
Siang hari di hotel, di ruangan Vip 2.
”Maaf, Pak. Kami datang terlambat.” ucap Geo. Ia bersalaman dengan pihak perusahaan dari kota C. Beni juga ikut bersalaman dengan manager dan asisten dari perusahaan tersebut. Kemudian, mereka duduk berhadapan di meja bundar, di ruangan itu.
”Tidak apa-apa, Pak Beni, Pak Geo. Hanya terlambat lima menit... masih bisa di maklumi.” sahut Manager perusahaan tersebut dengan tersenyum ramah. Tapi tatapan matanya kadang memperhatikan wanita-wanita yang ada di samping Geo dan Beni.
”Terima kasih kalian dapat mengerti situasi kami.” ucap Beni.
”Em, ini...wanita berlima ini... kalau boleh tahu, siapa mereka?” tanya Manager tersebut. Dia tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak bertanya tentang wanita-wanita tersebut.
”Mereka adalah sektretaris kami berdua.” Beni yang menjawab pertanyaan Si manager.
”Oh, nyaman ya kerja di temani dengan cewek-cewek cantik dan seksi. Kerja jadi semangat. Memang anak muda sangat luar biasa.” ucap Manager lagi sambil tertawa kecil melihat para wanita-wanita tersebut.
Wanita-wanita itu hanya tersenyum kecil. Beni dan Geo hanya tersenyum datar. Sebenarnya mereka tidak suka hal itu. Cuman mau apa lagi? Kehendak mamanya.
”Bagaimana kalau kita makan siang dulu baru kita membahas kerja sama kita. Kebetulan saya sudah lapar dan sebelumnya saya sudah memesan makanan dan minuman.” usul Si manager.
”Boleh, silahkan di hidangkan saja. Kebetulan juga kami belum makan siang.” Geo menyetujuinya.
”Baiklah. Risky, bilang pada mereka hidangkan makanannya.” titah Manager pada sekretaris nya.
”Baik, Pak.” Dia pergi memberitahu pada pelayan hotel tersebut untuk menghidangkan makanan yang telah di pesan oleh managernya. Setelah memberitahunya, ia kembali masuk ke dalam ruangan dan berkata pada atasannya, ”Sudah, Pak. Mereka sedang menyiapkannya dan akan segera mengantarnya ke sini.”
”Hum.” sahutnya singkat.
”Akhir- akhir ini... kenapa Pak Geo tidak pernah kelihatan? Baru sekarang kita bertemu. Selama empat kali pertemuan baru sekali ini bertemu langsung dengan Bapak.” ucap Manager.
”Oh, maaf. Saya ada urusan pribadi yang perlu di urus. Dan sekarang urusannya sudah selesai, jadi... menyempatkan waktu untuk mengikuti rapat kali ini.” jawab Geo.
”Oh, urusan pribadi, ya?” Manager tersebut memperhatikan tiga wanita yang ada pada Geo, terutama ia memperhatikan wanita yang senyumnya sangat menggoda dirinya, wanita yang ada di sisi kanan Geo.
Tok tok tok! ”Permisi tuan... kami membawakan pesanan.” terdengar suara dari depan pintu ruangan.
”Itu pasti makanannya. Risky, bukalah pintunya.” titah Manager pada Risky.
Risky mengangguk. Ia beranjak berdiri dan membukakan pintu ruangan. Sang pelayan hotel melangkah masuk ke dalam ruangan. dengan membawa troli makanan.
Ia menata makanan yang di bawanya ke atas meja bundar. Ia menatanya dengan rapi. ”Tuan, Tuan, Nona, Nona... silahkan di cicipi hidangan istimewa dari hotel kami. Jika membutuhkan apa-apa, silahkan hubungi kami,” ucapnya.
”Iya. Terima kasih, kau boleh pergi.” sahut Manager. Pelayan tersebut pergi dari ruangan.
”Pak Beni, Pak Geo. Ayo... silahkan di makan.” ucap Manager.
”Hum.” sahut Geo dan Beni.
Manager dan sekretaris dari perusahaan kota C tercengang melihat wanita-wanita yang di samping Geo dan Beni mengambilkan makanan untuk Geo dan Beni. Kecuali wanita yang berada di samping kanan Geo. Wanita tersebut bersikap tenang mengambil makanannya sendiri.
Namun, hal yang tidak ia duga, Beni dan Geo sama-sama memberikan piring makanan tersebut pada wanita-wanita yang mengambilkan makanan itu.
