Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 43


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat, Kesuksesan pun perlahan mulai di raih Halim. Ia baru saja membeli toko yang jaraknya dua buah toko dari toko kosmetiknya. Dan ia sudah membelanjakan barangnya khusus dari kota S.


Rumah Halim pun telah rampung sempurna. Halim pun sudah membeli perlengkapan dapur dan rumah untuk mengisi rumah tersebut.


Ia juga sudah membeli lemari pakaian, kasur, kelambu untuk di kamar anak-anaknya. Juga untuk di kamar pribadinya. Jumlah kamar di rumah Halim ada enam. Kamar pribadinya sendiri, Syakila sendiri, Fatma sendiri, Hardin sendiri, sedangkan Yuli, Ita, dan Endang satu kamar bersama.


Cat warna rumah itu mengikuti warna kesukaan Syakila, yaitu hijau. Karena rumah Halim telah jadi, maka Halim dengan seizin Anton, ia tinggal di rumah itu di temani Denis.


Dalam kesempatan itu Hamid mengunjungi Halim di rumahnya. Ia berbicara dengan Halim tentang masalah Halima. Dan kebetulan juga Halim ingin membicarakan hal yang sama kepada Hamid.


"Halim, jadi bagaimana? Kamu jadi membantunya?" Hamid bertanya dengan serius.


"Iya, aku sudah bertekad untuk membantunya, aku sudah merencanakan semua. Dan kamu ikut serta dalam rencana ku." jawab Halim.


"Apa?" Hamid terkejut. "Mengapa kamu ikutkan aku dalam rencana mu? Aku tidak mau? Kamu tidak tahu mereka itu orang seperti apa, aku tidak ingin terlibat dalam hal ini!" tolak Hamid.


"Hamid, dengar kan dulu rencana ku ini." pinta Halim.


"Ok, aku mendengar kan, bicaralah!" Hamid mengalah.


Halim pun menceritakan tentang rencananya kepada Hamid, tanpa ia tutup-tutupi semuanya.


"Jadi, aku mau titip mereka di rumah mu. Karena di sana menurutku aman untuk tempat tinggal persembunyian mereka. Karena di depan rumah mu dan di samping kiri rumah mu adalah seorang polisi. Mau kan kamu membantuku dengan mengizinkan mereka tinggal bersama kamu?"


Hamid mendengus kesal. "Mana boleh, aku tinggal dengan mereka, kalau ketahuan mereka bersama ku, aku yang jadi kejaran mereka Hal, bukan kamu."


"Aku berani menjamin, gak bakalan ketahuan mereka tinggal bersama mu! Jadi setuju lah dengan usulanku." pinta Halim.


"Baiklah, yang penting kamu menjaminnya." akhirnya Hamid setuju keinginan Halim, yaitu menyetujui Halima dan adiknya tinggal bersama dirinya.


"Ok, aku jamin!" Halim meyakinkan. "Oh iya, kamu ingin mengatakan apa tadi pada ku?"


"Itu, aku ingin bilang jika, Albert sudah datang di kota ini bersama istri keduanya. Aku dengar ia hanya selama tiga hari saja disini dan dia sudah berada dua hari sejak hari kemarin. Jadi kesempatan mu untuk bertemu dengannya adalah hari esok. Bagaimana? Mau bertemu dengan Albert?" ucap Hamid sambil meneguk tehnya.


"Iya, aku akan menemuinya besok. Sebelum aku pulang ke kampung, mereka berdua harus bisa ku keluarkan dari tempat itu." jelas Halim.


"Hum, sebelumnya aku sudah memperingatkan mu, sebelum kamu mengambil keputusan ini. Jadi, suatu saat ku harap kamu gak menyesali perbuatan mu ini, dan ku harap kamu melindungi anak dan istrimu kelak, apapun yang terjadi."


"Iya, aku tahu. Aku terima kasih, kamu mengkhawatirkan ku dan keluarga ku. Insya Allah, aku akan melindungi anak dan istriku dengan baik." ucap Halim penuh keyakinan.


"Baiklah, sekarang aku pulang dulu." pamit Hamid. "Terima kasih atas tehnya dan ingat besok aku akan datang agak siangan untuk menjemput mu, aku hanya mengantar mu kesana."


"Ok," sahut Halim. Hamid pun segera pergi.


Halim sekarang sedang duduk sendiri. Ia memikirkan semua rencananya, yang akan ia lakukan dari sore ini.


"Bismillah, ya Allah semoga niat baik ku ini, tidak akan menjadi suatu halangan untuk kehidupan ku ke depannya. Dan semoga Halima dan Mulfa bisa menjalani kehidupannya dengan baik, tanpa tekanan dan rasa takut akan ancaman yang membahayakan diri mereka berdua. Aamiin."


