
Kediaman Albert.
Anton menghentikan mobil di depan pagar rumah Geo. Ia turun dari mobil. Dia melihat rumah besar itu dan membuka pintu pagar.
”Maaf, Anda siapa? Mencari siapa?” wajahnya terlihat marah dan tatapannya penuh kehati-hatian.
Anton terkejut dengan munculnya pria berbadan kekar di depannya. Ia mengira tidak ada penjagaan di pagar rumah.
”Em...maaf, saya langsung masuk. Saya Anton, pamannya Syakila, istri dari Geo.” Anton memperkenalkan diri. ”Saya ingin bertemu dengan Geo. Apakah Geo ada di rumah?”
”Oh...Anda paman dari nyonya muda. Tuan muda ada di dalam, mari, silahkan tunggu tuan di teras rumah.” wajahnya berubah ramah dan berbicara pun dengan lembut.
Anton masuk dan berjalan mengikuti pria kekar itu.
”Silahkan duduk! Saya akan memanggil tuan muda kesini.” ucap pria kekar itu.
”Hum!” singkat Anton menyahuti. Ia menarik kursi dan duduk di teras, matanya memandangi luasnya halaman parkir yang ada di depan rumah besar itu.
Sementara pria kekar itu masuk ke dalam rumah.
.. ..
Di dalam rumah.
Pria kekar itu berjalan menaiki anak tangga. Ia berhenti sejenak saat berpapasan dengan Beni yang turun tangga. ”Tuan Beni, ada seseorang pria datang mencari tuan Geo.” ucapnya, memberitahu.
Beni menghentikan langkahnya. ”Siapa?”
”Katanya, beliau adalah paman dari nyonya muda.” jawab pria kekar itu.
Pamannya Syakila? Siapa? Anton? Denis? Ada apa yah mencari Geo? benak Beni.
”Di mana beliau?”
”Ada di teras rumah, Tuan.”
”Hum! Kamu pergilah panggil Geo di kamarnya. Aku akan keluar menemani beliau mengobrol.” titah Beni.
”Baik, Tuan.”
Beni dan pria itu kembali melanjutkan langkahnya. Beni yang terus melangkah ke teras rumah. Dan pria itu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga terus berjalan ke kamar Geo.
.. ..
Di teras rumah.
Beni membuka pintu rumah. Ia melihat Anton sedang duduk di kursi, sedang melihatnya, saat mendengar suara pintu terbuka.
”Beni.” sapa Anton.
”Paman.”
Mereka berdua bersalaman. Beni menarik kursi dan duduk.
”Paman, ada apa kemari?” tanya Beni.
”Saya mencari Geo. Ada hal yang ingin saya tanyakan padanya.” jawab Anton, seadanya.
Kening Beni mengerut. Ada apa yah? Sepertinya ada yang tidak beres! benaknya.
.. ..
Di kamar Geo.
Geo membuka pintu kamar saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Ia berdiri di ambang pintu.
”Maaf, Tuan, sudah mengganggu istirahat Tuan.” ucap pria itu sambil menunduk.
”Hum! Ada apa?” tanya Geo, lembut.
”Ada paman dari nyonya muda datang mencari Tuan.” jawab pria itu.
”Paman Syakila?” gumam Geo pelan. Ia melihat Syakila sebentar. Ia berjalan tiga langkah keluar dari kamar dan menutup pintu.
”Di mana beliau?”
”Beliau ada di teras rumah. Tuan Beni sedang menemani beliau.”
”Apa beliau mengatakan keperluannya apa sehingga datang mencari ku?” tanya Geo lagi.
”Maaf, Tuan. Beliau tidak mengatakan tujuannya. Beliau hanya mengatakan ingin bertemu dengan Tuan.”
”Ok! Kamu pergilah, aku akan segera ke sana. Buatkan minuman untuk beliau.” titah Geo.
”Baik, Tuan.”
Geo masuk kembali ke kamarnya. Pria itu pergi dari sana. Melaksanakan titah dari tuannya.
__ADS_1
”Siapa yang mencari mu? Kenapa melihat ku seperti tadi? Sangat mencurigakan!” ucap Syakila.
”Entahlah, aku juga tidak tahu siapa yang datang mencari ku. Tapi, kamu tenang saja, yang mencari ku adalah seorang pria, bukan wanita. Dan kamu tidak perlu mencurigai ku apa-apa. Aku hanya memiliki satu wanita, yaitu kamu. Wanita lain tidak akan ku perdulikan, hanya kamu seorang yang aku pedulikan. Jika wanita yang datang menemuiku, aku akan mengajak mu ikut bersama menjumpai wanita itu.” ia tersenyum di akhir kalimatnya. Tangannya memegang lembut pipi Syakila.
