
Kediaman Albert kota A.
”Tante, kemana perginya Geo? Mengapa ia tidak menyambut kedatangan ku? Biasanya, jika aku datang, dialah yang pertama menyambut ku dengan amarah nya.” ucap Antonio.
”Antonio, jika perkataan dan pertanyaan mu hanya omong kosong lebih baik kamu diam lah!” bentak Beni. Wajahnya datar.
”Tak perlu kamu memberitahu dia begitu, Beni.” ucap Rosalina. Ia melihat Antonio, ”Geo tidak berada di kota ini, ia sedang berada di kota S. Tujuan mu kemari untuk siapa? Katakan saja terus terang, untukku? Atau Geo?”
Antonio tertawa kecil, ”Hahaha, Tante, mengapa bicara mu seperti itu? Tante adalah Mama tiri ku dan Geo adalah adik tiri ku, mengapa aku tidak begitu di sambut di kediaman ayah tiri ku ini?”
Antonio melihat Rosalina, ”Tapi, baiklah, aku pergi dulu. Aku tidak akan mengganggu waktu Tante. By..by....”
Ia beranjak berdiri, tanpa menoleh ke belakang, ia berjalan berlalu meninggalkan kediaman Albert.
”Tante, maaf atas sikap Antonio.” ucap Beni seketika. Pandangannya masih menatap punggung Antonio yang membuka pintu mobil di depan gerbang.
”Aku sudah terbiasa dengan sikapnya.”
Rosalina melihat Beni sebentar. Lalu ia berpaling memandang mobil yang telah pergi meninggalkan pintu gerbang kediaman Albert.
”Antonio masih berfikir akulah yang membunuh ibumu. Meskipun almarhum Albert telah mengaku ia yang membunuh ibumu, tapi, itu tidak bisa menutup penglihatan Antonio yang saat itu melihat ibumu dalam tanganku dan pisau itu aku yang mencabutnya dari perut ibumu.”
Rosalina mulai menceritakan kebenaran atas kematian ibu kandung dari Antonio, Marlina, dan Beni. Beni terdiam mendengarkan tanpa memberi tanggapan atau bersuara untuk menyela atau hal lainnya.
”Kamu tahu, mengapa ayah mu menikahi ibumu?” tanya Rosalina pada Beni.
Beni menggeleng, ”Aku tidak tahu, Tante. Tapi, aku pernah mendengar Antonio berkata bahwa Ayah sengaja menikahi ibu untuk menghancurkan ayah mereka.”
Rosalina menghela nafas. ”Itu adalah kalimat sesat dari Kevin, ayah mereka untuk mencuci otak Antonio dan Marlina tentunya juga kamu untuk membenci Albert dan keturunannya.”
”Tapi, aku tidak berpikiran seperti itu setelah aku tinggal bersama Tante dan ayah.” sahut Beni dengan serius.
Rosalina menghela nafas. ”Terima kasih, kamu mempercayai kami. Aku tahu alasan Antonio menyerahkan kamu ke kami.”
Beni terdiam. Ia menunduk. ”Lanjutkan cerita Tante tentang ibuku dan ayah mereka.”
”Kevin, adalah pria yang sangat kejam, ia menikah dengan ibumu karena terpaksa. Sedangkan ibumu adalah orang baik, ia menikah dengan Kevin karena mencintainya. Kevin, seumur hidupnya ia mencintai satu wanita yaitu Halima. Ia menyiksa ibumu, bahkan Antonio dan Marlina yang masih kecil yang belum mengerti apa-apa pernah di siksanya. Sampai suatu hari, aku bertemu dengan ibumu, aku kasian melihat ibu mu yang di marahi, di pukuli, di muka umum. Aku menyuruh ayah mu untuk membantunya. Ayah mu membuat dia bangkrut itu tidak benar, yang benar adalah ayahmu membeli perusahaan yang sudah bangkrut itu dari pihak Bank. Perusahaan itu sekarang yang di kelola oleh Antonio, dan ibumu dengan kebaikan hatiku, aku membiarkan ia tinggal di rumah ku dengan kedua kakak mu. Tapi, karena ibumu yang mencintai Kevin, ia bersekongkol dengan Kevin untuk menghancurkan Albert secara diam-diam. Ibumu merayu Albert sewaktu aku tidak ada di rumah, tapi, Albert tidak pernah menghiraukan dia. Sampai suatu saat ia di beri sesuatu oleh Kevin untuk meracuni Albert dengan membuat Albert melihatnya seolah-olah melihat ku. Niat liciknya itu berjalan lancar, aku menyuruh Albert menikahi ibumu setelah ibumu bercerita padaku dia hamil anaknya Albert. Setelah mereka menikah, Albert memberikan rumah yang di huni oleh kedua kakak mu sekarang pada ibumu. Tapi, ibumu berusaha untuk mencuri aset perusahaan yang di beli Albert untuk di berikan kepada Kevin. Waktu itu, ibumu berhasil mencuri berkas tersebut saat ia dan kedua kakakmu berkunjung ke rumah kami. Tetapi, dia di tangkap basah oleh Albert. Ibumu mengeluarkan pisau kecil dari sakunya, ia menusuk Albert. Tapi Albert menahannya, dan tidak sengaja mendorong ibumu hingga terjatuh dan pisau itu tertancap di perut ibumu. Aku berlari mendekati ibumu dan mencabut pisau itu tapi, di saat itu entah dari mana datangnya Kevin, ia masuk ke dalam rumah dan melihat kejadian itu bersama kedua kakak mu. Ternyata, Kevin mendengar teriakkan ku waktu ibumu tertusuk pisau, saat ibumu terjatuh, handphone ibumu yang berada di sak celananya tergeser hingga menelfon Kevin. Dan Kevin ternyata saat itu berada di luar rumah, ia memang sudah menanti ibumu di sana.”