Geo dan Beni mengambil makanannya sendiri-sendiri. Syakila sebenarnya tidak suka dengan perbuatan Alifa dan Atika pada suaminya. Tetapi, apa yang harus ia lakukan? Ini adalah tempat umum. Marah di situ hanya akan menjatuhkan citra suaminya.
Syakila memakan makanannya dengan enggan. Membuat Manager dari perusahaan C perhatian padanya. ”Nona, Nona yang berbaju biru navy, kenapa? Apa makanannya tidak sesuai dengan selera Nona?” tanyanya.
Syakila mendongak melihat Manager tersebut. ”Em, makanannya sesuai dengan selera. Maaf, hanya saja... saya masih kenyang, Pak.” ucap Syakila dengan tersenyum yang di paksakan.
”Oh, ternyata begitu. Kalau masih kenyang, jangan di paksakan untuk makan, Nona.” sahut Manager. ”Ini, lebih baik Nona meminum minuman ini saja,” ucapnya lagi sambil memberikan satu gelas minuman miliknya pada Syakila.
”Tidak, Pak. Terima kasih. Saya tidak meminum anggur.” tolak Syakila.
Geo memperhatikan Manager tersebut saat Manager itu mengajak istrinya berbicara. Ia merasa tidak senang dengan cara pandang, cara bicara Manager tersebut terhadap istrinya.
”Geo, saya ingin pergi ke toilet. Tapi dimana arah toiletnya?” bisik Syakila pada Geo.
”Kamu jalan lurus sebelah kanan, setelah itu... belok sebelah kiri, itu adalah toilet wanita.” balas Geo menjelaskan.
”Silahkan di lanjutkan makannya, saya permisi sebentar.” Syakila beranjak berdiri, ia pergi ke toilet dengan arahan Geo tadi.
”Wanita itu berbeda ya. Cantik, manis, apalagi kalau tersenyum... cantiknya luar biasa. Apa dia sudah lama bekerja sebagai sekretaris Anda, Pak Geo?” tanya Sang manager.
Geo mengatupkan kedua bibirnya saat mendengar Alifa yang berbicara.
”Iya, Pak. Dia memang cantik dan manis. Dia baru saja masuk kerja pada pagi hari ini.” jawab Alifa.
__ADS_1
”Oh, jadi... dia sekretaris baru. Pantas... masih bersikap malu-malu.” sahut Manager sambil tersenyum. Namun, senyumnya dapat di artikan dengan kata lain.
Beni dan Geo sama-sama tidak senang dengan pembahasan ini. Syakila telah kembali dari toilet. Ia duduk kembali di tempatnya.
”Tidak ke sasar, kan?” tanya Geo pada Syakila.
”Tidak, sayang. Arahan mu sangat jelas.” jawab Syakila.
Manager tersebut kembali tercengang mendengar Syakila memanggil Geo dengan "Sayang" Apakah wanita ini benar-benar polos seperti yang terlihat?
Makan siang telah selesai. Meja kembali bersih. Kini yang ada di atas meja tersebut adalah berkas dan file-file kerja sama antara dua perusahaan.
Mereka sedang berunding membicarakan untung dan rugi dari kerja sama yang mereka jalin. Selama menjelaskan, manager dari hotel perusahaan kota C tersebut, tidak lepas dari memperhatikan Syakila.
Terkadang Manager tersebut tersenyum penuh arti saat pandangannya bertemu dengan pandangan Syakila.
”... jadi... bagaimana, Pak?” tanya Beni setelah menjelaskan secara rinci.
”Kalian sangat membutuhkan kerja sama ini?” tanya Sang manager.
”Iya, Pak. Karena bahan-bahan yang di produksi oleh perusahaan Bapak sangat berkualitas tinggi. Dan saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik.” jawab Geo.
”Em, aku ada penawaran. Bagaimana kalau aku akan memberikan potongan harga dari bahan tersebut selama dua tahun kepada perusahaan kalian. Dan kita dapat terus menjalin kerja sama seumur hidup. Asal...” Dia menghentikan ucapannya sesaat. Perhatiannya kembali pada Syakila.
Geo dan Beni sudah sama-sama memasang wajah datar. Mereka tengah menduga-duga hal yang tidak baik.
”Sayang, maaf. Aku ingin ke toilet lagi.” bisik Syakila. Geo mengangguk. Syakila beranjak pergi.
”Asal... apa Pak?” tanya Geo dan Beni penasaran.
