Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 137


__ADS_3

Di rumah sakit kota S, ruang rawat inap Sardin.


Nita membalas memandang Sardin dengan tersenyum mesra. Sardin membalikkan mukanya, ia malas melihat senyuman wanita itu. Wanita yang pernah membuatnya kerepotan sewaktu SMA dulu.


”Kamu sudah selesai makan, juga sudah minum obat. Sebelum istrahat, bicaralah dulu dengan teman mu, Mama dan papa tidak akan menggangu pembicaraan kalian. Mama dan papa pergi keluar dulu, mencari angin segar.” ucap Nesa.


Sardin terdiam. Nesa mendekati Sardin, ia berbisik padanya, ”Jangan keras padanya, Mama menyukai wanita ini. Mama harap, kamu bisa menjaga sikap mu. Mama percaya padamu, jangan kecewakan mama.”


Nesa tersenyum melihat Sardin setelah ia berbisik. Sardin masih terdiam, keningnya berkerut, ia nampak bingung. Nesa berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati suaminya.


”Pa, temani Mama keluar sebentar.”


Papa Sardin menurut, ia berdiri di samping istrinya.


”Nita, Tante titip Sardin, berbicaralah dengannya. Tante dan Om keluar dulu.” ucap Nesa pada Nita.


Nita tersenyum, ”Iya, Tante. Tante jangan khawatir, Nita akan menjaga Sardin.” ucapnya lembut.


Nesa dan suaminya keluar dari ruangan. Nita berjalan ke arah Sardin, ia duduk di kursi di hadapan Sardin.


”Untuk apa kamu datang kesini?” tanya Sardin dengan ketus, tanpa melihat lawan bicaranya.


”Sikap mu gak berubah sama sekali terhadap ku, Sardin. Tapi, aku suka itu. Ka...”


”Jika tidak ada hal penting yang ingin di bicarakan, keluarlah! Aku ingin istrahat!” pangkas Sardin dengan ketus.


Nita tetap di tempatnya, ia tersenyum kecil, ”Sardin, aku bukan Nita yang dulu lagi. Dulu, aku takut-takut dengan mu. Jika kamu sudah menggertak ku, aku langsung pergi dari mu. Sekarang, itu sudah tidak mempan untuk ku lagi, Sardin. Aku datang kesini untuk bertemu dengan mu dan membuat mu menjadi milikku.”


Sardin tersenyum mengejek, keningnya masih mengerut, pandangannya tajam melihat lantai.


”Jangan mimpi! Aku tidak tertarik padamu!” ucapnya.


Nita tersenyum simpel, ”Sardin, kamu suka atau tidak, orang tuamu sendirilah yang memintaku untuk menjadi anak mantu mereka. Terutama mama mu, dia tahu aku begitu mencintai mu dari sewaktu kita masih di sekolah yang sama. Kamu tahu sendiri kan, jika mama mu menyukai ku?”


”Kamu sengaja mendatangi orang tuaku dan meminta hal itu kan? Ku katakan sekali lagi, kamu jangan bermimpi untuk bisa menjadi istriku! Lebih baik, kamu pergilah sekarang!” tegas Sardin, ia masih enggan melihat wajah lawan bicaranya itu.


”Aku memang sengaja mendatangi orang tuamu di mall. Tapi, mama mu sendirilah yang memintaku untuk menjadi anak mantunya. Aku, yang masih mencintai mu, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini.”


Nita menjeda ucapannya. Ia meraih wajah Sardin agar melihatnya, sejak berbicara dengannya, Sardin enggan sekali melihat dirinya. Sardin mengikut tarikan tangan Nita, ia melihat Nita dengan tajam. Ia melepaskan tangan Nita dari wajahnya dengan kasar.


Nita tersenyum kecil dengan sikap Sardin, ”Kamu suka atau tidak, setuju atau tidak, kamu tidak bisa menolak keinginan orang tuamu, Sardin. Aku akan tetap menjadi istrimu, dan kamu akan menjadi suami ku.”


”Bermimpi lah sesukamu!! Pergilah dari ruangan ku, sekarang!!” ucap Sardin dengan marah memandang Nita. Di setiap ucapannya penuh dengan penekanan.


Nita tidak ambil pusing dengan sikap yang di tunjukan Sardin padanya, ia berdiri dari duduknya dengan tersenyum.


