Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 163


__ADS_3

Kamar orang tua Syakila, di kota A.


Syakila masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali pintu itu. Ia melihat seisi kamar yang sudah lama tidak tersentuh itu. Ia melihat foto ayah dan ibunya yang tersenyum indah.


”Ayah... Syakila merindukan ayah...”


Ia meraba wajah gambar ayahnya yang menggantung di dinding itu. Meskipun kamar orang tuanya tidak pernah di tiduri atau di pakai oleh siapapun, tetapi, Samnia selalu membersihkan kamar tersebut seminggu sekali.


Ia melihat lemari pakaian, ia melangkah ke lemari tersebut. Ia membuka lemari itu, pakaian ayahnya masih memenuhi lemari pakaian. Pakaian ibunya juga separuh masih ada dalam lemari pakaian itu.


Ia terus melihat isi lemari pakaian orang tuanya. Ia menemukan satu laci di tengah-tengah tempat celana ayahnya. Ia menarik laci itu, namun, terkunci.


”Terkunci! Di mana kuncinya? Ah, coba ku telfon Hardin.”


Ia meraih hape dari sakunya, ia menelfon Hardin, telfon tersambung.


”Halo, kakak. Ada apa?”


”Hardin, apa kamu di rumah? Kalau mama, apakah di rumah juga?”


”Iya, kak, aku di rumah. Mama juga sedang di rumah, ada apa ya kak?”


”Bisa kamu berikan hapemu sama mama, aku ingin bicara dengan mama.”


”Oh, iya, aku berikan ke mama dulu. Tunggu yah!”


”Iya,” Syakila menunggu. Lima menit kemudian...


”Halo, sayang. Bagaimana kabar mu? Baik?” tanya Sarmi.


”Mama, Asya baik Mah. Ma, tadi Asya bertemu sama tante Halima dan tante Mulfa, juga om Hamid. Mereka menanyakan kabar Mama. Asya menjawab Mama baik-baik saja pada mereka.”


”Alhamdulillah, sampaikan salamnya Mama kepada mereka. Oh, iya, ada perlu apa ingin bicara dengan Mama?”


”Ma, sekarang Syakila ada di rumah papa dan Mama. Sekarang Asya ada di kamarnya Mama dan papa. Apa Mama tahu tentang laci yang ada di lemari pakaiannya Mama?”


”Iya, kenapa dengan laci itu?” tanya Sarmi, penasaran.


”Apa Mama tahu apa isinya?”


”Tidak, Mama tidak pernah meriksa laci itu. Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu ketahui?”


”Untuk sementara belum Mah. Apa Mama tahu di mana kunci laci itu berada?”


”Kuncinya... kalau seingat Mama dulu, papa sering menyimpannya di belakang TV di kamar itu.”


Syakila melihat TV yang di maksud mamanya. Ia berjalan mendekati tv tersebut, ia melihat di belakang televisi, memang benar ada dua buah kunci di sana.


”Asya menemukannya Mah. Tapi, ini terdapat dua buah kunci. Apa Mama tahu kunci apa satunya?” tanya Syakila, sambil berjalan kembali ke lemari pakaian.


”Mama tidak tahu sayang. Mungkin saja ada dua laci dalam lemari pakaian itu.” jawab Sarmi.


Syakila mencoba membuka laci yang di dapatnya dengan mencoba kedua kunci tersebut. Laci terbuka.


Ia melihat dua buah map yang berbeda dalam laci tersebut. Penasaran! Syakila mengambil kedua map tersebut dan berjalan ke arah ranjang. Ia duduk di sana.


”Syakila? Apa kamu masih di sana?”


Syakila terkejut, ”Ah, iya, Mah. Syakila masih di sini. Mah, Syakila sudah membuka laci itu, Syakila menemukan dua buah map yang berbeda. Apa Mama tahu apa isi dari kedua map ini?” tanyanya.


”Mama tidak tahu, kan Mama sudah bilang, Mama tidak pernah memeriksa lemari pakaian ataupun membuka laci itu. Mama buka lemari itu hanya untuk mengambil pakaian ganti saja. Mama sangat percaya dengan apapun yang dilakukan oleh papa mu. Mama tidak pernah meragukan cinta dari papa mu, karenanya Mama tidak pernah memeriksa apapun dan bertanya apapun kepada papa mu.” jawab Sarmi, mengungkapkan.


