Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 64


__ADS_3

Syakila masuk ke rumah dengan senyum sumringah. Membuat sang adik, kakak, dan mamanya yang berada di kursi ruang keluarga kebingungan.


”Kak Asya, kenapa senyum senyum sendiri? Kakak kesamben jin apa hari ini?” tanya Hardin adik lelaki Syakila satu-satunya.


Syakila duduk di kursi di antara Hardin dan mamanya.


”Asya kesamben jin pria ganteng hari ini.” jawab Syakila dengan ngawur.


”Apa? Memangnya ada jin ganteng? Yang namanya jin itu seram kakak, gak ada yang ganteng atau yang cantik.” protes Hardin.


”Memangnya adik pernah lihat rupa jin?” tanya Syakila.


”Pernah, di televisi sama di buku cerita bergambar.” jawab Hardin dengan polosnya.


”Hahaha hahahaha.” Membuat mereka semua yang ada disana tertawa.


”Hardin sayang, itu cuma rekayasa saja. Itu cuman buatan orang saja, sayang. Tapi, rupa jin itu belum ada yang lihat. Yah, terkecuali di jaman para nabi dan rasul. Karena mereka adalah manusia pilihan Allah yang mempunyai keistimewaan khusus. Mengerti, sayang?” ucap Syakila menjelaskan.


”Tapi, manusia yang berwujud jin itu ada. Dan kakak sudah melihatnya sendiri.” Syakila menatap lantai dengan tajam tanpa kedip. Wajahnya berubah datar.


Sarmi sangat tahu melihat tatapan mata Syakila seperti itu.


”Syakila, kamu mandi, ganti baju baru makan sana.” titah sang ibu.


Syakila berhenti menatap lantai dan merubah pandangannya menjadi lembut memandang mamahnya.


”Kila sudah makan Mah. Bersama kak Sardin."


”Oh, berarti kamu tersenyum begini karena habis bertemu dengan teman kecilmu itu?” tebak Sarmi.


Syakila tersenyum manis hingga memamerkan keindahan lesung pipi dan dagunya. ”Iya Mama.”


”Oh, baguslah. Jadi, sudah satu dong teman pria mu” ejek Sarmi. Membuat Syakila cemberut.


"Mama ejek Syakila?”


”Oh tidak sayang.” elak Sarmi. ”Mama hanya senang saja akhirnya ada juga teman cowok mu. Selama ini, Asya hanya terlihat dekat dengan teman cewek. Seorang pun tidak ada teman pria mu yang datang berkunjung ke rumah semenjak kita tinggal di kota ini. Tidak sama dengan kakak dan adik-adik mu yang lain.”


”Huff. Mama, Asya masuk ke kamar dulu, mau mandi dan Asya ingin istrahat, Mah.” Syakila beranjak dari duduknya.


”Assalamu 'alaikum.” Johan dan istrinya datang bertamu di rumah Sarmi. Karena pintu yang memang sudah terbuka, memudahkan mereka langsung masuk.


"Wa 'alaikum salam.” Syakila, Fatma, Sarmi menyahuti sambil menolah melihat Johan dan istrinya.


”Ayah...Ibu...” Sontak semua anak Sarmi berhambur memeluk Johan dan istrinya. Tidak terkecuali, Fatma dan Syakila.


Kedatangan Johan dan istrinya, membuat Syakila mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar, ia malah pergi ke dapur dan membuatkan teh dan kopi untuk Johan dan istrinya.


Setelah mereka berada di kota S, Sarmi menetap selama tiga bulan di rumah Johan. Di bulan berikutnya, Sarmi meminta untuk tinggal sendiri. Akhirnya, ia mengontrak rumah yang berada tidak jauh dari rumah Johan. Bukan tanpa sebab Sarmi meminta pisah rumah. Sarmi hanya ingin menjaga perasaan saudara iparnya. Karena Sarmi mendengar gosip yang tidak enak tentang dirinya.


Sebenarnya bukan gosip. Tapi, Sarmi tidak sengaja mendengar ucapan para tetangga yang menegur Biah, istri dari Johan untuk berhati-hati dengan Sarmi. Karena Sarmi hanyalah seorang janda. Dan juga rupa Sarmi yang masih sangat cantik walaupun memiliki enam anak.


