
Di kamar Geo.
Geo telah selesai mandi. Ia melihat Syakila telah berbaring di ranjang. Dia duduk di sisi ranjang sambil mengeringkan rambutnya.
”Kamu sudah tidur?” Tanya Geo.
”Baru mau tidur, kenapa?” Syakila bangun dan memeluk tubuh Geo dari belakang.
”Tidak apa-apa. Oh ya, besok pagi kamu berangkat kerja sama aku, kamu adalah sekretaris pribadiku mulai besok.” ucap Geo.
Syakila melepaskan pelukannya, ia bersandar di sandaran ranjang. Geo memutar badannya menghadap Syakila, ”Kenapa? Kamu tidak mau?” tanyanya.
”Aku tidak berpengalaman sebagai sekretaris. Kamu tahu sendiri apa jurusan ku saat kuliah.” jawab Syakila.
”Sayang, kamu adalah sekretaris pribadiku yang aku tugaskan khusus mengurus private ku saja, bukan dalam hal pekerjaan. Tugas mu adalah menyiapkan kebutuhan pribadiku saja.” jelas Geo.
”Seperti, memakaikan pakaian, mengikat dasi, membuatkan kopi, mengambilkan makanan untuk mu, begitu?” Tanya Syakila.
”Iya benar, kamu mau? Aku ingin di urus sama kamu tentang hal itu.”
”Sebelum kamu menikah dengan aku, yang mengurus kebutuhan mu seperti itu siapa?” Tanya Syakila lagi.
”Em, sektretaris ku.” jawab Geo.
”Ya sudah, kan masih ada sekretaris mu yang melakukan itu. Masih perlu aku?”
”Iya, aku perlu kamu yang melakukan itu. Aku tidak butuh Beni lagi yang membuatkan kopi untuk ku, yang mengingatkan aku makan, dan lain-lain. Bagaimana, kamu mau ya?”
Syakila menghela nafas, ”Baiklah, aku mau. Berapa gaji ku satu bulan? Aku gak mau gaji rendah loh. Jadi sekretaris tidak mudah,” ucapnya.
Geo tersenyum sambil mencubit hidung mancung istrinya. ”Kamu mata duitan juga ya. Kamu mau gaji berapa? 5 juta, 10 juta, 20 juta, 30 juta atau... berapa? Aku sanggup menggaji mu....”
”Itu semua terlalu kecil, belum bisa memuaskan hasil kerjaku.” sahut Syakila.
”Lalu, kamu ingin berapa untuk memuaskan hasil kerjamu?” Tanya Geo.
Syakila tersenyum menggoda, dia mendekatkan dirinya pada Geo, ”Bayar aku dengan tindakan mu. Gak mau dengan uang mu, aku gak kekurangan uang,” bisiknya pada telinga Geo.
Geo tersenyum bahagia. Ia memeluk tubuh Syakila, menahan wanita itu tetap pada posisinya, ”Dengan senang hati, aku juga ingin merasakan bagaimana kita melakukannya di ruangan kantor ku,” balasnya berbisik di telinga Syakila.
Syakila terkejut dia menggigit telinga Geo.
Geo melepaskan pelukannya, ”Aduh! Syakila, kenapa kamu menggigit ku? Sakit tahu,” keluhnya, tangannya mengusap telinganya.
”Siapa suruh berkata seperti itu.”
”Kan kamu yang suruh. Siapa yang bilang aku harus membayar dengan tindakan? jangan salahkan aku dong berkata seperti itu.” ucap Geo membela Geo.
Syakila menghela nafas, ia kembali berbaring. ”Tidurlah, besok kamu harus pergi kerja.” ucap Syakila.
”Bukan hanya aku, kamu juga pergi bekerja besok.” sahut Geo. Dia menggeser badan Syakila dan berbaring di samping istrinya itu.
”Iya. Kita pergi sama-sama, tapi... bagaimana dengan surat lamaran kerja ku?”
”Gampang! Itu sudah aku atur semuanya. Surat lamaran kerja mu sudah ada, tinggal kamu tanda tangani saja kontrak kerja mu.” ucap Geo. Dia memeluk tubuh Syakila, mencium leher Syakila yang terbuka.
”Suami ku ternyata sudah mempersiapkannya dengan sangat baik ya.”
”Iya dong. Kamu puas memiliki suami seperti aku?” Tanya Geo, kini dia berada di atas tubuh Syakila.
”Kamu belum memuaskan ku, bagaimana aku akan menjawab mu?” goda Syakila.
Geo tersenyum. Dia menciumi bibir Syakila. Syakila membalas ciuman suaminya.
