
Anton kini sudah berada di kota A yang sebelumnya ia berkunjung ke kota D untuk menemui adik perempuannya disana, karena ia mendengar kabar jika adiknya itu lagi sakit.
Tanpa beristirahat lagi Anton langsung pergi ke toko besarnya untuk memantau perkembangan usahanya setelah hampir tiga bulan ia tidak memantaunya.
"Bagaimana kabar kalian? Dan bagaimana kondisi pasar?" tanyanya kepada karyawannya yang sedang membelakangi Anton, karena mereka lagi sibuk mengatur dan mengecek barang yang baru masuk.
Semua karyawan Anton yang berjumlah 5 orang itu terkejut saat mendengar suara khas Anton.
Denis juga terkejut dengan kehadiran tiba-tiba dari Anton.
"Baik bos," sahut para karyawan.
"Bang, datang tiba-tiba mengagetkan saja! Gimana keadaan Lena, sudah sembuh kah Bang?" tanya Denis tentang keadaan adik Anton.
"Alhamdulillah Lena sudah baikan, dan Abang langsung kesini pas ada kapal yang menuju disini." jawab Anton menjelaskan.
"Alhamdulillah," sahut Denis.
Dalam kesempatan ini juga Anton bertanya tentang Halim kepada Denis.
"Oh ya, gimana dengan Halim? Apa dia bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaannya sekarang?"
"Iya, Alhamdulillah beliau termasuk orang yang pekerja keras, cerdas, ulet dan semangatnya luar biasa, Bang." jawab Denis memuji Halim ketika menjelaskan kepada Anton.
"Alhamdulillah kalau begitu, niatku toko itu untuk dirinya, ia aku beri waktu tiga bulan untuk menyesuaikan diri dan mengembalikan modal awal ku. Selepas itu, toko dan isinya menjadi miliknya." ucap Anton sambil tersenyum kecil memandang Denis. "Bagaimana pendapatmu?" tanyanya lagi meminta pendapat Denis tentang keputusannya.
"Kalau aku sih no. komen Bang, karena itu haknya Abang, aku cuma mendukung niat baik Abang saja." ucap Denis memberi ulasannya.
"Hum, aku temui Halim dulu, kau mau ikut?" ucap Anton sekaligus bertanya kepada Denis.
"Tidak Bang, Denis disini saja. Barang belum selesai di cek ini." sahut Denis sambil menunjuk barang-barang yang berhamburan di lantai.
"Baiklah! Kau selesaikan dulu pekerjaanmu." sahut Anton lalu ia berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari tokonya.
Anton berjalan ke tokonya yang di jaga oleh Halim. Ia ingin bertemu dan melihat kinerja dari Halim.
Halim yang lagi fokus membersihkan barang-barang jualan yang terkena debu yang berada di luar, terkejut dengan kehadiran Anton yang tiba-tiba datang di hadapannya.
"Anton, kamu mengagetkan ku saja. Kapan datangnya?" ucap Halim berbasa basi kepada Anton.
Anton terkekeh kecil, "Hehehe sorry aku sudah membuatmu kaget, aku baru saja datang dari kota D." ucapnya sambil duduk di bangku. "Bagaimana kabarmu, dan gimana? Apa pekerjaan mu sekarang membosankan?" tanyanya kepada Halim.
"Kabarku Alhamdulillah baik, Anton. Bosan sih gak, semua pekerjaan kalau di kerjakan dengan ikhlas apapun itu pasti menyenangkan." jawab Halim sambil tersenyum.
"Baguslah kalau begitu, tadinya aku mengira kamu akan bosan dengan pekerjaanmu sekarang." sahut Anton.
Halim tersenyum kecil, "Aku mulai menyukai pekerjaanku sekarang, Anton. Awalnya sih aku berfikir ini pasti sulit, tetapi ternyata tidak begitu." ucapnya menjelaskan.
Anton mengangguk setuju, "Iyah memang awal-awalnya seperti itu, dan itu bukan hanya kamu yang rasa, aku pun demikian." ucapnya membenarkan tuturan Halim.
