Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 36


__ADS_3

Lusa Anton akan berangkat ke kota beserta istri dan anaknya, tetapi hatinya sungguh tidak tenang. Namlia, istrinya Anton menyadari kegelisahan suaminya. Ia pun bertanya padanya tentang kegelisahannya itu.


"Ada apa suamiku? Kelihatannya kamu sangat gelisah, apa yang kamu gelisah kan?"


Mendengar pertanyaan istrinya, Anton meraih tangan istrinya dan mengajaknya duduk di atas ranjang. Ia ingin berbicara serius dengannya.


"Kamu benar istriku, ada hal yang membuatku sangat gelisah. Apa kamu ingin mengetahuinya?"


"Sepertinya ini sangat serius. Katakan saja suamiku, ada apa? Jangan membuatku penasaran." Namlia menatap suaminya dengan serius.


"Ini mengenai Sarmi," Anton menjeda ucapannya. Ia ingin melihat reaksi istrinya saat menyebut nama Sarmi. Namun istrinya, hanya terdiam dan terus memandang Anton dengan serius. Akhirnya Anton melanjutkan ucapannya. "Sarmi kemarin pagi pingsan di kebun. Beruntung aku ada disana waktu dia pingsan. Aku ke sana untuk mengatakan padanya hari keberangkatan kita, karena ia ingin menitip sesuatu untuk suaminya. Jadi aku menolongnya." Anton menghentikan ucapannya tatkala Namlia mengkerutkan keningnya.


"Lalu, hubungannya dengan kamu apa? Sehingga kamu begitu gelisah? Apa... apa kamu_" ucapan Namlia terhenti ketika Anton menempelkan jari telunjuknya di bibir istrinya itu. Ia sangat tahu istrinya itu begitu pencemburu. Jika tidak bicara dengan baik dan menjelaskan secara detail, ia akan terus berprasangka buruk.


"Jangan bicara yang tidak-tidak! Aku hanya menolongnya saja, tidak ada hal apapun yang terjadi." Anton buru-buru mengantisipasi prasangka buruk Namlia. "Aku berencana, lusa aku akan membawa Sarmi dan anak-anaknya ke kota dengan kita. Aku khawatir, jika dia tetap di kebun dan tidak ada suaminya. Jika ia pingsan seperti kemarin siapa yang akan menolongnya?"


"Kamu begitu peduli padanya, apa karena dia mantanmu? Sungguh aku tidak senang!" Namlia mengutarakan perasaannya


Anton terdiam. Ia ingin marah pada istrinya. Tapi amarahnya ia redamkan. Mengingat istrinya yang memang suka cemburu dan paranoid.


"Sayang, aku tidak peduli padanya. Dia hanya masa laluku. Tidak ada hubungan apapun lagi dengannya. Perasaan ku juga hanya tertuju padamu. Percayalah! Aku hanya ingin balas budi kepada suaminya yang sudah menolong istri dan anak yang ku cintai. Jadi, apakah aku salah dalam hal itu?" Anton menjelaskan dengan suara rendah dan lembut kepada Namlia, istrinya agar tidak salah paham lagi.


Huh, suamiku benar! Kami memang punya utang balas budi kepada Halim dan keluarganya. Kalau bukan karena dia, mungkin aku dan anakku tidak bisa menghirup udara segar di dunia ini. Aku seharusnya tidak harus cemburu pada suamiku. Tapi, bagaimanapun juga Sarmi adalah mantan pacarnya. Ah, akal sehatku seakan hilang. Karena cemburu aku selalu berprasangka buruk pada suamiku. Maaf suamiku!


batin Namlia.


Namlia menghempaskan nafas perlahan, nafas kelegaan. Ia merasa malu, pada dirinya dan merasa bersalah pada suaminya karena ia sempat berpikiran bahkan hampir mengucapkan perkataan yang tidak pantas kepada suaminya.


"Kalau begitu bawa saja dia ke kota dengan kita, lalu apa yang membuatmu gelisah?" Namlia bertanya dengan suara rendahnya.


"Aku memikirkan suaminya, dan tempat tinggal mereka jika aku membawa anak dan istrinya ke kota. Sedangkan Halim, ia berencana untuk menjemput anak dan istrinya dua bulan akan datang. Dan aku belum tahu. apakah dia sudah membangun rumah atau belum di atas tokonya itu." ucap Anton menjelaskan.