”Jujur, aku sangat bahagia bisa menikah dengan kamu. Syakila, jangan pernah berhenti mencintai aku. Berjanjilah!”
”Iya, aku berjanji. Apapun keadaan mu, aku akan tetap mencintai kamu. Dan aku ingin kamu berjanji satu hal padaku.” pinta Syakila.
”Apa itu?”
”Berjanjilah untuk menjaga dirimu sendiri dalam keadaan sehat selalu. Jika kamu sakit, tolong ceritakan padaku, jangan sembunyikan apapun dariku.”
Apakah dia khawatir kan aku? Dia tidak ingin hal seperti Sardin terulang lagi padanya. benak Geo.
Geo memandang kedua netra Syakila dengan intens, ”Aku akan menjaga kesehatan ku untuk mu. Aku janji akan selalu jujur dan menceritakan apapun padamu.”
Tangan Syakila terangkat, dia melilitkan tangannya ke belakang leher Geo. Syakila menarik kepala Geo dan menciumnya.
Geo membalas perlakuan Syakila. Ciumannya semakin menuntut hal lain yang lebih dari itu. Geo kembali memberikan hak-hak Syakila atas dirinya.
Geo dan Syakila sama-sama menelan saliva nya, rasa hangat yang mengalir di dalam aliran darah mereka membuat mereka terhanyut dalam buaian kasih sayang.
”Jadi bagaimana? Apakah kamu puas dengan ku?” Tanya Geo, di akhir kegiatan malamnya.
”Em... haruskah aku menjawab mu? Kamu yang lebih tahu akan reaksiku.” sahut Syakila.
Geo tersenyum, ”Tapi aku ingin mendengar langsung darimu....”
”Kekanakan sekali. Geo, aku ingin membersihkan diriku. Bisakah lepaskan pelukan mu sekarang?”
__ADS_1
”Tidak mau, aku masih ingin berada di atas mu.”
”Geo, lihatlah keringat mu, keringat mu menetes di tubuhku bercampur dengan keringat ku. Aku gerah sayang, aku ingin membersihkan diri...”
”Baiklah,” Geo mencium kening istrinya, ”Terima kasih, kamu selalu membuatku puas,” ucapnya. Ia bangkit dari atas tubuh Syakila.
Syakila mengambil baju tidur dan memakainya. Ia pergi ke kamar mandi membersihkan diri.
Geo juga memakai baju tidurnya kembali, ia menunggu Syakila keluar dari kamar mandi baru ia bersihkan dirinya. Menggauli istrinya berkali-kali membuat keringat keluar di seluruh tubuhnya dan ia merasa gerah jika harus tidur dalam keadaan seperti itu.
Syakila telah keluar dari kamar mandi, giliran Geo masuk ke dalam kamar mandi. Syakila mengganti sprei ranjang dengan sprei baru.
Ia naik ke atas ranjang dan berbaring. Geo keluar dari kamar mandi, badannya kembali segar dan tidak berkeringat. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring sambil memeluk istrinya.
”Aku sangat puas memiliki kamu sebagai suami ku. Dan aku puas di setiap kali kamu menyentuh ku.” ucap Syakila.
Geo tersenyum, ia membalik tubuh Syakila agar menghadap dirinya. ”Kenapa gak melihat wajah ku saat bilang seperti itu?”
”Geo, jangan membuat ku malu. Tidurlah, aku ingin istirahat.” ucap Syakila.
Geo terkekeh di setiap kali menggoda istrinya yang cantik dan pemalu itu. ”Baiklah, tidurlah sayang.” sahut Geo, dia mencium kening Syakila.
Mereka berdua tidur saling memeluk.
... ..
Keesokan paginya.
Syakila dan Geo bangun dengan terlambat pagi ini. Untuk mempersingkat waktu, mereka berdua mandi bersama-sama.
Selesai mandi dan berganti, mereka berdua turun di bawah, mereka pergi ke dapur.
Di dapur.
”Mentang-mentang pengantin baru, keluar dari kamar sudah terlambat.” sindir Beni.
Syakila menunduk malu, ia menarik kursi dan duduk. Geo juga menarik kursi dan duduk.
”Beni, berhenti menggoda kakak dan kakak ipar mu.” ucap Rosalina.
”Mama, Geo berencana melamar salah satu kandidat yang Mama tempatkan pada Beni untuk menjadi adik ipar ku. Di antara kedua gadis itu, yang mana yang Mama sukai untuk jadi anak mantu Mama.” ucap Geo.
Rosalina dan Syakila tersenyum melihat Beni.
”Kalau begitu, Mama akan memikirkan kembali dengan melihat biodata mereka. Setelah Mama menentukannya, Mama akan memberitahu kamu.” sahut Rosalina.
