Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 97


__ADS_3

SD negeri 1


Trrtrtrrt


Bunyi suara handphone. Pria dengan memakai kemeja yang duduk di kursi di depan meja yang bertuliskan kepala sekolah itu mengerut ketika melihat di layar handphone tertulis Tuan Geovani memanggil. Ia mengangkatnya.


”Selamat pagi Tuan Geovani, apa ada yang bisa di bantu, Tuan?” sapanya.


”Selamat pagi Pak Irawan, istri ku sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah mu. Dia akan mengajar di kelas satu. Saya tidak ingin ada hal-hal yang tidak di inginkan terjadi pada istri saya, jangan mencari masalah ataupun mempersulitnya di sana. Saya tidak ingin mendengar istri saya mengeluh tentang sekolah itu.” ucap Geovani.


Pak Irawan tersentak, ia mengerut bingung sekaligus takut.


”Ma..maaf, Tuan! Saya kebingungan, mohon di perjelas lagi, siapa nama istri Tuan, agar kedepannya bisa menjaganya atas nama Tuan? Karena setahu saya yang mendaftar untuk mengajar kelas satu itu atas nama Syakila dan itu yang mendaftarkan nya adalah saudara Anton.” sahut Irawan.


”Hum, dialah istriku. Satu lagi, jangan sampai tersebar berita bahwa dia adalah istriku. Istriku sangat tidak suka kehidupan pribadinya di umbar dan di jadikan santapan publik.”


”Siap, Tuan! Di mengerti, kami akan merahasiakan jika Bu Syakila adalah istri Tuan Geovani. Kami juga akan menjaganya dan tidak akan mempersulitnya.”


”Hum, itu saja yang ingin saya sampaikan. Sampai jumpa Pak Irawan di lain kesempatan.”


”Iya, Tuan!”


Tut tut tut telpon terputus. Irawan menghela nafas.


”Aku baru tahu jika Geovani sudah menikah. Kenapa tidak ada berita tentang itu dan tidak ada pesta pernikahan yah? Apa karena privasi istrinya yang benar-benar tidak ingin di ketahui oleh masyarakat?” gumamnya.


Tok tok tok


Irawan menoleh ke arah pintu.


”Permisi, Pak. Saya Jurina.” ucap Jurina di balik pintu yang tertutup rapat itu.


”Masuk!”


Jurina masuk ke ruangan kepala sekolah bersama Syakila.


”Ada apa Bu Jurina? Dan siapa wanita ini?” tanya Irawan sambil melihat Syakila.


”Wanita ini yang bernama Syakila, Pak. Dia guru baru yang akan mengajar di kelas satu.” ungkap Jurina.


Syakila mengulurkan tangannya sambil tersenyum, ”Selamat pagi, Pak. Nama saya Syakila.” ucapnya memperkenalkan diri.


Oh, jadi ini yang namanya Syakila. Istri Geovani Albert, menantu dari Albert dan Rosalina. Sangat cantik, dan senyumnya sangat manis. Jika orang-orang tidak tahu dia adalah istri Geovani, aku jamin para guru-guru khususnya yang laki-laki jomblo pada ngejar-ngejar dia. Sudahlah yang penting siarkan saja statusnya yang sudah menikah. Kalau tidak salah, semalam Anton juga tidak menyebutkan nama suaminya. Hanya memberitahu saja jika dia sudah menikah, apakah dia benar-benar tidak ingin orang-orang tahu dia istri dari Geovani? Sangat mencengangkan jika saja itu wanita lain, dia pasti sudah menyombongkan diri dan mengumbar statusnya yang tinggi itu. Tapi gadis ini, melakukan hal yang lain. Di luar dugaan!


Pak Irawan membalas uluran tangan Syakila. Ia dan Syakila bersalaman.


”Oh, ibu Syakila yah, selamat bergabung di sekolah kami. Semoga Anda senang berada di lingkungan sekolah kecil kami ini. Silahkan duduk Bu!” ucapnya dengan ramah.


”Aamiin, terima kasih, Pak kepala sekolah.”


Syakila duduk di kursi depan meja pak kepala sekolah.


Pak Irawan tertawa kecil, ”Hehehe, jangan sungkan ibu Syakila.”


”Kalau begitu, saya permisi, Pak.” ucap Jurina berpamitan.


”Oh, iya, silahkan Bu Jurina.”


Jurina meninggalkan ruangan kepala sekolah. Pak Irawan membuka kembali file tentang identitas Syakila yang di berikan oleh Anton. Pak Irawan melihat Syakila.


”Syakila, adik dari saudara Anton. Status sudah menikah. Pernah mengajar di salah satu sekolah di kota S. Apa itu benar?”


”Benar, Pak.”


