
Sudah lima hari lima malam Syakila berada di rumah sakit. Tetapi, wanita itu belum juga sadarkan diri.
Sardin meminta izin pada papanya untuk beberapa hari lagi tinggal di kota A. Dia beralasan kepalanya mendadak sakit saat ia sudah berada di bandara. Dan akhirnya ia menunda keberangkatannya dan kembali pulang ke rumah Anton.
Alimin dan Nesa menyetujui usulan anaknya itu. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Sardin di saat berada di dalam pesawat, apalagi sedang mengudara. Siapa yang akan melihat anaknya nanti, jika terjadi sesuatu padanya di dalam pesawat? Jika di rumah Anton, masih ada paman dan bibinya yang memperhatikan anaknya, jika sakit kepalanya kambuh.
Selama dua hari Sardin tidak turun dari ranjang. Samnia, Serlina dan Denis juga Anton, selalu mengawasinya. Hingga sakit di kepalanya tidak ia rasakan lagi, baru mereka semua mengizinkan Sardin untuk beranjak dari ranjangnya.
Dan di saat sudah bisa meninggalkan ranjangnya, Samnia dan Denis juga Anton malah membawa Sardin pulang ke rumah. Mereka belum mengizinkan Sardin untuk melihat Syakila.
Sudah dua hari berturut-turut Rosalina, Anton, Denis, samnia, Serlina dan Geo membujuk Syakila agar dia sadar, tetapi, semua yang mereka lakukan, nihil hasilnya. Serasa percuma. Sedikit pun tidak ada reaksi yang di tunjukkan oleh Syakila.
Hal itu membuat Geo bersedih hati.
Kamu hanya menginginkan Sardin saja yang bisa membangunkan mu, Syakila? Apa kamu gak bisa mendengar panggilan ku? Aku begitu terlalu buruknya kah di matamu? Hingga dalam mimpi mu pun kamu tidak ingin melihat dan mendengar suaraku? Apakah aku tidak pernah masuk sama sekali ke dalam mimpi mu? Meski hanya sekedar bayangan ku saja? benak Geo.
Surat yang telah ia tanda tangani telah dikirim oleh Beni ke kota S, dengan tujuan rumah Sarmi. Ia ingin Sarmi tahu jika pernikahannya dengan anaknya adalah palsu. Mereka tidak resmi menjadi suami istri.
Ia juga menambahkan, jika Syakila sudah ia lepas. Dan Syakila akan tinggal di rumah pamannya, Anton.
Geo juga menambahkan pernyataan, jika dia bersama Syakila selama ini, tidak pernah melakukan hubungan fisik seperti pasangan suami istri pada umumnya. Syakila masih suci.
Geo juga menyatakan pernyataannya kepada Anton, Denis, Serlina, Samnia dan Sardin tentang berakhirnya hubungan pernikahan palsu mereka.
Mereka semua menghormati keputusan yang sudah diputuskan oleh Geo tanpa bertanya dan membantah perkataan Geo.
Mereka tahu Geo mencoba berbesar hati melepas Syakila dan menganggap Syakila teman biasa. Mereka semua tahu sebenarnya berat untuk Geo melakukan hal itu. Tetapi, Geo tetap melakukannya, melawan egonya, melepas Syakila untuk kebahagiaan Syakila.
Pak Sudarso pun di panggil kembali dalam pekerjaannya. Sehari setelah Geo memberikan titah pada pak menteri agama untuk memperkerjakan lagi pak Sudarso.
Pak menteri agama pun mengerti hal yang terjadi pada pernikahan Geo dan Syakila dari penjelasan pak Sudarso.
Karena desakan Geo pada pengacaranya yang ia kirim untuk Sarmi dan menambahkan lagi satu pengacara handal untuk mengatasi masalah Hardin, kini Hardin sudah bebas tinggal di rumah.
Namanya dan nama keluarganya pun telah di bersihkan saat mengadakan konferensi pers yang di undang langsung oleh stasiun televisi milik Sardin. Tentu saja, atas inisiatif dari Sardin sendiri. Si pemilik siaran televisi tersebut.
Permasalahan yang menimpa Hardin pun telah kelar. Dan perempuan yang menjebak Hardin, di masukkan ke dalam penjara dan keluarga dari pihak perempuan membayar denda kepada keluarga Sarmi.
Sarmi sangat bersyukur atas bantuan yang di berikan oleh Geo dan Sardin. Berkat mereka, kehidupan yang mereka jalani berjalan seperti biasanya lagi.
