Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 161


__ADS_3

Di ruang informasi perusahaan Geo.


Lift berhenti di lantai satu. Beni segera keluar dari lift. Ia berjalan dengan cepat menuju ruang informasi, ia melihat Syakila yang duduk di kursi, di depan ruang informasi tersebut. ”Syakila, sudah lama menunggu?” tanyanya.


”Belum juga sih, baru tiga puluh lima menit yang lalu.” jawab Syakila.


Beni melihat petugas informasi. ”Apa yang di katakan wanita ini sebelumnya?” tanyanya, dengan marah.


”Beni, sudah! Mengapa kamu marah-marah?” tanya Syakila.


Beni menggebrak meja ruang informasi, ”Katakan, apa yang di katakan wanita ini sebelumnya?” tanyanya lagi, dengan suara semakin meninggi. Ia mengabaikan ucapan Syakila.


”Beni, kamu menakuti karyawan itu! Apa yang kamu permasalahkan? Hum?” tanya Syakila lagi. Beni tetap mengabaikan Syakila.


Ia terus menatap petugas yang sudah menunduk ketakutan itu. ”Cepat katakan!” ucapnya lagi.


Semua karyawan yang ada di lantai satu, terdiam. Jika Beni atau Geo yang sudah marah, bagaikan seekor serigala, yang tidak akan puas bila belum melukai mangsanya, ataupun memangsa mangsanya.


”Ma...maaf, Pak! Nona ini tadi mengatakan ingin bertemu dengan pak Geo.” ucap petugas itu, sambil menunduk.


”Mengapa kamu tidak menyuruh seseorang untuk mengantarkan dia keruangan pak Geo?”


”Ka..karena Nona belum membuat janji dengan tuan.”


”Lalu, kalau belum membuat janji, kamu menyuruh dia untuk tetap menunggu pak Geo di sana? Siapapun yang bertugas menjaga ruang informasi, lihat baik-baik wajah wanita ini.” ucap Beni, sambil memperlihatkan wajah Syakila kepada semua karyawan yang ada di lantai satu itu. ”Wanita ini namanya Syakila, mulai dari hari ini sampai seterusnya, jika dia datang ke kantor ini mencari saya ataupun pak Geo, antarkan dia segera! Mengerti!?”


”I..iya, Pak! Me...mengerti!” ucap sang petugas itu.


”Bagus! Gaji mu bulan ini di potong sepuluh persen! Jika ada lain kali lagi, maka potongannya lebih besar lagi. Mengerti!” ucap Beni lagi.


”Mengerti, Pak!” jawab sang petugas itu, sambil menunduk ketakutan, badannya gemetar.


”Beni, kamu apa-apaan sih! Dia kan tidak bersalah, dia hanya menjalankan aturan di kantor ini saja! Jangan memotong gajinya, kasian dia!” ucap Syakila, membela petugas itu.


Geo tersenyum menyaksikan percakapan Beni, Syakila, dan petugas itu lewat cctv yang di tonton nya. Ia tahu, Syakila adalah gadis yang baik.


”Syakila, sudah, di sini bukan urusan mu! Ayo kita naik ke atas, Geo sudah menunggu mu!”


”Tunggu! Beni, urusan di sini belum selesai! Aku mau tanya sama kamu! Aturan di kantor ini jika ada tamu yang datang, bagaimana?” tanya Syakila.


”Yah, kalau sudah buat janji, tinggal bertemu saja. Kalau belum, yah...harus menunggu.” jawab Beni.


”Nah, lalu di mana salahnya petugas itu? Dia bekerja dengan benar, dia menjalankan aturan di kantor ini dengan baik! Lalu, mengapa kamu malah main potong gajinya tanpa ia berbuat kesalahan?” tanya Syakila, dengan ketus.


Beni terdiam, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


”Tarik ucapan mu barusan!” ucap Syakila lagi.


”Syakila, ini ...”


Drrrrrt! Dering handphone Beni berbunyi. Ia meraih handphonenya dari saku, ia melihat di layar ”Geo memanggil...” ia mengangkat telfon tersebut.


”Kamu tidak perlu berdebat dengan Syakila. Ikuti saja ucapan Syakila. Cabut ucapan mu! Kasih penegasan ke petugas, jika ada lain kali masalah ini terulang, maka sanksinya adalah potong gaji tiga puluh lima persen.” ucap Geo.


