Geo, aku, dan para dokter yang ada di dalam ruangan UGD, sangat khawatir.” ungkap Rivaldi.


Geo berdiri. ”Kalian berbincang dulu. Aku pergi ke toilet. Kalau kamu ingin pesan makanan dan minuman, pesanlah.” ucap Geo, pada Rivaldi.


”Aku akan pesan minuman saja. Aku masih kenyang.” jawab Rivaldi.


”Terserah mu!” Geo berkata sambil berjalan. Dia pergi ke toilet.


Rivaldi memesan minuman pada pelayan yang kebetulan lewat di depan mereka.


”Bagaimana reaksi Geo saat itu?” Syakila penasaran.


”Kamu tahu, dia mengancam ku dan mengancam para dokter-dokter ahli yang berada di dalam ruangan itu, untuk mengubur kami bersama jasad mu. Jika kami tidak berhasil menyelamatkan kamu.” ungkap Rivaldi, wajahnya sangat serius melihat Syakila.


”Permisi Tuan, ini minumannya.” pelayan tersebut menaruh minuman Rivaldi, di atas meja, di hadapannya.


”Terima kasih,” ucap Rivaldi.


”Sama-sama, Tuan.” pelayan itu berbalik, dia pergi dari meja Syakila dan Rivaldi.


”Apakah benar?” Syakila tidak percaya.


”Iya, kenapa aku harus berbohong?” Rivaldi bertanya balik.


”Baiklah, aku percaya. Oh, iya. Rivaldi, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”


”Tentang apa?” Rivaldi penasaran. Wajah Syakila terlihat begitu serius. Mungkinkah yang di tanyakan sangat penting? Dia menyeruput minumannya.


”Rivaldi, tadi sewaktu masih di dalam ruangan rawat ku. Aku sudah dua kali melihat wajah Sardin, di wajah Geo. Menurut mu, apakah aku terkena suatu penyakit gangguan kejiwaan begitu? Sehingga bisa melihat wajah Sardin padanya.”


”Hum? Kamu serius?” Rivaldi tidak percaya.

__ADS_1


”Iya, bahkan perasaan ku, aku kesini bersama Sardin. Tapi, setelah sampai di sini, Geo bersuara baru aku tersadar, dia adalah Geo bukan Sardin.” ungkap Syakila.


”Hum? Apa sebelumnya kamu sedang memikirkan Sardin?”


”Iya. Aku memang memikirkannya, juga merindukannya. Aku ingin melihat dirinya, tapi, Geo tidak mau membawaku ke ruangan rawat Sardin.”


Rivaldi terdiam. Ruang rawat Sardin? Apa yang di pikirkan Syakila?


Sepertinya Geo di pusingkan dengan hal ini dari Syakila. Makanya dia pergi ke toilet untuk membiarkan aku yang mengatakan pada Syakila.


Wajar saja kalau Geo tidak memberitahu pada Syakila kalau Sardin sudah meninggal. Dia takut kalau Syakila akan jatuh sakit dan pingsan lagi. Apalagi, Syakila baru saja sadar.


Aku juga bingung, bagaimana untuk memberitahu Syakila tentang Sardin? Tapi, Syakila harus tahu dan secepatnya Syakila bisa menerima kenyataan ini. Sebelum mental nya benar-benar akan terganggu. benak Rivaldi.


”Sekarang aku tahu. Itu hanya ilusi dan perasaan mu saja karena kamu sedang merindukan dan memikirkan Sardin. Jadi, di saat melihat orang lain, seakan-akan kamu melihat Sardin.” jelas Rivaldi.


”Tapi, itu hanya berlaku pada Geo.”


”Karena Geo dan Sardin adalah teman. Dan Geo adalah pria yang dekat sama kamu selain Sardin. Dan mereka berdua adalah orang yang ada di hatimu. Mungkin karena hubungan seperti itu, makanya penglihatan mu hanya berlaku pada Geo.” tutur Rivaldi.


”Mungkin benar! Oh, iya, Rivaldi. Sardin di rawat di ruangan mana? Aku akan melihatnya setelah dari sini. Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Syakila. Dia telah selesai makan.


”Sardin? Em...apa yang kamu ingat terakhir kali sebelum kamu pingsan?” Rivaldi bertanya balik.


”Terakhir kali....aku di peluk erat oleh Geo di teras rumah. Saat aku mengejar mayat Sardin yang di.....ah....” Syakila tidak melanjutkan ucapannya. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing. Matanya berkaca-kaca kebenaran itu terbayang di matanya. Sardin telah meninggal setelah Geo mengucapkan ijab kabulnya.


”Iya, Sardin sudah meninggal. Kamu mengejar jenazah Sardin yang di bawa pergi oleh orang tuanya sendiri. Mereka membawa jenazah Sardin ke kediaman Alimin. Mereka mengurus pemakamannya di sana. Kamu belum bisa atau mungkin kamu tidak mau menerima dan mengakui kalau Sardin sudah meninggalkan kita semua. Karena kamu menegaskan di hatimu Sardin masih hidup, kamu tidak terima mereka membawa jenazah Sardin. Dan kamu pingsan karena kamu tidak bisa menahan perdebatan hati dan akal sehat mu.” jelas Rivaldi.


