Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 229


__ADS_3

Di kediaman Albert.


”Sayang. Aku pergi ke perusahaan dulu ya. Kamu istirahat lah bersama Mama di rumah.” pamit Geo. Dia telah menghabiskan teh dan rotinya.


”Iya, sayang. Hati-hati di jalan. Salam buat Beni.” senyumnya mengambang di sudut bibirnya, melihat sang suami.


”Iya, sayang.” Geo berdiri dan mencium kening istrinya. Dia melihat Rosalina, ”Mama, Geo menitipkan istriku pada Mama. Geo berangkat dulu.” dia menyalami punggung tangan mamanya.


”Sayang, kamu sendirian dulu di dapur. Mama antar Geo sampai di depan.” Rosalina berdiri, tangannya masih memegang lengan putranya.


Kening Geo mengerut. Apakah ada yang ingin mama bicarakan dengan ku?


”Iya. Ma.” sahut Syakila. Dia masih memakan roti yang ada di tangannya.


Rosalina dan Geo berjalan keluar dari dapur.


”Mama, apa ada yang ingin Mama bicarakan pada Geo?” tebak Geo.


”Iya. Sampai di luar saja baru Mama bicara.”


Mereka terus berjalan sampai di samping mobil Geo.


”Ada apa, Ma?” tanya Geo, penasaran.


”Geo. Tanpa sepengetahuan kamu dan Beni, Mama membuka audisi untuk mencari menantu. Mama sudah mendapatkan dua orang calon untuk kamu pilih dan dua orang calon untuk Beni pilih. Mama menempatkan ke empat gadis itu di perusahaan sebagai sekretaris kalian berdua. Mereka baru beberapa minggu ini bekerja di sana. Jadi, kamu jangan salahi Beni nanti. Bukan Beni yang membuka lowongan pekerjaan. Tapi, Mama yang sengaja mengaturnya.” ungkap Rosalina. Dia merasa bersalah.


”Apa! Mama mencarikan Geo dan Beni seorang istri? Ma, apa Mama pikir Geo dan Beni tidak cukup tampan untuk bisa menggaet wanita? Sejak kapan Mama mengaturnya?” Geo bernada kesal.


”Dari waktu kamu bercerai dengan Syakila, Mama merencanakannya. Mama minta maaf, Mama hanya memikirkan kebahagiaan mu dan Beni. Mama tidak tahu jika kamu dan Syakila akhirnya bisa kembali. Kamu juga tidak bilang pada Mama, kalau kamu dan Syakila menikah lagi. Aduh, sekarang Mama bingung. Kamu yang urus dua wanita itu, ya?” Rosalina berwajah memelas.


Geo menyapu kasar wajahnya. ”Ma, Mama sudah membuatkan pekerjaan baru buat Geo. Ingin memecat mereka atau memindahkan ke pekerjaan lain, tidak gampang, Ma. Aturan perusahaan tetap di jalankan, selama tiga bulan masa percobaan, mereka akan mengganggu ketenangan Geo saja, Ma.” kesalnya.


”Pindahkan saja mereka.”


”Mereka tidak bisa di pindah tugaskan atau di pecat tanpa kesalahan apapun.” Geo menghela nafas.


”Geo, Mama juga bilang pada mereka untuk berusaha menggaet hati mu dan hati Beni, selain mereka bekerja di sana. Mama bilang pada dua wanita yang di tempat kan di ruangan mu, tidak perlu takut padamu, karena cuek, keras, tegas itu sudah sikap mu. Mama juga bilang pada mereka untuk tidak menyerah merayu mu, memikat mu.” ungkap Rosalina lagi.


Geo menghela nafas panjang. Bagaimana bisa mamanya mengatur calon istri untuknya? Bahkan bekerja sambil merayunya.


”Sudahlah, Geo ke perusahaan dulu. Nanti baru Geo urus mereka.” ia tidak ingin berdebat dengan mamanya. Mamanya juga tidak sepenuhnya salah. Dia hanya memikirkan kebahagiaan anaknya saja, makanya melakukan hal itu.


”Baiklah! Maafkan Mama ya, sayang. Kamu hati-hati di jalan.”


”Iya, Ma.” Geo masuk ke mobil. Dia menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.


Rosalina kembali masuk ke dalam rumah. Dia terus melangkah ke dapur. Menemui Syakila.