”Hah, iya, baiklah!” sahut Beni, mengalah.


Tut tut tut, Geo telah memutuskan sambungan telfonnya. Ia masih memperhatikan cctv.


Beni melihat petugas informasi itu. ”Kali ini, kamu aku maafkan! Lain kali, jika hal ini terjadi lagi pada siapapun yang bertugas berjaga, maka potong gaji sebanyak tiga puluh lima persen! Mengerti?!” ucapnya, memperingatkan.


”Terima kasih, Pak! Saya mengerti!” sahut sang petugas itu. Dia terlihat sedikit lega karena gajinya tidak jadi di potong.


Beni menghela nafas, ia melihat Syakila, ”Sudah? Ayok, kita naik ke atas!” ajaknya.

__ADS_1


”Hum, begitu dong! Ingat sebelum memberi orang peringatan, cari tahu dulu dia salah apa gak! Jangan langsung ambil tindakan!” ucap Syakila, menasehati.


”Ya...ya...ya..., ayo kita jalan!” sahut Beni.


”Iya, ayo kita pergi!” sahut Syakila. Ia berjalan mengikuti langkah Beni, mereka memasuki lift. Beni memencet angka dua belas di lift tersebut. Geo telah mematikan cctv nya.


Sang petugas itu menghela nafas lega setelah kepergian Beni dan Syakila.


”Beruntung kamu kali ini, kalau gak ada gadis itu, gaji mu pasti terpotong.” bisik temannya.


”Iya, siapa ya gadis itu? Apakah dia yang akan menjadi nyonya di perusahaan ini?” tanya sang petugas tadi, berbisik.


”Tidak tahu, tapi, jika benar dia yang akan menjadi nyonya di sini, bukan kah itu bagus? Nyonya terlihat baik dan bijaksana.” bisik temannya lagi.


”Iya, berbeda dengan perempuan sebelumnya, siapa namanya ”Dawiyah dan Yulia” yah Dawiyah dan Yulia, mereka sangat sombong dan sok berlagak.” bisik sang petugas.


”Sudah, sudah! Ayo bekerja! Nanti kita di pecat jika ketahuan bergosip.”


Sang petugas mengangguk. Mereka kembali bekerja.


Di dalam lift.


”Apa ruangan Geo berada di lantai paling atas?” tanya Syakila.


”Iya, di sanalah ruangannya berada. Di lantai paling atas ruangan CEO. Di lantai sebelas adalah tempat puskesmas kantor. Lantai sepuluh tempat HRD berada. Lantai sembilan tempat kantin perusahaan. Lantai delapan adalah tempat mushola. Lantai tujuh sampai lantai dua itu tempatnya para karyawan dan staf yang bekerja, sedangkan lantai satu itu tempat para ob dan juga ruang informasi.” jawab Beni, menerangkan.


”Wah, ternyata di sini ada tempat khusus puskemas dan kantin dan juga mushola. Ternyata bos kalian sangat memperhatikan para karyawannya. Sehingga menyediakan layanan puskesmas sendiri juga kantin sendiri, dan juga mushola sendiri. Memang sangat pantas perusahaan seperti ini sangat maju dan berkembang.” ucap Syakila, memuji.


Ini bisa menjadikan ku motivasi, jika aku sudah menikah dengan Sardin, aku akan meminta dia untuk membangun mushola dan puskemas di dalam kantornya. benak Syakila.


”Iya, aku juga tidak tahu mengapa seorang Geovani Albert membangun sebuah puskesmas dan mushola dalam perusahaannya. Bahkan almarhum ayah saja tidak berpikir sampai ke situ.” sahut Beni.


”Aku salut sama dia, itu artinya, pria itu pria yang baik. Tetapi, kenapa dia terlihat arogan, sombong di luar sana?” tanya Syakila, penasaran.


”Entahlah, mungkin itu sudah kepribadiannya yang dia bentuk dari kecil. Kita sudah sampai di lantai dua belas. Lift sudah berhenti, ayo kita keluar.”


