
Di dalam pesawat.
Pesawat telah mengudara semenjak tiga puluh menit yang lalu. Geo memilih pesawat pribadi yang sedikit besar karena kamarnya ada tiga kamar. Pas untuk mereka bertiga istirahat di kamar yang terpisah.
Kamar Syakila berada di tengah. Sardin bagian depan dan Geo, memilih yang di belakang.
Sekarang Sardin dan Syakila berada di depan ruangan kamar Syakila. Geo sendiri ingin bergabung, namun, ia tidak ingin menjadi obat nyamuk bagi Syakila dan Sardin. Jadi, dia memundurkan langkahnya.
Dia duduk sendirian bersandar di dinding yang menjadi pemisah ruang kamarnya dan Syakila. Namun, dari situ, dia bisa mendengar percakapan Sardin dan Syakila.
”Kenapa muka mu cemberut terus melihat kakak?” tanya Sardin. Ia mencubit pelan hidung mancung Syakila.
”Kakak hutang penjelasan padaku.” ucap Syakila. Dari suaranya wanita itu masih kesal.
Sardin tertawa, ”Kamu masih tetap saja sama. Ok, kakak akan jelaskan. Sebenarnya, paman dan aku memang ingin membeli tiket penumpang. Tapi, saat Geo tahu kita akan berangkat pakai pesawat penumpang, dia mencegah kami. Dia juga ingin ke kota S bersama kita. Dia tidak ingin pergi sendirian.”
Sardin menjeda ucapannya.
”Jadi, tanpa ragu paman, dan aku setuju. Dan aku juga mewakili paman, meminta maaf karena tidak bicara padamu di awal. Kami takut kamu akan menolak, jadi...”
”Sudah, tidak usah di lanjutkan. Kila sudah mengerti.” pangkas Syakila.
”Adiknya kakak memang pintar dan pengertian. Umh...apa yang membuat mu tidak bisa tidur semalam, dan lagi tidak makan? Kakak masih marah sama kamu tentang itu.”
”Tidak perlu Syakila menerangkan secara jelas. Kakak sendiri akan tidak senang jika mendengarnya. Menurut ku, kakak lebih tahu alasan apa yang membuat Kila seperti itu.”
Sardin terdiam sebentar. Kemudian, ia tersenyum kecut sambil menghela nafas. ”Kamu masih belum menerima keputusan Geo, menceraikan mu?” dia memandang Syakila dengan serius.
Deg deg deg! Detak jantung Syakila dan Geo saat ini. Geo berdebar menanti jawaban Syakila.
”Masih butuh waktu untuk menata hatiku.” Syakila menjeda ucapannya. ”Kenapa gak di saat dulu saja dia ajukan cerai, di saat aku belum memiliki rasa untuknya. Dan di saat aku meminta bercerai. Dia sengaja menahan ku, membuat ku jatuh cinta padanya, kemudian, dia mencampakkan ku.”
Geo menelan saliva nya dengan sesak. Apakah itu artinya Syakila benar mencintai nya sekarang? Lalu, kenapa dia tidak mempertahankan dirinya seperti dia mempertahankan Sardin, di sisinya? Apakah benar hanya karena kata ”Janji?” yang membuat Syakila mempertahankan Sardin? Dan karena kata ” Janji?” juga yang membuat Syakila menerima keputusannya Geo? Geo sangat penasaran dengan hal itu.
”Jika dia tidak menceraikan mu, apa yang kamu lakukan jika kamu teringat dengan janji kita?” tanya Sardin lagi.
”Mungkin akan tetap sama. Aku tidak bisa mengabaikan janji begitu saja. Awalnya aku memang egois tidak mau bercerai darinya. Tetapi, aku juga tidak bisa mengabaikan perasaan ku pada kakak juga janji kita. Lagi pula, Geo sudah menceraikan aku di saat aku tidak sadar.”
”Sejak kapan kamu mencintainya?”
”Tidak tahu. Tapi, rasa itu aku sadari saat malam penyerangan. Malam itu, aku..tidak ingin terjadi sesuatu pada Geo.” jawab Syakila.
”Jika malam itu, aku dan Geo dalam posisi yang sama, siapa duluan yang kamu bantu?”
Geo yang berada di sebelah dinding itu menanti jawaban Syakila. Dia juga ingin tahu, siapa yang akan Syakila duluan kan, dirinya atau Sardin?
Syakila terdiam. Dia bingung untuk menjawabnya. Dia melihat raut wajah Sardin yang berubah seperti menahan rasa sakit.
