Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 220


__ADS_3

Malam hari di kediaman Sarmi.


Sesuai dengan perkataan Alimin, Alimin dan Nesa berkunjung ke rumah Sarmi. Mereka sedang berbicara serius. Selain Sarmi, di sana juga ada Johan, Biah, dan Hardin. Juga sekretaris Sardin.


”Jadi, maksudnya ini..bagaimana?” Johan menutup kembali map yang ada di tangannya.


”Bukan kah, sudah jelas tertulis di situ, Johan?” Alimin bertanya balik.


”Apa isi dari map itu, Johan?” Sarmi sangat penasaran. Dia meraih map yang ada di tangan Johan.


Semenjak tadi, map itu di pegang oleh Johan dan membacanya hingga habis. Tetapi, masa ia Johan yang sangat pintar itu tidak dapat memahami isi dari map itu?


Sarmi membuka dan membacanya. Keningnya berubah mengerut, melihat Nesa dan Alimin. Dia membalik halaman berikutnya. Kini dia terkejut, tangannya menutup mulutnya. Dia tidak melanjutkan membaca lembaran yang lain.


”Ini...ini...bagaimana bisa, Nesa? Alimin?” tanya Sarmi.


”Maaf, Sarmi. Kami juga tidak tahu, kami baru tahu tadi pagi, di beritahu oleh sekretaris dari almarhum. Hanya saja, jika ingin membahasnya langsung pagi tadi, waktunya kurang tepat. Dan Hardin juga sedang tidak ada.” jelas Alimin.


”Benar, ibu Sarmi. Ibu Nesa dan Pak Alimin tidak mengetahui tentang hal ini sebelumnya. Almarhum sendiri yang merencanakan ini.” sambung sekretaris Sardin, menjelaskan pada Sarmi.


”Tuan Hardin pernah datang berkunjung ke mitra tv bersama almarhum. Tuan Hardin, saat itu sangat mengagumi bakat dan kemampuan yang di miliki oleh almarhum. Tuan juga punya keinginan untuk membangun usahanya sendiri. Dan di saat almarhum sudah lemah, almarhum menyuruh saya untuk membuat surat pengalihan kepemimpinannya kepada Tuan Hardin. Beliau melihat Tuan Hardin punya bakat dalam membangun usahanya. Untuk itu, almarhum sangat mempercayai Tuan Hardin. Maka, saya mohon pada ibu Sarmi untuk mengizinkan Hardin mengambil tanggung jawab yang di berikan sama almarhum. ” ungkap sang sekretaris.


Sarmi, Johan, Biah terdiam.


Hardin terkejut. Dia memang pernah berkunjung ke mitra tv bersama Sardin dulu. Dia dan Sardin bercerita banyak mengenai pengelolaan mitra tv. Dia juga sangat mengagumi Sardin. Dan dia juga mengungkapkan keinginannya untuk memiliki usaha sendiri. Tapi, dia tidak menyangka jika Sardin akan menyerahkan usahanya padanya.


”Bagaimana ibu Sarmi? Kami sangat membutuhkan seorang pemimpin di mitra tv.” sang sekretaris kembali berucap.


Sarmi melihat Johan. Johan tidak memberikan tanggapan apapun.


Dia melihat anaknya, Hardin. ”Bagaimana dengan kamu Nak? Apa kamu bisa mengemban tanggung jawab sebesar itu? Kamu bahkan belum memiliki pengalaman untuk terjun ke situ.”


”Jangan khawatir Sarmi, aku akan mendidik Hardin.” tukas Alimin.


”Benar, ibu Sarmi. Saya sendiri akan mendampingi Tuan Hardin.” sambung sang sekretaris.


Sarmi menjadi bimbang. Dia kembali melihat anaknya yang terdiam itu. ”Mama tidak akan melarang kamu, keputusan ada di tangan mu sendiri. Mama hanya ingatkan, pertanggung jawaban mu sangat besar. Jadi, jika kamu mampu mengemban tanggung jawab tersebut, maka ambillah kesempatanmu.” nasehatnya.


Johan dan Biah mengangguk setuju dengan ucapan Sarmi.


”Bagaimana, Nak Hardin? Kamu bersedia?” tanya Alimin dan Nesa.


”Bagaimana Tuan Hardin? Tuan bersedia menjadi pemimpin kami, di mitra tv?” sambung sang sekretaris bertanya.


”Bismillah, saya bersedia.” jawab Hardin dengan yakin.


Senyum tawa bahagia terpancar di sudut bibir Alimin, Nesa, dan sang sekretaris.


