Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 30


__ADS_3

Lama Syakila menemani adiknya bermain, sampai mereka tertidur dengan memegang mainannya.


Syakila membiarkan adiknya tidur dengan memegang mainan. Ia melihat mama dan neneknya masih tertidur.


Syakila pergi memasak makanan seadanya untuk makan malam mereka. Setelah itu Syakila pergi mandi dan dia memakai baju baru oleh-oleh dari papanya. Syakila sangat senang memakai pakaian itu.


Setelah selesai Syakila pergi ke kebun bunganya. Ia menghirup aroma dari bunga mawar dan melati bergantian. Sambil memperhatikan bunga, Syakila kembali teringat dengan kata-kata Anton saat ia bertanya tentang papanya.


"Papamu di sana bekerja dengan keras, untuk bisa menghidupi keluarga kalian."


"Om, berharap suatu saat papamu bisa menjadi orang yang sukses."


"Om belum pernah melihat papamu berteman dengan cewek."


"Kamu mengkhawatirkan papamu? Kamu tidak percaya dengan papamu sendiri?"


"Jangan dengar kan kata orang, papamu sangat menyayangi mamamu juga menyayangi kamu dan adikmu."


"Kamu mau jalan-jalan ke kota A?"


"Kamu pasti akan kesana, mamamu, kakakmu, adikmu, kalian akan pergi ke kota."


Aku percaya dengan papa, aku hanya memastikan saja, ucapan temanku itu salah. Aku mau jalan-jalan kesana dan ingin lihat sebesar apa kota itu. Tapi mungkinkah aku, mama, kakak, adik, bisa pergi kesana seperti yang Om bilang?


batin Syakila.


Bagaimana kabarnya kak Sardin yah. Apa dia sudah melupakan aku.


"Eh, kenapa kak Sardin masuk dalam pikiranku?" Syakila bingung pada dirinya. Yang tiba-tiba memikirkan Sardin.


Syakila meraba lehernya, ia memegang kalung yang bertengger indah di lehernya. "Mungkin kakak lagi memikirkan aku." Syakila tersenyum sendiri dengan argumennya.


"Kakak, Kila tidak tahu di sana kakak punya teman cewek yang dekat seperti Kila dekat dengan kakak. Tapi Kila disini tidak akan dekat dengan teman cowok seperti kakak yang dekat dengan Kila."


Ketika sang senja bersinar menghiasi langit biru, Syakila beranjak dari taman bunganya dan turun kembali ke bawah.


Saat sampai di bawah Syakila melihat mamanya sedang menyalakan api. Syakila mendekati mamanya dan duduk di samping mamanya.


"Mama, Mama mau masak?"


"Iya, Mama mau masak sayur bening yang sudah kamu potong itu. Tapi sebelumnya Mama menghangatkan diri dulu. Suasananya sangat dingin." sahut Sarmi menjelaskan.


"Iya suasananya dingin." sahut Syakila. "Mama, om tadi bilang Syakila, Mama, kakak, dan adik bisa pergi ke kota A. Memangnya bisa Mah?"


Sarmi tersenyum. Ia mengelus kepala Syakila, "Kenapa tidak bisa? Om mu itu benar, tapi tidak sekarang. Nanti tunggu papa datang jemput kita." Sarmi menjelaskan. "Kamu mau kesana?"


"Iya Mah, Syakila mau kesana. Syakila mau bantu papa cari uang. Katanya om, papa bekerja keras disana." jawab Syakila dengan raut wajah sedihnya membayangkan papanya yang sangat capek karena bekerja dengan keras.


Sarmi tersenyum dengan jawaban polos anaknya keduanya itu. Entahlah mengapa di antara ke enam anaknya Syakila lah yang memiliki sifat seperti ini. Sarmi kadang khawatir dan juga bersyukur dengan sifat yang ada pada Syakila.


"Sebaiknya kamu bangunkan adik-adik mu, dan ajak mereka untuk mandi sebelum malam datang." perintah Sarmi.

