
Di perjalan pulang ke kediaman Albert.
Geo melihat Syakila yang sedang tertidur bersandar di sandaran kursi. Ia tidak tahu jika Syakila tidak tidur hanya memejamkan matanya saja. Geo menghela nafas, ia ikut memejamkan mata.
Aku tidak menyangka hawa kulit ku bisa berbaur dengan hawa kulit keluarga Syakila. Aku juga ingat waktu pertama datang di kediaman Syakila sewaktu di kota S, aku juga tidak merasakan apa-apa selain tenang.
Ia membuka mata kembali melihat Syakila.
Mengapa bisa begini yah? Apa karena keluarga mereka adalah keluarga yang baik? Awalnya aku mengira aku akan histeris di hadapan keluarga Syakila dan akan mempermalukan diriku sendiri, tapi nyatanya, aku tenang dan damai berada di tengah-tengah keluarganya.
Mang Obi melirik Geo dari kaca spion. Ia senang Tuan nya baik-baik saja saat berada di tengah-tengah keluarga Syakila.
Pilihan Nyonya besar memilih Nyonya muda Syakila sangat tepat untuk menjadi istri dari Tuan Geovani. Semoga Nyonya muda dan Tuan selalu bersama sampai maut memisahkan.
Trrtrtrrt
Bunyi suara nada dering dari handphone Geo terdengar, Geo dan Syakila sama-sama membuka mata, Mang Obi kembali melirik Geo dari kaca spion. Geo meraih handphone dan melihat ke layar, ia menjawab telfonnya.
”Halo, Mah.” sapanya.
”Halo, sayang, kamu dimana? Apa Syakila bersama mu? Syakila tidak berada di rumah sekarang.”
Geo melihat Syakila yang kembali memejamkan mata.
”Iya, Mah, Syakila bersama ku sekarang. Mama jangan khawatir, kami dalam perjalanan pulang ke rumah, sebentar lagi akan sampai.”
”Mama tidak terlalu khawatir, hanya sedikit cemas saja. Ini pertama kali Syakila pergi keluar rumah selain di pasar, Mama cemas karena ia belum mengetahui jalanan-jalanan di kota ini. Ia juga belum pulang di rumah dan ini sudah malam. Apakah kalian sudah makan malam? Jika belum, Mama akan memasak untuk makan malam kalian.”
”Terima kasih, Mah. Kami berdua sudah makan malam bersama keluarga Syakila. Maaf, Geo tidak memberitahu Mama tentang kepergian kami ke kediaman Anton, pamannya Syakila. Kalau Mama sendiri, sudah makan atau belum? Jika belum, Geo akan membelikan Mama makanan. Mama ingin makan apa?”
Rosalina terdiam sejenak.
Apakah ini anak ku Geovani Albert? Perkataanya barusan sangat lembut sekali, ia sudah mulai menggunakan kata terima kasih dan juga maaf. Perubahan ini, apakah karena Syakila? Aku beruntung mendapatkan menantu seperti Syakila, aku tidak akan membiarkan Syakila dan Geo berpisah meskipun Geo telah sembuh.
”Em, terima kasih, sayang. Tapi, Mama juga sudah makan malam bersama kolega Mama di restoran. Baiklah, yang penting Syakila bersamamu, Mama menjadi tenang. Mama tutup telfonnya dulu, kalian berhati-hatilah di jalan.”
”Iya, Mah.”
Tut tut tut telfon terputus. Geo memasukkan kembali hape kedalam saku. Ia melirik Syakila sebentar, gadis itu masih memejamkan mata.
”Apa Mama mencari ku? Mama pasti khawatir, karena aku tidak pulang seharian di rumah.”
”Kamu terbangun?” tanya Geo mengabaikan pertanyaan Syakila.
Syakila membuka mata, pandangannya bertemu dengan pandangan mata Geo yang lembut. Syakila mengalihkan pandangannya.
”Aku terbangun saat mendengar suara handphone mu berbunyi. Jadi, aku mendengar pembicaraan mu.”
”Iya, Mama khawatir dan cemas karena kamu tidak pulang seharian, tapi, mama sudah tenang karena kamu bersama ku. Besok, jam berapa kamu akan pergi ke kota S?”
”Sehabis pulang mengajar, sekalian aku akan izin kepada pihak sekolah besok. Terus, aku akan membeli tiket pesawat untuk kita berdua, kita akan berangkat di sore hari.”
