
Beberapa hari kemudian, di bandara kota S.
Sardin duduk dengan tidak sabar menunggu waktu jam keberangkatan. Kadang ia tersenyum, kadang ia cemberut, suasana hatinya sering berubah-ubah, menyesuaikan raut wajah dan apa yang sedang dipikirkannya.
Apakah Syakila akan menjemputnya di bandara saat tiba? Apakah ia akan benar-benar punya waktu untuk berduaan dengan Syakila nanti?
”Ah, aku belum memberitahu Syakila jika aku akan berangkat hari ini ke kota A.” gumamnya.
Gumamnya tersebut di dengar oleh dua pria yang sedang duduk di kursi, di depannya, saat mendengar kata ”Syakila” , hingga kedua pria itu saling memandang untuk sesaat dan sama-sama melirik ke belakang, melihat Sardin.
Sardin meraih handphonenya, mencari kontak nama Syakila di sana. ”Hubungi dia atau kasih surprise saja yah?” gumamnya, berfikir.
Tangannya memencet tombol memanggil. ”Sudahlah, udah terlanjur menghubungi, beritahu dia saja.” gumamnya lagi.
Telfon tersambung.
”Halo, kakak.” sapa Syakila, ia sangat senang mendapat telfon dari Sardin.
”Halo, sayang. Bagaimana kabarmu?” sahut Sardin.
”Alhamdulillah, Kila baik-baik saja, kak. Kakak sendiri, bagaimana kabarnya? Apa kepala kakak masih sering kumat sakitnya?”
”Alhamdulillah, kakak baik-baik saja Syakila. Kepala kakak juga gak terlalu sering kumat sakitnya kok! Oh, iya, sayang, hari ini kakak akan berangkat ke kota A.”
”Apa? Kakak gak bohong kan? Kakak serius?” tanya Syakila, tidak percaya. Namun, ia tersenyum bahagia.
”Kakak serius sayang! Kapan sih kakak pernah membohongi Kila? Hum? Coba katakan, kapan itu?”
Antonio dan Vian sama-sama mengerut mendengar percakapan Sardin.
Sayang? Kakak? Apakah pria ini kakak nya Syakila? Tujuannya sama dengan kami, ke kota A. Mungkinkah dia akan mendatangi Syakila? benak mereka berdua. Mereka masih mencuri dengar pembicaraan Sardin.
”Em, kakak memang gak pernah membohongi Kila. Untuk itulah Kila sangat mempercayai kakak dan sangat mencintai kakak.” jawab Syakila, suaranya lembut.
Sardin tersenyum, ”Sama halnya dengan kakak, kakak selalu mencintai Kila. Sampai akhir nafas kakak, kakak hanya akan mencintai Kila seorang.” sahutnya, penuh kelembutan saat berucap.
Kening Antonio dan Vian mengerut, Apa? Cinta? Pria ini mengatakan perasaannya kah sama Syakila? Berarti pria ini bukan kakaknya Syakila. Tunggu! Apa jangan-jangan Syakila yang di kenalnya bukan Syakila yang aku kenal? Tapi, jika benar dia adalah ”Syakila” itu artinya... Syakila menikahi Geo adalah terpaksa! benak mereka berdua.
Syakila tersenyum senang, ia terdiam sesaat. ”Eh, jam berapa kakak akan berangkat? Naik kapal atau pesawat?” tanyanya, kemudian.
”Em, kakak sudah di bandara ini sayang. Dua pulih lima menit lagi jam keberangkatan tiba.”
”Oh, em, sayang, Kila matikan telfonnya yah. Kila akan pergi mengajar dulu. Jam istirahat sudah selesai.” ucap Syakila dengan suara sedih.
”Oh, iya, maaf, kakak sudah mengganggu waktu mengajar Kila.”
”Em, tidak-tidak! Kakak tidak menggangu, saat kakak telfon, memang jam ku untuk istirahat. Tapi, sekarang, jam istirahat ku sudah selesai. Kakak hati-hati dalam perjalanan yah. Kila menunggu kedatangan kakak dengan selamat di sini.”
Sardin tersenyum, ”Iya sayang. Selamat mengajar, kakak putuskan sambungannya. Mis you...” ucapnya senang. Tut tut tut Sardin memutuskan sambungannya.
Ia menghela nafas lega sambil tersenyum senang dan memasukkan kembali handphone ke sakunya.
.. ..
Di kota A, tempat mengajar Syakila.
