Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 224


__ADS_3

Keesokan harinya, di rumah Sarmi.


Syakila menghela nafas, punggungnya di sandarkan di punggung kursi.


Sarmi tersenyum kecil melihat anaknya, ”Kenapa, Nak? Apa yang kamu pikirkan? Sedari tadi hanya menghela nafas.”


Syakila menggeleng. Wajahnya sedih, pandangannya memandang ke lantai, lebih tepatnya pandangannya mengarah pada posisi meja kecil yang membuat Sardin, Geo, dan pak wali nikah duduk berhadapan.


Sarmi tahu apa yang ada di pikiran anaknya sekarang. Syakila baru saja keluar dari rumah sakit, pagi ini. Dia tidak ingin kondisi anaknya kembali menurun.


Sarmi menghela nafas, ”Sebentar sore adalah haulnya almarhum Sardin. Kita akan pergi ke sana untuk bantu-bantu, selesai makan siang.”


Syakila mengangguk, ”Iya, Ma. Ma, Asya pergi ke taman dulu.” pamitnya.


”Apa gak sebaiknya, kamu istirahat saja di kamar, Nak? Masih ada waktu tiga jam sebelum kita ke rumahnya Alimin, kamu istirahat saja. Yah?” bujuknya.


”Gak, Ma. Selama dua hari dua malam Syakila berbaring terus di rumah sakit. Syakila ingin menghirup udara segar di taman.”


”Baiklah, jangan banyak berpikir dan melamun. Yah?” Sarmi mengalah. Dia tidak bisa memaksa anaknya.


”Iya, Ma.” Syakila berdiri dan berjalan keluar dari rumah.


Sarmi melihat punggung Syakila dengan sedih.


Kasihan anakku, aku merasa dalam beberapa bulan ini dia akan tetap merasa kehilangan dan selalu ingin sendiri. benaknya. Dia menghela nafas.


.. ..


Di taman bunga.


Syakila duduk termenung. Wajahnya masih terlihat sedih, bahkan sekarang sedang berkaca-kaca.


Kakak, bahkan sampai sekarang aku tidak percaya kalau kakak sudah pergi. Kakak belum meninggal, kan? Kakak selalu ada di manapun aku berada.


Kisah percintaan Syakila dan Sardin teringat kembali di ingatan Syakila. Percintaan yang mereka rajut sedari kecil hingga berpisah dan bertemu kembali dengan takdir yang kuasa.


Percintaan mereka kembali terjalin begitu saja, karena mereka tidak pernah putus dan tidak memiliki kekasih setelah sekian lama mereka berdua berpisah.


Percintaan mereka kembali tandas karena suatu perjanjian yang harus di penuhi oleh Syakila, menikah dengan pria lain.


Meskipun Syakila menikah dengan pria lain, dia tetap menjalin hubungan baik dengan Sardin. Hingga Allah memberikan jalan untuk Syakila dan Sardin merajut kembali cintanya, yang sempat kandas.


perjalanan cinta kita yang panjang ini, seharusnya akan membuahkan hasil yang bahagia di akhir, kan? Tapi kenapa malah seperti ini kakak?


Air mata Syakila tak terbendung, dia menangis, meratapi, kisah cintanya dengan Sardin yang berujung kesedihan.


”Hu...hu...hu...kakak. Aku merindukan mu. Datanglah padaku, aku ingin memeluk mu.”


Geo menghentikan langkah kakinya yang menginjak teras rumah, saat mendengar suara tangis Syakila di taman.


Dia berjalan menghampiri Syakila.


”Hu...hu...kakak. Aku rindu....”


Kembali Geo mendengar kesah Syakila. Apakah dia sedang memikirkan Sardin? benaknya.


Dia meraih tubuh Syakila dan memeluknya. ”Aku juga rindu padamu. Aku sudah datang, jangan menangis lagi.” dia membelai punggung Syakila dan mencium pucuk kepala Syakila.