Di dapur.


Rosalina tersenyum melihat anak mantunya yang sedang mencuci piring kotor. Dia berjalan mendekati Syakila.


”Sayang, terima kasih, kamu masih menerima Geo menjadi suami mu.”


”Ma, kalau bukan karena Syakila juga masih mencintai Geo, tidak mungkin Syakila akan menyetujui menikah dengannya, meskipun Sardin yang memaksaku.” Syakila telah selesai mencuci piring. Dia mengeringkan tangannya dan duduk kembali di meja makan.


Rosalina juga ikut duduk. ”Mama doakan semoga kalian berdua bahagia dunia akhirat. Dan cepat-cepat berikan cucu untuk Mama.” ucapnya tanpa sungkan.


Syakila hanya tersenyum kikuk melihat Rosalina.


”Sayang, kamu pergilah istirahat di kamar. Perjalanan dari kota S ke kota A lumayan panjang. Meskipun di dalam pesawat tidak mengerjakan apapun, tapi, kepala pasti pusing berada lama-lama di ketinggian.”


”Iya, Ma. Syakila ke atas dulu.” Syakila beranjak berdiri. Dia pergi ke lantai atas, di mana kamar Geo berada.


Berasa rindu dengan suasana di sini. benak Syakila.


Ting! Lift berhenti di lantai dua. Syakila keluar dari lift. Dia terus berjalan hingga ke kamar Geo.


Dia telah berada di depan pintu kamar Geo. Tetapi, dia nampak bingung. Dia mencoba mengetik kata sandi yang pernah dia gunakan untuk membuka pintu kamar Geo.

__ADS_1


Syakila menggeleng, tiga kata sandi yang pernah di gunakan Geo sama sekali tidak bisa di gunakan lagi.


Dia menghela nafas sambil menggaruk kepalanya.


Kira-kira apa ya kata sandinya? Namaku bukan, namanya Geo juga bukan, menebak tanggal lahir ku, tanggal lahirnya Geo juga bukan. Huft! Apa aku istirahat di balkon saja ya. Di sana ada kursi panjang. benak Syakila.


Dia berjalan ke arah balkon, lantai dua tersebut. Di setiap langkahnya, dia teringat di balkon inilah dia mengetahui segalanya. Mengetahui Geo yang sengaja menipunya.


Di balkon inilah, dia melihat murka Geo yang sebenarnya. Di saat dia murka, bahkan Beni maupun Rosalina, tidak bisa menghentikannya.


Syakila membuka sedikit pintu balkon tersebut. Dia membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di sana.


.. ..


Di perusahan, di ruangan Geo.


”Geo, minumlah kopinya. Aku membuatnya khusus untuk mu.” Alifa menaruh secangkir kopi di atas meja kerja Geo.


Geo hanya melirik kopinya saja dan lanjut pada kerjanya.


”Pak Geo. Ini adalah berkas kerja sama dengan perusahaan di kota B. Semua perinciannya sudah tertulis secara rinci dan mendetail. Mohon, Pak Geo mengeceknya lagi. Jika masih ada yang harus di perbaiki, saya akan merevisinya ulang.” Atika menaruh berkas itu di atas meja Geo, bersampingan dengan kopi Geo.


Mama, jika begini aku tidak bisa tenang. Baju yang mereka kenakan terbuka dan seksi. Dan mereka sangat sengaja menggodaku dengan bentuk tubuh mereka. Sebaiknya, aku harus menambah peraturan kerja. Harus menggunakan baju yang sopan untuk bekerja. Oh, Syakila....besok, kamu harus jadi sekretaris ku. benak Geo.


”Hum. Nanti baru saya cek. Silahkan pergi dari hadapan ku. Untuk kopi, saya tidak meminum kopi. Silahkan ambil kembali.” sahut Geo, matanya sibuk memperhatikan layar laptop di depannya.


”Baik, Tuan. Apa ada keperluan atau ada hal lain yang Tuan butuhkan? Saya akan ambilkan dan persiapkan untuk Tuan.” tawar Atika.


”Tuan! Cobalah kopinya, aku yakin Tuan akan suka.” rayu Alifa.


”Aku butuh konsentrasi! Aku butuh tenang! Jadi, kembali dan duduklah di tempat kalian!” geram Geo.