”Aku akan keluar. Kamu tidak perlu berbicara kasar dan melihat dengan tatapan seperti itu padaku, pada calon istri mu sendiri. Mulai sekarang, bersikap lembut lah padaku.”


Ia mencium pipi Sardin dengan tiba-tiba, Sardin terkejut.


”Aku pergi!” ucapnya, lalu ia keluar dari ruangan Sardin, tanpa melihat semarah apa sekarang pria yang telah ia cium itu.


Sardin menghapus kasar bekas ciuman Nita di pipinya. ”Brengsek! Mimpi saja untuk bisa jadi istri ku!” gumamnya.


Ceklek! Sardin menoleh melihat ke arah pintu yang terbuka. Ia memasang wajah kesal melihat orang tuanya yang masuk kedalam ruangan.


”Kenapa? Kenapa muka mu kesal dan cemberut begitu? Apa karena Nita telah pulang dan kamu tidak senang?” tanya Nesa sembari tersenyum. Ia duduk di atas ranjang berhadapan dengan Sardin.


”Ma, belum puas kah Mama mencarikan Sardin jodoh? Apa putra Mama ini begitu jelek? Hingga Mama harus ikut tangan mencarikan pasangan untuk Sardin?” Sardin menjawab pertanyaan mamanya dengan pertanyaan.


”Sayang, bukankah kamu dan Nita pernah dekat? Jika Nita tidak pindah sekolah, mungkin kalian sudah menikah sekarang dan m...”


”Mama, Nita dan Sardin tidak sedekat itu! Sardin tidak menyukainya! Apa Mama tahu kenapa dia pindah sekolah saat itu?” ucap Sardin dengan serius memangkas ucapan Nesa, mamanya.


”Mama tahu, itu karena ayahnya di pindah tugaskan di kota M, makanya dia juga ikut pindah sekolah. Dia gadis yang baik, Sardin. Bukalah hati mu untuk dia. Dia mencintai mu, cobalah terima cintanya.”


Sardin menggelengkan kepala.

__ADS_1


”Mama mu benar, Sardin.” sahut papa Sardin, ia duduk di samping putranya. Ia merangkul bahu putranya tersebut, ”Papa dan Mama ingin melihat kamu menikah. Kamu dan Nita bukankah pernah berpacaran sebelumnya? Penuhilah keinginan kami.”


”Ma, Pa, kalian sudah salah paham dengan hubungan kami dulu! Jangan dengarkan ucapan dia! Dia pindah sekolah karena a...”


”Sardin, kamu anak Mama dan Papa satu-satunya. Apakah sulit bagi kami berdua untuk melihat mu menikah dan hidup bahagia?” ucap Nesa memangkas ucapan Sardin.


Sardin terdiam, ia membuka rangkulan tangan bapaknya dari bahunya. Ia tidak tahu lagi harus bicara apa kepada orang tuanya ini. Benar, dia adalah anak semata wayang dari pasangan tersebut. Haruskah ia menyakiti hati kedua orang tuanya?


Ia menghela nafas, ”Ma, Pa, Sardin ingin istrahat.” ia berbaring setelah mengucapkan itu.


Ia memejamkan mata. Papa dan mamanya sama-sama menghela nafas saat saling memandang. Mereka berdua tahu, anaknya itu tidak ingin memenuhi keinginan mereka, meskipun anaknya itu tidak mengatakan apapun.


Tapi, jika mereka berdua tidak ikut tangan mencarikan jodoh buat Sardin, maka, anaknya itu akan tetap hidup sendirian. Cinta anaknya hanyalah buat Syakila seorang, sedangkan Syakila, wanita itu telah menjadi istri dari pria lain.


Mereka berdua berdiri dari ranjang Sardin, membiarkan Sardin beristirahat. Mereka berdua keluar dari ruangan dan duduk di bangku depan ruangan tersebut.


”Bagaimana ini, Pa? Sardin menolak Nita tanpa mempertimbangkannya dulu.” ucap Nesa dengan sedih, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


”Sudahlah, Ma. Berikan waktu untuk Sardin berfikir.”


”Tapi Pa, usianya Sardin sudah pas untuk menikah, dia anak kita satu-satunya, Mama ingin melihat dia menikah dan hidup bahagia, Pa.”