”Kakak Sardin? Aku tahu, kakak belum meninggal. Aku rindu sama kakak.” Syakila membalas pelukan Geo dengan erat. Dan menangis, menumpahkan rasa rindunya.


Geo melepaskan pelukannya, mencubit dagu Syakila dan mengangkat wajahnya agar Syakila melihat dengan jelas, siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.


”Ini aku, Geo, suami mu. Lihatlah wajah suami mu ini dengan baik-baik.” Geo menghapus air mata Syakila yang terdiam melihatnya.


Ah, dia Geo. Aku kira dia Sardin. Suara...suara yang ku dengar tadi, yang berbicara padaku. Itu..suaranya Sardin. benak Syakila.


Hati Syakila semakin sedih, dia salah menduga orang. Keningnya semakin di kerutkan. Dia menunduk.


Geo mengangkat kembali wajah Syakila, dia tidak akan membiarkan gadis itu tidak melihat dan memperhatikan wajahnya.


Pandangan mata mereka kembali bertemu. Namun, yang di lihat Syakila saat ini adalah wajahnya Sardin.


”Lihat aku, Syakila. Lihat aku baik-baik! Siapa aku?” tanyanya.


”Kamu... Sardin. Wajahmu... suara mu....” Syakila memejamkan matanya dan kembali membukanya, kembali melihat wajah pria di depannya. ”Bukan, kamu bukan Sardin. Kamu Geo... kakak Geo. Suami ku. Iya... suamiku.”


Geo tersenyum senang. Dia kembali memeluk tubuh Syakila. ”Iya, aku Geo. Suami mu.”


Kenapa aku selalu melihat Sardin dan mendengar suara Sardin dari Geo? Apakah benar seperti yang di ucapkan Rivaldi padaku, saat di rumah sakit, alasan mengapa aku mendengar dan melihat Sardin pada diri Geo?


Ataukah karena aku yang masih belum melepaskan Sardin dari hatiku? benak Syakila.


Geo melepaskan pelukannya, ”Ayo masuk, aku ingin istirahat. Kamu temani aku tidur. Yah?” pintanya.


Syakila mengangguk. Selama Geo menjaganya di rumah sakit, Geo tidak pernah tidur nyenyak. Seharusnya, setelah Syakila keluar dari rumah sakit, Geo harus istirahat. Tetapi, Geo malah pergi menyelesaikan pekerjaan nya yang terganggu.


Mereka berdua pergi dari taman. Mereka masuk ke dalam rumah terus melangkah ke kamar Syakila.


Geo melepas pakaian atasnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Syakila masih berdiri di dekat ranjang, memperhatikan Geo.


Dulu sewaktu kami masih jadi suami istri, tidur satu kamar tapi, aku tidak merasa gugup seperti ini. Apakah karena waktu itu Geo tidurnya dengan berpakaian lengkap? Sementara ini...Geo bertelanjang dada. Dan aku baru memperhatikan kalau bentuk tubuh Geo sangat bagus. benak Syakila.


”Kenapa?”


Syakila menggeleng.


”Mari sini! Temani aku tidur.” Geo menepuk kasur di sampingnya.

__ADS_1


Syakila menelan saliva nya. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring, menyamping, membelakangi Geo.


Matanya membulat saat merasakan tangan Geo melingkar ke perutnya. Tubuh polos Geo menempel pada belakangnya. Syakila bergerak sedikit, ingin melonggarkan pelukan Geo.


”Jangan bergerak! Aku ingin tidur dengan memelukmu seperti ini.” pinta Geo.


Syakila menurut. Detak jantungnya berdegup kencang. Syakila memejamkan mata, mengatur nafasnya yang terasa berat.


Syakila terus berada pada posisinya. Tidak bergerak sedikitpun. Setengah jam telah berlalu. Syakila merasakan hela nafas Geo ringan.


Apakah Geo sudah benar-benar tertidur? benaknya.


