
Di kediaman Rivaldi.
Setelah bibi, art ibu rumah tangga Rivaldi mengatur makanan di atas meja, ia pergi ke halaman depan memanggil Rivaldi. Ia berhenti di sudut pintu rumah ketika melihat Rivaldi, tuanya itu sedang melamun sambil memutar mutar handphone di tangan kanannya.
Apa yang terjadi dengan tuan ku? Tuan ku sudah banyak melamun setelah kembali dari rumah non Syakila. Oh iya, bagaimana kabarnya non Syakila sekarang, yah?
”Ehm. Permisi, Tuan. Makan siang sudah siap.” ucap sang bibi.
Rivaldi tersadar dari lamunannya, ”Ah, oh, iya. Aku segera kesana. Yang lainnya sudah berkumpul, Bi?” sahutnya.
”Iya, Tuan.”
”Baiklah, masuklah.” ucap Rivaldi.
Sang bibi masuk kembali ke dalam rumah. Rivaldi memasukkan handphone Syakila yang ada di tangannya ke dalam saku celana dan menyusul bibi masuk ke dalam rumah.
Ia duduk di kursi kebesarannya. Sang bibi mulai menyendokkan makanan untuk Rivaldi sesuai porsinya.
Setelah itu, sang bibi duduk di kursi samping kiri Rivaldi dan menyendok makanannya sendiri. Sang supir, dan pelayan Rivaldi lainnya pun ikut menyendok makanan.
Rivaldi, adalah sosok pria yang penyayang, murah hati, tidak gampang emosi. Ia tidak pernah memandang pelayan yang bekerja di rumahnya adalah babu. Ia menghormati dan menghargai mereka semua. Saat makan, mereka selalu makan bersama.
Ketika ia di angkat sebagai salah satu guru oleh guru besar di mana ia berlatih silat, ia juga di berikan beberapa orang murid untuk ia latih dari sang guru besar, salah satu muridnya adalah Syakila, saat itulah pertama kali ia bertemu dan mengenal Syakila.
Ia sudah menyukai dan memperhatikan Syakila. Ia juga secara diam-diam mengambil foto Syakila tanpa di sadari Syakila. Namun, mata para anak muridnya yang lain selalu menangkap sikap yang berbeda dari sang guru kepada Syakila, sampai-sampai tersebar isu yang tidak enak di dengar antara Syakila dan Rivaldi di tempat silat tersebut.
Untuk menutup isu tersebut, Syakila keluar dari silat dan ia mendaftarkan diri di tempat karate. Rivaldi sangat menyayangkan saat Syakila keluar dari silat, tetapi, Syakila adalah Syakila. Apa yang dia ucapkan itu akan dia penuhi dan tidak akan bisa berubah, Syakila teguh dengan pendiriannya.
”Tuan, bagaimana kabarnya non Syakila?” tanya sang bibi, setelah mereka selesai makan.
”Dia..dia baik-baik saja, Bi.”
”Maaf, Tuan. Bibi lancang untuk bertanya, tapi, bibi penasaran dengan sesuatu. Bolehkah Bibi bertanya padamu, Tuan?” ucap sang bibi lagi dengan ragu dan hati-hati.
”Ada apa, Bi?”
”Tuan, apakah non Syakila adalah gadis yang ada di foto yang ada di kamar, Tuan?”
Rivaldi tersenyum, ”Iya, Bi.” jawabnya singkat.
”Jadi, dia kekasih, Tuan?”
Rivaldi menggeleng pelan, ”Bukan, Bi. Dia istrinya orang. Aku terlambat mendapatkan dia, Bi.” jawabnya dengan suara rendah sambil tersenyum kecut, meremehkan dan mengasihani diri sendiri.
Sang bibi terdiam, tidak berani berbicara lagi.
