
Di klinik Rivaldi.
”Mengapa kamu di sini? Bukan kah sudah ku perintahkan untuk mengantar Syakila pergi!!” ucap Geo dengan marah pada Ijan, saat ia melihat pria itu masuk ke dalam klinik dan melangkah maju ke arahnya.
”Maaf, Tuan. Nyonya melarang saya mengantarnya. Nyonya memaksa saya untuk masuk ke sini melihat dan melayani Tuan.” sahut Ijan membela diri. Ia kini berdiri di samping ranjang Geo.
”Tidak perlu kamu memarahi supir mu, dia tidak bersalah. Syakila, wanita itu memang keras kepala, dan dia akan melakukan apa yang ia inginkan. Jika kamu marah, marah saja pada dirimu yang tidak bisa membuat Syakila mematuhi ucapan mu.” ucap Rivaldi.
”Diam kamu! Apa aku meminta pendapat mu?” sahut Geo ketus pada Rivaldi.
”Kamu tidak meminta pendapat ku, aku hanya memberikan ulasan ku saja tentang wanita itu. Lagi pula, apa yang kamu takutkan? Ini masih di siang hari, jika orang mencari masalah, ia akan berpikir dulu. Yah, kecuali Syakila berjalan di jalan yang sempit dan sepi. Tapi, Syakila bukan orang yang lemah, jangan remehkan dia.” ucap Rivaldi acuh tak acuh.
Geo terdiam, ia menghela nafas kasar. Rivaldi berjalan ke arah Geo, ia duduk di pinggir ranjang sambil melihat Geo.
”Aku ingin bertanya padamu, apa boleh?”
”Menyangkut penyakit ku?”
Rivaldi menggeleng, ”Tentang Syakila!”
Tentang Syakila? Apa dia ingin menanyakan apakah Syakila sudah ku sentuh atau belum karena keadaan fisik ku begini?
”Apa yang ingin kamu ketahui? Apa kamu ingin bertanya dia masih perawan atau tidak? Jika tentang itu, tanyakan saja pada Sardin, bukan padaku!” sahut Geo ketus.
”Kamu gak sabaran, emosional, angkuh, bagaimana Syakila bertahan hidup dengan orang seperti mu? Untuk masalah itu, aku sangat tahu tentang kepribadian Syakila. Kamu jangan merendahkan harga diri wanita itu di hadapan ku!”
Geo tertawa, ”Hahahaha, berapa harga diri dari wanita matre dan ****** seperti dia? Aku tidak merendahkan dia! Tapi, sikapnya sendiri yang mencerminkan dia adalah wanita rendahan! Dia istriku, tapi, dia masih bersama pria lain! Apakah itu bukan rendahan namanya?”
”Maka ceraikan dia!! Wanita seperti dia tidak pantas untuk mu!!” ucap Rivaldi dengan marah. Ia tidak senang mendengar Syakila di katai wanita rendahan oleh Geo, suaminya sendiri.
”Kamu begitu membelanya...kamu mencintainya?” tanya Geo penasaran, padahal ia pernah dengar sendiri, jika Rivaldi yang berstatus guru silat istrinya itu sangat mencintai Syakila. Pandangannya tajam, memicing menatap Rivaldi.
”Iya, aku memang mencintai Syakila! Ceraikan dia!! Aku akan menikahi dia!!” jawab Rivaldi dengan tegas.
”Tuan, Anda berbicara tidak sopan!! And...”
”Ijan, diam saja! Apa aku menyuruh mu untuk bicara dan bertindak?!” tegur Geo pada Ijan, memangkas ucapannya.
”Maaf, Tuan!” sahut Ijan, ia melepaskan tangannya dari kerah baju Rivaldi. Ia mundur kembali ke sisi Geo.
”Jangan mimpi! Dia akan tetap menjadi istri ku! Apakah dia bahagia atau tidak, dia akan tetap berada di sampingku!!”
”Apa kamu memaksa dia untuk menikahi mu?”
Geo menyeringai, ”Memaksa? Lebih tepatnya dia yang menawarkan dirinya sendiri padaku!”
”Kamu bohong!! Aku mengenal Syakila, dia tidak mudah mencintai orang, apalagi orang yang baru di kenalnya.”