Tangan kanan Syakila terasa pegal. Dia membalikkan badannya, berbaring terlentang.


Dia memiringkan tubuhnya menghadap Geo. Di tatapnya wajah itu. Syakila memejamkan matanya kala melihat wajah Sardin tersirat di wajah Geo.


”Ah, tidak. Ini wajah Geo. Wajah suamiku.” gumam Syakila dengan pelan. Meyakinkan dirinya bahwa pria di sampingnya adalah Geo.


Dia kembali membuka mata melihat Geo. Tangannya terangkat menyentuh dada bidang pria itu. Puas merabanya, Syakila merapatkan tubuhnya ke dada Geo dan memeluk tubuh pria itu.


Detak jantung Geo semakin berdetak cepat. Nalurinya sebagai lelaki timbul. Geo tidak bisa mengendalikan dirinya. ”Asya, aku...kalau kamu tidak bisa diam dan membiarkan aku istirahat dengan tenang. Aku tidak yakin jika aku masih bisa mengendalikan diriku nanti.” ucapnya. Lebih tepatnya dia memperingatkan Syakila untuk diam.


Syakila tahu jelas arti dari kata Geo. ”Ma...maaf. Aku...aku hanya ingin memeluk mu saja. Kalau kamu terganggu, aku...”


”Aku tidak terganggu. Jangan lepaskan pelukan mu. Tubuhmu menghangatkan tubuhku.” pangkas Geo.


”Kalau begitu, tidurlah.” Syakila tetap memeluk tubuh Geo.


”Hum,” Geo memejamkan kembali matanya. Tangannya menarik tubuh Syakila, semakin merapatkan tubuh Syakila padanya.


Syakila terdiam memandangi wajah Geo yang memejamkan matanya. Beberapa menit berlalu, dia kembali merasakan nafas Geo yang ringan.


Dia sudah tertidur. benak Syakila.


Syakila mencium singkat bibir Geo. Kemudian, dia memejamkan matanya.


Geo membuka mata dan tersenyum. Dia kembali memejamkan matanya. Mereka sama-sama tertidur, dengan saling memeluk.


.. ..


Sarmi terbangun saat mendengar bunyi alarm di hapenya.


”Ah, aku sudah tidur selama dua jam. Syakila? Apa dia masih di taman?” Sarmi bergegas keluar dari kamar.


Dia pergi ke taman. Dia tidak menemukan Syakila di sana. ”Apakah Syakila di kamarnya?” dia berbalik masuk kembali ke dalam rumah.


Dia terus melangkah ke kamar Syakila. Dia membuka pintu kamar Syakila dengan pelan. Dia tersenyum senang melihat Syakila dan Geo sedang istirahat. Juga saling memeluk.


Sarmi menutup kembali pintu kamar Syakila dengan pelan.


”Eh.. Mama sudah bangun? Padahal Fatma ingin pergi membangunkan Mama. Makan siang sudah siap.” ucap Fatma.


”Oh, kalau begitu bangunkan Syakila sekalian untuk makan Ma.”


”Em...kita makan saja dulu. Jangan ganggu Syakila. Biarkan dia istirahat. Nanti dia bangun baru dia makan. Ayo, kita pergi makan.” ajak Sarmi.


Sarmi dan Fatma pergi ke dapur. Suami, dan adik-adik Fatma sudah berkumpul di meja makan, terkecuali Hardin.


Mereka semua makan dengan diam.


.. .. ..


Sore hari di kediaman Alimin.


”Kenapa Mama belum datang? Padahal sebentar lagi acara haul akan di mulai. Orang-orang yang mengaji sudah mulai berdatangan.” gumam Hardin.


”Apa mereka tidak akan datang?” tanya Nesa.


”Pasti datang Ma. Mungkin sedang dalam perjalanan. Hardin coba hubungi mama dulu.” Hardin mencari kontak mamanya.