”Ada beberapa orang saja, mereka ada di dalam ruangannya masing-masing. Saya sendiri berada di sini, ruangan ku berada di samping ruangan Geo.” jawab Beni, menerangkan.


”Kita sudah sampai, ini adalah ruangan Geo.” ucap Beni lagi.


Syakila membaca tulisan di atas pintu itu, ”Oh, ”Ruangan CEO” yah, dia pemilik kantor ini.” ucap Syakila.


”Iya,” sahut Beni sambil membuka pintu, ”Ayo masuk!” ucapnya.


Di dalam ruangan Geo.


Syakila masuk mengikuti langkah Beni. Ia melihat ada dua porsi makanan di atas meja, satu sudah tersentuh dan satunya masih terlihat utuh. Ia juga melihat Geo yang sedang membaca file di tangannya.


”Geo, Syakila sudah ada di sini. Ayo, kemarilah, kita makan.” ucap Beni, ia duduk kembali di tempatnya.


Geo mendorong kursi rodanya, ”Syakila, mengapa berdiri saja? Ayo, duduklah di situ.” ucapnya.


Syakila duduk di bangku tersebut. Beni melanjutkan makannya yang tertunda.


”Kamu sudah makan siang?” tanya Geo.


”Belum, rencana sampai di rumah baru aku makan bersama mama.” jawab Syakila.


”Syakila, kamu makanlah bersama kita, Geo tidak akan makan jika kamu tidak ada di sini. Aku akan pesankan makanan untuk mu.” ucap Beni. Ia berdiri.


”Tidak usah Beni,” cegah Geo, ”Syakila akan makan bersama ku, makanan yang di sediakan untukku terlalu banyak, aku gak bisa menghabiskannya sendiri.” ucapnya. ”Syakila, kamu mau makan bersama ku?” tanyanya.


Syakila terdiam, menit berikutnya, ia tersenyum, ”Baiklah, aku akan makan bersama mu.” jawabnya.

__ADS_1


Geo tersenyum senang, ”Ok, mari kita makan!” ucapnya. Ia dan Syakila makan satu porsi nasi berdua.


Mereka bertiga makan dengan di warnai sedikit candaan di antara Syakila dan Beni. Geo membiarkan saja mereka berdua, jika saja ia tidak mendengar percakapan Beni dan Syakila saat itu, ia masih akan tetap cemburu jika Beni dan Syakila berduaan.


Tetapi, sekarang tidak ada yang perlu ia cemburu kan lagi, ia sudah tahu, Beni, adik tirinya itu telah mengalah akan cintanya pada Syakila. Hanya saja, kadang memang ia tidak senang jika Syakila terlalu dekat dengan Beni.


”Alhamdulillah, sekarang sudah kenyang!” ucap Beni, sambil bersandar di sandaran kursi.


”Jika sudah, bereskan meja dan kembali bekerja!” ucap Geo.


”Kalau begitu, kalian berdua bekerja saja. Untuk meja ini...biar aku saja yang bersihkan.” ucap Syakila.


”Ah, senangnya punya kakak ipar. Baiklah, kakak ipar...sudah merepotkan mu.” sahut Beni.


”Tidak perlu sungkan, tapi, janganlah memanggilku kakak ipar. Panggil saja namaku seperti biasanya.” ucap Syakila, meralat panggilan Beni untuknya.


Beni melirik Geo, pria itu tidak ada tanggapan. ”Oh, tapi, status mu adalah istri dari Geo. Geo adalah kakak ku, tentu saja kamu adalah kakak ipar ku. Jadi, jangan melarang ku memanggil mu kakak ipar.” ucapnya.


Syakila menghela nafas, ”Terserah mu lah! Pergilah bekerja, Geo sudah mulai membaca file. Aku bereskan meja ini dulu.” sahutnya.


”Ok,” ucap Beni. Ia berjalan mendekati Geo. Ia mulai membantu Geo memeriksa file dan dokumen.


Syakila mulai membersihkan meja yang mereka gunakan untuk makan tadi. Sampahnya ia buang di tempat sampah. Sedangkan piring kotornya, ia akan membawanya ke kantin.


”Piringnya simpan saja di situ Syakila, akan ada orang dari kantin yang datang mengambilnya. Kamu istirahat saja. Jika ingin tidur, ada ranjang di ruangan itu.” ucap Geo, menahan Syakila yang hendak keluar dari ruangan.