”Tiket pesawat? Tidak usah membeli tiket, kita berangkat pakai pesawat pribadi ku saja, lebih cepat juga kita sampai di kota S. Baiklah, besok sore kita akan berangkat ke sana. Rencana, berapa hari kita akan berada di sana?”
”Aku tidak tahu akan selama berapa hari di sana, yang jelas aku bisa kembali ke kota A dengan tenang, jika keadaan kak Sardin sudah pulih seperti semula.”
Geo menatap Syakila. Syakila begitu mencintai Sardin, pikirnya.
”Apa kamu akan tinggal di rumah sakit untuk merawatnya?” Geo bertanya dengan wajah datar, namun Syakila menangkap suara sedih dari pertanyaan nya itu.
Syakila melihat Geo, tatapan mereka berdua kembali bertemu. Syakila menunduk seketika.
”Aku tidak tahu, sampai di sana dulu baru aku putuskan.”
Geo terdiam, ia tersenyum masam sambil melihat Syakila yang masih menunduk dengan sedih.
Aku tahu, kamu pasti akan tinggal di rumah sakit untuk merawatnya, merawat pria yang kamu cintai. Kamu akan meninggalkan aku, mengabaikan aku selama di sana. Iya, 'kan? Aku tidak akan mengganggu waktumu dengan kekasih mu.
Syakila juga terdiam, ia nampak berpikir.
Apa aku akan tinggal di rumah sakit untuk merawat Sardin? Apa aku akan mengabaikan Geo setelah sampai di sana? Mama pasti tidak akan mengizinkan aku untuk tinggal di rumah sakit, apalagi untuk merawat Sardin dan mengabaikan Geo yang berstatus suami ku. Dengan menjenguknya itu sudah cukup, aku juga harus memperhatikan perasaan Geo. Dia sudah mengerti akan perasaan aku, aku juga harus mengerti dengan perasaannya.
Syakila kembali memejamkan mata sambil menghela nafas. Geo melihatnya.
Syakila, kamu begitu mencintai Sardin. Sungguh sangat bahagia menjadi seorang Sardin, bisa di cintai, di khawatirkan, di cemaskan, bahkan sekarang kamu akan datang ke sana untuk melihat dan merawat Sardin. Seandainya, Dawiyah juga mencintai ku seperti cintanya Syakila pada Sardin. Aku juga pasti merupakan pria yang begitu bahagia.
__ADS_1
Geo tersenyum kecut, ia juga memejamkan mata sambil menghela nafas. Mang Obi menepikan mobil di tempat parkiran kediaman Albert. Mang Obi dan Syakila membantu menurunkan Geo dari mobil dan mendudukkan Geo di kursi rodanya. Syakila mendorong kursi roda Geo. Geo menahannya dengan menaikan tangannya ke atas.
”Kamu masuklah duluan, dan istrahat lah. Aku akan menelfon dulu baru masuk.” ucap Geo pada Syakila.
”Baiklah, aku masuk dulu. Jangan berlama-lama berada di luar.”
”Hum,” sahut Geo.
Syakila berjalan masuk ke dalam rumah, Geo mengeluarkan handphone dan menelfon seseorang.
”Halo Tuan, selamat malam.” sapa seorang pria di sebrang sana.
”Hum, besok istriku akan meminta izin untuk pergi ke kota S, ada sanak keluarganya yang terkena musibah. Jadi, izinkan dia pergi untuk waktu dua Minggu.” ucap Geo.
”Oh, baik, Tuan. Terima kasih sudah memberikan informasi ini. Saya akan memberikan izin kepada istri Tuan, sesuai keinginan Tuan.”
”Hum, terima kasih, aku tutup telfonnya.”
”Baik, Tuan, selamat malam.”
”Hum,”
Geo memutuskan sambungan.
”Mang, bawa aku masuk ke dalam.” perintahnya kepada Mang Obi.
”Baik, Tuan.”
Mang Obi menurut, ia mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam rumah.
”Mama, Syakila, Geo kira kalian berdua sudah beristirahat.” ucap Geo.
Ia mengisyaratkan tangan pada Mang Obi untuk berhenti dan menyuruh Mang Obi untuk pergi. Mang Obi pergi ke rumah belakang yang di sediakan oleh kediaman Albert untuk para pekerja khusus di keluarga Albert.
