
Di dapur, kediaman Albert.
”Syakila, meskipun aku tidak bisa memiliki mu, aku ingin tetap melihat mu di rumah ini, meski itu sebagai kakak ipar ku.” gumam Beni.
”Geo, ku harap kamu benar mencintai Syakila dan tolong, perlakukan Syakila dengan baik.” gumamnya lagi.
Ia pun keluar dari dapur pergi ke kamarnya untuk istirahat.
Di kamar Geo.
Syakila membuka pintu kamar, ia melihat Geo yang sudah berbaring di ranjang. Ia menutup pintu kamar dengan pelan.
Ia terus melangkah ke kamar mandi, mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah itu, ia mengeluarkan handphone dari sakunya.
Ia melihat di layar, terdapat satu pesan dari Sardin dan tiga panggilan tidak terjawab darinya.
Sardin, dia menelfon ku 15 menit yang lalu. Dia juga mengirimiku pesan. Apa bunyi pesannya, ya? benaknya.
Ia membuka pesan tersebut dan membacanya.
”Kila sayang, lagi ngapain? Kenapa telfonnya kakak gak di jawab, Kila? Jika kamu sudah membaca pesan ini, balas pesannya kakak. Ok?”
Syakila menghela nafas, kemudian, ia membalas pesan Sardin.
”Kakak, Kila minta maaf, Kila tidak mendengar nada dering. Syakila tidak mengaktifkan nada dering maupun getaran dari handphone ini. Kila baru habis makan, dan ingin istirahat. Kakak sendiri lagi ngapain?”
Syakila melihat layar hape menyala, ia melihat di layar tersebut, tertulis satu pesan dari Sardin. Ia tersenyum membuka dan membaca pesan tersebut.
”Oh, pantas saja kakak telfon gak di angkat. Kakak lagi tiduran di kamar, kenapa? Mau temani kakak tidur? Kila, jadi kapan kamu akan kembali mengajar?”
Syakila melihat pantulan dirinya di kaca. Ia nampak berfikir sesuatu.
”Mau sih, setelah kita menikah. Belum tau kak, apakah Kila akan kembali mengajar atau tidak? Nanti Kila akan beritahu kakak setelah semuanya sudah pasti.”
”Kila, kakak cemburu, kamu tidur satu ranjang dengan pria lain! Kakak tunggu kabar darimu. Kila kakak merindukan mu.”
”Kakak tidak perlu cemburu! Kila juga merindukan kakak. Em, kak, nanti baru kita sambung lagi yah. Kila sudah mengantuk, ingin tidur.”
”Baiklah, kakak akan menghalau rasa cemburu itu. Tidurlah, mimpi indah ya sayang!”
”Iya, kakak. Kakak jangan pikirkan Syakila terus ya. Dan jangan berpikiran macam-macam. Kila disini akan menjaga diri Kila untuk kakak.”
”Iya, kakak percaya dengan Kila. Tidurlah, kakak juga ingin tidur. Besok, kerjaan kakak menumpuk.”
”Iya, kakak. Oh, iya, kakak, kalau sedang fokus dengan kerjaan, kakak harus tengok kiri, kanan, depan juga yah. Jika ada yang kedapatan sedang melihat kakak, kakak marahin yah. Kila tidak mau ada karyawan wanita yang memandang wajah kakak kalau kakak sedang serius bekerja.”
”Hahaha. Kalau begitu, kakak kerjanya di rumah saja!”
”Hah, gimana kakak mau pantau para karyawan kalau kakak kerjanya di rumah?”
”Habis gimana dong? Ada orang yang tidak inginkan wajah ku di lihat wanita lain! Emang kenapa dengan wajah kakak di saat kakak fokus kerja? Terlihat lain yah?”
”Kakak terlihat tampan, sangat tampan! Jadi, Kila tidak rela karyawan wanita di kantornya kakak, mencuri pandang sama kakak.”
”Oh, pacarnya kakak lagi cemburu, ni? Emang Kila pernah lihat kakak yang sedang fokus dalam kerja?”
”Kakak ngeledek Kila? Pernah! Waktu Kila ke kantor kakak itu hari, Kila melihat kakak di ruang rapat, kakak begitu fokus bekerja. Kakak terlihat sangat tampan dengan menggunakan kacamata. Oh, iya, kakak di larang memakai kacamata saat ke kantor maupun saat rapat!”
”Tidak, sayang! Kakak tidak ngeledek Kila! Yah, itu kan hanya saat di rapat saja sayang, kakak memakai kacamata. Kalau di ruang kerja kakak, kakak tidak memakainya. Lagi pula, siapa yang akan melihat kakak di ruang kerja? Yah, kecuali kakak memanggil mereka masuk, atau ada berkas yang harus ku lihat atau ku tandatangani, baru mereka masuk ke ruang kerja kakak. Jadi, mulai besok kakak gak harus pakai kacamata yah?”