Manager tersebut tersenyum kecil, ”Asal... kalian memberikan wanita itu padaku.” Dia menunjuk punggung Syakila yang tidak terlihat lagi.
Alika, Afika, Alifa, dan Atika terkejut. Mereka tidak menduga Syakila akan menjadi objek dari inti kerja sama ini.
Beni dan Geo sama-sama marah. Mereka tidak menduga jika Manager perusahaan tersebut sangat lancang dan berani. Namun, Geo dan Beni tetap berusaha tenang.
”Maaf, Pak. Kami tidak membutuhkan kerja sama ini.” ucap Geo dan Beni bersamaan. Beni merapikan berkas dan file yang ia bawa dan memasukkannya kembali ke dalam Tote bag miliknya.
”Dia lebih penting daripada kerja sama di antara kita. Tolong hargai perempuan. Mereka bukan barang dagangan untuk pertukaran bisnis.” ucap Geo dengan tegas.
Alifa dan Atika semakin mengagumi Geo. Mereka berpikir, jika mereka yang menjadi istri seorang Geo, mereka tidak akan di khianati dan di kecewakan.
”Ayolah, Pak Geo, Pak Beni. Anda sangat tahu dalam dunia bisnis itu seperti apa. Anda sendiri masih mempunyai dua orang sisi wanita di samping mu. Aku hanya meminta dia saja.” Manager tersebut kembali membujuk Geo.
Syakila telah kembali dari toilet. Geo berdiri. Ia meraih tangan Syakila dan menariknya keluar dari ruangan. Atika fan Alifa terkejut. Mereka beranjak berdiri, Beni segera menahan mereka berdua. Atika dan Alifa kembali duduk.
Syakila terkejut, ”Hei, sayang? Ada apa ini? Apakah kalian sudah selesai membahas kerja samanya?”
Geo tidak menjawab. Ia terus saja melangkah keluar dari ruangan Vip 2 tersebut. Bahkan pintu ruangannya di tutup dengan kencang oleh Geo.
Membuat orang yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut. Bahkan Syakila sendiri takut juga terkejut. Ia mengikuti langkah Geo tanpa bersuara lagi.
”Maaf, Pak. Pembahasan kerja sama sampai di sini. Kontrak di antara kedua perusahaan di batalkan.” ucap Beni. Ia berdiri dan berjalan keluar dari ruangan. Atika, Alifa, Alika dan Afika ikut keluar dengan Beni.
Manager tersebut sangat marah.
”Bagaimana ini, Pak? Kerja samanya batal. Siap-siaplah gaji kita di potong untuk tiga bulan ke depan.” keluh Risky.
”Kita lihat, sampai mana mereka akan bertahan. Mereka sangat membutuhkan bahan-bahan dari perusahaan kita. Mereka pasti akan mendatangi kita dengan membawa wanita itu.” ucap Manager dengan percaya diri.
*
*
*
Di luar hotel, di parkiran.
Syakila terkejut sekaligus takut melihat Geo yang tiba-tiba meninju kap mobil dengan sangat kuat. Wajah Geo terlihat sangat marah.
Kening Syakila mengerut heran. Tangannya gemetar menyentuh bahu Geo, ”Sayang, kamu kenapa? Kamu marah dengan siapa? Apakah aku ada salah?”
”Tidak ada sayang. Kamu takut?” tanya Geo saat merasakan tangan Syakila yang di bahunya gemetaran.
__ADS_1
Syakila mengangguk. Geo memeluk istrinya dan mengecup pucuk kepalanya. ”Maaf, sayang. Aku sudah membuat mu takut. Ayo... masuk ke mobil.” Ia membukakan pintu mobil untuk Syakila.
Syakila masuk ke dalam mobil dengan penuh tanda tanya. Geo juga segera masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Syakila melihat Geo sedikit tenang. ”Sayang, sebenarnya ada apa tadi? Kok kamu tiba-tiba seperti itu?” Syakila penasaran.
”Aku sangat marah dengan manager perusahaan tersebut. Rasanya aku ingin membunuhnya di sana saja. Tapi mengingat dirimu, aku bisa menenangkan amarahku.” jawab Geo.
”Emang apa yang sudah dia perbuat?”
Geo menghela nafas, ”Dia meminta kamu dariku agar kerja sama dengannya berjalan dengan lancar.”
”Apa?” Syakila terkejut, ”Memang ada ya kerja sama yang seperti itu? Kok bisa perempuan yang di jadikan tolak ukurnya?”