Mereka tidak dikucilkan lagi oleh masyarakat setempat. Justru berbanding terbalik pada keluarga pihak perempuan. Mereka sungguh mendapatkan hinaan demi hinaan dari masyarakat.
Meskipun begitu, Sarmi tetap prihatin dengan keluarga perempuan. Dengan kebaikan hatinya, ia memohon kepada warga untuk tidak menghakimi mereka lagi. Karena mereka telah mendapatkan ganjarannya.
Sampai sekarang Sarmi belum tahu kabar tentang Syakila yang sebenarnya. Anton, Denis, Geo, Sardin, dan Rosalina dan yang lainnya sepakat untuk menyembunyikan kebenaran itu dari Sarmi.
Di saat Sarmi ingin bicara dengan Syakila, Samnia lah yang berbicara dengannya. Suara Samnia dan Syakila hampir sama. Jadi, tidak akan ketahuan jika Samnia berpura-pura menjadi Syakila.
Mereka semua tidak tega membohongi Sarmi. Akan tetapi, keadaan memaksa mereka untuk berbohong padanya. Dengan harapan Syakila cepat sadar.
Desas desus meninggal nya Marlina, Antonio, dan Vian terdengar sampai di kalangan masyarakat.
Berbagai macam perkataan yang terekam untuk menggambarkan sosok mereka. Bahkan gedung yang Vian dan Antonio bangun, di bakar saat malam itu juga, di saat mereka Geo keluar dari gedung itu.
Untuk perusahaan mereka, Geo memberikan tanggung jawab pengolahan kepada pihak panti asuhan untuk mengelolanya. Yang di bawah perintah dan pengawasan langsung oleh Geo.
Sementara kelompok Eg sudah hancur dan tidak terbentuk lagi. Para anggotanya sudah banyak yang meninggal di saat penyerangan malam itu. Dan sebagian, mendekam di penjara seumur hidup.
Dan untuk keturunan Kevin dan Vian, benar-benar musnah dengan meninggalnya Antonio, Marlina, dan Vian.
Sementara Beni, ia adalah keturunan dari Albert, adik kandung dari Geovani Albert. Namanya pun di belakang kini di sematkan nama Albert, Beni Albert.
.. ..
Di kediaman Anton.
Saat ini Sardin sedang berada di ruang baca Anton. Dia baru saja selesai mengecek pekerjaannya yang dikirimkan lewat email dari asistennya di kota S.
Meskipun dia sudah tidak merasakan sakit dan pusing lagi di kepalanya, Serlina dan Anton tidak mengizinkan Sardin untuk terlalu lama berada di depan laptop.
”Sardin, sudah selesai belum? Sudah hampir dua jam kamu berada di depan layar. Ayo, hentikan dulu. Bukankah kamu ingin menjenguk Syakila sebentar?” tanya Serlina.
__ADS_1
”Iya, Bibi ku sayang. Aku sudah selesai kok! Ini juga sudah mematikan laptopnya.” jawab Sardin. Ia merenggangkan otot-otot jari dan tangannya.
”Ya udah, sekarang kamu makan siang sana. Setelah itu, minum obat. Istirahat sebentar, baru pergi ke rumah sakit menjenguk Syakila.”
”Iya, Bi.” Sardin beranjak berdiri dan pergi ke dapur.
Dengan lahap, ia memakan makanannya yang di sediakan oleh Serlina. Setelah selesai makan, ia langsung meminum obatnya, yang juga di sediakan di atas meja oleh bibinya itu.
Setelah lima belas menit ia duduk di kursi setelah dia selesai meminum obatnya. Dia bangkit dan pergi ke kamar untuk istirahat sebentar.
.. ..
Di rumah sakit.
Syakila masih setia dengan tidur panjangnya. Geo yang selalu menemani Syakila setiap hari di rumah sakit.
Adapun pekerjaannya, yang bisa dikerjakan oleh Beni, Beni yang menghandle pekerjaannya.
Jika Beni tidak bisa, maka Geo membawa pekerjaannya di rumah sakit. Ia bekerja sambil terus menemani Syakila.
Selesai mengerjakan pekerjaannya. Geo mendekati Syakila, mengajak wanita itu bercerita. Meskipun wanita yang masih bersemayam di hatinya itu tidak menanggapinya.
”Syakila, cepatlah sadar! Aku merindukan tatapan benci mu padaku. Bukankah kamu ingin selalu membalas ku? Aku menantikannya.”
