
Di kediaman Albert, di kamar Geo.
Geo tidak melihat istrinya di dalam kamar. Ia melihat pintu kamar mandi yang tertutup juga mendengar suara gemericik air.
Ia melepas bajunya dan melangkah ke depan pintu kamar mandi.
Tok tok tok! ”Sayang, boleh aku masuk?” tanya Geo.
”Sebentar sayang!” suara sahutan Syakila dari dalam kamar mandi. Geo menunggu sambil bersandar di dinding kamar mandi. Suara air tidak terdengar lagi.
Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka.
”Sayang...” Geo menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Syakila terkejut, Geo tiba-tiba saja memeluknya dengan begitu erat.
”Sayang? Kamu kenapa?” Syakila membalas pelukan Geo dan mengelus punggung suaminya itu.
Geo mencium bahu Syakila, leher Syakila dan terakhir pucuk kepala Syakila. Ia melepaskan pelukannya dan melihat wajah istrinya.
”Ada apa sayang?” sekali lagi Syakila bertanya dengan bingung.
Geo menghela nafas, ” Tidak apa-apa sayang! Aku hanya merindukan mu saja. Kamu sudah selesai mandi?” tanyanya.
Syakila mengangguk.
”Mandi lagi ya! Sama aku,” pinta Geo.
Ada apa dengan Geo hari ini? Masalah apa yang telah ia hadapi di saat ia keluar tadi? benak Syakila.
Syakila mengangguk. Ia melepaskan lagi handuk yang berada di atas kepalanya dan handuk yang melilit di tubuhnya.
Geo menelan saliva nya melihat kemolekan tubuh istrinya yang polos itu. Lekuk tubuh Syakila jauh lebih menarik dan menggoda meskipun dia memakai pakaian yang sedikit longgar di badannya.
Geo melepaskan celananya. Ia menyalakan kran air. Air mengalir, Geo menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya, di bawah guyuran air shower tersebut.
Beraninya dia memikirkan tubuhnya istriku. Tubuh ini hanya milikku seorang. Hanya aku yang boleh mengkhayalkan kemolekan tubuhnya Syakila. benak Geo.
Ia semakin memeluk erat tubuh Syakila. Ia melonggarkan sedikit pelukannya, ia mencium kedua bahu Syakila dan memberi tanda di sana. Ia kembali memeluk erat tubuh Syakila. Sangat erat.
”Em... sayang! Kamu... kamu memelukku begitu kuat. Aku... aku sulit bernafas.” ucap Syakila.
Geo tersadar, ia melonggarkan pelukannya. ”Maaf, aku tidak sengaja.”
”Kamu hari ini berbeda. Ada apa? Apa ada sesuatu yang menjadi beban pikiran mu?” tanya Syakila, tangannya terangkat membelai wajah Geo
Geo menahan tangan Syakila yang berada di pipinya dan menciumnya. ”Tidak ada sayang. Syakila, maukah kamu mengenakan pakaian yang tertutup?”
Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba meminta ku mengenakan pakaian tertutup? Oh, apakah ini karena manager perusahaan dari kota C itu? Dia tidak ingin tubuhku di lihat sama orang-orang. benak Syakila.
”Apa itu kemauan mu?”
Geo mengangguk, ”Kamu bersedia?”
”Kalau aku bilang tidak?”
”Aku tidak akan memaksamu.”
Syakila tersenyum lebar, kakinya ia jinjit kan, tangannya ia kalung kan di belakang leher Geo. Geo menahan tubuh Syakila. Syakila mencium bibir Geo. ********** dengan lembut.
”Jika kamu senang melihatku seperti itu... aku bersedia,” ucap Syakila setelah melepaskan ciumannya.
Geo tersenyum senang. ”Terima kasih! Aku mencintai mu,” ucapnya. Syakila mengangguk.