”Mis you to kakak. Aku menanti kedatanganmu...” gumam Syakila sambil meremas pelan hapenya dengan tersenyum senang. Kemudian, hape itu ia simpan kembali ke dalam tas.
Senyum selalu mengembang di kedua bibirnya. Ia nampak bahagia sekali dengan kabar keberangkatan Sardin ke kota A.
Ia berdiri dan melangkah menuju ruangan kelas tiga untuk mengajar. Ia melangkah dengan semangat. Jam mengajarnya sudah selesai, namun, ia sedang menggantikan jadwal guru lain yang berhalangan datang untuk mengajar.
Di kantor Geo.
Geo menggenggam erat ponsel di tangannya, tatapannya tajam menatap ke depan. Ia sangat marah dan cemburu mendengar percakapan antara Syakila dan Sardin. Ia membuka handset bloothoot yang ada di telinga kirinya, meletakkan dengan sedikit kasar di atas meja.
”Apa kamu benar-benar mencintai Sardin, Syakila? Tidak bisa kah kamu mencintai ku? Apa kelebihan pria itu di banding aku? Aku lebih segala nya di bandingkan pria itu.” gumamnya, suaranya terdengar sedih.
Ia teringat dengan jawaban Syakila untuk Sardin, ”Em, kakak memang gak pernah membohongi Kila. Untuk itulah Kila sangat mempercayai kakak dan sangat mencintai kakak.”
__ADS_1
”Apa benar begitu? Tidak mungkin ada laki-laki yang tidak berbohong kepada pasangannya! Apakah hanya dengan kepercayaan sudah bisa membuat mu jatuh cinta Syakila? Apa kamu tidak pernah mempercayai ku?” gumamnya, pandangannya tidak senang.
Lalu, ia teringat dengan perkataan Rivaldi, guru Syakila padanya, waktu ia pergi berobat pada Rivaldi, di kota S.
”Apa kamu yakin akan menyembunyikan kesembuhan mu ini pada Syakila? Dia tidak suka di bohongi.”
”Hanya itu caraku untuk menahan dia di sisi ku.”
”Jika Syakila tahu kamu telah membohonginya, dia akan membencimu seumur hidupnya.”
Geo menghela nafas, ”Apapun, bagaimana pun, kamu tetap milikku Syakila! Aku tidak akan memberikan mu pada pria lain! Seharusnya kamu bersyukur, kamulah wanita pertama yang aku pertahankan dalam hidup ku ini.” gumamnya lagi, pelan.
Ia melihat pintu ruangan yang terbuka, Beni melangkah masuk ke dalam ruangan. ”Beni, setelah ini, ayo kita jemput Syakila. Mulai dari sekarang sampai seterusnya, aku akan antar dan jemput Syakila tepat waktu. Di saat dia ingin pergi kemanapun, aku akan menemaninya.” ucapnya pada Beni.
Beni terkejut, ”Ah, kenapa tiba-tiba? Kamu ingin memperketat pergerakkan Syakila? Dia akan merasa terkekang oleh mu. Berikan dia kebebasan dan percayalah sama dia.” ucapnya, menasehati.
”Aku tidak percaya pada cinta nya! Aku akan selalu berada di sisinya setiap waktu, terkecuali dia sedang mengajar. Tempatkan orang di sekolah untuk mengintai Syakila. Sama siapapun dia bertemu, laporkan padaku!”
Beni terheran, ”Geo, ada apa ini? Hubungan kalian berdua sudah membaik, jangan membuat semuanya rumit lagi Geo! Bukan kah kamu sendiri yang memberikan kebebasan pada Syakila? Lalu, mengapa kamu berbuat ini lagi sekarang? Geo, jangan membuat hubungan baik dan dekat kalian berdua kembali berjarak, hanya karena ego mu!” ucapnya, menasehati.
”Tidak perlu mengomentari urusan ku! Kamu turuti saja yang aku mau! Selesaikan pekerjaan mu, setelah ini, ayo jemput Syakila.” sahut Geo, ia kembali melihat kertas yang ada di tangannya.
Beni terdiam, entah apa yang harus ia katakan untuk menasehati Geo, pria yang keras kepala itu. Ia kembali memperhatikan kertas di depan mejanya.
Syakila, ku harap, kamu akan mengerti dengan sikap Geo yang berubah ini. benaknya, sambil menghela nafas.
.. ..
Di kota S, di bandara.
”Antonio, ayo kita naik ke pesawat, aku tidak ingin terlambat!” ucap Vian, ia telah berdiri, memegang tasnya.
