
Di perumahan Eg.
”Bos! Orang itu belum sadar juga.” lapor sang anak buah pada Antonio.
”Tidak perlu menunggunya sadar! Siramkan air! Bangunkan dia!” titah Antonio. Tangannya memutar-mutar handphone Sardin.
Ia sempat menghidupkan handphone Sardin. Namun, handphone Sardin di lindungi dengan kata sandi dan sidik jari.
Antonio berencana menghubungi Syakila, memancing wanita itu ke tempatnya. Dan umpannya adalah Sardin. Rencananya itu akan berjalan lancar, jika Sardin sadar.
”Baik, Bos!” jawab sang anak buah. Dia kembali ke tempat di mana Sardin di sekap.
”Bagaimana?” tanya salah satu di antara mereka yang ada di ruangan tempat Sardin di sekap itu, saat melihat teman mereka memasuki ruangan.
”Ambil satu ember air dan siramkan ke tubuhnya. Tidak perlu menunggunya sampai sadar.” titahnya pada temannya yang bertanya tadi.
”Ok!” jawab pria itu. Ia keluar dari ruangan dan pergi. Tidak lama kemudian, ia datang kembali dengan memegang dua ember air di kedua tangannya. Ia sengaja menyiapkan satu ember air lagi.
”Siram dia!” titah seseorang.
Pria yang membawa ember air pun mengangguk. Ia menyiramkan satu ember air ke badan Sardin. Namun, Sardin belum juga sadar.
”Siram lagi! Yang kuat!” terdengar lagi perintah yang sama.
Pria itu mengambil satu ember air lagi dan menyiram langsung ke wajah Sardin dengan keras.
Sardin tersadar. Ia bangun dan terkejut mendapati dirinya basah kuyup dan berada di sebuah ruangan dan lebih terkejut lagi, ia melihat ada sekitar lima orang di dalam ruangan itu selain dirinya.
Di mana aku? benak Sardin.
Ia teringat, jika ia di hadang oleh dua orang di jalan. Dan tiba-tiba, ada seseorang yang membiusnya dari belakang, saat ia masih berhadapan dengan dua pria yang menghadangnya.
Ah! Rupanya aku di culik. Tapi, siapa mereka? Apa tujuan mereka menculik ku? benaknya lagi.
”Lapor pada bos, dia sudah sadar.”
”Ok!” pria yang menjawab pun pergi menemui bos mereka, Antonio.
Sardin melihat pria yang sedang memerintah itu. ”Siapa kalian? Kenapa menculik ku? Apa aku sudah menyinggung kalian?” tanyanya.
Tapi, tidak satupun dari mereka yang berada di ruangan itu menjawab pertanyaan Sardin. Termasuk pria yang suka memerintah itu.
Sardin berdiri. ”Siapa kalian? Apa mau kalian?” tanyanya kembali.
”Kamu pasti masih mengenaliku kan, Sardin?”
Sardin berbalik, melihat pria yang barusan berbicara. Ia sedikit terkejut.
Antonio? Kenapa dia menculik ku? benaknya.
Ia melihat Antonio dengan tajam dan waspada. Antonio terus berjalan mendekati dirinya. Sardin jadi teringat sesuatu.
Apa dia akan menggunakan ku untuk memancing Syakila ke sini? benaknya lagi.
Antonio semakin dekat dengan Sardin. Ia mengeluarkan hape Sardin dari kantung celananya. Dan memutar-mutar hape itu di tangannya.
Handphone ku, dia mengambil handphone ku saat aku tidak sadar. Apa dia sudah menelepon seseorang? Syakila? Atau paman ku? benak Sardin. Ia terkejut sekaligus khawatir.
”Kenapa? Kamu sedang bertanya-tanya kenapa aku menyekap mu? Dan mengapa aku mengambil handphone mu?” tanya Antonio.
Sardin masih berwaspada melihat Antonio. Ia tidak menjawab pertanyaan Antonio.
”Kamu adalah orang yang pintar. Jadi, tidak perlu aku memberitahu alasanku padamu.” ucap Antonio.
Ia memberikan handphone ke Sardin. Sardin mengambilnya.
”Buka kata sandi mu!” titah Antonio.
