
Di rumah sakit xx, di kota A.
Geo duduk dengan khawatir di kursi rodanya, di depan ruang operasi. Resah dan gelisah yang ia rasakan sekarang ini. Seluruh tubuhnya masih gemetar, badannya masih terasa lemas.
Anton, Denis, dan Beni sama khawatirnya seperti Geo. Mereka semua mengkhawatirkan keadaan Syakila dan Sardin yang saat ini sedang berada di ruang operasi.
Beni melihat Geo dengan kagum. Demi Syakila, ia berani melawan traumanya untuk masuk ke dalam rumah sakit.
Begitu juga dengan Anton dan Denis, mereka berdua ikut kagum melihat Geo. Mereka berdua tahu atas trauma yang di alami Geo.
Beni kembali mengingat saat Geo membawa Syakila masuk ke dalam rumah sakit.
Di halaman parkir rumah sakit.
Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan rumah sakit. Mereka semua turun dari mobil.
Denis dan Anton memapah Sardin yang jatuh pingsan saat melihat Syakila tidak sadarkan diri.
Beni mengikuti langkah kaki Geo yang menggendong tubuh Syakila. Denis dan Anton telah masuk ke dalam rumah sakit.
Kaki Geo mulai gemetar saat melihat pintu rumah sakit. Wajahnya yang pucat pun semakin terlihat pucat.
”Geo, biar aku saja yang menggendong Syakila. Kamu tunggulah aku di dalam mobil. Aku akan segera kembali bersama dokter untuk mengobati luka mu, setelah Syakila berada di ruang operasi.” tawar Beni.
Tidak! Aku tidak izinkan tubuh Syakila di gendong oleh orang lain, jika ada aku. Meskipun itu adalah Beni ataupun pamannya Syakila. Aku harus bisa membawa Syakila di dalam sana dalam gendongan ku. Aku dan Yulia sudah lama berakhir. Kenangan buruk yang ku alami di depan rumah sakit dan di dalam rumah sakit ini harusnya sudah musnah dengan musnahnya perasaan ku pada Yulia! benak Geo.
”Tidak, aku sendiri yang akan membawa istriku ke dalam sana!” kekeh Geo.
Geo kembali melangkahkan kakinya memasuki pintu rumah sakit. Bayangan Yulia kembali menghantui Geo. Keringat dingin menghiasi wajahnya.
Kakinya terasa berat untuk melanjutkan langkah. Tubuh Syakila hampir jatuh karena tangannya yang lemas dan gemetar kuat.
”Geo, biar aku saja yang membawa Syakila di dalam. Jangan paksakan dirimu! Dan lihatlah, kamu juga sedang terluka. Biarkan aku membantu mu, yah?” ucap Beni, khawatir.
”Tidak! Aku akan membawa Syakila sendiri masuk ke dalam.” kekeh Geo. Ia melihat wajah Syakila semakin pucat, sama pucat nya dengan yang ia rasakan.
Beni terdiam melihat Geo. Apakah Geo cemburu jika aku yang menggendong Syakila? Makanya dia tidak izinkan aku untuk membawa Syakila. Atau dia memang ingin mengatasi traumanya demi Syakila? benaknya.
Geo memaksakan diri untuk terus melangkah masuk. Perkataan Yulia terngiang di kepalanya. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia tetap melangkahkan kakinya, meskipun perasaan aneh menghinggapi dirinya.
Para suster mendorong brangkar kosong, menghampiri Geo, saat melihat Geo masuk ke dalam rumah sakit, sambil menggendong seorang wanita.
”Tuan Geo. Letakkan pasien di atas brangkar!” titah sang perawat rumah sakit.
Geo menurut, ia membaringkan tubuh Syakila di atas brangkar, dengan pelan.
Bruk! Tubuhnya ambruk seketika setelah meletakkan tubuh Syakila di atas brangkar.
”Geo!” Beni menghampiri Geo.
”Tuan!” para suster juga khawatir dengan Geo. Si pemilik rumah sakit xx, tempat mereka bekerja ini.
Geo mengangkat tangannya ke atas. Mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. ”Bawa Syakila, cepat rawat dia! Selamatkan dia! Panggilkan dokter ahli di rumah sakit ini untuk mengobatinya!” titahnya.
”Baik, Tuan!” para suster mendorong brangkar dengan cepat ke ruang operasi. Salah satu suster berlari mencari dokter yang di sebutkan Geo.
”Kau baik-baik saja? Seluruh badan mu gemetar semua.” Beni membantu Geo berdiri.
