Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 22


__ADS_3

Keesokan paginya Halim terbangun saat mendengar kumandang adzan Subuh. Ia segera bangun dan membersihkan diri, setelah berpakaian rapi ia pergi ke masjid untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah.


Tanpa ia sadari ia berdiri tepat di samping Anton yang juga melaksanakan shalat Subuh. Hingga shalat selesai dan juga memanjatkan doa. Ketika akan bersalaman, barulah ia tahu jika Anton yang ada di sampingnya.


"Anton," sapanya.


"Halim," sahut Anton, "Aku tidak tahu jika kamu shalat di mesjid juga, jika tahu begitu biar kita perginya sama-sama tadi." lanjutnya berucap


Halim tersenyum, "hehehe selama aku datang ke sini, baru 3 kali ini aku shalat Subuh di masjid, biasanya hanya di rumah aja." sahutnya menjelaskan.


"Oh," singkat Anton menjawab. "Apa kamu masih ingin disini?" tanyanya.


"Tidak, apa kamu masih ingin disini?" jawab Halim dan balik bertanya pertanyaan yang sama.


'Tidak, kalau begitu mari kita pulang sama-sama." ajak Anton. "Hum," jawab Halim dengan berdehem. Kini mereka berdiri dari duduknya dan keluar dari masjid bersamaan.


"Halim, aku berencana akan pulang ke kampung nanti, apa ada titipan mu untuk anak dan istrimu di kampung? Aku tidak keberatan untuk membawakannya kepada mereka." ucap Anton memberitahu rencananya kepada Halim.


"Kapan kamu akan pulang?" sahut Halim bertanya.


"Minggu depan," Jawab Anton singkat.


"Baiklah, aku akan persiapkan nanti titipan ku untuk anak dan istriku." ucap Halim.


"Hum," sahut Anton singkat.


Kini mereka telah sampai di depan rumah. Halim segera masuk ke dalam sedangkan Anton, ia duduk di kursi teras rumahnya. Ia sedang memikirkan niatnya untuk memberikan tokonya kepada Halim.


Sedangkan Halim, ia kembali keluar rumah dengan pakaian sehari-hari nya siap untuk pergi ke toko untuk membuka jualannya.


"Kamu ingin membuka toko, sekarang?" tanya Anton masih terduduk di kursinya.


"Hum," jawab Halim singkat sambil mendaratkan pantatnya duduk di kursi samping Anton. "Sekalian aku ingin memberi tahu, jika malam ini aku akan pulang telat." lanjutnya berucap


"Kamu mau ke mana?" tanya Anton


"Aku akan pergi jalan-jalan dengan temanku, Hamid. Lebih tepatnya dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan." ucap Halim menjelaskan.


"Oh, kalian akan kemana?" tanya Anton lagi


"Aku juga tidak tahu dia akan mengajakku kemana. Tapi aku janji akan pulang sebelum jam 10 malam," ucap Halim. Ia tahu aturan Anton untuk karyawannya jika keluar rumah batas pulang jam 10 malam. Meskipun ia bukan karyawan tapi tetap saja ia harus mematuhi aturan tersebut.


"Hum, baiklah! Tapi ingat kalau kamu berjalan-jalan harus berhati-hati, biar bagaimanapun ini kota, buka desa yang pergaulannya terbatas." sahut Anton menasehati.


"Hum, aku mengerti." ucap Halim yang memang mengerti ucapan Anton, ia memang tahu bagaimana pergaulan di kota A ini, dari kakaknya.


"Bagus jika kamu mengerti, pergilah buka toko mu!" pinta Anton.


"Hum, aku pergi!" ucap Halim berpamitan sambil berdiri dari duduknya. "Hum, hati-hati!" sahut Anton. Lalu Halim pergi membuka tokonya seperti hal biasanya.


Ia melakukan aktivitasnya dengan penuh semangat hari ini. Setelah ia membuka tokonya, seperti biasa ia duduk menunggu para pelanggan datang untuk berbelanja.


Sambil menunggu pelanggan datang ia memikirkan tentang apa nanti yang akan dia titipkan kepada Anton untuk anak dan istrinya.


Lama berfikir hingga pikirannya terganggu oleh pelanggan yang datang untuk berbelanja. Dengan ramah ia melayani pembeli itu.

__ADS_1


"Cari apa Bu?" tanya Halim kepada si pembeli itu yang merupakan seorang wanita paruh baya.


"Ibu mencari sampo clear botol yang besar warna biru apakah ada?" jawab si ibu dengan bertanya.


"Ada Bu, apa masih ada yang lain lagi?" tanya Halim sambil mengambilkan barang yang di maksud.