”Tidak usah di hubungi. Kita tunggu saja, acara juga belum di mulai. Orang yang mengaji belum berdatangan semua.” cegah Nesa.


Hardin menyimpan kembali hapenya. Tidak lama kemudian, Hardin melihat mobil Johan baru masuk ke halaman parkir rumah Alimin. ”Ma, mereka baru datang. Hardin ke sana dulu.”


”Alhamdulillah. Iya, nanti bilang Geo dan Johan untuk bergabung langsung dengan bapak mu. Nesa, Biah, dan kakak mu bawa ke sini, menemani Mama.”


”Iya, Ma.” Hardin pergi menemui keluarganya yang baru turun dari mobil. Dia tidak melihat Syakila dan Geo. ”Ma, kakak dan kakak ipar Geo tidak kemari?” tanyanya.


”Kakak dan kakak ipar mu sedang istirahat. Mungkin tidak akan datang.” jawab Sarmi.


”Papa, kakak ipar Johansyah langsung ke aula saja. Di sana ada papa Alimin.”


”Hum.” Johan dan Johansyah pergi ke aula yang di tunjuk Hardin.


”Mama, Mama Biah, mama Nesa menunggu Mama dan Mama Biah di sana. Mama dan Mama Biah langsung temui mama Nesa saja. Hardin ingin bergabung dengan mereka, ingin mengaji.” tutur Hardin.


”Iya. Pergilah.”


Hardin pergi ke aula. Sarmi dan Biah pergi menemui Nesa.


”Maaf, kami baru datang.” ucap Sarmi, setelah dia dan Biah duduk bersama Nesa dan yang lainnya.


”Tidak apa-apa. Di mana Syakila?”


”Syakila sedang istirahat. Aku sengaja membiarkan dia beristirahat.” jawab Sarmi.


Nesa mengangguk mengerti.

__ADS_1


Acara haul sedang berlangsung. Hardin, Johan, Johansyah dan Alimin ikut mengaji bersama dengan yang lain.


.. ..


Di kamar Syakila, kediaman Sarmi.


Geo terbangun. Dia tersenyum melihat wajah Syakila yang masih tidur. Dia melirik jam, pukul 16 : 20. Dia tersadar jika sore ini adalah haul ketiga harinya Sardin.


”Asya, sayang. Ayo, bangun. Sudah sore. Asya..bangun.” Geo membangunkan Syakila.


Syakila membuka matanya, ”Geo.” panggilnya.


”Hum. Ayo, bangun. Ini sudah sore, kita pergi ke rumahnya Alimin, yuk.” ajak Geo.


”Ada acara apa di sana? Bukan kah kakak Sardin masih dalam perawatan? Atau apa dia sudah keluar dari rumah sakit, sudah sembuh?” Syakila bertanya tanpa sadar.


Geo menggeleng kepala, ”Nyawamu belum terkumpul semua. Jadi, ucapan mu ngawur. Sini, aku kembalikan lagi nyawa mu.”


Geo mencium bibir Syakila, **********, dan melepaskannya, ”Hari ini adalah hari haulnya Sardin yang ke tiga. Sardin sudah meninggal kita. Dia sudah tenang berada di alam lain.” ucapnya. Dia kembali mencium bibir Syakila.


Syakila menghela nafas. Mengapa aku selalu berimajinasi Sardin sedang dalam perawatan? Apakah karena malam sebelum kami menikah, dia berjanji akan melakukan perawatan, makanya di pikiran ku dia dalam perawatan? benak Syakila.


”Sudah, jangan melamun. Ayo mandi bersama, biar cepat. Kita pasti sudah terlambat.” ucap Geo.


Syakila menurut. Dia kadang merasa aneh sendiri pada dirinya. Di saat sekarang dia menjadi istri dari seorang Geovani Albert lagi, dia sudah jadi penurut pada ucapan pria itu. Apakah karena ijab kabul dalam pernikahan yang sekarang ini benar-benar sah dan dirahmati Allah?