Niat Halim untuk membantu Halima tidak diketahui oleh Denis maupun Anton, hanyalah Hamid saja yang tahu hal itu.


Lama terduduk dalam termenung nya, Halim kini pergi ke pasar untuk membeli beberapa lembar pakaian syar'i yang lengkap dengan cadarnya.

__ADS_1


Setelah itu Halim pergi menemui polisi yang di kenalnya dua Minggu yang lalu. Polisi itu kebetulan adalah sahabat barunya. Fahroni, mereka bertemu di saat Fahroni lagi membutuhkan orang untuk membantu dirinya mendorong mobilnya yang mogok di tengah jalan ke bengkel yang jauhnya sekitar lima ratus meter.


Akhirnya Halim dan ia berteman dengan baik. Bahkan mereka bertukar alamat rumah. Dan kesempatan ini Halim menemuinya. Kedatangan Halim di terima baik oleh Fahroni dan istrinya.


Halim menceritakan semua tentang Halima kepada Fahroni. Dan Fahroni bisa membantu Halim dengan sukarela. Setelah mencapai kesepakatan Halim pamit undur diri dari kediaman Fahroni.


"Sebelum nya terima kasih Ron, aku pergi dulu. Besok pagi aku akan ke sini lagi."


"Sama-sama Halim, aku senang bisa membantu mu. Dan lagi ini suatu keuntungan juga bagiku. Jika sesuai rencana, aku akan menangkap Kevin. Dia memang sedang kami incar dalam kasus prostitusi, selama ini bukti selalu hilang untuk kami selidiki. Jadi, biarkan aku yang menjemput mu di rumah mu besok." jelas Fahroni.


Halim terkekeh kecil. "Ok, mana baiknya saja Ron, aku tunggu besok! Sekarang aku pergi!"


"Ok," sahut Fahroni singkat. Halim pun akhirnya benar-benar pergi dari kediaman Fahroni. Ia kembali ke rumahnya.


.. ..


Malam ini Denis, Hamid, dan Halim kembali nongkrong ke Club. Tapi kali ini ada yang beda, karena Anton juga ikut gabung nongkrong di sana.


Mereka menempati ruang pribadi Anton di Club tersebut. Ruang pribadi Anton tidak terlalu besar, dindingnya terbuat dari kaca yang tembus pandang. Tidak seperti ruangan pribadi yang lainnya. Yang dindingnya terbuat dari kaca yang tebal juga yang tidak tembus pandang dan kedap suara.


Dari ruangan itu mereka bisa melihat dengan jelas siapa saja yang keluar masuk dalam Club tersebut dan dengan jelas bisa melihat ke sekeliling Club.


Air minum yang di pesan nya pun bukan berupa bir atau pun minuman anggur dan yang lainnya yang bisa membuat mabuk.


Anton hanya memesan air minum yang biasa yang bersoda ringan. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk bercerita hangat dan bermain truth or dare.


Permainan itu semakin lama semakin asyik, dan dari permainan tersebut, Halim mengetahui jika Sarmi adalah mantan pacar pertama dari Hamid dan Anton. Halim, hanya terdiam saja tidak memberi tanggapan akan kebenaran itu. Ia hanya bersyukur karena Sarmi adalah miliknya.


Halim melihat-lihat sebentar ke ruangan Club, untuk mencari sosok yang di kenalnya. Halim tersenyum setelah melihat sosok tersebut.


Sesuai prediksi Halim, Halima memang mengikuti Halim ke toilet. Halim sengaja melambatkan jalannya, agar Halima bisa mengejarnya.


Tanpa bersuara, dan berjalan sedikit berlari, Halima berhasil mendekati Halim dan menarik tangan Halim untuk pergi ke lorong aman yang tidak di lewati oleh orang.


"Kenapa kamu membawaku kesini? Apa mau mu?" tanya Halim.


"Halim, tolong dengarkan aku!” pinta Halima.


”Bicaralah!”


”Halim, aku mohon tolong bantu aku! Keluar kan aku dari sini!” pinta Halima dengan pandangan mengiba.


”Aku bisa saja menolong mu, tapi kamu harus jujur padaku, ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.” ucap Halim.


”Baik, tanyalah! Aku akan menjawab mu dengan jujur!” sahut Halima.


Tanpa di ketahui Halima, pembicaraan mereka berdua di rekam oleh Halim melalui alat yang di berikan oleh Fahroni. Dan rekaman itu langsung tertransfer langsung ke laptop Fahroni.


”Ceritakan padaku, mengapa kamu bisa sampai berada di dini?”


”Halim, bukankah pernah aku katakan sebelumnya! Kamu tidak mempercayaiku? Kalau aku berada disini karena di jebak sama seseorang?”

