
”Bagaimana keadaan Asya kak ipar?” Sarmi langsung bertanya kepada Johan setelah ia tiba di ruangan rawat Syakila.
”Asya baik-baik saja sekarang, tinggal menunggu dia sadar.” jawab Johan.
”Apa yang terjadi dengan anak ku kak ipar? Dia tidak berpikir untuk bunuh diri kan?” ucap Sarmi dengan sedih.
”Astaghfirullah, jangan su'uzon sama anak sendiri, adik ipar. Bukan kah kamu lebih tahu gimana watak anak kedua mu itu?”
”Iya aku tahu kak ipar, tapi namanya manusia punya posisi lemah dan titik jenuh, sewaktu-waktu mereka bisa berbuat yang tidak-tidak saat sedang mengalami drop.”
”Tidak, Syakila gadis yang kuat, ia tidak akan berpikiran pendek seperti itu.”
”Apa yang di katakan Om itu benar, Syakila tidak akan berpikiran pendek untuk bunuh diri gara-gara ini. Syakila mencebur ke danau hanya untuk mengambil cincin yang ku buang di sana.” akhirnya Sardin buka suara menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Agar Sarmi tidak berpikiran macam-macam tentang Syakila.
”Cincin? Cincin apa?” Sarmi dan Johan bertanya penasaran.
”Cincin tunangan kami, Om, Tante.”
Sardin mulai menceritakan apa yang dia dan Syakila bicarakan saat di danau. Sarmi dan Johan terkejut dan sedih mendengar cerita Sardin.
”Jadi, aku tidak tahu jika Syakila masih berada di sana, mungkin Syakila melihat aku membuang cincinnya itu di sana. Jadi, setelah aku pergi dari danau, ia berniat untuk mencari cincin itu.”
”Syakila memang mencintai mu, Sardin dan itu sedari kecil. Syakila pasti sangat sedih dan terpukul sekarang, ia mencintai mu tapi ia harus memenuhi janjinya. Syakila selalu menepati janji, ia akan kehilangan cintanya dan ia akan menjalani hidupnya sebagai istri dari orang yang asing sebagai pelunas hutang. Anakku Syakila hu..hu..hu.... Kakak ipar, aku harus bagaimana?”
Syakila memang tipe orang yang tidak ingkar janji. Ia sangat memegang teguh jika sudah berjanji. Seperti janjinya padaku, ia benar-benar menjaga diri dari pria lain demi diriku.
batin Sardin.
”Tenang Sarmi, tenangkan dirimu. Yakinlah semua akan baik-baik saja.” sahut Johan.
”Mengapa Halim tidak menceritakan itu padaku? Halim benar-benar menempatkan Syakila dalam posisi buruk.” ucap Sarmi dengan sedih. ”Bagaimana nasib anakku nanti kak ipar?” Sarmi menatap Syakila yang masih belum sadar itu dengan sedih.
”Serahkan saja sama yang maha kuasa. Insya Allah Syakila bisa mendapatkan kebahagiaan nanti.” sahut Johan.
”Uhm..”
Mereka semua mendekati ranjang Syakila saat mendengar suara Syakila. Terutama Sardin, ia memegang tangan kanan Syakila.
”Syakila,” ucap mereka semua saat Syakila mulai membuka mata.
”Cincin? Mana cincin ku?” hal pertama yang di cari Syakila adalah cincin saat ia terbangun. Ia panik saat sadar tidak mendapati cincin itu di genggaman tangannya.
”Sayang, jangan panik. Cincin itu baik-baik saja. Mengapa kamu lebih mengkhawatirkan benda mati daripada nyawamu, sayang?” ucap Sarmi.
”Cincin itu sangat berarti buat ku Mah. Dimana cincin itu?” lagi-lagi Syakila menanyakan cincinnya.
”Cincinnya ada sama kakak, Kila. Kamu kan sudah kasih kembalikan ke kakak.” sahut Sardin.
”Tidak, tidak, sinikan cincinnya. Biar Kila saja yang pegang, kalau kakak yang pegang nanti kakak akan buang lagi tanpa Kila ketahui.” ucap Syakila dengan sedih. ”Mari kan cincinnya.”
Sardin mengalah, ia memberikan cincin itu pada Syakila. Syakila menggantung cincin itu pada kalung yang di pakainya, kalung yang di berikan oleh Sardin saat ia masih kecil dengan tersenyum.
Sardin merasa tersentuh dan sedih sekaligus saat melihat tindakan Syakila. Rasanya ia ingin memeluk cewek itu, dan menyembunyikan dia jauh dari mata pria manapun agar tidak ada pria yang melihat Syakila. Jadi tidak akan ada yang tergila-gila padanya.
Syakila, apa yang harus kakak lakukan, sayang?