Awalnya Biah dan Johan tidak setuju dengan keinginan Sarmi untuk pisah rumah, karena selama tiga bulan ini mereka sudah terbiasa dengan suara tawa, tangis, dari anak-anak Sarmi. Tapi, Sarmi meyakinkan mereka berdua dengan alasan yang tepat untuk pindah rumah, akhirnya mereka menyetujui keinginan Sarmi untuk tinggal mengontrak.


Dan disaat ada orang menjual tanahnya yang berjarak hanya delapan meter dari rumah Johan, Sarmi membeli tanah tersebut dan ia mulai membangun rumah untuk dirinya dan anak-anaknya. Meskipun rumahnya tidak sebesar dan sebagus rumah mereka yang di kota A, tapi setidaknya kini mereka tinggal di rumah sendiri.


Syakila datang dari dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas di atasnya. Ia menyimpan nampan itu di atas meja. Segelas teh ia berikan kepada tante Biah, dan segelas kopi untuk om Johan.


”Paman, Bibi, silahkan di minum teh dan kopinya.”


”Terima kasih, sayang.” ucap Biah, dan Johan. Johan dan Biah, meraih gelas dan meminumnya. Dalam tiga kali teguk mereka meletakkan kembali gelas di atas meja, di hadapan mereka.


Di antara enam orang anak Sarmi, Syakila dan Fatma enggan memanggil Biah dan Johan dengan sebutan ayah dan ibu. Bagi mereka berdua hanya satu ibu mereka, yaitu mama kandungnya, Sarmi. Dan hanya satu ayah mereka, yaitu Halim. Meskipun papanya sudah tiada, bagi mereka berdua Halim masih hidup dan berada di sisi mereka.


Fatma, yang sangat cuek kepada mama dan papanya waktu dulu, berubah saat melihat papahnya di bunuh di depan matanya. Ia menjadi sosok yang penyayang kepada mama dan adik-adiknya sekarang.


"Sarmi, Minggu depan adalah masa cuti mu selama dua Minggu, kamu ingin mengambilnya?” tanya Johan.


”Sepertinya tidak, nanti saja baru aku ambil cuti ku.” jawab Sarmi.

__ADS_1


Sesuai dengan ucapan Johan pada Anton, Sarmi sekarang bekerja di kantor Johan. Dan Sarmi tidak ingin di istimewa kan hanya karena status adik ipar. Ia bekerja dengan menjadi cleaning servis pada awalnya. Beberapa bulan kemudian, karena rajin dan ulet, pekerjaan Sarmi di naikkan dan sekarang ia bekerja sebagai pengatur para karyawan yang ingin mengajukan pekerjaan di kantor Johan.


Setelah dua bulan Sarmi tinggal di kota S, banyak para duda yang datang melamar Sarmi kepada Johan. Bahkan seorang pemuda yang baru berusia dua puluh lima tahun berkeinginan mempersunting Sarmi. Tapi, Sarmi menolak mereka semua.


Meski Halim telah tiada di sisinya, tapi Halim yang masih berstatus suami bagi Sarmi. Tubuh dan hati Sarmi masih terpaut untuk Halim.


”Baiklah, sesuai keinginan mu. Jadi cuti mu aku hanguskan." ucap Johan. Sarmi mengangguk.


Johan kembali menyesap kopinya. Lalu ia melihat Fatma.


”Fatma, seminggu lagi pernikahan mu. Apakah kamu sudah siap untuk berumah tangga?”


”Iya Paman, Fatma sudah siap.”


”Fatma, rumah tangga itu tidak mudah. Tanamkan kepercayaan dan kesetiaan pada hati dan jiwamu untuk pasangan mu kelak. Dan, yang terpenting adalah keimanan. Tanpa itu semua rumah tangga mu akan berantakan. Kamu sudah mengerti? Belajarlah menjalani dan menjaga rumah tangga dari Mama dan Bibi mu ini.”


”Iya Paman. Bibi dan Mama selalu memberitahuku tentang perjalanan rumah tangga. Bukan Fatma menyombongkan diri, tapi Insya Allah Fatma sudah siap untuk menjalani sebuah rumah tangga.” ucap Fatma dengan mantap.


”Baguslah kalau begitu, Paman tidak meragukan mu.” Johan melihat Syakila. ”Kalau kamu Syakila, kapan kamu akan menyusul kakakmu?”