__ADS_1


"Iya Mah," sahutnya. Syakila naik ke rumah dan membangunkan adiknya. Ia membantu melepas pakaian yang dikenakannya, lalu menyuruh mereka mandi. Sedangkan nenek ia sudah selesai berganti pakaian.


"Nenek, bajunya bagus." puji Syakila. Sang nenek hanya tersenyum menanggapi. "Mamamu di bawah?" tanya nenek.


"Iya Nek, mama di bawah. Lagi menghangatkan diri, Syakila temani adik mandi dulu, Nek." izinnya.


"Iya," sang nenek menyahut. Lalu ia turun ke bawah menemui Sarmi, anaknya. Sedangkan Syakila ia menemani dan memandikan adiknya yang belum selesai mandi. Setelah selesai mandi Syakila membantu memakaikan baju untuk mereka, baju baru oleh-oleh dari sang papa.


Setelah selesai ia mengajak adiknya untuk ke bawah, bergabung dengan mama dan neneknya.


"Mama! Nenek!" teriak mereka sambil berlari kecil menghampiri mama dan neneknya.


"Eh, anak Mama dan cucu Nenek ternyata sudah pada mandi." Sarmi mengendus aroma mereka, "Hum pada wangi semua." puji Sarmi.


Mereka duduk dalam perapian menghangatkan diri. Dalam kesempatan itu Sarmi membicarakan tentang surat Halim yang akan mengajak mereka ke kota A kepada ibunya.


"Bu, ada yang ingin Sarmi bicarakan." ucap Sarmi memulai percakapan.


"Tentang apa Nak?"


"Bu, mas Halim ingin membawa kami semua ke kota, untuk tinggal bersama-sama. Jika mas Halim menjemput kami, apa Ibu mau ikut bersamaku ke sana?" ajak Sarmi


"Alhamdulillah, kalau Halim akan mengajak kalian tinggal bersama di sana. Tapi ibu tidak bisa ikut dengan kalian, ibu akan tetap disini menjaga kebun." tolak ibu dengan halus.


"Jangan Bu! Tidak ada yang temani ibu nanti di kebun. Ibu ikut Sarmi ke kota, kalau tidak ibu tinggal sama Mila saja." Sarmi mengusulkan.


"Terima kasih, kamu mau ajak ibu ke kota, tapi ibu akan tetap di sini, menjaga kebun. Jangan risaukan Ibu, masih ada tetangga tetangga kebun yang akan menengok ibu nanti." ucap si ibu. Ia bersikeras untuk tinggal di kebun.


Sedangkan Syakila ia sudah menyiapkan makanan di gode-gode. Tinggal menunggu sayur masak baru mereka makan.


Setelah sayur masak, mereka segera makan malam. Mereka makan dalam hening menikmati nikmatnya makanan yang seadanya. Setelah selesai makan mereka duduk bersantai di gode-gode. Syakila sangat menikmati kebersamaan bersama adik dan mamanya, yang jarang ia nikmati.


Dirasa cukup lama mereka berdua santai, Sarmi menyuruh Syakila mengajak adiknya untuk tidur.


Syakila menurut, ia mengajak adiknya ke rumah untuk segera beristirahat. Kini tinggal Sarmi dan ibunya di gode gode.


"Kapan rencana Halim menjemput kalian?"


"Insya Allah Bu, kalau tidak ada halangan tiga bulan mendatang mas Halim datang menjemput." jawab Sarmi. "Mengapa ibu tidak mau ikut kami ke kota?" tanyanya kemudian pada ibunya.


"Ibu hanya senang saja tinggal disini. Ibu juga pernah merantau dan Ibu dulu merantau nya di kota D, lama ibu di sana. Jadi, ibu tidak ingin merasakan lagi kehidupan di rantau." jawab sang ibu memberi alasan.


"Kok Sarmi gak tau ya kalau ibu pernah merantau?" Sarmi bertanya dalam kebingungan.