Sardin meninggalkan ruang inap Syakila dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua orang tuanya ikut sedih melihat Sardin seperti itu. Anaknya dan Syakila saling mencintai dari kecil, sebulan lagi pernikahan mereka. Namun sayang, takdir sudah mempermainkan perasaan mereka berdua.
Dokter datang keruangan Syakila untuk mengecek lagi keadaan Syakila, saat Sardin memberitahu padanya jika Syakila sudah sadar.
”Selamat malam semuanya.”
”Selamat malam dokter,” sahut mereka semua.
”Bagaimana keadaan Anda, Syakila? Apa Anda sudah merasa baikan?” tanyanya pada Syakila.
”Iya Dok, alhamdulilah. Dokter, bisa saya keluar sekarang dari rumah sakit? Saya benar-benar sudah sehat.”
”Sayang, biarkan Dokter yang menentukan kamu sudah bisa pulang atau belum.” ucap Sarmi
”Tapi, Mah__”
Sang dokter tersenyum sambil menggeleng melihat pasiennya itu. ”Syakila, bersabarlah, setelah infusnya habis, Anda sudah bisa pulang kok.”
”Tidak Dok, Syakila tidak butuh infus ini lagi, Asya sudah sehat, Dokter.” Syakila mencabut selang infus itu dari tangannya.
__ADS_1
”Syakila, apa yang kamu lakukan Nak?” Sarmi terkejut. Bukan hanya Sarmi, Johan, Biah, dan orang tua Sardin pun terkejut melihatnya.
”Syakila sudah sehat Mama, ayok kita pulang sekarang. Syakila ingin cepat sampai di rumah.” Syakila berucap sambil jalan keluar dari ruangan itu.
Membuat mereka semua yang di dalam ruangan menghempaskan nafas kasar di udara sambil menggeleng. Termasuk sang dokter, mereka semua tahu watak dari Syakila. Ia memang tidak ingin berlama-lama di rumah sakit. Entah karena apa yang membuat ia seperti itu? Mungkin saja karena perihal papanya yang meninggal di rumah sakit.
”Dokter, maafkan sikap anakku itu.” Sarmi dan Johan berucap bersamaan.
”Tidak apa-apa, aku sudah mengerti dengan wataknya. Dia adalah pacarnya sahabat ku, Sardin selalu menceritakan tentang Syakila padaku.” jelas dokter. ”Administrasinya sudah di bayar oleh Sardin, jadi kalian bisa langsung pulang saja. Aku permisi.”
Dokter pergi dari ruangan itu. Sarmi, Johan, Biah, dan kedua orang tua Sardin pun keluar juga dari ruangan itu. Syakila melihat Sardin yang sedang termenung sendirian, ia menghampiri Sardin.
”Syakila? Mengapa kamu sudah keluar dari rumah sakit? Apa dokter yang mengizinkan mu?” Sardin terkejut saat Syakila mendatangi nya yang sedang duduk di kursi halaman parkir rumah sakit.
”Syakila tidak butuh izin dari dokter untuk keluar dari rumah sakit ini, kak.” sahut Syakila. ”Kakak melamun kan apa tadi sebelum Syakila menghampiri kakak?”
”Syakila? Apa kepala mu sedang bermasalah? Kamu yang lebih tahu apa yang sedang Kakak pikirkan.” Sardin menatap Syakila.
”Kila baik-baik saja kak, Kila hanya sedang berusaha bersikap tenang seperti biasa. Kakak, boleh kah Syakila memeluk kakak untuk terakhir kalinya?”
Sardin menutup bibir Syakila dengan jari telunjuknya. ”Stttsstt, jangan bicara seperti itu. Tidak ada yang terakhir kali, Kila bebas memeluk kakak semau Kila. Tubuh kakak, hati kakak, bahkan jiwa kakak adalah milik mu.”
Syakila membenamkan kepalanya pada dada bidang Sardin. Sardin mendekap erat tubuh Syakila, ia tahu jika adik kecilnya itu sedang menangis sekarang dalam pelukannya.
”Jangan menangis, sayang. Hatiku sedih melihat mu begini.”
Sardin juga meneteskan air matanya mendengar kembali suara tangisan pilu wanita yang di cintainya. Kedua orang tua Sardin dan Sarmi, Johan dan istrinya ikut berkaca-kaca saat melihat kedua remaja yang saling terluka hati dan perasaannya itu.
”Kakak, berjanjilah pada Kila, Kakak akan bahagia meski bukan Kila yang dampingi kakak.”
”Kakak tidak bisa berjanji Kila.”
”Kila mohon kakak, buka hati kakak untuk wanita lain. Jangan Kila lagi yang kakak harapkan. Kila akan semakin jauh dari kakak. Kila mohon kakak harus bahagia.”
