
Perjalanan Anton dan Denis ke perumahan Eg.
Anton menghentikan mobil di depan perumahan Eg. Ia melihat ada beberapa buah mobil yang terparkir di sana. Anton tahu dengan jelas jika mobil itu adalah mobil milik Geo dan anak buahnya.
Anton dan Denis keluar dari mobil.
Denis melihat sekitar area perumahan. ”Sudah lama sekali aku tidak kemari. Tapi, seperti nya tempat ini ada perubahan, yah?” ucap Denis.
”Iya. Setelah kelompok Eagle di hancurkan oleh Geo, Geo membangun kembali perumahan Eagle ini dengan baik. Ia memindahkan warga dari tempat kumuh untuk pindah ke perumahan ini. Dan bukan hanya itu, Geo juga memberikan mereka penghidupan yang layak untuk mereka. Setiap bulannya, Geo selalu memberikan uang untuk semua warga di sini untuk menyambung hidup mereka. Hanya saja.. ada beberapa orang yang mengambil keuntungan dari itu.” ungkap Anton.
”Apakah Geo tidak tahu hal itu?” tanya Denis lagi.
”Apakah ada yang tidak di ketahui oleh Geo pada wilayah kekuasaannya sendiri?” Anton balik bertanya.
Denis terdiam. Benar! Apakah ada yang tidak di ketahui oleh Geo, sebagai pemilik perumahan ini? Tentu saja Geo tahu!
”Kalau dia tahu...kenapa dia tidak melarang orang itu membangun Gedung besar di ujung perumahan ini?” Denis semakin penasaran.
”Mungkin saja Geo memberikan kesempatan untuk orang ini bertobat! Atau mungkin juga karena ia memikirkan perasaan adiknya, Beni dan Marlina.” jelas Geo.
Anton dan Denis sama-sama mengangkat tangan menutupi mata mereka yang silau akibat terkena cahaya lampu mobil yang terang. Mereka berdua melihat ke arah mobil yang baru berhenti itu.
”Itu dia! Wandi dan Rian. Baguslah! Kita akan masuk bersama-sama dengan mereka.” ucap Anton.
Lampu mobil meredup. Anton dan Denis melihat Wandi dan Rian turun dari mobil. Anak buah mereka juga turun dari mobil. Mereka semua berjalan menghampiri Anton dan Denis.
”Selamat malam, Anton, Denis!” sapa Wandi dan Rian.
”Selamat malam juga, Wandi, Rian!” sahut Denis dan Anton. Mereka berempat saling bersalaman.
”Ayo kita masuk sekarang.” ajak Anton.
Mereka masuk ke dalam perumahan itu sama-sama.
.. ..
Di sisi lain gedung.
”Apa semua sudah siap?” tanya Vian pada seluruh anak buahnya.
”Sudah, Bos!” seru semua anak buahnya.
”Hum! Ayo kita masuk!” titah Vian.
”Baik, Bos!” seru anak buahnya lagi.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam gedung melalui pintu lain. Perjalanan mereka untuk masuk ke dalam harus kandas begitu saja.
Empat pengawal bayangan Geo menghadang mereka dari pintu itu.
”Sial!! Para pelindung bayangan Geo! Kenapa mereka bisa ada di sini?” ucap Vian dengan kesal.
”Lumpuhkan ke empat orang ini! Kita ada banyak orang, mereka hanya berempat, seharusnya bukan jadi penghalang kita untuk masuk dalam gedung kita sendiri!!” seru Vian pada anak buahnya.
”Siap, Bos!”
Mereka pun membentuk empat kelompok untuk menghadapi ke empat pelindung bayangan Geo.
Ke empat anak buah Geo dan para anak buah Vian, saling mengadu kekuatan. Tinju, tendang, selalu mereka terima saat ada kesempatan lawan untuk meninju dan menendang.
Suara denting parang yang saling bertemu juga terdengar. Suara erangan kesakitan sering kali terdengar dari mulut anak buah Vian.
”Marlina, ayok ikut masuk ke dalam.” titah Vian pada Marlina.