"Iya juga yah, rumah kita tidak akan muat untuk tinggal bersama. Biarlah mereka selama seminggu tinggal bersama kita dulu, dan anaknya bisa tidur satu kamar dengan anak kita. Jadi bicaralah pada Halim nanti. Selama seminggu itu dia harus berfikir untuk mencari rumah kontrakan, untuk mereka tinggal nanti." Namlia memberikan usulannya.


"Ok, fix yah. Mereka sementara tinggal bersama kita." Anton mengulang memastikan.


"Seminggu! Ingat, cuma seminggu, bukan sementara tinggal bersama kita!" Namlia menegaskan.


Anton sangat senang, akhirnya ia bisa memiliki kesempatan untuk membalas budi lagi kepada Halim. Namun ia menahan senangnya di dalam hatinya, ia tidak ingin istrinya curiga lagi padanya jika ia mengukir senyum pada bibirnya.


"Ok, aku mengerti. Siang ini aku akan ke kebun lagi bersama Syakila. Aku akan membicarakan ini bersama mereka."

__ADS_1


"Hum, tapi jangan lama-lama disana!" pinta Namlia.


Hah, istriku ini, sudah memiliki tiga anak dariku masih juga cemburu padaku. Seharusnya ia lebih tahu perasaanku kepadanya gimana. Ada-ada saja.


batin Anton


"Iya sayang! Setelah selesai bicara dengan Sarmi, aku akan segera kembali." Anton berucap sambil mencolek hidung istrinya dengan jari telunjuknya. Lalu ia membelai mesra wajah istrinya dan mencium keningnya lembut.


.. ..


Hari ini Halim begitu sibuk melayani para pembeli yang datangnya bersamaan. Untunglah para pembeli itu, memiliki sifat sabar, dan menunggu setelah pembeli pertama selesai.


Ia melayani para pembeli dengan sangat ramah. Satu persatu para pembeli sudah berkurang. Ia ingin istrahat sejenak untuk mengisi perutnya yang lapar. Sekalian ia ingin menunaikan shalat Dzuhur nya.


Ia menutup tokonya menggunakan terpal, baru ia pergi menunaikan shalat nya dulu, sepulang dari shalat barulah ia pergi makan di warung biasa ia makan.


Halim tidak menyadari jika seorang perempuan mengikuti dirinya dari belakang semenjak ia keluar dari masjid. Setelah Halim selesai makan ia ingin kembali membuka jualannya.


Di saat ia melewati lorong kecil, Halim terkejut karena tangannya di tarik oleh seseorang dengan kuat. Karena tidak ada kewaspadaan diri, Halim tertarik dan terhempas membentur tubuh orang yang menariknya.


Dan lebih terkejut lagi, kini Halim berada di atas tubuh wanita yang menariknya itu. Karena wanita itu tidak bisa menopang tubuh Halim saat Halim menubruknya, akhirnya mereka jatuh bersamaan.


Halim segera bangkit dari tubuh Halima. "Kamu, apa yang kamu lakukan?" bentak Halim.


"Ma-ma-maaf, a-aku ingin bicara padamu." Halima berbicara dengan terbata-bata karena takut melihat amarah di wajah Halim.


"Aku tidak ada waktu untuk bicara denganmu!" Halim membalikkan badannya ingin pergi. Halima menahan kembali tangan Halim.


"Tolong! Dengar kan aku. Berikan aku sedikit waktumu, bicaralah dengan ku. Ku mohon!" Halima bermohon dengan sedih.


Hati Halim melunak seketika. "Bicaralah!" ucapnya dengan muka datar.


Halima tidak ingin menyiakan kesempatan itu sekarang, ia menceritakan tentang kehidupan nya kepada Halim tanpa ada kebohongan satupun.


"Jadi, aku berada di sana karena di jebak." Halima menceritakan kisah hidupnya sambil menangis. "Awal bertemu dengan mu, aku memang ingin merayu mu dan membuatmu tertarik denganku." Halima berhenti bercerita, ia menghapus sebagian air matanya yang masih mengalir di pipinya. "Aku sangat yakin, kamu akan terpikat dengan kecantikan dan kemolekan tubuhku. Tapi ternyata aku salah." Halima tersenyum getir. "Dan sikapmu yang seperti itu membuatku semakin tertarik denganmu. Tapi aku sadar, kamu tidak bisa di rayu, jadi aku menyerah untuk merayu mu."