Sakit kepala Syakila semakin menjadi. Hari pernikahan dia dan Sardin terekam ulang dalam ingatannya. Janji-janji Sardin, senyum Sardin, kata-kata dan sikap manis Sardin, semua terekam di kepalanya.


”Ah...Rivaldi. Kepalaku sangat sakit!” Syakila meringis kesakitan. Dia semakin memegang erat kepalanya.


”Hei... kepalamu sakit bagaimana? Kenapa tiba-tiba sakit?” Geo khawatir dan cepat dia mendekati Syakila. Di saat dia kembali dari toilet, dia melihat Syakila memegang kepalanya dan di saat langkahnya semakin dekat, dia mendengar jeritan Syakila.


Dia sangat takut...Sardin meninggal hanya karena kepalanya yang sakit. Dan dia tidak ingin kehilangan Syakila, yang baru beberapa jam menjadi Istrinya.


”Rivaldi, apa yang terjadi padanya? Apa yang kalian bicarakan? Sudahlah, nanti saja baru kita bahas. Ayo, kembali ke rumah sakit!” titah Geo.


Geo gemetar? Dia takut terjadi apa-apa dengan ku. benak Syakila.


”Syakila, tetap sadar ya? Jangan tutup mata mu. Kita sudah dekat dengan rumah sakit.” Geo panik dan khawatir. Dia takut jika wanita itu akan pingsan lagi.


Syakila mengangguk.


Mereka telah sampai di ruangan rawat Syakila. Geo membaringkan Syakila dengan pelan di ranjang. ”Rivaldi, obati istriku!” titahnya pada Rivaldi.


Geo memegang kepala Syakila, dia membelainya. ”Apa sakit sekali?” dia memijat ringan pelipis Syakila.


Syakila melihat Geo, tapi, yang dia lihat adalah wajah Sardin yang cemas, panik, khawatir padanya. ”Kakak Sardin. Jangan khawatir, aku baik-baik saja.” ucapnya.


Geo terkejut dan terdiam. Rivaldi juga terkejut, dia menghentikan tangannya yang sedang bekerja. Dia dan Geo saling pandang.


Geo beralih melihat Syakila. ”Jika kamu menganggap ku, Sardin. Aku terima itu, yang penting kamu baik-baik saja.” ucapnya. Dia mencium kening Syakila.


Rivaldi kembali mengambil cairan dari botol kecil memasukkan ke dalam jarum suntik. Setelah selesai, dia memberikan suntikan pada tangan Syakila.


”Kakak, aku mengantuk. Aku ingin istirahat. Kakak jangan pergi kemana-mana.” titah Syakila.


”Iya, kamu istirahatlah. Kakak akan di sini, menjagamu.” jawab Geo.


Syakila memejamkan matanya yang terasa berat.


”Kamu memberikan obat penenang padanya?” tanya Geo.


”Tidak. Hanya obat penghilang rasa sakit kepala dan sedikit obat tidur. Biarkan dia istirahat, menenangkan pikirannya.”


Geo menghela nafas. Dia pindah tempat duduk. Dia bersandar, pandangannya melihat Syakila yang tertidur. ”Apa tidak perlu ct csan kepalanya Syakila?” tanyanya. Dia melihat Rivaldi.


Rivaldi menggeleng. ”Kepalanya baik-baik saja. Dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Sardin sudah meninggal, meskipun akal sehatnya mengakui itu. Tapi, jiwa dan hati Syakila belum bisa menerima kenyataannya. Dia menganggap Sardin masih hidup dan dalam perawatan.” ungkap Rivaldi.


”Kalian berdua membahas Sardin ketika aku pergi ke toilet?” Geo memastikan.


Rivaldi mengangguk. ”Dia bertanya padaku tentang hal yang dia alami dan itu menyangkut Sardin.”

__ADS_1


”Apa itu?” Geo penasaran.


”Dia terkadang melihat wajah Sardin di wajah mu. Dia mengaku yang berjalan sama dia ke restoran adalah Sardin bukan kamu. Dan di saat kamu bersuara, baru Syakila tersadar itu kamu bukan Sardin.” ungkap Rivaldi.


Kening Geo mengerut. ”Seperti halnya tadi? Dia menganggap ku Sardin dan memanggilku Sardin karena melihat wajah Sardin di wajahku?”


Rivaldi mengangguk.


”Apa dia gangguan mental?” Geo khawatir.


”Seharusnya tidak. Hanya gejolak hati dan akal sehatnya saja yang sedang tidak akur. Tapi, jika itu terjadi terus-menerus... takutnya Syakila benar-benar akan terganggu mentalnya.” jelas Rivaldi.


”Apa yang harus ku lakukan untuk mencegah itu terjadi?”