”Tidak akan!” jawab Sardin. Ia justru membanting hapenya ke lantai dengan keras, hape itu terbelah menjadi tiga bagian. Dan kartu sim card keluar dari tempatnya.
Kartu itu terjatuh pada ujung kaki Antonio. Antonio melihat kartu itu dan tersenyum licik melihat Sardin.
”Apa masalah mu sebenarnya?” tanya Sardin.
”Kamu tidak perlu tahu, apa masalah ku dan tujuanku! Apa kamu kira dengan rusaknya hape mu, aku tidak bisa menghubungi seseorang?” tanya Antonio. Ia memungut kartu sim card yang ada di ujung kakinya tersebut.
Ia memberikan kartu itu pada anak buahnya. ”Masukkan kartu sim card ini ke hapemu dan setting semua kontak yang ada di dalamnya.” titahnya.
”Baik, Bos!” ia mengambil kartu sim card dari tangan Antonio.
Sardin terkejut. Dengan cepat, ia menendang tangan pria itu.
Kartu sim card kembali jatuh ke lantai. Antonio tidak sabar lagi. Ia pun menendang tubuh Sardin.
Tubuh Sardin terjatuh beberapa langkah dari tempatnya berdiri tadi. Tendangan Antonio cukup kuat.
Sardin memegang perutnya. Darah segar keluar dari sudut bibirnya, akibat hentakan kuat tubuh belakangnya di dinding.
”Cari sim card itu! Aktifkan ke hape kalian dan hubungi kontak yang bernama Syakila!” titah Antonio. Tatapannya menatap tajam pada Sardin.
”Baik, Bos!” sahut semua anak buah Antonio. Mereka pun mencari sim card itu.
Tidak! Mereka tidak boleh menelfon Syakila. benak Sardin.
Ia pun ikut mencari keberadaan kartu sim card itu, memalui pandangannya.
.. ..
Di kediaman Albert.
Malam ini dokter pribadi keluarga Albert datang berkunjung ke kediaman Albert.
__ADS_1
Sang dokter berjalan menaiki anak tangga bersama Geo, Beni, dan Rosalina. Mereka semua pergi ke kamar Geo.
Geo membuka pintu kamar, mereka semua masuk. Namun, wajah Geo dan yang lainnya terlihat bingung memandang Syakila.
Mereka mempercepat langkah menghampiri Syakila.
”Syakila? Kamu kenapa sayang? Di mana yang sakit? Apa perut mu sakit? Dada mu sakit?” tanya Geo khawatir.
Syakila masih meringis menahan sakit, tangannya terkadang memegang perut dan dadanya, bergantian. Wajahnya terlihat sedikit pucat.
Beni, Rosalina dan sang dokter juga terlihat khawatir.
”Dokter, cepat periksa dia!” titah Beni, Geo, dan Rosalina.
”Baik, baik!” sang dokter pun memeriksa Syakila.
Ini...ada apa lagi? Apakah ada hal yang buruk yang terjadi, lagi? Pada siapa? Keluarga ku? Sardin? benak Syakila.
”Apa yang terjadi padanya, Dok?” tanya Geo. Sang dokter telah selesai memeriksa Syakila.
”Perutnya, dadanya, baik-baik saja. Tidak ada yang salah.” papar sang dokter.
”Tapi...kenapa Syakila seperti itu?” tanya Geo lagi, ia kebingungan. Sementara Syakila belum membuka suaranya.
”Saya pribadi juga bingung. Tetapi, apa yang di rasakan Syakila, sepertinya ini seperti kontakan batin bersama seseorang. Entah itu pada anak, istri, suami, pacar, ataupun pada orang tua. Saya juga sering mengalami hal ini.” papar sang dokter.
”Aku tidak apa-apa! Itu cuma refleks tubuh ku saja saat sesuatu terjadi pada orang yang ku sayangi.” ucap Syakila.
Geo terdiam. Kini ia mengerti apa yang sudah di alami Syakila. Ia sedikit cemburu.
Mungkinkah ini kontakan batin antara Syakila dan Sardin? Apakah terjadi sesuatu pada Sardin? benak Geo.
”Oh... syukurlah kalau begitu. Kamu mengagetkan kami saja.” ucap Rosalina. Ia bernafas lega.