"Tidak, itu saja Nak!" sahut si ibu. "Berapa harganya, Nak?" tanyanya.


"Dua puluh delapan ribu, Bu!" jawab Halim. Si ibu pun mengeluarkan uang senilai lima puluh ribu untuk membayarnya. Halim menerima dan mengembalikan dua puluh dua ribu kepada sang ibu sambil mengucapkan terima kasihnya. "Terima kasih, Bu!"


"Sama-sama," sahut si ibu. Setelah itu ia pergi. Sepeninggal ibu tadi Halim ingin kembali masuk ke dalam toko. Namun pandangannya menangkap sosok orang yang di kenalnya.


Karena penasaran ia pergi keluar ke depan tokonya untuk memastikan orang tersebut. Ia melihat Halima yang sedang berbelanja baju yang berada dua toko dari toko Anton yang besar. Dari jauh ia bisa lihat ada dua orang pria yang selalu mengikuti Halima dari jarak satu meter.


"Apa dia benar-benar orang yang penting? Kenapa ia selalu di ikuti seperti di jaga ketat." gumam Halim. Ia masih berdiri melihat sosok Halima, sehingga ia di kejutkan oleh sebuah tangan yang bertengger di bahunya. Halim menoleh ternyata Denis.


"Siapa yang penting? Siapa yang di jaga?" tanya Denis penasaran. Ia memandang ke arah yang dipandang oleh Halim tadi.


"Bukan apa-apa," sahut Halim. "Ayok masuk!" ajaknya sambil merangkul bahu Denis dan membawanya masuk ke dalam toko.


"Tumben kamu berkunjung kemari, ada apa?" tanya Halim sambil mendudukkan dirinya di kursi. Denis pun ikut duduk di kursi depannya.


"Tidak apa-apa, apa harus ada alasan khusus untuk menemui mu?" sahut Denis bertanya.


"Tidak, memang sepenting apa diriku? Hingga yang menemui ku harus berkepentingan dengan ku." ucap Halim.


"Abang," katanya Bang Anton, "Abang akan jalan-jalan malam ini, benar?" tanya Denis serius.


"Hum, iya. Kenapa?" sahut Halim santai.


"Abang juga tidak tahu akan pergi kemana, karena Abang juga di ajak sama teman. Kalau kamu mau ikut, boleh saja. Kenapa tidak?" jawab Halim.


"Ok, jam berapa kita jalan, Bang?" tanya Denis lagi. Halim melirik jam dinding yang tergantung di dinding tokonya. Pukul 04.15 sore.


Hah! Tidak terasa ternyata sekarang sudah sore. kirain tadi masih siang. Berarti aku melamun hingga tidak sadar aku sudah melewati shalat Dzuhur, dan Ashar. Astaghfirullah! Tapi aku masih sempat untuk sholat Ashar.


batin Halim.


"Denis, kamu duduk disini dulu, yah! Abang pergi sholat dulu." pinta Halim sambil berdiri dari duduknya. "Hum," sahut Denis dengan sedikit kesal, karena Halim bukan menjawab pertanyaannya malah menyuruhnya untuk mengganti dirinya jaga toko sebentar.


Akhirnya Halim pergi menunaikan shalatnya, karena ia tidak sempat shalat Dzuhur, ia men jamak Takhir shalat Dzuhur dan Ashar yang di kerjakan di waktu Ashar. Setelah selesai shalat ia kembali ke toko. Ia langsung menjawab pertanyaan Denis yang di tanyakan sewaktu ia akan pergi shalat tadi.


"Kita pergi setelah Abang selesai menutup tokonya, jadi kalau kamu ingin ikut, siap-siap lah sana!" ucap Halim menyuruh Denis bersiap.


"Aku begini saja, Bang!" sahut Denis sambil memandang dirinya sendiri.


"Tidak masalah, penampilanmu lumayan, siapa tahu aja nanti kamu ketemu jodohmu di sana." ledek Halim sambil mulai menyimpan barang jualannya masuk ke dalam toko.


Denis pun membantu Halim menyimpan masuk barang-barang nya. "Abang, gini-gini Denis bukan jomblo loh, Bang!" Denis menjeda ucapannya sejenak. "Asal Abang tau saja, Denis sudah punya kekasih." lanjutnya berucap.


"Oh yah? Kenapa gak coba kenalkan sama Abang, dan Bang Anton kekasihmu itu?" tanya Halim. Masih sambil menyimpan barang jualannya.


"Nantilah Bang! Tunggu waktu yang tepat!" sahut Denis. Yang langsung di jawab singkat oleh Halim, "Oh."