Syakila membuka map yang berwarna biru. Ia melihat tulisan bagian atas di kertas putih itu ”Surat perjanjian”


”Mah, map warna biru ini adalah surat perjanjian. Mungkinkah ini surat perjanjian antara ayah dan tuan Albert?”


”Apa? Kamu menemukan itu, coba beritahu Mama isi dari perjanjian itu!”


Syakila membaca dengan teliti surat perjanjian itu. ”Mah, benar Mah. Ini adalah surat perjanjian antara ayah sama tuan Albert. Ayah meminjam uang kepada tuan Albert sebesar seratus milyar. Apakah Mama tahu untuk apa uang itu?”


Syakila lanjut membaca.


”Mama tidak tahu. Apakah tidak tertulis di situ uangnya untuk apa?” tanya Sarmi.


”Sepanjang Syakila membaca tidak menemukan kata-kata itu Mah. Ya Allah, ternyata di sini ayah memang mengikat perjanjian, jika ayah tidak mampu membayar uang yang dipinjamnya, maka, ia bersedia menikahkan salah satu putrinya dengan putra dari tuan Albert.” Syakila membacanya dengan terkejut.


”Syakila, maafkan Mama yang tidak tahu hal ini. Jika saja Mama mengetahui ini sejak awal, Mama akan terus melunasi uang yang di pinjam papa mu dan tidak membuat mu menikah terpaksa dengan orang lain.” ucap Sarmi, dengan sedih.

__ADS_1


”Mah, semua sudah terjadi! Tidak perlu di sesali.” sahut Syakila. Ia menutup map biru itu. Ia kini membuka map yang berwarna hijau. ”Mah map warna hijau ini isinya tentang pernyataan papa waktu memenjarakan tante Mulfa. Apa Mama tahu tentang ini?” tanyanya.


”Mama tidak tahu, papa dulu hanya menceritakan pada Mama jika papa pernah menolong Halima. Ia mengeluarkan Halima dari pekerjaannya yang tidak bagus. Selanjutnya, Mama tidak tahu lagi, karena papa mu tidak melanjutkan cerita itu dan Mama juga tidak pernah bertanya tentang kelanjutannya.” ungkap Sarmi lagi.


”Papa yang menolong tante Halima? Memang pekerjaan tante Halima itu, apa Mah? Sehingga papa membantunya.” tanya Syakila, penasaran.


”Tante Halima dulu bekerja sebagai wanita penghibur.” jawab Sarmi.


”Astaghfirullah! Benarkah itu Mama? Jika begitu Kevin dan papa berseteru karena Halima dong!” ucap Syakila.


Kening Sarmi mengerut, ia mencoba mengingat nama Kevin. Oh, Kevin adalah mantan pacar Halima juga yang menjebak Halima menjadi wanita penghibur. benaknya.


”Apa maksud mu, Asya?” tanyanya, kemudian.


”Mama, tadi, om Denis bilang yang berseteru dengan papa itu adalah Kevin. Dan Kevin itu adalah mantan pacar dari Halima. Mungkin saja Kevin salah paham terhadap papa.” jawab Syakila.


”Mama tidak tahu itu. Setahu Mama, Papa mengenal Halima jauh setelah Kevin dan Halima putus. Putusnya mereka tidak ada sangkut pautnya dengan papa. Dan Halima sangat membenci Kevin, karena Kevin lah yang memasukkan Halima sebagai wanita penghibur.” ungkap Sarmi.


”Mama, nanti Syakila telfon Mama lagi. Syakila matikan telfonnya sekarang.”


”Iya, sayang. Syakila, Mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa di sana. Jadi, kamu jangan mencoba mencari tahu tentang Kevin dan Halima. Janji sama Mama kamu tidak akan mencari tahu hal ini!”


”Mama, Syakila tidak bisa berjanji.” tut tut tut Syakila memutuskan sambungan telfonnya.


Ia menelfon Sardin. Tidak perlu menunggu lama, Sardin mengangkat telfonnya.


”Halo, sayang! Merindukan kakak? Tumben telfon, biasanya cuma sms.” ucap Sardin.


”Ya, Kila rindu dengan kakak. Kila menelfon ingin memberitahu kan sesuatu pada kakak.”


”Apa itu? Kelihatannya serius!”


”Iya, kakak. Kak, yang berseteru dengan papaku itu adalah Kevin. Apa menurut kakak yang membunuh papa itu adalah Kevin?”


”Yang berseteru dengan papa Kevin, lalu, Gege?” tanya Sardin.