”Baiklah, di sini saudara Anton mendaftarkan Bu Syakila sebagai guru honorer. Saya akan menjelaskan sedikit tentang guru honorer yang bekerja di sini.”


”Silahkan, Pak. Saya akan mendengarkan.”


Pak Irawan mulai menjelaskan secara detail tentang gaji pokok honorer, cara aktivasi rekening BSU dan panduan pencairan dana BSU gaji guru honorer.


”Bagaimana, Bu Syakila? Apakah ibu sudah mengerti, atau masih ada yang belum di mengerti? Silahkan bertanya, Bu!” ucap pak Irawan.


Syakila tersenyum, ”Terima kasih, Pak. Semuanya telah saya mengerti.” sahutnya.


”Oh, kalau begitu, ibu Syakila mari ikuti saya. Saya akan membawa ibu ke ruangan kelas satu dan mengenalkan ibu pada siswa-siswi di kelas tersebut.”


”Baik, Pak.”


Pak Irawan berdiri dari duduknya, Syakila menyusul. Mereka berdua berjalan bersama keluar dari ruangan kepala sekolah dan melangkah menuju kelas satu.


Kini mereka telah sampai di kelas 1A. Pak Irawan masuk ke kelas bersama Syakila.

__ADS_1


”Selamat pagi anak-anak!” seru pak Irawan.


”Selamat pagi, Pak kepala sekolah!” seru anak-anak menjawab.


”Anak-anak, Bapak kepala sekolah telah membawakan kalian guru baru yang akan mengajar kalian, menggantikan guru Hatrick. Perkenalkan ini ibu Syakila.” Pak Irawan melihat Syakila, ”Bu Syakila, silahkan perkenalkan dirimu.”


Syakila tersenyum manis pada anak muridnya, ”Selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama ibu adalah ibu Syakila, kalian bisa memanggil ibu dengan sebutan Ibu Asya.” ucap Syakila memperkenalkan diri.


”Selamat pagi, ibu guru Asya!” seru anak-anak dengan antusias.


”Baiklah, Bu Syakila, saya permisi. Silahkan ibu memulai untuk berinteraksi dengan anak-anak dan mulai mengajar mereka.” ucap pak Irawan.


”Iya, Pak. Terima kasih banyak.” sahut Syakila.


Pak Irawan meninggalkan kelas tersebut. Syakila mulai berinteraksi dengan anak muridnya.


”Anak-anak, karena hari ini adalah hari pertama kita bertemu, maka hari ini kita akan berkenalan satu persatu yah. Setelah itu baru kita mulai belajar.”


”Iya, Bu Asya!” seru anak-anak menjawab.


Mereka pun maju satu persatu di depan kelas untuk memperkenalkan dirinya masing-masing di hadapan Syakila. Syakila sangat senang mendapatkan anak murid yang pintar dan cerdas juga tidak pemalu seperti siswa siswinya sekarang.


.. ..


Di kota pusat. Di kediaman Albert.


”Dimana Beni?” tanya Marlina.


”Non, den Beni sedang beristirahat di kamarnya.” jawab sang bibi perawat rumah sambil menunduk.


Setelah Antonio memberitahu pada Marlina tentang kedatangan Beni dan tujuan kedatangannya, Marlina langsung datang mencari Beni di kediaman Albert.


”Apakah sudah lama dia beristirahat, Bibi?”


”Belum lama, Nona. Den Beni beristirahat baru lima belas menit yang lalu.” jawab sang bibi lagi dengan lembut.


”Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu. Aku akan pergi ke kamarnya Beni untuk melihatnya.”


”Baik, Nona. Em, Nona, apakah nona akan makan siang disini menemani den Beni?”


”Iya, Bibi. Masakan makanan favorit ku.” jawab Marlina.


Marlina menaiki anak tangga menuju kamar Beni. Sang bibi pergi ke dapur untuk memulai memasak makanan siang untuk Marlina dan Beni. Tanpa mengetuk pintu, Marlina menerobos masuk ke kamar Beni. Ia mendekati ranjang Beni.


”Beni, bangun Beni!”


Marlina membangunkan Beni dengan menepuk-nepuk pipinya. Kening Beni mengerut, matanya masih terpejam.


”Beni, ayo bangun!” ucap Marlina lagi dengan keras.


Beni tersentak. Ia terduduk di atas kasur.


”Marlina! Apa-apaan kamu ini! Masuk ke kamar ku tanpa permisi dan mengganggu tidur ku! Apa sopan santun mu sudah hilang?” ucap Beni dengan marah.


”Berhenti berbicara marah padaku! Apa yang kamu lakukan pada perusahaan kakak?”


Beni memijat pangkal hidungnya. Ia begitu pusing, tidurnya yang baru saja terlelap lima belas menit yang lalu, kini terganggu.