"Karena, umurmu dulu baru tiga tahun, ibu sudah pulang dan tinggal di kampung bersama ayahmu setelah ayahmu membangun rumah." jawab sang ibu menjelaskan. "Sekarang, kita masuk tidur. Ini sepertinya sudah larut malam." ajak si ibu.


Akhirnya mereka menyusul anak-anak untuk istirahat.


.. ..


Karena malam ini malam Minggu, Halim mengajak Denis untuk pergi ke Club. Bukan tanpa alasan, Halim di ajak oleh Samnia bertemu di sana. Dan Halim mengambil kesempatan ini untuk mendekatkan Samnia dan Denis.

__ADS_1


"Denis, ikut Abang ke Club ya, mau?" ajak Halim


"Wes, Abang! Denis tidak salah dengar kah Bang? Tumbenan Abang ajak Denis kesana, bukannya Abang tidak suka tempat-tempat seperti itu?" sahut Denis.


"Kapan Abang bilang kalau Abang tidak menyukai tempat seperti itu? Lagian Abang kesana ada tujuan kok!"


Denis penasaran, "Abang punya tujuan? Ingin mencari tahu tentang seseorang lagi?" tanyanya.


"Hum, mau ikut Abang tidak?" tanya Halim lagi.


"Tidaklah, Denis di rumah aja, Abang pergi saja sendiri." sahut Denis santai.


"Benar tidak mau ikut? Rugi loh kalau kamu gak mau ikut!" Halim membujuk Denis.


"Tidak Bang, Denis tidak ikut." kekeh Denis.


"Baiklah kalau begitu. Abang pergi dulu menemui S-" ucapan Halim di sanggah langsung oleh Denis yang mengira Halim masih ingin membujuknya untuk ikut.


"Pergi sajalah Bang. Jangan bujuk bujuk Denis. Denis tetap tidak akan ikut." ucapnya tegas.


"Ok, Abang pergi dulu, kasihan Samnia sudah lama menunggu Abang di Club." ucap Halim sambil membuka pintu rumah.


Sontak ucapan Halim membuat Denis terbelalak. Denis segera bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Halim.


"Bang, tunggu! Denis ikut." ucap Denis seketika.


Halim tidak ingin menyiakan waktu ini, untuk tidak menggoda Denis.


"Tidak, kamu tidak boleh ikut Abang." sahut Halim.


"Abang, jangan begitu Bang. Kasihanilah Denis." ucap Denis memelas.


"Tidak!" kekeh Halim sambil berjalan ke jalan raya menunggu taksi yang akan lewat. Saat Halim melihat sebuah taksi ia pun menghentikan taksi tersebut.


"Taksi!" ucapnya sambil mengangkat tangannya.


Taksi berhenti. Halim membuka pintu mobilnya tapi Denis segera menarik lengan Halim. "Bang, biarkan Denis ikut yah?" ucapnya dengan tampang yang di buat menyedihkan.


Halim mengabaikan Denis, ia masuk ke dalam mobil, ia melihat Denis yang masih memegang daun pintu mobil, "Masuk lah!" ucapnya.


Denis menyunggingkan senyumnya saat mendengar ucapan Halim. "Dengan senang hati!" sahut Denis. Ia segera masuk dan menutup pintu mobilnya.


"Jalan Bang! Antar kami ke Club yah, Bang." pinta Halim pada sang supir. "Baik Mas!" sahut si supir.


"Bang, benaran Samnia yang mengajak Abang ketemuan di Club?" Denis bertanya penasaran.


"Hum, rencana Abang akan menolaknya. Tapi Abang berpikir untuk mendekatkan kamu dengan dia. Jadi Abang ingin mengambil kesempatan ini. Tapi ingat! Abang hanya membantu saja, urusan di terima atau tidaknya kamu, bukan urusan Abang. Ok?" ucap Halim menjawab pertanyaan Denis.


"Ok, Bang!" sahut Denis.


Kini tidak ada pembahasan lagi di antara mereka.

__ADS_1


Masing-masing tenggelam pada pikirannya, menemani perjalanan mereka ke Club.


__ADS_2