Mereka benar-benar melakukan ritual mandi bersama. Setelah selesai mandi, mereka bergantian. Mereka telah bersiap.


”Apa kamu tahu di mana kunci motor Hardin di simpan?”


”Iya. Di kamarnya. Tunggu, aku ambilkan.” Syakila pergi ke kamarnya Hardin. Dia mengambil kunci motor Hardin dari dalam laci.


Dia kembali ke suaminya yang ada di depan rumah. ”Ini kunci motornya.” Syakila memberikannya pada Geo.


Geo mengambilnya. Dia menyalakan mesin motor, memanaskan mesinnya sebelum dia akan mengendarai motor tersebut.


Dia memakai helm dan memberikan helm pada Syakila. ”Ayo kita berangkat sekarang.”


Syakila mengangguk.


Geo dan Syakila naik ke atas motor.


”Pegang yang erat. Aku mengendarai motor berbeda dengan saat mengendarai mobil.” ungkap Geo.


”Kamu akan mengebut?”


”Mungkin!”


”Pergilah sendiri. Aku naik taksi saja.” Syakila ingin turun dari motor.


Geo mencegahnya. ”Aku bercanda.” Dia mengambil kedua tangan Syakila dan melingkarkan ke perutnya.


Syakila terdiam. Dia membiarkan tangannya memeluk Geo. Geo mulai menjalankan motornya.


Dalam posisi sekarang. Syakila terkenang pada Sardin. Tidak ingin tenggelam dalam lamunan. Syakila mengeratkan pelukannya pada Geo.


Apakah dia teringat lagi pada Sardin, hingga memeluk ku dengan erat? Iya, kamu harus seperti itu Syakila. Di saat kamu memikirkan Sardin, mengenang Sardin, ingatlah selalu aku, Geo suami mu untuk mengalihkan perhatian mu. benak Geo.


”Kenapa? Takut jatuh?” tanya Geo.


”Tidak, aku hanya ingin memeluk punggung mu yang kekar ini.” jawab Syakila.


Geo tersenyum. Kini mereka telah sampai di kediaman Alimin.


.. ..


Kediaman Alimin.


”Sepertinya kita memang terlambat. Mereka sedang membaca doa sekarang.” ucap Geo.


”Memangnya jika tidak datang terlambat, kamu akan bergabung untuk mengaji?”


”Iya, tentu saja! Kamu tidak menyangka aku bisa ngaji kan? Ayo turun.”


Syakila turun dari motor. Geo juga turun. Mereka melepas helm dan menaruh helmnya di atas motor.


”Mama dan bibi Biah ada di sana. Kita ke sana saja.” ajak Geo.


Syakila mengangguk. Mereka pergi menghampiri para ibu-ibu.


”Maaf, Mama, Syakila datangnya terlambat.” ucap Syakila.


”Tidak apa-apa, sayang. Mama senang dengan hadir mu.” sahut Nesa.


”Mama Nesa, kita sudah selesai baca doanya.” ucap Hardin, memberitahu. ”Eh, kakak, kakak ipar Geo, kapan datangnya?” sapa nya saat melihat kedua kakaknya itu.


”Mereka baru saja datang. Ajaklah Geo bersamamu ke aula.”


”Iya. Kakak ipar, ayo kita kumpul di sana.” ajak Hardin.


Geo mengangguk. Dia dan Hardin pergi ke aula.


”Syakila, Nesa, Biah, Sarmi, para ibu-ibu. Saatnya kita sajikan makanan untuk mereka. Sekalian kita juga makan.” ucap Nesa.


”Iya.”


Mereka pun mengangkat makanan yang sudah di siapkan ke aula untuk menjamu para tamu-tamu yang datang hadiri haul Sardin.

__ADS_1


Setelah menyiapkan makanan untuk orang-orang di aula, mereka menyiapkan makanan untuk mereka sendiri. Mereka semua sedang makan.


__ADS_2