”Iya, Paman.” sahut Marlina.
Vian memegang tangan Marlina, menariknya pelan masuk ke dalam gedung. Mereka langsung menuju ke tempat Antonio dan Sardin berada.
Anak buah Vian yang tidak ikut mengepung keempat anak buah Geo, mengikuti Vian dan Marlina masuk ke dalam gedung.
.. ..
Di tempat Syakila dan Geo berada saat ini.
Syakila menoleh ke belakang, melihat Geo. Syakila menghela nafas melihat luka tembakan yang di terima Geo. Meskipun tangan dan pahanya terluka, Geo nampak baik-baik saja.
Jika kami masih berlama-lama di sini, aku takut darah Geo akan kehabisan sedikit demi sedikit. benak Syakila.
Ia teringat ucapan anak buah Geo tadi, jika Beni dan Geo datang bersamaan.
Eh...lalu..Beni di mana? benaknya lagi.
Syakila melihat tiga pria yang mendampingi Geo. Seharusnya, ketiga pria itu bukan apa-apa bagi Geo. Geo pasti bisa melumpuhkan ketiga pria itu dengan cepat tanpa senjata.
Syakila melihat tiga pria yang ada padanya. Syakila menghentikan langkah. Para anak buah Antonio ikut berhenti. Begitu juga dengan Geo dan yang mengawalnya. Mereka juga berhenti.
”Kenapa?” tanya salah satu di antara anak buah Antonio pada Syakila.
Syakila menggeleng. Dengan langkah cepat, Syakila menyikut pria yang ada di samping kirinya, memegang tangan pria yang memegang senjata, di samping kanannya dan menendang pria yang ada di belakangnya.
Geo pun melakukan hal yang sama, yang di lakukan oleh Syakila. Menghajar para ketiga pria yang menahannya.
Pria yang di sebelah kiri Syakila mengarahkan senjata pada Syakila, ia membidik tangan Syakila. Dengan langkah cepat, Syakila menarik pria yang di pegang nya tadi ke hadapannya, menjadi tamengnya.
Alhasil, saat peluru di tembakan, peluru tersebut mengenai pria itu. Pria itu mati seketika terkena beberapa kali tembakan dari temannya sendiri. Setelah itu, ia menghajar pria yang menembak tadi. Pria itu jatuh tersungkur, pergelangan kedua tangannya telah di patahkan oleh Syakila. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
__ADS_1
Syakila merasakan pergerakan dari pria yang di tendangannya tadi. Sekali lagi, Syakila melayangkan tendangan memutar kepada pria itu. Pria itu terbaring dan mundur dalam beberapa meter dari tempatnya. Ia meringis kesakitan saat punggungnya menghantam dinding dengan keras. Perut dan dadanya terasa sangat sakit, darah keluar dari kedua sudut bibir pria itu. Pandangannya pun kabur, pria itu tidak sadarkan diri.
Syakila melihat Geo. Geo telah berhasil melumpuhkan tiga pria yang menahannya.
”Geo, tangan dan pahamu terluka! Sebaiknya, kamu kembali saja. Sardin, biar aku sendiri yang selamatkan.” ucap Syakila.
”Aku sudah sampai di sini dan sudah seperti ini. Kamu mau menyuruh ku menyerah? Apakah aku terlihat lemah? Lihatlah dirimu sendiri! Tangan mu terluka, luka di telapak kaki mu juga sudah terbuka. Apa kamu tidak memikirkan dirimu sendiri?” Geo melihat Syakila tidak senang. Syakila meremehkan dirinya. Dan Syakila tidak mempedulikan nyawanya sendiri.
”Aku tidak peduli dengan diriku! Bagiku, keselamatan Sardin lebih penting dari segalanya!” sahut Syakila.
Geo terkejut. Dia tidak menduga ucapan Syakila ini. Dia marah, dia cemburu, sangat cemburu. Syakila begitu mencintai Sardin, hingga tidak memperdulikan nyawanya sendiri.
Geo memegang tangan Syakila yang terluka dengan erat.
”Ah! Sakit!” jerit Syakila.
