Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 212


__ADS_3

Di rumah sakit Rivaldi


Geo masuk ke dalam rumah sakit. Dia terus berjalan hingga ke ruangan Rivaldi. Dia membuka pintu ruangan Rivaldi. Dia melihat Rivaldi sedang tidur di kursi panjang.


Pantas saja tidak menghubungi ku, ternyata dia lagi tidur. Sudahlah! Tidak usah ganggu tidurnya. benak Geo.


Dia melihat kunci mobil dan sebuah kertas di atas meja kerja Rivaldi. Geo berjalan mendekat, menggeser kunci dari atas kertas dan mengambil kertasnya. Dia membaca isi dari kertas itu. Bibirnya mengukir kan senyum.


Alhamdulillah, cuma demam berdarah biasa. Tidak ada yang perlu di khawatir kan. Syakila, aku lega sekarang. benak Geo.


Dia menyimpan kembali kertas itu di atas meja dan menindihnya kembali dengan kunci mobil. Dia ingin Rivaldi sendiri yang memberikan dan menjelaskan penyakit Syakila padanya.


Geo keluar dari ruangan Rivaldi dan menutup pintu ruangan tersebut dengan pelan. Dia mempercepat langkah menuju parkiran.


Dia melihat anak buahnya menunggu dirinya di dalam mobil. Geo masuk ke dalam mobil.


”Langsung ke apartemen.” titah Geo.


”Baik, Tuan!” sahut sang anak buah. Dia mulai menjalankan mobilnya.


Jalanan di kota S dan jalanan di kota A sangat berbeda. Jika di kota A, pada jam-jam segini, jalanan sudah mulai longgar akan pengguna jalan.


Tetapi, di kota S ini, jalanan masih sangat ramai. Bahkan para muda mudi masih berkeliaran di sisi-sisi jalan. Kurang lebih dengan pemandangan di ibu kota.


Geo menghela nafas, melihat betapa bebasnya muda mudi di malam hari, dari dalam mobil.


Drrrt! Bunyi handphonenya berdering. Geo melihat id si pemanggil. Keningnya mengerut.


Mengapa dia menelfon tengah malam begini? Apakah ada hal penting? benaknya.


Di angkatnya panggilan tersebut. Dia bersandar sambil memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya.


”Hum!”


”Apa kamu sudah tidur?”


”Kamu mengapa tidak beristirahat? Seharusnya kamu istirahat dengan baik. Pernikahan mu tinggal besok.” tutur Geo.


”Syakila sedang sakit, apa kamu tahu?”


”Aku baru saja tahu, di beritahu oleh Rivaldi. Mengapa menelfon ku? Tidak mungkin kan kamu hanya akan memberikan informasi tentang Syakila?” tanya Geo.


”Bisakah kamu datang ke rumah ku?”


”Aku tidak tahu di mana rumah mu. Besok saja kita bertemunya, di gedung the cobra. Aku butuh istirahat. Aku belum beristirahat dengan benar semenjak aku tiba di kota ini.” ucap Geo.


”Dengan kemampuan mu, kamu dapat menemukan rumah ku dalam waktu sedetik. Ok, besok sore hari kita bertemu di the cobra. Kamu harus datang.”


”Iya, tentu. Apa masih ada yang lain?”


”Tidak, itu saja.”


”Kalau begitu, kamu istirahat lah! Tidak baik jika kamu begadang. Kondisi tubuhmu tidak sehat.” nasehat Geo.


”Ok, terima kasih. Aku sudahi.”


”Hum.” telfon terputus. Geo menyimpan asal hapenya. Matanya tetap terpejam.


Apa yang akan di bicarakan anak ini? Apakah dia akan mengatakan hal omong kosong lagi?


Bagaimana bisa aku dekat dengan si bajingan ini? Mana aku perhatian lagi padanya! Apakah ini benar aku, Geovani Albert?


Dulu hidupku tidak seperti ini. Aku sangat kaku dan pertemanan ku terbatas, dengan wanita juga pria. Aku hanya fokus dengan kerja dan menyakiti siapa saja yang macam-macam dengan ku, juga dengan orang yang aku sayangi, tanpa mendengar penjelasan. Brutal, kejam, arogan.


Sekarang, aku seperti orang yang berbeda. Tapi, hidupku seakan lebih tenang. Berpikir sebelum bertindak, perlahan sisi baik ku terlihat. Rasa simpatik juga ada.


Ini semua karena Sardin dan Syakila. Terutama Syakila. Syakila, kamu benar-benar sangat berarti dalam hidup ku. Pembawa perubahan dalam hidup ku. Kamu wanita terindah...yang tidak bisa ku miliki.