”Ehm, itu...terserah kakak saja deh! Kila sudah kekanak-kanakan melarang kakak ini dan itu. Maaf!”
”Tidak apa-apa, Kila sayang! Justru kakak senang, kamu memperhatikan kakak. Demi Kila, kakak tidak akan menggunakan kacamata, kecuali di depan Kila saja. Kila, kakak senang Kila cemburu pada kakak, itu artinya, Kila menyayangi kakak dan mencintai kakak. Sekarang Kila tidur ya, kakak juga mau tidur.”
Syakila hanya membaca pesan Sardin. Ia tersenyum, ”Aku memang mencintai kakak, dari kita sewaktu kecil sampai sekarang perasaan Kila ke kakak gak berubah.” gumamnya, sambil melihat pantulan dirinya di cermin.
Ia kembali menyimpan hape di dalam saku dan keluar dari kamar mandi. Ia berjalan mendekati ranjang.
Ia menghela nafas, ia pergi ke lemari pakaian. Mengambil tasnya, dan memakai jaket juga mengambil sarung bali miliknya. Ia terus melangkah ke pintu, mengunci pintu kamar.
__ADS_1
Ia berbaring di lantai berbantalkan tas dan berselimutkan sarung bali tersebut.
Tidur di sini lebih nyaman, tidak berdesakan dan lebih lagi, tidak ingin kakak Sardin cemburu. benaknya. Ia memejamkan mata.
Geo membuka mata, ia duduk di atas ranjang, melihat Syakila yang tidur di lantai.
Gadis ini! Beraninya dia tidur di lantai, gak dingin apa dia? Masuk ke kamar mandi tadi lama bangat, buat apa aja di dalam sana selama itu? benaknya.
Ia kembali berbaring, ia melempar bantal ke arah Syakila. Syakila terbangun karena terkejut.
Ia melihat bantal di sampingnya, ia menoleh ke arah ranjang, Geo sedang menatapnya dengan tajam. ”Geo, ada apa?” tanyanya.
”Siapa yang menyuruh mu tidur di lantai? Bagaimana jika mama tiba-tiba masuk ke kamar dan melihat kamu tidur di situ?” tanya Geo, dengan marah.
Syakila berdiri, berjalan, dan duduk di tepi ranjang menghadap Geo. Ia memberikan kembali bantal itu pada Geo. ”Aku ingin saja tidur di situ. Tidak usah khawatir, kamar aku kunci dari dalam. Mama tidak akan bisa masuk.” jawabnya.
”Tidur di ranjang!”
”Geo, ak...”
”Tidur di ranjang! Atau aku akan membuang tas dan sarung bali mu itu serta baju jaket yang kamu kenakan sekarang! Bukan hanya itu, semua tas, baju jaket, juga sarung bali yang masih ada di lemari pakaian akan ku buang. Pilih!”
Apa? Jaket, tas, dan sarung bali ku hanya ini saja. Dan ini semua adalah pemberian dari Sardin, enak saja kamu mau buang begitu saja! benak Syakila.
Syakila berdiri, ia mengambil tas yang di lantai juga sarung bali, ia menyimpan kembali tas itu ke dalam lemari. Ia berjalan ke ranjang.
Membuka jaket dan menjadikannya bantal, ia berbaring dengan selimut sarung bali tersebut. Ia tidur membelakangi Geo.
Geo menghela nafas, Wanita ini memang keras kepala! Membuat dia jatuh cinta padaku akan sulit! benaknya.
”Selama seminggu aku di rumah, kamu temani aku, bantu aku mempelajari dokumen-dokumen perusahaan.”
”Aku akan menemani mu, asal kamu tidak melarang ku kembali mengajar.” ucap Syakila, masih membelakangi Geo.
”Ok, aku minta maaf, sudah melarang mu mengajar. Tapi, jika kamu ada bakat untuk bekerja di perusahaan, bukan kah lebih baik kamu bekerja di perusahaan ku?”
Syakila membalik badan, menghadap Geo. Pria itu juga sedang melihatnya. ”Aku tidak suka bekerja di perusahaan. Aku lebih suka mengajar dan melihat wajah imut dari murid-murid ku.” ucapnya.
Syakila mengangguk, ”Iya, mereka sangat imut dan manis-manis. Tingkahnya selalu membuat lucu, membuat kita tertawa dengan alami.” jawabnya sambil tersenyum, membayangkan wajah imut anak muridnya.
”Aku juga ingin memiliki anak yang imut dan lucu dengan mu. Maukah kamu melahirkan anak untukku?” tanya Geo, ia melihat mata Syakila dengan serius.