”Kepalaku pusing! Ucapan Yulia, gambar diri Yulia menghantuiku. Membuat ku mual. Aku ingin gila rasanya.” jawab Geo.
”Lalu, apa kamu mau aku membawamu kembali ke mobil dan memanggilkan dokter untuk merawat mu?”
”Jika aku keluar lagi dari rumah sakit, itu berarti usahaku sia-sia mengatasi trauma ku. Aku sudah ada di dalam rumah sakit, papah aku masuk dan bawa aku ke ruang dokter.” titah Geo.
Oh, pikiran ku salah. Aku kira dia cemburu dan tidak suka bila ada pria lain menyentuh tubuh Syakila. Ternyata, dia cuma ingin mengobati traumanya, dengan mengandalkan keberuntungan dari diri Syakila. Alhasil, dia berhasil melewatinya. Meskipun belum 100%, tetapi itu awal yang baik untuk Geo. benak Beni.
”Ok!” sahut Beni. Ia memapah Geo, menemui dokter lain yang sedang menganggur.
Geo segera di tangani oleh sang dokter, setiba di ruangan dokter tersebut. Peluru yang ada di paha dan bahunya telah di keluarkan dan di obati. Luka memar pun telah di obati.
__ADS_1
”Tidak ada luka yang begitu serius. Tuan Geo, harus istirahat. Darahnya kurang dan beliau juga kekurangan cairan. Kalau kamu bisa membujuknya untuk berbaring, maka aku akan memberikan infus untuk menambahkan cairan dan darahnya.” ucap dokter pelan pada Beni.
”Tidak! Aku tidak akan berbaring! Istriku...aku tidak tahu bagaimana kondisinya saat ini! Berikan saja aku infus, aku akan duduk di kursi roda.” kekeh Geo. Ia rupanya mendengar ucapan dokter.
Beni melihat dokter, ”Dokter dengar sendiri kan ucapannya? Jadi, lakukan saja apa yang dia inginkan.”
Sang dokter mengalah. Ia memilihkan kursi roda yang bagus untuk si pemilik rumah sakit tersebut. Kursi roda yang lengkap dengan sandaran kepalanya, agar membuat Geo nyaman jika ingin menyandarkan kepala.
Setelah mendapatkan kursi rodanya, Geo duduk dengan tenang, menyandarkan kepalanya di kursi roda itu, meski rasa gemetar di seluruh tubuhnya masih terasa.
Sang dokter memasang infus pada Geo. ”Sudah selesai!” ucapnya.
”Beni, bawa aku keruang operasi, sekarang!” titah Geo pada Beni.
”Hum!” sahut Beni. Ia mendorong pelan kursi roda Geo menuju ruang operasi.
Di depan ruang operasi.
”Beni, apa kamu sudah menghubungi mama dan memberitahu keberadaan kita di sini?” tanya Geo pada Beni.
”Ah! Apa Geo?” tanya Beni. Ia terkejut saat Geo memegang bahunya. Lamunannya tentang Geo pun berakhir.
”Kamu sedang pikirkan apa?” tanya Geo lagi.
Beni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ”Em...tidak ada! Kamu tadi bilang apa? Maaf, aku tidak mendengar mu.” ucapnya.
”Apa kamu sudah menghubungi mama dan memberitahu keberadaan kita di sini?” kembali Geo bertanya pada Beni.
”Ah, belum! Aku akan menghubungi tante sekarang.” ucap Beni. Ia mengeluarkan hape dari sakunya dan pergi sedikit menjauh dari mereka Geo. Lalu mengetik nama kontak ”Tante Rosalina” dalam daftar kontaknya.
”Ah, aku juga belum menelfon Istriku dan kakak ipar untuk memberitahu keadaan kita di sini.” ucap Denis. Ia tersadar saat mendengar ucapan Geo, kalau dia juga belum menghubungi Istrinya dan Serlina, memberikan kabar untuk mereka berdua, agar tidak khawatir lagi.
”Kalau begitu, kamu pulang saja ke rumah. Sardin dan Syakila, biar aku, Geo, dan Beni yang menunggunya.” usul Anton.
”Baiklah! Kalau begitu, aku pergi dulu.” pamit Sardin.
”Hum, hati-hati. Bilang pada istriku, tidak usah menunggu ku pulang. Kemungkinan, besok pagi baru aku pulang ke rumah.” pesan Anton.
”Hum! Hati-hati, di jalan!” sahut Geo.
Denis pergi dari sana. Kini tinggal Geo dan Anton di depan ruang operasi itu.