”Tuan! Sudah sampai di apartemen.” ucap sang anak buah. Dia menoleh melihat Geo. ”Tuan! Tuan!” panggilnya, saat tidak mendapat tanggapan dari Geo.


”Hum!” Geo membuka matanya.


”Kita sudah sampai, Tuan.”


”Oh. Terima kasih. Kamu pulanglah dan beristirahatlah! Besok, kamu datang jam sepuluh pagi, menjemput ku.”


”Baik, Tuan!”


Geo turun dari mobil. Dia berjalan masuk ke dalam apartemen. Sang anak buah telah melajukan mobilnya meninggalkan apartemen.


Geo mengernyit melihat seorang wanita yang berdiri di depan pintu apartemennya. ”Kamu siapa?” tanyanya.


Wanita itu tersenyum manis dan bergaya imut di hadapan Geo. ”Tuan, Tuan sudah melupakan aku? Aku adalah wanita yang Tuan tolong beberapa bulan yang lalu.” ungkapnya.


Mata Geo mengernyit memandang wanita itu. Dia melihat wanita itu dari atas ke bawah. Pakaiannya terlalu terbuka.


”Aku tidak ingat, tidak kenal! Pergilah dari sini!” usir Geo. Dia membuka pintu apartemennya, mengabaikan wanita itu.


Wanita itu enggan untuk pergi. Dia sudah mempersiapkan dirinya sejak sore tadi untuk bertemu dengan Geo. Dia mendambakan Geo, sejak Geo menolong dirinya.


Pintu apartemen terbuka. ”Kenapa masih di sini? Kamu gak dengar ucapan ku? Pergi!!” kembali Geo mengusir wanita itu.


Bukannya pergi, wanita itu malah mendorong Geo masuk ke dalam apartemen, dia juga masuk ke dalam apartemen dan menutup pintunya.


Geo memandang wanita itu dengan marah. ”Apa yang kamu lakukan? Cepat pergi dari sini sebelum kesabaran ku habis.” ancamnya.

__ADS_1


”Tuan! Aku sudah mempersiapkan diri untuk Tuan. Sejak sore tadi aku menunggu Tuan di sini.”


wanita itu membuka dua kancing baju atasnya, memperlihatkan buah dadanya dan meletakkan tangannya di dada Geo. ”Tuan jangan menolak ku. Ini hadiah untuk kebaikan Tuan padaku, yang telah menolong ku.” jelasnya.


Geo menghela nafas. Dia menahan tangan wanita itu yang hendak membuka kancing bajunya. Dia menarik tangan wanita itu dan membawanya keluar dari dalam apartemennya.


”Pergi dari sini! Aku tidak menginginkan hadiah darimu! Dan jangan ganggu aku! Jangan datang ke sini lagi! Jika tidak, kamu tidak akan mampu menanggung akibatnya!” ancam Geo.


Dia menutup kasar pintu apartemennya. Membuat wanita itu terkejut dan pucat pasi. Dia pergi dari sana.


”Menjijikan!” kesal Geo. Dia merobek baju yang di pakainya dan membuangnya di tempat sampah. Dia masuk ke kamar dan pergi mandi.


”Untung saja kamu menggangguku di saat penyakit ku sembuh, jika tidak, kamu sudah mati sejak awal berdiri di depan apartemen ku.” gumamnya, sambil membersihkan dirinya yang kotor, akibat sentuhan tangan wanita tadi.


Selesai mandi, dia langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, dia tidur dengan masih memakai jubah mandinya.


.. ..


”Geo...aku mencintai mu...sungguh!” ucap Syakila.


”Kamu serius!” tanya Geo.


”Iya. Mengapa aku harus membohongi perasaanku sendiri? Atau...kamu yang tidak mencintai ku.”


”Siapa bilang aku tidak mencintai mu. Aku sangat mencintai mu. Sangat!” Geo berkata serius.


”Benarkah? Apa buktinya?”


Geo tidak menjawab. Dia menatap wajah Syakila dengan dalam. Tatapan mendamba. Syakila balas memandang wajah Geo.


Geo mengambil tangan Syakila dan meletakkannya di dadanya. ”Rasakan debaran jantung ku yang selalu berdebar untuk mu.”


Syakila dapat merasakannya. Detak jantungnya seirama dengan detak jantung Geo saat ini.


Pandangan mereka saling terkunci. Geo menarik pelan tubuh Syakila dan memeluknya. ”Selain dirimu, tidak ada wanita yang berhak ku cintai.”


Dia mencium bibir Syakila. ********** dengan lembut. Syakila memejamkan mata, menikmati ciuman Geo.


”Ugh!” ******* Syakila.