Beni menghela nafas. ”Jadi, ibu meninggal karena kesalahannya sendiri.”
”Iya, ibumu sebenarnya adalah orang yang baik, tapi Kevin, ayah mereka memperdaya ibumu dengan kata cinta. Apa kamu mempercayai ucapan ku barusan?”
”Tante, jika aku tidak percaya pada ayah, Tante dan Geo, mengapa aku masih disini bersama kalian? Dan mengapa aku tidak mengambil kesempatan di saat kondisi Geo seperti ini untuk menghancurkan Tante dan Geo?”
Itu benar, jika Beni ingin membalas dendam atas apa yang terjadi pada ibunya, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menghancurkan kami. Justru, ia dengan sabar membantuku merawat Geo yang seperti itu sebelum Geo menikah dengan Syakila.
Beni dan Rosalina sama-sama terdiam dan menghela nafas.
”Mengapa Tante tidak memberitahu kebenarannya kepada Antonio?” tanya Beni kemudian.
”Antonio, dia sudah di beritahu, tapi ia tidak peduli dan tidak mau mendengarkan. Ia hanya percaya ucapan Kevin, ayahnya dan peristiwa yang di lihatnya dengan matanya sendiri kalau akulah yang membunuh Ibumu. Tidak tahan aku yang di tuduh, Albert mengaku dialah yang membunuh ibumu.”
Rosalina tersenyum kecut, ”Aku merasa kematian Halim, ayah Syakila dan Albert ada hubungannya dengan Antonio. Apa kamu keberatan aku berpikiran demikian?”
”Tidak, Tante. Aku percaya dengan Tante, tapi, mengapa Tante berpikiran kematian Halim ada hubungannya juga dengan Kevin?” tanya Beni penasaran.
”Terima kasih, kamu tidak menyalahkan Tante karena sudah berpikir begitu. Halim datang pada kami untuk meminjam uang, dan kami selidiki uang itu, ia gunakan untuk membayar Halima dari Club yang di jalankan oleh Kevin dan ibunya. Sedangkan Halima itu, adalah wanita yang di cintai oleh Kevin.” sahut Rosalina.
”Oh, jadi, Halim berhutang hanya untuk Halima? Sewaktu kita menagih janji Halim, sepertinya Sarmi dan anaknya tidak tahu kalau Halim meminjam uang untuk Halima. Makanya, mereka menolak memberikan Syakila pada kita, tapi, mengapa Syakila justru setuju? Apa Syakila mengetahui tentang itu?” tanya Beni lagi masih dengan penasaran.
”Tante tidak tahu, apakah Syakila tahu tentang itu atau tidak. Tapi, bisa jadi Syakila mengetahui sesuatu, makanya ia setuju menikah dengan Geo walau ibu dan keluarganya menentangnya.”
”Beni, Tante masuk istrahat dulu. Pembahasan kita jangan sampai terdengar di luar.” ucap Rosalina lagi. Beni mengangguk.
__ADS_1
Rosalina masuk ke dalam rumah dan terus ke kamarnya. Beni meraih handphonenya.
”Geo, Antonio dan Marlina berada di kota A.” Beni
”Apa? Dan kamu sendiri, apa sudah kembali ke kota A?” Geo.