Syakila juga menatap mata Geo, sambil terdiam. Menit berikutnya, ia mengalihkan pandangannya. Ia duduk di ranjang.
”Geo, aku tidak suka membahas hal sensitif ini dengan mu. Geo, aku tahu, status kita memang suami istri. Tapi, Geo...kamu tahu sendiri hubungan kita itu seperti apa? Kita tidak saling mencintai, kita membangun hubungan ini berdasarkan apa? Kamu tahu sendiri. Geo, tolong, jangan bahas itu dengan ku!”
”Syakila, lupakan kesepakatan kita! Aku menyesal sudah membuat kesepakatan dengan mu. Ku mohon, lupakan itu! Kita jalani rumah tangga kita dengan hiasan cinta kita, ok?”
”Cinta? Geo, kita berdua tidak saling mencintai! Bagaimana...”
”Aku mencintai mu...sangat mencintai mu... Syakila!” ucap Geo, memangkas ucapan Syakila.
Syakila terdiam, memaku sambil melihat Geo. Ia tidak percaya jika pria sombong, angkuh, arogan di depannya itu jatuh cinta padanya.
Geo menarik tubuh Syakila, Syakila mengikuti tanpa sadar. Mereka masih saling memandang, Geo mendaratkan ciuman lembut di bibir Syakila. Syakila terbuai dengan ciuman lembut Geo.
Syakila segera tersadar, ia mendorong tubuh Geo dan menarik dirinya dari Geo. ”Geo, aku tidak tahu sejak kapan kamu jatuh cinta padaku! Tapi, aku katakan padamu, aku tidak mencintai mu, kamu tidak mencintai ku. Kita tidak saling mencintai. Aku mencintai Sardin dan kamu mencintai Dawiyah. Perasaan mu padaku, hanya perasaan sesaat. Ku mohon, jangan katakan hal-hal seperti itu padaku. Aku benar-benar tidak ingin membenci dirimu dan kabur dengan terpaksa darimu!” ucapnya.
Geo terdiam, ia tidak ingin menggubris ucapan Syakila. Jika semakin di bahas, Syakila akan menjadi tidak senang. ”Tidurlah! Sudah larut malam!” ucapnya, mengalah. Ia memejamkan matanya.
Syakila masih duduk menatap Geo. Apakah Geo benar-benar mencintai ku? Jatuh cinta padaku? Dia mengatakan itu dengan serius! Aku tidak bisa tidur bersama dengan dia kalau begini. benaknya.
Ia menurunkan kakinya ke lantai.
”Jangan tidur di lantai, tidur di ranjang! Apa yang kamu takutkan? Aku tidak bisa ngapa-ngapain kamu. Kalau seandainya saja aku bisa berbuat demikian, maka aku sudah lakukan itu untuk menahan mu di sisiku! Dan lagi, ucapan ku tadi, aku tidak main-main!”
Ucapan Geo membuat Syakila menarik kembali kakinya. Ia menoleh, pria itu masih memejamkan mata. Ia berbaring di ranjang, memiringkan badan, menghadap Geo. Ia masih menatap pria di depannya itu. Ia takut jika pria itu tiba-tiba menggeser tubuhnya dan memeluk dirinya di saat ia sudah tertidur.
”Jika menatap ku bisa membuat mu jatuh cinta padaku, aku rela di tatap terus oleh mu.” ucap Geo lagi, matanya masih terpejam.
__ADS_1
Matanya terpejam, darimana dia tahu aku berniat turun dari ranjang? Dari mana dia tahu aku sedang menatap dirinya? Pria ini jika lembut, ia seperti malaikat pelindung, selalu menyenangkan hati. Jika kasar, ia seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa, sangat mengerikan! benak Syakila.
Ia masih memandang Geo, menit terlewat, ia masih memandang Geo. Matanya sudah berat, rasa ngantuk menghantuinya, tapi, ia enggan memejamkan mata. Sementara pria di tatapnya telah tertidur dengan nyenyak.
Perlahan mata Syakila mulai terpejam, ia tertidur. Geo membuka matanya, ia melirik Syakila. ”Gadis keras kepala!” gumamnya tanpa suara.
Ia menggeser tubuhnya, membiarkan lengannya menjadi bantal kepala Syakila dan memeluk tubuh gadis itu. Ia mencium kening Syakila. Tidurlah, gadis keras kepala ku! benaknya. Ia pun memejamkan mata, kembali tertidur.
Tubuh Syakila bergerak, merasakan perasaan nyaman, ia memeluk tubuh Geo tanpa sadar.
.. ..
Keesokkan harinya.
Beni membawa dokumen-dokumen penting kepada Geo. Geo mempelajari dokumen itu di temani Syakila. Ia tidak membahas lagi soal pernikahannya dengan Syakila.