”Belum, Mama masih ngobrol dengan Syakila. Kamu sudah mau istirahat?” sahut Rosalina.
”Iya, Mah. Aku duluan naik ke atas.”
”Iya, kamu istirahat lah.” sahut Rosalina.
Geo mendorong kursi rodanya sendiri menuju lift. Rosalina memegang tangan Syakila.
”Iya, Mama tenang saja. Syakila akan pertimbangkan permintaan Mama, jika Syakila tidak bisa memenuhinya, Mama jangan berkecil hati sama Syakila.”
”Iya, tapi, Mama sangat berharap padamu.”
Syakila terdiam, ”Mama, aku naik istrahat dulu.” pamitnya. Rosalina mengangguk sambil tersenyum.
Syakila pergi ke kamar dengan menaiki anak tangga. Ia berjalan dengan memikirkan sesuatu.
Permintaan Mama, aku tidak berani mengiyakan ataupun menyetujuinya. Aku juga sudah membicarakan ini dengan Geo. Aku sudah berjanji dengan Sardin untuk kembali bersamanya. Aku tidak bisa melanggar janjiku pada Sardin, apalagi dia adalah pria yang ku cintai dan Sardin adalah pria yang mencintai ku. Aku dan Geo juga tidak saling mencintai, biarlah ini berjalan seperti biasa. Geo akan meyakinkan mamanya sendiri nanti untuk tidak berharap padaku.
Syakila masuk ke dalam kamar. Ia melihat Geo yang memandang jendela kamar. Syakila mendekati Geo.
”Aku akan membantu mu berbaring.”
Ia mendorong kursi roda Geo ke samping ranjang. Ia memapah Geo ke atas ranjang.
”Mama...mama tadi bicara apa denganmu?” tanya Geo dengan lembut.
”Em, bukan apa-apa,”
”Bicaralah!” pinta Geo.
Pandangan Syakila menatap lantai, ”Mama...mama sangat berharap agar kita berdua bisa bersama selamanya. Aku__”
”Apa tanggapan mu?” Geo melihat Syakila yang menunduk dengan lembut memotong ucapan Syakila.
Syakila mendongak, melihat Geo. Pandangan mereka kembali bertemu.
”Aku..ini sudah malam. Sebaiknya kita istirahat, selamat malam, Geo.”
Syakila menarik selimut hingga menutupi sebagian badan Geo kemudian, ia berjalan ke arah kursi sofa ke tempat tidurnya. Geo terus memandangi punggung Syakila. Ia tersenyum kecut.
Aku sudah bisa menebak jawaban mu dari sikap mu, Syakila. Kamu pasti menolak itu.
__ADS_1
Syakila membaringkan dirinya di sofa. Ia memejamkan mata, namun, pikirannya mengajaknya mengingat pembicaraannya dengan mamanya Sardin.
”Halo, Kak Sardin, kakak__” sapa Syakila.
”Syakila, ini bukan Sardin, Nak. Ini Tante.” sahut Nesa dengan sedih.
Syakila bingung mendengar suara Nesa yang bergetar seperti orang menangis.
”Tan.. Tante, mengapa Tante menangis? Di mana kak Sardin?” tanyanya penasaran. Hatinya mulai merasa cemas dan berdetak cepat.
”Nak, Sardin... Sardin..., dia...dia.. kecelakaan, Nak. Hu..hu..hu...” sahut Nesa sambil menangis.
”A... Apa! Tan... Tante gak bercanda, 'kan Tante? Ba.. bagaimana bisa kak Sardin mengalami kecelakaan, Tante? Se... sekarang, bagaimana keadaan kak Sardin, Tante?” ucap Syakila terkejut, matanya berkaca-kaca.
Samnia dan Serlina terkejut mendengar ucapan Syakila, bahwa Sardin mengalami kecelakaan. Mereka berdua saling memandang dalam keterkejutannya. Di dalam pikiran mereka berdua apakah sakit yang di rasakan Syakila adalah rasa sakit yang di derita oleh Sardin?
”Mengapa Tante harus bercanda dengan nyawa anak Tante sendiri, Syakila! Sardin, dia mengalami kecelakaan pas perjalanan mau pulang ke rumah. Ia mengendarai motor dengan kecepatan tinggi untuk segera sampai di rumah, namun naas, ia dan mobil yang melaju sedang saling bertabrakan. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah untuk mengemas pakaiannya dan berangkat ke kota A jam sore ini. Sekarang, dia lagi terbaring tidak sadarkan diri di ruang UGD.” ungkap Nesa.