”Sebaiknya, kamu jangan ikutkan ucapan Syakila. Maksudku, jika dia memanggil mu Sardin, tegaskan padanya kamu adalah Geo bukan Sardin. Jika kamu ikutkan kemauannya, itu artinya kamu mendorong Syakila untuk semakin jatuh dalam bayangan Sardin.” tutur Rivaldi.


Geo menghela nafas sambil melihat Syakila. ”Dia dan Sardin saling mencintai satu sama lain. Bahkan jiwa, hati, dan raga mereka bersatu. Cinta seperti ini...memang sangat berat jika ada salah satu yang pergi. Untungnya Syakila masih dalam kategori iman yang kuat menghadapinya.”


”Yah, aku setuju. Cinta mereka bukan hanya setahun dua tahu terjalin. Tetapi, cinta mereka mengalir dan terus mengalir dari waktu ke waktu, dari mereka kecil hingga dewasa sama-sama. Cinta mereka tidak pernah berubah sama sekali, meskipun mereka sempat berpisah selama beberapa tahun. Memang, jiwa akan terpukul sekali jika salah satu di antara mereka ada yang pergi.”


Aku dan Yulia, hubungan kami juga berjalan bukan hanya satu, dua tahun. Kami berpacaran sudah lima tahun. Tetapi, Yulia masih mengkhianati ku. Dawiyah juga sama. benak Geo.


Geo menghela nafas. ”Sayang sekali, aku bukan orang pertama yang menjumpai Syakila saat itu. Jika saja orang itu adalah aku, aku adalah orang yang paling bahagia karena mendapatkan cinta yang begitu besar dan tulus dari Syakila.” dia melihat Syakila.


”Hei...apa kamu sedang mengeluarkan isi hatimu, padaku?” Rivaldi mengejek Geo.


”Kamu mengejekku?”


”Em...tidak. Sebenarnya aku juga pernah dalam frase ini. Aku iri pada almarhum Sardin. Karena dia mendapatkan cinta yang tulus dari Syakila. Meskipun aku selalu berusaha memikat hati Syakila, dia tetap tidak terpengaruh dengan sikap ku. Meskipun anak murid ku yang lain menjodohkan kami berdua, dia menegaskan dirinya sudah punya kekasih.” Rivaldi tersenyum tipis mengingat masa-masa dia mengejar Syakila.


Rivaldi dan Geo terus berbicara mengenai Syakila.


.. .. ..


Di kamar Sardin, kediaman Alimin.


Hardin terpukau melihat dinding-dinding kamar Sardin yang penuh dengan gambar kakaknya, Syakila dan juga foto Sardin sendiri.


Ternyata cinta kakak dan Sardin memang bukan cinta biasa. Sardin mengabadikan momen kebersamaan dia dan kakak dalam bentuk foto.


Hardin duduk di meja hias Sardin. Dia melihat foto pada saat Sardin memakaikan kalung pada leher Syakila. Hardin tersenyum sendiri melihat senyuman polos dan bahagianya Sardin dan Syakila saat itu.


Di kamar ini kebanyakan fotonya Sardin dan kakak. Apakah aku punya hak untuk mendekorasi kamar ini? Membuka foto-foto mereka dan menggantinya dengan foto ku?


Sepertinya aku tidak punya hak. Lagi pula, aku sangat kejam jika melepas foto Sardin. Tapi, aku kurang nyaman melihat foto-foto kakak di sini. Kalau hanya satu atau dua foto saja yang di pajang tidak mengapa. Tapi ini....semua dinding hampir penuh dengan foto-foto kakak. benak Hardin.


”Ngomong-ngomong soal kakak. Bagaimana kakak sekarang ya? Sudah sadar atau belum? Aku hubungi kakak ipar dulu.” gumamnya.


Dia meraih hapenya dan mencari kontak Geo. Dia menghubunginya. Telfonnya tersambung.


”Halo, kakak ipar.” sapa Hardin.


”Ya, ada apa?”


”Bagaimana keadaan kakak sekarang? Apa kakak belum sadar juga setelah kami pergi tadi?”


”Kakak mu sudah sadar. Tapi, sekarang dia lagi istirahat. Besok, kalian bisa datang menjenguknya.” ungkap Geo.


”Alhamdulillah! Senang dengarnya. Oh, iya. Kakak ipar, maaf, tadi Hardin pulang tanpa pamitan sama kakak ipar.”


”Iya, tidak apa-apa.”


”Terima kasih, kakak ipar. Kalau begitu, aku sudahi dulu panggilannya. Besok, baru aku pergi jenguk kakak. Pagi-pagi. Kakak ingin aku bawakan apa?”


”Bawakan buah jeruk saja buat Syakila.”


”Ok. Aku sudahi dulu telfonnya kakak ipar.”


”Hum.” singkat Geo menyahuti.


Hardin memutuskan sambungannya. Dia pergi ke kamar mandi, membasuh wajahnya. Baru dia pergi istirahat.


..

__ADS_1


__ADS_2