Syakila melepaskan tangannya dari belakang leher Geo. Geo menahan tubuh Syakila agar tetap berjinjit. Giliran dia yang mencium bibir Syakila. ******* dan menghisap bibir Syakila dengan lembut. Syakila membalasnya.
Tangan Geo membelai tubuh belakang Syakila. Kedua tangannya memegang pinggul Syakila, menarik tubuh Syakila agar lebih rapat lagi pada tubuhnya. Hingga tubuh polos mereka berdua saling bertemu.
”Uhm...” lenguhan terdengar keluar dari mulut Syakila. Geo semakin memperdalam ciumannya. Syakila merasakan tubuh bagian bawah Geo mengeras dan bergerak-gerak.
”Sayang, selesaikan mandi mu. Di sini bukan tempat yang nyaman untuk menuntaskan hasrat kita,” ucap Syakila pelan setelah Geo melepaskan ciumannya. Geo mengangguk.
Geo melepaskan tubuh Syakila. Syakila mengambil handuk dan melilitkan ke tubuhnya. Ia juga melilitkan handuk ke rambut panjangnya. Ia keluar dari kamar mandi.
Geo segera menyelesaikan mandinya. Ia memakai jubah mandi dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat Syakila yang sedang menyisir rambutnya. Handuk masih terlilit di tubuh Syakila.
Syakila melihat suaminya sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil. ”Mari ku bantu keringkan rambut mu,” tawarnya. Ia berdiri dari kursi.
Geo mengangguk, ia duduk di kursi. Syakila mulai mengeringkan rambut suaminya. Geo memperhatikan wajah ayu milik istrinya dari pantulan kaca.
”Sayang.”
”Hum?”
”Setelah Beni pulang nanti... kita akan pindah ke apartemen,” ucap Geo.
”Kenapa kita tidak tinggal di sini saja bersama mama dan Beni?”
”Aku ingin memiliki waktu privasi untuk berduaan terus sama kamu. Ingin selalu memeluk mu secara tiba-tiba, mencium mu sesuka hatiku. Kalau di sini... terbatas privasi ku. Aku hanya bisa memeluk, mencium mu di dalam kamar saja. Di luar kamar... itu tidak mungkin ku lakukan. Ada mama dan ada Beni yang akan melihatnya. Kan malu,” keluh Geo.
Hah! Seharusnya wanita ya yang punya pemikiran seperti itu. benak Syakila.
__ADS_1
”Oh, ok! Jika yang di pikirkan dan yang di rencanakan suami adalah untuk kebaikan... bagaimana aku bisa menolaknya?” sahut Syakila sambil memeluk Geo dari belakang. Bukan hanya itu... ia juga mencium pipi kanan Geo.
Geo tersenyum senang. Syakila selalu memanjakan dirinya, Syakila begitu menyayanginya.
Begini kah rasa sayang dan cinta kasih dari Syakila? Huh, kenapa aku berpikir... aku sangat bersyukur dengan meninggalnya Sardin? Jika Sardin masih hidup, Sardin yang akan mendapatkan kasih sayang Syakila. Ah...aku sangat bersyukur Syakila adalah milikku. benak Geo.
Ia berdiri dari duduknya. Ia meraih tubuh Syakila dan menariknya ke dalam pelukannya. Ia mencium bibir Syakila, kembali *******... mencecap rasa manis bibir istrinya itu.
Syakila membalas ciuman Geo. Bahkan, dengan berani ia membuka jubah mandi suaminya. Ia meraba... mengelus lembut dada sampai ke perut Geo. Geo yang sudah memang terangsang, ia semakin terangsang dengan perlakuan lembut istrinya.
Geo menggendong tubuh Syakila, ciumannya tidak ia lepaskan. Ia membaringkan tubuh Syakila dengan pelan di atas ranjang besarnya. Ia melepaskan handuk yang melilit tubuh istrinya. Tangannya mulai bergerilya menjamah setiap lekuk tubuh istrinya.
”Ugh...uhm...” lenguhan terdengar lagi dari bibir Syakila.
