
Di Villa, tempat sembunyi Antonio.
”Kurang ajar!! Dari siapa polisi tahu aku ada di sini?” Antonio sangat marah. Ia sedang berada di kamar Vian. ”Laci yang mana yang paman maksud? Lacinya ada enam begini, sudah tiga laci yang ku buka tapi tidak ada terlihat handphone dan kartu atm milik paman.”
Ia pergi membuka laci yang paling ujung, di dekat lemari pakaian. Dia melihat handphone biasa ukuran kecil berwarna biru dan ada kartu atm di bawah hape tersebut.
Ia mengambil dua barang itu dan menutup kembali lacinya. Ia pun keluar dari kamar dan mengunci pintunya dan menggantungnya kembali di paku, di dekat pintu tersebut.
Ia pergi ke depan, mengambil dan memakai topinya. Hape dan kartu atm ia simpan ke dalam saku celana.
Ia pergi ke depan. Tangannya memegang handle pintu.
Aku lewat pintu belakang saja. benaknya.
Ia mengunci kembali pintu rumah dan memutar badan, berjalan ke belakang rumah.
Ia keluar dari pintu belakang, lewat dapur. Ia mengunci pintu dan pergi dari sana. Ia berjalan melewati jalan kecil, melewati di belakang villa-villa yang berdiri di sana.
Ketika hampir sampai di jalan besar, ia bersembunyi di balik pohon besar yang rindang, saat melihat dua buah mobil polisi masuk ke area villa.
Untung saja paman memberitahu ku sebelumnya. Jika tidak, habislah aku! benaknya.
Ia tetap bersembunyi di balik pohon besar itu sampai mobil polisi tidak terlihat lagi. Mobil polisi telah berlalu.
Ia bergegas pergi, tapi, tidak melewati jalan besar. Ia pergi melewati jalan-jalan kecil. Ia tidak ingin mengambil jalan besar, jangan sampai di jalan besar sana masih ada beberapa buah mobil polisi yang menunggu.
Ia terus berjalan di rerumputan yang tinggi dan banyak.
Ini semua gara-gara Dawiyah! Sialan!! Kalau saja dia tidak cari hal dengan ku, aku tidak akan kehilangan kendali dan berakhir seperti ini!! benaknya.
.. ...
Sementara di depan villa. (tempat persembunyian Antonio)
Mobil polisi berhenti di depan villa-villa yang ada di bukit itu. Semua polisi turun dari mobil. Kedatangan polisi mencuri perhatian warga yang menginap dan berbulan madu di sana. Semua warga keluar dari dalam villa nya.
Polisi memperhatikan warga yang berdiri di depan villanya masing-masing. Siapakah yang pak polisi cari sampai kesini? Pertanyaan yang terpatri dalam pikiran warga setempat.
”Hanya ada satu buah rumah yang tidak membuka pintu rumahnya, Pak.” ucap salah satu anak bawahannya.
”Coba ketuk!” titah Wandi.
”Siap, Pak!” ia berjalan mendekati villa tersebut.
Wandi berjalan mendekati kerumunan warga tersebut. ”Siapakah pemilik villa itu?” tanyanya. Pandangannya melihat villa tersebut. Anak buahnya sedang mengetuk pintu villa itu.
”Oh, itu! Kalau tidak salah... villa itu milik dari almarhum Kevin. Sebelumnya, yang menghuninya adalah Vian. Tetapi, villa itu sudah kosong beberapa bulan yang lalu, setelah Vian, saudara dari Kevin itu pindah.” jawab salah satu dari warga.
”Apakah kalian ada melihat seseorang yang datang ke sini sekitar satu Minggu yang lalu?” tanya Wandi lagi.
”Tidak ada, Pak!” jawab salah satu warga.
”Tapi, beberapa hari yang lalu, aku sempat melihat ada lampu kamar yang menyala dari villa itu, Pak.” ucap salah satu warga lagi.
Itu artinya, dia datang bersembunyi di sini. benak Wandi.
