Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 140


__ADS_3

Di kamar Syakila, kediaman Sarmi, kota S.


Drrrtttrt drrttrr


Tidur Syakila terganggu dengan bunyi nada dering handphonenya yang terus berbunyi. Perlahan ia membuka mata.


Ia terkejut mendapati dirinya yang sedang memeluk erat tubuh pria yang berbaring di sampingnya, yang berstatus suaminya itu.


Ia menarik tangannya dengan pelan dari perut Geo dan bangun. Ia duduk dengan pelan di atas ranjang, agar tidak membangunkan tidur pria itu. Bunyi handphone telah berhenti. Syakila menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Ia melirik suaminya yang masih tertidur.


Wajahnya sangat tampan, alisnya terlihat tegas, bulu matanya tebal dan sedikit panjang. Hidungnya begitu mancung, bibirnya terlihat seksi.


Tanpa sadar, tangannya terulur untuk menyentuh wajah tampan, putih mulus suaminya itu.


Trrtrtrrt trrtrtrrt kembali terdengar suara handphone berbunyi, menyadarkan Syakila dari pikirannya. Ia menghentikan tangannya yang hampir menyentuh wajah Geo.


Ia turun dari ranjang dengan pelan tanpa suara, ia berjalan ke arah handphonenya berada. Geo membuka matanya, mengintip Syakila yang berjalan membelakanginya.


Di saat handphone Syakila berbunyi, getar handphone Geo ikut bergetar. Ia mengambil handphonenya, menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke pipinya. Matanya terus melihat Syakila yang berjalan ke arah jendela.


”Halo kakak, ada apa?” sapa Syakila setelah menjawab panggilan masuk di handphonenya.


”Kila, kakak merindukan mu.” sahut si penelepon.


Kening Geo berkerut, ia cemburu mendengar percakapan Syakila dan Sardin, meski begitu, ia terus mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.


”Kakak, bukan kah semalam kita baru saling bicara? Aku mengenal kakak, sebaiknya kakak jujur saja, ada apa tiba-tiba menelfon? Apa yang sudah mengganggu pikiran kakak? Coba katakan padaku!”


”Hum, Kila memang sangat mengerti kakak. Memang pikiran kakak sedikit terganggu. Kila, apakah besok Kila akan datang menemani kakak?”


”Tentu saja, kak! Memangnya kenapa? Kakak berubah pikiran? Kakak tidak ingin Kila datang?”


”Bukan begitu Kila, kakak sangat senang jika Kila yang datang. Kakak cuma ingin memberi tahu mu, jika Kila datang besok, Kila jangan marah dan jangan tersinggung, juga Kila jangan cem....”


”Memangnya, ada apa kak? Apa ya...”


”Kila, Kila dengarkan kakak bicara! Jangan memotong pembicaraan kakak yang belum lengkap!” pangkas Sardin.


”Hum, iya, maaf, Kila salah. Kakak lanjut bicaranya.”


”Kila, besok, selain Kila... ada satu orang lagi yang akan datang untuk menemui kakak saat keluar dari rumah sakit. Dia seorang wanita, namanya Nita.”


Kening Syakila mengerut, namun, ia tidak ingin menyela ucapan Sardin, ia masih mendengarkan Sardin sampai ucapannya tuntas.


”Mama salah sangka antara hubunganku dengan Nita sewaktu sekolah dulu, mama mengira kami berdua pacaran. Tapi, kakak tidak pernah menganggap dia pacar kakak, dia menyukai kakak, tapi, kakak tidak. Kakak juga tidak dekat dengannya seperti dekatnya kakak ke Kila. Sekarang, dia kembali datang ke kota ini untuk mencari perhatian kakak lagi menggunakan mama, ia tahu kalau mama menyukainya dulu. Ja...”


”Kila mengerti, kakak tidak ingin Kila salah paham dengan kehadiran wanita itu di sana kan? Dan kakak juga tidak ingin Kila termakan dengan omongannya, jika dia bertemu dengan ku, ya kan kak? Kakak, Kila percaya dengan kakak. Kakak jangan khawatirkan itu, Kila tidak akan terpengaruh sama dia.” pangkas Syakila.


”Kila memang pintar sekali!” Sardin menghela nafas lega, ”Hah, hati kakak lega sekarang, setelah membicarakan ini dengan kila.”


”Terima kasih kakak sudah memberitahu Kila. Kakak selalu bisa menjaga perasaan Kila, Kila sangat menyayangi dan mencintai kakak.”


Sardin tersenyum senang, sementara Geo, pria itu di penuhi amarah cemburu. Ia sangat cemburu sekarang. Ia mematikan handphonenya tidak ingin mendengar kata manis dari dua insan itu lagi.