”Apakah dokter ada berkata sesuatu tentang Syakila dan Sardin, saat aku belum datang ke sini?” tanya Geo pada Anton, yang duduk di kursi.
”Tidak ada. Dari Syakila di masukkan ke dalam sana, sampai sekarang dokter belum ada yang keluar dari ruangan itu. Masih belum tahu, bagaimana keadaan mereka berdua di dalam sana?” jawab Anton. Ia melihat Geo. ”Sebaiknya, kamu istirahat saja dulu, jangan menyiksa dirimu seperti ini. Kamu juga butuh perawatan untuk memulihkan luka-luka mu.”
”Tidak perlu khawatir kan aku. Aku baik-baik saja! Aku sudah menerima perawatan. Aku akan menunggu Syakila dan Sardin.” sahut Geo.
Anton terdiam. Geo pun tidak bersuara lagi. Hening! Suasana di depan ruang tunggu itu.
Beni telah kembali bergabung dengan mereka berdua. Ia duduk di kursi, samping Anton.
”Aku sudah menghubungi tante. Tante sangat khawatir, beliau ingin menyusul ke rumah sakit ini. Tapi, aku menolak keinginan beliau.” ucap Beni pada Geo.
”Hum! Apa mama mendengar ucapan mu?” tanya Geo.
”Awalnya tidak, tapi...aku menjual nama mu, beliau pun menurut.” ungkap Beni.
Pintu ruang operasi terbuka. Beni, Anton, dan Geo, melihat dokter yang keluar dari ruangan itu.
Sang dokter melihat Geo, Beni, dan Anton. ”Siapa di sini keluarga dari pasien yang bernama Sardin?” tanya sang dokter.
”Kami semua yang ada di sini adalah keluarga dari kedua pasien yang ada di dalam. Apakah ada sesuatu yang serius yang terjadi pada mereka berdua, Dok?” Geo yang menjawab pertanyaan sang dokter.
”Tuan Geo! Em...nona Syakila masih dalam operasi! Untuk saudara Sardin, kami telah merawatnya. Luka lebam yang ia terima telah kami obati. Selebihnya, saat kami melakukan CT scan padanya, kami menemukan ada gumpalan di kepalanya. Gumpalan itu semakin membuat keadaannya memburuk...”
”Jika melakukan operasi, apakah nyawanya akan tertolong?” pangkas Anton, bertanya.
”Tingkat keberhasilan operasi sangat tipis, hanya 20% tingkat keberhasilannya. Namun, jika tidak di operasi, gumpalan itu akan semakin membesar dan akan menghambat udara, air, maupun darah yang akan masuk di kepalanya.” ungkap sang dokter.
__ADS_1
Sama seperti yang di ucapkan Alimin dan Nesa. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku akan mengambil keputusan seorang diri untuk mengoperasi Sardin. Kalaupun aku menelfon Alimin untuk meminta pendapatnya, mereka juga tetap tidak akan mengizinkan Sardin untuk melakukan operasi. benak Anton.
”Tidak perlu melakukan operasi padanya. Cukup rawat dia saja dan berikan obat untuk mengobatinya. Kedua orang tua kandungnya, tidak menginginkan Sardin untuk di operasi.” jelas Anton.
”Baiklah kalau begitu! Saya kembali masuk ke dalam.” pamit sang dokter. Ia kembali masuk ke dalam ruangan operasi.
”Kenapa tidak melakukan operasinya saja?” tanya Beni dan Geo pada Anton.
”Seperti penjelasan dokter tadi. Tingkat keberhasilannya hanya 20%, jika melakukan operasi. Itu artinya, operasi ini belum tentu akan berhasil. Setidaknya, tanpa operasi, Sardin masih bisa bertahan hidup dengan meminum obat untuk mengatasi rasa sakit di kepalanya.” jawab Anton, menjelaskan.
”Apa keinginan terbesar Sardin, makanya ia bertahan dalam kondisinya ini?” tanya Geo lagi.
”Syakila! Syakila adalah alasan dia satu-satunya bertahan dalam hidup. Dia ingin mewujudkan mimpinya dan mimpi Syakila yang ingin menikah. Lebih tepatnya, Sardin ingin melihat Syakila bahagia, meskipun Syakila menikah dengan pria lain. Dokter di kota S, telah memvonis hidup Sardin tidak akan lama lagi. Untuk itulah, kakak dan kakak ipar ku ingin Sardin cepat menikah, agar sebelum dia pergi, ada keturunannya di dunia ini. Tapi, Sardin tidak ingin menikah dengan wanita lain, selain Syakila.” ungkap Anton.