”Bisa jadi Gege adalah nama samarannya atau bisa jadi nama aslinya. Kakak, Kila akan mencari tahu tentang Kevin.”


”Kamu akan mencari tahu darimana tentang Kevin? Kamu jangan menempatkan dirimu dalam masalah Kila! Kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa di sana!” ucap Sardin, menasehati.


”Kila akan menggali informasi Kevin pada tante Ima dan Mulfa nanti. Kakak tidak perlu khawatir, Syakila akan berhati-hati.”


”Kakak ingin ke sini? Benarkah?” tanya Syakila, tidak percaya.


”Kakak sudah berjanji, kakak akan membantu mu mencari tahu penyebab dan pelaku pembunuh papamu. Kakak akan membantu mu membalaskan dendam. Jadi, kakak akan memenuhi janji itu. Tunggu kakak, ok?”


Syakila tersenyum, ”Ok, kakak! Syakila akan menunggu kakak datang.” sahutnya dengan senang.


”Pak, ini ada dokumen yang harus di periksa, sekaligus di tanda tangani.”


Syakila mendengar ucapan dari karyawan Sardin. ”Kalau begitu, kakak lanjut bekerja, maaf, Kila sudah mengganggu pekerjaan kakak. Kila matikan telfonnya ya kak.” ucapnya.


”Em, Kila tidak menggangu kakak, kok! Baiklah, kakak akan periksa dokumen dulu. Ingat, jangan mencari tahu hal ini sendirian, tunggu kakak. Ok?”


”Iya, kak. By...by...!” ucap Syakila, ia memutuskan sambungan. Ia melihat kedua map yang ada di hadapannya.


Ia mengambil kertas dari kedua map tersebut, melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam tasnya. Ia mengembalikan map kosong ke dalam laci.


Ia mencari laci satunya lagi dari dalam lemari pakaian itu. Namun, ia tidak menemukan laci lagi di sana. Ia menutup kembali lemari pakaian. ”Lalu, kunci satunya ini kuncinya apa yah?” gumamnya.


”Papa menolong Halima, memenjarakan Mulfa. Kevin, apakah dia masih hidup?” gumamnya lagi. Ia membaringkan dirinya di atas ranjang.


Ia melihat jam, ”Ini sudah sore, apakah tokonya om Hamid sudah tutup atau belum yah?” ia masih bergumam.


”Aku tidak bisa beristirahat. Aku ingin menemui tante Halima dan Mulfa. Pasti mereka tahu sesuatu.” gumamnya lagi, ia bangun dan turun dari ranjang. Mengambil tas dan keluar dari kamar. Ia mengunci pintu kamar itu dan kembali menggantung kuncinya di tempat biasanya.


”Loh, Syakila? Kamu tidak Istirahat?” tanya Samnia.


”Em, tidak jadi, Bibi. Om di mana Bi?”


”Om, ada pergi ke pasar sebentar. Tidak lama kok, tunggu saja, sedikit lagi om mu kembali.”


”Tidak usah, Bi. Syakila akan pergi menemui tante Ima dan tante Mulfa dulu ya, Bibi.”


”Tapi, sayang! Jam segini seharusnya mereka sedang menyimpan. Mereka menyimpannya jam setengah lima. Jika ingin bertemu dengan mereka, berkunjung saja kerumahnya. Nanti kamu di antar sama om Denis.”


”Baru menyimpan kan Bibi, kalau begitu, mestinya Syakila masih sempat bertemu. Syakila pergi, Bibi. Assalamu 'alaikum!” Ucap Syakila, ia bergegas keluar dari rumah.

__ADS_1


”Ta... sudahlah! Wa 'alaikum salam.” ucap Samnia, meski tidak di dengar oleh Syakila. Karena Syakila sudah jauh dari rumah.


Syakila berjalan di tengah pasar, ia mencari-cari letak toko dari Hamid.


.. ..


Di rumah Anton.


”Geo, Beni. Ada hal apa yang membuat kalian ke sini?” tanya Anton. Ia terkejut, saat istrinya membangunkan dia dari tidurnya dan mengatakan bahwa Geo datang bertamu. Jadi, ia bergegas bangun dan mencuci muka lalu mendatangi Geo di ruang tamu.


”Aku kesini untuk menjemput Syakila.” jawab Geo.


”Menjemput Syakila?” Anton mengulang perkataan Geo, sambil melihat istrinya. Istrinya menggeleng.