”Iya, Papa tahu, keinginan Mama ini sama dengan keinginan Papa. Tapi, Sardin baru saja sembuh dari sakitnya, menurut Papa, kita bicarakan ini bukan di waktu yang tepat. Jadi, biarkan Sardin untuk berfikir dulu.”


Nesa terdiam. Ia berpikir, benar apa yang di katakan suaminya, Sardin baru saja sembuh. Dan membicarakan pernikahan dengannya sangat terburu-buru, sebaiknya memang harus memberikan waktu berfikir untuk anak semata wayangnya itu.


”Papa benar, baiklah, untuk sementara Mama tidak akan membahas soal pernikahan dengan Sardin.”


Alimin memeluk Nesa, ”Iya, itu lebih baik. Jangan sampai peristiwa dulu terulang kembali. Mama sangat tahu kan bagaimana sifat anak mu itu?”


Nesa mengangguk dalam rangkulan tangan suaminya, ”Iya, Pa.”


”Jadi, biarkan ia tenang dulu. Setelah keluar dari rumah sakit, setelah dia tenang, baru kita mulai membahas pernikahan dengannya.”


Nesa kembali mengangguk.


Di villa Geo, kota S.


Seva tersadar dari pingsannya. Ia menggerakkan badannya, badannya terasa sakit semua. Ia terbatuk-batuk sambil melihat sekitarnya.


”Ah, kepalaku pusing sekali! Badan ku...terasa sakit semua.” keluhnya saat ia berusaha untuk bangun dan berdiri.


Ia melihat satu rekannya yang sudah meninggal, terbaring di lantai dengan darah yang mengalir keluar begitu banyak dari kepala. Ia melihat dua rekan lainnya.


”Apakah mereka juga sudah meninggal?” gumamnya. Ia tidak melihat darah di lantai tempat mereka terbaring, tapi, di sekujur tubuhnya terdapat luka memar.


Ia melihat Antonio yang terbaring di lantai tidak jauh dari dua rekannya tersebut.


”Tuan! Ah, Tuan...Tuan...!” panggilnya.


Ia memaksa dirinya untuk bangun, badannya benar-benar terasa sakit semua. Ia berhasil bangun dan berdiri, ia berjalan dengan pelan-pelan. Ia duduk di samping tubuh Antonio, tuannya itu.


”Tuan! Tuan...apa Tuan bisa mendengar ku? Tuan...bangunlah!” ucapnya membangunkan Antonio sambil menepuk wajahnya.


Ia mengambil tangan Antonio meraba nadinya.


”Masih ada detak jantungnya, meski lemah. Tuan..Tuan, bangunlah Tuan....Sadarlah Tuan!” sekali lagi ia mencoba membangunkan Antonio dengan menggoyangkan badannya.


Namun, pria itu belum juga sadarkan diri, kedua rekan Seva yang pingsan kini tersadar saat mendengar suara Seva yang mencoba membangunkan Antonio.


”Ugh! Argh!” jerit kedua pria itu saat mencoba menggerakkan anggota badannya.


Seva menoleh melihat ke arah mereka berdua. Ia tersenyum senang melihat rekannya masih ada yang hidup.


”Kalian berdua masih hidup? Baguslah! Ayo kemari, bantu aku mengangkat tubuh tuan. Kita harus membawa tuan ke rumah sakit.”


”Seva, tangan kiri ku tidak bisa di gerakkan!”

__ADS_1


”Seva, kaki kiri ku juga tidak bisa di gerakkan!”


”Sepertinya kaki ku patah!”


”Sepertinya tangan ku patah!”


ucap kedua pria itu bersamaan. Seva terdiam melihat kedua rekannya yang tidak seberuntung dirinya.


Ia menghela nafas, ia mendatangi rekannya yang tangan kirinya patah, ia membantunya berdiri. Kemudian, ia membantu rekannya yang patah kakinya untuk berdiri. Ia memapah pria itu ke rekannya yang satu.


”Kamu papah dia pakai tangan kananmu, kamu bisa kan? Kita harus segera keluar dari sini!” ucapnya.


”Iya,” sahut rekannya itu. Ia menyambut temannya yang di papah Seva, merangkulnya memakai tangan kanannya.


”Kamu keluarlah! Perhatikan langkah mu, pergilah ke mobil tuan, tunggu aku di sana!” ucap Seva.


"Baik!"


