
Siang ini Syakila tidak pergi ke kebun, ia sedang sibuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian kotor. Setelah selesai ia memasak mi instan untuk menutupi rasa laparnya.
Setelah selesai makan ia pergi ke halaman depan rumah, ia duduk di antara tanaman bunganya. Bunga mawar dan bunga matahari yang menjadi bunga favoritnya.
Ia duduk mengerjakan tugas sekolahnya di sana. Setelah selesai mengerjakan tugas sekolah, ia menata bunga-bunganya agar terlihat rapi. Dan ia membersihkan tanaman-tanaman kecil yang tumbuh di samping samping bunga.
Disaat Syakila sedang asyik dengan pekerjaannya, Sardin datang untuk menemuinya. Ia ikut duduk sejajar di belakang Syakila yang sedang duduk mencabut rumput-rumput kecil itu.
"Syakila," Sardin menyapa Syakila, agar Syakila tahu akan keberadaan dirinya disana. Syakila yang mendengar suara lelaki tepat di belakangnya ia terkejut.
Syakila menoleh ke belakang dan melihat Sardin yang sedang tersenyum padanya. "Eh kakak!" sahut Syakila. Ia menghentikan pekerjaannya. Ia duduk menghadap Sardin.
"Kakak sudah lama datangnya?" tanya Syakila.
"Tidak, kakak baru saja datang Kila." jawab Sardin.
Sardin merupakan kakak kelas dari Syakila. Usianya lebih tua dua tahun dari usia Syakila. Sardin tinggal di kampung sebelah tidak terlalu jauh dari kampung Syakila. Sardin dan Syakila mengikat satu janji untuk selalu bersama dan tidak berteman dekat dengan laki-laki lain atau cewek lain selain mereka berdua.
Sebenarnya Sardin lah yang mengikat janji seperti itu kepada Syakila. Meskipun mereka saling mengikat janji seperti itu, mereka bukanlah sepasang kekasih. Dan nama panggilan khusus untuk Syakila dari Sardin adalah Kila.
"Oh" sahut Syakila.
"Kila ada yang ingin kakak bicarakan sama kamu." ucap Sardin sedikit ragu.
Syakila mengernyitkan keningnya, "Ada apa kak?" Syakila bertanya dengan penasaran. Karena wajah Sardin terlihat sangat serius.
"Kila, lusa kakak akan berangkat ke kota S bersama mama dan papa juga adikku." uap Sardin dengan menunduk.
"Kakak perginya satu keluarga?" tanya Syakila memastikan.
Sardin mengangguk, "Iyah kami perginya sekeluarga, kakak pindah disana, jadi kakak tidak tinggal disini lagi. Papaku di pindah tugaskan di kota S, jadi kami sekeluarga akan tinggal disana.” jelas Sardin.
"Kakak tidak tinggal disini lagi? Lalu gimana dengan sekolah kakak?" Syakila bertanya dengan wajah bingungnya.
"Kakak pindah sekolah di kota tersebut, Kila! Papaku sudah mengurusnya." jelas Sardin lagi.
"Oh" jawab Syakila singkat.
Sardin menatap lekat mata Syakila. "Kila, meski kakak tidak ada disini, kakak minta pada Kila untuk tetap tidak berteman dekat dengan laki-laki lain seperti dekatnya Kila ke kakak, yah?" ucap Sardin.
Syakila kembali memandang Sardin dengan bingung.
"Kila bisa berjanji itu untuk kakak sekali lagi tidak? Sebelum kakak berangkat lusa?" tanya Sardin lagi.
__ADS_1
Syakila mengangguk, "Iya kakak, Kila berjanji tidak akan dekat dengan laki-laki lain, seperti Kila dekat sama kakak."
Sardin sangat bahagia mendengarnya, "Terima kasih, Kila. Seperti Kila yang sudah berjanji, kakak juga berjanji tidak akan dekat dengan cewek lain seperti kakak dekat dengan Kila."
"Kita berjanji?" ucap Sardin lagi sambil menaikkan jari kelingkingnya. Syakila juga ikut menaikkan jari kelingkingnya lalu mengaitkan di jari kelingking Sardin. "Iyah, kita berjanji!" ucap Syakila.
Setelah itu mereka tertawa kecil bersama, Sardin mengeluarkan kalung yang ia buat sendiri dari biji pandan di campur dengan manik berwarna hijau dari sakunya. Sardin menunjukkan kalung itu kepada Syakila.
Syakila mengambil kalung itu dan memperhatikan kalungnya dengan baik. "Kalungnya cantik, kak!" puji Syakila.
Sardin tersenyum, "Itu kakak buat sendiri loh! Kakak buatkan khusus untuk Kila. Kila suka gak?"
Syakila tersenyum memandang Sardin, "Oh yah! Wah kakak hebat ternyata! Benar kalung ini untuk Kila?" tanya Syakila memastikan.
"Iya, kalung itu dari kakak khusus untuk Kila." sahut Sardin. ”Gimana Kila suka tidak kalungnya?”
”Iya, kak Sardin, Kila menyukai kalung ini.” jawab Syakila masih memandang kalung itu.
Sardin mengambil kalung itu dari tangan Syakila. Lalu Ia memakaikan kalung itu di leher Syakila.
Sardin tersenyum. "Sangat cantik kalung ini berada di lehermu, Kila." puji Sardin.
Syakila tersenyum kecil, ia memegang kalung yang sudah bertengger di leher jenjangnya itu.
"Terima kasih kakak, kakak sudah membuatkan Kila kalung yang indah, dan kakak juga yang memakaikannya pada Kila."
"Kila, kakak pergi dulu, sudah agak lama kakak berada disini. Kila jaga diri yah? Dan ingat dengan janji kita." kata Sardin lagi mengingatkan Syakila.