Ia kembali memejamkan matanya, memikirkan kembali pembicaraan Syakila dan Sardin.


Betapa besarnya cinta Syakila terhadap Sardin, begitu juga dengan pria itu. Mengapa dia tidak berhenti mencintai Syakila?! Ia tahu Syakila adalah istri ku. Tapi, aku juga tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya, karena Syakila, istriku sendiri ..dia...ah..huft...kepala ku jadi sakit memikirkan ini.


Geo menghela nafas sesak. Ia membuka mata, kembali melihat Syakila. Wanita itu masih berbicara via telfon dengan Sardin.


”Apa aku tidak bisa memiliki mu, Syakila? Apa kamu tidak bisa melupakan cinta pertama mu dan menjadi istri ku seutuhnya, tanpa bayang-bayang perjanjian kita?”


”Hah, ini salah ku juga, jika saja aku tidak membuat perjanjian konyol itu dengan Syakila...wanita itu tidak akan seperti ini. Aku sendiri yang membukakan jalan untuk dia kembali dengan kekasihnya.” Gumamnya pelan.


”Bodoh! Sial!” umpatnya, sambil menyapu wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Kening Syakila mengerut melihat Geo, ”Siapa yang bodoh dan yang sial itu?” tanyanya penasaran. Umpatan Geo terdengar olehnya yang berjalan ke arah Geo. Rupanya, ia telah selesai bicara dengan Sardin.


Geo membuka tangannya dari wajahnya, ia melihat Syakila, wanita itu sudah berada di pinggir ranjang sedang melihatnya dengan bingung.


”Eh, ehm, bukan siapa-siapa! Aku ingin ke toilet, tapi sialnya aku tidak bisa menggerakkan kakiku! Sungguh bodohnya aku! Tidak berguna sama sekali!” ia tertawa sinis, mengejek dirinya sendiri, pandangannya hampa melihat langit-langit kamar.


Syakila prihatin dengan perasaan Geo sekarang. Ia memegang wajah Geo, mengarahkan wajah pria itu menghadap dirinya, agar pria itu melihat wajahnya. Pandangan lembut kedua pasang mata mereka bertemu.


”Geo, jangan mengumpat diri sendiri, tidak baik! Kamu sangat berguna, dan kamu adalah orang tegar yang pernah ku temui. Meski kondisi mu seperti ini, kamu tetap aktif dalam beraktivitas. Aku suka semangat mu. Kamu ingin pergi ke kamar mandi? Biar ku bantu kamu ke sana.” ucapnya sambil tersenyum ramah.


Geo terharu dengan perkataan Syakila barusan, yang mencoba untuk menenangkan pikirannya. Ia mengangguk. Syakila membangunkan tubuh Geo dan memapah nya ke kursi roda, setelah itu, ia membawa Geo ke kamar mandi.


Syakila mendirikan tubuh Geo dan menahan tubuh Geo agar tidak terjatuh dari berdirinya. Geo membuka sendiri celananya dan ia buang air kecil, Syakila memalingkan wajahnya di belakang Geo. Setelah selesai, mereka berdua keluar dari kamar mandi.


Syakila terus mendorong kursi roda Geo hingga ke sofa. Syakila duduk di sofa berhadapan dengan Geo. Ia menatap Geo dengan lembut sambil memegang kedua tangannya.


”Geo, apa besok kamu bisa menemani ku pergi ke rumahnya teman ku?” tanyanya lembut.


Geo terdiam, Apakah aku, kamu jadikan sebagai tameng untuk mu menemui Sardin, besok?


”Hum, asal kamu tidak malu berjalan dengan pria yang duduk di kursi roda, seperti ku ini. Dan kamu juga tidak malu jika teman mu tahu aku, si pria berkursi roda ini adalah suami mu. Aku akan pergi menemani mu kemana pun kamu pergi.” jawabnya.


Syakila tersenyum, ”Kamu tenang saja, aku tidak akan malu bila berjalan dengan pria berkharisma seperti mu, meskipun kamu duduk di kursi roda. Teman ku juga sudah tahu, kamu itu suami ku, dan ia juga tahu, kamu duduk di kursi roda. Baiklah, besok pagi, kita akan pergi ke rumah teman ku setelah kita sarapan.”


”Hum. Syakila, bisakah kamu memasakkan aku sandwich? Aku ingin makan sandwich dan meminum jus jeruk. Aku sudah sangat lapar!”


Syakila mengangguk, ”Iya, aku akan buat kan untuk mu. Mau ikut ke dapur atau kamu tunggu aku bawakan di sini?”