”Sabar, Paman. Pesawat nya juga belum berangkat.” sahut Antonio. Ia sedang memperhatikan layar ponselnya.
”Ayo, cepatlah! Aku ingin mengejar pria tadi!” ucap Vian mendesak Antonio.
”Baiklah, terserah mu saja! Aku pergi!” ucapnya, ia memutar badan dan melangkah pergi, meninggalkan Antonio. Ia mengejar Sardin.
Antonio masih berfokus pada layar hapenya, ia sedang membaca satu persatu laporan yang masuk dari anak buahnya.
Wajahnya tampak bahagia, senyum terukir di bibirnya. ”Bagus! Berita ini membuat ku senang! Geo tunggu saja! Perusahaan sedang mu sudah berhasil ku kuasai! Tunggu kehancuran mu!” gumamnya, sambil mengetik pesan dan mengirimkan pada anak buahnya.
”Aku sangat puas sekarang!” gumamnya, sambil berdiri. Ia melihat ke pesawat, para penumpang sudah berbaris naik ke pesawat. Ia bergegas ke sana. ”Apa paman telah bertemu dengan pria itu?” gumamnya lagi.
Ia adalah penumpang terakhir yang memasuki pesawat. Setelah ia duduk dengan benar di bangkunya, ia kembali memperhatikan layar hapenya.
”Ada hal menarik apa yang tidak bisa mengalihkan pandangan mu dari layar hapemu itu?” tanya Vian sambil duduk.
Antonio melihat ke samping, ”Eh, Paman. Ada hal yang paling menarik Paman. Paman ingin tahu?” jawabnya.
”Apa?”
Antonio tidak lekas menjawab, ia malah memberikan handphone nya pada Vian, pamannya itu.
Vian mengambil dan melihat juga membaca tulisan yang ada di sana. Ia terkejut sekaligus kagum. ”Apakah ini benar-benar sudah berhasil?” tanyanya, tidak percaya.
”Belum semua berhasil Paman. Tapi, sebentar lagi pasti akan berhasil. Setelah kita menjatuhkan perusahaan dia, kehancurannya juga tidak bisa di elak kan!” sahut Antonio dengan tatapan tajam melihat ke depan, sambil tersenyum licik.
”Kerja bagus! Jika kabar ini ia tahu, maka sudah terlambat baginya untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaannya itu! Dan ia pasti akan menyuruh Beni untuk ke kota S memperbaiki semuanya. Dan kita... mempunyai kesempatan bagus untuk membunuhnya di kota A.”
Antonio semakin tersenyum licik, ”Kamu benar Paman!” ucapnya.
Sardin yang duduk di belakang kursi mereka terkejut mendengar pembicaraan mereka berdua.
Siapa yang ingin mereka bunuh di kota A? Beni? Tunggu....apakah Beni yang mereka bicarakan adalah Beni adik tirinya Geo? Geo memang memiliki banyak perusahaan-perusahaan di kota S. Apakah Geo yang menjadi target mereka berdua? Kalau begitu, Syakila juga dalam bahaya!Siapa mereka berdua ini? Apa motifnya? benaknya.
”Paman, apa Paman sudah bertemu dengan pria itu?” tanya Antonio.
”Belum, setelah masuk, Paman tidak tahu dia berada di mana! Gara-gara kamu, Paman kehilangan dia.” jawab Vian.
__ADS_1
”Semoga saja Paman bisa bertemu dengannya. Oh iya, Paman, memangnya apa yang ingin Paman lakukan jika bertemu pria itu? Apa Paman ingin menanyakan tentang Syakila?” tanya Antonio lagi, ingin tahu.
Kening Sardin mengerut, Siapa yang dia cari di dalam pesawat ini? Mereka tadi menyebut nama Syakila, apakah Syakila ku yang mereka maksud? benaknya.
”Tentu saja! Aku penasaran tentang berita pernikahan mereka berdua. Mana mungkin Syakila mau menikahi pria cacat!” jawab Vian.
Sardin terkejut, Ternyata benar! Mereka memang membicarakan tentang Syakila ku. Apa jangan-jangan target mereka memang Geo! Pria cacat yang menikah dengan Syakila adalah Geo. Siapa sebenarnya mereka ini? Apakah ini salah satu musuh dari Halim, ayahnya Syakila dulu? Atau kah musuhnya Albert? Apa aku harus menampakkan diri pada mereka, agar mereka mendekati ku? Aku ingin tahu apa rencana mereka berdua. benaknya.