Ia takut jika Syakila benar-benar membenci dirinya. Ia hanya membahas perihal dokumen saja dengan Syakila.
Dokumen-dokumen yang telah di pelajari Geo, di rapikan oleh Syakila. Namun, sebelum Syakila merapikannya, ia sempat membaca dokumen itu juga.
Hari terus berganti, sudah seminggu Syakila menemani Geo di rumah mempelajari dokumen perusahaan. Selama seminggu itu juga, Syakila membaca dokumen tersebut.
Beni dan Rosalina tersenyum melihat Syakila dan Geo yang akur dalam mempelajari dokumen perusahaan.
Meskipun Beni cemburu melihat kedekatan Syakila dan Geo, tetapi, ia senang melihat kakak dan kakak iparnya itu akur.
Makan malam telah terlewat, Syakila dan Geo sedang berada di ruang baca sekaligus rumah kerja Geo.
”Dokumen-dokumen ini sangat banyak, berbeda dengan dokumen yang di miliki Sardin.” ucap Syakila.
Geo memicing melihat Syakila, ”Kamu pernah membaca dokumen Sardin?” tanyanya.
”Iya, sewaktu aku ke kantornya. Yah, mungkin karena Sardin hanya memiliki satu perusahaan saja. Sedangkan kamu, perusahaan mu sangat banyak, apakah kepala mu tidak pusing mempelajari dokumen-dokumen dari perusahaan mu yang berbeda-beda ini? Aku saja sangat pusing!”
Geo tertawa, ”Aku sudah terbiasa. Dari kecil, aku sudah belajar tentang bisnis, dokumen, dan cara menjalankan sebuah bisnis dan perusahaan. Jadi, itu semua hanya hal kecil untukku.” jawabnya.
”Dari kecil? Masa kecilmu berarti hanya di penuhi dengan belajar, belajar, dan belajar yah? Tidak di mungkiri kamu sangat sukses dalam berkarya, dalam usaha, dalam mengembangkan perusahaan. Tetapi, mengapa lelaki seperti mu yang sukses dalam beberapa aspek, kenapa lemah dalam urusan asmara?”
Geo tersenyum kecut, ”Aku juga tidak tahu, mungkin karena penyakit ku ini, yang membuat aku lemah dan kalah dalam urusan asmara. Aku juga ingin seperti orang-orang, ada wanita cantik di sisinya tempat untuk melepas penat dan lelah.”
Syakila tersenyum, menyemangati Geo, ”Aku yakin penyakit mu ini akan sembuh, dan kamu akan mendapatkan seorang wanita yang akan mencintai mu, menemani mu, sepanjang hidupmu.” ucapnya.
Geo terdiam, Aku ingin wanita itu adalah kamu, bukan orang lain! benaknya.
”Ini sudah malam, sebaiknya kita istirahat sekarang.” ucapnya kemudian.
Syakila beranjak berdiri, ia memegang kursi roda Geo, mendorong kursi roda tersebut. ”Iya, besok adalah hari pertama kita beraktivitas. Kamu ke kantor dan aku pergi mengajar. Dan hari Minggu nanti, aku akan mengajarimu berdiri dan berjalan.” sahutnya.
Mereka telah sampai di kamar.
”Aku bisa berbaring sendiri, kamu pergilah membersihkan dirimu.” ucap Geo.
”Baiklah,” sahut Syakila.
Ia meninggalkan Geo, ia pergi ke kamar mandi. Geo berdiri dari kursi roda, ia membaringkan dirinya di ranjang.
Capek sekali harus berakting masih lumpuh. Kapan aku akan mengakhiri akting ini yah? Yang pasti untuk sekarang belum bisa. benaknya.
Di dalam kamar mandi.
Syakila telah selesai membersihkan dirinya, ia mengambil hape dan mengetik pesan untuk seseorang.
”Selamat malam, sayang! Maaf, baru memberikan kabar padamu di larut malam. Besok, Kila akan mulai mengajar.”
Setelah mengirim pesan itu pada Sardin, ia menyimpan kembali hape ke sakunya, lalu, ia keluar dari kamar mandi.
Ia berjalan ke ranjang, membaringkan dirinya, masih berbantalkan baju jaket dan sarung bali miliknya. Ia melirik Geo, pria itu sudah tertidur dengan pulas.
Ia memejamkan mata, tidak lama kemudian, ia tertidur. Geo membuka mata, menggeser dirinya lebih dekat pada Syakila dan memeluk erat tubuh Syakila.
__ADS_1
Semoga saja mama benar, selama aku mengikuti keinginan Syakila dan tidak mendebatnya, Syakila akan lebih lunak padaku. benaknya. Ia kembali memejamkan mata.