Lenguhan Syakila membuat Geo bersemangat. Rasa cinta, kasih, dan sayang mereka... mereka salurkan dengan kenikmatan yang sempurna.
*
*
Di ruang keluarga.
”Jadi... apa yang kalian lakukan pada orang itu?” tanya Rosalina pada Beni. Ia meminta penjelasan pada Beni tentang apa yang Beni dan Geo lakukan sebenarnya pada pria malang tersebut.
”Apalagi selain memberinya pelajaran dan pelajaran dan membuatnya tidak bisa menikmati kehidupan indah di dunia ini lagi,” jawab Beni dengan santai.
”Kalian tidak takut? Dia berasal dari kota C dan dia adalah manager di perusahaan itu. Bagaimana jika atasannya meminta jawaban pada perusahaan kalian, atas apa yang terjadi pada managernya di sini? Apakah kalian bisa menjawabnya?” tanya Rosalina.
”Mama tenang saja. Semua sudah di atur sedemikian rupa oleh Geo dan Beni. Semuanya sudah aman. Siapa suruh dia menyinggung kakak ipar ku di hadapan ku! Salah sendiri, kan? Dia memang mencari jalan kematiannya saat datang ke kota ini,” jawab Beni.
Rosalina menggelengkan kepalanya. Cara bicara anaknya sama persis dengan gaya bicara Albert. Anak dan bapak memang tidak jauh berbeda sifatnya. Geo, Beni, dan Albert sudah menjadi satu paket.
”Beni, sudah lama datangnya?” tanya Geo. Ia duduk di samping Beni.
”Lumayan, sekitar sepuluh menitan ada. Bagaimana? Mau pindah sekarang?” Beni bertanya balik.
”Habis makan malam dulu, baru kita sama-sama pergi ke sana.” tawar Rosalina.
”Sepertinya, ucapan Mama benar.” sahut Beni.
”Baiklah! Habis makan malam... kita berangkat.” sambung Geo.
”Kalau begitu...aku pergi mandi sebentar.” ucap Beni. Ia beranjak berdiri.
”Mandi dengan cepat! Kami menunggu mu di dapur,” ucap Syakila pada Beni.
”Ok, kakak ipar sayang.” Beni beranjak pergi ke kamarnya.
*
*
Di dapur.
”Kalian harus sering jalan-jalan ke rumah Mama. Menjenguk Mama dan menjenguk Beni.” ucap Rosalina pada Geo dan Syakila.
”Iya, Ma. Itu sudah pasti.” sahut Geo.
”Apanya yang pasti?” tanya Beni yang baru saja masuk ke dapur. Ia menarik kursi dan duduk di samping kakaknya, Geo.
”Tanggal pernikahan mu dengan Afika,” jawab Geo. Ia menggoda adiknya. Rosalina dan Syakila tersenyum mendengar candaan Geo yang menggoda Beni dengan wajah yang serius.
”Apa? Menikah? Aku dengan Afika? Tidak, yang benar saja! Jangan jodohkan aku dengan wanita yang tidak aku sukai!” sahut Beni dengan ketus.
”Iya. Mama sudah menentukan pilihannya, dan pilihannya jatuh pada Afika. Jadi, kamu mau ataupun tidak mau... kamu harus mau.” ucap Geo.
”Ma...!” wajah Beni memelas pada Rosalina.
”Kamu ingin menentang keputusannya mama, Beni?” tanya Geo.
”Ma...!” kembali Beni melihat mama dengan wajah yang memelas.
”Sudah... cukup. Itu tidak benar, Beni. Geo, kamu jangan menggoda adik mu lagi. Ayo, sekarang kita makan. Keburu sayurnya nanti dingin.” ucap Rosalina. Semua mengangguk.
Di bawah meja makan, Beni menendang pelan kaki Geo. Geo hanya tersenyum kecil.
*
*
Di perusahaan kota C.