”Tidak semua seperti itu. Aku sendiri menolak hal seperti itu. Beraninya dia meminta istriku dengan mudahnya dariku hanya untuk sebuah kerja sama!” Geo menggenggam erat kemudi saat mengingat permintaan manager tersebut.
Syakila tersenyum senang. Kakak, selain kamu, Geo juga mempertahankan harga diriku. Kamu bisa tenang kan di sana? Suami ku menjaga ku, benaknya.
”Kalau seandainya yang mereka minta adalah Alifa atau Atika... kamu akan bagaimana menanggapinya?” tanya Syakila penasaran.
”Tetap sama. Perempuan bukan barang dagangan. Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Mood ku jadi jelek.” ucap Geo.
”Lalu, bagaimana dengan kerja sama kalian?”
”Batal.”
”Hah? Batal? Karena ku?” Syakila terkejut.
”Bukan karena mu, sayang. Aku tidak suka dengan etika mereka dan cara pandang mereka terhadap wanita.”
”Tapi bukan kah kamu bilang sangat memerlukan kerja sama dengan perusahaan mereka. Dan itu sudah gagal, apakah kamu tidak takut rugi?” tanya Syakila lagi.
”Tidak. Aku lebih rugi jika aku melepas salah satu karyawan ku yang sudah bekerja keras membangun perusahaan ku dan memberikannya kepada orang lain. Apalagi sampai aku melepas istri ku sendiri, aku akan rugi total.” jawab Geo dengan tegas.
”Oh, aku jadi tersanjung. Oh iya, maaf. Aku tidak mengerti sama sekali tentang sebuah perusahaan dan aturan-aturannya.”
”Tidak apa sayang. Ini bukan bidang mu. Aku sengaja memasukkan mu sebagai sektretaris pribadiku karena aku tidak suka berada satu ruangan dengan wanita yang mama tempatkan pada ruangan ku. Aku merasa terganggu. Jika ada kamu di sampingku, aku akan tenang.” ucap Geo.
”Apa kamu tau kalau Mama mengatur mereka untuk mu?”
”Sama sekali tidak. Justru aku terkejut saat mama memberitahu padaku tentang dua wanita itu saat aku ingin pergi ke perusahaan, waktu kita baru datang dari kota S,” ungkap Geo.
”Aku ingin memecatnya, tetapi aturan dalam perusahaan tidak bisa ku langgar. Bagi karyawan yang baru masuk tidak bisa di pecat sebelum lewat tiga bulan. Dan aku berencana membuat hal supaya mereka melakukan kesalahan selama sebulan ini. Jika mereka sudah sering kali melakukan kesalahan, aku bisa memecat atau menurunkan pekerjaannya....”
”Tapi sayangnya sekarang kamu tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka punya selebaran kertas yang tidak bisa di pecat meskipun mereka melakukan kesalahan. Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk menjauhkan mereka dari sisi mu?”
”Aku tinggal menyuruh mama untuk menarik lagi surat itu. Syakila, apa kamu marah padaku karena aku baru memberitahukan mu tentang mereka? Apa kamu akan marah pada mama karena mama mengatur kan dua wanita itu untuk ku?”
Syakila menggeleng, ”Aku tidak marah. Aku bisa mengerti maksud mama seperti apa. Mama hanya takut saja setelah kamu dan aku berpisah nanti, kamu akan kembali pada penyakit mu.”
”Terima kasih sayang. Kamu mau mengerti itu. Aku tidak salah memberikan hati, jiwa, dan raga ku padamu. Kamu orang tepat dan istimewa untukku,” ucapnya. Senyumnya merekah sempurna melihat Syakila.
Syakila membalas senyuman Geo. Ia juga bersyukur bisa mendapatkan pria yang begitu mencintainya dan menyayanginya dengan sepenuh hati, selain Sardin. ”Aku mencintai mu, Geo.” ucap Syakila.
”Aku juga mencintai mu, sayang. Kita kembali ke rumah.”
Syakila mengangguk.
*
*
*
Di perusahaan Geo.
”Kok Geo dan Syakila tidak kembali ke perusahaan? Kemana mereka?” tanya Alifa pada Atika.
”Mana aku tahu! Kita datangnya barengan di sini. Geo sangat mengistimewakan Syakila. Bahkan menganggap Syakila adalah istrinya. Kita harus melapor sama Rosalina. Geo tidak bisa memperlakukan kita seperti ini.” ucap Atika.
”Iya, kamu benar.” sahut Alifa.
Wajah kedua wanita itu tampak tidak bersahabat.
__ADS_1