Syakila terdiam, melihat mata Geo. Ada sebuah rasa yang hadir pada dirinya saat mendengar ucapan Geo. Bukan kah sebagai wanita, sangat bahagia rasanya mendengar kata lembut dan pengakuan perasaan dari pasangannya?
”Aku akan pergi menemui dia. Kamu istirahatlah dengan baik.” ucap Geo lagi. Ia mencium kening Syakila baru pergi dari kamar.
”Pria brengsek! Selalu saja mencium ku tiba-tiba!” Syakila bergumam kesal.
”Siapa yang datang mencarinya, ya? Apakah Sardin? Ah, tidak mungkin!” gumamnya lagi. Ia sangat penasaran pada orang yang mencari Geo.
Ia ingin pergi melihatnya, tapi, kondisinya sekarang tidak mengizinkan ia untuk pergi. Terkecuali, kedua selang yang masih melekat di tangannya sudah di lepas.
.. ...
Di teras rumah.
”Apa kamu tahu, kenapa Syakila tiba-tiba mengundurkan diri dari pekerjaannya? Padahal mengajar adalah cita-citanya dari kecil.” tanya Anton pada Beni.
Syakila tidak keluar dengan sendirinya dari pekerjaan itu. Syakila juga berontak saat tahu dia sudah di pecat dari sekolah. Itu semua bukan kemauan dari Syakila sendiri, tapi...Geo lah yang mengeluarkan Syakila dari sana. Dia cemburu saat tahu Syakila bertemu dengan Sardin, keponakan mu di depan sekolah itu. benak Beni.
”Maaf, aku tidak tahu hal itu. Itu adalah urusan pribadi dari Syakila sendiri. Aku juga tidak bertanya tentang keputusannya.” jawab Beni, berbohong.
”Oh,”
”Dari mana Anda tahu kalau Syakila sudah keluar dari pekerjaannya?” Beni kembali bertanya pada Anton.
”Dari keponakan saya, Sardin.” jawab Anton.
Beni dan Anton sama-sama menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Anton sedikit terkejut melihat Geo yang berjalan dengan tegak, datang menemuinya.
”Beni, Paman.” sapa Geo. Ia bersalaman dengan Anton. Dia menarik kursi dan duduk di hadapan Anton.
”Geo..kamu...”
”Iya, Paman. Aku tidak perlu berpura-pura lagi duduk di kursi roda. Semua orang di dalam rumah ini sudah tahu kalau aku sudah sembuh.” pangkas Geo. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Anton. ”Paman mencari ku? Ada perlu apa?” tanyanya.
”Iya, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.” jawab Anton. Wajahnya berubah serius dan datar.
”Ada apa Paman?” tanya Geo, penasaran. Wajahnya juga ikut serius.
Beni pun sama penasarannya. Ia tidak berniat meninggalkan tempat duduknya.
”Apa kamu tahu di mana keberadaan Sardin sekarang?” tanya Anton.
”Mengapa Paman menanyakan keberadaan Sardin, padaku?” tanya Geo, ia semakin penasaran. Apa yang sudah terjadi pada Sardin? Dan mengapa menanyakan Sardin padanya.
”Tadi sore ada seorang polisi menghubungi ku. Dia mengatakan, dia menemukan motorku tergeletak di pinggir jalan. Ban depan kempes terkena tembakan. Ia tidak menemukan seorangpun di sana, hanya motor ku saja. Sementara motor ku, Sardin lah yang pakai. Aku mencoba menghubungi nomornya juga tidak aktif.” Anton menjeda ucapannya.
Ia melihat wajah serius pada Geo dan Beni. Dari raut wajah Geo, ia tahu, jika Geo tidak tahu soal Sardin.
”Aku dan polisi tersebut berpikir, ini pasti ulah perbuatan dari seseorang, entah unsur kesengajaan ataupun balas dendam. Tapi, Sardin di sini tidak pernah menyinggung siapapun dan mencari masalah dengan siapapun. Terkecuali....”
”Dengan ku?” pangkas Geo. Yang langsung menunjuk pada dirinya sendiri. Ia tahu arah pembicaraan Anton.
Ia juga mengerti kenapa Anton bisa berpikir jika itu mungkin saja ulahnya. Sardin dan dirinya adalah saingan cinta.
Anton tidak langsung menjawab. Dia hanya memandang Geo.