__ADS_1


”Bukan nya aku tidak percaya, tapi_” ucapan Halim terhenti saat melihat air mata menetes di pipi Halima sambil memandangnya dengan kecewa.


”Aku tahu? Aku tidak pantas untuk di percayai. Jadi, meskipun aku cerita dengan jujur kalau aku disini karena di jebak oleh Kevin, kamu gak akan percaya sama aku kan?” Halima menundukkan kepalanya, menghapus air matanya.


”Kalau aku bilang, aku akan percaya padamu dengan memberikan bukti, apa kamu akan memberikan aku buktinya?”


Halima mendongak, menatap Halim. ”Aku ada bukti sebuah kontrak kerja yang kami tandatangani, disitu tertulis pekerjaan ku adalah sekretaris dari Kevin dalam mengelola Club milik tantenya Elsa. Nyatanya, Kevin membawaku kesini dan malah menjadi kan ku sebagai wanita penghibur untuk para lelaki yang kehausan dalam belaian. Dan aku baru tahu beberapa Minggu yang lalu, ternyata Elsa adalah ibunya Kevin, bukan tantenya.” jelas Halima.


”Lalu, dimana kertas kontrak itu?” Halim bertanya penuh selidik.


”Ada pada adik ku Mulfa yang aslinya, aku berhasil mencurinya dari Kevin tanpa ia ketahui.” jawab Halima.


”Bisa kamu berikan aku kertas kontrak itu? Dan bisakah kamu mempertemukan aku dan Kevin?”


”Kebetulan besok pagi Kevin kembali dari luar kota. Aku akan memintanya untuk bertemu di sini besok malam. Di tempat ini, bagaimana? Dan untuk kertas kontrak itu aku akan meminta Mulfa untuk membawakannya padamu ke toko mu besok siang.”


”Hum, besok bawa dia kesini, di tempat ini. Dan jika kamu ingin membantuku sebelum aku datang kesini, kamu tahan dia dengan menanyakan kenapa dia membuatmu terjebak disni. Sampai aku datang, apa kamu bisa?”


”Ia, aku bisa!” jawab Halima. ”Apa kamu akan membantuku keluar dari sini?”


”Iya, setelah aku bertemu Kevin, kita temui bos mu, aku akan mengeluarkan kamu dengan baik-baik darinya.” jawab Halim.


”Besok malam, dia akan ada disni untuk memantau para pekerjanya. Aku akan membawamu menemui dia.” ucap Halima.


”Hum, sudah terlalu lama kita berbicara. Aku pergi dulu. Temanku sudah menunggu ku.” pamit Halim.


”Iya, makasih Halim. Aku akan memberikan apapun untuk mu jika aku sudah keluar dari sini, aku berutang budi padamu.” ucap Halima tulus.


”Aku tidak mengharapkan apapun darimu, aku hanya ingin membantu mu saja.” tolak Halim. Ia pun pergi meninggalkan Halima disana sendirian.


Halim kembali ke ruangan Anton. Sedangkan Halima ia kembali ke posisinya dengan perasaan senang.


Aku sudah yakin, kamu akan membantu ku Halim! Dan ternyata benar, sekarang kamu bersedia menolong ku. Terima kasih Halim.


batin Halima.


Sesampainya di ruangan Anton, Halim di serbu pertanyaan oleh Denis dan Anton juga Hamid karena ia begitu lama ke toilet.


”Kenapa kamu baru kembali? Apa yang kamu lakukan di toilet?” tanya Anton.


”Apa kamu janji ketemu seseorang disini, dan ingin menemuinya dengan beralasan pergi ke toilet?” tanya Hamid.


”Abang, Abang tidak berbuat hal-hal yang aneh kan? Mengapa Abang lama sekali ke toilet nya?” tanya Denis.


”Maaf, aku lama di toilet nya. Soalnya antri dan perutku juga sembelit. Jadi, memang lama aku di sana. Dan Abang tidak melakukan hal-hal yang aneh!” jelas Halim menjawab pertanyaan dari Denis, Anton, dan Hamid.


”Oh, ternyata begitu.” sahut Anton. ”Habiskan minuman mu, lalu kita pulang.”


”Tidak Anton, aku sudah tidak ingin minum lagi.” tolak Halim.


”Kalau begitu, ayok kita pulang!” ajak Anton lagi. ”Minumannya sudah ku bayar! Jadi, kamu tidak usah membayarnya.” ucap Anton saat melihat Halim mengeluarkan dompetnya.

__ADS_1


Halim kembali memasukan dompetnya ke sak celananya setelah mendengar ucapan Anton. Mereka pun pulang dari sana. Hamid menggunakan mobilnya sendirian. Sedangkan Halim, dan Denis bersama Anton.


Anton, mengantar Halim dan Denis kerumahnya dulu, baru ia pulang ke kediamannya sendiri.


__ADS_2