”Kakak kenapa? Apa kepala kakak sakit lagi?”
”Kakak tidak apa-apa. Kila jawab saja pertanyaan kakak.”
Syakila kembali terdiam.
”Tidak bisa menjawab? Hum? Aku akan bertanya hal lain. Sudah sebesar apa cinta mu pada Geo?”
”Tidak tahu kak. Sudahlah, tidak usah bahas ini lagi. Kita bahas kan saja hubungan kita ke depannya itu seperti apa.”
”Ok. Kakak sudah bicara dengan orang tua kakak tentang rencana pernikahan kita. Dan orang tua kakak sudah berbicara dengan orang tuamu. Mereka semua setuju.” ungkap Sardin.
”Apa gak terlalu cepat pernikahan kita ini kak?” tanya Syakila.
”Kenapa? Kalau Syakila keberatan dengan waktunya, kakak bisa memundurkan nya, sesuai dengan hari dan tanggal yang kamu inginkan.”
Syakila menghela nafas. ”Tidak, kita lanjutkan saja, sesuai yang sudah kakak rencanakan. Hubungan kita pasang surut karena keadaan. Kila pernah menunda niat baik kakak untuk tunangan dan menikah sama Kila. Dan kakak tahu sendiri apa yang terjadi. Sekarang, Kila tidak akan menolak niat baik kakak lagi.”
Sardin terkekeh. ”Kamu kayak orang yang pasrah saja. Seakan-akan kakak memaksa mu menikah.”
”Sebaiknya kamu istirahat. Semalam kamu gak tidur dengan baik, dan bangunnya juga jam lima. Pergilah tidur, kakak gak mau kamu sakit.” ucap Sardin.
”Iya. Kalau begitu, Kila tinggal dulu kak. Kakak juga istirahat.”
Sardin mengangguk. Syakila berdiri dan pergi ke kamarnya.
Sardin berdiri dari duduknya dan mendatangi tempat duduk Geo saat ini. Dia sempat melihat Geo yang memundurkan langkahnya saat akan melewati ruang depan kamar Syakila.
Sardin duduk di hadapan Geo. ”Kenapa tidak ikut gabung tadi? Merasa tidak enak hati?” tanyanya.
”Hum? Oh, tidak. Aku hanya tidak ingin mengganggu kalian saja.” jawab Geo, dengan datar.
”Kamu mendengarnya kan?”
”Aku tidak memperhatikan. Aku sedang mendengarkan musik.” alibi Geo. Padahal, musik tersebut baru saja dia dengar saat Sardin menyuruh Syakila pergi istirahat.
”Dia mencintai mu.”
__ADS_1
”Cintanya hanya sementara. Tidak akan bertahan.” sahut Geo dengan wajah datarnya.
”Argh!” jerit Sardin sambil memegang kepalanya.
GEO menjadi panik, ”Kepalamu sakit lagi? Di mana obat mu, aku akan ambilkan.”
”Bawa aku ke kamar saja. Aku ingin istirahat.” titah Sardin.
”Ok!” Geo membantu Sardin berdiri dan memapahnya ke kamar Sardin.
”Apa sakit sekali? Kenapa kamu gak coba operasi saja?” Geo mendudukkan Sardin dengan pelan di kasur. Sardin bersandar di dinding ranjang
”Operasi sangat kecil tingkat berhasilnya. Aku tidak ingin mengambil resiko saat itu. Begitu juga orang tuaku.”
”Apakah karena Syakila alasan mu saat itu dan sekarang ini? Di mana obat mu?”
”Ada dalam tas ku, bagian res paling depan.” jawab Sardin.
Geo mengambil tas Sardin dan mencari obat Sardin. Dia menemukan obat itu dan mengambil segelas air. Dia membawakannya untuk Sardin. ”Ini, minumlah dulu obat mu.”
Sardin mengambil obatnya dan menaruhnya di dalam mulut dan mengambil air minum dan meminumnya. Obat itu larut ke dalam tubuh Sardin bersama air yang di telan nya.
”Terima kasih.” ia memberikan gelas kosong pada Geo.
Geo mengambil dan menaruhnya di atas nakas. ”Istirahatlah! Aku keluar dulu.”
”Duduklah dulu.” titah Sardin.
Geo menurut. Ia duduk di kursi dan menyandarkan punggungnya.