Geo terdiam. Dia sangat tahu berapa besar cinta Sardin pada Syakila, begitu juga sebaliknya, besarnya cinta Syakila pada Sardin.
Ia kembali mengingat saat Syakila turun tangan membantu Sardin saat dia dan Sardin mengadu kekuatan di lapangan the Cobra, di kota S.
Dia juga mengingat saat Syakila berjalan bahagia, penuh tawa dengan Sardin saat mereka bertemu di mall.
Geo juga mengingat saat Syakila menceburkan diri ke dalam danau untuk mencari cincin yang di buang oleh Sardin, di danau itu. Bahkan, meskipun Syakila sudah kedinginan di tengah danau itu, ia terus mencari cincin dari Sardin. Cincin yang melambangkan cinta Syakila dan Sardin.
Geo menghela nafas kasar saat ingatannya tentang Sardin yang pingsan saat mengetahui Syakila telah menikah dengannya. Juga saat Syakila pingsan saat Sardin tertimpa musibah di kota S.
Ia merasa dirinya begitu jahat memisahkan dua insan yang saling mencintai itu.
Pintu ruang operasi kembali terbuka. Sang dokter keluar dari ruangan. Para suster juga ikut keluar dengan mendorong brangkar ke luar dari ruangan operasi.
”Bagaimana Dok, keadaan Syakila dan Sardin?” tanya Anton, Geo, dan Beni.
”Alhamdulillah, operasi yang di jalani oleh Syakila telah berhasil. Dan kami juga sudah mengupayakan yang terbaik untuk saudara Sardin. Mereka berdua akan kami pindahkan di ruangan lain. Mereka masih tertidur akibat dari anesti yang kami suntikan. Mereka akan sadar kembali setelah dua jam ke depan.” ungkap sang dokter.
”Alhamdulillah!” ucap Geo, Beni, dan Anton dengan lega. ”Terima kasih, Dokter!” ucap mereka lagi, bersamaan.
”Hum! Sama-sama!” sahut sang dokter. ”Mari, ikuti saya melihat kamar inap dari saudara Sardin dan kamar inap untuk saudari Syakila.” ajaknya.
”Dok! Aku ingin Syakila dan Sardin tetap berada dalam satu ruangan.” pinta Geo.
”Baik, sesuai keinginan mu, Tuan.” sahut sang dokter.
Mereka pun menyusul ke ruangan Syakila, karena ruangan itu yang paling besar di dalam rumah sakit tersebut. Karena ruangan itu adalah ruangan khusus untuk keluarga Albert.
Di ruangan itu semuanya lengkap. Dan ruangan itu berada di paling ujung, dari semua ruangan yang ada.
Dokter berhenti di ruang inap Sardin. Yang lainnya pun ikut berhenti. Sang dokter membuka pintu ruangan itu.
”Pindahkan Sardin ke ruangan Syakila, yang berada di ruangan paling ujung.” titahnya pada suster yang berjaga di ruangan itu.
”Baik, Dokter!” jawab sang suster. Mereka kembali mendorong brangkar Sardin ke ruangan yang di maksud oleh sang dokter tadi.
Mereka telah sampai di ruangan, satu-satunya ruangan vip di rumah sakit tersebut.
”Geo, Syakila dan Sardin sudah ada di ruangan ini. Sebaiknya, kamu juga harus istirahat. Aku bantu kamu berbaring di kasur pasien yang itu. Ok?” ucap Beni.
”Iya, apa yang di bilang Beni itu benar, Geo. Kamu butuh istirahat.” sambung Anton.
”Menurut penglihatan saya, kedua teman mu ini berkata benar. Sebaiknya Anda istirahat Tuan.” sambung sang dokter.
”Baiklah! Beni, bantu aku berbaring.” jawab Geo.
Beni membantu Geo berdiri dari kursi roda. Anton membantu memegang botol infus. Sang dokter menyiapkan kasurnya.
Beni membaringkan tubuh Geo dengan pelan di atas ranjang pasien. Sang dokter mengambil tiang untuk menggantung botol infus.
Geo beristirahat. Beni dan Anton duduk beristirahat juga di kursi panjang, di dalam ruangan itu.
”Kalau begitu, kalian semua berisitirahat lah! Aku akan kembali ke ruangan ku. Kalau ada apa-apa, tekan tombol yang warna kuning itu.” ucap sang dokter.
”Iya, Dok.” sahut Beni dan Anton.
__ADS_1
Sang dokter pun pergi dari ruangan itu.