Nesa dan Alimin memang setuju pada keinginan Sardin untuk memberikan usahanya pada Hardin. Hardin mempunyai tanggung jawab yang bisa dia pertanggung jawaban seperti almarhum ayahnya, Halim.


”Tapi, setelah selesai hari ke empat puluhnya almarhum, baru saya akan pergi memimpin.” lanjut Hardin berkata.


”Baik, tidak apa-apa, Tuan. Kami akan menunggu kedatangan Tuan di perusahaan. Saya akan menyiapkan segalanya untuk Tuan.” tutur sang sekretaris.


Hardin mengangguk.


”Baiklah, urusan saya sudah selesai. Saya pamit undur diri.”


”Iya.” sahut semuanya.


Sang sekretaris pun keluar dari rumah Sarmi.


”Sarmi, boleh kah aku mengangkat Hardin sebagai anakku? Aku tidak akan membatasi kemauan dan kebebasannya. Dia bebas untuk pulang pergi menginap di rumah mu dan di rumah ku. Aku akan menjaga Hardin seperti anakku sendiri.” ucap Nesa.


Hardin, Johan, Biah, bahkan Sarmi sendiri terkejut dengan permintaan Nesa. Mereka semua saling pandang.


Apakah Sarmi akan mengizinkan anak lelaki satu-satunya itu untuk menjadi anak angkat dari Nesa dan Alimin? Dia bingung untuk menjawabnya.


Di lain sisi dia tahu Nesa dan Alimin pasti kesepian setelah meninggalnya Sardin. Dengan hadirnya Hardin, mungkin mereka tidak akan terlalu merasa kehilangan. Wajah Hardin dan Sardin memang hampir mirip. Yang membedakan hanyalah warna kulit mereka yang berbeda. Sardin berkulit putih dan Hardin sedikit gelap. Tinggi Hardin hanya 168 cm, sedangkan Sardin tingginya 173cm. Dan belahan rambut mereka juga berbeda. Belahan rambut Hardin berbelah tengah sementara Sardin belah kiri.


”Bagaimana Sarmi? Apakah kamu setuju?” Nesa bertanya kembali.


Sarmi menatap Johan dan Biah. Mereka mengedipkan kedua matanya dan sedikit mengangguk.


”Bagaimana Sarmi?” Nesa kembali bertanya.


Sarmi melihat Hardin. ”Bagaimana dengan mu, Nak? Apa tanggapan mu?” tanyanya pada Hardin.

__ADS_1


”Jika Mama mengizinkan, mulai malam ini Hardin akan memanggil mereka dengan sebutan Mama dan Papa.” jawab Hardin.


Nesa berdiri dan memeluk Hardin. ”Terima kasih, Nak.” suaranya terdengar serak, dia menangis.


”Sama-sama, Mama.” jawab Hardin.


”Terima kasih, Sarmi, Johan, Biah.” ucap Nesa tulus.


Sarmi, Biah, dan Johan mengangguk. Mata Sarmi berkaca-kaca. Mungkin dia mengerti dengan perasaan Nesa saat ini yang membuat dia berkaca-kaca.


Nesa kembali duduk di kursinya. ”Oh, iya. Bagaimana kondisi Syakila? Apa kalian sudah pergi melihatnya?” tanyanya.


”Belum tahu. Sampai sekarang kami masih memikirkan mereka. Nomor Geo dan Rivaldi sama-sama tidak aktif, saat di hubungi.” jawab Sarmi, wajahnya berubah sedih.


Mereka semua terdiam memikirkan Syakila.


.. ...


Di rumah sakit.


”Geo, bangun.” Rivaldi membangunkan Geo.


Perlahan mata Geo terbuka. ”Rivaldi? Ada apa?” dia bangun dan duduk. ”Apa Syakila sudah sadar?” tanyanya.


”Belum, tunggu dua, tiga jam lagi. Aku bangunkan kamu, karena aku ingin pulang.”


”Oh, iya. Terima kasih, sudah memberikan aku waktu istirahat. Pulanglah, hati-hati di jalan.” ucap Geo.


”Iya. Kamu tidak menitip apa-apa padaku? Pakaian atau makanan gitu, jika aku kembali ke sini?”


”Tidak, terima kasih. Oh, iya, handphone ku di mana?”


”Oh, aku akan ambilkan dulu. Aku mencharger nya di ruang kerjaku.” Rivaldi bergegas keluar dari ruangan rawat Syakila. Dia pergi ke ruangannya. Dia mencabut hape milik Geo, sekaligus dengan hapenya.