”Tapi, Syakila tidak ada di sini. Tunggu, mungkin saja dia ada di rumah Denis. Aku coba hubungi dia.”


Geo mengangguk. Anton menghubungi Denis. Telfon terhubung di panggilan ketiga. Anton mengaktifkan loud speaker agar Geo ikut mendengar perbincangan antara dia dan Denis.


”Ya, Bang? Ada apa, Bang?” tanya Denis.


”Denis, apakah Syakila ada di rumah mu?” tanya Anton.


”Iya, tapi, sekarang Syakila pergi menemui Hamid di tokonya. Memangnya ada apa Bang?”


”Tidak apa-apa. Ya sudah, aku matikan telfonnya.”


”Iya, Bang!” sahut Denis.


Geo mengambil hapenya dari saku, ia menggeser di layar ke pesan. Ia mengirimkan pesan kepada supirnya yang ada di dalam mobil, di depan rumah Anton.


Pergi ke pasar, cari Syakila sampai ketemu! Tidak ketemu, maka kamu di pecat! Secepatnya.


Baik, Tuan.


Geo hanya membaca balasan dari supirnya. Ia mengambil cangkir tehnya dan meminum teh tersebut.


Di dalam pasar.


Rudi, sang supir Geo pergi ke pasar. Ia mencari-cari keberadaan Syakila. Ia mencari Syakila dengan kesal, karenanya, ia dapat marah dari Geo.


”Aduh, kemana perginya nyonya! Aku harus mencari dari mana? Pasar ini begitu luas!” gumamnya.


Ia mencari-cari sambil melihat ke arah kiri, kanan, depan, dan belakangnya. ”Jika tidak ketemu, maka, aku di pecat! Oh, Tuhan, pertemukan aku dengan nyonya, aku tidak ingin di pecat dari pekerjaan ku ini.” gumamnya, berdoa.


Sementara Syakila berada di sisi lain, masih mencari toko Hamid. Ia lupa di mana arah toko omnya itu. ”Apa mungkin toko yang itu?” gumamnya, sambil melihat toko yang sedang tutup itu.


Ia bergegas ke toko pakaian yang sudah hampir tertutup pintunya. ”Permisi!” ucapnya.


”Iya, Mba! Maaf, Mba. Tokonya sudah tutup. Besok kembali lagi untuk berbelanja.” ucap karyawan toko tersebut.


”Saya datang tidak untuk berbelanja. Apakah ini tokonya tuan Hamid?” tanya Syakila lagi.


”Iya, benar, ini tokonya beliau. Tapi, beliau telah pulang. Jika ingin bertemu dengan beliau, besok saja baru Mba datang kemari.”


”Baiklah, terima kasih.” ucap Syakila. Ia mundur tiga langkah dari pintu tersebut, saat karyawan itu menurunkan pintu untuk menutupnya.


Syakila membaca dan menghafal nama toko tersebut. ”Baiklah, Mba. Aku permisi dulu.” ucapnya, berpamitan.


”Iya, Mba.” sahut karyawan tersebut.


Syakila memutar badan, ia kembali pergi ke rumah Anton, karena Geo akan menjemputnya di sana.


”Nyonya! Syukurlah! Nyonya, cepatlah ikut aku ke rumah tuan Anton. Tuan nampak marah, tidak menemukan Nyonya di rumah tuan Anton.” ucap Rudi, dengan panik.


”Iya, jangan panik begitu!” sahut Syakila.


”Gimana gak panik Nyonya! Pekerjaan ku dalam taruhan sekarang, jika saja saya tidak menemukan Nyonya, maka, aku terpaksa di pecat dari pekerjaan ku, Nyonya!” ungkap Rudi.


Syakila terkejut, ”Apa? Kok bisa begitu?” tanyanya.


”Karena saya tidak menuruti perkataan tuan, saya tidak membawa Nyonya ke rumah tuan Anton.”


Syakila berhenti sebentar, ”Jadi, kamu bilang pada Geo jika kamu menurunkan aku di jalan? Tidak di rumah om ku?” tanyanya.


Rudi ikut berhenti, ”Iya, Nyonya! Saya tidak bisa berbohong pada tuan.” jawabnya.


”Hah! Gila!” ucapnya, tidak percaya. ”Ya sudah, kamu tenang saja, aku akan membela mu. Geo tidak akan memecat mu!” ucapnya lagi.

__ADS_1


”Terima kasih, Nyonya!” sahut Rudi.


Mereka berdua kembali berjalan ke rumah Anton.


__ADS_2