Ia pergi, keluar dari kamar Geo dengan pelan-pelan sambil memapah temannya. Meskipun ia merasa sakit di sekujur tubuhnya, tapi, ia harus keluar dari villa Geo bersama temannya itu dengan selamat.


Seva menghampiri Antonio, ia membantu Antonio berdiri dengan sekuat tenaganya. Ia memapah tubuh tidak berdaya Antonio keluar dari kamar Geo.


Rekan Seva tiba di mobil Antonio yang berada di belakang villa.


”Buka mobilnya,” titahnya pada temannya yang di papahnya itu. Temannya itu membuka pintu mobil. Mereka masuk ke dalam mobil dengan pelan dan hati-hati, mereka menunggu Seva di sana.


Tidak berselang lama, Seva datang sambil memapah tubuh Antonio yang tidak berdaya. Ia membuka pintu mobil depan, mendudukkan Antonio di sana, ia memasang sabuk pengaman untuk menahan tubuh lemah Antonio.


Setelah memastikan tubuh tuannya itu aman, ia pun masuk ke dalam mobil. Ia yang mengendarai mobil tersebut.


Boom!! Dhuark!!


Baru beberapa meter mobil menjauh dari villa Geo, Seva dan rekannya mendengar suara ledakan. Seva menghentikan mobilnya, mereka menengok, melihat ke villa Geo.


Mereka semua terkejut melihat villa Geo yang berdiri dengan bagus itu kini meledak dan terbakar dengan cepat, seperti villa itu telah di siram oleh bensin dan minyak tanah, api menjalar dengan begitu cepat melahap villa tersebut.


Mereka semua menelan salivanya,


Jika saja terlambat lima menit keluar dari sana, apakah tubuh ku akan hangus terbakar seperti mayat-mayat teman kami yang ada di sana?


Benak mereka bertiga. Seva menghidupkan kembali mesin mobilnya, ia menjalankan mobil tersebut dengan memikirkan sesuatu.


Ia teringat sebelum ia di buat pingsan oleh anak buah Geo, ia mendengar perkataan Geo yang menyuruh anak buahnya untuk membakar villanya sendiri.


Apakah Geo menunggu kami keluar dari sana baru dia membakar villanya? Itu artinya, dia masih peduli dengan Antonio. Dendam di antara kedua orang tua mereka, mengakibatkan anak-anaknya berseturu. Seharusnya dendam di antara mereka sudah impas. Kematian ibunya Antonio karena mamanya Geo, kematian ayahnya Geo karena Antonio. Jika permasalahan ini tidak terselesaikan, maka generasi berikutnya juga akan tetap saling bermusuhan. Lalu, bagaimana dengan Beni dan Marlina? Apakah mereka juga ikut membalaskan dendam atas kematian mama mereka kepada Geo?


Seva menghentikan mobil di parkiran rumah sakit.


”Turunlah, kita berobat di sini.” ucapnya kepada kedua rekannya itu. Kedua rekannya mengangguk. Mereka semua turun dari mobil, dengan saling memapah seperti awal mereka masuk ke mobil dari villa Geo.


Sesampainya di dalam rumah sakit, mereka di sambut oleh suster yang ada di sana. suster tersebut memanggil beberapa rekannya untuk membantu dan merawat mereka yang terluka.


Kini, mereka telah di tangani oleh dokter-dokter yang bekerja di rumah sakit itu, mereka di rawat di ruangan yang berbeda-beda. Terutama Antonio, untuk sementara ia masih berada di ruangan UGD.


.. .. ..


Di kota A, di apartemen Geo.


”Hah, aku sudah bosan disini. Pertama Antonio yang menghilang, sekarang Marlina yang tiba-tiba pergi tanpa memberitahu ku.”


”Nomor mereka berdua juga tidak ada yang terhubung. Apa aku harus menunggu Geo disini?”


Dawiyah sangat kesal pada dirinya sendiri. Telah seminggu ia menunggu Geo di apartemennya, namun, pria yang di tunggu juga belum datang. Antonio, kekasihnya juga itu tidak ada kabar dan tidak mendatanginya. Marlina, yang merupakan teman sekaligus calon adik iparnya juga entah kemana.


”Sudahlah, lebih baik sekarang keluar cari makan. Setelah itu, pergi bersenang-senang. Sudah lama tidak berkunjung di club paman Antonio.”


Dawiyah beranjak berdiri, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, ia berpakaian seksi dan pergi keluar.

__ADS_1


__ADS_2