”Apa benar yang di lakukan oleh Wahyu sewaktu kalian berada di kota A?” tanya seorang pria, atasan dari Wahyu dan Aris.
”Bos, Bos tahu sendiri sifat dari Wahyu seperti apa. Di kertas yang Bos baca sudah jelas Wahyu mengatakan rasa bersalahnya. Ia memang merayu seorang wanita di sana, dia ingin membawa wanita itu kabur ke kota ini. Sayangnya... wanita yang ia goda ternyata bersuami. Dan suaminya juga bukan orang biasa,” jelas Aris.
Bosnya mengangguk. Memang wahyu adalah lelaki yang seperti itu. Sudah lama ia ingin memecat Wahyu dari perusahaannya. Tetapi... kepintaran Wahyu dan kinerja kerja Wahyu sangat di butuhkan dalam perusahaannya.
”Kalian aku kirim ke sana sama sekali tidak berguna! Kerja sama tidak di dapat, Wahyu juga meninggal. Sia-sia aku mengirimkan kalian ke kota A,” keluh Sang bos.
__ADS_1
”Ini semua karena nafsunya Wahyu yang tidak terkendali itu. Padahal, pak Geo dan pak Beni sudah setuju untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan kita. Tetapi... Wahyu malah menawarkan hal lebih pada pak Geo dengan catatan... pak Geo harus memberikan salah satu asistennya pada Wahyu. Tentu saja Geo menolak. Dan berujung pembatalan kerja sama,” ungkap Aris.
”Bukan kah dari awal aku sudah katakan pada kalian jika para pengusaha di kota A sangat menghargai dan menghormati wanita? Kenapa kalian lalai?”
”Bos... Bos belum melihat kecantikan dan kemolekan sekretaris pribadi dari pak Geo. Sangat cantik, manis, dan senyumnya sangat menawan. Suaranya...begitu lembut. Bagaimana Wahyu akan menyiakan kesempatan saat bertemu dengan wanita seperti itu? Aku saja... terpesona padanya. Tapi...aku tidak punya keberanian.” jelas Aris.
”Benarkah? Aku jadi penasaran dengan sosoknya. Siapa namanya?”
”Maaf Bos, kami tidak tahu namanya.”
”Hum. Aku sendiri yang akan bertanya namanya langsung pada wanita itu. Aku ingin melihat se-menawan dan semenarik apa wanita ini,” ucap Sang bos sambil tersenyum membayangkan wajah wanita itu.
*
*
Di depan teras kediaman Albert.
”Kalian akan pergi tanpa membawa pakaian?” tanya Rosalina.
”Tidak, Ma. Geo sudah mempersiapkan semua kebutuhan Geo dan Syakila di sana. Kami tinggal memakainya saja,” jawab Geo.
”Oh. Rupanya kamu sudah mempersiapkannya dari jauh hari ya. Bagus-bagus! Papamu juga dulu memperlakukan Mama seperti itu. Haih... mengenang masa lalu, membuat Mama merindukan papa kalian.” keluh Rosalina.
”Sini Ma biar aku peluk,” ucap Beni dan Geo bersamaan. Mereka langsung memeluk tubuh Rosalina. Syakila hanya tersenyum melihat mereka.
”Hum, pelukan kalian berdua tidak bisa menghilangkan rasa rinduku pada papa kalian. Sudah, lepaskan pelukan kalian. Ayo masuk ke mobil.” ucap Rosalina.
Semuanya masuk ke mobil. Syakila bersama Geo. Rosalina bersama Beni. Mobil mereka meninggalkan halaman parkir Rosalina.
Lima belas menit dalam perjalanan, mereka telah sampai di apartemen. Geo menghentikan mobilnya. Mobil Beni berhenti di samping mobil Geo. Syakila dan Rosalina turun dari mobil. Beni dan Geo menyusul.
”Ayo masuk, kita naik ke atas.” ajak Geo.