”Lapor, Pak! Sepertinya, rumah ini kosong, semenjak tadi, tidak ada yang menyahuti ataupun membukakan pintu rumah, Pak!” lapor anak buahnya tersebut, yang di tugaskan mengetuk pintu.
”Dobrak pintunya!” titah Wandi.
”Siap, Pak!” anak buahnya itu kembali lagi ke rumah itu. Wandi menyusulnya.
Satu kali dobrakan pintu masih belum terbuka. Dua kali tendangan, pintu rumah itu belum menandakan pintu akan terbuka.
”Minggir!” Wandi menyuruh anak buahnya bergeser dari depan pintu. Anak buahnya bergeser. Dengan sekuat tenaga, Wandi mendobrak pintu itu. Dua kali dobrakan, pintu pun terbuka. ”Masuk! Cari dia di seluruh ruangan rumah ini!” titahnya.
”Siap, Pak!” seru semua anak buahnya. Mereka pun masuk dan memeriksa villa itu dengan teliti.
Wandi sendiri masuk dan berjalan memeriksa jendela-jendela villa itu, hingga ke dapur. Semua jendela tertutup rapat.
Namun, ia melihat jejak sepatu di lantai dapur. Ia berjongkok melihat jejak itu. Jejak sepatu yang mengarah ke pintu. ”Sepertinya dia sudah pergi dari villa ini. Dari jejak sepatu ini...dia pergi belum lama..baru sekitar lima belas hingga dua puluh menit yang lalu.” gumamnya.
Ia berdiri dan membuka pintu dapur. Pintu terkunci. Ia membuka paksa pintu tersebut.
Ia kembali melihat jejak injakan di tanah yang sedikit basah itu. ”Dia kabur lewat pintu ini!” ia turun ke bawah dan melihat ada jalan kecil di sana.
”Lapor, Pak! Kami tidak menemukan tersangka di rumah ini.” ucap salah satu anak buahnya.
”Tutup pintu rumahnya. Kamu... panggil sekitar lima orang bersama mu, ikuti aku. Yang lainnya, kembalilah!” titah Wandi.
”Siap, Pak!”
Wandi dan enam orang lainnya menelusuri jalan kecil itu. Sementara yang lain, pulang kembali ke kantor polisi.
”Lihat jejak kakinya, ikuti jejak kaki itu.” titah Wandi.
”Siap, Pak!”
Mereka mengikuti jejak langkah kaki Antonio, di jalan kecil itu.
.. ..
Jalan kecil pelarian Antonio.
Sementara itu, Antonio masih berjalan di rerumputan itu. Ia sedang mencari jalan keluar dari luasnya rerumputan yang ia masuki, untuk menghindari polisi yang sengaja nongkrong di jalan besar.
”Kemana jalan keluarnya!?” ia mendengus kesal.
Drrtrt! Ia meraih hape kecil yang ada di sakunya dan mengangkat telfonnya.
”Kamu di mana? Paman sudah mengirimkan uang untuk mu. Jika ada kesempatan, lari lah keluar kota.” ucap si penelepon.
__ADS_1
”Sekarang aku berada di rerumputan. Tebakan Paman tepat sekali, untung saja Antonio sudah keluar dari villa. Jika tidak, mungkin sekarang Antonio berada do penjara.” ungkap Antonio.
”Cepat juga gerakan mereka! Kamu keluarlah dari sana...kamu jalan terus...kamu akan melihat ada tiga jalan kecil setelah melewati rerumputan itu. Buatlah jejak kaki di ketiga jalan itu...baru kamu lewat di jalan yang ke tiga, di sebelah kanan. Ingat, jangan injak di tengah jalan kecil itu..kamu injak saja rerumputan kecil di sampingnya.”
”Baik, Paman. Terima kasih, Antonio matikan sambungannya.” tut tut tut! Antonio langsung memutuskan sambungan, tanpa menunggu sahutan Vian.