"Iya kakak." sahut Syakila.
"Dan ingat, jangan lepas kalung itu dari lehermu, hanya kakak yang boleh melepasnya nanti." ucap Sardin lagi.
"Iyah, kakakku yang bawel!" ucap Syakila yang gemas sambil mengacak-acak rambut Sardin. Sardin membalas Syakila dengan mencubit dagu Syakila.
Itu memang kebiasaan yang sering mereka lakukan, jika Syakila mencubit dagu Sardin, maka Sardin membalasnya dengan mengacak rambut Syakila.
Iyah selama mereka mengikat perjanjian itu memang Sardin tidak pernah memperbolehkan teman ceweknya untuk menyentuh ataupun terlalu dekat dengan dirinya. Kecuali Syakila.
"Ya udah kakak pulang dulu." pamit Sardin lagi sambil berdiri dari duduknya.
Syakila juga ikut berdiri. "Iyah, kakak hati hati, yah! Kakak, sampai disana jaga diri kakak dan jangan lupakan Syakila yang disini, yah kak!" ucap Syakila.
Sardin mengangguk. Setelahnya ia pergi tanpa menengok kebelakang lagi. Dan Syakila, ia kembali melanjutkan mencabut rumput.
__ADS_1
... ..
Halim sekarang sedang mengantri untuk mendapatkan makanan dan minuman untuk makan siangnya.
Halima yang juga sedang mengantri ia tidak sengaja melihat Halim, ia segera keluar dari barisan antriannya dan berjalan menuju Halim.
Halima berdiri tepat di samping Halim dan ia sengaja merapatkan diri kepada Halim sehingga buah dadanya menyentuh siku Halim.
Halim reflek menjauhkan tangan dan dirinya dari Halima. Halima yang mendapat perlakuan seperti itu dari Halim, ia semakin penasaran dengan sosok Halim.
Jika itu pria lain pasti tidak akan menjauh seperti dia ini, dia membuatku semakin penasaran. Halim aku ingin melihat sejauh mana kamu mampu bertahan dari rayuan ku.
batin Halima.
Halim telah mengambil makanan dan minumannya ia langsung pergi tidak memperdulikan Halima yang masih menatapnya penuh arti.
Oh Sarmi godaan setelah jauh darimu sangat besar. Ini baru di awal perjalanan ku, bagaimana jika sudah sampai di kota A. Apakah godaan nya lebih parah lagi dari ini atau tidak? Aku tidak tahu. Ya Allah lindungilah hamba mu ini dari setiap perbuatan yang akan merugikan ku kedepannya. Aamiin.
batin Halim
Ketika Halim menuruni anak tangga ia bisa melihat pantulan diri Halima yang mengikuti dirinya agak jauh dari belakang. Akhirnya Halim memutar arah dari arah yang semestinya, untuk mengelabui Halima. Halim mempercepat langkahnya dan pergi ke perkumpulan orang banyak. Disana lah ia bisa menghindar dari pandangan Halima, dan kembali ke tempatnya tanpa di ketahui oleh Halima.
Aku kehilangan jejaknya lagi! Di lantai berapa sebenarnya dia berada, yah? Tadi pagi kulihat dia di lantai 4, ia duduk dengan seorang perempuan yang ku kira itu istrinya. Dan sekarang ku ikuti dia, dia menghilang di dek 5, apa benar dia sudah menikah? Aku penasaran dengannya, semoga aku bisa bertemu lagi dengannya.
batin Halima
Halim merasa lega setelah ia sampai di tempatnya, ia sungguh tidak menduga jika dia akan bertemu dengan wanita seperti itu.
"Aku sudah seperti seorang buronan, selalu sembunyi dan berlari jika sudah bertemu dengan Halima."
Halim berdecak, "Apa dia tidak bisa kalau tidak menggangu ku."
Gumaman Halim terdengar oleh teman di sebelahnya. Temannya menatap bingung kepada Halim, Ia bertanya pada Halim setelah Halim kembali duduk di tempatnya. "Kamu kenapa Halim?"
Halim membuang kasar nafasnya. "Itu, cewe tadi pagi yang ku ceritakan padamu, tidak sengaja tadi bertemu lagi, tapi ia semakin agresif.” ucap Halim dengan ekspresi jijik.
Temannya jadi mengerti kenapa Halim bergumam seperti itu. "Oh, si Halima? Gimana dia gak tertarik dengan kamu, kamu ganteng begini. Siapa sih yang gak terpesona dengan tampang mu ini." ucapnya sambil menunjuk diri Halim. "Apa dia cantik?" tanyanya penasaran.
"Lebih cantik istriku, dia cantik alami tanpa polesan make up di wajahnya juga tanpa lipstik yang menghiasi bibirnya." ucap Halim sambil tersenyum membayangkan wajah cantik alami dari Sarmi, istrinya itu.
"Oh yah?" tanya dia lagi. Halim mengangguk. Ia mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan foto Sarmi yang tersimpan di dompetnya kepada temannya itu. "Lihatlah!" ucap Halim menyodorkan foto Sarmi kepada temannya.
Temannya mengambil dan melihatnya, ia terdiam sambil memandang foto tersebut. Dia mengenali wanita yang ada di foto itu dengan jelas.
__ADS_1
Oh Sarmi ternyata kamu sudah menikah. Padahal aku berniat untuk mencari mu setelah selesai lebaran ini. Selamat untuk kamu Sarmi, suamimu ini dia sangat sayang dan setia padamu. Cintanya lebih besar dari rasa cintaku padamu, Sarmi. Kamu harus bersyukur memiliki suami seperti dia
batin teman Halim.