”Sebenarnya, keadaan ku semakin memburuk. Aku kelihatan segar karena pengaruh obat. Aku tidak tahu kapan aku akan pergi. Jika aku pergi, aku tidak rela Syakila bersama lelaki lain. Aku akan tenang jika kamu yang bersama dengan Syakila.” tutur Sardin.
Kening Geo berkerut melihat Sardin. ”Kamu mencoba menjodohkan aku dengan Syakila lagi?”
”Aku tidak menjodohkan kamu dengan Syakila. Aku hanya sedang mengeluarkan curahan hatiku padamu.” elak Sardin.
”Sebaiknya kamu ambil langkah untuk operasi saja. Aku ada dokter yang handal, yang aku kenal. Aku akan mengundangnya secara khusus dari negara L untuk mu. Apa kamu bersedia?”
”Tidak! Aku sudah tidak bisa lagi. Seharusnya, saat kecelakaan itu aku sudah meninggal. Tapi, karena keteguhan hati dan janji ku pada Syakila, yang membuat ku bertahan.”
”Syakila bisa gila jika kamu pergi. Aku menganggap mu seperti adik dan sahabat. Tolong terima niat baik ku atas nama Syakila.” bujuk Geo.
”Aku tidak bisa. Sudah sangat terlambat. Jangan beritahu Syakila keadaan ku yang memburuk ini.”
”Sebelum aku pergi, aku ingin menunaikan janji ku pada Syakila.”
”Kau ingin membuat Syakila jadi janda setelah kamu mengucapkan ijab kabul?”
Sardin terdiam. Memegang kepalanya yang masih terasa ngilu sakitnya.
”Kamu bajingan! Aku malas berbicara sama kamu. Aku pergi!” Geo melangkah keluar dari kamar Sardin. Geo pergi ke kamarnya.
.. ..
Di kota S.
”Tidak lama lagi mereka akan tiba. Apa sebaiknya kita menjemput mereka di bandara atau tunggu di rumah saja?” tanya Sarmi pada Johan.
”Terserah padamu. Kalau kamu ingin menjemput mereka, kita ke bandara sekarang. Jika tidak, tunggu mereka di rumah saja.” jawab Johan. Ia mengembalikan keputusan pada Sarmi sendiri.
”Kalau begitu, kita tunggu mereka di rumah saja.” ucap Sarmi, setelah lama ia berpikir.
”Apa itu mereka? Cepat sekali datangnya!” ucap Sarmi lagi saat mendengar suara deru mobil berhenti di depan rumahnya.
Sarmi berdiri di pintu. Dia melihat mobil tersebut.
”Siapa yang datang?” tanya Johan.
”Nesa dan Alimin.” jawab Sarmi, sambil melihat Nesa dan Alimin berjalan ke arahnya.
”Sarmi, apa kamu ingin pergi menjemput mereka di bandara?” tanya Nesa.
Mereka telah masuk ke dalam rumah Sarmi.
”Tidak, aku di rumah saja menunggu mereka datang. Kamu ingin pergi menjemput mereka?” Sarmi bertanya kembali.
”Tidak jadi deh. Tadi rencananya mau panggil kamu untuk pergi jemput mereka sama-sama. Tapi, karena kamu gak ikut, aku juga tidak. Kita tunggu mereka di sini saja.” ungkap Nesa.
”Apa kamu menyiapkan sesuatu untuk menyambut mereka?” tanya Nesa.
”Aku hanya membuat makanan kesukaan Syakila dan beberapa macam hidangan lain. Juga ada beberapa macam puding dan buah untuk makanan penutup.” jawab Sarmi.
”Oh.”
Mereka pun terdiam. Dan duduk menunggu kedatangan anak-anak mereka.
__ADS_1
.. ..
Di pesawat.
Sardin meminum kembali obatnya sebelum dia akan turun dari pesawat. Geo dan Syakila telah bersiap-siap.
Pesawat lima belas menit lagi akan mendarat di bandara kota S.
Pesawat mendarat sempurna. Pintu pesawat terbuka. Syakila melihat beberapa pria dengan berpakaian jas hitam sudah berbaris kiri dan kanan di ujung tangga pesawat.
Pengaruh orang ini sangat besar. Dulu aku tidak begitu memperhatikan. Sekarang, aku tahu orang ini punya pengaruh, punya kekuatan yang besar. benak Syakila.
Mereka turun dari pesawat.
”Tuan! Selamat datang di kota S.” ucap para pria berjas hitam itu sambil mengambil tas yang ada di tangan Geo.
”Iya. Terima kasih.”