”Jika kalian berdua masih mengganggu konsentrasi saya, saya akan memecat kalian. Ini peringatan pertama dan saya harap, juga peringatan terakhir. Kerja lah dengan benar!” ancam Geo.


Anita dan Alifa menciut. Mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing. Alifa juga membawa kopinya.


”Sepertinya akan sulit untuk menaklukkan Geo.” bisik Atika.


”Kamu benar! Aku juga tidak akan mengalah dan kalah dari kamu. Ingat pesannya Rosalina, sikap Geo memang seperti itu, tapi, sebenarnya orangnya lembut. Hum...Geo akan luluh padaku nantinya.” ucap Alifa, senyumnya mengambang di bibirnya.


”Bagaimana kalau Geo menginginkan kita berdua?” bisik Atika, bertanya.


”Jika begitu, kita harus akur tinggal dalam satu atap. Tapi, tentu saja tidurnya di kamar berbeda.” balas Alifa.


”Aku juga tidak mau tidur satu kamar bertiga.” sahut Atika.


Mereka telah duduk di kursinya. Pintu ruangan Geo terbuka. Semua mata mengarah ke pintu, termasuk Geo.


Beni melangkah masuk. ”Bawa masuk meja dan kursinya.” titah Beni pada kurir yang membawa meja dan kursi.


Beni terus melangkah maju ke meja Geo. ”Mau taruh di mana meja dan kursi ini?” tanyanya pada Geo.


”Di samping ku.” jawab Geo.


Alifa dan Atika saling pandang. Mereka seakan saling bertanya, untuk siapa meja dan kursi itu? Mengapa simpannya dekat sama tuan Geo?


”Tuan, kursi dan mejanya sudah di simpan sesuai keinginannya.” lapor salah satu dari kurir tersebut.


”Oh, sudah selesai? Terima kasih, kalian keluarlah!” titah Beni pada kurir tersebut.


Mereka segera keluar dari ruangan Geo setelah membungkukkan badan pada Geo dan Beni.


”Ini, yang kamu bilang aku buatkan. Aku sudah buatkan. Periksalah!” Beni menyimpan map berisi lamaran kerja atas yang sudah di sahkan di atas meja, di depan Geo. ”Untuk siapa itu?” Beni penasaran.


Geo mengambil dan melihatnya. Senyumnya semakin melebar membaca lembaran kertas di tangannya. ”Good! Thank you! Nanti kamu akan tahu sendiri.” senyum Geo mengambang saat menandatangani lembaran tersebut. ”Berikan ini pada pihak Hrd.” Geo memberikan map itu lagi pada Beni.


”Hah! Yang benar saja Geo! Ini formulir kosong mau di serahkan kepada pihak Hrd?” Beni memperjelas.


”Iya,” sahut Geo.

__ADS_1


Dia tidak kembali stress kan setelah di tinggal nikah sama Syakila? benak Beni.


”Oh, ok!” Beni melangkah keluar dari ruangan Geo.


Geo berdiri. Dia membuka jasnya dan menaruhnya di lengan tangan kirinya. Dia melangkah hendak keluar ruangan.


Alifa dan Atika berdiri, dengan cepat menghadang langkah Geo. ”Tuan, Tuan ingin pergi kemana?” mereka berdua berdiri di samping kiri dan kanan Geo, mengapit tubuh Geo.


Gadis-gadis ini tidak bersalah Geo! Mereka hanya mengikuti keinginan dan perintah mama mu. Sabar!! Tapi, perlakuan seperti ini tidak nyaman bagiku. Untung saja kalian merayuku di saat aku sudah benar-benar pulih! Jika tidak, jangan harap tangan kalian masih menyatu dengan tubuh kalian. benak Geo.


”Lepaskan tangan kalian dari dadaku! Ini peringatan kedua dariku! Masih ada satu kesempatan lagi, jika kalian masih berusaha bertingkah menjijikan di ruangan ku, kalian akan ku pecat!” ancam Geo.


Alifa dan Atika menarik tangannya. Mereka juga mundur selangkah dari tubuh Geo.


Geo melanjutkan langkahnya, keluar dari ruangan. Dia terus berjalan ke lift khusus pribadi dirinya dan Beni. Dia masuk ke dalam lift.