”Enak saja! Gak, gak ada. Aku akan mencari istri sendiri.” ucap Beni.
”Ok, tidak lagi.” ucap Beni.
”Sudah...sudah! Ayo makan, kalian harus pergi ke kantor.” ucap Rosalina.
”Iya Ma.” sahut Syakila, Geo, dan Beni.
Mereka mulai sarapan.
.. ..
Di kantor Geo.
”Hei, kalian berempat kenapa masih menggunakan baju seksi dan pendek seperti itu? Peraturan baru telah di edarkan di dalam grub karyawan, kalian sengaja tidak mentaati aturan?” Tanya salah satu pegawai kantor tersebut yang di tugaskan untuk mendisiplinkan para pegawai kantor.
”Oh, maaf, aku belum melihat peraturan baru itu. Dan aku tidak perduli.” jawab Alifa, ia melenggang pergi begitu saja masuk ke dalam kantor.
”Maaf, tapi, aku lebih senang berpakaian seperti ini. Aku bebas melakukan apapun di kantor ini, dan yang memberikan kebebasan padaku adalah ibu dari pemilik perusahaan ini.” jawab Atika. Ia juga melenggang masuk ke dalam kantor.
Afika dan Alika yang di tempatkan di ruangan Beni juga mengemukakan alasan yang sama seperti yang di ucapkan Atika barusan. Kemudian, mereka masuk ke kantor begitu saja.
”Hah! Apa benar Atika, Alifa, Alika, dan Afika di beri kebebasan seperti itu dari nyonya besar? Iya sih yang memasukkan mereka di perusahaan ini adalah nyonya dan nyonya langsung menepatkan mereka masing-masing dua orang di ruangan pak Geo dan pak Beni.” gumam wanita itu.
”Apa yang kamu gumam kan di sini? Kenapa tidak masuk dan bekerja?” suara Beni mengejutkan wanita itu.
”Eh, Pak Beni, Pak Geo, Selamat pagi Pak.” sapa wanita itu.
”Hum, pagi.” jawab Geo dan Beni.
”Pak, ke empat karyawan baru itu tidak mengindahkan peraturan baru yang Bapak umumkan tadi malam. Mereka__”
”Masuk dan lakukan pekerjaan mu.” pangkas Geo, ia melangkah masuk ke dalam kantor. Beni dan Syakila menyusulnya.
Wah, begini kah dia di kantor? Sikapnya sangat dingin, tapi... memukau. benak Syakila.
”Selamat pagi Pak Geo, selamat Pak Beni!”
”Selamat pagi Pak Geo, selamat pagi Pak Beni!”
”Selamat pak Pak Geo, Pak Beni!”
Syakila tercengang, setiap Geo dan Beni bertemu dengan karyawannya, karyawannya menyapa mereka berdua. Tapi, mereka berdua tidak terlihat membalas sapaan para karyawannya. Apakah memang seperti ini sikap Geo dan Beni jika berada di kantor?
__ADS_1
Mereka melangkah masuk ke dalam lift.
”Geo, Beni, mengapa kalian berdua tidak membalas sapaan karyawan kalian yang menyapa?” Tanya Syakila.
”Siapa bilang kami tidak membalas sapaan mereka?” sahut Beni.
Geo tersenyum melihat istrinya itu.
”Kami membalas sapaan mereka dengan cara kami sendiri.” ucap Beni lagi.
Syakila menggaruk kepalanya, Kapan aku melihat mereka mengangguk, atau mengangkat tangan untuk membalas sapaan mereka ya? Aku juga tidak mendengar suara mereka membalas sapaan. Tetapi...Beni bilang mereka membalas sapaan para karyawannya. Dengan cara apa? benak Syakila.
”Dengan anggukan kepala yang pelan, kami berdua membalas sapaan mereka. Jangan banyak berpikir.” ucap Geo menjelaskan.
”Heh, kalian berdua sangat sombong. Pantas saja tidak ada perempuan yang berani mendekati kalian, sikap kalian terlalu dingin dan sombong.” omel Syakila.
”Eh, siapa bilang? Banyak wanita yang datang mendekati kami berdua. Tapi...kami saja yang tidak ingin di dekati sama mereka.” ucap Beni.
”Apakah kalian berdua memang bersikap dingin seperti ini jika berada di kantor? Kok di rumah kalian berdua ramah-ramah sekali. Kalian berdua memiliki kepribadian ganda?” Tanya Syakila.
Ting! Pintu lift sampai dan terbuka di lantai atas dari perusahaan Geo. Beni, Syakila, dan Geo melangkah keluar dari lift.
Beni dan Geo berjalan terpisah setelah mereka melangkah beberapa meter dari pintu lift. Beni mengambil jalur kiri dan Geo berjalan terus ke depan.