”Paman, Syakila masih muda, baru sembilan belas tahun. Syakila belum memikirkan tentang sebuah pernikahan apalagi untuk menjalani rumah tangga.”


Sebelum Syakila menemukan pembunuh ayah.


”Tapi Syakila, setidaknya kamu sudah punya kekasih. Masa sewaktu SMA dan di tempat kuliah mu sekarang atau di tempat kerjamu mengajar tidak ada seorang pria pun yang terpikat oleh mu? Coba lihat itu adikmu yang baru SMP saja sudah banyak yang naksir.”


”Papa, jangan remeh kan Syakila, Pa. Syakila pasti sudah punya pacar, Mama sudah dua kali loh Pa melihat Syakila di bonceng lelaki saat pulang.” Biah membela Syakila.


”Benar Nak apa yang di katakan Bibi mu?” Johan penasaran. Syakila cengar-cengir sambil mengangguk.


”Iya itu benar, kakak ipar. Dan pria itu adalah teman Syakila waktu masih kecil, namanya Sardin.” jelas Sarmi.


”Hah, kamu pacaran sama Sardin, Asya?” tanya Fatma terkejut. ”Memangnya Sardin ada di kota ini? Kapan kalian bertemunya?”


Fatma penasaran. Karena setahu dia, Sardin tidak berada di kota ini, melainkan di kampung. Sardin hanya pindah kampung dan sekolah saja, tidak pindah kota.


"Iya kakak, Asya berpacaran dengan kak Sardin. Kami bertemu sebulan yang lalu di tempat latihan karate.” terang Syakila.


”Sardin... Sardin..” Johan mengingat-ingat nama familiar untuknya. "Apa itu Sardin si pemilik siaran televisi Mitra tv itu, Asya?”


”Em...Asya tidak tahu Paman. Asya belum bertanya tentang pekerjaannya.”


”Apa nama orang tuanya Alimin dan Nesa?”


”Iya Paman, itu nama orang tuanya kak Sardin.”


”Oh, Paman mengenali dia. Dia memang pemilik Mitra tv urutan ke tiga di kota ini. Tapi, Paman dengar kalau dia akan bertunangan, apa itu dengan mu, sayang?"


”Oh, tidak Paman, kami belum membicarakan hal itu. Lagipula, Syakila belum ingin bertunangan ataupun menikah. Tapi...jika benar yang Paman katakan...berarti Sardin akan bertunangan dengan cewek lain. Akan tetapi, kak Sardin bilang dia tidak punya pacar, dan pacarnya baru Asya, itupun kami jadian hari ini.” ungkap Syakila.


”Paman, Paman dengar darimana tentang pertunangan kak Sardin?" Syakila penasaran.


”Papanya Sardin adalah teman baik Bibi, Syakila.” Biah yang menjawab pertanyaan Syakila.


”Oh begitu." sahut Syakila. "Paman, Bibi, Mama, Syakila mau masuk kamar dulu, dan ingin mandi badannya Asya sudah pengap. Sekalian, Asya ingin beristirahat.”


Syakila berdiri dari duduknya dan pergi ke kamar tanpa menunggu sahutan dari paman, bibi, dan mamanya.


Sampai di kamar Syakila menyimpan tas di atas ranjang dan mengeluarkan handphone dari tas. Ia mengecek satu panggilan masuk dengan nomor yang belum terpatri di kontak hapenya.


”Ini dia nomornya.” Syakila menyimpan nomor tersebut di kontak hapenya dengan nama kakak teman kecilku. Ia pun mengirimkan pesan padanya.


”Kakak, benarkah kakak pemilik dari Mitra tv?”


Setelah mengirim pesan tersebut. Syakila menonaktifkan nada dering di hapenya dan meletakkan hape di atas ranjang. Dan ia pergi mandi.


Usai mandi, ia langsung mendekati ranjang dan meraih hape, ia ingin mengecek apakah ada balasan dari Sardin atau tidak. Ternyata bukan hanya satu pesan yang tertera di layar, tetapi lima panggilan tidak terjawab dari Sardin dan empat pesan darinya.


Syakila membuka pesan dan membacanya.

__ADS_1


”Iya, Kila tahu dari siapa? Maaf, kakak belum menceritakan tentang diri kakak padamu.”


”Kila sayang, mengapa tidak balas pesanku? Kamu marah?”


”Kok telfon ku juga gak di angkat? Jawab telfon ku, sayang! Paling tidak balas lah pesan ku.”