Ia juga menceritakan tentang perasaan nya saat pertama kali dia bertemu dengan Syakila.
Meskipun dia belum tahu nama Syakila, tetapi, dia cemburu saat melihat Syakila jalan dan dekat dengan pria lain. Ia mengakui perasaannya tersebut.
Meskipun dia masih mencintai dan mengharapkan Dawiyah saat itu, ia benar-benar tidak senang melihat Syakila bersama pria lain.
Ia juga mengaku senang saat dia tahu bahwa wanita yang hendak menanggung janji Halim adalah Syakila.
Namun, karena cintanya pada Dawiyah. Ia mengabaikan perasaannya tentang Syakila. Bahkan, ia menganggap Syakila adalah wanita matre dan ****** saat itu lantaran dekatnya Syakila dengan berbagai pria. Sardin, Rivaldi, Hardin, yang saat itu dia belum tahu bahwa Hardin adalah adik Syakila. Dan kadang Syakila di jemput oleh asisten Sardin, jika Sardin tidak sempat menjemput Syakila.
Bahkan ia juga jijik saat melihat Syakila jalan dengan om-om. Syakila saat bertemu dengan Geo memang sedang jalan bersama Johan, pamannya. Dan kadang bertemu saat Syakila jalan dengan Alimin, calon papa mantunya.
Bahkan saat Syakila sudah berada di kota A, Syakila bahkan dekat dengan Denis, Hamid, Anton, yang saat itu Geo belum tahu jika mereka adalah keluarga Syakila di kota A.
Dan di saat Syakila bersamanya, Syakila tidak pernah menuntut ataupun meminta nafkah lahir padanya. Tetapi, Syakila selalu ada uang untuk membeli semua kebutuhan hidupnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Bahkan jauh dari sebelum Syakila bekerja sebagai guru. Hingga Geo berpikir jika Syakila berbelanja dari yang di berikan oleh para lelaki yang pernah dekat dengan Syakila.
”Aku minta maaf, aku salah sangka padamu dari awal. Aku menyakiti mu dengan perkataan ku dan sikap kasar ku. Aku mengancam mu. Bahkan dengan sadar hampir membunuh mu. Aku benar-benar minta maaf padamu. Tolong bangun, aku ingin meminta maaf secara langsung padamu.” ia membelai lembut wajah Syakila.
.. ..
Rosalina secara diam-diam mencarikan calon istri untuk Geo dan untuk Beni.
Rosalina mengumpulkan semua wanita muda yang baru lulus dari kuliah maupun yang kuliah semester akhir untuk ikut audisi ”calon menantu” yang di gelarnya secara sembunyi.
Audisi tersebut ia laksanakan di gedung lama, milik suaminya, yang sudah tidak di pakai lagi.
Meskipun itu adalah gedung lama, namun, gedung itu tetap terawat. Dan tiap tahunnya, chat dindingnya selalu diperbaharui warnanya. Gedung itu kadang di pakai orang untuk menggelar acara pernikahan.
Rosalina di bantu dengan asistennya, kini ia memiliki sepuluh calon untuk menjadi anak mantunya dari lima puluh kandidat.
Kesepuluh calon itu di seleksi betul-betul dan kesehatannya juga terjamin. Mereka semua harus ikut audisi memasak, membersihkan rumah, mengasuh bayi, merawat bayi, memberi makan bayi, juga bersolek.
Bukan hanya itu, mereka juga di tes tingkat kesabaran dan juga kepintarannya. Bagi yang yang kalah dalam audisi, mereka memberikan sejumlah uang untuk kompensasinya.
.. ..
Di kediaman Anton.
Sardin baru saja terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam dinding, pukul 16 : 15. Ia segera bangun dan bergegas beranjak dari ranjang.
Ia pergi mandi. Setelah mandi dan berganti, ia keluar dari kamar.
”Kamu sudah bersiap?” tanya Anton.
”Iya, Paman.” Sardin duduk sebentar di kursi keluarga, berbicara dengan pamannya, Anton. ”Paman tidak pergi menjenguk Syakila?”
”Setelah Syakila sadar, baru Paman akan pergi menjenguknya. Kamu pergi sendiri saja menjenguk Syakila. Satu pesan Paman, kamu jangan mencari ribut dengan Geo.” nasehatnya.
__ADS_1
”Iya, Paman.”