”Kalian berdua berpisah ruangan?” Tanya Syakila penasaran.
”Iya. Ruangan Beni di sebelah kiri tadi, ruangan ku, ruangan yang di depan itu. Di lantai ini hanya ada dua ruangan saja, ruangan kami berdua. Di lantai 6 adalah ruangan rapat dan ruangan kesehatan. Di lantai 5 tempatnya para kepala-kepala staf dan divisi. Di lantai 4 kerjanya para karyawan lain. Di lantai 3 kantin dan kafe. Di lantai 2 tempat terkumpulnya bahan-bahan dan barang-barang yang di perlukan di perusahaan ini. Lantai dasar, tempatnya para office boy dan layanan informasi, dan lain-lain.” jelas Geo.
”Oh, kalau lantai di atas apa?”
”Itu...nanti baru aku beritahu kamu.” jawab Geo, ia melebarkan senyumnya berhasil membuat istrinya itu penasaran, ” Ayo masuk,” titahnya.
Geo membuka pintu ruangan dan melangkah masuk ke dalam ruangannya. Ia di sambut dengan pelukan dua wanita. Mata Syakila membulat sempurna melihatnya.
Apakah setiap hari Geo di sambut seperti ini di setiap kali masuk ke dalam ruangannya? benak Syakila.
”Lepaskan tangan kalian!” titah Geo.
Alifa dan Atika melepaskan pelukannya dengan cemberut.
Geo berbalik melihat Syakila. Wajah wanita itu tanpa ekspresi memandang dirinya. Ia menarik tangan Syakila agar wanita itu berdiri di sampingnya.
”Mulai hari ini, Syakila akan bekerja di ruangan ini sebagai sektretaris ku. Ku harap, kalian semua akur dalam bekerja.” ucap Geo.
”Kalian, kembali pada meja kalian!” titah Geo.
Atika dan Alifa kembali duduk di kursinya.
Geo melangkah ke meja kerjanya. ”Syakila, duduklah, itu meja kerja mu.” ucap Geo.
Atika dan Alifa terkejut mendengar suara lembut Geo saat berbicara dengan Syakila.
Hah! Siapa wanita ini? Kok bisa membuat Geo lembut padanya? benak Atika dan Alifa.
Syakila masih terdiam di tempat berdirinya. Dia melihat kedua wanita yang memeluk suaminya tadi. Wanita itu sangat seksi dan pakaiannya pendek.
Apakah wanita ini yang di maksud pada laporan karyawan Geo yang di lantai bawah itu? benak Syakila.
”Sayang, duduk.” ucap Geo lagi lembut pada Syakila.
Kedua mata Atika dan Alifa membulat sempurna, Geo menyebut Syakila dengan kata "sayang". Sebenarnya siapa Syakila ini?
Syakila duduk di tempatnya tanpa bersuara. Pandangannya masih melihat dua wanita seksi yang sedang terbengong melihat dirinya.
Geo melihat arah pandang Syakila. ”Apakah kalian kesini hanya untuk memandang orang? Jika tidak ingin bekerja, silahkan mundur kan diri dari perusahaan ini.” ucap Geo dengan tegas.
”Tidak Pak. Kami datang untuk bekerja.” jawab kedua wanita itu.
”Apa kalian berdua tidak membaca pengumuman baru dari kantor ini?” Tanya Geo. Suaranya selalu dingin dan datar jika berbicara dengan karyawannya.
”Maaf Pak. Saya belum membuka grub forum perusahaan.” jawab Alifa, bibirnya menyunggingkan senyuman.
”Iya Pak. Saya juga sama, belum membaca pengumuman itu.” jawab Atika sambil memamerkan deretan giginya yang rata.
”Mulai besok, berpakaian yang sopan dan berprilaku yang sopan. Jika terulang lagi sikap kalian seperti tadi, siap-siaplah untuk di pecat.” ancam Geo.
”Baik Pak.” jawab Alifa dan Atika.
”Pak, saya buatkan kopi?” tawar Alifa.
Alis kiri Syakila terangkat melihat Alifa. Dia beralih melihat Geo. Geo menatap Alifa dengan tajam.
”Ah, tidak-tidak! Itu bukan tugas ku. Itu tugas Beni. Maaf Pak.” ucap Alifa ketakutan.
Geo tadi bilang kantin dan kafe berada di lantai 3. benak Syakila.
”Aku buatkan kopi?” Tanya Syakila.
”Boleh.” jawab Geo dengan lembut.
__ADS_1
Atika dan Alifa saling pandang. Mereka tidak percaya ini.
Syakila keluar dari ruangan Geo.