”Aku tahu, aku dan Sardin adalah saingan cinta, di mata Paman dan di mata orang-orang. Untuk menang dari dia, aku bisa saja mengutus anak buah ku untuk menghancurkan Sardin. Tapi, aku tidak perlu merencanakan semua itu. Sardin dan aku saling menghargai satu sama lain. Jadi, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan Sardin sekarang.” jelas Geo.
”Paman tidak bermaksud menuduh mu. Syukurlah jika kamu tidak ada sangkutannya dengan ini. Baiklah, aku akan pulang sekarang. Semoga saja Sardin sudah pulang ke rumah. Jika dia belum pulang juga ke rumah sampai jam sepuluh malam nanti, aku akan melaporkan berita kehilangannya ke kantor polisi.” ia berdiri.
Beni dan Geo ikut berdiri.
”Iya, Paman. Paman berhati-hatilah di jalan. Geo menduga, mungkin saja mereka itu adalah orang-orang Eg. Jika Sardin belum juga pulang, mohon Paman mengabari ku. Dengan kemampuan ku, aku akan membantu Paman menemukan Sardin.” ucap Geo.
”Iya, sebenarnya Paman tidak khawatir dengan kekuatan fisik yang di miliki Sardin. Dengan bela dirinya, dia bisa melindungi diri sendiri dari ancaman orang-orang. Yang membuat ku khawatir adalah, jika di saat dia sedang berkelahi, sakit di kepalanya akan kambuh. Jika itu terjadi, Sardin tidak mampu melawan lagi.” ungkap Anton.
”Sakit kepala?” Beni dan Geo sama-sama mengulang ucapan Anton.
”Iya, setelah kecelakaan yang dia alami waktu itu, kepalanya sudah sering sakit. Masih ada sisa-sisa darah yang membeku di dalamnya. Jika melakukan operasi lagi untuk pengangkatan, hanya dua puluh persen tingkat keberhasilannya. Jadi, kedua orang tua Sardin tidak ingin mengambil resiko tinggi. Mereka hanya meminta obat saja dari dokter, jika sakit kepala Sardin kambuh.” ungkap Anton lagi.
”Apa Syakila tahu tentang penyakit Sardin ini?” Geo bertanya, penasaran.
Anton mengangguk.
Aku jadi iri kepada Sardin. Pria itu mendapatkan seluruh hati, jiwa, dan pikiran Syakila. benak Geo.
”Paman pergi dulu. Istriku pasti sedang khawatir, sekarang.” pamit Anton.
”Iya, Paman. Jangan lupa kabari aku, jika Sardin sudah pulang ke rumah ataupun belum.” ucap Geo.
”Iya.” ia pun melangkah pergi dari rumah Geo.
Beni dan Geo kembali duduk.
__ADS_1
”Apa kamu akan mengatakan ini pada Syakila?” tanya Beni.
”Tidak! Syakila akan menggila nantinya.” jawab Geo, ”Minta pada yang lain untuk membantu Anton mencari Sardin.”
”Ok.” sahut Beni.
Geo beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumah. Beni terlihat sedang menelpon seseorang.
.. .. ..
Di kota S, kediaman Sarmi.
Sarmi masih menangis dalam pelukan Biah. Ia tidak percaya jika anaknya sanggup melakukan hal itu.
Ia dan almarhum Halim selalu mengajarkan yang baik-baik untuk semua anak-anaknya. Bagaimana bisa Hardin lalai pada tanggung jawabnya pada diri sendiri? Apa Hardin tidak takut dengan dosa lagi?
”Sudah, sudah! Semua serahkan saja pada kepolisian. Ikuti saja prosedur yang ada.” ucap Biah. Ia membujuk Sarmi untuk tenang dan sabar.
Fatma, Yuli, dan Ita juga sedih atas apa yang sudah di alami oleh Hardin, adik laki-laki satu-satunya itu.
Sarmi dan Biah berdiri saat mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Mereka tahu jika itu adalah Johan dan Johansyah yang datang.
”Mama, Bibi, tunggu paman di dalam saja.” ucap Fatma.
Sarmi dan Biah kembali duduk. Mereka menanti Johan dan Johansyah masuk di dalam rumah.
”Assalamu 'Alaikum.” ucap Johan dan Johansyah.
”Wa 'alaikum salam!” sahut mereka semua.
Johan dan Johansyah melangkah masuk dengan wajah datar. Mereka duduk di kursi, menyandarkan punggung.
”Bagaimana, Pa?” tanya Biah.
”Tidak tahu Mah. Masih dalam penyelidikan.” jawab Johan.
”Bagaimana dengan perempuan? Apakah dia sudah bersaksi, mengatakan yang sebenarnya?” tanya Sarmi.