Pantas! Pantas saja tuan sering melamun. Ternyata, cewe yang di sukai tuan telah jadi istrinya orang. Kasian tuan, demi menunggu gadis itu, tuan sudah menolak beberapa gadis yang sungguh-sungguh mencintainya. Dan ternyata penantian tuan selama ini sia-sia.
”Aku ingin istrahat. Jika ada yang datang mencari ku untuk berobat atau hal lain, katakan saja jika aku sedang beristirahat dan tidak ingin di ganggu.” ucap Rivaldi.
”Baik, Tuan.” sahut semua pelayanannya.
Rivaldi beranjak berdiri dan melangkah naik tangga menuju kamarnya. Sang bibi mengikuti setiap langkah kaki Rivaldi dengan tatapan iba dari tempat duduknya.
Biasanya, biar tuan capek gimana kalau ada pasien yang datang ingin berobat, tuan tetap mengobatinya. Tetapi...ini... sepertinya hati dan pikiran tuan nampak lelah sekali memikirkan gadis pujaannya yang tidak akan bisa tuan miliki. Kasihan tuan. Sabar tuan, semoga tuan bisa mendapatkan gadis yang lebih lagi dari Syakila.
Setelah punggung Rivaldi menghilang, bibi menghentikan tatapannya dan membersihkan meja makan.
Rivaldi masuk ke kamar, ia berdiri menghadap dinding di mana terdapat foto seorang gadis yang di pujanya. Ia mengamati foto-foto tersebut, foto-foto Syakila yang ia ambil secara diam-diam. Foto di saat Syakila sedang serius berlatih, saat Syakila sedang beristirahat, dan saat Syakila sedang melamun sendirian.
Syakila, siapa lagi pria yang bernama Beni itu? Dari nada bicara dan suaranya, ia begitu mengkhawatirkan mu. Sardin juga sangat mengkhawatirkan dirimu. Sardin... dia masih menganggap kamu adalah kekasihnya. Sedangkan pria yang bernama Beni itu...dia... dia seperti menganggap mu masih sendiri dan sedang mengejar mu untuk di jadikan kekasih.
Batasan dalam hubungan? Apakah hubungan kamu dan Geo benar tidak baik-baik saja, Syakila? Jika berbatas, kapan batasan itu akan berakhir? Aku ingin memiliki mu, Syakila. Bolehkah aku berharap untuk itu, Syakila?
Trrtrtrrt, bunyi handphone Syakila kembali berbunyi dan menghentikan lamunannya. Ia meraih handphone tersebut yang bergetar dari sakunya dan melihat id si pemanggil, tertera di layar Rosalina memanggil...
Keningnya berkerut, ”Rosalina? Siapa lagi ini?” gumamnya.
Ia menekan tombol hijau, mengangkat telfon tersebut.
”Halo, Sayang. Sayang, apakah di situ ada Geo? Mama ingin berbicara dengannya. Mama menghubungi nomornya tapi tidak aktif.” ucap Rosalina di sebrang sana.
Kening Rivaldi kembali mengerut.
Mama? Geo? Apakah dia mamanya Geo? Mama mantunya Syakila? Huh, bagaimana bisa terhubung saat menghubungi anakmu, tante. Jika handphonenya sudah hancur.
”Halo, Syakila sayang, mengapa diam saja, Nak? Apakah Geo ada disitu? Mama ingin bicara dengannya.” lanjut Rosalina berucap, ketika tidak ada sahutan dari Syakila.
__ADS_1
”Oh, iya. Halo...” sahut Rivaldi.
Kening Rosalina mengerut mendengar suara pria yang menyahutinya.
Suara seorang pria, tapi, bukan suaranya anakku. Siapa dia? Apakah dia Sardin? Syakila berdua dengan Sardin, Geo di mana?
Rosalina terdiam, ia memasang telinganya mendengar lagi suara pria itu berbicara.
”Em, maaf, ini yang angkat bukan Syakila. Saya temannya__” tut tut tut terdengar bunyi telfon yang terputus di telinga Rivaldi. Ia kembali mengerut dan mengedikan kedua bahunya sambil memandang hape tersebut.