”Kamu benar! Dia memang tidak mudah untuk mencintai seseorang. Aku tidak memaksa dia menikah, tapi, almarhum ayahnya memiliki utang pada ayah ku. Dan memiliki perjanjian, jika almarhum tidak bisa membayar utangnya, maka salah satu anaknya akan menjadi anak mantu dari ayah ku. Dan dirinyalah yang bersedia menjadi anak mantu di keluarga Albert.” jelas Geo. Suaranya ringan, tidak mengandung amarah menjelaskan pernikahannya dengan Syakila pada Rivaldi.
”Oh, jadi begitu. Pantas saja, setelah putus dari Sardin, ia langsung menikah. Foto pernikahan yang terpasang di akta nikah kalian juga terlihat tidak bagus! Kalian berdua sama-sama terlihat tidak bahagia. Dan lagi, tidak ada tanda tangan kalian berdua di buku nikah tersebut, bahkan tanda tangan dari saksi dan wali nikah juga tidak ada. Apakah pernikahan kalian terhitung sah? Aku meragukan itu! Dan jika benar tebakan ku, kamu tidak mencintai nya kan?” tanya Rivaldi penasaran.
”Aku mencintainya, tapi, seperti yang kamu bilang, dia tidak mudah untuk jatuh cinta sama seseorang jad....”
”Dia tidak mencintai mu?” pangkas Rivaldi bertanya.
”Iya, tapi, aku ingin dia selamanya berada di sisi ku.”
”Bukan kah kamu mengatai dia wanita rendahan? Matre? ******? Mengapa kamu menginginkan wanita seperti itu di samping mu? Bukan kah itu lucu?”
”Dia membuatku nyaman, membuat hidupku semangat. Aku butuh dia di samping ku. Jadi, kamu jangan berharap bisa memiliki dia. Dan untuk itu, bantulah aku menyembuhkan kaki ku. Dan setelah sembuh, mohon tutupi dari Syakila.” ucap Geo tulus.
Rivaldi terdiam, masih memandang Geo, Pria ini ternyata bisa berkata lembut dan tulus juga berkata jujur padaku. Dia tidak mencintai Syakila, tapi, ia bisa membuat Syakila bahagia. Jika memang Syakila bahagia bersamanya, untuk apa aku berangan-angan menikahinya. Aku sangat tahu tentang Albert. Mereka bukan orang sembarangan.
”Geo, aku mencintai dia, dan berharap bisa menikahinya suatu saat nanti. Tapi sayang, tidak ada kesempatan untuk ku bisa memiliki dia. Jika kamu mencintainya, jangan sakiti dia.” Rivaldi tersenyum kecut, ”Aku pergi dulu, aku akan membuat kan obat herbal untuk di balut di kaki mu dan belakang mu. Jika aku tutup mulut untuk kesembuhan mu dari Syakila, hadiah apa yang akan kamu berikan padaku?”
”Kamu tenang saja, aku akan menjadikan mu sebagai pemilik rumah sakit di tempat kamu bekerja, apa itu sudah cukup?”
”Baik, aku pegang ucapan mu. Aku pergi dulu.”
Tanpa menunggu sahutan Geo, Rivaldi berjalan ke arah ruangan obatnya. Ia mengambil beberapa bahan obat tradisional untuk tulang dan menumbuknya halus. Setelah halus, ia kembali mencampurkan obat itu dengan minyak khusus untuk tulang yang di berikan oleh guru besarnya.
Keluarga Albert adalah keluarga yang terpandang di kota A. Aku tidak percaya, aku dapat kesempatan mengobati anaknya Albert. Syakila akan bahagia berada di tengah keluarga Albert. Syakila, aku hanya berharap dan berdoa untuk kebahagiaan mu, dengan cara inilah, aku mencintai mu. Benak Rivaldi sambil mencampur bahan-bahan obat.
Setelah obat itu tercampur rata, ia kembali menghampiri Geo.
”Ijan, bisa membantu ku memindahkan Geo di ranjang itu,” ucapnya sambil menunjuk ranjang yang di maksud.
Ijan mengangguk, ia bersama Rivaldi memindahkan Geo ke ranjang satunya.
”Geo, aku akan membuka celana panjang mu dan mengoleskan obat ini ke seluruh kaki dan belakang mu.”