Geo melepaskan tangannya. Ia tidak tahu jika dia memegang tangan Syakila yang terluka.
”Cinta mu begitu besar padanya. Aku sangat iri dengan Sardin. Aku.. rasanya ingin dia mati saat ini, agar kamu bisa mencintai ku.” ucap Geo dengan sedih. ”Jika orang yang ada di dalam sana adalah aku, apa kamu juga akan datang menyelamatkan ku? Mempertaruhkan nyawa mu demi ku?” tanyanya.
Syakila terdiam melihat Geo. Apakah pria di depannya ini cemburu? Syakila bisa melihat cinta Geo yang hadir untuknya dari mata Geo. Syakila menunduk.
”Jawab aku Syakila? Apa kamu akan datang mengorbankan nyawa mu untuk menolong ku, jika aku adalah orang yang di dalam sana?” kembali Geo bertanya.
Wajahnya Syakila kembali terangkat, melihat Geo. Geo sangat menantikan jawaban darinya.
”Tapi...kamu gak mungkin kan akan berada dalam situasi seperti itu?” hanya itu kata yang keluar dari mulut Syakila.
Geo tersenyum kecut, ”Aku berada di sini sekarang karena kamu! Kamu kelemahan ku, Syakila. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku selalu menang dalam menghadapi pertempuran, perkelahian dan apapun itu. Tapi, karena kamu..aku mengalah, asal kamu baik-baik saja.” ucapnya.
Syakila kembali terdiam. Kata demi kata yang diucapkan Geo, menyentuh hatinya. Melebur dalam aliran darahnya. Jantungnya berdetak cepat. Dadanya berdebar tidak menentu. Ia menunduk.
Geo kembali tersenyum kecut. Syakila tidak akan pernah tersentuh dengan kalimat yang ia utarakan. ”Kita sudah banyak berbicara omong kosong. Ayo kita lanjut berjalan, jalan ini pasti membawa kita pada Sardin dan Antonio.” ucapnya. Ia memegang tangan Syakila, menariknya untuk berjalan.
Syakila tidak berdaya, ia ikuti langkah kaki Geo yang menuntunnya.
Bicara omong kosong? Itu bukan hanya omong kosong! Geo benar-benar telah mencintai ku. Rasa cintanya besar padaku, seperti cinta Sardin untukku. Apakah sedikitpun aku tidak mencintai Geo? benak Syakila.
Ia bertanya-tanya pada hatinya sendiri, apa posisi Geo di dalam hatinya.
”Hanya terdapat satu ruangan di jalan ini Seharusnya, ruangan itu adalah tempat mereka menyekap Sardin.” ucap Geo. Ia melihat Syakila. Wanita itu tidak berkonsentrasi, entah apa yang dipikirkan wanita itu!
Geo menggoyangkan tangannya yang memegang tangan Syakila. ”Syakila, apa kamu mendengar ku?”
”Hah! Ya, apa?” Syakila terkejut.
”Rupanya kamu tidak mendengar ku. Kamu harus fokus! Kita kesini untuk menyelamatkan Sardin. Ayo, kita masuk ke ruangan itu. Apapun yang terjadi di dalam sana, kamu harus baik-baik saja!” ucap Geo.
Ah, iya, Sardin masih dalam bahaya. Aku hampir melupakan nya. benak Syakila. Ia melihat ruangan yang di maksud Geo.
”Bersiaplah untuk menghadapi apapun itu!” ucap Geo.
Geo membuka pintu ruangan itu. Syakila terkejut melihat Sardin yang sudah babak belur. Bahkan saat ini kepalan tangan Antonio ingin meninju wajah Sardin.
Syakila berlari cepat menghadang aksi Antonio. Syakila menggeser tubuh Sardin dan menahan tinju Antonio dengan telapak tangannya.
”Syakila!” seru Sardin.
”Wah...kamu sudah datang rupanya.” ucap Antonio sambil tersenyum senang. Ia melihat Geo. ”Wah...wah! Buruan ku termakan umpan. Buruan ku mampir sendiri ke kandang ku.” ucapnya lagi.