Syakila menurut, ia meletakan piring kotor itu kembali di atas meja. ”Geo, kamu dan Beni lanjut kerja saja. Aku ingin pergi ke toko om ku dulu.” ucapnya.


”Om mu? Denis? Atau Anton?” tanya Geo.


”Keduanya. Aku juga ingin melihat anak kemenakan ku yang kembar.” jawab Syakila.


”Iya, pergilah! Supir ku yang akan mengantar mu. Dan jangan kemana-mana, aku akan menjemputmu di rumah om mu, Anton.” ucap Geo.


”Iya, baiklah. Aku pergi dulu.” ucap Syakila, berpamitan. Ia langsung melenggang pergi dari ruangan CEO. Ia menaiki lift, memencet lift ke lantai satu.


Lift berhenti di lantai satu, Syakila segera keluar. Ia berjalan sedikit terburu-buru hingga ia tubuhnya bertubrukan dengan tubuh wanita lain. ”Ah, maaf, Mbak. Aku gak sengaja.” ucapnya.


”Maaf, maaf, badanku sakit, lihat telapak tangan ku jadi memerah karena mu. Lihat lutut ku tergores karena mu, apa dengan maaf mu bisa sembuhkan luka ini?” sahut wanita itu.


”Mbak, aku sudah minta maaf, yah. Yang terluka juga bukan hanya Mba, lihat, aku juga terluka. Tapi, tidak perlu lebay seperti itu!”


”Apa kamu bilang! Lebay? Siapa yang lebay? Kamu karyawan di sini yah? Tunggu saja, aku akan memecat mu!”


”Tidak ada gunanya berdebat dengan kamu.” ucap Syakila, ia mengeluarkan obat memar dari dalam tasnya, ia mengobati luka memarnya. ”Ini obat, obati luka mu sendiri, tidak perlu berterima kasih dan tidak perlu kembalikan obat itu. Obat ku masih banyak.” ucapnya, sambil memberikan obat itu di telapak tangan wanita tersebut. Setelah itu ia berlalu dari sana.


”Brengsek! Karyawan saja belagu! Tunggu saja, aku akan memecat kamu setelah aku menikah dengan Geo.” gumam wanita itu. Ia melihat obat yang di berikan Syakila di tangannya. ”Ini lagi, aku tidak butuh obat dari kamu.” gumamnya lagi sambil membuang obat itu ke tempat sampah.


Syakila telah meninggalkan kantor Geo, ia di antar supir Geo ke rumah om nya, yang ada di pasar.


Wanita tadi terus melangkah mengarah ke lift khusus para petinggi. Para karyawan yang berada di lantai satu, tidak seorang pun yang melarang wanita itu.


Karena wanita itu dulunya bebas keluar masuk dan sesukanya di kantor tersebut. Wanita itu juga bebas menggunakan lift para petinggi.


”Wanita itu kembali setelah pak Geo kembali bekerja di kantor, kemana dia selama ini? Apakah dia gak tahu malu, dia sudah pergi meninggalkan pak Geo di hari pertunangan mereka. Kenapa sekarang dia kembali lagi?” bisik salah satu karyawan di sana.


”Sstttsss! Jangan omongin dia, kalau dia dengar, kamu mau di marahi sama dia? Dia wanita yang selalu di bela-bela oleh atasan kita.” balas temannya berbisik.


”Iya, aku tahu, tapi, mengapa mukanya tebal sekali? Setelah mencampakkan pak Geo, dia kembali lagi! Lihatlah jalannya itu, sombong sekali!” bisik nya.


”Sudah, sudah! Bisa saja kan selama pak Geo di rawat di rumah, dialah yang merawatnya. Jika begitu, kedepannya dia adalah istri dari atasan kita. Jadi, jangan bicarakan dia lagi.” sahut temannya, berbisik.


Wanita itu masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka dua belas, di lantai letak ruangan CEO perusahaan berada.

__ADS_1


Geo, aku kembali untuk mu... benaknya, sambil tersenyum tipis.


Ia memperbaiki dandanannya selama berada di lift, ia juga memakai parfum yang menjadi favorit Geo.


__ADS_2