Sementara Beni dan Geo terlihat khawatir. Mereka sedang menerka, jika benar itu adalah kontakan batin antara Syakila dan Sardin, itu artinya Sardin dalam masalah.
Syakila melihat layar hapenya saat menyala. Ia tersenyum melihat id si pemanggil dirinya adalah Sardin. Dengan cepat, Syakila mengangkat hapenya.
Syakila tersenyum melihat layar hapenya, apakah Sardin yang menelponnya? benak Geo. Wajahnya berubah cemburu.
”Ha...!”
”Halo! Syakila!” sapa si penelepon, memangkas sapaan Syakila.
Syakila terbengong, ia melihat layar di hapenya, tertulis ”my love” di layar telfon.
Ini benar Sardin yang menelfon ku. Tapi..kenapa suaranya bukan suara Sardin? Apakah sudah terjadi sesuatu pada Sardin? benaknya. Ia sudah mulai merasakan kecemasan.
”Halo! Ini siapa? Di mana Sardin?” tanya Syakila.
Beni dan Geo sama-sama membulatkan matanya.
”Syakila, berikan padaku hapemu.” Geo merebut hape Syakila dari tangannya.
”Halo! Siapa ini? Di mana Sardin?” tanya Syakila lagi.
”Syakila, jangan dengarkan dia! Jangan kesini! Aku tidak apa-apa!”
Syakila terkejut mendengar suara Sardin. Ia lebih terkejut lagi saat mendengar teriakan Sardin yang kesakitan.
”Kak Sardin!” seru Syakila. Rasa khawatir terlihat jelas di wajahnya. Beni dan Geo pun sama, khawatir.
”Jika kamu ingin kekasih mu baik-baik saja, datanglah ke perumahan Eg. Jangan memanggil polisi, atau kamu ingin kekasih mu hanya tinggal nama?” ancam si penelpon. Ia langsung memutuskan sambungan.
”Jangan sakiti dia! Halo...! Halo..!” Tut tut tut! Syakila semakin khawatir. Sambungan telfon telah di putuskan. Ia mencoba menghubungi kembali nomor Sardin, tetapi, nomor tersebut tidak aktif lagi. ”Kak Sardin, kamu harus baik-baik saja.” matanya berkaca-kaca.
”Syakila, apa kamu tahu siapa yang bicara tadi? Apa katanya?” tanya Geo, penasaran.
Syakila menggeleng, ”Tidak tahu... tapi... nada suaranya sama persis dengan nada suara Antonio. Untuk apa Antonio menculik Sardin?” jawabnya. ”Ah! Aku harus pergi!”
Syakila melepas selang infus yang bertengger di di tangannya.
”Syakila, jangan!” Geo dan Beni menahannya sebelum selang tersebut di lepas paksa oleh Syakila.
Namun, Syakila tidak perduli, ia tetap melepas paksa selang tersebut. Dia bangun ranjang..kakinya masih sakit untuk di pijakan.
”Syakila, kamu mau kemana? Kaki mu masih sakit! Kamu juga harus istirahat! Kamu di rumah saja, ok? Sardin, biar aku dan Beni yang akan pergi menyelamatkannya.” ucap Geo.
”Tidak! Aku akan pergi sendiri! Jangan halangi aku!” bentak Syakila. Ia kembali melangkah, kakinya masih terasa sakit.
” Jangan paksakan kondisi mu, Nak! Biarkan Geo dan Beni yang pergi menyelamatkan Sardin. Kamu istirahat saja, yah?” ucap Rosalina, membujuk.
”Iya, Syakila. Serahkan semuanya pada suamimu. Dengan kekuatan yang dimiliki Geo dan Beni, kakakmu Sardin akan baik-baik saja!” sambung sang dokter.
Syakila melihat Geo dan Beni. Kedua pria itu mengangguk.
Tidak! Aku harus pergi sendiri. Aku tidak bisa mengantarkan nyawa Geo dan Beni ke sana. Tidak ada yang tahu bahaya apa yang menunggu di perumahan Eg itu. Yang mereka butuhkan adalah aku, selama aku belum datang ke sana, mereka tidak akan melakukan apapun pada Sardin.