”Huh, gak anak, gak mama, sama saja. Suka berbuat semaunya, apakah mereka memang begitu? Angkuh? Mengapa Syakila bisa menikah dengan pria seperti Geo dan memiliki mama mantu yang seperti ini.” gumamnya.
Ia berjalan ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana. Ia ingin beristirahat, mengistirahatkan tenaga, pikiran, dan hatinya. Namun, matanya masih enggan untuk terpejam. Pikirannya selalu mengajaknya memikirkan wanita yang ia cintai yang berstatus istri dari orang.
”Syakila, memikirkan mu, aku bisa gila.” gumamnya.
Ia memejamkan mata, menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan-pelan. Ia terus melakukan hal itu hingga perasaannya lega. Ia memaksakan dirinya untuk beristirahat, dan mengosongkan pikirannya.
Lama kelamaan ia tertidur.
.. .. ..
Di kediaman Albert, kota A.
Rosalina duduk dengan tidak tenang, pikirannya kacau memikirkan anak semata wayangnya, Geo.
”Siapa pria yang mengangkat telfon ku? Di mana Geo? Aku khawatir dengan anakku. Apakah pria itu kekasih Syakila? Sardin? Geo, bagaimana keadaan mu di sana nak? Mama khawatir padamu”
”Mengapa handphone mu gak bisa di hubungi, nak? Apa yang terjadi padamu? Apakah Syakila mengabaikan mu dan bermesraan dengan kekasihnya di matamu? Apakah kamu baik-baik saja di sana? Penyakit mu! Geo, mama sungguh khawatir padamu.”
Gumam gumam Rosalina. Ia sungguh khawatir dan gelisah memikirkan anaknya itu. Ia berdiri dari duduknya, mondar-mandir di depan televisi yang sedang menayangkan film kesukaannya. Raut wajahnya berubah-ubah tatkala memikirkan anaknya itu, terkadang keningnya mengerut.
”Mengapa Beni belum pulang juga!?”
Ia berjalan ke ruang depan, berdiri di depan jendela, melihat di luar, mencari keberadaan Beni. Rosalina berbalik dari jendela ketika tidak melihat mobil yang dikendarai oleh Beni, anak dari mendiang suaminya dengan wanita lain itu di luar sana. Baru dua langkah kakinya melangkah, ia terhenti, telinganya menangkap suara sebuah deru mobil yang melintas di area pekarangan rumahnya.
Ia berbalik dengan cepat dan membuka pintu rumah, ia tahu, jika itu adalah Beni yang datang. Ia melihat Beni yang keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
”Tante,” sapa Beni, ketika ia berada di depan Rosalina, mama tirinya.
”Tante, Tante jangan panik begini! Mari duduk! Bicarakan dengan baik,” sahut Beni pelan. Ia menuntun Rosalina duduk di kursi halaman rumah.
”Beni, Tante sangat cemas. Kamu tahu kan penyakit Geo? Tante menghubunginya tapi hapenya gak aktif. Tante hubungi Syakila, yang mengangkatnya seorang pria. Pasti dia adalah Sardin, kekasih Syakila. Syakila pasti menelantarkan Geo di sana. Tante khawatir dengan Geo, Beni.” ucap Rosalina lagi dengan cemas.
”Tante. Tante jangan berprasangka buruk terhadap Syakila. Syakila bukan orang seperti itu. Dia pasti merawat Geo dan perhatikan Geo. Syakila tidak akan meninggalkan Geo. Suara pria yang Tante dengar itu, bukan suara Sardin.” jelas Beni.
Rosalina memandang Beni dengan kening yang mengerut.