__ADS_1
Setelah lama duduk dan berbincang tentang bisnis berdagang dengan Halim, kini Anton berpamitan pulang untuk beristirahat.
"Baiklah! Aku pergi dulu sekarang, semangat dan semoga kamu sukses di kota ini." ucapnya lagi menyemangati sekaligus mendoakan kesuksesan Halim.
"Iya, Aamiin! Terima kasih doanya, Bang." sahut Halim.
"Hum," jawab Anton singkat lalu ia berdiri dari duduknya dan ulang berpamitan. Lalu ia pergi kerumahnya untuk beristirahat.
Sepeninggal Anton, kini Hamid yang datang berkunjung ke toko Halim. Halim menyambutnya dengan hangat.
"Hai Hamid, gimana kabarmu?"
"Alhamdulillah aku baik, gimana dengan kamu?" sahut Hamid.
"Alhamdulillah, aku baik juga." jawab Halim, "Mari duduk!" ajaknya kepada Hamid.
"Apa aku tidak menggangu waktumu?" tanya Hamid kemudian.
"Tidak, santai saja!" jawab Halim.
Kebetulan ada Hamid, ia menyempatkan diri bertanya tentang Halima padanya.
"Oh ya Hamid, boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Boleh, kamu ingin bertanya tentang apa?" jawab Hamid antusias.
"Ini mengenai wanita yang sering mendatangi ku di kapal, si Halima. Apa kamu tahu siapa dia?" Halim bertanya serius sambil menatap Hamid.
batin Hamid.
"Halima? Apa yang sudah dia lakukan padamu?" tanya Hamid penasaran.
"Tidak, kebetulan tadi dia datang untuk berbelanja. Yang membuat aku bingung adalah ada dua pria yang berpakaian serba hitam berjalan dengan jarak satu meter di belakangnya, siapa dia?" tanya Halim penasaran.
"Hum, aku kenal dia. Tapi kalau boleh aku beri saran sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan dia." jawab Hamid menasihati Halim.
Halim memicingkan matanya menatap Hamid, "Kenapa? Apa dia seorang yang penting? Tapi kenapa di kapal tidak ada yang mengikuti dia?"
"Itu karena di kapal dia tidak bisa kemana-mana, jadi Halima tidak bisa berbuat macam-macam." jawab Hamid menjelaskan.
"Aku semakin tidak mengerti seperti apakah dia?" tanya Halim lagi penasaran.
"Dari pada kamu penasaran, dan aku juga kurang enak untuk menceritakan tentang dia, gimana kalau malam Minggu ini kamu ikut denganku ke suatu tempat untuk nongkrong." ucap Hamid mengajak Halim.
"Malam Minggu? Boleh jam berapa?" tanya Halim mengiyakan tawaran Hamid
"Nantilah," sahut Hamid, "Sabtu sore aku akan kesini untuk mengajakmu." ucapnya lagi.
"Ok, aku tidak sabar untuk menunggu lusa malam." sahut Halim dengan tersenyum. "Oh ya, apa kamu sudah makan siang?" lanjutnya lagi bertanya.
__ADS_1
"Wah, kebetulan ni aku belum makan, apa kamu mau mentraktir ku makan?" sahut Hamid dengan senang.
"Hum, niatku begitu. Jadi?" jawab Halim
"Dengan senang hati aku menerima tawaran mu, ayo pergi!" sahut Hamid santai.
Tanpa berkata apa-apa lagi Halim segera berdiri dari duduknya dan menyuruh Hamid untuk menunggunya di luar, sementara ia menutup tokonya dengan terpal.
Setelah itu mereka pergi ke warung makan untuk makan siang bersama-sama. Mereka makan dengan diam menikmati hidangan siangnya.
Setelah mereka selesai makan, tidak membuat mereka untuk segera pulang. Tapi kini mereka mengobrol sebentar seputar aktivitas mereka masing-masing sambil menghabiskan minuman mereka.
"Oh yah, kamu belum ada niat untuk pulang ke kampung?" tanya Hamid sambil menyeruput minumannya.
"Belum lagi, empat bulan yang akan datang baru aku bisa pulang ke kampung, memangnya kenapa? Apa kamu mau pulang ke kampung?" jawab Halim sekaligus bertanya.