Tidak terasa karena mereka menyimpan barangnya sambil berbicara, kini toko selesai di tutup. "Sekarang kita tinggal menunggu teman ku di sini." ucap Halim sambil duduk di teras toko.

__ADS_1


"Hum," sahut Denis sambil duduk di samping Halim. Tidak lama menunggu akhirnya Hamid datang juga dengan menggunakan mobil.


"Sudah lama menunggu?" tanya Hamid.


"Tidak juga," sahut Halim.


Ternyata Denis dan Hamid juga saling kenal, Hamid menyapa Denis, "Hai Denis, kamu akan ikut kami?" tanya Hamid.


"Iya, apa kamu keberatan?" sahut Denis dengan bertanya.


"Tidak! Ayo masuk ke mobil, kita berangkat sekarang!" ajak Hamid. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Setelah masuk, Hamid menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya membelah jalanan yang sudah padat dengan pengendara lain dengan kecepatan maksimal.


Hingga mobil terparkir sempurna di depan Club. Halim memandang bingung menatap tempat itu. "Tempat ini tujuan kita?" tanyanya dengan heran tanpa memandang Hamid.


"Iya, disini tujuan kita." jawab Hamid, "Ayok turun!" pintanya lagi. Mereka turun dari mobil.


"Kamu yang traktir, Hamid?" ucap Denis bertanya.


"Tidak masalah," sahut Hamid, "Ayok masuk kedalam!" ajaknya. Mereka pun masuk kedalam. Ini adalah pertama kalinya untuk Halim masuk kedalam club.


Tempat apa ini? Ruangan redup dan juga samar-samar, disini banyak sekali orang. Ada yang duduk dengan pasangan, ada yang bergoyang mengikuti musik dj. Baunya juga campur aduk, ada asap rokok, bau alkohol, bau berbagai macam parfum. Lampu sorot warna warni yang menyoroti seisi ruangan. Apa ini kebiasaan orang-orang di kota? Inikah clubbing yang sering orang-orang bicarakan?


batin Halim.


Mereka terus masuk ke dalam hingga mereka mendudukkan pantatnya di sebuah bangku yang di depannya ada meja terdapat berbagai macam minuman, yang di racik oleh seseorang.


"Jangan bingung bingung Halim! Santai saja, rileks beginilah kehidupan di kota, kalau jenuh akan datang kesini, kalau gak ya ke Diskotik, Bar, Pub." ucap Hamid saat melihat wajah bingung Halim.


"Apa kamu sering kesini?" tanya Halim seketika.


"Iya, hanya untuk menghilangkan kejenuhan juga capek karena bekerja. Sering aku kesini." jawab Hamid.


"Kalau kamu Denis?" tanya Halim pada Denis


"Sesekali Bang, kalau di ajak reunian sama teman-teman." jawab Denis.


"Mau minum apa Halim?" tanya Hamid menawarkan minuman.


"Air putih biasa saja, saya tidak suka yang beralkohol." jawab Halim.


"Kamu Denis, mau minum apa?" tanya Hamid.


"Yang sama dengan kamu aja." jawab Denis.


Hamid pun memesankan minuman ringan alkohol untuk dirinya dan Denis, sedangkan Halim ia memesankan air putih biasa untuk di minumnya.


Baru saja dua teguk ia meminum minumannya ia berasa ingin buang air, ia pun bertanya kepada Hamid letak toiletnya. Setelah mendapat petunjuk Halim berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah menuju toilet.


Tanpa sengaja pandangannya menangkap sosok Halima yang sedang duduk di pangkuan seorang lelaki dengan manja dan berpakaian seksi, baju yang hanya bertali satu, kelihatan lekuk tubuh dan buah dada juga belahannya. Dan pahanya juga terekspos dengan sempurna.


Astaghfirullah! Apa Halima seorang wanita... Ah apakah itu benar? Aku sungguh tidak menyangka. Pantas saja ia selalu menggoda ku. Rupanya ia.. Sudahlah pura-pura saja tidak melihatnya. Sekarang aku memang harus berhati-hati.


batin Halim sambil melangkah menuju toilet.


Sayangnya Halima sempat melihat keberadaan Halim yang berjalan ke arah toilet. Ia pun dengan sengaja mengambil minuman yang berada di atas meja dan meminumnya sedikit, lalu ia menumpahkan pada pakaiannya, dengan keahliannya hingga orang tidak tahu jika ia memang sengaja membuat bajunya basah.

__ADS_1


"Maaf, aku harus ganti pakaian dulu, bajuku sangat basah." pamitnya pada pria yang masih memangku dirinya.


__ADS_2