”Belum, perempuan masih pingsan.” Johansyah yang jawab.
”Astaghfirullah! Bagaimana ini bisa terjadi?” Sarmi kembali menangis. ”Apa yang sudah di katakan oleh Hardin?” tanyanya.
”Dari pengakuan Hardin, dia tidak melakukan apapun. Dia dengan perempuan itu memang saling kenal dan saling berkomunikasi. Hardin tidak menyangkal itu. Dia memang datang ke hotel untuk menemui perempuan itu. Tetapi, sampai di hotel, di depan pintu kamar nomor yang di berikan perempuan, Hardin tiba-tiba jatuh pingsan saat merasakan sebuah pukulan di kepalanya. Dan saat dia bangun, dia sudah berada di dalam kamar. Dia dengan perempuan itu tidur di ranjang yang sama, dan tanpa sehelai pakaian di tubuh mereka berdua.” ungkap Johan.
”Astaghfirullah! Cobaan apa ini, Biah? Di mana salah ku? Kenapa anakku seperti ini?” Sarmi semakin terisak.
”Sabar! Semuanya pasti akan berlalu. Kebenaran pasti akan terungkap. Kamu tenang, lihatlah anak bungsu mu itu, dia masih sakit. Rawatlah dia sampai sembuh. Urusan Hardin, kita serahkan saja pada pihak yang berwajib.” ucap Johan.
Sarmi terdiam. Ia melupakan Endang yang sudah tiga hari ini terbaring sakit di kamarnya. Semenjak mendapat telfon dari pihak kepolisian, ia sudah fokus pada masalah Hardin, mengabaikan Endang sampai sekarang. Bahkan, ia juga tidak menyuruh anaknya yang lain untuk melihat Endang.
”Iya, Johan. Kamu benar! Aku...sudah mengabaikan Endang. Astaghfirullah!” Sarmi berdiri, ”Aku pergi ke kamarnya dulu.”
Biah dan Johan mengangguk. Sarmi melangkah ke kamar Endang. Ia membuka pintu kamar. Ia melihat Endang sedang tidur.
”Apakah seharian ini dia ada makan? Maaf, Nak. Mama sudah mengabaikan mu.” gumamnya sambil berjalan mendekati Endang.
Ia meraba kening Endang, panasnya sudah berkurang.
Endang terbangun merasakan sentuhan di keningnya. ”Mama!” sapa nya, pelan. Suaranya terdengar sangat kecil.
”Iya, sayang! Apa kamu lapar? Mama ambilkan makanan yah.”
Endang menggeleng. ”Endang sudah makan, di suapi kakak Fatma. Bagaimana kakak ku, Ma? Sudah keluar dari kantor polisi?”
Alhamdulillah! Terima kasih, Fatma. Kamu memperhatikan adik mu yang sakit ini saat mama tidak sengaja melupakannya. benak Sarmi.
”Kamu mendengar kabar ini dari Fatma?” Sarmi berbalik bertanya. Endang mengangguk.
Sarmi tersenyum, ”Tidak usah pikirkan kakakmu, ok? Kakak mu ada pihak polisi yang membantunya, kamu pulihkan saja dirimu.”
”Iya, Mama.” jawab Endang. Ia memejamkan mata, kembali istirahat. Sarmi mencium kening Endang dan memperbaiki selimutnya.
Ia duduk sebentar menemani Endang. Jika Endang sudah benar-benar tidur, baru ia keluar.
Halim..di mana salah ku dalam mendidik anak-anak mu? Cobaan apa ini yang melanda keluarga kita sekarang? Hardin masuk penjara, Endang sakit..aku pusing Halim...benak Sarmi.
Air matanya kembali menetes di kedua pipinya. Ia melihat Endang yang sudah tertidur.
Sarmi menghapus air matanya dan mencium kening Endang. Ia berdiri dan keluar dari kamar Endang. Ia kembali ke depan menemui Biah dan Johansyah.
”Bagaimana keadaan Endang? Jika belum ada perubahan lagi, kita bawa dia ke rumah sakit saja.” usul Johan.
”Tidak perlu. Panasnya menurun. Dia sudah tidur.” ucap Sarmi.
”Apakah polisi sudah melakukan pencarian bukti di hotel tersebut?” tanya Sarmi.
”Belum. Sementara hanya kesaksian dari pelaku, korban, dan juga penjaga hotel. Setelah itu baru mencari kesaksian dari barang bukti. Semua di kerjakan melalui prosedur. Kita tunggu saja kabar dari pihak kepolisian.” ucap Johan.
__ADS_1
Sarmi mengangguk lemah.