"Kalau kamu sudah menyerah untuk merayuku, mengapa kamu selalu menggangguku? Aku prihatin dengan cerita kehidupan mu. Tapi apapun itu, tidak ada hubungannya denganku. Jadi berhentilah untuk mengganggu ku!" Halim berkata dengan pelan namun sangat tegas. Menyadarkan Halima jika ia tidak ingin di ganggu.


Halima tercengang. "Aku ingin meminta bantuan mu." Ia memberanikan diri memandang Halim. "Hanya itu yang ku inginkan dari kamu, bantu aku!"


"Aku tidak ingin terlibat dengan kehidupanmu. Jangan ganggu aku!" ucap Halim sambil melangkah.

__ADS_1


"Aku ingin pergi dari sana! Tolong keluarkan aku!"


Halim menghentikan langkahnya. Ia berbalik melihat Halima. Ia tidak tega melihat Halima yang berlutut memohon bantuan nya masih sambil menangis.


Halim menghampirinya dan membantu Halima untuk berdiri. Saat itu Halima langsung memeluk erat tubuh Halim. Halim ingin melepaskannya tapi ucapan Halima mencegahnya.


"Tolong! Biarkan aku memelukmu sebentar!"


Halim membiarkan Halima memeluknya, namun ia tidak membalas pelukan Halima. Halima semakin menangis menumpahkan kesedihannya.


"Tolong! Bantu aku keluar dari sana dengan baik-baik. Jika aku kabur sendiri, mereka akan terus mengejar ku. Dan memaksaku kembali kesana dengan ancaman adik perempuan ku. Aku tidak ingin adikku bernasib sama sepertiku." Halima kembali bermohon meminta bantuan Halim. "Aku akan membalas budi mu nanti jika kamu sudah mengeluarkan aku dari sana."


Halim melepaskan tubuh Halima dari tubuhnya. "Aku tidak janji untuk itu!" jawabnya. "Kamu sudah bercerita banyak. Dan sudah mengatakan keinginan mu. Sekarang aku pergi!" Halim langsung melangkah pergi meninggalkan Halima di sana.


"Aku yakin, kamu akan menolongku Halim." gumam kecil Halima di saat ia tidak melihat punggung Halim. Ia menghapus sisa air matanya. Lalu ia kembali pada bodyguard nya. Ia sangat yakin mereka sekarang sedang mencari-cari dirinya.


"Kamu dari mana? Mengapa matamu sembab? Kamu habis menangis?" salah satu bodyguard nya bertanya penuh selidik.


"Aku dari warung makan di sana. Tadi ada hewan yang masuk di mataku, sangat perih jadi aku menangis karena tidak tahan perihnya." Halima berbohong untuk mengamankan dirinya.


"Lalu, sekarang matamu sudah tidak perih?"


"Iya, sudah tidak perih. Aku di bantu sama mereka mengeluarkan hewan itu dari mataku dan mereka memberikan obat tetes mata pada mataku." lagi-lagi Halima berbohong untuk meyakinkan kebohongan yang lain.


"Sekarang, mari kita pulang! Sudah terlalu lama kamu berkeliaran di luar" ajak bodyguard tersebut. "Apa kamu sudah membeli keperluan mu?" Bodyguard tersebut bertanya penuh curiga karena ia tidak melihat satu barang pun yang di pegang oleh Halima.


Halima tersadar, ia tidak sempat membeli barang untuk menutupi kebohongannya.


Mati aku! Apa yang harus ku jawab sekarang?


batin Halima.


"Itu, yang ku cari keperluan adikku, jadi aku sudah mengantarkannya pada adikku. Setelah dari sana baru aku pergi makan di warung." lagi-lagi Halima berbicara bohong untuk mengamankan dirinya.


Namun para bodyguard tersebut mempercayai kebohongan Halima.


"Ayo pulang!" ajaknya lagi. Halima mengangguk. Mereka pun akhirnya pulang.


Maafkan aku Mulfa, aku menjadikanmu alasan untuk menutupi kebohongan ku. Semoga mereka tidak mencari kebenaran pada mu di belakang ku.


batin Halima.

__ADS_1


__ADS_2