Dia kembali ke ruangan rawat Syakila. Dia memberikan hapenya Geo pada pemiliknya sendiri. ”Ini handphone mu, baterei nya hanya mengisi sebanyak delapan puluh lima persen saja.” ungkapnya.


”Tidak apa-apa. Terima kasih.”


”Ok, aku pergi dulu.” pamit Rivaldi. Dia keluar lagi dari ruangan Syakila.


”Halo, Tuan.” sapa anak buah Geo.


”Hum. Pergilah ke rumahnya mama mantuku, ambilkan pakaian ku, dan belikan aku makanan dan minuman untukku.” titah Geo.


”Baik, Tuan.” jawab sang anak buah.


”Hum. Cepat! Bawa dengan handuk dan perlengkapan mandinya Syakila.”


”Baik, Tuan!”


Tut tut tut! Geo mematikan sambungan telfonnya. Dia mencubit pangkal hidungnya.


Dia berdiri dan pergi ke ranjang Syakila. Dia duduk di sana.


Di tatapnya wajah yang tidur itu. ”Kila, bisakah aku menyadarkan mu?” di belainya wajah Syakila. ”Aku mohon, bangunlah sayang. Ayo bangun.”


Dipegangnya tangannya Syakila, di ciumnya. ”Sayang, apa yang harus aku lakukan, supaya kamu sadar? Hum? Sardin juga tidak melakukan apapun saat menyadarkan mu. Dia hanya memegang tangan mu seperti ini. Dia juga mencium tangan mu seperti ini, dan bersuara padamu. Kamu langsung bangun. Aku melakukan hal yang sama, apakah kamu mau bangun?”


Dia kembali terdiam melihat wajah Syakila


.. ...


Di kediaman Sarmi.


Tok tok tok! ”Permisi, saya adalah anak buah dari tuan Geo. Saya kesini karena arahan tuan untuk mengambil pakaian, handuk, dan perlengkapan mandinya tuan.” ucap anak buah Geo dari depan pintu rumah yang terbuka.


”Oh, mari masuk, duduklah dulu. Aku akan ambilkan untuk mu.” sahut Sarmi.


Anak buah Geo melangkah masuk dan duduk di samping Hardin.


Sarmi pergi ke kamar Syakila dan mengambilkan pakaian Geo, Handuk, dan perlengkapan mandi Geo. Dia memasukannya ke dalam tas kecil. Kemudian, dia kembali ke depan dengan menenteng tas tersebut.


”Kamu ingin pergi ke rumah sakit?” Sarmi memberikan tas itu kepada anak buah Geo.


”Iya.”


”Kalau begitu, tunggu, aku ikut.” Sarmi berdiri dan pergi ke kamarnya. Dia mengambil tas dan kembali ke depan.

__ADS_1


”Aku juga ikut.” ucap Nesa dan Alimin.


”Mama, ingin ikut? Jika Mama ingin jenguk Syakila, ikutlah bersama Sarmi. Aku akan di sini menjaga anak-anak.” ucap Johan.


”Mama di sini saja menemani Papa menjaga anak-anak.” jawab Biah.


”Terima kasih, Biah, Johan, aku titip anak-anak. Aku pergi dulu.” Sarmi berdiri.


Nesa, Alimin, anak buah Geo ikut berdiri.


”Iya, kalian berhati-hatilah.” ucap Johan dan Biah.


Mereka semua bergegas keluar dari rumah. Sarmi ikut bersama anak buah Geo. Sementara Nesa dan Alimin menggunakan mobil mereka sendiri.


Mereka pun pergi ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, mobil anak buah Geo berhenti di pinggir jalan, tepat di sebuah restoran. ”Maaf, Nyonya. Saya turun sebentar membelikan tuan Geo makanan.” dia langsung turun dari mobil setelah melihat anggukan Sarmi.


Mobil Nesa dan Alimin juga berhenti di belakang mobil anak buah Geo. Tanpa bertanya lagi, mereka tahu mengapa anak buah Geo berhenti di depan restoran. Apalagi, dia melihat anak buah Geo telah masuk ke dalam restoran tersebut.


Tidak lama kemudian, anak buah Geo keluar dari restoran dengan membawa bungkusan makanan dan minuman di tangannya. Dia kembali masuk ke dalam mobil. Dan mulai menjalankan mobilnya.


Nesa dan Alimin kembali mengikuti arah mobil di depannya. Beberapa menit berlalu, kini mereka telah sampai di rumah sakit. Mobil terparkir di halaman parkir rumah sakit.