”Ikut ke dapur.”


”Ok,”


Syakila berdiri, ia mendorong kursi roda Geo menuju dapur. Sesampainya di sana, Syakila langsung membuatkan sarapan siang keinginan Geo beserta minumannya, sedangkan Geo, pria itu menanti dengan patuh sarapan siangnya di meja makan.


Ia tersenyum, memperhatikan Syakila yang sedang serius membuatkan sarapan siang untuknya, wanita itu sangat cantik dan anggun di matanya. Ia semakin mencintai wanita yang ada di pandangan matanya itu. Wanita pertama yang mampu membuat hatinya bergetar di antara wanita yang ia pacari sebelumnya.


”Makanlah,”


”Kamu?”


”Aku akan membuat me untuk ku.” sahut Syakila sambil berjalan ke arah kompor gas. Ia menyalakan kembali apinya dan merebus air untuk memasak me.


Geo belum memakan sandwich nya, ia menunggu Syakila selesai memasak me baru ia akan makan bersama Syakila. Tidak cukup lama, me Syakila telah masak. Syakila mematikan kompor, mengangkat panci dan menuang me yang masih panas itu ke dalam mangkok dan membawanya ke meja makan. Ia duduk berhadapan dengan Geo.


”Loh, kenapa belum di makan, makanan mu? Tidak suka?” tanyanya, saat melihat sandwich ataupun jus jeruk Geo masih utuh, belum tersentuh.


”Aku suka, tapi, aku menunggu kamu dulu baru aku makan. Tidak enak makan sendirian, kecuali, tidak ada kamu disini.” sahut Geo.


Perasaan Syakila menghangat, Sejak kapan ya aku sama Geo bicara lugas begini? Sepertinya, hubungan kami berdua dan komunikasi kami membaik.


”Mengapa harus menunggu ku? Makanlah!” ucapnya, ia mulai memakan me nya.


Geo juga mulai memakan sandwich nya. Mereka makan dengan diam, sesekali mereka saling curi pandang. Mereka telah selesai makan. Syakila mengajak Geo pergi ke taman bunga yang ia tanam sendiri.


”Kemana semua orang? Sepertinya dari tadi aku tidak mendengar suara siapapun di rumah, selain kita berdua.” ucap Geo.


”Mungkin mereka sedang keluar, adikku yang lainnya mungkin sekarang ada di rumah om Johan.” sahut Syakila.


Tangannya sedang sibuk merapikan bunga-bunganya. Geo hanya memperhatikan wanita itu bekerja. Ia mendorong kursi rodanya ke arah bunga mawar merah.


Bunga ini mekarnya sangat cantik! Apakah akan terlihat cantik bila ku sisipkan di rambut Syakila? Menyatu dengan kulit putihnya yang mulus dan bersih itu.


Ia memetik bunga mawar itu dan mendorong kursi rodanya lagi menuju Syakila. Ia tepat berada di belakang gadis itu.


”Asya, coba lihat aku.”

__ADS_1


Syakila terkejut, sejak kapan Geo berada di belakangnya? Ia menoleh, melihat Geo. Di saat itu, Geo menyelipkan bunga mawar itu ke telinga kanan Syakila.


”Sangat cantik!” pujinya sambil tersenyum manis.


Wajah Syakila memerah atas perlakuan Geo. Pria itu ternyata romantis juga! Pikirnya.


”Ehm, Ge... Geo. A..apa yang kamu lakukan?” ucapnya gugup saat Geo mengapit dagunya.


Geo tidak menanggapi pertanyaan Syakila, wajahnya semakin ia dekatkan pada wajah Syakila, ia memandang lekat mata Syakila yang memandangnya. Perlahan mata Geo menurun di bibir Syakila, ia mencium bibir itu dengan lembut.


Deg deg deg, jantung mereka berdua berdebar seirama. Geo semakin memperdalam ciumannya ketika tidak ada penolakan dari sang empu bibir yang kini ia cium.


”Umh..” Syakila terbuai dengan ciuman lembut dan hangat yang di berikan Geo, perlahan, ia mengangkat tangannya, membawa ke leher belakang Geo. Tanpa ia sadari, ia membalas ciuman Geo.


Geo tersenyum senang di hatinya, ia tidak menduga, ciumannya kali ini di respon oleh Syakila. Ia melepaskan tangannya yang mengapit dagu Syakila, memindahkan tangan tersebut ke kepala belakang gadis itu, menahan kepalanya.