”Apa mau mu? Mengapa kamu menculik Sardin?” tanya Syakila.
”Apa wajah mu bisa di lembut kan? Nada suaramu juga terlalu tinggi. Karena kamu penasaran. Baiklah! Aku menginginkan nyawamu!” wajahnya terlihat sangar. Senyum yang ia pamerkan dari tadi sirna. Tatapannya pun tajam melihat Syakila.
”Nyawaku? Kamu siapa? Aku tidak pernah memperlakukan mu dengan buruk!”
”Karena Halim, ayah dan nenekku di penjara! Karena Halim, nenekku mengakhiri hidupnya di penjara! Karena Halim, ayahku meninggal!” suara Antonio semakin tinggi, amarahnya semakin terlihat jelas di wajahnya. Matanya memerah karena amarahnya.
Syakila membulatkan matanya. Ia tidak percaya, bahwa Antonio adalah anak dari Kevin.
”Nyawa mu pun belum bisa memuaskan hati mereka, kecuali, seluruh keluarga mu mati di tangan ku!” ucap Antonio lagi.
”Membunuhnya dan membuat dia langsung mati, tidak akan membuat papa dan nenek tersenyum bahagia di sana. Dia harus menderita!” sambung Marlina. Ia mengarahkan pistol pada kaki Syakila.
Dor!
”Argh!” jerit Syakila. Peluru di betisnya begitu panas dan sakit menusuk.
”Syakila!” seru Sardin dan Geo. Mereka bergerak menghampiri Syakila.
”Tahan kedua pria itu!” titah Vian. Vian dan Marlina berjalan mendekati Antonio.
Anak buah Vian sigap, mereka memegang Sardin dan Geo. Sardin dan Geo memberontak. Menghajar, meninju, dan melawan anak buah Vian.
Melihat Geo dan Sardin yang melawan, Syakila mengambil kesempatan menghajar Antonio.
Antonio yang tidak siap, ia terkena pukulan dan tendangan dari Syakila. Badan Antonio mundur beberapa langkah. Tangannya menyeka dara dari sudut bibir kirinya. Ia menyeringai.
”Kakak!” seru Marlina.
”Antonio!” seru Vian.
Mereka berdua menghampiri Antonio.
”Aku tidak apa-apa!” ucap Antonio. ”Bunuh mereka bertiga!” titah Antonio pada anak buahnya.
__ADS_1
”Jangan harap kalian bisa menyentuh tuan ku!” seru para pelindung bayangan Geo.
”Bagus! Kalian muncul di waktu tepat! Yang lainnya bantu Syakila dan Sardin.” titah Geo.
Mereka bertiga berpencar, ada yang mendampingi Geo, Sardin, dan Syakila.
Perkelahian pun tidak terelakkan lagi. Syakila melihat Sardin yang kelelahan.
”Bukan kah kamu hanya ingin nyawaku? Maka lepaskanlah Sardin dan Geo!” ucap Syakila dengan lantang.”
”Melepaskan mereka? Hahahaha!” Antonio tertawa lepas. ”Justru aku semakin ingi membunuh nya!” ucapnya lagi. Ia mengarahkan pistol pada Sardin.
”Tidak! Sardin awas!” teriak Syakila.
Syakila berlari ke arah Sardin.
Dor! Antonio melepaskan tembakannya. Syakila terkejut. Kecepatan larinya kalah dari kecepatan peluru yang baru saja di tembakan.
Ia melihat Sardin, Sardin tampak baik-baik saja menghajar anak buah Vian.
Geo. benak Syakila.
Syakila melihat Geo, peluru menancap di bahunya. Namun, pria itu terus beradu kekuatan dengan anak buah Vian. Rupanya, Antonio menembak Geo.
Syakila terkejut melihat Marlina yang berjalan ke arah Geo sambil memegang belati di tangannya. Ia juga melihat Vian membidik Geo, ingin menembak Geo.
”Apa kamu suka dengan kejutan ku, Syakila?” tanya Antonio. Sekarang ia berada di belakang Syakila. ”Setelah melihat suami mu mati, melihat pria yang kamu cintai mati, maka giliran mu untuk mati!” Antonio hendak menghantam Syakila dari belakang.