Hum, tadinya memang aku berniat untuk pulang ke kampung mencari Sarmi, tapi sekarang itu percuma. Lalu untuk apa lagi aku kesana? Siapa yang akan aku cari?
batin Hamid.
"Tidak, aku belum berniat untuk pulang ke kampung, lagian apa yang akan aku cari disana?" jawab Hamid.
"Yah, meskipun tidak ada yang kamu cari kan, paling tidak kamu kunjungi juga sanak keluarga mu, siapa tahu saja dengan berjalan-jalan kesana kamu mendapatkan jodoh." sahut Halim menasihati.
Hamid terkekeh kecil mendengar ucapan Halim, "Apa aku masih bisa mendapatkan jodoh? Dengan rupa ku yang jelek ini?" ucapnya sinis.
"Jelek? Siapa bilang? Yang namanya pria semua itu ganteng, tidak ada yang jelek. Lagi pula apa kamu meragukan kuasa Allah? Bukankah Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan? Jadi yakinlah pasangan mu itu ada, mintalah pada-Nya agar kamu cepat di pertemukan dengan jodoh mu." ucap Halim kembali menasihati Hamid.
"Iya, kamu benar! Tapi aku juga benar-benar tidak percaya diri sekarang. Kamu tahu aku sudah berkali-kali di jodohkan oleh mamaku tapi cewek-cewek yang di jodohkan selalu menolak." ucap Hamid dengan sedih. Ia kembali membayangkan wajah seorang cewek di masa lalunya yang menerima dia apa adanya.
"Kamu tahu, dulu ada pernah ada seorang cewek yang begitu menyukaiku dan menerima ku apa adanya, tapi sayangnya aku menyiakan dia..."
Halim mendengarkan curahan Hamid, ia ikut tersenyum tipis saat ia melihat senyum kecut yang terukir di bibir Hamid.
"Kamu tidak usah berkecil hati, mereka menolak mu bukan karena kamu tidak ganteng. Tapi mereka bukan terbaik untukmu." ucap Halim menasihati Hamid
Hamid menghela nafas panjang, "Iya, mungkin kamu benar, mereka bukan jodohku, jika mereka jodohku mereka akan setia padaku dalam keadaan apapun." ucapnya sambil tersenyum tipis melirik Halim.
"Hum, kamu membicarakan tentang cewek, jujur aku teringat istriku. Aku merindukannya, tapi sayangnya waktu dan jarak begitu memisahkan kami, jadi rindu hanyalah rindu saja." ucap Halim sambil menghayalkan wajah istrinya.
Hamid meneguk habis minumannya lalu ia berkata kepada Halim jika ia begitu beruntung memiliki istri yang setia dan baik, "Kamu tahu Halim, kamu sangat beruntung memiliki istri seperti Sarmi, ia sangat cantik dan juga berbudi pekerti baik."
Halim yang tidak tahu jika Hamid adalah mantan kekasih dari istrinya itu, ia membenarkan ucapan Hamid yang memuji Sarmi.
"Iya kamu benar, Hamid. Aku sangat bersyukur mendapatkan dia sebagai istriku, ia sangat tabah, murah hati, juga sangat pengertian sekali." sahut Halim.
"Ehm, kita sudah lama disini, sebaiknya kita pulang sekarang. Kamu lanjutkan aktivitas mu, aku juga begitu " ucap Hamid sambil berdiri dari duduknya.
Ia tidak mau berlama-lama berbincang dengan Halim, ia takut jika ia keceplosan dalam berbicara jika dia dan Sarmi adalah mantan kekasih.
__ADS_1
Halim tersenyum ia juga ikut berdiri dari duduknya, "Iyah kamu benar, baiklah sekarang kita pulang." ucapnya sambil berjalan ke pemilik warung makan untuk membayar makanan dan minuman mereka.
Setelah Halim membayar, Hamid pun mengucapkan terima kasihnya dan ia kembali mengingat kan Halim untuk malam Minggu nanti. Setelah itu Hamid berpamitan ulang dan mereka jalan berpencar dari warung menuju tujuannya masing-masing.