Geo mengangguk. Rivaldi melepas celana panjang Geo, hanya menyisakan celana boxer. Setelah itu, ia menyimpan sebuah kain di kaki kiri dan kanan Geo yang sudah di lumuri oleh obat. Setelah itu, ia kembali membalut kan obat itu ke kaki kiri dan kanan Geo hingga ke pahanya dan melilitkan kain tersebut di kedua kaki Geo. Di belakang Geo juga, ia obati seperti itu.
”Istirahatlah! Aku juga butuh istirahat.” ucap Rivaldi.
Geo mengangguk, ia mengistirahatkan dirinya. Rivaldi berjalan ke arah ranjang yang di tiduri Geo sebelumnya, sambil mengeluarkan handphone dari sakunya. Ia nampak menelfon seseorang.
”Halo, Tuan.” sapa suara dari sebrang sana.
”Hum, hari ini aku gak ke rumah sakit. Sampaikan pada pasien ku, aku minta maaf, sudah membuat mereka menunggu. Aku ada urusan pribadi yang mendesak di rumah.” ucapnya berbohong.
”Baik, Tuan.” Tut tut tut, setelah mendengar sahutan asistennya di rumah sakit, Rivaldi memutuskan sambungan.
Ia membaringkan dirinya di ranjang, ”Ijan, kamu boleh duduk di kursi ku. Aku dan Tuan mu akan beristirahat.” ucapnya pada Ijan.
”Terima kasih, Tuan.” sahut Ijan, ia berjalan ke arah bangku Rivaldi. Ia duduk di sana, menjaga tuannya dan Rivaldi yang sedang istirahat.
__ADS_1
Awalnya aku sangat emosi terhadap orang ini karena perkataannya tadi. Tapi, sekarang aku tahu, dia orang yang baik.
.. ..
Di rumah sakit tempat Sardin di rawat.
Syakila masuk ke dalam rumah sakit dengan terburu-buru. Sardin sudah menelfon nya berkali-kali.
Setelah sampai pada lorong ruangan tempat Sardin di rawat, ia berlari dengan cepat. Ia membuka lebar pintu ruangan Sardin yang tidak tertutup rapat itu.
”Maaf, aku terlambat!” sesalnya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
”Tidak apa-apa, aku senang kamu datang. Kemari lah!” sahut Sardin lembut.
Syakila menurut, ia berjalan mendekati Sardin. Ia tahu ada sepasang mata yang menatapnya dengan tidak senang. Sepasang mata itu berada di samping kanan Sardin.
Apakah dia...wanita yang di maksud kak Sardin? Cantik! Apa benar kak Sardin tidak tertarik dengan nya sewaktu SMA.
”Syukurlah kamu datang, Nak! Sardin belum makan, sangat susah menyuruhnya makan siang.” keluh Nesa.
”Eh, benarkah, kak? Mengapa tidak mau makan? Masih kenyang?” ucap Syakila bertanya lembut pada Sardin.
”Sekarang sudah lapar! Tapi, aku ingin makan bakso dan makannya berdua dengan mu.”
”Apa kamu sedang bermanja padaku?”
”Tidak boleh?”
Syakila tersenyum, ”Baiklah, aku akan keluar membelikan mu bakso. Tunggulah disini!”
”Tidak, kita pergi berdua.”
Sardin berdiri dari duduknya. Ia melihat ke dua orang tuanya.
”Mama, Papa. Kalian pulanglah di rumah. Sardin ingin makan bersama Syakila. Setelah selesai makan, kami akan segera pulang.”
”Baiklah, kamu tidak mengajak teman mu, Nita? Ajaklah dia bersama dan kenalkan pada Syakila.” sahut Nesa.
Sardin dan Syakila melihat Nita dengan enggan. Nita menyadari tatapan itu.
”Ehm...”
”Tante, tidak usah. Biarkan saja kak Sardin berdua dengan temannya itu. Nita ikut Tante pulang di rumah saja dan membersihkan kamar Sardin.” ucap Nita memangkas ucapan Sardin.
Ia tahu, pria itu akan menolak untuk mengajaknya makan bersama.
”Baiklah kalau begitu. Kalian pergilah makan. Ingat, selesai makan, jangan pergi kemana-mana lagi, segeralah pulang.” ucap Nesa.
”Ok, Sardin dan Syakila pergi dulu, Mah.” pamit Sardin.