Bukan hanya tas Geo yang mereka ambil, tas Sardin dan Syakila juga mereka pegang dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Mobil pun ada beberapa buah yang terparkir di bandara menyambut datangnya Geo.
”Tuan,” salah satu pria itu memberikan satu kunci mobil pada Geo. Geo mengambilnya.
”Sardin, Syakila, ayo, masuk ke mobil.” titah Geo. Syakila dan Sardin mengangguk.
Mereka masuk ke dalam mobil yang paling depan. Meskipun para pria berjas tadi sudah masuk ke dalam mobil, mereka tetap tidak jalan sebelum mobil Geo yang jalan duluan.
Geo menjalankan mobilnya. Dia sendiri yang duduk di depan. Syakila duduk di belakang bersama Sardin.
Sardin mengambil tangan Syakila dan menggenggamnya. Dia bisa merasakan kalau Syakila sedang gugup. Tangannya sampai berkeringat.
”Kenapa kamu gugup?” tanya Sardin pada Syakila.
”Tidak gugup, hanya sedikit takut saja untuk pulang ke rumah.”
Dari pesawat sampai sekarang, Syakila bebas menceritakan pikirannya, hatinya, apa yang di rasakan nya pada Sardin. Aku sedikit iri. benak Geo. Ia melirik Sardin dan Syakila sejenak.
”Takut kenapa?”
Syakila melihat Geo. ”Tidak apa-apa.” jawabnya.
”Kalau tidak apa-apa, seharusnya kamu tidak perlu takut kan? Lagi pula, ada aku, ada Geo di samping mu. Masih takut apa? Bibi Sarmi akan mengerti keadaan kita. Tidak perlu khawatir.”
”Iya.”
Satu hati, satu pikiran sekali mereka berdua ini. Syakila belum menjawab pertanyaan Sardin, tapi, Sardin sudah tahu apa yang di takutkan sama Syakila. Membuat ku semakin iri saja. benak Geo.
Suasana kembali hening. Geo memasang musik untuk mengusir rasa hening yang tercipta. Laju mobil ia tambah. Jalanan sepi dari pengendara lain. Jadi, tidak masalah jika ngebut sedikit.
Mobil yang berada di belakang mobil Geo, melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Geo.
Beberapa menit mereka dalam perjalanan, mereka telah sampai di depan rumah Sarmi. Geo menghentikan mobilnya. Mobil anak buah Geo juga berhenti di belakang mobil Geo.
Dari dalam mobil, Syakila melihat mamanya, pamannya, orang tua Sardin dan saudaranya sudah menunggu mereka turun dari mobil.
Mereka turun dari mobil. Para anak buah Geo juga turun dari mobil dengan membawa tas koper pakaian Sardin dan Syakila. Sementara koper pakaian Geo, mereka biarkan di dalam mobil.
Setelah mereka menaruh tas Sardin dan Syakila di dalam rumah, mereka kembali ke mobil, menunggu Geo.
Syakila melihat mata mamanya yang berkaca-kaca. Mata Syakila juga sedang berkaca-kaca.
”Mama, Paman, Om, Bibi.” Syakila menyalami mereka satu persatu. Geo dan Sardin juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Syakila.
”Alhamdulillah, kalian datang dengan selamat. Ayo...ayo...masuk ke dalam.” ucap Johan.
Mereka masuk di dalam rumah. Suasana seperti terasa canggung. Apalagi bagi Sarmi dan Johan. Mereka berdua bingung untuk berbicara.
Sama halnya dengan Syakila, Geo, dan Sardin. Mereka juga bingung mau berbicara.
”Em...kalian pasti lapar. Sebaiknya, mari kita langsung menuju ke dapur saja. Makanan telah di hidangkan.” ajak Biah, yang baru datang dari arah dapur.
”Geo, Syakila, Sardin. Ayo, kita makan dulu, Nak. Setelah itu baru kalian istirahat.” sambung Sarmi.
”Iya, Mama.” sahut Syakila dan Geo.
”Iya, Bibi.” sahut Sardin.
”Kok, manggilnya masih Bibi? Panggil Mama, Sardin.” Nesa meralat panggilan Sardin untuk Sarmi.
Sarmi melihat Geo. Dia tidak enak hati.
”Ayo, semua kita ke dapur saja.” ucap Johan.
Mereka pun berdiri dan pergi ke dapur. Sesampainya di meja makan pun, suasana masih terasa canggung, bahkan di saat mereka makan.
__ADS_1