”Jika ingin membahas ini, tunggu setelah aku selesai berisitirahat. Keluarlah dari kamar ku, kepalaku sangat pusing! Aku butuh waktu untuk beristirahat. Keluarlah!” bentak Beni.


Ia membaringkan kembali tubuhnya.


”Kamu!”


Marlina gregetan melihat Beni, ia menghentakkan kakinya di lantai dengan kasar.


”Baiklah, istrahat lah! Aku menunggu mu di saat makan siang nanti. Setelah makan siang, kamu harus membicarakan ini dengan ku!”


Beni tidak menyahuti. Marlina keluar dari kamar Beni dengan cemberut. Ia memang takut dengan Antonio jika marah. Tapi, ia lebih takut lagi dengan Beni jika Beni sedang marah, meskipun Beni status nya adalah adiknya dari ayah yang berbeda. Jika Beni marah, meskipun Antonio adalah seorang kakak, kekuatannya masih kalah di bandingkan Beni.


Albert dan Rosalina merawat dan membesarkan Beni sama halnya dengan cara mereka membesarkan Geovani. Pendidikan yang di jalani oleh Geovani, Beni pun mempelajarinya, termasuk beberapa ilmu bela diri. Berbeda dengan Marlina dan Antonio yang benar-benar memisahkan diri dari Albert. Mereka lebih mengikuti ayah kandung mereka.


Marlina menunggu Beni di halaman belakang rumah Albert, ia sangat senang melihat bunga-bunga yang di tanam oleh Rosalina.


.. ..


Di kantor Antonio.


”Apa? Bagaimana bisa?” Dawiyah terkejut mendengar ucapan Antonio tentang pemutusan hubungan kerja dengan perusahaan Geovani.


”Aku juga terkejut mendengarnya dari Beni. Usaha kita sia-sia untuk menjatuhkannya. Padahal tinggal selangkah lagi semuanya akan berhasil!” sahut Antonio dengan geram.

__ADS_1


”Apa ini keputusan dari Geovani sendiri atau keputusan dari Beni? Jadi, bagaimana langkah kita selanjutnya?” tanya Dawiyah dengan serius memandang Antonio.


”Sekarang Marlina sedang berusaha membujuk Beni untuk mengembalikan kembali kerja sama ini. Jika dia gagal merayu Beni, dia akan menemui Geo untuk membujuknya__”


”Dan jika gagal lagi, apa yang harus kita lakukan? Apa kamu akan mengirimkan aku kembali pada Geo? Merayunya, membuatnya kembali mencintai ku lalu kembali mencampakkannya? Mengapa tidak sekalian kamu menyuruhku membunuhnya? Itu akan lebih mudah kan?” ucap Dawiyah dengan marah memangkas ucapan Antonio.


Antonio memegang tangan Dawiyah dan menariknya hingga Dawiyah berada di atas pangkuannya. Tangannya sebelah menahan tubuh Dawiyah, dan sebelahnya, ia membelai lembut wajah Dawiyah.


”Sudahlah sayang, jangan berdebat dengan ku. Bukan kah kamu juga menikmati waktu berdua dengan Gege?”


”Apa yang kamu katakan? Aku pacaran dengan Gege tapi ia tidak pernah menyentuh ku. Kami hanya sekedar berpelukan dan berciuman saja, tidak pernah bertindak lebih dari itu.”


”Hahahaha, apakah benar kata mu ini, sayang?” sahut Antonio tidak percaya.


”Tentu saja! Tentu saja itu benar, dia membosankan sekali, bahkan aku berfikir jika dia itu hanyalah banci saja! Siapa yang akan betah berpacaran mode seperti itu, jangan-jangan mantannya Yuli juga meninggalkannya karena hal itu.”


”Apa itu artinya kamu puas dengan ku?”


”Hemp, tentu saja!” sahut Dawiyah. Ia mencium bibir Antonio. Antonio membalas ciuman Dawiyah. Ciuman terlepas setelah lima menit lamanya berciuman. ”Sayang, siang ini aku akan pergi berbelanja di mall.”


”Apa harus ku temani?” tawar Antonio.


”Tidak usah sayang, aku ingin pergi sendiri saja.” ucap Dawiyah menolak. Dawiyah berdiri dari pangkuan Antonio. ”Baiklah, sayang, aku pergi dulu.”


”Hum, bersenang-senang lah.” sahut Antonio. Dawiyah mengangguk senang. Ia keluar dari ruangan Antonio.