Jika bukan aku yang datang, mereka akan mencelakai Sardin. Dan aku jika tahu apa yang akan mereka lakukan pada Geo dan Beni. Aku juga tidak tahu berapa kekuatan yang di miliki orang itu.
Aku....aku tidak bisa membahayakan nyawa Beni dan Geo. Kasihan mama, hanya mereka berdua yang mama miliki. Kalau terjadi sesuatu pada mereka berdua, maka...! Tidak! benaknya.
Dia menggeleng. ”Tidak perlu! Aku akan pergi sendiri menyelamatkan Sardin.” tolak Syakila.
Ia memaksa dirinya untuk melangkah, biar sakit ia rasakan di setiap pijakannya.
”Berhenti di sana Syakila!” ucap Geo. Pria itu tampak marah, suaranya meninggi menggema di kamarnya.
Syakila tidak perduli. Ia terus melangkah. Geo berjalan cepat mendekat Syakila. Tangannya memegang erat tangan Syakila.
”Apa kamu tidak mendengar ku? Kamu tidak perlu ke sana. Kamu katakan padaku, di mana lokasinya. Aku dan Beni akan menyelamatkan Sardin.” ucap Geo. Suaranya sedikit merendah.
__ADS_1
Syakila menggeleng. ”Aku akan pergi sendiri! Yang mereka inginkan aku! Bukan kamu...bukan Beni. Jangan halangi aku, nyawa Sardin dalam bahaya!” tukasnya.
”Lalu, menurut mu, nyawamu tidak dalam bahaya?!” Geo nampak tidak bisa mengendalikan emosinya. Suaranya kembali meninggi.
Syakila melepas tangan Geo yang memegangnya. Ia tidak perduli dengan nyawanya, yang terpenting Sardin selamat. Ia membuka pintu kamar.
Geo kembali memegang tangan Syakila dan menariknya paksa.
”Geo! Lepaskan aku!” teriak Syakila.
Geo tidak mendengar, ia terus menarik tangan Syakila. Ia melemparkan tubuh Syakila ke ranjang dengan kasar. ”Jangan membuat ku semakin marah, Syakila!” ancamnya. Tatapannya sangat tajam dan marah melihat Syakila.
”Kamu bajingan Geo! Aku tidak akan memaafkan mu kalau terjadi apa-apa dengan Sardin!” Syakila turun kembali dari ranjang. Ia tidak peduli dengan amarah Geo.
”Syakila, menurut lah! Percayakan semuanya pada Geo dan Beni. Mereka akan menyelamatkan Sardin.” Rosalina masih membujuk Syakila.
”Tidak! Aku akan pergi sendiri menyelamatkan Sardin!! Tante tidak punya hak melarang ku!! Beni juga Geo! Kalian semua tidak berhak! Jangan halangi aku!!” ucap Syakila, suaranya meninggi.
Plak!!
Syakila memegang pipi kanan nya yang perih itu. Tamparan yang ia terima sangat kuat dan sakit.
”Geo!” Beni, Rosalina, dan sang dokter terkejut, melihat Geo. Mereka tidak menyangka, Geo akan menampar Syakila tanpa perasaan. Syakila juga melihat Geo.
”Kamu jangan pernah berbicara tinggi pada mamaku!! Aku, anak kandungnya tidak pernah bicara kasar padanya.” suara Geo penuh penekanan di setiap ucapannya. Dia sangat marah pada Syakila. Ia tidak suka bila ada orang yang berbuat kurang ajar pada mamanya.
Syakila masih memegang pipinya. Pipinya masih terasa nyilu. Baru kali ini ia merasakan tamparan yang begitu sakit. Matanya dan mata Geo masih saling pandang.
Syakila memutuskan pandangan dan cepat pergi dari kamar Geo. Geo semakin marah. Ia juga melangkah menghalangi Syakila.
Langkahnya terhenti di tahan Rosalina yang memegang tangannya. ”Biarkan dia! Jangan karena ini kalian akan saling berkelahi dan membuat Syakila semakin membencimu. Syakila sudah begitu benci padamu, jangan menambah kebenciannya lagi.”
”Tapi, Mah! Nyawanya dalam bahaya! Kondisi Syakila juga kurang sehat! Bagaimana bisa selamatkan Sardin?” sahut Geo. Suaranya rendah.