Ciuman mereka semakin dalam, semakin menuntut, ada sebuah rasa yang mengalir hangat di tubuh mereka berdua. Rasa yang ingin meminta lebih dari sekedar ciuman. Geo menghentikan ciumannya, ketika Syakila menarik pelan wajahnya.


Geo membuka mata, melihat wajah Syakila, wanita itu masih memejamkan matanya, nafasnya memburu seperti dirinya. Ia kembali mencium bibir lembut milik Syakila, namun, ciumannya tidak lama, ia berpindah ke leher Syakila, mendaratkan ciuman di sana, mengikuti keinginan hawa yang bersarang di hati dan pikirannya sekarang.


Syakila tersadar, satu kecupan tertanda di lehernya. ”Ge...Geo. Su..sudah! Ja..jangan!” ucapnya gugup, tangannya mendorong pelan badan Geo menjauh sedikit dari tubuhnya.


”I..ini...tidak boleh terjadi lagi!” ucapnya lagi sambil membelakangi Geo.


Geo tersenyum, Aku akan melakukannya lagi...dan lagi. Jika itu perlahan bisa membuat mu jatuh cinta padaku! Aku yakin, perlahan, kamu akan jatuh dalam perangkap cintaku, Asya.


”Maaf, aku terbawa suasana. Aku akan mengontrol emosi ku, agar tidak lepas kendali.” sahutnya kemudian.


”Ehm, kamu silahkan kembali fokus pada bunga mu, aku tidak akan menggangu mu.” ucapnya lagi.


Ia tahu, wanita itu masih merasa gugup. Ia juga tahu, jantung wanita itu masih berdebar kencang, karena jantungnya juga kini masih berdebar.


Syakila mengangguk, masih membelakangi Geo. Ia berpindah posisi, sedikit menjauh dari posisi Geo. Tangannya kembali menyentuh bunga-bunga, merapikannya, namun pikirannya sedang tidak fokus pada bunganya tersebut.


Bagaimana bisa aku membalas ciuman pria itu, aku...bahkan benar-benar menikmati ciuman nya. Bahkan...aku menginginkan lebih lagi dari sebuah ciuman. Tidak...aku...aku tidak boleh ada perasaan untuknya. Perasaan ku hanya untuk Sardin. Dia milik Dawiyah, aku milik Sardin. Di antara kami berdua tidak boleh ada perasaan cinta.


Ia menoleh, melihat Geo. Pria itu sedang serius melihat handphone.


Handphone? Sejak kapan dia memiliki handphone? Bahkan handphonenya merek terbaru yang terbatas. Yah, orang kaya, dua hari yang lalu hapenya rusak, sekarang sudah ada hape baru lagi.


Ia kembali melihat bunganya. Geo menelfon Beni menggunakan kartu lamanya. Dalam dua panggilan, telfonnya tersambung.


”Gege... bagaimana kabar mu? Kamu tahu, aku dan tante sangat khawatir padamu! Mengapa kamu baru menghubungi ku sekarang? Apa yang terjadi padamu? Mengapa kamu memanggil pelindung bayangan?”


Beni mencerca Geo saat mengangkat telfon pria itu. Ia tidak memberikan kesempatan Geo untuk berbicara sebelum ia mengeluarkan pertanyaan yang terpendam di hatinya.


”Beni, mengapa kali ini kamu sangat cerewet? Dan lagi, perhatikan panggilan mu! Jangan menyebutku dengan nama itu!”


”Aku mengangkat telfon mu bukan untuk mendengarkan ocehan mu, Geo! Katakan! Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” sahut Beni.


”Aku baik-baik saja, sekarang. Tidak perlu khawatir, aku hanya memberi sedikit pelajaran kepada tikus yang mencoba menggigit ku.” ucap Geo dengan datar.


”Tikus yang menggigit? Apa Antonio di sana?” rupanya Beni tahu siapa yang di maksud ”tikus yang menggigit”, yang di maksud Geo.


”Hum, apa kamu marah padaku! Dia adalah saudara mu.”


”Kamu bicara apa? Kamu juga saudara ku. Apa kamu benar-benar tidak apa-apa?” tanya Beni lagi memastikan.


”Hum, aku baik-baik saja! Tapi, aku tidak tahu bagaimana kondisi saudara mu itu. Aku meninggalkan dia di villa ku dalam keadaan pingsan.” ungkapnya.


Beni terdiam, Apa? Bagaimana keadaannya sekarang? Biar bagaimanapun, dia adalah saudara ku juga.


”Ehm, Geo. Aku ada urusan mendesak di kantor, nanti baru aku menghubungi mu lagi.” sahut Beni.


”Hum,” sahut Geo.

__ADS_1


Telfon terputus.


__ADS_2