”Tan.. Tante__”
”Sebelum kesadarannya menghilang, ia memanggil nama mu, Syakila!” ungkap Nesa lagi.
”Tan... Tante, ma..maaf.., Syakila tutup telfonnya dulu. Syakila ingin pergi ke kamar mandi. Tante, Tante yang sabar yah, Syakila yakin, kak Sardin akan baik-baik saja, Tante.”
Syakila menutup telfonnya tanpa menunggu sahutan dari Nesa. Air matanya tak bisa terbendung lagi, ia menangis di dalam pelukan Serlina. Serlina dan Samnia sama-sama mengelus punggung Syakila untuk menenangkannya.
Kak Sardin, kamu harus baik-baik saja demi Syakila, kak Sardin. Kamu harus baik-baik saja, aku tidak mau kamu meninggalkan aku dalam keterikatan kita dalam perjanjian yang belum terpenuhi. Syakila tidak mau kakak hu..hu..hu...
Air mata Syakila kembali tergenang di pelupuk matanya. Ia menangis dalam diam, namun, dengan ketajaman telinga Geo, ia mampu mendengar suara tangisan Syakila tersebut.
”Syakila.” panggilnya.
Syakila menghapus air matanya, ia mendudukkan dirinya, ia melihat ke arah ranjang.
”Ada apa?”
”Kemari lah!”
Syakila beranjak berdiri, ia berjalan mendekati Geo di ranjang.
”Ada apa?” tanyanya lagi.
”Berbaringlah di sini, di sebelahku.”
Syakila menggeleng, ”Tidak, aku tidak mau.”
Ia memutar badannya kembali. Geo menangkap tangannya, ia menarik tangan Syakila hingga badan Syakila terjatuh di atas tubuh Geo. Geo menahan tubuh Syakila.
”Lepaskan aku!” berontak Syakila.
”Tidak akan, kecuali, kamu setuju tidur di sampingku.”
”Tidak akan!” tolak Syakila.
”Baiklah, biar saja kita seperti ini.”
”Aku tidak nyaman, lepaskan aku!” Syakila kembali berontak. Namun, kekuatannya tidak seberapa dengan tekanan erat tangan Geo yang menahan tubuh Syakila di atas tubuhnya.
”Ku mohon, lepaskan aku!”
”Jika kamu setuju tidur di sampingku malam ini, aku akan lepas. Aku juga tidak akan apa-apain kamu dalam keterbatasan ku ini, lagi pula hanya untuk malam ini saja.”
”Baiklah, aku setuju, lepas kan aku!”
Geo melepaskan tubuh Syakila, Syakila berbaring di samping Geo dengan posisi membelakangi Geo. Geo memasukkan tangannya di bawah kepala Syakila dan membawa badan Syakila ke arahnya. Badan Syakila sangat dekat dengan tubuh Geo. Tangan Syakila berada di atas dada Geo, Syakila dapat merasakan getaran debaran jantung Geo.
”Geo, jangan begini! Jika seperti ini, aku akan kembali tidur di sofa.” Syakila berontak.
”Ssstst, jangan berisik! Biarkan malam ini kita seperti ini, aku tahu kamu sedang menangis. Menangis lah dalam pelukan ku! Aku hanya bisa meminjam kan dada ku untuk tempat mu bersandar sekarang.”
Syakila terdiam, ia tidak berontak lagi.
”Kak Sardin mengalami kecelakaan, sekarang dia lagi terbaring tidak sadarkan diri di ruangan UGD.” ucapnya sambil menangis.
”Aku yakin, dia tidak akan apa-apa. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak, istirahat lah! Besok kamu harus bangun pagi untuk berangkat ke sekolah untuk mengajar.”
__ADS_1
Syakila tidak berbicara lagi, ia memejamkan mata. Geo membelai lembut punggung dan kepala Syakila. Belaian Geo membuat Syakila nyaman dan tenang. Hingga Syakila tertidur dalam pelukan Geo.
Geo tersenyum senang mendengar dengkuran halus suara Syakila. Ia mencium pucuk kepala Syakila dan ia ikut terlelap dengan posisi masih memeluk Syakila.