”Kalian ikuti saja dia dari belakang. Mungkin dia punya pertimbangan sendiri makanya dia tidak mau kamu dan Beni ikut membantunya.”
Geo mengangguk. ”Beni.. utus seseorang membuntuti Syakila! Siapkan mobil, kita pergi!” titahnya pada Beni.
”Ok.” sahut Beni. Ia keluar dari kamar Geo. Dia segera melakukan perintah Geo.
Geo membuka lemari yang tidak pernah ia buka sama sekali sebelumnya. Ia memakai baju anti peluru dan mengambil beberapa senjata di lemari tersebut. Ia terlihat sangat tampan dengan pakaian ketat serba hitam itu.
”Mama, aku pergi dulu.” pamitnya pada Rosalina.
”Hati-hati, Nak. Lindungi adik mu, Beni dan Syakila.” titah Rosalina.
”Iya, Mah.” ia mencium punggung tangan Rosalina dan bergegas pergi.
Dia melihat semua anak buahnya telah siap. Beni pun telah siap. Ia masuk ke dalam mobil.
”Jalan!” titahnya.
Sang supir menjalankan mobilnya.
”Kamu sudah menghubungi Anton?” tanya Geo pada Beni.
”Sudah! Bahkan telepon sedang tersambung dengannya. Anak buah kita yang mengikuti Syakila, telfon juga selalu tersambung dengannya.” jawab Beni.
”Bagus!” ucap Geo.
Beni menunjukan layar hapenya kepada Geo. Geo melihat layar hape Beni dengan serius. ”Ini adalah gerak-gerik jalannya, titik berwarna merah adalah Syakila. Titik warna hijau adalah anak buah kita dan kita ada di sini.” jelasnya.
”Ini...jika aku tidak salah menduga, tujuan Syakila adalah perumahan Eg.” tebak Geo.
”Bagaimana bisa? Kita kan sudah memusnahkan perkumpulan itu?”
”Perkumpulan itu tidak musnah. Antonio dan Vian sama-sama membangun kembali Eg.” jelas Geo.
Ia menghubungi pelindung bayangannya. Meminta mereka untuk bergerak maju ke perumahan Eg.
.. ..
Di sisi jalan lain.
Syakila terlihat sangat khawatir. Ia duduk tidak tenang di dalam taksi. ” Apakah masih jauh tempatnya?” tanyanya pada sang supir.
”Setelah melewati jalan ini, kita akan berbelok ke kiri dan jalan sekitar beberapa meter lagi, kita akan segera sampai, Nona.” papar sang supir.
”Bisa percepat lagi laju mobilnya, Bang?” titah Syakila.
”Ini sudah dalam kecepatan tinggi, Nona. Jika saya menambah kecepatannya lagi, takutnya mobil ini tidak bisa aku kendalikan.” jelas sang supir.
Syakila terdiam. Tidak berbicara lagi. Di dalam hatinya selalu berdoa agar Sardin baik-baik saja.
Mereka telah melewati jalan yang di lalui. Mobil pun berbelok ke arah kiri jalan.
Kak Sardin! Tidak lama lagi aku akan sampai. Kamu baik-baik saja ya kak. benak Syakila.
.. ..
Di sisi jalan lain.
”Sepertinya dugaan mu benar!” ucap Beni pada Geo. Ia pun menunjukkan kembali hapenya pada Geo.
Mobil yang di tumpangi Syakila berbelok ke arah kiri. Dan di jalan itu hanya ada tiga perumahan di sana. Perumahan Eg, perumahan pelangi dan perumahan bangsal.
”Hum. Di perumahan tersebut ada tiga jalan untuk keluar masuk. Bagi kelompok untuk mengepung semua jalan itu. Kita ambil jalan yang akan di lewati Syakila.” ucap Geo.
”Hum!” sahut Beni.
Ia menghubungi dua orang anak buahnya dari dua mobil yang berbeda. Dia menyuruh mereka untuk mengambil utara dan barat. Mereka sendiri, tetap mengambil jalur timur, yang di lalui oleh Syakila.
__ADS_1
Sementara, pelindung bayangan Geo telah sampai di perumahan Eg. Mereka bersembunyi seperti bayangan mengelilingi perumahan tersebut.