”Lalu bagaimana dengan wanita yang sudah di jodohkan dengan mu. Kamu sudah memutuskan pilihan mu?”
”Iya, Paman. Aku sudah memutuskan pilihan ku. Dan pilihan ku tetaplah pada Syakila. Mama dan papa juga sudah setuju. Mereka sudah meminta maaf kepada wanita itu dan orang tuanya atas batalnya perjodohan kami.” ungkap Sardin.
”Alhamdulillah! Semoga Syakila cepat sadar. Dan kalian berdua cepat menikah.”
”Aamiin. Itu yang Sardin harapkan Paman.”
”Kamu belum ingin pergi ke rumah sakit?” tanya Anton.
”Sedikit lagi Paman. Sardin menunggu Dian datang. Dian yang akan mengantar Sardin ke rumah sakit, dan dia sendiri juga ingin menjenguk Syakila.” jawab Sardin.
”Kamu tidur di rumah sakit nanti?”
”Iya, Paman. Besok pagi baru Sardin pulang.”
Sardin dan Anton sama-sama menoleh keluar jendela saat mendengar suara sebuah motor berhenti di depan rumah.
”Dian sudah datang. Kamu pergilah! Sampaikan salam Paman pada Geo. Dan sampaikan juga maaf Paman padanya karena tidak datang menjenguk Syakila.” pesan Anton.
”Iya, Paman.”
”Asslamau 'alaikum!” sapa Dian sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
”Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatu.” jawab Anton dan Sardin.
Dian menyalami punggung tangan Anton dan Sardin, kemudian, ia duduk di samping Sardin.
”Sudah selesai urusan mu?” tanya Anton pada anaknya.
”Iya, Pa. Besok kami akan latihan lagi. Tinggal seminggu lagi perayaan pelulusan. Kami harus tampil dengan baik saat di panggung nanti.” jawab Dian.
”Hum! Semangat lah!” ucap Anton.
”Iya, Pa.” Dian melihat Sardin. ”Om, tidak jadi pergi ke rumah sakit?” tanyanya.
”Jadi. Tapi, kamu istirahat sejenak, setelah itu baru kita pergi.” jawab Sardin.
”Kita berangkat saja Om. Dian sudah cukup istirahatnya di rumah teman tadi.”
”Oh. Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang.” Sardin melihat Anton. ”Paman, kami pergi dulu.” pamitnya. Ia berdiri.
”Iya. Jangan lupa sampaikan pesan ku pada Geo. Dan jangan ribut dengan Geo.” kembali Anton memberi nasehat pada Sardin.
”Iya, Paman.”
Dian ikut berdiri. ”Pa, Dian berangkat dulu.” ia menyalami punggung tangan Anton.
”Iya, hati-hati dalam berkendara. Jangan mengebut saat menjalankan motor.” nasehat Anton pada anaknya.
”Iya, Pa.”
”Kami pergi dulu.” kembali Dian dan Sardin berpamitan. Mereka pergi setelah mendapat anggukan kepala dari Anton.
Anton menghela nafas. Setelah Dian dan Sardin tidak terlihat lagi punggungnya, dia masuk ke dalam rumah.
”Sardin sudah pergi ke rumah sakit Pa?” tanya Serlina.
”Iya, Mah. Baru saja pergi dengan Dian.” jawab Anton. ”Bagaimana tidurnya? Nyenyak?”
”Iya, Alhamdulillah, Pa. Tidurnya Mama nyenyak kali ini, setelah beberapa hari tidak. Isa tidur memikirkan Syakila dan Sardin.” jawab Serlina.
”Ma, sebenarnya, Papa sedikit kurang setuju dengan keputusan yang di ambil oleh Geo. Seharusnya, ia menunggu Syakila sadar baru memutuskan pernikahan nya.” keluh Anton.
”Mama juga berpendapat sama dengan Papa. Tapi, kita harus hargai keputusan yang di ambil Geo. Bagi Geo juga sebenarnya tidak gampang mengambil keputusan itu.”
”Iya, Ma. Papa tahu. Kasihan Geo. Selama ini dia sudah berusaha untuk membuat Syakila menyukainya dan akan mensahkan pernikahannya setelah Syakila mencintainya. Tapi, hal yang terjadi malah hal yang tidak terduga ini.” ucap Anton.
”Kita berdoa saja, semoga Geo dapat pengganti yang terbaik dari Syakila. Aamiin.” sahut Serlina.
__ADS_1
”Aamiin!” Anton mengamini.
.. ..