Geo semakin bergairah. Ciumannya turun ke leher Syakila. Memberikan tanda bahwa leher itu hanya dia pemiliknya.


Geo membaringkan tubuh Syakila dengan pelan di kasur besarnya. Dia kembali mencium, menikmati, manisnya bibir Syakila.


Syakila terbuai dengan sikap lembut yang Geo berikan. Tangan Geo mulai membuka kancing baju Syakila.


Ciumannya kembali turun ke leher Syakila, kembali memberi tanda kepemilikan di sana. Ciumannya terus turun, dan dia selalu meninggalkan jejak ke pemilikan di setiap inci tubuh Syakila.


Sensasi demi sensasi di rasakan oleh kedua insan itu. ”Ah..” lenguhan dari bibir Syakila kembali terdengar.


”Syakila...maaf. Sakit?”


Syakila mengangguk.


Geo mengecup kening Syakila. ”Maaf, sayang. Aku mencintai mu...”


”Syakila...aku mencintai mu...aku mencintai...” Geo terbangun dari mimpinya. Dia bangun dan duduk di ranjangnya. Dia menghela nafas. ”Hanya mimpi!”


Di usapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Nafasnya masih memburu seperti saat ia bernafas dalam mimpinya tersebut.


”Syakila, bisa-bisanya aku memimpikan mu sedang begitu dengan ku.” gumamnya.


Dia turun dari ranjang dan pergi ke wastafel, dia mencuci mukanya. Dilihatnya wajahnya dalam cermin. Terbayang lagi mimpinya itu.


Di lihatnya jam dinding. Pukul 01: 05. Dia baru saja tertidur satu jam yang lalu.


Geo pergi ke lemari pakaian. Dia mengambil pakaian dan memakainya. Dia pergi kembali tidur, setelah berganti.


Dia memejamkan mata. Satu jam..dua jam...dia tidak bisa tidur. Dia gelisah. Saat dia memejamkan mata, bayangan dalam mimpi itu terbayang.


”Syakila...aku bisa gila kalau begini!” dia bangun. Entah...apa yang harus dia lakukan agar bisa melewati malam ini!


Dia turun dari ranjang. Dia pergi ke balkon apartemennya. Dia menatap pemandangan kota S dari sana. Namun, pikirannya sama sekali tidak menikmati keindahan itu.


Pikirannya, memikirkan wanita yang ia mimpikan tadi.


”Apa aku benar-benar tidak akan bisa tidur? Apa aku harus menelepon nya untuk menenangkan perasaan ku? Apakah pantas aku mengganggunya di jam segini?” gumamnya. Dia kembali menghela nafas.


.. ..


Di kediaman Alimin, di kamar Sardin.


Setelah dia berbicara dengan Geo via telepon, Sardin merintih kesakitan di kamarnya. Dia menahan rasa sakit seorang diri.


Bisa saja dia berteriak memanggil mama dan papanya. Tetapi, dia tidak ingin mengganggu tidur kedua orang tuanya.


Empat butir obat telah di minumnya sekaligus untuk meredakan rasa sakit yang menyerangnya. Namun, obat itu sepertinya gak bisa meredakan rasa sakit yang berkecamuk di kepalanya.


Dia menangis. Saat di matanya terbayang wajah Syakila. Pria itu sedang berpikiran negatif akan penyakitnya. Meskipun dia tahu, dia akan pergi dari dunia dengan membawa penyakitnya itu, cepat ataupun lambat.


Dia melihat kalender di atas mejanya. Dia telah melingkari tanggal dua lima dengan pena warna hijau. Dan memberi memo, pernikahannya dengan Syakila.


Tiba-tiba timbul rasa tidak rela untuk meninggalkan Syakila nantinya. Pernikahannya itu tinggal sehari lagi. Apakah dia bisa bertahan sampai tiba waktunya?


Drrtrrt! Sardin melihat layar hapenya yang menyala, di lihatnya id si pemanggil.

__ADS_1


”Ah!” Dia terkejut, saat melihat nama Syakila di depan layarnya. ”Apa dia tidak bisa tidur? Biasanya, dia selalu menelepon ku jika tidak bisa tidur.” gumamnya.


Dia menghapus air matanya dan berdekhem, memperbaiki suaranya. ”Sayang..!”


”Kakak, sudah tidur?”


”Hum!”


”Apa aku mengganggu tidurnya kakak?”


”Ini adalah kebiasaannya mu, apa aku pernah mengeluh kamu mengganggu ku?”


”Tidak!”


”Kenapa tidak bisa tidur? Apa yang kamu pikirkan?”


”Kakak, aku memikirkan kakak. Aku gelisah. Tidak akan tenang jika belum berbicara dengan kakak. Apakah kakak baik-baik saja?”