Lift berhenti di lantai satu, lantai tujuan Geo. Dia keluar dari lift dan terus berjalan ke halaman parkir mobil. Geo masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya.


Drrttrrt! Geo meraih hapenya saat berdering. Dia menerima telfon tersebut, dengan menyambung ke handset.


”Kamu masih sibuk?”


”Tidak, Ma. Ada apa?”


”Cepatlah pulang. Istrimu tidur di balkon, di lantai dua. Mama tidak berani membangunkan tidurnya dan menyuruhnya tidur di kamar Mama.”


”Ah, iya, Ma. Geo lupa beritahu dia kalau kata sandi pintu kamar gabungan nama dan tanggal lahir ku dengan nama dan tanggal lahir Syakila.” ucap Geo.


”Ya sudah, hati-hati saat berkendara.”


”Iya, Ma.” telfon terputus.


Geo menambah laju mobilnya. Beberapa menit berlalu, Geo menghentikan mobil di halaman parkir rumahnya.


Dia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari. Dia pergi ke balkon, di lantai dua. Dia melihat mamanya yang duduk di kursi.


”Geo, kamu sudah datang.” Rosalina berucap pelan.


”Iya. Geo angkat Syakila ke kamar dulu.” Geo berjalan pelan menghampiri Syakila. Dia menggendong Syakila dengan pelan.


Dia membawa Syakila ke kamarnya. Dia menaruh tubuh istrinya dengan pelan di atas ranjang.


Geo mencium kening Syakila lalu menarik dirinya. Namun, tangan Syakila yang tiba-tiba melingkar di leher belakangnya mencegahnya untuk bangun. Dia melihat Syakila, matanya masih terpejam.


Apa wanita ini sedang bermimpi ataukah sengaja menggoda ku? benak Geo.


Dia tersenyum kecil. Mungkin saja wanita itu sedang bermimpi, nafasnya sangat lembut. Dia melepaskan tangan Syakila dari lehernya. Lalu, dia menyelimuti tubuh Syakila. Sekali lagi dia mencium lembut kening Syakila dan dia pergi dari kamar setelah berganti pakaian.


Dia pergi ke balkon, menemui mamanya. Dia duduk di samping kursi mamanya.


”Apa mereka menyusahkan mu?” tanya Rosalina.


”Sangat, Ma. Pakaian mereka sangat pendek dan seksi, memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Mereka selalu mencari cara merayu dan mengambil hati Geo.” suaranya terdengar datar.


”Maaf,”


”Tidak apa-apa. Mulai besok, Syakila akan ke kantor sebagai sekretaris pribadiku, yang hanya akan mengurus kebutuhan hidupku. Aku hanya merasa mereka berdua sangat beruntung. Mereka merayuku, bersikap menjijikan di saat aku sudah sepenuhnya pulih. Jika tidak, nyawa mereka berdua akan habis di tangan ku.” papar Geo.


”Oh, iya, Ma. Geo akan tinggal di apartemen nanti bersama Syakila. Sekitar tiga atau empat hari lagi kami akan pindah di sana.”


”Pindah di sana? Kenapa tidak tinggal di rumah saja? Rumah ini sangat besar. Apa kalian tidak suka tinggal di rumah ini?” Rosalina berwajah sedih.


”Ma, bukan begitu. Syakila juga belum tahu hal ini. Nanti baru Geo bicara dengannya. Kami juga akan seringkali kesini dan bermalam. Aku hanya ingin ada waktu private bersama Syakila.”


”Oh, iya, baiklah. Mama mengerti. Geo, apakah kamu sudah sepenuhnya mendapatkan Syakila?” Rosalina penasaran.


Dia memang tahu Syakila mencintai Geo. Tetapi, untuk hal lain belum tentu terlihat mudah. Apalagi Syakila baru saja kehilangan pria yang benar-benar Syakila cintai hidup dan mati.


”Mama meragukan anaknya Mama ini? Meragukan gen dari Albert? Syakila sudah menjadi milik Geo seutuhnya. Mama tinggal menunggu hasil terbaik dari Geo saja.” Geo mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis melihat Rosalina.

__ADS_1


Rosalina membalas senyum nakal anaknya itu. ”Baiklah, Mama menunggu kabar baik darimu.” ucapnya.


__ADS_2