Nesa mengangguk. Sardin melangkah pergi dari ruangannya sambil menggenggam erat tangan Syakila. Nita nampak tidak senang melihat kemesraan mereka berdua.
”Iya, Tante.” sahut Nita lembut.
Alimin, Nesa, dan Nita meninggalkan rungan tersebut dengan membawa semua barang-barang milik Sardin selama Sardin di rawat di rumah sakit.
Di restoran di depan rumah sakit.
Sardin dan Syakila duduk menikmati berdua menikmati bakso.
”Dia cantik! Benarkan kamu tidak pernah tertarik padanya?”
”Kenapa? Kamu cemburu?”
”Tidak, mengapa harus cemburu?” Syakila memakan baksonya dengan enggan.
”Aku tidak mencintainya, sedikit pun tidak ada perasaan yang tumbuh di hati ku untuk wanita lain, selain kamu.”
”Apa kamu sedang menggombal ku?”
”Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya. Bahkan sampai detik ini, masih kamu yang menghuni seluruh rongga hati ku.”
”Ukhuk...ukhuk...!” Syakila tersedak saat meminum air.
Sardin berdiri dan melangkah cepat ke belakang Syakila.
”Pelan-pelan, sayang.” ucapnya sambil menepuk pelan belakang Syakila. Ia menyuapi Syakila minum. Syakila meminumnya sampai habis.
”Sudah?”
Syakila mengangguk. Sardin kembali duduk di tempatnya.
”Kenapa? Kamu terharu akan besarnya perasaan ku padamu?”
”Ehm, kakak, sebaiknya kita makan dulu. Setelah makan, baru kita lanjut mengobrol.”
”Baiklah.” sahut Sardin mengalah. Mereka kembali melanjutkan makannya. Sardin teringat akan perkataan Nita sebelum ia pergi meninggalkan ruangannya.
Ia meraih handphone, dengan lincah, ia menulis pesan untuk mamanya.
”Mama sayang, jangan biarkan kamar ku di sentuh sembarang orang! Sardin tidak suka.”
Ting bunyi handphone Sardin, rupanya balasan chat dari mamanya.
”Sayang, mengapa kamu kejam begitu? Mama yang akan membersihkan kamar mu. Dan biarlah Nita membantu Mama.”
”Tidak Mama! Sardin tidak mau kamar Sardin di masuki oleh orang lain selain kedua orang tuaku dan istri ku. Jika Mama tetap memasukkan Nita ke dalam kamar ku, Mama percaya atau tidak, Sardin akan pulang di apartemen Sardin untuk tinggal.”
__ADS_1
”Hah, sayang! Jangan bicara seperti itu pada Mama. Baiklah, Mama tidak akan membawa Nita masuk ke dalam kamar mu. Mama tunggu kamu datang, baru Mama bersihkan kamar mu.”
”Yah, itu lebih baik, Sardin lanjut makan bakso dulu, Mah. Nanti Sardin bungkus kan bakso untuk Mama dan Papa saat pulang.”
Sardin memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku setelah berbalas chat dengan mamanya.
”Asyik sekali chat nya! Chatting sama siapa?” tanya Syakila penasaran. Ia telah menghabiskan baksonya.
”Chat sama mama, mama bilang setelah aku datang baru mama bersama kamu membersihkan kamar ku.”
”Kamu bohong! Katakan yang jujur!”
”Baiklah, sayang. Aku memberitahu mama untuk tidak mengizinkan Nita masuk ke kamar dan menyentuh barang ku sembarang. Jadi, mama tidak akan membersihkan kamar ku, tunggu aku pulang, baru membersihkannya.”
”Oh, padahal bagus loh, jika kamar mu di bersihkan cewek secantik dia. Seharusnya kamu bersyukur!”
Sardin memandang tidak senang pada Syakila.
”Em, maaf. Aku tidak akan bicara sembarang lagi. Habiskan bakso mu, baru kita pulang!” ucapnya lagi menenangkan Sardin.
”Baik, sayang!”
Syakila tersenyum senang. Sudah lama ia tidak menikmati waktu berdua dengan Sardin, kekasihnya itu.
”Bagaimana luka di perut mu?”
”Sudah sembuh.”
”Aduh,” keluh Sardin sambil memegang kepalanya.