Ia melihat ke belakang. Hening! Sunyi! Suasana yang di hadapi Antonio sekarang. Ia menghela nafas dan berjalan dengan cepat. Ia telah melewati rerumputan yang luas itu.
Benar, seperti ucapan Vian, ia melihat ada tiga jalan kecil di depannya. Sesuai dengan petunjuk Vian, ia pun membuat jejak kaki di ketiga jalan itu...lalu, ia berjalan di jalan yang ketiga.
”Entah! Jalan ini akan membawaku kemana! Jalan saja terus. Semoga tidak kesasar dan menemukan jalan besar.” gumamnya.
Ia terus berjalan, terik panas matahari tidak ia rasakan. Meskipun haus dan lapar, ia tahan semuanya. Yang terpenting adalah, ia bisa keluar dari sana, dan aman dari kejaran polisi.
Handphone nya kembali berbunyi. Rupanya, itu adalah pamannya. Ia mengangkatnya.
”Iya, Paman?”
”Sudah keluar dari rerumputan itu?” tanya Vian.
”Sekarang Antonio sudah berjalan di jalan ketiga sebelah kanan, sesuai ucapan Paman.” ungkap Antonio.
”Hum...kamu jalan terus! Setelah kamu keluar dari sana, akan ada seseorang yang menjemput mu di ujung jalan itu.”
”Ok, Paman!” tut tut tut! Vian memutuskan sambungan.
Antonio kembali menyimpan hape ke saku dan meneruskan jalannya.
.. ..
Di sisi lain. (pengejaran Antonio)
Anak buah Wandi berhenti di depan rerumputan yang luas.
”Pak, jejak kaki terputus di sini!” ucap bawahan Wandi. Ia melihat rerumputan yang cukup luas. ”Apakah pelaku berjalan di hamparan rerumputan ini?”
Wandi melihat ke tanah. Jejak kaki Antonio berhenti di sana. Ia melihat rerumputan itu. Tidak ada seorang pun di tengah-tengah rerumputan yang luas itu.
Jejak kaki tidak akan kelihatan jika ia melewati rerumputan ini. Tapi, di mana akhir dari rerumputan yang luas ini. benak Wandi.
”Lanjut!” titah Wandi.
”Siap, Pak!”
Mereka pun melanjutkan jalannya. Semakin jauh mereka berjalan, mereka telah berada di tengah-tengah hamparan rerumputan itu.
Siapa yang memberitahu Antonio jika kami akan menyergap nya di villa? Apakah Beni? Tapi...tidak mungkin! Jika memang Beni ingin melindungi kakak tirinya itu, ia tidak akan memberi tahu lokasi villa padaku. Apakah Vian yang memberitahunya? Tapi, dari mana Vian tahu kami akan ke villa? benak Wandi.
”Lapor, Pak! Di depan sana ada tiga jalan kecil. Di ketiga jalan itu, terdapat jejak kaki.” lapor anak buah Wandi.
Wandi mempercepat langkahnya. Ia melihat jalan kecil di hadapannya itu. Benar! Di ketiga jalan itu terdapat jejak kaki.
Antonio terlihat pintar. Ia sengaja membuat jejak kaki di ketiga jalan ini. benak Wandi.
Wandi terdiam. Tidak menanggapi. Ia pergi ke jalan kecil pertama, yang berada di sebelah kiri. Ia mengikuti jejak kaki tersebut. Hanya sembilan langkah jejak itu terputus.
Ia melihat ke sisi jalan itu. Tidak terlihat ada jejak kaki atau jejak tanah yang bergeser.
Ia pergi ke jalan yang kedua, yang berbeda di tengah. Hal yang sama yang ia dapati, seperti jalan yang pertama.
”Semuanya! Jalan di jalan yang ketiga!” titah Wandi.
Mereka pun berjalan menelusuri jalan itu.
.. ..
Di kediaman Albert.
Pintu pagar rumah terbuka. Mobil Beni berjalan masuk dan berhenti di parkiran mobil.