”Kila sayang?”


Dengan cepat Syakila membalas pesan dari Sardin.


”Maaf kakak Kila baru sempat balas. Kila baru habis mandi. Jadi benar kakak pemilik Mitra tv, berarti benar juga kabar yang Kila dengar kalau kakak akan bertunangan?”


Setelah pesannya terkirim Syakila menyimpan kembali handphone dan berganti pakaian. Setelah berganti, ia kembali meraih handphone dan mengecek apakah sudah ada balasan pesan dari Sardin atau belum.


”Dia belum balas.” Syakila membaringkan tubuhnya dengan lesu dan cemberut di kasur. Sambil memikirkan perkataan pamannya.


Tok tok tok


Syakila mendengar pintu kamarnya di ketuk. Ia bangun dan turun dari ranjang. Ia membuka pintu kamarnya. Nampak Yuli yang berdiri di depan kamarnya.


"Kenapa?"


"Ada teman kakak di depan.” jawab Yuli.


"Oh. Bilang dia tunggu sebentar.”


Syakila kembali masuk ke kamarnya dan menyisir rambutnya yang masih basah. Kemudian ia keluar dari kamar dengan menggunakan baju kaos berwarna merah dan celana legging selutut berwarna coklat.


Syakila pergi ke depan untuk menemui temannya. Sesampainya di depan betapa terkejutnya Syakila melihat Sardin yang sudah duduk di kursi bersama mama dan adik-adiknya.


Beruntung Paman dan Bibi sudah pulang ke rumahnya. Tapi, mengapa kakak Sardin datang kesini? Oh, jangan-jangan karena aku telat membalas pesannya. Jadi, ia berpikir aku marah, dan dia datang kesini untuk menjelaskan secara langsung ke aku.


”Kakak? Mengapa kakak kesini?” tanya Syakila yang sudah duduk di samping mamanya.


Sarmi yang mendengar pertanyaan Syakila, ia langsung memukul pelan paha Syakila.


”Syakila, pertanyaan apaan itu?"


Syakila tersenyum malu. ”Maaf, Mah." Syakila kembali melihat Sardin yang duduk di sofa tunggal di hadapannya.


Ck cantik benar ni orang. Rugi jika aku melepas yang beningnya alami seperti ini. I love you Kila. I love you.


”Maaf Kila jika kakak berkunjung kerumah mu tanpa memberi tahu mu dahulu.” ucap Sardin.


"Tidak apa-apa Nak Sardin, selama kami tinggal di kota ini. Baru kali ini ada teman pria Syakila yang datang kerumah untuk mencari Syakila.” Sarmi yang menyahuti ucapan Sardin.


”Mama!”


"Iya kakak. Mama benar, baru kakaklah teman Syakila khususnya cowok yang datang ke rumah untuk mencari kakak Asya.” Hardin membenarkan ucapan mamanya.


”Adik!” Syakila menatap tajam pada Hardin.


Oh, jadi benar yang Syakila ucapkan padaku. Jadi, baru aku pria yang datang bertamu di rumah ini untuk mencari Syakila. Oh senangnya hatiku. Kila, kakak benar-benar menyayangi mu.


Sardin tersenyum lebar. ”Benar kah Kila apa yang tante dan adikmu katakan?"


”Em...kakak ada perlu apa kesini?"


Syakila mengabaikan pertanyaan Sardin, ia justru kembali bertanya keperluan Sardin datang menemuinya.


”Ada yang ingin kakak bicarakan sama Kila. K__”


”Kita bicara di teras saja kak.” Syakila memotong ucapan Sardin. ”Mama, Asya ke teras dulu sama kak Sardin.”


"Iya sayang. Bicaralah berdua.” sahut Sarmi.


Syakila sudah beranjak dari duduknya dan melangkah ke teras.


”Tante, Sardin susul Kila dulu.” Sarmi mengangguk. Sardin pun pergi ke teras rumah menemui Syakila.

__ADS_1


Sedangkan Sarmi, ia pergi ke dapur membantu Fatma memasak. Karena anak cewek Sarmi ada lima, ia membagikan tugas rumah kepada mereka agar semua tidak saling mengharapkan dalam mengerjakan pekerjaan rumah.


Dan malam ini adalah tugasnya Fatma yang memasak.


__ADS_2