Syakila berdiri dan mendekati Sardin. ”Kenapa, kak? Kepala kakak sakit lagi? Sebaiknya kakak jangan keluar dulu dari rumah sakit. Sembuh total baru kakak boleh keluar.” omel Syakila sambil memijat pelan kepala Sardin.
”Kakak bosan terus berada di rumah sakit, Kila. Kakak tidak apa-apa. Sekarang, sakitnya sudah hilang.”
Syakila menghentikan pijatannya. Ia kembali duduk.
”Kila khawatir dengan kakak kalau sakit kepalanya kakak kumat.”
”Kakak tidak apa-apa, Kila, sayang. Udah, jangan khawatir lagi. Kakak sudah selesai makan, kita ngobrol di taman rumah sakit, yuk. Kakak malas pulang ke rumah saat ini.”
”Baiklah, terserah kakak saja.” Syakila pasrah, karena ia juga menikmati dan merindukan saat-saat berdua dengan Sardin.
”Ok, ayok.”
Sardin kembali menggenggam erat tangan Syakila dan berjalan keluar dari restoran, kembali ke rumah sakit. Namun, mereka pergi ke tamannya.
”Duduk sini!”
Syakila duduk di bangku panjang, Sardin membaringkan dirinya dengan paha Syakila di jadikannya bantal kepalanya. Refleks Syakila membelai lembut kepala Sardin sambil tersenyum melihat wajah kekasihnya itu.
”Kila, bagaimana hubungan mu dengan Geo?” tanya Sardin penasaran.
”Kami baik-baik saja. Kenapa?”
”Apa kamu sudah membawanya berobat?”
”Iya, sekarang dia lagi berada di rumah guru ku. Setelah aku dari rumah mu, aku akan kembali ke sana.”
”Kila, kakak sangat cemburu mengingat kalian tidur satu kamar, bahkan satu ranjang. Kakak selalu....”
”Sttstst!” Syakila menempelkan telunjuknya pada bibir Sardin. ”Kakak jangan berpikiran macam-macam. Tidak terjadi apa-apa di antara kami berdua. Kakak tidak perlu cemburu, Kila tidurnya di sofa, dan dia tidur di ranjang.”
”Meskipun begitu...kakak tetap cemburu, Kila. Kamu berbagi nafas sama dia. Kakak berharap supaya dia cepat sembuh, perjanjian kalian selesai. Kalian pisah, dan kakak akan menikahi mu.”
”Aamiin! Itu pasti terjadi kak. Insya Allah, di tangan guru ku, Geo secepatnya akan sembuh. Lagi pula, luka di kaki dan di tulang ekornya tidak parah.”
”Kila, boleh kakak peluk Kila sebentar?”
”Kalau Kila menolak kakak, apa kakak akan marah?”
”Tidak, ada alasannya makanya kamu menolak.”
”Terima kasih, setelah kita menikah...kakak bebas mau apakan Kila. Karena Kila milik kakak. Apa hati kakak sudah senang sekarang?”
Sardin mengangguk.
”Kalau begitu, kita pulang, yuk! Oh, iya. Kakak tidak membelikan bakso untuk mama dan papa kakak? Bukan kah kakak sudah berjanji?”
Sardin bangun dari baringnya. ”Iya, kamu benar! Ayok kembali ke restoran itu, lalu, kita pulang. Kebetulan mobilnya kakak juga ada di depan restoran itu.”
”Mobil?”
Sardin mengangguk.
”Kakak ingin menyetir sendiri?”
Kembali Sardin mengangguk.
”Tidak, tidak! Kakak tidak boleh menyetir dulu. Kakak baru keluar dari rumah sakit, Kila tidak izinkan kakak!”
”Ah, baiklah. Kakak menurut saja. Ayok kita bergegas pergi dari sini.”
Sardin kembali menggandeng tangan Syakila, sebelumnya ia mengirim pesan kepada supirnya untuk kembali mengendarai mobil.
Sesampainya di restoran tersebut, ia memesan bakso dua bungkus, yang airnya di bungkus terpisah dengan me dan pentolannya.
Setelah Sardin membayar harga baksonya, ia dan Syakila keluar dari sana, supir Sardin telah menunggu mereka di mobil.
__ADS_1
Syakila dan Sardin masuk ke dalam mobil, sang supir menghidupkan mesin dan perlahan mulai menjalankan mobil menuju kediaman Alimin.