Benarkah Geo tidak pernah meniduri wanita satu pun? Jika pengakuan Dawiyah ini benar, kasian sekali dia, apakah dia impoten? Baguslah, jadi dia tidak akan pernah memiliki keturunan. Ini bagus juga jika Marlina bisa menikahinya. Setelah menikah, aku akan membunuhnya. Keturunan Albert yang sah akan punah setelah kematian Gege. Jadi tidak akan ada balas dendam untuk kematiannya. Sedangkan Marlina, ia akan menikah dengan pria lain dan menikmati perlahan-lahan harta kekayaan dari Albert.


Antonio tersenyum licik dan senang seakan khayalan nya itu menjadi sesuatu yang nyata.


.. ..


Di kediaman Albert.


Beni bangun setelah dua jam ia tertidur. Ia turun ke dapur, ia mengambil air minum. Ia melihat sang bibi sedang menata makanan di atas meja.


”Bi, apa Marlina sudah pulang?”


”Belum Den, Nona Marlina sedang berada di taman belakang, ia sedang duduk sambil meminum jus setelah ia selesai menata bunga-bunga di sana.” sahut sang bibi.


Beni menarik kursi dan duduk.


”Tolong panggilkan dia untuk makan siang, Bi.”


”Baik, Den.” sahut sang bibi.


Beni mulai menyendok makanannya. Sang bibi pergi ke taman belakang. Ia mendekati Marlina.


”Permisi Non, Den Beni sedang menunggu Anda di ruang makan.” ucapnya dengan sopan.


”Iya, Bi. Saya akan kesana.”


Marlina memasuki rumah. Ia pergi ke dapur, ia duduk berhadapan dengan Beni. Ia melirik Beni yang sedang menikmati makanannya. Ia menyendok makanan kesukaannya. Mereka berdua makan dengan diam, sesekali Marlina melirik Beni. Beni mengacuhkan Marlina begitu saja meski ia tahu Marlina sering meliriknya.


Huh, dia pasti akan merayuku untuk kembali bekerja sama dengan perusahaan Antonio. Antonio selalu memperdaya Marlina. CK, perempuan ini tidak tahu apa-apa tentang masalah yang terjadi di perusahaan kakaknya. Yang ia tahu hanyalah segala kebutuhannya terpenuhi dan dia tidak tahu segala penghasilan di perusahaan kakaknya berasal dari perusahaan Geovani.


Beni telah menyelesaikan makanannya. Ia masih duduk di tempatnya menunggu Marlina yang masih makan. Sepuluh menit kemudian, Marlina telah selesai menghabiskan makanannya.


”Katakan, apa tujuan mu mencari ku?” tanya Beni tanpa basa-basi.


”Kamu, aku baru selesai makan, tidak bisa kah sabar sedikit lagi baru bicarakan ini?”


”Aku tidak punya waktu banyak untuk berbicara! Jadi, bicarakan saja sekarang!”


”Ck, kamu bicara seperti itu seakan aku ini orang asing bagimu. Kita ini masih saudara satu ibu, Beni! Jangan berkata seperti itu padaku, apalagi aku ini lebih kakak dari mu.”


”Bicarakan saja, tidak usah banyak berbelit-belit!” ucap Beni dengan tegas.


”Mengapa kamu tiba-tiba memutuskan kerja sama antara perusahaan kakak dengan perusahaan Geo?”


”Perusahaan kakak mu terjadi suatu masalah, dan itu bukan hanya sekali atau dua kali terjadi. Tapi itu sudah sering kali terjadi, selama ini Geo selalu menahan diri untuk bertindak karena memikirkan aku yang masih saudara seibu dengan kalian. Tapi, tidak untuk kali ini, kerugian yang akan terjadi karena ulah kakak mu itu akan berakibat fatal bagi perusahaan Geo. Jadi, sebelum itu terjadi, aku dan Geo mengantisipasi nya dari sekarang. Untuk sementara perusahaan kakak mu sedang baik-baik saja karena aku membantunya. Tapi, jika terjadi suatu kesalahan lagi, maka aku tidak akan turun tangan lagi untuk membantu, meskipun Geo memaksaku untuk membantu kakak mu, aku akan menolaknya.” ungkap Beni.


”Apa! Bagaimana itu bisa terjadi? Kamu mana bisa lepas tangan untuk tidak membantu kakak ku, dia bukan hanya kakak ku tapi, dia juga kakak mu.”


”Pembicaraan kita tidak ada gunanya, sebaiknya, kamu pulanglah sekarang. Aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun.” ucap Beni sambil berdiri.


Ia meninggalkan Marlina sendirian di meja dapur.


Apa yang di katakan Beni itu apakah benar? Apa mungkin kakak sengaja untuk menjatuhkan Geo? Ah, tidak, aku terlalu banyak berfikir. Bukan kah kakak sudah berjanji padaku tidak akan berbuat macam-macam kepada Geo.


Marlina pergi dari kediaman Albert. Ia pergi ke apartemennya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2