Mereka masuk ke dalam apartemen yang berlantai lima belas. Mereka masuk ke dalam lift. Syakila melihat Geo memencet tombol dengan angka 15.
Oh, dia tinggal di lantai 15. benak Syakila.
Lift berhenti di lantai 15. Mereka keluar dari dalam lift. Mereka terus melangkah hingga berhenti di kamar nomor 10, di lantai 15 tersebut.
Geo membuka kata sandi pintu dan membuka lebar pintunya.
”Ayo masuk!”
Syakila masuk, ruangan itu masih gelap. Rosalina dan Beni ikut masuk ke dalam. Geo juga masuk, ia menyalakan lampunya.
Cahaya terang membuat Syakila terpana dengan warna serta pengaturan tata letak benda di apartemen Geo ini.
”Kapan kamu mengganti warnanya...Geo?” tanya Beni.
”Tidak perlu kamu tahu,” jawab Geo. ”Bagaimana? Bagus?” tanyanya.
”Bagus!” jawab Syakila, Beni, dan Rosalina bersamaan.
Apalagi Syakila, ia benar-benar menyukainya. Warnanya adalah warna kesukaan Syakila.
”Kalian berdua tinggal dengan tenang di sini. Mama tidak ingin mendengar ada keributan dan pertengkaran di antara kalian dari mulut tetangga-tetangga kalian di sini. Mama dan Beni sudah mengantar kalian. Mama dan Beni akan pulang dulu.” ucap Rosalina.
”Mama, Mama baru saja tiba... sudah mau pulang? Kenapa tidak duduk sebentar dulu sambil meminum teh hangat.” tawar Syakila.
Rosalina tersenyum, ”Sayang, ini sudah malam. Lain kali... Mama bukan hanya sekedar minum teh saja, Mama akan menginap di sini.”
”Sayang, Geo. Jaga istri mu baik-baik. Mama dan Beni pulang dulu,” pamit Rosalina.
”Iya, Ma. Geo akan menjaga anak mantu Mama dengan baik.” jawab Geo.
”Beni, ayo pulang.” ajak Rosalina. Beni mengangguk.
”Kakak, kakak ipar, aku pulang dulu. Meskipun kalian tinggal di sini, jalan-jalan juga di rumah.” ucap Beni.
”Iya. Kalian hati-hati di jalan.” sahut Syakila.
Beni dan Rosalina keluar dari apartemen. Geo mengganti kata sandi dengan menggunakan kode akses tangannya dan tangan Syakila. Setelah itu, ia menutup pintu kamar apartemennya.
Ia mencari istrinya ke kamar, tidak ada. Ia mencarinya ke dapur, juga tidak ada, ia mencarinya ke balkon. Dia menemukan Syakila di sana. Tanpa sungkan... tanpa ragu...ia memeluk tubuh istrinya dari arah belakang.
”Lagi mikir kan apa sayang?” tanya Geo. Dagunya ia simpan di bahu kanan Syakila.
Syakila memegang wajah Geo yang bersandar di bahunya. ”Tidak memikirkan apa-apa. Hanya sedang menikmati bulan dan angin malam juga keindahan kota A dari sini,” jawabnya.
”Kamu suka tempat ini?”
”Sangat suka. Terimakasih kamu mencintai dan memberiku kebahagiaan.”
”Kata itu... akulah yang lebih tepat ucapkan untuk mu. Terimakasih... terimakasih karena kamu mencintai ku dan menyayangi ku.”
”Iya,” jawab Syakila.
Meskipun aku sudah memiliki mu sebagai isteri. Tapi aku tidak mungkin akan mendapatkan kebahagiaan jika hatimu, jiwamu masih milik Sardin. Aku sangat berterima kasih padamu... kamu mau melepaskan Sardin dan mau mencintai ku. benak Geo.
__ADS_1
Ia mencium leher Syakila dan mengeratkan lagi pelukannya. Mereka tetap dalam posisi seperti itu menikmati waktu mereka.