Sardin tersenyum kecut. Dia merasakan kegelisahan ku, rasa sakit ku. benaknya.


”Sayang! Kakak baik-baik saja kan?” kembali Syakila bertanya saat belum mendapat sahutan dari Sardin.


”Iya, kakak baik-baik saja. Kamu berbaringlah, kakak akan menemanimu bicara sampai kamu tidur.” dia sendiri telah berbaring.


Syakila pun di sana membaringkan dirinya.


”Kakak, badan ku terasa lemas, pikiranku tidak lepas memikirkan kakak. Aku benar-benar gelisah, khawatir, aku...”


”Ssttstt! Dengar! Kakak baik-baik saja. Kamu jangan khawatir. Di hari akad nikah nanti, kakak akan mengucapkan ijab kabul dengan baik, benar, dan lancar, menjadikan mu istri dari seorang Sardin bin Alimin.” namun, raut wajah Sardin terlihat sedih dan merasa bersalah pada Syakila.


”Iya, Syakila menunggu hari itu tiba.”


Sardin menahan sakit kepalanya yang kini menjeratnya lagi. ”Kakak juga menunggu hari itu tiba. Atau...besok saja kita menikahnya?” ia mengajak Syakila bercanda.


Syakila tertawa kecil, ”Iya, mari menikah besok. Dan kita akan melewati malam-malam berikutnya tidak sendirian lagi. Tidak menelfon lagi. Tapi, aku langsung berbicara padamu, memelukmu, bermanja padamu, jika aku tidak bisa tidur.”


Sardin tertawa meski menahan rasa sakit di kepalanya. ”Dan aku akan benar-benar memanjakan mu hingga kamu tertidur nyenyak di pelukan ku.”


”Dan di saat terbangun di pagi harinya, aku akan mencium kening kakak, kis pagi untuk membangunkan kakak dari tidur.”


”Kamu sungguh istri yang baik. Aku mencintai mu.”


”Aku juga mencintai kakak.” jawab Syakila.


Syakila memejamkan mata, membayangkan hari pernikahannya dengan Sardin. Besok, mimpinya, impiannya, janjinya, akan terkabul setelah mendengar ijab kabul dari bibir Sardin.


Hatinya juga tenang setelah berbicara dan bercanda dengan Sardin, pria yang akan menikahinya. Perkataan Sardin bagaikan sihir rasa ngantuk nya. Dia tertidur.


”Sayang..” panggil Sardin.


Tidak ada sahutan. Dia hanya mendengar suara Hela nafas yang lembut.


Sardin tersenyum, ”Selamat tidur, sayang ku.” ucapnya. Dia mematikan sambungan telepon.


Rasa sakit di kepalanya, mulai berkurang. Membuat pria itu bisa tertidur.


.. ..


Di apartemen Geo.


”Apa dia sedang berbicara dengan Sardin, makanya aku hubungi dia gak masuk-masuk?”


Geo cemberut. Menghela nafas. Dia kembali membuat panggilan. Panggilan tersambung.


”Aku mengganggu?” tanya Geo.


”Tidak. Kebetulan aku baru terbangun.”


”Datang ke apartemen ku. Belikan aku sebotol anggur.”


”Ok,”


Telfon terputus. Dia tidak tahu akan berbuat apa untuk melewati malamnya ini. Ingin tidur, tapi mata enggan untuk terpejam.


Geo melihat ke arah pintu saat mendengar suara ketukan. Dia bergegas membuka pintu apartemennya.


”Terima kasih, sudah datang. Masuk!” titah Geo.


Pria itu masuk. Dia membuka bungkusan di tangannya, menaruh sebotol anggur di atas meja. ”Ambilkan gelas mu.” titah pria itu.


Geo mengambil gelas dua buah dari lemari hias. Gelas yang biasa dia gunakan untuk minum anggur. Dia menaruh gelas itu di atas meja dan duduk.


Pria itu membuka tutup botol anggur dan menuangkannya di kedua gelas itu.


Geo langsung mengambil satu gelas dan meminumnya sekali teguk. Dia menaruh kembali gelas kosong itu di atas meja.


Pria tadi menuang kembali anggur ke gelas Geo. ”Suasana hatimu sedang buruk? Siapa yang membuatmu begini?” tanyanya.


”Zarie, besok sore kosongkan cobra. Aku akan datang bersama temanku di sana.” Geo malah mengganti topik pembicaraan. Dia meminum anggurnya.


”Yang benar saja? Besok sore adalah pelatihan bagi murid yang baru masuk.”


”Alihkan di siang hari. Jam empat sore harus kosong.” tegas Geo.


”Ok.” Zarie mengalah.

__ADS_1


.. ..


__ADS_2