”Bagaimana dengan mu, Kila? Apa kamu bahagia dengan semua ini?”
”Iya kakak, Kila bahagia. Jadi kakak juga harus bahagia. Kila pergi dulu kak,” Syakila melepas pelukannya pada Sardin. Ia menunjuk tubuh Sardin. ”Karena tubuh ini milik Kila, kakak harus menjaganya dengan baik.”
Setelah mengucapkan itu Syakila berlari menjauh dari Sardin. Sardin ingin menangkap tangannya tapi terlambat. Syakila larinya dengan cepat.
Namun Syakila tidak mengindahkan ucapan mereka. Syakila tetap berlari tanpa arah dan tujuan. Membuat mereka semakin khawatir. Sardin berlari mengejar Syakila begitu juga dengan Johan.
Syakila yang tahu ia di kejar, ia segera bersembunyi agar mereka tidak menemukan dirinya. Johan dan Sardin berhenti dari larinya karena mereka kehilangan jejak Syakila.
”Kila, kemana lagi kamu larinya. Kamu membuat ku khawatir Kila.”
”Sudahlah, sebaiknya kita pulang saja. Syakila juga bukan anak kecil lagi. Setelah puas menyendiri ia pasti pulang ke rumah.” ucap Johan sambil mengatur nafasnya.
”Iya Om.” jawab Sardin, tetapi hatinya masih khawatir tentang wanita yang di cintainya.
Syakila masih menangis dalam persembunyiannya. Ia mengintip sebentar ke arah Sardin dan omnya.
”Mereka sudah tidak terlihat lagi.”
Syakila menahan taksi yang lewat disana. Ia segera masuk ke dalam mobil sebelum ada yang melihatnya.
”Bang, jalan Bang ke gedung Cobra,”
”Baik, Nona.”
Taksi melaju ke tempat tujuan Syakila. Dalam waktu beberapa menit mereka telah sampai di sana. Syakila melepas cincin emas dari jari tengahnya dan memberikan pada supir taksi.
”Bang, maaf Syakila tidak membawa uang, sebagai gantinya Syakila membayar dengan cincin ini. Cincin ini beratnya dua gram.”
”Baiklah, terima kasih Nona.” ucap supir dengan senang.
”Sama-sama, Bang.”
Syakila turun dari mobil, dan ia melangkah masuk ke gedung Cobra yang pagarnya tidak terkunci. Ia melenggang masuk sampai ke tempat latihan yang cahayanya temaram.
Syakila melampiaskan semua amarahnya dengan berlatih, mengulang semua gerakan-gerakan yang ia pelajari. Meskipun pikirannya sedang berputar perihal pribadinya, tidak mempengaruhi setiap gerakannya.
Kakak mengapa takdir mempermainkan perasaan kita? Mengapa takdir yang menghampiri kita begitu kejam?
Aku akan menikah dengan orang asing, kakak juga akan menikah dengan orang lain
__ADS_1
Kita akan berpisah kak...kita akan saling menjauh... akan berpisah...
Jika kita saling dekat dan bertemu di saat kita berjalan dengan pasangan kita masing-masing, maka yang ada kita akan saling terluka...terluka karena cemburu...
Calonku berasal dari kota A, baguslah kita tidak akan saling bertemu nanti. Kakak, hiduplah dengan bahagia
Syakila berhenti berpikir dan gerakannya juga berhenti dengan meninju salah satu batu bata yang tersusun, tiga batu bata hancur tersisa dua bata paling bawah. Nafas Syakila memburu karena lelah... lelah berfikir...lelah berlatih...
Tanpa Syakila sadari dua pasang mata sedang melihatnya. Geo dan Beni memandang Syakila dengan pikiran yang berbeda. Beni yang mampu melihat Syakila yang terluka, sedangkan Geo melihat Syakila dengan sisi lain.
Geo menempatkan satu anak buahnya untuk mematai Syakila, itulah sebabnya dia dan Beni berada di Cobra sekarang, setelah mendapat laporan jika Syakila berada di Cobra sendirian.
Syakila masih tetap berada di tempat pelatihan itu. Ia tidak memikirkan orang-orang yang sedang khawatir padanya. Mereka semua sibuk mencari keberadaan Syakila yang tidak kunjung pulang kerumah. Karena khawatir Sarmi menghubungi Sardin untuk membantu mencari Syakila.
Dalam diam air mata Syakila mengalir. Ia berbaring di tengah lapangan dengan memejamkan mata
”Sayang, rupanya kamu disini.”
Syakila terkejut mendengar suara Sardin. Ia terbangun, menghapus air mata dan berdiri.
”Mengapa kakak ada disini?”
”Mengapa kakak ada disini? Karena disini ada belahan hati kakak. Mengapa kamu tidak pulang kerumah saja menyendiri di kamar mu? Apa kamu tidak tahu? Orang tuamu, kakak mu mengkhawatirkan dirimu.”