Ia turun dari mobil. Ia melihat Rosalina yang duduk sendirian di teras rumah. Ia berjalan cepat, menghampiri Rosalina.
”Beni, kamu sudah pulang? Apakah ada masalah di kantor?” tanya Rosalina.
Beni menarik kursi dan duduk, di kursi, yang berhadapan dengan Rosalina. ”Semuanya baik-baik saja, Tante. Hanya ada urusan sedikit saja, tapi Beni sudah menyelesaikannya.” jawabnya.
”Oh, syukurlah! Beni, kemana perginya Marlina? Dia belum datang juga ke rumah.” ia khawatir.
”Tidak perlu cemas dengan Marlina, Tante. Dia baik-baik saja, mungkin sekarang, dia sedang bersama pamannya, Vian.”
”Apa Tante ada memasak?” tanya Beni.
”Iya, makanan telah siap di atas meja.”
”Tante sudah makan?”
”Belum, Tante menunggu Geo turun, baru makan.”
”Kenapa gak di panggil aja, Tante?” ia berdiri.
Rosalina menahan tangan Beni. ”Tante sudah mengetuk pintu kamarnya, tapi, tidak ada sahutan. Mungkin saja, Geo sedang istirahat. Sebaiknya, kita pergi makan saja.”
Beni mengangguk.
Mereka berdua pergi ke dapur.
.. ..
Di kamar Geo.
Syakila merasa kepanasan, Geo memeluknya sudah lumayan lama. Ia menggerakkan badannya.
__ADS_1
Geo terbangun. Ia duduk di atas ranjang, melihat Syakila. ”Kamu sudah bangun?”
Syakila enggan menjawab.
”Baiklah! Tak perlu jawab. Aku akan pergi ke dapur, mengambilkan makanan untuk mu. Kamu belum makan apa-apa.”
Syakila masih enggan bersuara, bahkan, ia menghindar dari berpandangan dengan Geo.
Geo bersabar. Ia turun dari ranjang. Ia keluar dari kamar.
Syakila menghela nafas. Ia merasakan kedua telapak kakinya seperti terbalut. Ia mengingat jika di kedua telapak kakinya memang terluka.
Ia melihat infus dan kantong darah yang menggantung. Isi kedua botol tersebut sudah setengah habis. Ia tidak leluasa untuk bergerak bangun.
.. .. ..
Di dapur.
Geo masuk ke dapur.
”Geo, mari, duduk di sini, ayo kita makan.” ucap Rosalina.
”Nanti saja, Mah. Geo ambilkan makanan untuk Syakila dulu. Setelah Syakila makan, baru Geo turun makan.” ucap Geo.
”Alhamdulillah, Syakila sudah sadar!” Rosalina bernafas lega. Begitu juga dengan Beni.
”Iya, Mah.” Geo telah mengambilkan makanan untuk Syakila. Ia melihat Beni, ”Apakah kamu sudah menghubungi kantor agama di sana?” tanyanya.
Beni menelan makanan yang ada di mulutnya. ”Iya, kamu tenang saja. Untungnya, sebagian besar yang bekerja di sana adalah orang mu. Jika tidak, mereka pasti langsung menemui Sarmi dan mengatakan kebenaran itu padanya.”
”Kamu benar! Mama dan Beni, kalian makanlah! Aku kembali ke kamar dulu.”
”Iya,” sahut Rosalina dan Beni.
Geo keluar dari dapur, dengan membawa nampan berisi makanan. Ia pergi ke kamarnya.
Ia membuka pintu kamar. Ia melihat Syakila yang sedang menatap langit-langit kamar.
Ia meletakkan nampan itu di atas meja. ”Aku bantu kamu duduk.” ia meraih tubuh Syakila.
Syakila menolak, dari menghindari tangan Geo. Geo menghela nafas, ia tetap membantu Syakila duduk bersandar.