Mereka semua turun dari mobil. Sarmi memegang bungkusan makanan Geo dan sang anak buah memegang tas pakaian Geo. Mereka masuk ke dalam rumah sakit.


”Maaf, jam untuk membesuk pasien telah berakhir.” cegah satpam di rumah sakit itu dari pintu keluar masuk rumah sakit. ”Selain para dokter, di larang untuk masuk.”


”Bagaimana ini? Kita sudah sampai di sini. Masa mau pulang begitu saja!” keluh Nesa.


”Peraturan tetap peraturan, Mah.” sahut Alimi.


”Apa kami benar-benar gak bisa masuk, meski sebentar saja? Kami datang untuk membawa makanan, minuman, dan pakaian ganti anak kami.” ucap Sarmi, memelas.


”Maaf, tidak bisa, Ibu. Jika makanan, minuman, dan tas pakaian, serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya pada mereka. Di kamar berapa, lantai berapa dan atas nama siapa pasiennya?” tanya satpam tersebut.


”Saya ingin masuk membawanya sendiri.” ucap anak buah Geo dengan tegas, tatapannya tajam melihat satpam.


”Ma...maaf, ti...tidak bisa...Pak.” sahut satpam dengan gugup.


”Baik, bersiaplah Anda di pecat malam ini juga.” ancam anak buah Geo. Dia meraih hape dan menghubungi seseorang.


Satpam tersebut terkejut, sekaligus ketakutan. Apakah ucapan manusia biasa ini benar?


Nesa, Alimin, dan Sarmi juga terkejut. Sikap anak buah Geo kurang lebih sama dengan sikap Geo.


”Hus, jangan mengancam pekerjaan orang begitu sembarangan.” tegur Sarmi.


”Maaf, Nyonya. Saya tidak mengancam dan saya tidak main-main. Jika dia bersikeras menahan kita di sini, dia akan benar-benar kehilangan pekerjaannya, setelah nomor yang saya hubungi ini tersambung.” papar anak buah Geo.


Sang satpam menelan Saliva nya dengan kasar.


Sarmi, Nesa, dan Alimin kembali terkejut.


Telfon sang anak buah Geo tersambung.


”Didik dengan baik satpam yang bernama Dion. Mulai malam ini...dia tidak boleh bekerja di rumah sakit ini lagi.” titah sang anak buah pada seseorang di sebrang sana.


”Tapi...apa salahnya?”


Sang satpam, Sarmi, Biah, dan Alimin, tambah terkejut mendengar sahutan si penelpon tersebut.


Anak buah Geo sengaja me loudspaker suara di hapenya agar satpam tersebut ikut mendengarkan.


”Dia mencegah Nyonya masuk ke dalam rumah sakit. Saya bisa saja menerobos masuk ke dalam, tapi, aku masih menghargai mu. Aku sangat tidak suka di halang-halangi. Jadi, pecat dia.” jelas anak buah Geo.


”Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, mari silahkan masuk. Saya mohon maaf, saya salah. Tapi, jangan pecat saya, ku mohon saya baru bekerja satu Minggu yang lalu, masa harus di pecat secepat ini! Jangan, dong! Kasihanilah saya.” satpam tersebut memelas.


”Tuh kan, dia sudah mengaku salah dan meminta maaf, maafkanlah dia. Berikan kesempatan untuknya. Lagi pula, dia menjalankan tugasnya dengan baik.”


”Jadi, menurutmu kami yang tidak baik?” anak buah Geo bernada kesal dan marah.


”Hah! Pemarah sekali kamu ini. Bukan itu maksud aku...sudahlah...kalian masuklah ke dalam. Sa....”


Anak buah Geo langsung mematikan sambungan telfonnya. ”Ingat, kesempatan mu hanya sekali. Awas!” dia menggeser badan satpam dan masuk ke dalam rumah sakit.


Sarmi, Biah, dan Alimin ikut masuk ke dalam rumah sakit, mengikuti langkah anak buah Geo.


Sang satpam geleng-geleng kepala melihat punggung kekar anak buah Geo. ”Gila! Siapa sih dia? Sampai-sampai si pemilik rumah sakit saja menuruti ucapannya. Pakaiannya seperti pakaian biasa, memanggil wanita yang berbaju merah dengan sebutan Nyonya. Bukankah dia hanya seorang anak buah? Apa dia begitu mengerikan makanya tuan Rivaldi mengikuti ucapannya?” gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2