Namun, dengan gesit Syakila berbalik dan menghantam Antonio duluan. Baru ia berlari ke arah Geo.
”Argh!” jerit Syakila. Tembakan Vian tepat mengenai belakang Syakila.
”Syakila!” Sardin dan Geo sama-sama terkejut.
Geo memegang tubuh Syakila. ”Syakila! Kamu...!” Geo menghentikan ucapannya.
Syakila tersenyum padanya. ”Syukurlah! Peluru itu tidak mengenai mu.” ucapnya pelan. Wajahnya pucat.
Mata Syakila membulat sempurna melihat Marlina yang ingin menancapkan pisau di belakang Geo.
Dengan sisa tenaganya, Syakila membalikkan tubuh Geo. Hingga pisau itu menancap dua kali di belakang Syakila.
”Argh!” sekali lagi Syakila menjerit kesakitan.
Anak buah Geo dengan cepat menghajar Marlina. Vian membantu Marlina.
”Syakila!” tubuh Geo gemetar. Syakila dua kali melindungi dirinya. Badannya terasa lemas melihat Syakila yang tidak berdaya.
”Syakila!” teriak Sardin. Ia berlarih ke arah Syakila. Ia menghajar siapa saja yang menghalau jalannya. ”Syakila!” ucapnya sedih.
”Tangkap mereka!” titah Wandi dan Rian pada anak buahnya.
Bawahan mereka berdua, menghambur masuk ke dalam dan menangkap semua yang ada di dalam sana.
”Polisi!” Antonio, Vian, dan Marlina terkejut dengan hadirnya polisi. Mereka bertiga mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Anton dan Denis, berlari ke arah Syakila. ”Syakila!” ucap mereka dengan sedih.
Syakila tersenyum melihat semua pria yang ada di hadapannya.
”Jangan tersenyum seperti itu, Syakila! Wajah mu sangat mengerikan. Itu menyakitkan untukku.” ucap Sardin. Matanya berkaca-kaca.
Sementara Geo terdiam, membisu seribu bahasa melihat Syakila.
Marlina berhasil di tangkap. Wandi dan Rian memburu Vian dan Antonio yang berlari. Mereka mengeluarkan pistol dan membidik kaki Vian dan Antonio. Tembakan di lepas dua kali, tepat mengenai kedua betis Vian dan Antonio. Vian dan Antonio berhasil di bekuk.
”Bawa mereka ke mobil!” titah Wandi dan Rian.
”Baik, Pak!”
Mereka membawa para tahanan ke mobil.
”Bawa semua mayat yang ada di sini.” titah Wandi lagi pada anak buahnya.
”Siap, Pak!”
Mereka melaksanakan tugas dari atasannya.
Wandi dan Rian menghampiri mereka Anton, Denis, Sardin, Geo, dan Syakila.
Mata Syakila ikut berkaca-kaca melihat Sardin. Tangannya menggapai wajah Sardin. Sardin memegang tangan Syakila.
”Cepat! Bawa Syakila ke rumah sakit!” teriak Anton dan Denis.
Syakila menggeleng pelan, ia meringis kesakitan. Bayangan ayahnya yang terbunuh malam itu terlihat jelas di matanya.
”Tapi, sayang! Kamu harus cepat di rawat sekarang!” ucap Anton.
Syakila kembali menggeleng.
Geo menggendong tubuh Syakila. ”Ayo pergi dafi sini!” ucapnya. Ia memberi isyarat pada pelindung bayangannya. Pelindung bayangannya tersebut mengangguk mengerti.
Geo berjalan cepat. Anton, Denis, Sardin mengikuti jalan Geo. Wajah mereka terlihat sangat khawatir.
”A...aku...ti.. tidak mau...ke..ke..ru..mah sa...kit.” ucap Syakila. Syakila tidak sadarkan diri lagi.
__ADS_1
”Syakila!” teriak Anton, Denis, Sardin dan Geo.
Geo semakin mempercepat langkahnya.