”Apakah hanya itu? Apa bukan karena penasaran dengan hal yang Paman dengar tadi?”
”Itu salah satunya! Sudah diam lah! Nikmati saja penerbangan ini!” ucap Vian sambil memejamkan mata, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Antonio terdiam.
Sardin beranjak berdiri, ia berjalan ke depan mendatangi pramugari. Ia sengaja memancing kedua pria itu untuk melihat dirinya.
Setelah beberapa menit ia berbicara dengan pramugari, ia kembali ke tempat duduknya.
Vian diam-diam memperhatikan Sardin dan melihat kemana arah duduknya. Apa! Ternyata dia duduk di belakang ku! benaknya, setelah ia melihat Sardin duduk tepat di belakangnya.
Sardin tersenyum sedikit, ia berhasil memancing pria itu untuk memperhatikan dirinya. Ia duduk dengan santai, berpura-pura jika ia tidak tahu sedang di perhatikan.
Vian berdiri, ia melihat Sardin duduk seorang diri. Ia menghampiri Sardin. Sardin bersikap santai dan cuek saja.
”Permisi Bang,” sapa nya.
”Oh, iya, ada apa Bang?” sahut Sardin, dengan santai dan ramah.
”Em, perkenalkan nama ku Vian.” ucapnya sambil mengulurkan tangan ke depan.
Sardin melihat tangan Vian, lalu beralih melihat wajah Vian, Vian tersenyum ramah padanya.
”Nama ku Sardin.” sahutnya sambil menyambut uluran tangan Vian. Mereka berdua saling berjabat tangan, kemudian melepasnya.
”Em...” Vian menghentikan ucapannya. Ia tidak tahu ingin berbicara apa? Apakah harus berterus terang menanyakan Syakila langsung? Ataukah harus berbasa-basi lagi mengakrabkan diri lalu bertanya?
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sardin menyadari hal itu, namun, ia tetap berdiam dan menunggu apa yang akan di lakukan atau di bicarakan oleh Vian.
Alhasil, Vian hanya duduk bersampingan dengan Sardin tanpa berbicara satu kata lagi selain berkenalan.
Sardin pun memejamkan mata sambil bersedekap, bersandar pada sandaran kursi.
.. ..
Di kota A, kantor Geo.
Geo dan Beni masih berpusat pada lembaran di atas meja mereka. Geo melirik Beni, masih terdapat beberapa map lagi yang ada di atas meja pria itu.
Sedangkan ia, yang di periksa nya adalah yang terakhir. Ia menutup map tersebut, ia merapikan semua file dan dokumen yang telah ia tandatangani dan telah ia cek. Ia memisahkan keduanya.
Setelah itu, ia melirik jam. Sudah hampir dua jam, seharusnya dia sudah selesai mengajar, menggantikan temannya. Dan pesawat, sekitar satu jam setengah lagi akan sampai di bandara kota ini. Aku harus mencegah mereka bertemu selama Sardin berada di kota ini. benaknya.
”Beni, bawa saja dokumen yang belum kamu selesaikan ke rumah. Sekarang, mari kita jemput Syakila. Sampai di rumah baru kamu lanjutkan periksa file-file itu.” ucapnya, pada Beni.
”Tinggal lima dokumen lagi yang ku periksa Geo. Tanggung lah! Tunggu sebentar, selesai ini dulu. Ok?” sahut Beni.
”Tidak bisa! Cepat bereskan!” ucap Geo bersikukuh pada pendiriannya.
Beni menghela nafas, ”Baiklah!” sahutnya. Ia berdiri, merapikan dokumen yang di atas mejanya.
Dokumen yang telah ia periksa, ia bagi dalam dua bagian, sesuai dengan proyeknya. Sedangkan dokumen yang belum ia periksa, ia pegang di tangannya. ”Ok, kita bisa pergi sekarang.” ucapnya.
Ia berjalan mendekati Geo yang telah berada di pintu ruangan. ”Kamu pegang lah dokumen ini, aku mendorong kursi roda mu.” ucapnya lagi.
Geo menurut, ia memangku dokumen Beni. Beni mendorong kursi roda Geo, mereka keluar dari ruangan.
Mereka tiba di lantai satu, Beni terus mendorong kursi roda Geo hingga ke parkiran mobil. Mereka masuk ke dalam mobil.
Beni menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju sekolah tempat Syakila mengajar.
__ADS_1