”Iya, aku dan Marlina duluan datang. Besoknya ternyata Antonio juga datang ke mari. Dan barusan, ia berkunjung ke rumah.” Beni.
”Jangan biarkan mamaku berdua saja dengan Antonio. Tolong, kamu jaga mama ku baik-baik. Aku belum bisa kembali ke kota A. Tolong, jaga mamaku.” Geo.
”Kamu tenanglah, aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada tante, aku akan selalu menjaga Tante. Kamu jangan banyak berpikir di sana, percayakan Tante, padaku.” Beni.
”Ok, aku percaya sama kamu.” Geo.
Beni membaca pesan Geo tanpa membalasnya lagi. Ia menghela nafas dan pergi masuk ke dalam rumah.
Di apartemen Dawiyah.
”Dawiyah, Dawiyah, kamu di mana sayang?” panggil Antonio.
Sesampai di apartemen Dawiyah, Antonio tidak menemukan Dawiyah di dalam apartemen itu. Dengan kesal, ia membanting dirinya di sofa.
”Kemana lagi perginya Dawiyah? Di hubungi juga nomornya tidak aktif!”
Ia bangun dari baringnya, ia duduk dengan tegak.
”Tidak perlu menunggu dia, aku akan ke kota S sendirian. Ini kesempatan ku untuk membunuh Geo di sana. Oh, iya, sebaiknya begitu, Marlina dan Dawiyah seharusnya tidak usah tahu keberangkatan ku ke kota S.”
Antonio menyeringai jahat. Ia mengeluarkan handphonenya.
”Kirim beberapa orang ke kota S dan mencari keberadaan Geo di sana.” Antonio.
”Baik, Bos.”
.. ..
Di rumah sakit kota S.
”Syakila, kamu tidak pulang, Nak? Kamu sudah lama berada disini, kamu juga belum makan siang, dan suami mu juga__”
”Tante, aku tidak lapar. Aku masih ingin disini menemani Sardin.”
”Sebaiknya, kamu pulang, Nak. Nanti kamu datang lagi untuk menjenguk Sardin, dia juga belum sadar. Kamu jagalah dirimu, jika Sardin tahu kamu tidak makan dan tidak istrahat demi menunggunya, dia akan merasa bersalah padamu.”
”Tante, biarkan aku disini untuk sebentar, jika aku ingin pulang, aku akan pulang, meskipun Tante menahan ku, aku akan tetap pulang.”
”Tapi, bagaimana dengan suami mu? Dia akan marah dan cemburu padamu.”
”Tidak akan.” sahut Syakila seketika.
"Baiklah, kalau begitu, Tante ingin pulang sebentar dengan Om. Kami ingin mengambil beberapa lembar pakaian ganti. Tante titip Sardin.”
”Iya, Tante. Tante pergilah, aku akan menjaga Sardin di sini.”
”Baiklah, terima kasih, Syakila.”
”Tante, tidak usah sungkan.”
”Tante akan membelikan makanan buat mu jika Tante kembali ke rumah sakit, kamu ingin makan apa Syakila?”
”Tidak usah, Tante. Syakila benar-benar tidak lapar.”
”Baiklah, Tante tidak akan memaksa. Tante pergi dulu.” pamit Nesa.
__ADS_1
”Iya, Tante.”
Nesa keluar dari ruangan ICU, meninggalkan Sardin bersama Syakila. Ia mendekati suaminya yang duduk di kursi panjang yang terdapat di sana.
”Pa, mari kita pulang istrahat sebentar di rumah, sekalian kita ambil pakaian ganti saat kembali ke rumah sakit.”
”Tapi, Mah, bagaimana dengan Sardin? Apa kita akan meninggalkan dia sendirian? Kalau dia sadar nanti tidak ada orang di sampingnya, bagaimana dia nanti berpikiran, Mah.”
”Papa, Papa tenang saja, ada Syakila yang menjaganya. Dia bersikeras untuk masih tetap berada di samping Sardin, ia belum ingin pulang.”
”Anak itu, bersikap begitu, apa dia masih mencintai anak kita, Mah?”
”Hus, Papa jangan berpikiran tidak-tidak, mereka adalah teman sejak kecil. Dan mereka berdua memang dekat. Jadi, Syakila berada disini karena mengkhawatirkan keadaan temannya saja.”
”Ya sudah, mari kita pulang istrahat di rumah.”
Mereka berdua beranjak pergi dari rumah sakit. Syakila masih menggenggam tangan Sardin.