Beni membalas melihat Rosalina, ”Iya, Tante. Beni menghubungi Syakila, yang mengangkat telfonnya Tante, dan telfon ku itu adalah guru silat Syakila. Namanya Rivaldi, Syakila mengalami musibah, gurunya membantunya dan membawanya pulang ke rumahnya untuk berobat. Handphone dan tas Syakila tertinggal di rumah sang guru saat gurunya mengantar Syakila pulang ke rumahnya.” ungkap Beni.
”Dan Geo, dia baik-baik saja, Tante. Jadi, Tante tidak usah khawatirkan Geo dan Syakila di sana. Mereka berdua baik-baik saja.” ucapnya lagi.
Rosalina menenangkan hatinya, ia menghela nafas lega dan mengangguk, ”Apa yang terjadi dengan Syakila?” tanyanya penasaran.
”Ada orang yang ingin mencelakainya, untunglah gurunya datang tepat waktu membantu Syakila menghadapi orang-orang tersebut. Namun naas, Syakila tertusuk pisau di perutnya. Jadi, gurunya membawa Syakila pulang kerumahnya untuk di obati.”
”Mengapa harus ke rumahnya? Kenapa gak di bawa ke rumah sakit saja?”
”Yah, mungkin karena dia bisa mengobati orang, jadi, dia ingin mengobati luka anak muridnya itu sendiri.”
”Oh, berarti rasa khawatir dan cemas Tante tidak beralasan.” ucap Rosalina.
Beni mengangguk.
”Beni, kamu masuk makanlah. Tante sudah memasak untuk makan siang mu.” ucap Rosalina lagi. Ia beranjak berdiri, ”Oh, iya. Beni, Marlina kemana? Hari ini dia tidak datang ke sini.”
Beni terdiam, ia mengingat kembali saat ia memarahi Marlina, kakak tirinya beda bapak itu. Saat Marlina menjawab pertanyaan Beni tentang musibah yang di alami Syakila. Beni memang tahu perbuatan jahat kakak tirinya itu kepada wanita yang dekat dengan Geo. Karena Marlina mencintai Geo. Beni menyeret paksa Marlina untuk pulang ke kota pusat dan melarang Marlina kembali ke kota A tanpa izinnya. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk mengawasi gerak gerik Marlina.
Meskipun Marlina menolak dan berkeinginan untuk pergi ke kota S mencari dan mencelakai Syakila dengan tangannya sendiri, tetapi, ia tidak berdaya melawan kekuatan Beni. Dengan di perketat oleh anak buah Beni, Marlina pulang kembali ke kota pusat.
”Oh, Marlina. Kemarin Beni bertemu kakak, ia berkata akan kembali ke kota pusat.” jawab Beni berbohong.
”Oh. Dia tidak pamit dengan Tante?”
Beni mengedikan kedua bahunya, ”Mungkin buru-buru, jadi tidak sempat pamit dengan Tante.”
”Oh. Kamu masuklah makan.”
__ADS_1
”Iya, Tante.”
Beni berdiri, menyusul langkah Rosalina yang sudah masuk ke dalam rumah. Ia terus melangkah ke dapur.
Ia duduk dan membuka tudung saji di atas meja. Ia mengambil piring dan menyendok makanan. Ia makan dalam kesendirian. Rosalina sedang berada di kamarnya untuk beristirahat.
.. .. ..
Di kediaman Sarmi.
”Apa yang membuat mu kesini? Aku tidak memanggil mu!” ucap Geo marah pada Ijan.
Geo marah atas kehadiran Ijan dan beberapa anak buahnya yang lain yang datang tiba-tiba di rumah mama mantunya tanpa di panggil. Sehingga mengagetkan keluarganya Syakila.
”Maaf, Tuan. Saya lancang datang kesini dan membawa beberapa anak buah mu yang lain tanpa di panggil oleh Tuan. Saya khawatir kepada Tuan, handphone Tuan tidak dapat di hubungi. Jadi, saya datang kesini melihat keadaan Tuan, sekaligus saya ingin memberikan informasi kepada Tuan.” jawab Ijan.