Geo mengambil makanan Syakila dan duduk di tepi ranjang, menghadap Syakila. Ia menyendok nasi dan mengarahkan sendok itu ke mulut Syakila. ”Buka mulut mu, ayo makan.” titahnya.
Syakila membuang muka, ia tidak ingin makan, apalagi di suapi oleh Geo.
”Syakila, aku masih berbicara baik-baik! Jangan membuat ku untuk kasar padamu. Ok? Ayo, buka mulutmu.”
Syakila masih enggan membuka mulutnya, ia hanya menatap Geo dengan penuh kebencian dan kemarahan.
Hati Geo sakit melihat tatapan tidak bersahabat dari Syakila. Ia meletakan piring nasi di atas ranjang dan meraih kepala Syakila. Ia mencium bibir Syakila.
Syakila terkejut, matanya membulat, tubuhnya kaku dan bergetar. Untuk pertama kalinya ia merasa ketakutan dengan ciuman Geo.
Geo melepaskan ciumannya, tangannya memegang wajah Syakila. ”Jangan menatapku dengan kebencian yang seperti itu. Hatiku sakit! Kamu hanya salah paham saja sama aku.” ucapnya lembut.
Syakila membuang muka. ”Menjauh dariku! Aku tidak lapar!” ucapnya, dengan ketus.
Ini orang, kalau aku bersikap lembut akan selalu membangkang. benak Geo.
”Kamu mau aku suapi makan pakai tangan ku, atau pakai mulut ku? Pilih?” ia melihat Syakila dengan serius.
Syakila melihat Geo. Wajah pria itu sedang serius. Dia tidak boleh membuat Geo terlalu marah, ia takut, ia tidak akan mampu menanggung amarah Geo yang bengis.
”Pakai tangan!” jawabnya tanpa melihat Geo.
Geo pun mulai menyuapi Syakila makan. Syakila memakan makanannya dengan cepat. Ia tidak mau berlama-lama dengan Geo dalam posisi itu.
Namun, Geo sengaja mengambil nasi sedikit untuk menyuapi Syakila. Makanan Syakila pun habis.
”Bagus! Kalau kamu menurut seperti ini, terlihat bagus dan cantik!” ucap Geo, bibirnya mengukirkan senyum, tangannya membelai kepala Syakila.
Syakila memalingkan wajah saat tertarik melihat senyuman Geo.
”Kamu, aku baringkan atau masih ingin duduk bersandar? Aku ingin kembali ke dapur, sedikit lama. Selesai makan, baru aku kembali ke kamar.” ucap Geo.
”Pergilah makan!” sahut Syakila, tanpa melihat Geo.
Geo menghela nafas, melihat Syakila. ”Ok.” ia pun keluar dari kamar.
.. ..
Di jalan kecil, tempat Antonio berjalan.
Antonio hampir sampai di ujung jalan kecil itu. Ia melihat sebuah mobil terparkir di jalan besar. Ia juga melihat ada dua orang sedang berdiri, bersandar di dinding mobil, sambil menghisap rokok.
Ia tahu, mereka adalah orang yang di kirim oleh pamannya. Ia mempercepat langkahnya.
Semakin dekat, ia bisa melihat logo dalam baju jaket hitam mereka, bertuliskan Eg di tengah lingkaran biru.
Yah... mereka orang ku sendiri. Rupanya, paman mengirimkan orang ku untuk menjemput ku. benaknya.
Ia mendekati kedua orang itu.
”Bos!” sapa kedua orang tersebut.
”Ayo, cepat masuk ke mobil dan pergi dari sini!” ucap Antonio.
”Baik, Bos!” sahut mereka berdua.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Salah satu dari mereka adalah supir. Antonio mengira mereka hanya berdua saja yang menjemputnya. Tetapi, setelah masuk ke dalam mobil, rupanya, masih ada dua orang lagi di dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Tanpa mendapatkan perintah lagi, yang bertugas menyetir pun mulai menjalankan mobilnya pergi dari sana.