”Tinggalkan Kila sendiri disini kak, jangan berkata manis lagi di depan Kila. Nanti Kila akan pulang jika Kila sudah puas disini.”
”Kakak akan menemani mu disini.” tolak Sardin.
”Sebaiknya kakak pulang, orang tua kakak akan mencari kakak nanti.”
”Kakak tidak akan pulang jika kamu tidak ikut kakak. Tante menelfon ku untuk mencari mu dan kakak sudah berjanji pada Tante, kakak akan membawamu pulang bersama.”
”Berhentilah peduli padaku kakak! Kita bukan sepasang kekasih lagi. Jangan memberikan perhatian padaku, atau aku akan semakin sulit untuk...untuk....” Syakila tidak lanjut berucap saat pandangan matanya bertemu dengan mata Sardin.
”Untuk apa Kila? Untuk melupakan kakak? Hum? Mengapa terdiam? Kamu ingin melupakan kakak?” Sardin menatap Syakila dengan tajam. ”Kakak tidak akan mengizinkan mu untuk melupakan kakak.”
”Lambat laun kita akan saling melupakan kakak. Jadi, kita belajar dari sekarang untuk tidak saling bertemu dan saling menjauh. Sebaiknya, kakak pulanglah.”
”Jika itu kemauan mu, izinkan kakak untuk melepas kalung yang ada di lehermu. Baru kakak akan pergi dari sini.”
”Tidak, kakak tidak berhak untuk melepas kalung ini dari leher Kila! Kakak gak punya hak!” bentak Syakila dengan marah.
”Kakak punya hak Kila! Kamu lupa, apa yang kakak ucapkan saat memasang kalung itu di leher mu, Kila?”
Syakila menatap mata Sardin. Bagaimana mungkin Syakila melupakan itu? Segala sesuatu yang berkaitan dengan Sardin, Kila selalu mengingatnya. Apalagi hanya sebuah kata-kata!
”Kakak yang memasang kalung itu, kakak juga yang berhak melepasnya. Kamu yang gak berhak disini Kila!”
Nafas Syakila memburu, matanya kembali berkaca-kaca. Ia memundurkan langkahnya sambil menggeleng menjauh dari Sardin.
”Tidak, kakak yang tidak punya hak disini! Kakak sudah memberikan kalung ini untuk Syakila. Kalung ini milik Syakila, sampai kapan pun kalung ini akan tetap berada di leher Syakila!” ucapnya dengan marah. Syakila berbalik arah dan berlari menghindari Sardin.
Sardin terkejut saat Syakila berlari lagi.
”Kila, berhenti Kila! Jangan lari Kila!” Sardin mengejar Syakila. Syakila berlari dengan sangat cepat, ia menahan taksi yang lewat di sana, Syakila cepat masuk ke dalam mobil saat Sardin hampir meraih tangannya.
Sardin pergi ke mobil, ia mengikuti taksi yang Kila tumpangi. Geo dan Beni juga meninggalkan gedung Cobra sepeninggal Syakila dan Sardin.
Beruntung dia benar-benar di cintai. Tapi apa benar dia mencintai Sardin? Dia hanya mencintai uangnya saja. Air mata sudah biasa wanita keluarin untuk mengelabui laki-laki. Emosi juga mereka mainkan dengan baik untuk memerangkap laki-laki. Setelah dapat pria yang lebih dari segalanya. Dia akan berpaling pada pria itu. Cih, wanita semua sama saja.
batin Geo.
Sardin merasa lega saat ia tahu arah taksi itu berjalan. Ia tetap mengikuti taksi tersebut, memastikan bahwa Syakila memang pulang ke rumah.
Jika tidak memakai cara begitu, ia belum akan mau pulang. Syakila...Apa kamu akan benar-benar melupakan kakak, sayang? Sungguh kakak tidak menginginkan itu Kila.
Sardin berhenti saat taksi di depannya berhenti. Ia melihat Syakila membayar taksi itu menggunakan kedua anting-antingnya. Sardin nampak menelfon seseorang. Sambungan terhubung.
”Halo Tante, sebentar lagi Syakila akan sampai di rumah. Maaf Tante, Sardin tidak mengantar Kila pulang, Syakila naik taksi. Sardin hanya mengikuti mereka dari belakang mobil. Sekarang, Sardin pamit pulang dulu, Tante.”
”Iya Nak, terima kasih banyak ya Nak. Hati-hati di jalan.” sahut Sarmi.
”Iya Tante, sama-sama.”
Sardin langsung memutuskan sambungan saat ia mendengar suara Syakila memberi salam pada ibunya. Sardin kembali menjalankan mobil untuk kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1