Geo tersadar handphonenya telah ia hancurkan karena rasa cemburu buta nya kepada Syakila.
”Oh. Ada berita apa?” tanyanya datar.
”Tuan, para preman tersebut di bayar oleh anak buah Antonio untuk mencelakai nyonya muda.”
”Hum, aku sudah tahu itu!” sahut Geo.
Ijan terkejut, ”Tuan sudah tahu?” tanyanya penasaran.
”Hum, berita lainnya?”
”Tuan, ada pergerakan mencurigakan di sekitar villa Tuan. Anak buah Antonio semakin banyak berkunjung di sekitar villa. Saya berpikir, mereka akan menyerang malam ini.” ungkap Ijan.
”Oh, ternyata dia sudah tidak bisa menahan gejolaknya untuk membunuh ku.” sahut Geo.
Syakila terkejut mendengar ucapan Geo. Namun, ia tetap memejamkan matanya, ia tidak ingin Geo tahu jika ia sedang menguping.
”Baik, kita ke villa sore ini. Sampaikan pada mereka di sana untuk bersiap-siap mendapat serangan.”
”Baik, Tuan!” sahut Ijan.
”Pergilah, persiapkan semuanya. Jemput aku jika persiapan sudah matang. Dan ingat, jangan membuat musuh waspada.”
”Baik, Tuan.”
Ijan dan beberapa anak buahnya keluar dari kamar Syakila. Geo mendorong kursi rodanya mendekati ranjang.
Ia melihat wajah tidur Syakila yang pulas. Ia tidak tahu, sebenarnya Syakila tidak sedang tidur, Syakila hanya memejamkan mata saja.
Ia membelai pipi Syakila dengan lembut. Merasakan sentuhan tangan Geo, Syakila membuka matanya.
”Geo,” ucapnya.
Geo menarik tangannya. ”Kamu sudah bangun?”
”Kamu tidak istrahat?” Syakila balik bertanya.
Geo menghela nafas, ”Kamu tidak membantu ku berbaring, bagaimana aku istrahat? Sulit untuk tidur bersandar di kursi roda.”
”Mengapa tidak memanggil Hardin membantumu berbaring?”
”Kamu tidak tahu jika adik mu itu sangat marah padaku karena kamu hilang. Lihatlah dengan baik di sudut bibir ku, masih berbekas luka akibat tinjuan adik mu itu.”
”Apa? Hardin memukul mu?” tanya Syakila. Ia melihat wajah Geo baik-baik, dan melihat bekas luka di sudut bibir pria tampan itu.
”Ku kira ia tidak berani melawan mu. Ternyata, adik ku tidak cemen seperti yang lain.” ucap Syakila lagi sambil tersenyum.
”Kamu senang aku di pukuli?” tanya Geo dengan datar.
”Em, bukan...hanya saja, aku tidak menyangka ternyata ada juga orang yang tidak takut padamu.”
Syakila terdiam kemudian.
Eh, kenapa aku berbicara lepas pada Geo? Aku...yang aku pikirkan tanpa sungkan mengatakan langsung pada Geo. Apa dia akan marah?
Geo tersenyum senang di dalam hatinya, Syakila, wanita itu sudah mulai bicarakan apa yang ada di pikirannya dengan dirinya tanpa ada rasa takut maupun sungkan.
”Yah, dia tidak takut padaku, tetapi ku rasa dia sudah mulai takut padaku. Karena aku menghajar dan memukuli dia dan mengancamnya. Selain dia, sepertinya kamu juga sangat berani padaku.” ucapnya kemudian dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Syakila terdiam mendengar ucapan Geo. Ia tidak takut pada Geo? Sebenarnya dia takut, tetapi, dia juga sudah mulai merasa nyaman dengan Geo. Hingga tanpa sadar, ia bicarakan apa yang ada di pikiran dan benaknya kepada Geo.
__ADS_1