”Kak Sardin, cepatlah sadar, apa kak Sardin tidak ingin melihat Kila? Bangunlah kak, lihatlah Kila ada disini, di samping kakak.”
”Kila tahu, kakak mendengar ucapan Syakila, kan? Kila mohon, kakak cepat sadar, Kila merindukan suara kakak, tawa kakak, apa kakak tidak merindukan Syakila?”
Syakila masih terus berusaha membuat Sardin untuk sadar. Namun, pria itu masih setia dengan tidur panjangnya. Syakila menatap sedih wajah Sardin yang masih terlihat pucat itu. Ia teringat dengan wajah pucat ayahnya sewaktu di rumah sakit kota A. Kila menjadi khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak. Raut wajahnya berubah menjadi sedih seketika.
”Kakak, jika Kila adalah hidup kakak, dan kakak benar-benar mematuhi segala ucapan Syakila. Kakak dengarkan Kila, kakak tidak boleh pergi meninggalkan Kila seperti ini. Kila tidak mengizinkan kakak untuk pergi. Kakak harus tetap hidup demi Syakila. Syakila janji, Syakila akan selalu menuruti apapun ucapan dan keinginan kakak jika kakak sudah sadar nanti. Kila janji kak, Kila gak akan membantah kakak.”
Setelah lama ia mengajak Sardin untuk berbicara, ia merasa mengantuk. Syakila tertidur di tempat duduknya, tangannya kirinya ia jadikan bantal kepalanya, sedangkan tangan kanannya, masih menggenggam tangan Sardin.
.. ..
Di kediaman Sarmi.
Hardin sedang menemani Geo di taman. Setelah mereka selesai makan siang. Sarmi pergi ke kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk di dadanya, ia sangat marah kepada Syakila yang mengabaikan suaminya di rumah.
Ia lebih marah lagi ketika ia menghubungi Syakila tapi, nomor Syakila tidak aktif. Anak-anak Sarmi yang lainnya beristirahat di kamarnya masing-masing. Fatma dan suaminya juga istrahat siang di kamarnya.
Sedangkan Geo, ia menyuruh Hardin untuk mengantarnya ke taman, dan ia meminta Hardin untuk meninggalkannya sendirian, tetapi, Hardin menolak. Ia tetap menemani Geo di taman tersebut.
”Kakak, mengapa setelah kakak berbalas SMS, wajah kakak di tekuk seperti itu? Apa ada sesuatu hal terjadi? Apa kakak tadi berbalas chat dengan Syakila?” tanya Hardin penasaran.
”Tidak, kakak tidak chat dengan Syakila, kakak chat dengan adik kakak di kota A.” jawab Geo.
”Oh, apa ada masalah di sana, sehingga membuat kakak gelisah?”
Geo tersenyum, ”Tidak, tidak ada. Kakak hanya sedang memikirkan mama kakak di sana.”
”Oh, begitu. Kak, mengapa kakak tidak menghubungi Syakila dan menyuruhnya untuk pulang? Syakila sudah lama di rumah sakit, ini sudah jam lima sore. Apa kakak gak khawatir dengan Syakila?”
”Tidak, kakak tidak khawatir pada Syakila, kakak menghargai privasinya, kakak yang mengizinkan dia untuk pergi ke rumah sakit dan mengizinkan dia juga untuk pulang malam. Jadi, mengapa kakak harus menelfon nya dan menyuruhnya untuk pulang? Berarti kakak tidak percaya dengannya dong jika kakak melakukan itu.”
”Benar juga sih, tetapi kan, biar bagaimanapun juga Syakila harus memikirkan dengan kakak juga disini. Jika malam ini Syakila tidak pulang, apa yang akan kakak lakukan?”
”Jika dia tidak pulang, berarti ada sesuatu yang menghambatnya. Kakak tidak jadi masalah, tapi, kakak takutnya mama nanti yang akan marah pada Syakila, jika Syakila tidak pulang malam ini.”
”Jika mama memarahi Syakila, apa kakak akan membela Syakila?”
”Tentu saja, Syakila adalah istriku. Selain aku, tidak ada yang boleh memarahi Syakila di depan ku. Meskipun itu mama, kamu, ataupun yang lainnya, tidak boleh!”
”Wah, apa ini bentuk dari rasa cinta kakak untuk Syakila?”
”Diam lah, jangan banyak bertanya! Aku tidak ingin berbicara lagi dengan mu!”
Hardin terdiam. Ia tidak berani bersuara lagi. Meskipun ia dan Geo berbicara santai, tapi, aura yang di pancarkan oleh Geo membuat ia takut.
__ADS_1